Anda di halaman 1dari 8

Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar.

Banyaknya jumlah sel tersebut


tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan
seorang manusia adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical
impulses) antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain.
(Lam Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003). Studi empiris membuktikan bahwa
dari 100 milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak
seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa
92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan
rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang
menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar
dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).

Jika manusia modern menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan
istilah electrical impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun
yang lalu Imam Syafi’i dan gurunya Imam Waki’ ‘mengistilahkannya’ sebagai
Nurullah (Cahaya Allah). Beliau dan gurunya Imam Waki’ berkeyakinan bahwa
dasar daripada pemahaman dan penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan
adalah cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi
pemahaman yang sederhana bisa disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse
pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas
cahaya Allah dalam hati dan pemikiran.

Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada


gurunya tentang kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya
Imam Waki’ menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan
kemaksiatan. Beliau juga berpesan demikian, "Ilmu pengetahuan itu adalah
cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat
maksiat." Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan
Imam Syafi’i terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh
huruf pada buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang
didengarnya.

Orang yang diterangi Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil
Albab. Perkataan Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya
adalah akal. Maka Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan
akal yang tinggi (Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti
Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan
mengimbas ‘cahaya Allah’ yang timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu
tercerahkan (enlighted) dan berhasil menemukan fenomena-fenomena alam
semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi sumber inspirasi dalam dunia
ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya cara yang mereka contohkan agar
‘cahaya Allah’ berperan dalam memacu kekuatan arus listrik pada sel-sel otak
adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan. Firman
Allah:

"Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan
Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu." (Al-Baqarah: 282)

Ayat di atas merupakan rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang
paling efisien untuk mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran,
ketumpulan analisa dan kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan
mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan dalam sanubari mereka. Inilah cara
yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk melejitkan interaksi arus listrik
(electrical impulse) antara axon dengan dendrite dalam otak.

Lebih menarik lagi untuk disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh
peneliti ahli dalam bidang neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S.
Ramachandran. Mereka berdua menemukan adanya ‘Titik Tuhan’ (God Spot)
dalam belantara otak manusia. Lebih rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada
sebuah area di sekitar lobus temporal otak yang bersinar saat seseorang diajak
untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut
juga menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang menerima wejangan
rohani atau renungan keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah
ada suatu mekanisme khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan
dengan Pencipta alam semesta. Dan sesungguhnya ‘hubungan’ (atau lazim disebut
dalam Islam dengan ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai
manusia dan melejitkan kemampuan akalnya.

Kita sama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan


pengalaman lima panca indra manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran,
perasa dan peraba). Seluruh apa yang dialami oleh lima indra tersebut berupa
rangsangan pengalaman (impulse) diterima oleh saraf penerimaan (receptor
neurone) untuk selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone).
Kesemua proses ini terjadi dengan adanya interaksi arus listrik dalam sel-sel otak
sehingga manusia mampu membentuk suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan
respon fisik (motoric neurone).

Sebesar mana proses interaksi arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat
pengalaman lima indra itu, sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan
dalam otak. Maka wajarlah jika timbul perbedaan sudut pandang antara manusia
yang cerdas (yang memiliki kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel
otaknya) dengan orang awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus
listrik pada sel-sel otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang
dilihat, dirasa, dan didengarnya. Firman Allah SWT:

"Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang
dapat melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan
sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" (Surah Hud 11: 24)

Ayat di atas mengesahkan fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu
pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini
bukanlah alat indra mata atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama.
Tetapi kadar kemampuan sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang
dideteksi oleh indra-indra tersebut.

Jika kita yakin dengan firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar
Neuropsikologi tentang ‘God Spot’, maka tentulah kita berkesimpulan bahwa
pencapaian manusia dalam melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung
kepada sebanyak mana ia menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits
Qudsi berikut dapat kita pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para
ulama zaman silam ternyata bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam
menambah cahaya Allah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt
berfirman dalam hadits Qudsi:

"Jika HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal


yang Sunnah, maka ia akan kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang
menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan
yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang ia bertutur dengannya dan
Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaku niscaya
Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia
memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku
cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu" (Hadits Qudsi Riwayat at-
Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)

Jelas sekali diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang
banyak melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada
penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para
ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran,
pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi
panca indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh
hasil bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya
diproses oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.

