Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Materi

Pengelolaan Transportasi di Jawa Barat


Disampaikan Oleh
DR.Ir.H. Dicky Saromi MT.
Staf Ahli Gubernur Bid. Ekonomi & Pembangunan
Happy Tiara Asvita
15409001
Penduduk di Jawa Barat diproyeksikan akan semakin bertambah. Pada tahun 2011 jumlah penduduk
Jawa Barat 43,7 juta jiwa dan diproyeksikan pada tahun 2029 jumlah penduduk Jawa Barat mencapai
54,1 juta jiwa. Hal ini akan berdampak pada pembangunan infrastruktur perhubungan yang harus
dapat melayani pergerakan penduduk di Jawa Barat tersebut.
Pertumbuhan kendaraan jalan di Jawa Barat sebesar 14,3 % per tahun, sedangkan pertumbuhan
jalannya hanya 1,9 % per tahun. Melihat dari tingginya perumbuhan kendaraan tersebut, maka
dapat dipastikan akan terjadi pergerakan yang cukup signifikan. Pergerakan tersebut harus diatur
agar tidak terjadi kemacetan dan kesemrawutan di jalan, terlebih dengan pertumbuhan jalan yang
rendah. Tetapi di Jawa Barat terdapat keacakan penggunaan lahan dan kegiatan hanya
terkonsentrasi pada 3 metropolitan, yaitu Bodebek, Bandung dan Cirebon. Hal ini akan
mengakibatkan penyulitan pengaturan pola pergerakan. Pergerakan tersebut harus diatur dengan
baik agar tercipta sistem transportasi yang aman, selamat, tertib dan lancar.
Saat ini angkutan penumpang di Jawa Barat di dominasi oleh sepeda motor sebesar 36 %, angkot
30%, mobil pribadi 24% dan bus/rail 10 %, dapat dilihat bahwa sepeda motor mendominasi padahal
pergerakan terbesar terjadi pada pergerakan commuter di 3 metropolitan. Seharusnya jumlah
bus/rail yang lebih mendominasi dikarenakan tingginya pergerakan commuter di 3 metropolitan. Hal
ini dapat disebabkan karena rendahnya integrasi antar moda dan tingkat pelayanan angkutan umum
yang masih rendah, sehingga masyarakat lebih tertarik menggunakan kendaraan pribadi yang cukup
murah, yaitu sepeda motor.
Jika dilihat dari prasarana transportasinya, di Jawa Barat terdapat 302 km jalan tol tetapi hal itu tidak
dapat membatu dalam mengatasi kemacetan di Jawa Barat. Untuk rel kereta api, di Jawa barat
terdpat 1.002 km rel kereta api, tetapi yang aktif hanya sepanjang 708 km.
Transportasi di Jawa Barat sebesar 90% merupakan moda jalan, yaitu suatu moda yang
menggunakan jalan sebagai prasarananya. Padahal pembangunan infrastruktur jalan kurang dari 1%
per tahun, sedangkan pertumbuhan kendaraan lebih dari 10 % per tahun. Hal ini mengindikasikan
bahwa terjadi ketidakseimbangan antara infrastruktur dan kendaraannya yang akan menimbulkan
persoalan transportasi
Persoalan transportasi dapat dibagi berdasarkan jenis persoalannya, yaitu persoalan hulu, tengah
dan hilir. Persoalan transportasi di hulu meliputi regulasi, yaitu tidak ada peraturan yang jelas
mengenai pengaturan kepemilikan kendaraan. Selanjutnya adalah institusi yang masih lemah,
banyak institusi yang mengurusi transportasi tetapi tidak ada kesinergisan dianatara semuanya.
Persoalan terakhir adalah tidak sinkron antara tata ruang dan infrastruktur, banyak pembangunan
yang tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur. Jenis persoalan tengah, meliputi
rendahnya sarana prasarana jalan, rendahnya fasilitas lalu lintas, rendahnya perilaku berlalu lintas,
serta rendahnyalaw enforcement. Sedangkan yang termasuk persoalan hilir, yaitu persoalan
transportasi yang paling terlihat dan dirasakan masyarakat adalah meningkatnya kemacetan, polusi,
ekonomi biaya yang tinggi, serta keamanan dan keselamatan yang rendah.
1

