Anda di halaman 1dari 9

Tugas TA-3101 Genesa Bahan Galian

SIKLUS BATUAN

Kelompok 4:
-

Hafidha Dwi Putri Aristien


Dadang Kurnia
Aprida Suryana Hasibuan
Ogi Bagja Waluya
Dian Lazuardy Bachtiar Ardaraja

12111003
12111019
12111033
12111048
12111063

Program Studi Teknik Pertambangan


Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
Institut Teknologi Bandung
2013

Siklus Batuan

Proses pembentukan magma


Berdasarkan teori tektonika lempeng, diketahui bahwa lempeng-lempeng di bumi ini
(lempeng benua dan lempeng samudera) mengalami pergerakan secara terus menerus. Akibat
pergerakan tersebut, ada kalanya terjadilah tumbukan antar lempeng yang dapat menghasilkan
subduksi.
Zona subduksi adalah zona pertemuan antara dua buah lempeng dimana kedua lempeng
ini mengalami tumbukan, baik antara lempeng benua dengan lempeng samudra, maupun
lempeng samudra dengan lempeng samudra yang menyebabkan salah satu dari lempeng
tersebut menunjam di bawah lempeng yang lain. Akibatnya terjadilah proses magmatisme.
Proses magmatisme yang terjadi pada zona subduksi ini pun menghasilkan magma yang
sumbernya dibagi atas 3 (tiga) kemungkinan, yaitu:
a. Berasal dari pelelehan sebagian mantel atas ( Paling dominan terjadi).
b. Berasal dari pelelehan sebagian kerak samudra yang menunjam ke bawah.
c. Berasal dari pelelehan sebagian kerak benua bagian bawah (anateksis).
Magma yang dihasilkan dari 3 kemungkinan di atas, komposisinya sangat bervariasi.
Secara umum, magma yang berasal dari pelelehan kerak samudra yang menunjam dan dari
pelelehan mantel atas akan bersifat basa, namun apabila magma naik menuju permukaan, akan
terjadi proses diferensiasi sehingga magma yang dihasilkan berubah sifat menjadi intermediet

hingga asam. Sedang untuk magma yang berasal dari pelelehan kerak benua bagian bawah
(anateksis), pada awalnya memang sudah bersifat asam sesuai dengan komposisi umum kerak
benua, kemungkinan besar jika naik menuju permukaan magma tidak akan mengalami
diferensiasi, sehingga magma yang dihasilkan tetap bersifat asam.
Proses magmatisme di zona subduksi berbeda dengan magmatisme di tatanan tektonik
lain karena adanya peran fluida pada kerak yang menunjam dan adanya pelelehan sebagian
baik dari baji mantel, kerak samudera, ataupun kerak benua bagian bawah. Secara umum,
mekanisme magmatismenya adalah adanya finger tip effect, dimana kerak samudera yang
menunjam menjadi lebih panas oleh mantel dan gesekan yang mengakibatkan mineral melepas
H2O dan adanya pelelehan sebagian mantel.

Seperti yang telah kita ketahui, di bumi ada 3 jenis batuan yaitu batuan beku, batuan
sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan
metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya.

Batuan beku
Batuan beku adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan
mengeras, baik dibawah permukaan sebagai batuan intrusif/ plutonik maupun diatas
permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).
Pada intrusif, pembekuan magma relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral
penyusunnya relatif besar (ex : gabro, diorite, dan granit). Kandungan mineral utama dan minor
mineral pada batuan beku intrusif.
Intrusif
Ekstrusif

---------------------------> tingkat keasaman semakin rendah


Granit
Granodiorit
Diorit
Gabro
Ryolit
Dasit
Andesit
Basalt

Peridotit

Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat
kristalisasi pada magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang
mobile akan terinjeksi dan menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
Adanya intrusi magma terkadang membentuk suatu hydrothermal vein, yaitu urat yang
diisi oleh mineral yang mengandung air dalam jumlah besar. Air tersebut berikatan secara
kimia, dengan kata lain air ini merupakan bagian dari senyawa kimia mineral tersebut.
Sedangkan endapan porfiri adalah endapan mineral yang terjadi akibat suatu intrusi yang
bersifat intermedier-asam, yang kemudian terjadi kontak dengan batuan samping yang
mengakibatkan terjadinya mineralisasi.
Batuan beku ekstrusif merupakan batuan beku yang terbentuk dari pembekuan
magma di permukaan bumi. Batuan ini terdiri dari mineral-mineral yang dikeluarkan ke
permukaan bumi baik yang di daratan maupun yang ada di permukaan laut.

Mineral-mineral ini mengalami proses pendinginan yang sangat cepat akibat dari
perbedaan suhu yang cukup tinggi antara suhu awal dan suhu permukaan bumi. Mineralmineral ini dapat berupa debu atau cairan kental dan panas yang disebut lava.

