Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kode Etik dalam arti materil adalah norma atau peraturan yang praktis
baik tertulis maupun tidak tertulis mengenai etika berkaitan dengan sikap serta
pengambilan putusan hal-hal fundamental dari nilai dan standar perilaku orang
yang dinilai baik atau buruk dalam menjalankan profesinya yang secara mandiri
dirumuskan, ditetapkan dan ditegakkan oleh organisasi profesi.
Kode etik profesi adalah seperangkat kaidah, baik tertulis maupun tidak
tertulis, yang berlaku bagi anggota organisasi profesi yang bersangkuta. Kode etik
profesi disusun sebagai sarana untuk melindungi masyarakat dan para anggota
organisasi profesi dari penyalahgunaan keahlian profesi. Dengan berpedoman
pada kode etik profesi inilah para profesional melaksanakan tugas profesinya
untuk mencipatakan penghormatan terhadap martabat dan kehormatan manusia
yang bertjuan menciptakan keadilan di masyarakat. Kode etik profesi tentunya
membutuhkan organisasi profesi yang kuat dan berwibawa yang sekaligus mampu
menegakkan etika profesi. Penegakkan kode etik profesi sendiri dimaksudkan
sebagai alat kontrol dan pengawasan terhadap pelaksanaan nilai-nilai yang
tertuang dalam kode etik yang merupakan kesepakatan para pelaku profesi itu
sendiri dan sekaligus juga menerapkan sanksi terhadap terhadap setiap perilaku
yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.1
Kode Etik Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh
perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres
Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati
oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan
tugas dan jabatan sebagai Notaris. Pasal 83 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris menyatakan bahwa “Organisasi Notaris

1
www.anggara.org

1
menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris”. Ketentuan tersebut diatas
ditindaklanjuti dengan ketentuan Pasal 13 ayat (1) Anggaran Dasar Ikatan Notaris
Indonesia yang menyatakan :“Untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat
jabatan notaries, Perkumpulan mempunyai Kode Etik Notaris yang ditetapkan
oleh Kongres dan merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota
Perkumpulan”.2 Sehingga dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat
senantiasa berpedoman kepada kode etik profesi dan berdasarkan Undang-undang
tentang Jabatan Notaris, yaitu Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004. Sejak
berlaku Undang-undang Jabatan Notaris yang baru ini, melahirkan perkembangan
hukum yang berkaitan langsung dengan dunia kenotariatan saat ini. Pertama,
adanya “perluasan kewenangan Notaris”, yaitu kewenangan yang dinyatakan
dalam Pasal 15 ayat (2) butir f, yakni: “kewenangan membuat akta yang berkaitan
dengan pertanahan”. Kewenangan selanjutnya adalah kewenangan untuk
membuat akta risalah lelang. Akta risalah lelang ini sebelum lahirnya Undang-
undang tentang Jabatan Notaris menjadi kewenangan juru lelang dalam Badan
Urusan Utang Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) berdasarkan Undang-undang
Nomor 49 Prp tahun 1960. Kewenangan lainnya adalah memberikan kewenangan
lainnya yang diatur dalam peraturan-perundang-undangan. Kewenangan lainnya
yang diatur dalam peraturan-perundang-undangan ini merupakan kewenangan
yang perlu dicermati, dicari dan diketemukan oleh Notaris, karena kewenangan ini
bisa jadi sudah ada dalam dalam peraturan-perundang-undangan, dan juga
kewenangan yang baru akan lahir setelah lahirnya peraturan-perundang-undangan
yang baru.
Kewenangan yang demikian luas ini tentunya harus didukung pula oleh
peningkatan kemampuan untuk melaksanakannya, sehingga program kegiatan
yang bertujuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kemampuan notaris
merupakan sebuah tuntutan yang merupakan sebuah keharusan. Namun karena
sedemikian luasnya kewenangan yang didapat oleh notaris,itu menjadi sebuah
„lahan basah“ untuk melakukan penyelewengan terhadap kode etik notaris,
sebagai contoh yang menjadi indikator ketidak sesuaian antara Das Sollen dengan

2
uu no 30 tahun 2004

2
Das Sein seorang notaris ialah Sepanjang tahun 2005 hingga 2008 para notaris,
termasuk notaris ‘nakal’, bisa bernafas lega. Sebab, selama periode tersebut baik
Ikatan Notaris Indonesia (INI) maupun Majelis Pengawas Notaris (MPN) tidak
pernah menjatuhkan sanksi pemecatan terhadap notaris ‘nakal’. Padahal saat
kongres INI XX di Surabaya berlangsung, mencuat banyak dugaan pelanggaran
yang dilakukan notaris. Mulai dari pelanggaran UU No. 30/2004 tentang Jabatan
Notaris, penggelapaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
yang dibayarkan klien, hingga membuat akta meski berada di balik jeruji besi.3
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis memilih judul : “ETIKA
PROFESI NOTARIS (Tinjauan Kritis Terhadap Pelaksanaan Etika Profesi
Notaris).

B. Identifikasi Masalah
Dalam rangka memperjelas masalah dalam penulisan tentang judul yang
penulis pilih,maka diperlukan perumusan masalah,sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi seorang notaris terhadap pelaksanaan etika profesi
notaris,yang tercantum dalam UUJN?
2. Bagaimana tindakan hukum terhadap “notaris nakal”?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana implementasi seorang notaris terhadap
pelaksanaan etika profesi notaris.
2. Untuk mengetahui bagaimana tindakan hukum yang akan diberi untuk
“notaris nakal”.

D. Kegunaan Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik


teoritis maupun secara praktis dalam hal kenotariat, yaitu:

3
www.hukumonline.com

3
1. Kegunaan Praktis

Kegunaan bagi penulis dan masyarakat adalah sebagai bahan informasi


yang berkaitan dengan tinjauan kritis terhadap pelaksanaan etika profesi notaris
dan untuk mengetahui tindakan hukum terhadap notaris yang berindak tidak
sesuai UUJN.

