Anda di halaman 1dari 5

Nama : Devianty Hartady

NPM : 1306381414
Mata Kuliah : Asas-asas Hukum Pidana
Dosen : Gandjar Bonaprapta Bondhan S.H, M.H

1. Apa bedanya pidana penjara dengan pidana kurungan?

Hukuman penjara maupun kurungan, keduanya adalah bentuk pemidanaan dengan menahan
kebebasan seseorang karena melakukan suatu tindak pidana sebagaimana dijelaskan dalam
Pasal 22 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Pidana penjara dan kurungan
adalah pidana pokok yang dapat dijatuhkan hakim selain pidana mati, pidana denda, dan
pidana tutupan (Pasal 10 KUHP).
Perbedaan antara hukuman penjara dengan kurungan antara lain adalah sebagai berikut:
Pidana Penjara
o Pidana penjara dapat dikenakan selama seumur hidup atau selama waktu tertentu,
antara satu hari hingga dua puluh tahun berturut-turut (baca Pasal 12 KUHP) serta
dalam masa hukumannya dikenakan kewajiban kerja (Pasal 14 KUHP).
o Pidana penjara dikenakan kepada orang yang melakukan tindak pidana kejahatan
(lihat Pasal 18 ayat (2) KUHP).
Pidana Kurungan
Pidana kurungan dikenakan paling pendek satu hari dan paling lama satu tahun
(Pasal 18 ayat (1) KUHP) tetapi dapat diperpanjang sebagai pemberatan hukuman
penjara paling lama satu tahun empat bulan (Pasal 18 ayat (3) KUHP) serta
dikenakan kewajiban kerja tetapi lebih ringan daripada kewajiban kerja terpidana
penjara (Pasal 19 ayat (2) KUHP).
Pidana kurungan dikenakan kepada orang yang melakukan tindak pidana
pelanggaran (lihat buku ketiga KUHP tentang Pelanggaran), atau sebagai pengganti
pidana denda yang tidak bisa dibayarkan (Pasal 30 ayat (2) KUHP).
Menurut Pasal 28 KUHP, pelaksanaan hukuman penjara dan hukuman kurungan dapat saja
dilakukan di tempat yang sama, asalkan terpisah. Maksudnya orang yang sedang menjalani
hukuman penjara maupun hukuman kurungan bisa berada dalam satu tempat (Lembaga
Pemasyarakatan) tetapi sel mereka dibedakan dan tidak tercampur.
Mr. Drs. E.Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana II (hal. 307-316) menjelaskan bahwa
hukuman kurungan lebih ringan dari hukuman penjara berdasarkan Pasal 10 jo. Pasal 69
KUHP karena tingkatan hukuman kurungan berada dibawah hukuman penjara. Hukuman
kurungan ditentukan bagi delik yang lebih ringan seperti kejahatan kealpaan (eulpose
misdrijven) dan pelanggaran. Bentuk lain dari sifat lebih ringan hukuman kurungan
dibandingkan hukuman penjara yaitu:
a)
Terpidana penjara dapat dibawa ke tempat lain untuk dipindahkan dan tidak boleh
menolak. Sedangkan terpidana kurungan berdasarkan Pasal 21 KUHP tidak boleh
dipindahkan tanpa mendapat persetujuannya.