Rangkuman dari semua kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang


unggul dalam bidang apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia
menjadi pakar ilmu pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah
menjadi manusia Eropa pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan
karena menyandera pakar pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat
itu sudah mengarang tiga kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang
kedokteran maka ia menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The
Canon of Medicine nya masih menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji
hingga hari ini), jika ia menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan
misteri angka dan bentuk yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia
matematika; Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-
Khawarizmi) dan jika ia menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan
rakyat karena membawa kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya
(Umar bin Abdul Aziz menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi
orang yang memerlukan bantuan).
Penulis teringat dengan kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada
kulit kitabnya yang monumental; al-Muwattha’, "Tidak akan sukses generasi akhir
dari umat ini, melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah
mensukseskan generasi pertama."

Kita yang hidup pada akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses ‘try and
error’ dalam menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian
yang benar adalah pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin,
yang dengan mudah kita dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti
melantunkan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud
tahajud yang panjang, shalat-shalat sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa
sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura’, puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah
sunnah lainnya yang dapat menaikkan derajat kita menjadi orang yang dicintai
Allah. Ingatlah betapa hadits di atas menerangkan bahwa jika Allah telah
mencintai seseorang maka orang itu dapat melihat, mendengar, berbicara dan
berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah. Inilah inti daripada kecerdasan
spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap
kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan kecerdasan emosional
(Emotional Quotient)

dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com


Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya jumlah sel tersebut
tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi ukuran kepintaran dan kebijaksanaan
seorang manusia adalah sebanyak mana terjadinya interaksi arus listrik (electrical
impulses) antara axon pada satu sel otak dengan dendrite pada sel otak yang lain.
(Lam Peng Kwan & Eric Y K Lam, 2003). Studi empiris membuktikan bahwa
dari 100 milyar sel-sel otak itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata otak
seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 sampai 8% saja. Sedangkan sisa
92% lagi dari 100 milyar sel-sel otak adalah daerah gelap dan terbiar bagaikan
rimba belantara yang tidak pernah dijelajahi. Itu sebabnya banyak ungkapan yang
menggambarkan otak manusia sebagai raksasa yang tidur atau wilayah terbesar
dunia yang belum dijelajahi. (Collin Rose & Malcolm J.Nicholl, 1997).

Jika manusia modern menamakan interaksi arus listrik antar sel otak itu dengan
istilah electrical impulse yang bergerak dari satu axon ke dendrite, ratusan tahun
yang lalu Imam Syafi’i dan gurunya Imam Waki’ ‘mengistilahkannya’ sebagai
Nurullah (Cahaya Allah). Beliau dan gurunya Imam Waki’ berkeyakinan bahwa
dasar daripada pemahaman dan penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan
adalah cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Dalam sinergi
pemahaman yang sederhana bisa disimpulkan bahwa prosentase electrical impulse
pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas
cahaya Allah dalam hati dan pemikiran.
Sebuah riwayat menceritakan bahwa Imam Syafi’i pernah mengadu kepada
gurunya tentang kesukarannya dalam menghafal ilmu pengetahuan. Maka gurunya
Imam Waki’ menasehatinya untuk mensucikan diri dengan meninggalkan
kemaksiatan. Beliau juga berpesan demikian, "Ilmu pengetahuan itu adalah
cahaya Allah. Dan cahaya Allah tidak akan menyinari hati orang yang berbuat
maksiat." Setelah menjalankan pesan gurunya itu tingkat kepahaman dan hafalan
Imam Syafi’i terpacu secara luar biasa. Beliau dapat mengingat hampir seluruh
huruf pada buku yang dibacanya atau seluruh perkataan pada ceramah yang
didengarnya.