2. Kegunaan Teoritis

Hasil dari penelitian berguna bagi tambahan wawasan yang positif bagi
perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam hal kenotariatan dan sebagai
referensi bagi penelitian hukum selanjutnya sebagai bahan kajian penelitian
tentang permasalahan kesenjangan yang terjadi dalam tatanan das sollen dan das
sein.

E. Kerangka Pemikiran
Sistem ialah istilah dari bahsa latin systema atau Yunani systema, artinya
suatu yang terorganisir, keseluruhan kompleks; dari kata itu pula dikenal istilah
synistanai, artinya digabungkan,dikombinasikan. Arti sekarang ialah kombinasi
hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk bagian kompleks atau kesatuan serta
keseluruhan, misalnya sistem pegunungan, sungai-sungai atau trusan-terusan,
asas-asas atau doktrin dalam bidang ilmu pengetahuan khusus, seperti filsafat
suatu metoda yang berkordinasi,atau suatu kompleks atau rencana
prosedur,seperti sistem pemerintahan dan lain-lain.4 Dalam kaitan penulisan ini,
sistem dapat dapat disingkat artinya susunan wewenang notaris dan jika
menyalahi maka akan diancam dengan pidana.
Kode Etik Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan oleh
perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres
Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati
oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan

4
Hmazah, Andi , Sistem Pidana Dan Pemidanaan Indonesia, jakarta : Pradnya Paramita, 1993

4
tugas dan jabatan sebagai Notaris. Adapun sejarahnya, awal mula profesi notaris
sudah ada sejak masa penjajahan, untuk kepentingan pembuat akta-akta pada
masa itu, semula jabatan notaris merangkap sebagai pegawai VOC, dan hal ini
berlangsung sampai tahun 1632. Setelah VOC tidak berkuasa,profesi notaris
menjadi lebih terbuka. Perundang-undangan yang membahas tentang notaris
masih dipertahankan secara mutatis mutandis dari perundang-undangan jaman
penjajahan yaitu Reglement op het Notarisambt (Stbl. 1860 No.3) yang dikenal
dengan Perturan Jabatan Notaris (PJN). Menurut PJN 1860 bahwa jabatan notaris
adalah jabatan resmi untuk membuat akte otentik, sepanjang tidak ada peratuan
yang memberi wewenang serupa kepada pejabat lain.5 dan Untuk Saat ini
undang-undang yang mengatur tentang Notaris adalah UU No. 30 Tahun 2004
tentang jabatan Notaris6
Dalam menjalankan jabatannya, notaris harus menepati beberapa
kewajiban, antara lain:
a. Bertindak jujur
b. Saksama
c. Mandiri
d. Tidak Berpihak
e. Menjaga kepentingan pihaj yang terkait dalam pembuatan hukum (Pasal
16 (1) huruf a).
Dan beberapa larangan yang berlaku bagi Notaris adalah:
a. Menjalankan Jabatan di luar daerah jabatannya
b. Meninggalkan daerah jabatanya lebih dari 7 (tujuh) hari kerja berturut-
turut tanpa alasan yang sah.
c. Merangkap sebagai pegawai negeri.
d. Merangkap jabatan sebagai pejabat negara.
e. Merangkap jabatan sebagai Advokat.

5
Usman, Suparman, Etika Dan Tanggung jawab Profesi Hukum di Indonesia, Jakarta: Gaya Media
Pratama, 2008
6
Notaris adaah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan
lainnya sebagai dimaksud dalam UU No. 30 Tahun 2004.

5
f. Merangkap jabatan sebagai pemimpin atau pegawai badan usaha milik
negara, badan usaha milik daerah, badan usaha milik swasta.
g. Merangkap jabatan sebagai pejabat pembuat akte tanah diluar wilayah
jabatan Notaris.
h. Menjadi Notaris pengganti.
i. Melakukan pekerjaan lain yang berkaitan dengan norma agama,
kesusilaan,atau kepatutan yang dapat mempengaruhi kehormatan dan
martabat Jabatan Notaris.

F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan paper ini adalah
Metode Deskriptif Kualitatif. Bersifat deskriptif karena paper ini dimaksudkan
untuk memberikan gambaran/uaraian secara rinci, sistematis dan menyeluruh
mengenai hal-hal atau fakta-fakta dan menghubungkannya dengan data untuk
menyimpulkan gejala yang diamati dan berkaitan dengan etika profesi notaris.
Kualitatif merupakan suatu cara analisis yang cenderung menggunakan
kata-kata atau pernyataan untuk menjelaskan fenomena ataupun data yang
didapatkan7.Adapun tekhnik pengumpulan data yang dipergunakan dalam
penyusunan paper ini menggunakan cara Studi kepustakaan/ Studi Dokumen.
Studi pustaka (Library research) yaitu dengan mengadakan pemahaman
terhadap bahan-bahan yang tertuang dalam buku-buku pustaka yang berkaitan erat
dengan masalah yang sedang dibahas, yaitu:
a) Bahan hukum Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari
sumber pertama, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat dan
terdiri dari norma atau kaedah dasar, peraturan Undang-undang,
dan bahan hukum lainnya.
b) Bahan hukum Skunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer seperti hasil penelitian, atau
pendapat para pakar hukum dll.

7
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-Press. 1984, h 50

6
G. Sitematika Penulisan
Guna mendapat pemahaman terhadap paper ini, maka perlu di jelaskan
sistematika penulisan paper ini terdiri atas 4 Bab yang masing-masing bab
disusun secara sistematis dan berkesinambungan satu sama lain.

BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisikan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah,
tujuan penulisan, keguanaan penelitian, Kerangka pemikiran,
Metode penelitian, Sistematika Penulisan.

BAB IITinjauan Pustaka


Bab ini berisikan tinjauan umum mengenai etika profesi Notaris yang
terlampir dalam kode etik notaris serta kepribadian notaris, serta
sejarah singkat tentang notaris.