b) Berdasarkan Pasal 23 KUHP, terpidana kurungan masih bisa mendapat uang saku diluar
upah kerja wajib, sebagai bekal saat ia keluar dari penjara dan pulang.
Jadi, intinya hukuman penjara dan hukuman kurungan sama-sama berupa penahanan
kemerdekaan seseorang karena melakukan tindak pidana. Akan tetapi perlakuan terhadap
terpidana kurungan lebih ringan daripada perlakuan terhadap terpidana penjara.
1. Apakah kurungan dapat diganti dengan pidana denda?
Terpidana dapat menjalani pidana kurungan pengganti tanpa menunggu batas waktu
pembayaran denda. Pada dasarnya, terpidana dapat mengurangi pidana kurungannya dengan
membayar dendanya. Pembayaran sebagian dari pidana denda, baik sebelum maupun sesudah
mulai menjalani pidana kurungan pengganti, membebaskan terpidana dari sebagian pidana
kurungan yang seimbang dengan bagian yang dibayarnya.
Kejahatan culpa. Dalam hal tersebut di pandang wajar untuk diancamkan dengan pidana
penjara maka ancaman pidana itu di susun secara alternatif antara ancaman pindana penjara
dan kurungan dan mungkin juga dengan pidana penjara dan kurungan dan mungkin juga
dengan pidana denda. Terdapat alternatif antara kurungan dengan denda. Dari sudut
penjatuhan pidana biasanya yang dijatuhkan adalah pidana kurungan namun apabila karena
keadaan pelaku atau diluar pelaku dipandang sebagai pemberatan maka dijatuhkan pidana
penjara dan jika dipandang sangat merigankan dijatuhkan pidana denda. Pelanggaran yang
biasanya diancamkan secara alternatif, dengan pidana denda. Bahkan untuk beberapa
pelanggaran justru pidana denda tersebut yang lebih menonjol.
2. Apakah perbedaan antara pidana bersyarat dan pelepasan bersyarat?
Pidana bersyarat adalah Pidana dengan syarat-syarat tertentu, yang dalam praktik hukum
disebut dengan pidana/hukuman percobaan. Pidana bersyarat adalah suatu sistem penjatuhan
pidana oleh hakim yang pelaksanaannya bergantung pada syarat-syarat tertentu atau kondisi
tertentu.
Dalam buku Azas-Azas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya (Kanter E.Y & S.R.
Sianturi, 2002, Storia Grafika) dijelaskan bahwa pidana bersyarat adalah Sekedar suatu
istilah umum, sedangkan yang dimaksud bukanlah pemidanaannya yang bersyarat, melainkan
pemidanaannya pidana itu yang digantungkan pada syarat-syarat tertentu.
Pidana bersyarat diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pada Pasal
14 a yang berbunyi:
(1) Apabila hakim menjatuhkan pidana paling lama satu tahun atau pidana kurungan, tidak
termasuk pidana kurungan pengganti maka dalam putusnya hakim dapat memerintahkan
pula bahwa pidana tidak usah dijalani, kecuali jika dikemudian hari ada putusan hakim yang
menentukan lain, disebabkan karena si terpidana melakukan suatu tindak pidana sebelum
masa percobaan yang ditentukan dalam perintah tersebut diatas habis, atau karena si
terpidana selama masa percobaan tidak memenuhi syarat khusus yang mungkin ditentukan
lain dalam perintah itu.
(2) Hakim juga mempunyai kewenangan seperti di atas, kecuali dalam perkara-perkara yang
mangenai penghasilan dan persewaan negara apabila menjatuhkan pidana denda, tetapi

harus ternyata kepadanya bahwa pidana denda atau perampasan yang mungkin
diperintahkan pula akan sangat memberatkan si terpidana . Dalam menerapkan ayat ini,
kejahatan dan pelanggaran candu hanya dianggap sebagai perkara mengenai penghasilan
negara, jika terhadap kejahatan dan pelanggaran itu ditentukan bahwa dalam hal dijatuhkan
pidana denda, tidak diterapkan ketentuan pasal 30 ayat 2.
(3) Jika hakim tidak menentukan lain, maka perintah mengenai pidana pokok juga mengenai
pidana pokok juga mengenai pidana tambahan.
(4) Perintah tidak diberikan, kecuali hakim setelah menyelidiki dengan cermat berkeyakinan
bahwa dapat diadakan pengawasan yang cukup untuk dipenuhinya syarat umum, bahwa
terpidana tidak akan melakukan tindak pidana, dan syarat-syarat khusus jika sekiranya
ditetapkan.
(5) Perintah tersebut dalam ayat 1 harus disertai hal-hal atau keadaan-keadaan yang
menjadi alasan perintah itu.
Pidana bersyarat pernah kita dengar pada suatu kasus yang terkenal yakni pemidanaan Rasyid
Amrullah Rajasa. Dalam kasus ini, majelis hakim menerapkan Pasal 14 a KUHP yang
bertujuan sebagai wujud pencegahan agar tidak melakukan hal yang sama. Ketua Majelis
Hakim yang menjatuhkan vonis, Suharjono, berpandangan bahwa telah terwujud prinsip teori
hukum restorative justice dalam putusan hakim sehingga setimpal dengan perbuatan Rasyid.
Selain itu, Suharjono juga mengatakan Terdakwa berlaku sopan, tidak mempersulit
persidangan, masih muda, dan keluarga bertanggung jawab. Baca berita selengkapnya di
sini.
Kedua, mengenai Pembebasan Bersyarat. Pembebasan bersyarat adalah bebasnya Narapidana
setelah menjalani sekurang-kurangnya dua pertiga masa pidananya dengan ketentuan dua
pertiga tersebut tidak kurang dari 9 (sembilan) bulan. Pengertian ini terdapat dalam
Penjelasan Pasal 12 huruf k UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.
3. Bilamana hakim dapat menjatuhkan pidana bersyarat?
Penjatuhan pidana bersyarat oleh hakim terhadap terdakawa telah diketahui ada dua jenis
syarat yang harus dipenuhi yaitu syarat umum dan syarat khusus.
a.

