Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Quran adalah kitab suci umat Islam. Diturunkan kepada Nabi Muhammad
melalui Malaikat Jibril. Kitab terakhir ini merupakan sumber utama ajaran Islam dan
pedoman hidup bagi setiap Muslim. Al-Quran bukan sekedar memuat petunjuk
tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga mengatur hubungan manusia
dengan sesamanya (Hablum min Allah wa hablum min an-nas), serta manusia dengan
alam sekitarnya. Untuk memahami ajaran Islam secara sempurna (kaffah), diperlukan
pemahaman terhadap kandungan al-Quran dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari secara sungguh-sungguh dan konsisten.
Al-Quran merupakan mukjizat terbesar nabi Muhammad SAW. Diturunkan
dalam bahasa Arab, baik lafal maupun uslub-nya. Suatu bahasa yang kaya kosa kata
dan sarat makna. Kendati al-Quran berbahasa Arab, tidak berarti semua orang Arab
atau orang yang mahir dalam bahasa Arab, dapat memahami al-Quran secara rinci.
Al-Quran adalah kitab yang agung, memiliki nilai sastra yang tinggi. Meskipun
diturunkan kepada bangsa Arab yang lima belas abad lalu terkenal dengan jiwa yang
kasar. Al-Quran mampu meruntuhkan dominasi syair-syair Sastrawan Arab, hingga
tidak berdaya dihadapan Al-Quran.
Kitab suci al-Quran sebagai pedoman umat Islam harus dipahami dengan
benar. Hasbi Ash-Shidieqi menyatakan untuk dapat memahami al-Quran dengan

sempurna, bahkan untuk menterjemahkannya sekalipun, diperlukan sejumlah ilmu


pengetahuan, yang disebut Ulumul Quran.1

B. Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik permasalahan sebagai berikut:
1. Apa dan bagaimana Ulumul Quran?
2. Bagaimana perkembangan Ulumul Quran dan urgensi mempelajarinya?

T.M. Hasbi Ash-Shidieqi, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Quran/ Tafsir, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1980), Cet. VII, H. 112

BAB II
ULUMUL QURAN DAN PERKEMBANGANNYA

A. Pengertian Ulumul Quran


Istilah Ulumul Quran, secara etimologis merupakan gabungan dari dua kata
bahasa Arab ulum dan al-Quran. Kata ulum bentuk jama dari kata ilm yang
merupakan bentuk masdhar dari kata alima, yalamu yang berarti mengetahui.2
Dalam kamus al-Muhit kata alima disinonimkan dengan kata arafa
(mengetahui, mengenal).3 Kata ilm semakna dengan marifah yang berarti
pengetahuan. Sedangkan ulum berarti sejumlah pengetahuan.
Kata al-Quran dari segi bahasa adalah bentuk masdhar dari kata kerja
Qaraa, berarti bacaan. Hal ini berdasarkan firman Allah:
Artinya: apabila kami telah selesai membacanya, maka ikutilah bacaannya.
(QS. AlQiyamah: 18).4
Kemudian dari makna masdhar ini dijadikan nama untuk kalamullah mukjizat
bagi nabi Muhammad SAW.5 Lebih lanjut terdapat beberapa pandangan ulama
tentang nama al-Quran itu sendiri, sebagaimana yang terungkap dalam kitab alMadkhal li Dirasah al- Quran al-Karim,6 sebagai berikut:
2

Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), Cet. VIII, h.

277
3

Mujid al-Din Muhammad bin Yaqub al-Farizi, al-Qamus al- Muhith, (Mesir: Mustafa alBaby al-Halaby, 1952/1371 H), Juz. IV, Cet. II, H. 155
4

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, ( Jakarta: PT. Syamil Cipta Media,
2004), h. 507
5

Muhammad Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahil al- Irfan fi Ulum al-Quran, ( Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiah, 1996/1416 H), Juz I, h.16
6

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, al- Madkhal li Dirasah al- Quran al- Karim,
(Beirut: Dar al- Jil, 1992/1412), h.19-20