BAB III Pembahasan


Bab ini berisikan mengenai pembahasan dari masalah yang diangkat yaitu
mengenai Implementasi notaris terhadap UUJN No 30 Tahun
2004. Dan juga membahas mengenai permaslahan Notaris nakal.

BAB IV Penutup
Bab ini berisikan simpulan serta saran yang ditulis penulis terhadap
permasalah implementasi notaris terhadap UUJN dan Tindakan
hukum terhadap notaris nakal.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Sejarah Notaris
Notaris adalah sebuah profesi yang dapat dilacak balik ke abad ke 2-3
pada masa roma kuno, dimana mereka dikenal sebagai scribae, tabellius atau
notarius. Pada masa itu, mereka adalah golongan orang yang mencatat pidato.
Istilah notaris diambil dari nama pengabdinya, notarius, yang kemudian menjadi
istilah/titel bagi golongan orang penulis cepat atau stenografer. Notaris adalah
salah satu cabang dari profesi hukum yang tertua di dunia.
Jabatan notaris ini tidak ditempatkan di lembaga yudikatif, eksekutif
ataupun yudikatif. Notaris diharapkan memiliki posisi netral, sehingga apabila
ditempatkan di salah satu dari ketiga badan negara tersebut maka notaris tidak lagi
dapat dianggap netral. Dengan posisi netral tersebut, notaris diharapkan untuk
memberikan penyuluhan hukum untuk dan atas tindakan hukum yang dilakukan
notaris atas permintaan kliennya. Dalan hal melakukan tindakan hukum untuk
kliennya, notaris juga tidak boleh memihak kliennya, karena tugas notaris ialah
untuk mencegah terjadinya masalah.
1. Notaris civil law
Notaris civil law yaitu lembaga notariat berasal dari italia utara dan juga
dianut oleh Indonesia.
Ciri-cirinya ialah: •Diangkat oleh penguasa yang berwenang; •tujuan
melayani kepentingan masyarakat umum; •mendapatkan honorarium dari
masyarakat umum.
2. Notaris common law
Notaris common law yaitu notaris yang ada di negara Inggris dan
Skandinavia.
Ciri-cirinya ialah: •Akta tidak dalam bentuk tertentu; •Tidak diangkat oleh
pejabat penguasa.

8
Sekitar abad ke 5, notaris dianggap sebagai pejabat istana.Di Italia utara
sebagai daerah perdagangan utama pada abad ke 11 - 12, dikenal Latijnse
Notariat, yaitu orang yang diangkat oleh penguasa umum, dengan tujuan
melayani kepentingan masyarakat umum, dan boleh mendapatkan honorarium
atas jasanya oleh masyarakat umum. Latijnse notariat ini murni berasal dari Italia
Utara, bukan sebagai pengaruh hukum romawi kuno. Pada tahun 1888, terbitlah
buku Formularium Tabellionum oleh Imerius, pendiri sekolah Bologna, dalam
rangka peringatan 8 abad sekolah hukum Bologna. Berturut-turut seratus tahun
kemudian ditebitkan Summa Artis Notariae oleh Rantero dari Perugia, kemudian
pada abad ke 13 buku dengan judul yang sama diterbitkan oleh Rolandinus
Passegeri. Ronaldinus Passegeri kemudian juga menerbitkan Flos Tamentorum.
Buku-buku tersebuut menjelaskan definisi notaris, fungsi, kewenangan dan
kewajiban-kewajibannya.
4 istilah notaris pada zaman Italia Utara:
1) Notarii: pejabat istana melakukan pekerjaan administratif;
2) Tabeliones: sekelompok orang yang melakukan pekerjaan tulis menulis,
mereka diangkat tidak sebagai pemerintah/kekaisaran dan diatur oleh
undang-undang tersebut;
3) Tabularii: pegawai negeri, ditugaskan untuk memelihara pembukuan
keuangan kota dan diberi kewenangan untuk membuat akta;Ketiganya
belum membentuk sebuah bentuk akta otentik,
4) Notaris: pejabat yang membuat akta otentik.

Karel de Grote mengadakan perubahan-perubahan dalam hukum peradilan


notaris, dia membagi notaris menjadi:
1. Notarii untuk konselor raja dan kanselarij paus;
2. Tabelio dan clericus untuk gereja induk dan pejabat-pejabat agama yang
kedudukannya lebih rendah dari paus.
Pada abad ke 14, profesi notaris mengalami kemunduran dikarenakan penjualan
jabatan notaris oleh penguasa demi uang dimana ketidaksiapan notaris dadakan
tersebut mengakibatkan kerugian kepada masyarakat banyak

9
Sementara itu, kebutuhan atas profesi notaris telah sampai di Perancis.
Pada abad ke 13, terbitlah buku Les Trois Notaires oleh Papon. Pada 6 oktober
1791, pertama kali diundangkan undang-undang di bidang notariat, yang hanya
mengenal 1 macam notaris. Pada tanggal 16 maret 1803 diganti dengan
Ventosewet yang memperkenalkan pelembagaan notaris yang bertujuan
memberikan jaminan yang lebih baik bagi kepentingan masyarakat umum. Pada
abad itu penjajahan pemerintah kolonial Belanda telah dimulai di Indonesia.
Secara bersamaan pula, Belanda mengadaptasi Ventosewet dari Perancis dan
menamainya Notariswet. Dan sesuai dengan asas konkordasi, undang-undang itu
juga berlaku di Hindia Belanda/ Indonesia.
Notaris pertama yang diangkat di Indonesia adalah Melchior Kelchem,
sekretaris dari College van Schenpenen di jakarta pada tanggal 27 agustus 1620.
Selanjutnya berturut turut diangkat beberapa notaris lainnya, yang kebanyakan
adalah keturunan Belanda atau timur asing lainnya. Pada tanggal 26 januari 1860
diundangkanlah Notaris Reglement yang sejanjutnya dikenal sebagai Peraturan
Jabatan Notaris. Reglement atau ketentuan ini bisa dibilang adalah kopian dari
Notariswet yang berlaku di Belanda. Peraturan jabatan notaris terdiri dari 66
pasal. Peraturan jabatan notaris ini masih berlaku sampai dengan diundangkannya
undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris.8
Setelah Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, terjadi
kekosongan pejabat notaris dikarenakan mereka memilih untuk pulang ke negeri
Belanda. Untuk mengisi kekosongan ini, pemerintah menyelenggarakan kursus-
kursus bagi warga negara Indonesia yang memiliki pengalaman di bidang hukum
(biasanya wakil notaris). Jadi, walaupun tidak berpredikat sarjana hukum saat itu,
mereka mengisi kekosongan pejabat notaris di Indonesia Selanjutnya pada tahun
1954, diadakan kursus-kursus independen di universitas Indonesia. Dilanjutkan
dengan kursus notariat dengan menempel di fakultas hukum, sampai tahun 1970
diadakan program studi spesialis notariat, sebuah program yang mengajarkan
keterampilan (membuat perjanjian, kontrak dll) yang memberikan gelar sarjana
hukum (bukan CN – candidate notaris/calon notaris) pada lulusannya. Pada tahun