Persyaratan umum

Syarat umum dalam putusan percobaan taua pidana bersyarat bersifat imperative, artinya bila
hakim menjatuhkan pidana dengan bersyarat, dalam putusannya itu harus ditetapkan syarat
umum. Dalam syarat umum harus ditetapkan oleh hakim bahwa dalam tenggang waktu
tertentu atau masa percobaan terpidana tidak boleh melakukan tindak pidana, ketentuan ini
diatur dalam Pasal 14c ayat (1) KUHP :
Dengan perintah yang dimaksud pasal 14a, kecuali jika dijatuhkan pidana denda, selain
menetapkan syarat umum bahwa terpidana tidak akan melakukan tindak pidana, hakim
dapat menetapkan syarat khusus bahwa terpidana tindak pidana, hakim dapat menerapkan
syarat khusus bahwa terpidana dalam waktu tertentu, yang lebih pendek daripada masa
percobaannya, harus mengganti segala atau sebagian kerugian yang ditimbulkan oleh tindak
pidana tadi.

Syarat umum ialah terpidana tidak akan melakukan perbuatan delik. Dalam syarat umum ini
tampak jelas sifat mendidik dalam putusan pidana dengan bersyarat, dan tidak tampak lagi
rasa pembalasan sebagaimana dianut oleh teori pembalsan.
b. Persyaratan khusus
Dalam persyaratan khusus akan ditentukan oleh hakim jika sekiranya syarat-syarat itu ada.
Hakim boleh menentukan hal-hal berikut :
1)
Pengganti kerugian akibat yang ditimbulkan oleh dilakukannya tindak pidana baik
seluruhnya maupun sebagian, yang harus dibayarnya dalam tenggang waktu yang ditetapkan
oleh hakim yang lebih pendek dari masa percobaan (Pasal 14 ayat 1 KUHAP).
2) Dalam hal hakim menjatuhkan pidana penjara lebih dari tiga bulan atau pidana kurungan
atas pelanggaran ketentuan Pasal 492 KUHP (mabuk di tempat umum), Pasal 504 KUHP
(pengemisan), Pasal 505 KUHP (pergelandangan), Pasal 506 KUHP (mucikari), Pasal 536
KUHP (mabuk di jalan umum), hakim dapat menetapkan syarat-syarat khusus yang
berhubungan dengan kelakuan terpidana (Pasal 14a ayat (2) KUHP). Syarat-syarat khusus
tersebut tidak diperkenankan sepanjang melanggar atau mengurangi hak-hak terpidana dalam
hal berpolitik (kenegaraan) dan menjalankan agamanya (Pasal 14a ayat (5) KUHP).
Dalam perkaraperkara tindak pidana yang melibatkan anak, Lembaga Pidana Bersyarat juga
dikenal dalam UU No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, khususnya dalam pasal 29
yang menyebutkan Pidana bersyarat dapat dijatuhkan oleh Hakim, apabila pidana penjara
yang dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun.
4. Apa yang dimaksud dengan pidana tutupan?
Pidana tutupan merupakan salah satu bentuk pidana pokok yang diatur dalam Pasal 10 Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Penambahan pidana tutupan ke dalam ketentuan
KUHP didasarkan pada ketentuan Pasal 1 UU No. 20 Tahun 1946 tentang Hukuman Tutupan
(UU 20/1946). Di dalam Pasal 2 UU 20/1946 disebutkan bahwa:
(1)
Dalam mengadili orang yang melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman
penjara, karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati, hakim boleh menjatuhkan
hukuman tutupan.
(2) Peraturan dalam ayat 1 tidak berlaku jika perbuatan yang merupakan kejahatan atau
cara melakukan perbuatan itu atau akibat dari perbuatan tadi adalah demikian sehingga
hakim berpendapat, bahwa hukuman penjara lebih pada tempatnya.
Berdasarkan Pasal 5 ayat (2) UU 20/1946 tempat untuk menjalani hukuman tutupan ini,
mengenai tata usaha dan tata tertibnya diatur oleh Menteri Kehakiman dengan persetujuan
Menteri Pertahanan. Ketentuan mengenai tempat menjalani hukuman tutupan diatur lebih
lanjut dalam ketentuan PP No. 8 Tahun 1948 tentang Rumah Tutupan (PP 8/1948).
Pelaksanaan pidana tutupan berbeda dengan penjara karena ditempatkan di tempat khusus
bernama Rumah Tutupan yang pengurusan umumnya dipegang oleh Menteri Pertahanan
(Pasal 3 ayat [1] PP 8/1948). Walaupun berbeda pelaksanaannya, penghuni Rumah Tutupan
juga wajib melaksanakan pekerjaan yang diperintahkan kepadanya dengan jenis pekerjaan
yang diatur oleh Menteri Pertahanan dengan persetujuan Menteri Kehakiman (Pasal 3 ayat