1. Quran adalah kata sifat dari al-Qaru yang bermakna al-jamu (kumpulan).
Selanjutnya kata ini digunakan sebagai salah satu nama bagi kitab suci yang
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, karena al-Quran terdiri dari sekumpulan
surah dan ayat, memuat kisah-kisah, perintah dan larangan, dan mengumpulkan inti
sari dari kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Pendapat ini dikemukakan al-Zujaj
(w. 311)
2. Kata al-Quran adalah ism alam, bukan kata bentukan dan sejak awal digunakan
sebagaimana bagi kitab suci umat Islam. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Syafii
(w.204).
Menurut Abu Syuhbah, dari beberapa pendapat di atas, yang paling tepat adalah
pendapat yang mengatakan al-Quran bentuk masdhar dari kata Qara-a.7
Sedangkan al-Quran menurut istilah adalah: Firman Allah Swt, yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad Saw., yang memiliki kemukjizatan lafal, membacanya
bernilai ibadah, diriwayatkan secara mutawatir, yang tertulis dalam mushaf, dimulai
dengan surat al- Fatihah dan di akhiri dengan surat an-Nas.8
Kata ulum yang disandarkan kepada kata al-Quran telah memberikan pengertian
bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan alQuran, baik dari segi kberadaannya sebagai al-Quran maupun dari segi pemahaman
terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya. Secara istilah, para ulama telah
merumuskan berbagai defenisi Ulumul Quran.
1. Al-Zarqani

merumuskan

pengertian

Ulumul

Quran

sebagai:

beberapa

pembahasan yang berhubungan dengan AL-Quran al-Karim, dari segi turunnya,


7

Muhammad bin Muhammad Abu Syabah, al- Madkhal li Dirasah al-Quran al- Karim, h.

19-20
8

Ibid.,

urut-urutannya,

pengumpulannya,

penulisannya,

bacaannya,

penafsirannya,

kemukjizatannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan


keraguan terhadapnya, dan sebagainya.9
2.

Manna al- Qathan memberikan defenisi bahwa Ulumul Quran adalah ilmu

yang mencakup pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan Al-Quran, dari


segi pengetahuan tentang sebab-sebab turunnya, pengumpulan Al- Quran dan uruturutannya, pengetahuan tentang ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah, hal hal lain
yang ada hubungannya dengan al-Quran.10
3.

Menurut T.M Hasbi As-Shiddiqie

Ulumul Quran ialah pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan AlQuran, dari segi nuzulnya, tertibnya, mengumpulnya, menulisnya, membacanya dan
menafsirkannya, Ijaznya, nasikh mansukhnya, menolak syubhat-syubhat yang
dihadapkan kepadanya.11
Defenisi nomor satu dan dua di atas pada dasarnya sama. Keduanya menunjukkan
bahwa ulumul Quran adalah kumpulan sejumlah pembahasan yang pada mulanya
merupakan ilmu-ilmu yang berdiri sendiri. Ilmu-ilmu ini tidak keluar dari ilmu agama
dan bahasa. Masing-masing menampilkan sejumlah aspek pembahasan yang
dianggap penting. Objek pembahasannya adalah Al-Quran.
Adapun perbedaannya terletak pada tiga hal:
1. Aspek pembahasannya; defenisi pertama menampilkan sembilan aspek
pembahasannya dan yang kedua menampilkan hannya lima daripadanya.
9

Muhammad Abdul Azim, Manahil al- Irfan fi ulum al- Quran, ( Beirut: Dar al-Fikr,
1988), h. 27
10

Manna Al-Qathan, Mabahits fi Ulum al-Quan. ( Beirut: Al- Syarikah al-Muttahidah li altauzi, 1973), h. 15
11

T.M. Hasbi As-Shiddiqie, Ilmu-ilmu Al-Quran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h.10-11