Orang yang diterangi Allah hati dan pemikirannya digelari al-Quran sebagai Ulil
Albab. Perkataan Albab adalah bentuk plural dari Lubb yang salah satu maknanya
adalah akal. Maka Ulil Albab bermaksud orang-orang yang memiliki kemampuan
akal yang tinggi (Ibrahim Anis, 1972). Sebutlah nama-nama ulama besar seperti
Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Taymia, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Dengan
mengimbas ‘cahaya Allah’ yang timbul dari ketakwaan, akal mereka begitu
tercerahkan (enlighted) dan berhasil menemukan fenomena-fenomena alam
semesta. Penemuan mereka bahkan masih menjadi sumber inspirasi dalam dunia
ilmu pengetahuan hingga hari ini. Satu-satunya cara yang mereka contohkan agar
‘cahaya Allah’ berperan dalam memacu kekuatan arus listrik pada sel-sel otak
adalah dengan meningkatkan ketakwaan dan meninggalkan kemaksiatan. Firman
Allah:

"Dan bertakwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kamu ilmu, dan
Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu." (Al-Baqarah: 282)

Ayat di atas merupakan rumus yang jelas dan tegas betapa solusi utama yang
paling efisien untuk mengeluarkan umat Islam dari kemunduran pemikiran,
ketumpulan analisa dan kelemahan ilmu pengetahuan adalah dengan
mengkilapkan kembali cahaya ketakwaan dalam sanubari mereka. Inilah cara
yang dicontohkan para ulama terdahulu untuk melejitkan interaksi arus listrik
(electrical impulse) antara axon dengan dendrite dalam otak.

Lebih menarik lagi untuk disimak sebuah kajian empiris yang dilakukan oleh
peneliti ahli dalam bidang neuropsikologi, Michael Persinger dan V.S.
Ramachandran. Mereka berdua menemukan adanya ‘Titik Tuhan’ (God Spot)
dalam belantara otak manusia. Lebih rinci lagi mereka menyebutkan bahwa ada
sebuah area di sekitar lobus temporal otak yang bersinar saat seseorang diajak
untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat keTuhanan. Area tersebut
juga menunjukkan peningkatan aktivitas saat seseorang menerima wejangan
rohani atau renungan keTuhanan.(Martin, Anthony Dio 2003) Seakan-akan sudah
ada suatu mekanisme khusus dalam diri (otak) manusia untuk berhubungan
dengan Pencipta alam semesta. Dan sesungguhnya ‘hubungan’ (atau lazim disebut
dalam Islam dengan ibadah) itulah yang meningkatkan kualitas dirinya sebagai
manusia dan melejitkan kemampuan akalnya.
Kita sama-sama memahami bahwa ilmu pengetahuan terhasil dari kumpulan
pengalaman lima panca indra manusia (penglihatan, penciuman, pendengaran,
perasa dan peraba). Seluruh apa yang dialami oleh lima indra tersebut berupa
rangsangan pengalaman (impulse) diterima oleh saraf penerimaan (receptor
neurone) untuk selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone).
Kesemua proses ini terjadi dengan adanya interaksi arus listrik dalam sel-sel otak
sehingga manusia mampu membentuk suatu kesimpulan (analisa) atau melakukan
respon fisik (motoric neurone).

Sebesar mana proses interaksi arus listrik dalam otak manusia yang terjadi akibat
pengalaman lima indra itu, sebesar itu pulalah daya penyerapan pengetahuan
dalam otak. Maka wajarlah jika timbul perbedaan sudut pandang antara manusia
yang cerdas (yang memiliki kapasitas besar pada interaksi arus listrik pada sel-sel
otaknya) dengan orang awam (yang memiliki kapasitas kecil pada interaksi arus
listrik pada sel-sel otaknya). Terutama dalam kemampuan menganalisa apa yang
dilihat, dirasa, dan didengarnya. Firman Allah SWT:

"Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan tuli dengan orang yang
dapat melihat dan mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan
sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?" (Surah Hud 11: 24)

Ayat di atas mengesahkan fungsi panca indra sebagai sarana penyerap ilmu
pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan pendengaran dan penglihatan di sini
bukanlah alat indra mata atau telinga yang dimiliki oleh semua orang secara sama.
Tetapi kadar kemampuan sel-sel otak dalam menganalisa pengetahuan yang
dideteksi oleh indra-indra tersebut.

