Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Makanan adalah salah satu faktor penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan manusia. Untuk itu, kita harus memperhatikan asupan nutrisi
yang tepat untuk dikonsumsi setiap hari, karena hal ini dapat bermanfaat
untuk keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk agar menghasilkan
berbagai aktivitas penting dalam tubuhnya sendiri. Makanan sangat berkaitan
erat dengan masalah gizi.Salah satu masalah gizi yang masih sering ditemui
di Indonesia adalah masalah malnutrisi.Malnutrisi masih menjadi masalah
yang belum dapat diatasi oleh Negara ini.
Pada tahun 2012, Indonesia Negara kekurangan gizi nomor 5 di
dunia.Peringkat kelima karena jumlah penduduk Indonesia juga di urutan
empat terbesar dunia, Jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia saat
ini sekitar 900 ribu jiwa. Jumlah tersebut merupakan 4,5 persen dari jumlah
balita Indonesia, yakni 23 juta jiwa. Daerah yang kekurangan gizi tersebar di
seluruh Indonesia, tidak hanya daerah bagian timur Indonesia. Hingga hari ini
Indonesia masih dihantui kasus gizi buruk.
Angka kasus Gizi buruk ditahun 2013 masih tinggi di sejumlah
daerah. Di Aceh sepanjang tahun 2013 sebanyak 1.034 bayi meninggal dunia
akibat kekurangan gizi.. Kepala Seksi Kesehatan Ibu Anak dan Gizi Dinas
Kesehatan Aceh Dr Sulasmi, mengatakan, angka kematian ini disebabkan
karena kekurangan gizi baik saat janin masih berada di dalam kandungan
maupun usia bayi masih di bawah satu tahun.
Propinsi Banten pada tahun 2013 sebanyak 7.213 balita mengalami
gizi buruk dan 53.680 balita kekurangan gizi.Padahal APBD banten
mengalokasi dana cukup besar untuk penanggulangan kasus gizi pada balita.
Pada 2010 sekitar Rp 2,5 miliar, naik pada 2011 menjadi Rp 5,4 miliar dan
pada 2012 menjadi sekitar Rp 9,7 miliar. Besarnya dana yang dianggarkan
tidak berdampak, kasus gizi buruk tetap saja tinggi setiap tahunnya.

Sementara di propinsi Kalimantan Barat, pada tahun 2013 tercatat 212 kasus
gizi buruk 7 balita diantaranya meninggal dunia.
Data ini hanya menggambarkan sebagian kecil kasus yang terjadi.
Fenomena kasus gizi buruk ini sudah seperti gunung es. Bahkan menteri
kesehatan Nafsiah

pesimis jumlah balita penderita gizi buruk menurun

mencapai target yang ditentukan dalam Millenium Development Goals


(MDGs) 2015. Menurut Nafsiah, prevalensi gizi kurang pada balita masih
17,9 persen dan dikhawatirkan target MDGs tidak tercapai.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari
makalah ini, ialah :
1. Bagaimana konsep dasar penyakit malnutrisi?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan
pencernaan dengan indikasi malnutrisi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui konsep dasar keperawatan pada pasien malnutrisi
2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien gangguan
pencernaan dengan indikasi malnutrisi

BAB II
TINJAUAN TEORI
Konsep penyakit Malnutrisi
2.1 Pengertian Malnutrisi
Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan
gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan
oleh ketidakseimbangan di antara pengambilan makanan dengan
kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi karena
asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak
seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat
terjadinya malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik (Oxford
medical dictionary 2007: 524 ).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan malnutrisi
sebagai Ketidakseimbangan seluler antara pasokan nutrisi dan energi dan
kebutuhan tubuh terhadap mereka untuk menjamin pertumbuhan,
pemeliharaan, dan fungsi tertentu.
Malnutrisi dapat disebabkan oleh diet yang tidak seimbang atau
tidak memadai, atau kondisi medis yang mempengaruhi pencernaan
makanan atau penyerapan nutrisi dari makanan. Malnutrisi sebenarnya
adalah gizi salah, yang mencakup gizi kurang atau lebih.Di Indonesia
dengan masih tinggi angka kejadian gizi kurang, istilah malnutrisi lazim
dipakai untuk keadaan ini.Secara umum gizi kurang disebabkan oleh
kurangnya energi atau protein.
2.2 Klasifikasi Malnutrisi
1. Berdasarkan IMT
IMT (kg/ m2)