2. Meskipun ke duanya tidak membataskan pembahasannya pada aspek-aspek


yang ditampilkan, namun defenisi pertama lebih luas cakupannya dari yang ke
dua. Sebab, defenisi pertama diawali dengan kata Mabaahitsu ( )yang
merupakan bentuk jama yang tidak berhingga dan menyebut secara eksplisit
penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keragu-raguan terhadap al-Quran
sebagai bagian dari pembahasannya. Sedangkan defenisi yang kedua tidak
demikian.
3. Pada perbedaan aspek pembahasan yang ditampilkan tidak semuanya sama di
antara ke duanya. Defenisi pertama disebutkan bahwa penulisan al-Quran,
Qiraat,

penafsiran

dan

kemujizatan

Al-Quran

sebagai

bagian

pembahasannya. Sementara itu, dalam defenisi ke dua semua itu tidak


disebutkan.12
Dengan melihat persamaan dan perbedaan antara kedua defenisi di atas dapat
diketahui bahwa defenisi pertama lebih lengkap dibanding dengan defenisi ke dua.
Dengan demikian defenisi kedua lebih akomodatif terhadap ilmu-ilmu Al- Quran
yang selalu berkembang sebagaimana akan terlihat pada uraian sejarah pertumbuhan
dan perkembangan Ulumul Quran.
Penjelasan-penjelasan di atas juga menunjukkan adanya dua unsur penting dalam
defenisi Ulumul Quran. Pertama, bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah
pembahasan. Kedua, pembahasan-pembahasan ini mempunyai hubungan dengan AlQuran, baik dari aspek keberadaannya sebagai al-Quran maupun aspek pemahaman
kandungannya sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi manusia.

12

Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran, ( Jakarta: PT RajaGrafindo, 2002), Cet. Ke IV, h. 9

B. Ruang lingkup Ulum AL-Quran


Berdasarkan pengertian Ulum AL-Quran di atas dapat dipahami tentang
ruang lingkup Ulum Al-Quran, yaitu semua ilmu yang berhubungan dengan AlQuran berupa ilmu agama dan ilmu Ibrab Al-Quran. Bahkan As-Suyuthi
sebagaimana dikutip oleh Ahmad Syadali memperluasnya sehingga memasukkan
kedokteran, ilmu ukur, astronomi dan sebagainya ke dalam pembahasan Ulumul
Quran.13
Namun As-Shiddiqie sebagaimana yang dikutip oleh Ramli Abdul Wahid
mengatakan bahwa segala macam pembahasan Ulumul Quran kembali kepada
beberapa pokok persoalan sebagai berikut:
1. Persoalan Nuzul, ayat-ayat Makiyah atau Madaniyah, sebab turun ayat, yang
mula-mula turun dan yang terakhir turun, yang berulang-ulang turun, yang turun
terpisah pisah, dan yang turun sekaligus
2. Persoalan sanad, meliputi hal-hal yang berhubungan dengan sanad yang
muthawatir, yang ahad, yang Syaz, bentuk-bentuk Qirat, para periwayat dan
penghafal Al-Quran dan cara tahammul ( penerimaan riwayatnya)
3. Persoalan adad Qiraat, masalah waqaf (berhenti), ibtida (cara memulai), imalah(
cara memanjangkan) takhfif Hazah (cara meringankan Hamzah), idgham
(memasukkan bunyi huruf nun mati ke dalam huruf sesudahnya)
4. Persoalan yang menyangkut lafal Al-Quran yaitu Gharib (pelik), Murab
(menerima perubahan akhir kata), majaz (metafora), musytarak, muradif
(sinonim), istiarah (metaphor), tasybih (penyerupaan).

13

Ahmad Syadali, Ulumul Quran, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), h. 11

5. Persoalan makna al-Quran yang berhubungan dengan hukum yaitu ayat yang
bermakna umum yang dikhususkan oleh sunnah, yang nash, yang zhahir, yang
mujmal (global), yang munfashal (yang terinci), yang manthuq (makna yang
berdasarkan pengutaraan), nasikh mansukh, mutlaq (tidak terbatas) dan muqayyad
(terbatas) dan lain sebagainya
6. Persoalan makna Al-Quran yang berhubungan dengan lafal fashl (pisah), washal
(berhubungan), ijaz (singkat), ithnab (panjang) musawah (sama) dan qashr
(pendek).14

C. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ulumul Quran


Sebagai ilmu yang terdiri dari berbagai cabang dan macamnya, Ulumul
Quran tidak lahir sekaligus. Ulumul Quran menjelma menjadi suatu cabang disiplin
ilmu setelah melalui proses pertumbuhan dan perkembangannya.
Dalam hal ini tentu banyak Pribadi dan kondisi yang membuatnya sebagai
cabang ilmu yang penting untuk memahami kitab suci Al Quran. Berikut ini kita
lihat bagaimana alur lahirnya cabang ilmu ini.
1.