Batuan piroklastik
Batuan piroklastik adalah batuan yang disusun oleh material-material yang dihasilkan
oleh letusan gunung api. Secara genetik, batuan piroklastik dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu :

Endapan jatuhan piroklastik (pyroclastic fall deposits), dihasilkan dari letusan


eksplosif yang melemparkan material-material vulkanik dari lubang vulkanik ke
atmosfer dan jatuh ke bawah dan terkumpul di sekitar gunung api.
Endapan aliran piroklastik (pyroclastic flow deposits), dihasilkan dari pergerakan
lateral di permukaan tanah dari fragmen-fragmen piroklastik yang tertransport dalam
matrik fluida (gas atau cairan yang panas) yang dihasilkan oleh erupsi volkanik,
material vulkanik ini tertransportasi jauh dari gunung api.
Endapan surge piroklastik (pyroclastic surge deposits), pergerakan lateral materialmaterial piroklastik (rasio partikel : gas rendah; konsentrasi partikel relatif rendah)
yang mengalir dalam turbulent gas yang panas.

Batuan sedimen
Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau
pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Proses
pembentukan batuan sedimen tersebut dinamakan proses sedimentasi.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab
pelapukan tersebut ada 2 macam:
1. Pelapukan secara fisika
perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan
pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang
sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang
lebih kecil lagi.
2. Pelapukan secara kimia
beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl
akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa
jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah hujan asam yang sangat mempengaruhi
terjadinya pelapukan secara kimia.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi
bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari
partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung
jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di
permukaan tanah.

2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut
pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat
diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan
yang kecil ini.
3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil
ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska
sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya.
Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan
meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini
yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan
diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru
kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan
membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan
yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan
tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari
lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Bila kompaksi meningkat terus
menerus akan terjadi pengerasan terhadap material-material sedimen. Sehingga meningkat ke
proses pembatuan (lithifikasi), yang disertai dengan sementasi dimana material-material semen
terikat oleh unsur-unsur/mineral yang mengisi pori-pori antara butir sedimen.
Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu.
Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat
partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut
sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada,
perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis.
Berdasarkan bahan penyusunnya, batuan sedimen terbagi menjadi
a. Sedimen klastik
yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari hancuran batuan lain, kemudian
tertransportasi dan terdeposisi yang selanjutnya mengalami diagenesa. Dikelompokkan
berdasarkan butir materialnya, menjadi cobble, pebble, granule, sand, silt, clay.
b. Sedimen organik-kimiawi
Sedimen organik yaitu batuan sedimen yang dibentuk atau diendapkan oleh bahan organik.
Contoh dari batuan sedimen organik adalah diatome dan batubara.
Batuan sediment kimiawi yaitu yang terangkut dalam bentuk larutan kemudian diendapkan
secara kimia ditempat lain. Contoh dari batuan sedimen kimiawi adalah limestone
(batugamping), lapisan garam, evaporit, dan rijang.

Klasifikasi batuan sedimen secara umum dapat dilihat pada tabel berikut.

Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat dibedakan
dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu
akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil
mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.

Batubara
Salah satu batuan sedimen yang akrab dengan dunia pertambangan adalah batubara,
yang merupakan batuan sedimen organik.
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan
waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas:

Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster)
metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur Karbon (C) dengan kadar air kurang dari
8%.
Bituminus mengandung 68 - 86% unsur Karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari
beratnya.
Sub-bituminus mengandung sedikit Karbon dan banyak air, dan oleh karenanya
menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air
35-75% dari beratnya.

Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling
rendah, terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun.
Dengan kata lain, gambut ini terbentuk pada kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang
terbawa air dapat masuk ke dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar
abu dan sulfur rendah dan menebal secara lokal.