Jika kita yakin dengan firman Allah di atas dan percaya dengan penemuan pakar
Neuropsikologi tentang ‘God Spot’, maka tentulah kita berkesimpulan bahwa
pencapaian manusia dalam melejitkan kemampuan sel-sel otak sangat tergantung
kepada sebanyak mana ia menyerap cahaya Allah dalam dirinya. Pada hadits
Qudsi berikut dapat kita pahami betapa sebenarnya kekuatan intelektual para
ulama zaman silam ternyata bertapak pada kekuatan spritual mereka dalam
menambah cahaya Allah dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, Allah SWt
berfirman dalam hadits Qudsi:

"Jika HambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal


yang Sunnah, maka ia akan kucintai (Dan jika demikian) maka Akulah yang
menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan
yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang ia bertutur dengannya dan
Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaku niscaya
Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia
memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku
cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu" (Hadits Qudsi Riwayat at-
Thabrani dalam kitab al-Kabir yang bersumber dari Abu Umamah)
Jelas sekali diilustrasikan dalam hadits Qudsi di atas betapa seorang hamba yang
banyak melakukan ibadah Nawafil (sunnah) akan memiliki kekuatan ekstra pada
penglihatan, pendengaran, karya tangan dan gerakan kaki. Bayangkanlah para
ulama zaman silam yang sudah terbentuk kekuatan penglihatan, pendengaran,
pembicaraan dan pemikirannya dengan cahaya-cahaya Allah. Semua interaksi
panca indranya teramat kuat karena mengambil imbasan kekuatan Allah. Seluruh
hasil bacaannya, hasil pengamatannya, hasil pendengarannya, hasil karya fikirnya
diproses oleh sel-sel otak dengan menggunakan kekuatan cahaya Allah.

Rangkuman dari semua kekuatan itulah yang membentuk peribadi-peribadi yang


unggul dalam bidang apapun yang ditekuninya. Jika ia seorang pelayar maka ia
menjadi pakar ilmu pelayaran yang unggul (Vasco da Gama; tidak akan pernah
menjadi manusia Eropa pertama yang sampai ke India dan Nusantara jika bukan
karena menyandera pakar pelayaran Muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat
itu sudah mengarang tiga kitab ilmu pelayaran), jika ia menekuni bidang
kedokteran maka ia menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The
Canon of Medicine nya masih menyisakan sisi sisi keilmuan medika yang dikaji
hingga hari ini), jika ia menjadi pakar matematik maka ia mampu mengungkapkan
misteri angka dan bentuk yang tidak habis digali sepanjang zaman (Trilogi dunia
matematika; Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma ternyata ditemukan oleh al-
Khawarizmi) dan jika ia menjadi negarawan maka ia menjadi tumpuan kecintaan
rakyat karena membawa kesejahteraan yang tiada tara dalam sejarah bangsanya
(Umar bin Abdul Aziz menjadikan rakyatnya sejahtera sehingga tidak ada lagi
orang yang memerlukan bantuan).

Penulis teringat dengan kata-kata keramat yang ditoreh oleh Imam Malik pada
kulit kitabnya yang monumental; al-Muwattha’, "Tidak akan sukses generasi akhir
dari umat ini, melainkan mereka mengadopsi cara-cara dan tradisi yang telah
mensukseskan generasi pertama."

Kita yang hidup pada akhir zaman ini tidak perlu lagi melakukan proses ‘try and
error’ dalam menciptakan keunggulan sumberdaya manusia. Tumpuan pencarian
yang benar adalah pada meningkatkan serapan cahaya Allah sebanyak mungkin,
yang dengan mudah kita dapati melalui ibadah-ibadah Sunnah seperti
melantunkan al-Quran yang merupakan kalam Ilahi, terdiam dalam sujud-sujud
tahajud yang panjang, shalat-shalat sunnah (Dhuha rawatib, dll), puasa-puasa
sunnah (Senin, Kamis, puasa Asyura’, puasa Arafah, dll) serta ibadah-ibadah
sunnah lainnya yang dapat menaikkan derajat kita menjadi orang yang dicintai
Allah. Ingatlah betapa hadits di atas menerangkan bahwa jika Allah telah
mencintai seseorang maka orang itu dapat melihat, mendengar, berbicara dan
berfikir dengan kekuatan dan cahaya Allah. Inilah inti daripada kecerdasan
spritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap
kecerdasan intelektual (Intelectual Quotient) dan kecerdasan emosional
(Emotional Quotient)
dikutip dari milis daarut-tauhiid@yahoogroups.com