Masa Sebelum Penulisan


Di masa Rasulullah dan para sahabat, Ulumul Quran belum dikenal sebagai

suatu ilmu yang berdiri sendiri dan tertulis. Para sahabat adalah orang Arab asli yang
dapat merasakan struktur bahasa Ara yang tinggi dan memahami apa yang diturunkan
kepada Rasul SAW. Bila mereka menemukan ksulitan dalam memahami ayat-ayat
tertentu, mereka dapat menanyakan langsung kepada Rasul SAW. Sebagai contoh,
ketika turun ayat:

14

Ramli Abdul Wahid, op.cit., h. 8

Terjemahnya: Dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan


kezaliman..(Q.S Al-Anam: 82).15 Para sahabat bertannya: siapa dari kami yang
tidak menganiaya (menzalimi) dirinya?. Nabi menafsirkan kata zulm di sini dengan
syirik berdasarkan ayat:
Terjemahnya: sesungguhnya Syirik itu kezaliman yang besar (Q.S
Luqman: 13)16
Ada tiga faktor yang menyebabkan Ulumul Quran tidak dibukukan di masa
Rasul dan Sahabat.
1. Kondisinya tidak membutuhkan karena kemampuan mereka yang besar untuk
memahami Al-Qur'an dan rasul dapat menjelaskan maksudnya.
2. Para sahabat sedikit sekali yang pandai menulis
3. Adanya larangan Rasul untuk menuliskan selain Al-Quran.
Semuanya ini merupakan faktor yang menyebabkan tidak tertulisnya ilmu ini
baik di masa Nabi maupun di zaman sahabat.17
2. Masa Penulisan Ulumul Quran
Di zaman khalifah usman Bin Affan wilayah Islam bertambah luas sehingga
terjadi pembauran antara penakluk Arab dan bangsa-bangsa yang tidak mengetahui
bahasa Arab. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan sahabat akan

120

15

Departemen Agama, op.cit, h. 138

16

Ibid., h. 412

17

Shubhi Al-Shalih, Mabaahits fi Ulumul Quran,( Beirut: Dar al-ilm al-Malayin, 1977), h.

10

terjadinya perpecahan di kalangan muslimin tentang bacaan Al-Quran, selama


mereka tidak memiliki sebuah Al-Quran yang menjadi standar bagi bacaan mereka.
Sehingga disalinlah dari tulisan aslinya sebuah al-Quran yang disebut Mushaf Imam.
Dengan terlaksananya penyalinan ini, maka berarti Usman telah meletakkan suatu
dasar Ulumul Quran yang disebut Rasm Al-Quran atau Ilmu al-Rasm al- Utsmani.18
Di masa Ali terjadi perkembangan baru dalam ilmu Quran. Karena melihat
banyaknya umat Islam yang berasal dari bangsa non Arab, kemerosotan dalam bahasa
Arab, dan kesalahan pembacaan Al-Quran. Ali menyuruh Abu al-Aswad al-Duali
untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab. Hal ini dilakukan untuk memelihara
bahasa Arab dari pencemaran dan menjaga Al-Quran dari keteledoran pembacanya.
Tindakan khalifah Ali ini dianggap perintis bagi lahirnya ilmu nahwu dan Irab alQuran.19
Pada zaman Bani Umayyah, kegiatan para sahabat dan tabiin terkenal dengan
usaha-usaha mereka yang tertumpu pada penyebaran ilmu-ilmu Al-Quran melalui
jalan periwayatan dan pengajaran secara lisan, bukan melalui tulisan atau catatn.
Kegiatan-kegiatan ini dipandang sebagai persiapan bagi masa pembukuannya.
Orang yang paling berjasa dalam usaha periwayatan ini adalah khalifah yang empat,
Ibn Abbas, Ibn Masud, Zaid Ibn Tsabit, Abu Musa al-Asyari, Abdullah Ibn alZubair dari kalangan sahabat. Sedangkan dari kalangan tabiin ialah Mujahid, Atha,
Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan al-Bashri, Said Ibn Jubair, dan Zaid Ibn Aslam di
Madinah. Kemudian Malik bin Anas dari generasi tabitabiin. mereka semuanya