8
www.wapedia.mobi.com

10
2000, dikeluarkan sebuah peraturan pemerintah nomor 60 yang membolehkan
penyelenggaraan spesialis notariat. PP ini mengubah program studi spesialis
notarist menjadi program magister yang bersifat keilmuan, dengan gelar akhir
magister kenotariatan. Yang mengkhendaki profesi notaris di Indonesia adalah
pasal 1868 Kitab undang-undang hukum perdata yang berbunyi: “Suatu akta
otentik ialah suatu akta didalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang,
yang dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu
ditempat dimana akta dibuatnya.” Sebagai pelaksanaan pasal tersebut,
diundangkanlah undang-undang nomor 30 tahun 2004 tentang jabatan notaris
(sebagai pengganti statbald 1860 nomor 30).
Menurut pengertian undang undang no 30 tahun 2004 dalam pasal 1
disebutkan definisi notaris, yaitu: “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang
untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana maksud dalam
undang-undang ini.” Pejabat umum adalah orang yang menjalankan sebagian
fungsi publik dari negara, khususnya di bidang hukum perdata.

Sebagai pejabat umum notaris adalah:


1. pancasila;
2. Taat kepada hukum, sumpah jabatan, kode etik notaris;
3. Berbahasa Indonesia yang baik;
Sebagai profesional notaris:
1. Memiliki perilaku notaris;
2. Ikut serta pembangunan nasional di bidang hukum;
3. Menjunjung tinggi kehormatan dan martabat.
Notaris menertibkan diri sesuai dengan fungsi, kewenangan dan kewajiban
sebagaimana ditentukan di dalam undang-undang jabatan notaris.

11
B. Kode Etik Profesi Notaris
Kode etik profesi adalah seperangkat kaidah, baik tertulis maupun tidak
tertulis, yang berlaku bagi anggota organisasi profesi yang bersangkutan. Kode
etik profesi disusun sebagai sarana untuk melindungi masyarakat dan para
anggota organisasi profesi dari penyalahgunaan keahlian profesi. Dengan
berpedoman pada kode etik profesi inilah para profesional melaksanakan tugas
profesinya untuk mencipatakan penghormatan terhadap martabat dan kehormatan
manusia yang bertjuan menciptakan keadilan di masyarakat. Kode etik profesi
tentunya membutuhkan organisasi profesi yang kuat dan berwibawa yang
sekaligus mampu menegakkan etika profesi. Penegakkan kode etik profesi sendiri
dimaksudkan sebagai alat kontrol dan pengawasan terhadap pelaksanaan nilai-
nilai yang tertuang dalam kode etik yang merupakan kesepakatan para pelaku
profesi itu sendiri dan sekaligus juga menerapkan sanksi terhadap terhadap setiap
perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai tersebut.
Kode Etik Profesi Notaris merupakan suatu kaidah moral yang ditentukan
oleh perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia berdasarkan Keputusan Kongres
Perkumpulan dan/atau yang ditentukan dan diatur dalam peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati
oleh setiap dan semua anggota perkumpulan dan semua orang yang menjalankan
tugas dan jabatan sebagai Notaris. Kode Etik Notaris dilandasi oleh kenyataan
bahwa Notaris sebagai pengemban profesi adalah orang yang memiliki keahlian
dan keilmuan dalam bidang kenotariatan, sehingga mampu memenuhi kebutuhan
masyarakat yang memerlukan pelayanan dalam bidang kenotariatan. Secara
pribadi Notaris bertanggungjawab atas mutu pelayanan jasa yang diberikannya.
Spirit Kode Etik Notaris adalah penghormatan terhadap martabat manusia
pada umumnya dan martabat Notaris pada khususnya. Dengan dijiwai pelayanan
yang berintikan “penghormatan terhadap martabat manusia pada umumnya dan
martabat Notaris pada khususnya”, maka pengemban Profesi Notaris mempunyai
ciri-ciri mandiri dan tidak memihak; tidak mengacu pamrih; rasionalitas dalam
arti mengacu pada kebenaran obyektif; spesifitas fungsional serta solidaritas antar
sesama rekan seprofesi. Lebih jauh, dikarenakan Notaris merupakan profesi yang