Proses awalnya, endapan tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang terbentuk di
atas muka air tanah rata-rata pada iklim basah sepanjang tahun yang selanjutnya berubah menjadi
batubara muda (lignite) atau disebut pula batubara coklat (brown coal).
Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun,
maka batubara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas
organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batubara subbituminus (sub-bituminous).
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batubara menjadi lebih keras dan
warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite).
Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus
berlangsung hingga membentuk antrasit.
Minyak bumi dan gas
Menurut Teori Biogenitik (Organik), disebutkan bahwa minyak bumi dan gas alam
terbentuk dari beraneka ragam binatang dan tumbuh-tumbuhan yang mati dan tertimbun di
bawah endapan Lumpur. Endapan Lumpur ini kemudian dihanyutkan oleh arus sungai menuju
laut, akhirnya mengendap di dasar lautan dan tertutup Lumpur dalam jangka waktu yang lama,
ribuan dan bahkan jutaan tahun. Akibat pengaruh waktu, temperatur tinggi, dan tekanan
lapisan batuan di atasnya, maka binatang serta tumbuh-tumbuhan yang mati tersebut berubah
menjadi bintik-bintik dan gelembung minyak atau gas.
Akibat pengaruh waktu, temperatur, dan tekanan, maka endapan Lumpur berubah
menjadi batuan sedimen. Batuan lunak yang berasal dari Lumpur yang mengandung bintikbintik minyak dikenal sebagai batuan induk (Source Rock). Selanjutnya minyak dan gas ini akan
bermigrasi menuju tempat yang bertekanan lebih rendah dan akhirnya terakumulasi di tempat
tertentu yang disebut dengan perangkap (Trap).
Dalam suatu perangkap (Trap) dapat mengandung (1) minyak, gas, dan air, (2) minyak
dan air, (3) gas dan air. Jika gas terdapat bersama-sama dengan minyak bumi disebut dengan
Associated Gas. Sedangkan jika gas terdapat sendiri dalam suatu perangkap disebut Non
Associated Gas. Karena perbedaan berat jenis, maka gas selalu berada di atas, minyak di tengah,
dan air di bagian bawah. Karena proses pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang
lama, maka minyak bumi digolongkan sebagai sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui
(unrenewable).

Batuan metamorf
Batuan metamorf adalah batuan asal atau batuan induk baik berupa batuan beku, batuan
sedimen maupun batuan metamorf yang telah mengalami perubahan mineralogi, tekstur serta
struktur sebagai akibat adanya perubahan temperatur (di atas proses diagenesa dan di bawah
titik lebur; 200-350oC < T < 650-800oC) dan tekanan yang tinggi (1 atm < P < 10.000 atm).

Proses metamorfosa terjadi dalam keadaan padat, isokimia (perubahan kimiawi dapat terjadi
dalam batas tertentu) dan meliputi proses-proses rekristalisasi, reorientasi dan pembentukan
mineral-mineral baru dengan penyusunan kembali elemen-elemen kimia yang sebelumnya
telah ada (Graha, D.S, 1987). Proses metamorfisme tersebut terjadi di dalam bumi pada
kedalaman lebih kurang 3 km 20 km.
Perubahan temperatur/tekanan di sini dapat diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi
yang efeknya kita rasakan dalam bentuk gempa bumi, dimana gesekan antar lempeng tersebut
menghasilkan temperatur yang cukup tinggi untuk mengubah sifat-sifat batuan.
Beberapa contoh batuan hasil metamorfosa antara lain adalah slate, schist, quartzite, dan
marble.
Shale mengalami metamorfisme regional yaitu akibat adanya zona patahan sehingga
membentuk slate. Slate mendapat tekanan dari lipatan dan patahan sehingga derajat
metamorfismenya meningkat dan membentuk schist.
Mudstone, siltstone, sandstone, dan conglomerate berinteraksi dengan air tanah. Karena
pengaruh tekanan yang besar, komponen-komponen ini membentuk metasandstone dan
metaconglomerate. Metasandstone mendapat tekanan yang lebih besar yang mengubahnya
menjadi quarzite.
Dolostone mengalami metamorfisme regional akibat adanya zona patahan yang
mengubah dolostone menjadi marble.
Sedangkan contoh batuan metamorf yang ciri-cirinya hampir menyerupai batuan beku
adalah batu gneiss. Batu ini berasal dari batuan pluto granit yang mengalami metamorfosis
karena panas dan tekanan. Selain gneiss contoh batu yang lain adalah mylonite. Mylonite
merupakan batuan metamorf kompak. Terbentuk oleh rekristalisasi dinamis mineral-mineral
pokok yang mengakibatkan pengurangan ukuran butir-butir batuan. Butir-butir batuan ini lebih
halus dan dapat dibelah seperti schistose. Mylonite berasal dari metamorfisme dinamik, yaitu
metamorfisme akibat tekanan diferensial yang tinggi akibat pergerakan patahan lempeng.

Peleburan batuan
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang ada
melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu yang sangat
tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih
kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan
menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle
bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul
dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak
bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik. Dan siklus
terbentuknya batuan pun kembali terjadi.

Daftar Pustaka
http://atmantokukuh.blogspot.com/2012/11/batuan-sedimen-klastik-dan-nonklastik.html
http://batuan-sedimen-rhy.blogspot.com/
http://demimaki.wordpress.com/geologi/petrologi/rock-cycle-siklus-batuan/
http://febryirfansyah.wordpress.com/2009/08/14/petrologi-batuan-metamorf/
http://gemparbumi.blogspot.com/2012/05/batuan-piroklastik.html
http://hmakuii.wordpress.com/artikel/teori-pembentukan-minyak-bumi-dan-gas-alam/
http://martinus-fonezr.blogspot.com/2012/06/batuan-metamorf.html
http://www.scribd.com/doc/149343122/76021980-Tatanan-Tektonik-Zona-Subduksi-DanBatuan-Beku-Indonesia