18

Muhammad Abdul Azim Al-Zarqani, op.cit., h. 30

19

Kahar Mansyur, Pokok-pokok Ulumul Quran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), h. 32

11

dianggap sebagai peletak batu pertama bagi apa yang disebut ilmu tafsir, ilmu asban
al-nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu gharib al- Quran dan lainnya.
Pada abad ke 2 H ulumul Quan memasuki masa pembukuan. Para ulama
memberikan prioritas perhatian mereka kepada ilmu tafsir karena fungsinya sebagai
Umm al-ulum al-Quraniah (induk ilmu-ilmu Al-Quran). Penulis pertama dalam
tafsir adalah Syubah Ibn al-Hajjaj, Sufyan Ibn Uyaynah, dan Wali Ibn al-Jarrah.
Pada abad ke-3 terkenal seorang tokoh tafsir, yaitu Ibn Jarir al-Thabari. Dia
orang pertama membentangkan berbagai pendapat dan mentarjih sebagiannya atas
lainnya. Ia juga mengemukakan Irab dan istinbath (penggalian hukum dari alQuran). Di abad ini juga lahir ilmu asbab al-Nuzul, ilmu nasikh dan mansukh, ilmu
tentang ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah.
Berikut ini dapat kita lihat karya ulama pada abad ke -3, yaitu:
1. Kitab Asbab al-Nuzul karangan Ali Ibn Al-Madini
2. Kitab nasikh dan mansukh, Qiraat dan keutamaan Al-Quran disusun oleh Abu
Ubaid al-Qasim Ibn Salam.
3. Kitab tentang ayat-ayat Makiyah dan Madaniyah karya Muhammad Ibn Ayyub al
Dharis20
Di abad ke-4 lahir ilmu gharib al-Quran dan beberapa kitab Ulumul Quran.
Adapun Ulama ulumul Quran pada masa ini adalah:
1. Abu Bakar Muhammad Ibn al-Qasim al-Anbari, kitabnya Ajaib Ulumul Quran.
Isi kitab ini tentang keutamaan Al-Quran, turunnya atas tujuh huruf, penulisan
mushaf-mushaf, jumlah surah, ayat dan kata kata Al-Quran.
2. Abu al-Hasan al-Asyari, kitabnya Al-Mukhtazan fi Ulumul Quran

20

Shubhi al- Shalih, op.cit., h. 121-122

12

3. Abu Bakar al-Sijistani, kitabnya Gharib al-Quran


4. Muhammad Ibn Ali al-Adfawi, kitabnya Al- Istighna fi Ulumul Quran.21

Di abad ke-5 muncul pula tokoh dalam ilmu qiraat. Adapun para tokoh serta
karyanya adalah;
1. Ali Ibn Ibrahim Ibn Said al- Hufi, kitabnya Al- Burhan fi Ulumul Quran dan
Irab Al-Quran
2. Abu Amr al- Dani, kitabnya Al-Taisir fi al-Qiraat al-SabI dan Al- Muhkam fi alNuqath
3. Al- Mawardi, kitabnya tentang amtsal Quran.22

Pada abad ke-6 lahir pula ilmu Mubhamat al-Quran. Abu Qasim Abdur
Rahman al-Suahaili mengarang Mubhamat al-Quran. Ilmu ini menerangkan lafallafal Al-Quran yang maksudnya apa dan siapa tidak jelas. Ibn al-Jauzi menulis kitab
Funun al- Afnan Fi Ajaib al-Quran dan kitab Al- Mujtaba fi Ulum Tataallaq bi alQuran.23
Pada abad ke-7 Ibn Abd al-Salam yang terkenal dengan sebutan AlIzz
mengarang kitab Majaz al-Quran. Alam al-Din al-Sakhawi mengarang tentang
Qiraat. Ia menulis kitab Hidayah al- Murtab fi al- Mutasyabih. Abu Syamah Abd alRahman Ibn Ismail al- Maqdisi, menlis kitab Al- Mursyid al- Wajiz fi ma Yataallaq
bi al- Quran al- Aziz.