12
menjalankan sebagian kekuasaan negara di bidang hukum privat dan mempunyai
peran penting dalam membuat akta otentik yang mempunyai kekuatan
pembuktian sempurna dan oleh karena jabatan Notaris merupakan jabatan
kepercayaan, maka seorang Notaris harus mempunyai perilaku yang baik.
Perilaku Notaris yang baik dapat diperoleh dengan berlandaskan pada Kode Etik
Notaris. Dengan demikian, maka Kode Etik Notaris mengatur mengenai hal-hal
yang harus ditaati oleh seorang Notaris dalam menjalankan jabatannya dan juga di
luar menjalankan jabatannya.
Pasal 83 ayat (1) UUJN menyatakan :
“Organisasi Notaris menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris”.
Atas dasar ketentuan Pasal 83 ayat (1) UUJN tersebut Ikatan Notaris Indonesia
pada Kongres Luar Biasa di Bandung pada tanggal 27 Januari 2005, telah
menetapkan Kode Etik yang terdapat dalam Pasal 13 Anggaran Dasar:
1. Untuk menjaga kehormatan dan keluhuran martabat jabatan Notaris,
Perkumpulan mempunyai Kode Etik yang ditetapkan oleh Kongres dan
merupakan kaidah moral yang wajib ditaati oleh setiap anggota perkumpulan.
2. Dewan Kehormatan melakukan upaya-upaya untuk menegakkan Kode Etik .
3. Pengurus perkumpulan dan/atau Dewan Kehormatan bekerjasama dan
berkoordinasi dengan Majelis Pengawas untuk melakukan upaya penegakkan
Kode Etik.
Berdasarkan atas kode etik Notaris Indonesia dan kepribadian Notaris9,
disebutkan bahwa dalam hal menjalankan tugas notaris harus menyadari
kewajibannya, bekerja senderi,jujur, tidak berpihak, dan penuh rasa tanggung
jawab. Notaris dalam menjalankan tugas dan jabatanny menggunakan suatu
kantornya yang telah ditetapkannya sesuai dengan undang-undang dan tidak
mengadakan kantor cabang perwakilan dan tidak menggunakan perantara-
perantara. Dan juga notaris dalam melakukan tugas jabatannya tidak
mempergunakan mass media yang bersifat promosi.
Dalam hal Notaris dengan Kliennya yaitu dalam melakukan tugas
jabatannya memberikan pelayanan kepada masyarakat yang memerlukan jasanya

9
Sungguh,As’ad, Dua puluh Lima etika profesi, Jakarta: Sinar Grafika, 2004, h 36

13
dengan sebaik-baiknya. Notaris dalam melakukan tugas jabatanya memberikan
penyuluhan hukum untuk mencapai kesadaran hukum yang tinggi dalam
masyarakat agar masyarakat menyadari dan menghayati hak dan kewajibannya
sebagai warga negara dan anggota masyarakat, selain itu notaris juga
memberikan jasanya kepada anggota masyarakat yang kurang mampu, dengan
cuma-cuma.
Selain berinterkasi dengan kliennya notaris juga berinteraksi dengan
sesama rekan notaris, yaitu notaris dengan sesama rekan notaris hendaklah hormat
menghormati dalam suasana kekeluargaan, dan juga dalam melakukan tugas
jabatannya tidak melakukan perbuatan ataupun persaingan yang merugikan
sesama rekan Notaris, baik moral maupun materiil dan menjauhkan diri dari
usaha-usaha untuk mencari keuntungan dirinya semata, serta notaris harus saling
menjaga dan membela kehormatan dan nama baik korp notaris atas dasar rasa
solideritas dan sikap tolong menolong secara kontruktif.
Kesemua prilaku notaris ini tentunya memiliki pengawasan dari instasi
yang berkompeten. Pengawasan atas pelaksanaan Kode Etik Notaris ini dilakukan
oleh majelis Kehormatan Daerah Ikatan Notarisn Indonesia dan atau majelis
kehormatan Ikatan Notaris Indonesia Pusat.
Pengawasan notaris menurut UUJN (pasal 67-81) Notaris merupakan
jabatan yang mandiri dan tidak memiliki atasan secara struktural, jadi notaris
bertanggung jawab langsung kepada masyarakat. Pengawas notaris adalah menteri
Hukum dan HAM, yang dalam rangka mengawasi notaris membentuk majleis
pengawas dengan unsur:
• Pemerintah; Sebagai penguasa yag mengangkat pejabat notaris.
• Notaris; Notaris dilibatkan karena notaris yang mengetahui seluk-beluk
pekerjaan notaris.
• Akademisi. Kehadirannya dikaitkan dengan perkembangan ilmu hukum,
karena lingkup kerja notaris bersifat dinamis dan selalu berkembang

14
Yang diawasi oleh majelis pengawas:
• Tingkah laku notaris;
• Pelaksanaan jabatan notaris;
• Pemenuhan kode etik notaris, baik kode etik dalam organisasi notaris
ataupun yang ada dalam UUJN;
Organisasi notaris adalah wadah perkumpulan notaris. Di Indonesia, hanya
ada satu organisasi yang diakui yaitu Ikatan Notaris Indonesia (INI). INI telah ada
dari awal munculnya profesi notaris di Indonesia. Wadah yang diakui hanya satu
karena wadah profesi ini memiliki satu kode etik. Dan juga diakui oleh
Departemen Hukum dan HAM, sesuai dengan keputusan menteri Hukum dan
HAM No.M.01/2003 pasal 1 butir 13.

15
BAB III
PEMBAHASAN

A. Implementasi Notaris Terhadap UUJN (No 30 Tahun 2004)


Di sini hukum tidak dapat hanya dipandang sebagai pasal-pasal yang
bersifat imperatif atau keharusan-keharusan yang bersifat das sollen, melainkan
harus dipandang sebagai subsistem yang dalam kenyataan (das sein) bukan tidak
mungkin sangat ditentukan oleh politik, baik dalam perumusan materi dan pasal-
pasalnya maupun dalam implementasi dan penegakannya.
Dalam hal ini kami menyoroti pasal 18 tentang kedudukan dan wilayah
jabatan notaries serta kantornya. Pasal 15 ayat (2) huruf f juga perlu dibahas
dalam paper ini karena terkait dengan peraturan perundang-undangan lain yang
mengatur ketersinggungan kewenangan institusi lain di bidang kenotariatan.
Selain ketentuan di atas, Pasal 20 dan beberapa ketentuan delegasian kepada
Menteri Hukum dan HAM perlu juga dimunculkan dalam kesempatan ini, dalam
rangka memperoleh masukan bagaimana nantinya substansi peraturan
pelaksanaan yang akan dipersiapkan oleh Departemen Hukum dan HAM untuk
mengatur persyaratan dalam menjalankan jabatan notaris dalam satu perkumpulan
perdata, termasuk format kerahasiaan akta dan protokol notaris.10
1. Kedudukan dan wilayah notaris
Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 18 UUJN, notaris mempunyai
tempat kedudukan di daerah kabupaten atau kota dan notaris mempunyai
wilayah jabatan meliputi seluruh wilayah provinsi dari tempat kedudukannya.
Dalam penjelasan pasal tidak dijelaskan oleh pembentuk undang-undang
karena ketentuan tersebut memang sudah jelas. Pasal 19 lebih lanjut
menentukan bahwa notaris wajib mempunyai hanya satu kantor, yaitu di
tempat kedudukannya, dan notaris tidak berwenang secara teratur
menjalankan jabatan di luar tempat kedudukannya. Dengan demikian, notaries
dilarang mempunyai kantor cabang, perwakilan, dan/atau bentuk lainnya.
Ketentuan ini selain membatasi kewenangan notaris, juga akan menambah