Klasifikasi
Malnutrisi berat

< 16,0

Malnutrisi sedang
Berat badan kurang/ malnutrisi ringan
Berat badan normal

16,0 16,7
17,0 18,5
18,5 22,9

Berat badan kurang


Dengan resiko
Obes I
Obes II

23
23 24,9
25 29,9
30

2. Berdasarkan KEP ( Kurang Energy Dan Protein ) / Protein Energi


Malnutrition
a) Marasmus
Marasmus merupakan bentuk malnutrisi

protein kalori, terutama

akibat kekurangan kalori berat dan kronis, paling sering terjadi selama
tahun pertama kehidupan, disertai retardasi pertumbuhan serta atrofi
lemak subkutan dan otot.
b) Kwasiokor
Kwashiorkor merupakan bentuk malnutrisi protein-energi yang
disebabkan defisiesi protein yang berat, asupan kalori biasanya juga
mengalami

defisiensi.Gejala

meliputi

retardasi

pertumbuhan,

perubahan pigmen rambut dan kulit, edema, defisiensi imun dan


perubahan patologis pada hati.
c) Marasmus Kwasiokor
Marasmic Kwashiorkor merupakan suatu keadaan defisiensi kalori
dan protein, disertai penyusutan jaringan yang hebat, hilangnya lemak
subkutan, dan biasanya dehidrasi.
2.3 Etiologi
Penyebab malnutrisi secara umum
Penyebab langsung:
- Kurangnya asupan makanan: Kurangnya asupan makanan sendiri dapat
disebabkan oleh kurangnya jumlah makanan yang diberikan, kurangnya
kualitas makanan yang diberikan dan cara pemberian makanan yang
salah.
- Adanya penyakit: Terutama penyakit infeksi, mempengaruhi jumlah
asupan makanan dan penggunaan nutrien oleh tubuh.
- Infeksi apapun dapat memperburuk keadaan gizi, malnutrisi walaupun
masih ringan mempunyai pengaruh negatif pada daya tahan tubuh
terhadap infeksi.
Penyebab tidak langsung:

- Kurangnya ketahanan pangan keluarga: Keterbatasan keluarga untuk


menghasilkan atau mendapatkan makanan. Penyakit kemiskinan
malnutrisi merupakan problem bagi golongan bawah masyarakat
tersebut.
- Kualitas perawatan ibu dan anak.
- Buruknya pelayanan kesehatan.
- Sanitasi lingkungan yang kurang.
- Faktor Keadaan Penduduk
A. Penyebab Marasmus
Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut:
- Peranan diet
Diet kurang energi walaupun zat-zat gizinya seimbang dapat
-

menyebabkan marasmus
Kebiasaan makan yang tidak tepat.
Kelainan metabolik.
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia,galactosemia,

lactose intolerance.
Malformasi kongenital.
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas
palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosispilorus, hiatus hernia,

hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas.


Peranan kepadatan penduduk
Mclaren (1982) memperkirakan penderita marasmus terdapat dalam
jumlah yang banyak jika suatu daerah terlalu padat penduduknya
dengan dengan keadaan hygiene yang buruk misalnya di kota dengan
pertambahan penduduk yang cepat.