21

T.M. Hasbi Ash-Shiddieqi, Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Jakarta:Bulan Bintang, 1973. H.14

22

Ibid.

23

Nawawi, Rifat Syauqi dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, ( Jakarta: Bulan Bintang,
1988), h. 221

13

Pada abad ke-8 H muncul beberapa ulama yang menyusun ilmu-ilmu baru
tentang Al-Quran, seperti berikut ini:
1. Ibn Abi al- Ishba, kitabnya tentang badai al-Quran.
Ilmu ini membahas berbagai macam keindahan bahasa dalam al-Quran.
2. Ibn Qayyim, menulis tentang Aqsamul Quran
3. Najamuddin al-Thufi, menulis tentang Hujaj al-Quran. Isi kitab ini tentang
bukti-bukti yang dipergunakan Al-Quran dalam menetapkan suatu hukum
4. Abu Hasan al-Mawardi menyusun ilmu amstal al-Quran
5. Badruddin al-Zarkasyi, kitanya Al- Burhan fi Ulum Al-Quran.24

Pada abad ke- 9 muncul beberapa ulama melanjutkan perkembangan ilmuilmu Quran, yaitu:
1. Jalaluddin al- Bulqini, kitabnya Mawaqi al- Ulum min Mawaqi al- Nujum.
Menurut Al-Suyuthi, Al-Buqini dipandang sebagai ulama yang mempelopori
penyusunan Ulumul Quran yang lengkap. Sebab dalam kitabnya tercakup 50
macam ilmu Al-Quran
2. Muhammad Ibn Sulaiman al-Kafiaji, kitabnya Al-Tafsir fi Qawaid al-Tafsir. Di
dalamnya diterangkan makna tafsir, takwil, al-Quran, surat dan ayat. Juga
dijelaskan dalam kitabnya itu tentang syarat-syarat menafsirkan ayat-ayat AlQuran.
3. Jalaluddin al-Suyuthi, kitabnya Al-Tahbir fi Ulum al-Tafsir (873 H). Kitab ini
memuat 102 macam ilmu-ilmu Al-Quran. Menurut sebagian Ulama. Kitab ini
dipandang sebagai kitab Ulumul Quran yang paling lengkap. Al-Suyuthi merasa

24

Ibid., h. 222

14

belum puas, beliau menyusun lagi sebuah kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Quran. Di
dalam kitab ini terdapat 80 macam ilmu-ilmu Al-Quran secara padat dan
sistematis. Menurut al- Zarqani kitab ini merupakan kitab pegangan bagi para
peneliti dan penulis dalam ilmu ini. Setelah wafatnya Al-Suyuthi tidak terlihat
munculnya penulis yang memiliki kemampuan seperti kemampuannya. Sehingga
terjadi kevakuman sejak wafatnya Imam Al-Suyuthi sampai dengan akhir abad ke
13 H.25
Sejak penghujung abad ke-13 H hingga abad ke -15, perhatian ulama terhadap
penyusunan kitab-kitab Ulumul Quran kembali bangkit. Kebangkitan ini sejalan
dengan kebangkitan modern dalam perkembangan ilmu-ilmu agama lainnya.diantara
Ulama yang menulis tentang Ulumul Quran ialah:
1. Syeikh Thahir Al-Jazairi, kitabnya Al-Tibyan li Badh Al- Mabahits AlMutaalliqah bi Al-Quran.
2. Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi (1332 H) kitabnya, Mahaasin Al-Takwil
3. Muhammad Abd Al-Azhim Al-Zarqani, kitabnya Manaahil Al-Irfan Fi Ulum
Al-Quran.
4. Musthafa Shadiq Al-Rafi, kitabnya Ijaz Al-Quran
5. Sayyid Quttub, kitabnya Al-Thaswir al-Fanni Fi Al-Quran dan Fi Zilal AlQuran
6. Muhammad Rasyid, kitabnya Tafsir al-Mannar
7. Shubhi al-Shalih, kitabnya Mabaahits Fi Ulum Al-Quran
8. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqi, kitabnya ilmu-ilmu Quran
9. Rifat Syauki Nawawi dan Ali Hasan, kitabnya Pengantar ilmu Tafsir