10
www.legalitas.org

16
pekerjaan Majelis Pengawas (yang dibentuk oleh Menteri berdasarkan Pasal
67 UUJN) untuk selalu mengawasi notaris dalam menjalankan jabatannya.
Pasal 17 menentukan secara tegas bahwa notaris dilarang menjalankan jabatan
di luar wilayah jabatannya. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi
kepastian hukum kepada masyarakat dan sekaligus mencegah terjadinya
persaingan tidak sehat antar-notaris dalam menjalankan jabatannya. Jadi, jika
notaris berkedudukan di Kabupaten Bogor, maka wilayah jabatannya adalah
seluruh wilayah provinsi Jawa Barat.
Ketentuan mengenai tempat kedudukan dan wilayah jabatan notaris di atas
terkait dengan hubungan “teposeliro” antarnotaris dalam mencari (melayani)
klien sehingga di sini diperlukan suatu kerja sama dan saling menghargai satu
sama lain. Kebersamaan lebih ditekankan dalam membina korps profesi
jabatan notaris.

2. Kewenangan Notaris
Pasal 15 UUJN menentukan kewenangan notaris secara rinci, termasuk
pengecualiannya. Pengecualian tersebut dapat dilakukan, namun ditentukan
terlebih dahulu oleh suatu undang-undang. Pengecualian atas kewenangan
semacam ini secara relatif memang sulit dilakukan, namun perlu diwaspadai
bahwa pembentuk undang-undang kemungkinan nantinya akan melakukan
manuver untuk mengurangi kewenangan notaris. Model yang terakhir ini
sering dilakukan demi kepentingan sektor tertentu untuk memperoleh
kewenangan baru atau malah mengambil kewenangan sektor lain melalui
pembentukan suatu undang-undang.
Dalam bagian ini, hanya dibahas mengenai kewenangan notaris yang
ditentukan dalam Pasal 15 ayat (2) huruf f yang berbunyi “notaris berwenang
membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan”. Ketentuan semacam ini
sudah barang tentu membawa konsekuensi yuridis dan politis yang besar di
lingkungan pemerintahan, khususnya yang terkait dengan tugas pendaftaran
tanah yang telah dilaksanakan oleh pejabat pembuat akta tanah.

17
Permasalahan di atas harus segera dibenahi bersama oleh pemerintah
sebagai pelaksana undang-undang. Kelemahan Pasal 15 ayat (2) huruf f UUJN
ini terlihat tidak adanya ketentuan peralihan yang menjembatani pelaksanaan
pendaftaran tanah yang selama ini dilakukan oleh pejabat pembuat akta tanah
yang didasarkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang
Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.
Kedua Peraturan Pemerintah di atas sering dipermasalahkan oleh orang,
terutama oleh akademisi, karena materi muatan yang diaturnya adalah materi
muatan undang-undang. Di samping itu, kedua Peraturan Pemerintah tersebut
dibentuk bukan atas dasar pendelegasian yang jelas dari suatu undang-undang.
Makna melaksanakan pendaftaran hanyalah tindakan adminstratif mendata,
bukan memberikan hak tertentu dan membebani kewajiban kepada
masyarakat. Tampaknya Pasal 15 ayat (2) huruf f ini akan mengembalikan
posisi kewenangan semula melalui satu pintu. Jika hal ini yang diinginkan,
maka seyogyanya pemerintah mengambil inisiatif untuk membenahi dengan
menetapkan suatu peraturan pemerintah yang mengatur mengenai masa
transisi beralihnya lembaga pendaftaran tanah ke lembaga kenotariatan.
Dengan demikian, pemerintah, dalam hal ini BPN, hanya mendata dan
mengatur mengenai rangkaian kegiatan yang meliputi pengumpulan,
pengelolaan, pembukuan, penyajian, dan pemeliharaan data fisik dan data
yuridis bidang-bidang tanah dalam bentuk peta dan daftar.

Suatu keinginan yang patut dipuji bahwa notaris dalam menjalankan


jabatannya mempunyai kemauan untuk berkumpul bersama dalam satu kantor.
Hal ini menunjukkan bahwa solidaritas antarnotaris semakin dapat diwujudkan di
masa mendatang karena kesulitan notaris (baik materiel maupun nonmateriel)
yang satu dengan lainnya tidaklah sama. Di samping itu, kebersamaan ini dapat
dijadikan ajang untuk belajar dan menimba bidang-bidang ilmu dari notaris yang
mempunyai pengalaman lebih. Pembidangan ilmu bagi notaris yang berkeinginan
untuk bergabung bersama perlu dilakukan, namun tetap memperhatikan

18
proporsional pendapatan pemberian pelayanan kepada klien dengan melakukan
perjanjian tertentu. Berdasarkan Pasal 20 ayat (3), persyaratan dalam menjalankan
jabatan notaris dalam satu kantor bersama akan diatur dalam Peraturan Menteri.
Dalam Peraturan Menteri harus diatur pula makna “kemandirian” and
“ketidakberpihakan” dalam menjalankan jabatannya.