B. Penyebab Kwashiorkor
Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein
yang berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan kwashiorkor
antara lain :
- Peranan diet
Diet yang mengandung energi cukup tapi kurang protein akan
menyebabkan kwasiokor
- Faktor sosial.
Mclaren (1982) memperkirakan penderita kwasiokor terdapat pada
desa-desa dengan penduduk yang mempunyai kebiasaan untuk
memberi makan tambahan berupa tepung sebagai pengganti ASI
- Faktor ekonomi.
5

Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat


memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak
terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan
proteinnya.
- Faktor infeksi dan penyakit lain. Telah lama diketahui bahwa adanya
interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun
dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP,walaupun
dalam

derajat

ringan

akan

menurunkan

imunitas

tubuh

terhadapinfeksi.
C. Marasmic Kwashiorkor
Penyebab marasmic kwashiorkor dapat dibagi menjadi dua
penyebab yaitu malnutrisi primer dan malnutrisi sekunder.Malnutrisi
primer adalahkeadaan kurang gizi yang disebabkan oleh asupan protein
maupun energi yang tidak adekuat.Malnutrisi sekunder adalah malnutrisi
yang terjadi karena kebutuhan yang meningkat, menurunnya absorbsi
dan/atau peningkatankehilangan protein maupun energi dari tubuh.
2.4 Manifestasi Klinis Malnutrisi
Manifestasi Klinis Malnutrisi secara umum:
- Kelelahan dan kekurangan energi
- Pusing
- Sistem kekebalan tubuh yang rendah (yang mengakibatkan tubuh

kesulitan untuk melawan infeksi)


Kulit yang kering dan bersisik
Gusi bengkak dan berdarah
Gigi yang membusuk
Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
Berat badan kurang
Pertumbuhan yang lambat
Kelemahan pada otot
Perut kembung
Tulang yang mudah patah
Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh

Manifestasi klinis marasmus


- Penampilan: Pada keadaan berat, lemak pipi pun menghilang sehingga
wajah penderita seperti wajah orang tua dengan tulang pipi dan dagu
yang kelihatan menonjol dan kurus

- Perubahan mental : Anak masih menangis walaupun telah mendapat


minum atau disusui
- Saluran Pencernaan : Konstipasi& Diare. Bila anak menderita diare
maka akan terlihat berupa bercak hijau tua yang terdiri dari lendir dan
sedikit tinja
- Jaringan dibawah kulit akan menghilang, sehingga kulit kehilangan
turgornya dan keriput disebakan kehilangan lemak dibawah kulit serta
-

otot
Iga gambang yaitu tulang rusuk yang menonjol
Ubun-ubun besar cekung
Mata tampak besar dan dalam
Tekanan darah umumnya rendah
Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas
Atrofi otot
Sistem darah : pada umumnya ditemukan kadar hemoglobin yang
rendah

Manifestasi klinis kwashiorkor

Gejala terpenting adalah pertumbuhan yang terganggu. Selain


berat badan juga tinggi badan kurang dibandingkan dengan anak

sehat.
Perubahan mental. Biasanya penderita cengeng dan pada stadium

lanjut menjadi apatis.


Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan
maupun berat.

Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting, anoreksia


hebat, sehingga pemberian makanan ditolak dan makanan hanya

dapat diberikan dengan NGT.


Perubahan rambut sering dijumpai. Sangat khas untuk penderita
kwashiorkor ialah rambut kepala mudah dicabut, kusam dan

berwarna merah seperti rambut jagung.


Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis
kulit yang lebih mendalam dan lebar. Pada sebagian penderita
ditemukan perubahan kulit yang khas untuk kwashiorkor, yaitu
crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih
atau merah muda dengan tepi hitam dan ditemukan pada bagian
tubuh yang sering mendapat tekanan, terutama bila tekanan
tersebut terus-menerus dan disertai kelembaban oleh keringat atau
sekreta, seperti pada bokong, fossa poplitea, lutut, kaki, paha,

lipatan paha, dan sebagainya.


Pembesaran hati merupakan gejala yang sering ditemukan.
Kadang-kadang batas hati terdapat setinggi pusat. Hati yang dapat
diraba umumnya kenyal, permukaannya licin dan pinggir tajam.

C.

Biasanya pada hati yang membesarkan ini terjadi perlemakan.