25

Ramli Abdul Wahid, op.cit., h.20

15

10. M. Quraish Shihab, kitabnya membumikan Al-Quran.26

Adapun mengenai kapan lahirnya istilah Ulum Al-Quran, terdapat tiga


pendapat, yaitu:
1. Pendapat umum di kalangan para penulis sejarah Ulum Al-Quran mengatakan
bahwa lahirnya istilah Ulum Al-Quran pertama kali ialah pada abad ke-7.27
2. Ibn Said yang terkenal dengan sebutan Al-Hufi, dengan demikian menurutnya,
istilah ini lahir pada permulaan abad ke-15.28
3. Shubhi Al-Shalih berpendapat lain. Menurutnya, orang yang pertama kali
menggunakan istilah Ulum Al-Quran ialah Ibn Al-Mirzaban. Dia berpendapat
seperti ini berlandasan pada penemuannya tentang beberapa kitab yang berbicara
tentang kajian Al-Quran yang telah mempergunakan istilah Ulum Al-Quran.
Yang paling awal menurutnya ialah kitab Ibn Al-Mirzaban yang berjudul AlHawi Fi Ulum Al-Quran yang ditulis pada abad ke-3 H. Hal ini juga disepakti
oleh Hasbi As-shiddieqi.29

D. Urgensi mempelajari Al-Quran


Adapun tujuan dari mempelajari Ulumul Quran adalah:
1. Agar dapat memahami kalam Allah Aza Wajalla sejalan dengan keterangan yang
dikutip oleh para sahabat dan para tabiin tentang interprestasi mereka terhadap
Al-Quran
26

Ibid., h.21

27

Muhammad Abd Al-Azhim Az-Zarqani, op.cit., h. 34

28

Ibid., h. 34-35

29

T.M. Hasbi As-Shiddiqie, op.cit., h. 16

16

2. Agar mengetahui cara dan gaya yang digunakan oleh para mufassir (ahli tafsir)
dalam menafsirkan Al-Quran dengan disertai penjelasan tentang tokoh-tokoh
ahli tafsir yang ternama serta kelebihan-kelebihannya.
3. Agar mengetahui persyaratan-persyaratan dalam menafsirkan Al-Quran
4. Mengetahui ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan dalam menafsirkan Al-Quran.30

Hubungan Ulumul Quran dengan tafsir juga dapat dilihat dari beberapa hal
yaitu:
a. Fungsi Ulumul Quran sebagai alat untuk menafsirkan, yaitu:
1. Ulumul Quran akan menentukan bagi seseorang yang membuat syarah atau
menafsirkan ayat-ayat Al-Quran secara tepat dapat dipertanggung jawabkan.
Maka bagi mafassir Ulumul Quran secara mutlak merupakan alat yang harus
lebih dahulu dikuasai sebelum menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.
2. Dengan menguasai Ulumul Quran seseorang baru bisa membuka dan
menyelami apa yang terkandung dalam Al-Quran
3. Ulumul Quran sebagai kunci pembuka dalam menafsirkan ayat Al-Quran
sesuai dengan maksud apa yang terkandung di dalamnya dan mempunyai
kedudukan sebagai ilmu pokok dalam menafsirkan Al-Quran.
b. Fungsi Ulumul Quran sebagai Standar atau Ukuran Tafsir
Apabila dilihat dari segi ilmu, Ulumul Quran sebagai standar atau ukuran
tafsir Al-Quran artinya semakin tinggi dan mendalam Ulumul Quran dikuasai oleh
seseorang mufassir maka tafsir yang diberikan akan semakin mendekati kebenaran,

30

Muhammad Ali Al-Shabuni, loc. cit, h.18

17

maka dengan Ulumul Quran akan dapat dibedakan tafsir yang shahih dan tafsir
yang tidak shahih.
Ada beberapa syarat dari ahli tafsir (mufassir) yaitu:
1.

Akidahnya bersih

2.

Tidak mengikuti hawa nafsu

3.

Mufassir mengerti Ushul at-Tafsir

4.

Pandai dalam ilmu riwayah dan dirayah hadits

5.

Mufassir mengetahui dasar-dasar agama

6.

Mufassir mengerti ushul fiqh

7.