B. Tindakan Hukum Terhadap “Notaris Nakal”


Notaris diminta untuk selalu berpedoman pada kode etik profesi dan UU
Nomor 30 Tahun 2004 tentang jabatan notaris. Ini karena jabatan notaris dinilai
mudah tergelincir pada hal yang merugikan dan melanggar kode etik profesi
Notaris.11 Dari kutipan pidato ini, dapat diambil hikmah bahwa dalam
menjalankan jabatan profesi sebagai notaris harus tetap terus pada koridor yang
telah ditentukan oleh pemerintah, dan harus ada pengawasan dari instansi atau
badan hukum yang khusus mengawasi tindak tanduk notaris dalam hal ini MPN
(Majelis Pengawas Notaris). Karena berdasarkan data yang didapat sepanjang
tahun 2005 hingga tahun 2008 para notaris (termasuk “notaris nakal”) dapat
bernafas lega. sebab selama periode tersebut baik Ikatan Notaris Indonesia (INI)
maupun Majelis Pengawas Notaris (MPN) tidak pernah menjatuhkan sanksi
pemecatan terhadap notais “nakal”. Padahal saat kongres INI XX di Surabaya
berlangsung, mencuat banyak dugaan pelanggaran yang dilakukan notaris. Mulai
dari pelanggaran UU No. 30/2004 tentang Jabatan Notaris, penggelapaan Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) yang dibayarkan klien, hingga
membuat akta meski berada di balik jeruji besi.
Tidak adanya notaris yang dikenakan sanksi oleh organisasi memang patut
dipertanyakan karena sudah ada Majelis Pengawas Notaris. Selain oleh MPN,
kalangan anggota Komisi Hukum DPR pun mengaku tetap mengawasi. “Komisi
III akan terus mengawasi perilaku notaris dan pejabat pembuat akta tanah, karena
banyak notaris yang seenak-enaknya membuat akta dan mereka harus
memperbaharui izin pertahun. Pelanggaran oleh profesi notaris dapat
menimbulkan ketidakpercayaan dikalangan masyarakat.“Seharusnya untuk
11
pidato menteri hukum dan ham Andi Mattalatta pada saat seminar tentang UU No 40 Tahun 2007
tentang PT di Yogyakarta. dikutip dari Kompas edisi senin 7 juli 2008.

19
meningkatkan etika profesi notaris, INI menyelenggarakan ujian kode etik tiap
tahun, selain itu anggota INI yang duduk MPN baik di tingkat daerah, pusat
maupun wilayah melaporkan hasil keraja MPN kepada ini tiap enam bulan”12.
Namun dalam hal ini ada pendapat lain, bahwa minimnya penindakan
notaris nakal disebabkan MPN tidak bisa proaktif, artinya MPN tidak bisa
bertindak tanpa ada laporan dari masyrakat,hal ini di pertegas oleh Pasal 70 UU
Jabatan Notaris huruf g hanya memberi wewenang kepada MPN Daerah untuk
menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan pelanggaran kode
etik. Oleh sebab itu ada kabar bahwa dengan tidak maksimalnya kinerja MPN
dalam menangani permasalahan notaris nakal dan karena dirasa tidak terlalu
memahami peran notaris,maka MPN akan dihapuskan. Sebab dalam hal
pengawasan dan lain-lain Dewan Kehormatan INI sebenarnya memiliki
kewenangan untuk menindak notaaris nakal. Namun karena ada MPN yang
tugasnya sama-sama melakukan pembinaan dan pengawasan, dewan kehormatan
tidak bisa berperan aktif karena terjadi tumpang tindih dengan MPN.
Untuk menindak notaris nakal seharusnya UUJN memuat ketentuan
pidana khusus untuk notaris yang melanggar jabatan, baik itu berupa denda
sampai dengan kurungan atau penjara. Karena pada dasarnya notaris bekerja utuk
membuat akta. Dengan akta itu, notaris dapat menyebabkan seseorang kehilangan
haknya. Seandainya hak orang itu sampai hilang, otomatis masyarakat akan
dirugikan,karena itu perilaku notaris perlu diawasi dan pembinaan. untuk
pembinaan seharusnya dilakukan oleh Mahkamah Agung, sebab produk notaris
ialah akta otentik yang bisa menjadi bukti yang sempurna di Pengadilan.
Pembinaan itu dilakukan dengan melakukan pemeriksaan pembukuan dan
protokoler notaris. Dalam hal ini masyarakat juga dapat membuat komisi
independen yang bertugas sebagai komisi pengawas notaris khusus. komisi ini
sifatnya hanya melihat dan melaporkan, tidak bisa melakukan penindakan, Seperti
komisi Perlindungan Anak Indonesia.“masyarakat dapat dilibatkan tapi bentuknya
tidak dalam bentuk majelis“13

12
dikutip dari Tien Norman Lubis (Ketua umum INI)
13
diambil dari www.hukumoline.com dikutip dari widyatmoko

20
Sebagi contoh dari adanya notaris nakal ialah menurut survei integritas
yang dilakukan KPK, belum lama ini menunjukan bahwa 80% pengguna layanan
di Ditjen Administrasi Hukum Umum (AHU) Depkumham, umumnya notaris
menggunakan uang pelicin agar ditempatkan di lahan basah. Selain urusan pelicin
tadi, dinamika dunia notaris layak mendapat perhatian. Di milis notaris misalnya
berkembang wacana tentang adanya notaris yang bekerja sambilan sebagai legal
officer di perusahaan swasta. Pasal 17 UU No. 30 Tahun 2004 sudah tegas
melarang notaris pegawai atau pemimpin badan usaha milik negara atau milik
swasta. Memang, sulit membuktikan sinyalemen ini kalau tanpa diungkap ke
permukaan disertai bukti. Apalagi ternyata tidak gampang menyeret notaris yang
rangkap jabatan semacam itu ke ranah hukum.