Anemia ringan selalu ditemukan.

Manifestasi klinis marasmus-kwashiorkor

Campuran dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus


dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema
yang tidak mencolok.

2.5 Patofisiologi
Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi
akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolong-kan atas tiga faktor
penting yaitu : tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environment
(lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting
tetapi faktor lain ikut menentukan.
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk
mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi.
Kemampuan tubuh untuk mem-pergunakan karbohidrat, protein dan lemak
merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan;
karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai
bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan
menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar
dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak,
gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan
keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini
berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai
memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.
Pada Malnutrisi, di dalam tubuh sudah tidak ada lagi cadangan makanan
untuk digunakan sebagai sumber energi. Sehingga tubuh akan mengalami
defisiensi nutrisi yang sangat berlebihan dan akan mengakibatkan
kematian.

2.6 Komplikasi
1. Komplikasi Kwashiorkor
Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi
dikarenakan lemahnya sistem imun. Tinggi maksimal dan kemampuan
potensial untuk tumbuh sulit dicapai oleh anak dengan riwayat
kwashiorkor. Komplikasi :
a. Hipoglikemia
b. Hipotermi
c. Dehidrasi
d. Gangguan keseimbangan elektrolit asam basa
e. Infeksi berat
f. Hambatan penyembuhan penyakit penyerta
2. Komplikasi Marasmus
a. Infeksi
b. Hipoglikemia
c. Hipotermi (suhu aksiler kurang dari 35C)
d. Sepsis
e. Diare
f. Dehidrasi
2.7 Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian
diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan.
Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal
diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik; sedangkan
penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi, syok, asidosis dan
lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit.
Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa
tahap:
1. Tahap awal yaitu 24-48 jam per-tama merupakan masa kritis, yaitu
tindakan untuk menyelamat-kan jiwa, antara lain mengkoreksi
keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena.
a) Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer
Lactat Dextrose 5%.
b) Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari
c) Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama.
d) Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.

10

2. Tahap kedua yaitu penyesuaian


Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan
elektrolit, sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian
terhadap pemberian makanan.
Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada
beratnya kondisi anak. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat
mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan
darah. Pada tahap awal, kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat,
gula sederhana, dan lemak. Protein diberikan setelah semua sumber
kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan
mineral dapat juga diberikan
Dikarekan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka
waktu yang lama, memberikan makanan per oral dapat menimbulkan
masalah, khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas
kalori yang tinggi.Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan.
Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu
(lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen
yang mengandung enzim lactase.
2.8 Pemeriksaan Diagnostik
Pada data laboratorium penurunan albumin serum merupakan
perubahan yang paling khas.Ketonuria sering ada pada stadium awal
kekurangan

makan

tetapi

seringkali

menghilang

pada

stadium

akhir.Harga glukosa darah rendah, tetapi kurva toleransi glukosa dapat


bertipe diabetic.Ekskresi hidroksiprolin urin yang berhubungan dengan
kreatinin dapat turun.Angka asam amino esensial plasma dapat turun
relatif terhadap angka asam amino non-esensial, dan dapat menambah
aminoasiduria. Defisiensi kalium dan magnesium sering ada. Kadar
kolesterol serum rendah, tetapi kadar ini kembali ke normal sesudah
beberapa hari pengobatan. Angka amilase, esterase, kolinesterase,
transaminase, lipase dan alkalin fosfatase serum turun.Ada penurunan

11

aktivitas enzim pancreas dan santhin oksidase, tetapi angka ini kembali
normal segera sesudah mulai pengobatan.Anemia dapat normositil,
mikrositik, atau makrositik.Tanda-tanda defisiensi vitamin dan mineral
biasanya jelas.Pertumbuhan tulang biasanya terlambat.Sekresi hormon
pertumbuhan mungkin bertambah.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN
SISTEM PENCERNAAN: MALNUTRISI
3.1 Pengkajian
1. Riwayat Keperawatan
a.