Peluang dan Tantangan Pengembangan Transportasi


Pada tahun 2025 Jawa Barat telah memiliki grand skenario pengembangan transportasi, seperti
bandara internasional kertajati, adanya jalan tol CISUMDAWU, pelabuhan Cilayamaya, dll. Dalam
mengembangkan transportasi dan infrastruktur tersebut terdapat beberapa peluang dan tantangan,
yaitu, meningkatkan kualitas dan cakupan pelayanan pengembangan angkutan umum massal
terutama untuk kota-kota padat penduduk, pengembangan jaringan jalan yang efektif dan efisien,
baik berupa jaringan jalan tol maupun non tol yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan utama
dalam skala regional dan lokal, pengaturan hierarki peran serta fungsi jaringan transportasi yang
lebih baik agar menghasilkan pergerakan yang efisien dan efektif, revitalisasi dan pengembangan
jaringan jalan rel untuk melayani pergerakan dalam kota dan antarkota, pengaturan pergerakan
(traffic management) untuk angkutan barang dan angkutan penumpang dan pengembangan fasilitas
lalulintas, peningkatan pelayanan bandara-bandara yang telah ada dan mengembangkan bandara
baru yang lebih tinggi kapasitas layanannya untuk menunjang perkembangan kegiatan
perekonomian dan kegiatan-kegiatan lainnya, peningkatan sarana dan prasarana pelabuhan laut dan
asdp yang ada dan mengembangkan pelabuhan laut dan asdp baru serta pengembangan
keterpaduan sistem transportasi dan koneksi antar moda.
Kinerja Penyelenggaraan Perhubungan di Jawa Barat
Terdapat beberapa faktor faktor yang mempengaruhi kinerja penyelenggaraan perhubungan di
Jawa Barat, yaitu dana dan sumber daya yang terbatas, kewenangan yang terbatas,
ketidakseimbangan demand dan supply serta regulasi dan institusi yang belum mantap. Faktor
faktor tersebut mengakibatkan terjadinya penangan transportasi yang bersifat situasional,
pengendalian transportasi yang tidak optimal, sinergitas program yang masih rendah, serta
penyelesaian pembangunan sarana dan prasaranan transportasi yang belum lancar.
Peningkatan dan Pengembangan Transportasi di Jawa Barat
Infrastruktur dan transportasi memiliki peran penting dalam perencanaan, yaitu sebagai pengarah
dan pembentuk struktur struktur pola ruang, penacu pertumbuhan wilayah serta pemenuhan
kebutuhan wilayah. Untuk itu dilakukan pengembangan infrastruktur dan transportasi di Jawa Barat,
yaitu dengan merumuskan rencana pembangunan infrastruktur. Pertama adalah rencana
pembangunan jalan Tol Cisumdawu yang menghubungan Cileunyi di Kabupaten Bandung dengan
Dawuan di Kabupaten Majalengka dan pembangunanan tol Soroja yang menghubungkan Soreang
dengan Pasir Koja. Rencana lainnya pembangunan Bandung Intra Urban Toll Road, yaitu jalan tol di
Kota Bandung yang menghubungkan Pasteur dengan Cileunyi. Dengan adanya jalan tol dalam Kota
Bandung akan mengurangi kemacetan dan memudahkan aksesibilitas masyarakat di Kota Bandung.
Pembangunan infrastruktur tidak hanya pada jalan tol, tetapi juga pada rel kereta api untuk
melayani komuter akan moda kereta api yang dapat menjangkau daerah tempat tinggal dan daerah
tempat kerja mereka serta untuk melayani rute antar kota. Oleh karena itu, maka terdapat rencana
pembangunan dan reaktivasi jalur kereta api di Jawa Barat. Kemudian juga akan dibangun waduk
Jatigede di Sumedang, yang akan menjadi sumber air di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon,
Kabupaten Majalengka dan kawasan pantura lainnya. Selain pembangunan jaringan dan
infrastruktur, akan dibangun pula sarana transportasi seperti pelabuhan dan bandara. Pelabuhan
yang akan dibangun adalah Pelabuhan Cilamaya di Kabupaten Karawang, sedangkan bandara yang
akan di bangun adalah Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati, Kabupaten Majalengka.