BAB IV
PENUTUP

21
A. Simpulan
Berdasarkan apa yang telah diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, maka
pada bab ini akan dikemukakan suatu simpulanatau intisaridari permasalahan
yang diteliti, adalah sebagai berikut:
1. Dengan disahkannya UUJN No 30 Tahun 2004 ini,
telah memunculkan bebagai macam tanggapan, baik yang datang dari
kalangan notaris sendiri maupun dari pihak lain yang merasa UU tersebut
memangkas kewenangan yang selama ini merupakan kewenangannya.
dalam hal implementasi pula harus sejalan antara das sollen dengan das
sein nya, artinya dalam hal tindak tanduk/prilaku notaris yang telah diatuar
oleh UU No 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris harus di
implementasikan ke visual yang nyata,bukan hanya dijadikan sebagai
formalitas Undang-undang saja. Misalanya seperti telah penulis sebutkan
diawal bawha pasal 18 mengenai kedudukan dan wilayah jabatan notaris
dan pasal 15 ayat (2) huruf f mengenai kewenangan notaris perlu di perjelas
karena menyangkut dengan peraturan perundang-undangan yang lain yang
mengatur ketersinggungan kewenangan institusi lain dibidang kenotariatan
dan juga pasal 20, ini harus dipertegas batsannya agar tidak menimbulkan
polemik yang lebih lanjut.
Namun dalam hal ini ada nilai plus yang membuat angin segar,
adalah suatu keinginan yang patut di puji bahwa notaris dalam menjalankan
jabatanya mempunyai keinginan berkumpul bersama dalam satu kantor. hal
ini menunjukan bahwa solidaritas antar notaris semakin dapat diwujudkan
dimasa mendatang. Di samping itu, kebersamaan ini dapat dijadikan ajang
untuk belajar dan menimba bidang-bidang ilmu dari notaris yang
mempunyai pengalaman lebih. Pembidangan ilmu bagi notaris yang
berkeinginan untuk bergabung bersama perlu dilakukan, namun tetap
memperhatikan proporsional pendapatan pemberian pelayanan kepada klien
dengan melakukan perjanjian tertentu. Berdasarkan Pasal 20 ayat (3),
persyaratan dalam menjalankan jabatan notaris dalam satu kantor bersama
akan diatur dalam Peraturan Menteri. Dalam Peraturan Menteri harus diatur

22
pula makna “kemandirian” and “ketidakberpihakan” dalam menjalankan
jabatannya.

2. Notaris dalam hal ini dituntut agar selalu mematuhi UU No 30


Tahun 2004 dan berpedoman pada kode etik profesi dalam beraktifiitas
kenotariatan, karena dinilai jabatan notaris rentan akan pelanggaran kode
etik profesi khususnya kode etik profesi notaris. Tentunya notaris dalam
melayani masyarakat harus senantiasa berpedoman pada kode etik profesi
dan berdasarkan UUJN, untuk mencegah dan menghapus korupsi, kolusi,
dan nepotisme serta suap, sekaligus menciptakan tata kelola pemerintah
yang bersih.
Misalanya saja, dalam salah satu situs menyebutkan bahawa
notaris terlibat 153 kasus pidana sejak tahun 2005 samapai tahhun 2007 di
Direktorat Reskrim dan satuan wilayah di jajaran Poldasu, dimana 10 orang
telah dinyatakan sebagia tersangka dan sebanyak 143 orang jadi saksi. Dan
pada umumnya mereka terlibat kasus pidana pasal 231 KUHP, pasal 263
KUHP, pasal 266 KUHP, dan pasal 372 serta pasal 378 KUHP. Dalam
contoh kasus ini jelas hanya terdapat dalam satu kawasan saja,dan masih
banyak kawasan-kawasan lain yang mungkin mengalami hal yang sama
yaitu.

B. Saran

23
1. Untuk menjalankan dan melaksanakan UUJN, salah satunya,
adalah dengan secepatnya menetapkan Peraturan Menteri yang memang
diminta oleh UUJN. Ada 6 (enam) Peraturan Menteri yang harus
ditetapkan oleh Menteri Hukum dan HAM, yakni:
a. Peraturan Menteri tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan dan
Pemberhentian Notaris;
b. Peraturan Menteri tentang Bentuk dan Ukuran Cap/Stempel
Lambang Negara RI;
c. Peraturan Menteri tentang Persyaratan dalam Menjalankan Jabatan
Notaris;
d. Peraturan Menteri tentang Formasi Jabatan Notaris;
e. Peraturan Menteri tentang Tata Cara Permohonan Pindah Wilayah
Jabatan Notaris;
f. Peraturan Menteri tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian
Anggota, Susunan Organisasi dan Tata Kerja, serta Tata Cara
Pemeriksaan Majelis Pengawas.
Proses pembentukan keenam Peraturan Menteri di atas perlu
dipantau oleh organisasi notaris dalam rangka penyeimbangan substansi
agar tidak terjadi ketimpangan pengaturan.

2. Untuk menindak notaris nakal seharusnya UUJN memuat ketentuan pidana


khusus untuk notaris yang melanggar jabatan, baik itu berupa denda
sampai dengan kurungan atau penjara. Karena pada dasarnya notaris
bekerja utuk membuat akta. Dengan akta itu, notaris dapat menyebabkan
seseorang kehilangan haknya. Seandainya hak orang itu sampai hilang,
otomatis masyarakat akan dirugikan,karena itu perilaku notaris perlu
diawasi dan pembinaan. untuk pembinaan seharusnya dilakukan oleh
Mahkamah Agung, sebab produk notaris ialah akta otentik yang bisa
menjadi bukti yang sempurna di Pengadilan. Pembinaan itu dilakukan
dengan melakukan pemeriksaan pembukuan dan protokoler notaris. Dalam
hal ini masyarakat juga dapat membuat komisi independen yang bertugas

24
sebagai komisi pengawas notaris khusus. komisi ini sifatnya hanya melihat
dan melaporkan, tidak bisa melakukan penindakan, Seperti komisi
Perlindungan Anak Indonesia.“masyarakat dapat dilibatkan tapi bentuknya
tidak dalam bentuk majelis

25