Mufassir menguasai bahasa Arab.31

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Ulumul Quran sangat penting
dipelajari dalam rangka sebagai pijakan dasar dalam menafsirkan Al-Quran oleh
para mufassir. Dapat dikatakan semakin dikuasainya Ulumul Quran oleh mufassir
maka semakin tinggilah kualitas tafsir yang dibuatnya.

31

Ibid., h. 218-219

18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Ulumul Quran adalah ilmu yang
membahas segala hal yang berhubungan dengan Al-Quran dan ilmu-ilmu yang
disandarkan kepada Al-Quran sebagai penunjang untuk memahami Al-Quran
secara luas dan mendalam. Perlu kita pelajari agar tidak terjadi kesalahan dalam
memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang menjadi acuan dan
pedoman hidup dalam rangka meraih kesuksesan di dunia dan akhirat.
2. Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Quran berlangsung dalam rentang
waktu yang panjang. Walaupun pada masa nabi hidup di siplin ilmu ini belum
dibukukan, sebab sahabat merasa cukup meminta penjelasan dari rasul akan
sesuatu yang tidak dipahami. Namun hal ini berkembang, dimana wilayah Islam
telah luas dan banyak orang Ajam (non Arab) yang masuk Islam, tentunya
mereka mengalami kesulitan dalam membaca dan memahami Al-Quran. Lahirlah
inisiatif dari Usman untuk menyalin Al-Quran kembali dari Salinan Al-Quran
yang pernah ditulis di masa Nabi hidup dan diperbanyak. Tindakan ini disusul
dengan berbagai kegiatan para sahabat dan para tabiin untuk menggali berbagai
ilmu dalam Al-Quran, sehingga lahirlah berbagai kitab. Akhirnya pada abad ke-2
H Ulumul Quran mulai dibukukan. Dengan kitab-kitab yang sudah ditulis
tersebut semakin meramaikan pembahasan para Ulama tentang Al-Quran.
3. Imam As-Suyuthi adalah salah satu Ulama Ulumul Quran yang berpengaruh,
karena kitabnya menjadi pegangan bagi para peneliti dan penulis dalam ilmu ini.

19

DAFTAR PUSTAKA

Abu Syabah, Muhammad bin Muhammad, al- Madkhal li Dirasah al-Quran alKarim (tt, tp)
Abu Syahbah, Muhammad bin Muhammad, al- Madkhal li Dirasah al- Quran alKarim, (Beirut: Dar al- Jil, 1992/1412).
As-Shiddiqie, T.M. Hasbi, Ilmu-ilmu Al-Quran, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993).
Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, ( Jakarta: PT. Syamil Cipta
Media, 2004).
Al-Farizi, Mujid al-Din Muhammad bin Yaqub, al-Qamus al- Muhith, (Mesir:
Mustafa al-Baby al-Halaby, 1952/1371 H), Juz. IV, Cet. II.
Mansyur, Kahar, Pokok-pokok Ulumul Quran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992).
Nawawi, Rifat Syauqi dan M. Ali Hasan, Pengantar Ilmu Tafsir, ( Jakarta: Bulan
Bintang, 1988)
Al-Qathan, Manna, Mabahits fi Ulum al-Quan. ( Beirut: Al- Syarikah alMuttahidah li al-tauzi, 1973).
Ramli Abdul Wahid, Ulumul Quran, ( Jakarta: PT RajaGrafindo, 2002), Cet. Ke IV.
Al-Shalih, Shubhi, Mabaahits fi Ulumul Quran,( Beirut: Dar al-ilm al-Malayin,
1977).
Ash-Shiddieqi, T.M. Hasbi, Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Jakarta:Bulan Bintang, 1973.
___________, T.M. Hasbi, Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Quran/ Tafsir, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1980), Cet. VII.
Syadali, Ahmad, Ulumul Quran, (Bandung: Pustaka Setia, 1997).
Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), Cet.
VIII.
Al-Zarqani, Muhammad Abdul Azhim, Manahil al- Irfan fi Ulum al-Quran, (
Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1996/1416 H), Juz I.

20

_________, Muhammad Abdul Azim, Manahil al- Irfan fi ulum al- Quran, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1988)