Dengan adanya BIJB ini maka akan dikembangkan konsep Kertajati Aero City, yaitu sebuah kawasan
di yang terdiri dari bandara, akwasan permukiman, area bisnis, area industri serta area pariwisata.
Optimalisasi Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum
Angkutan umum merupakan suatu moda yang masih kurang diminati jika dibandingkan dengan
kendaraan pribadi. Hal ini disebabkan karena masih banyak angkutan umum yang belum baik secara
kualitas, keamanan dan kenyaman, sehingga masyarakat enggan menggunakan angkutan umum
sebagai moda transportasi utama. Selain itu mindset masyarakat mengenai angkutan umum yang
dinilai tidak aman, tidak nyaman memperkuat alasan masyarakat enggan menggunakan angkutan
umum. Terlebih dengan banyaknya kecelakan kendaraan penumpang umum di Jawa Barat yang
mengakibatkan korban jiwa yang berlangsung dalam waktu yang singkat. Faktor-faktor penyebab
kecelakaan lalu lintas adalah faktor kendaraan, faktor infrastruktur jalan/fasilits lalu lintas jalan,
faktor manusia, dan lingkungan. Dari empat faktor diatas, yang menjadi kewenangan dinas
perhubungan dalam pengaturan dan pengelolaannya adalah faktor kendaraan dan fasilitas LLJ.
Padahal pada kenyataannya yang sering menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas adalah faktor
manusia, seperti pengemudi yang kelelehan dan mengantuk biasanya tidak fokus dalam mengemudi
sehingga terjadi kecelakaan.
Kondisi layanan angkutan umum di Jawa Barat memang memiliki kekurangan, seperti buruknya
struktur jaringan, tidak adanya suatu standar pelayanan dan buruknya organisasi manajemen
operator. Untuk itu diperlukan adanya suatu penataan angkutan umum, yaitu meliputi pengawasan,
perizinan, kelembagaan, keamanan dan kenyamanan. Dengan adanya penataan tersebut maka akan
meningkatkan kualitas pelayanan, yaitu dapat berupa kontrak angkutan umum yang berisi hak dan
kewajiban, jangka waktu beoperasi serta sanksi. Penataan angkutan umum juga dapat dilakukan
melalui upaya penegakan hukum, yaitu dengan adanya kriteria kelayakan jalan suatu kendaraan,
ketertiban administratif (ijin trayek, kartu pengawasan, dan buku uji), infromasi jurusan seragam,
kartu pengenal pengemudi dan kartu pengenal angkutan. Dengan melakukan upaya upaya
tersebut makan akan menciptakan penyelenggaraan angkutan umum yang aman, nyaman tertib dan
lancar.
Setelah dilakukan penataan angkutan umum, maka yang perlu diperhatikan adalah sistem
pengawasan angkutan umum untuk mengetahu kendaraan umum yang beroperasi layak untuk
digunakan. Dalam sistem pengawasan angkutan umum diperlukan operator yang melakukan
pengawasan di hulu yaitu mengenai kendaraan, sedangkan pengawasan di hilir dilakukan oleh dinas
perhubungan yaitu melakukan penertiban kelengkapan administrais surat izin, teknis dan kelayakan
jalan kendaraan serta kaca film, seragam, KPA dan KPP.
Dengan mengetahui kondisi layanan angkutan umum, kemudian melakukan penataan angkutan
umum serta adanya sistem pengawasan angkutan umum, maka diharapkan akan tercapai tujuan
optimalisasi penyelenggaraan angkutan umum yang menciptakan angkutan umum yang aman,
nyaman, tertib dan lancar. Sehingga masyarakat akan tertarik menggunakan angkutan umum dan
mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan yang akan mengurangi volume kendaraan sehingga
diharapkan dapat mengurangi kemacetan. Tetapi tidak cukup hanya dilakukan optimalisasi angkutan
umum, perlu dilakukan integrasi antara angkutan umum dengan angkutan umum lainnya seperti di
Jepang, sehingga akan tercipta suatu sistem angkutan umum yang dapat melayani kebutuhan
masyarakat akan moda trasnportasi yang mudah diakses.
3