[1] UU 20/1946 jo. Pasal 14 ayat [1] PP 8/1948). Penghuni Rumah Tutupan tidak boleh
dipekerjakan saat hari minggu dan hari raya, kecuali jika mereka sendiri yang menginginkan
(Pasal 18 ayat [1] PP 8/1948). Selain itu, Penghuni Rumah Tutupan wajib diperlakukan
dengan sopan dan adil serta dengan ketenangan (Pasal 9 ayat [1] PP 8/1948).
Mr. Utrecht dalam buku Hukum Pidana II (hal. 321) berpendapat Rumah Tutupan bukan
suatu penjara biasa tetapi merupakan suatu tempat yang lebih baik dari penjara biasa, selain
karena orang yang dihukum bukan orang biasa, perlakuan kepada terhukum tutupan juga
istimewa. Misalnya ketentuan Pasal 33 ayat (2) PP 8/1948 yang berbunyi makanan orang
hukuman tutupan harus lebih baik dari makanan orang hukuman penjara serta ketentuan
Pasal 33 ayat (5) PP 8/1948 yang berbunyi buat orang yang tidak merokok, pemberian rokok
diganti dengan uang seharga barang-barang itu.
Menurut Andi Hamzah dalam buku Asas-Asas Hukum Pidana (hal. 191), pidana tutupan
disediakan bagi para politisi yang melakukan kejahatan yang disebabkan oleh ideologi yang
dianutnya. Tetapi, dalam praktik dewasa ini tidak pernah ketentuan tersebut diterapkan.
Akan tetapi, menurut pendapat Adam Chazawi dalam buku Pelajaran Hukum Pidana Bagian I
(hal. 43) serta pendapat Wirjono Prodjodikoro dalam buku Asas-Asas Hukum Pidana di
Indonesia (hal. 174), sepanjang sejarah praktik hukum di Indonesia, pernah terjadi satu kali
hakim menjatuhkan pidana tutupan yaitu putusan Mahkamah Tentara Agung pada tanggal 27
Mei 1948 yang mengadili para pelaku kejahatan yang dikenal dengan sebutan peristiwa 3 Juli
1946 atau dikenal juga dengan sebutan Tiga Juli Affaire.