Riwayat Keluhan Utama

12

Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan


gangguan pertumbuhan (berat badan semakin lama semakin turun),
bengkak pada tungkai, sering diare dan keluhan lain yang
menunjukkan terjadinya gangguan kekurangan gizi.
b.

Riwayat Keperawatan Sekarang


Meliputi pengkajian riwayat prenatal, natal dan post natal,
hospitalisasi dan pembedahan yang pernah dialami, alergi, pola
kebiasaan, tumbuh-kembang, imunisasi, status gizi (lebih, baik,
kurang, buruk), psikososial, psikoseksual, interaksi dan lain-lain. Data
fokus yang perlu dikaji dalam hal ini adalah riwayat pemenuhan
kebutuhan nutrisi anak (riwayat kekurangan protein dan kalori dalam
waktu relatif lama).

c.

Riwayat Kesehatan Keluarga


Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan
rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga,
fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan,
perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga
tentang penyakit klien dan lain-lain.

2. Pengkajian Fisik
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan
rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga,
fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku
yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang
penyakit klien dan lain-lain.Pengkajian secara umum dilakukan dengan
metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran,
tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas
dan genito-urinaria.
Fokus pengkajian pada anak dengan Marasmik-Kwashiorkor
adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran

13

lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin
didapatkan adalah
a. Penurunan ukuran antropometri
b. Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan
mudah dicabut)
c. Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema
palpebra
d. Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi,
retraksi otot intercostal)
e. Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat
meningkat bila terjadi diare.
f. Edema tungkai
g. Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement
dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan
(bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha)
3. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama
jenis normositik normokrom karenaadanya gangguan sistem eritropoesis
akibat hipoplasia kronis sum-sum tulang di samping karena asupan zat
besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi.
Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun.
Pemeriksaan radiologis juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya
kelainan pada paru.

3.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak
dengan Marasmik-Kwashiorkor adalah:
1.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat,

anoreksia dan diare.


2. Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan
3.

peningkatan kehilangan akibat diare.


Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

14

4.

Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi

5.

trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan


Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikirb/d
asupan kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit

6.

kwashiokor dan marasmus.


Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti
terjadi moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Nutrisi

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b/d

asupan

yang

tidak

adekuat,anoreksia dan diare .


a. Berikan makan sedikit tapi sering
Rasional

: Dilatasi gaster dapat terjadi bila pemberian makanan


terlalu cepat setelah periode puasa

b.

Berikan

pilihan

menu

makanan

sesuai

selera

klien.kecuali

kontraindikasi.
Rasional

Makanan yang sesuai selera diharapkan bisa

meningkatkan nafsu makan klien.


c. Berikan diet cair dan makanan selang melalui NGT
Rasional

: Bila pasien mengalami gangguan dalam proses


mencerna makanan, bisa diberikan sebagai alternatif
untuk tetap mempertahankan asuhan nutrisi bagi pasien.

2. Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan


ekskresi cairan tubuh akibat diare.
a. Awasi jumlah dan tipe masukan cairan ukur keluaran urine dengan
akurat.
Rasional

: Pasien tidak mengkonsumsi cairan sama sekali


mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan untuk
masukan kalori yang berdampak pada keseimbangan
elektrolit

b. Kaji hasil tes fungsi elektrolit / ginjal.

15

Rasional

: Perpindahan cairan dan elektrolit, penurunan fungsi


ginjal

dapat

meluas

mempengaruhi

penyembuhan

pasien / prognosis dan memerlukan intervensi tambahan.


3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
Intervensi:
a. Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan
latihan yang dapat ditolerir.
Rasional : Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk
mendapatkan istirahat yang adekuat.
b. Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan
lelah.
Rasional : Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi
dalam aktivitas perawatan mandiri.
c. Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak
menimbulkan stress
Rasional : Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress
pada pasien.
d. Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas
Rasional : Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang
berlebihan atau kurang.
4. Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi
trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
a. Auskultasi bunyi napas.catat adanya bunyi napas. Rasional

Adanya bunyi napas dimanifestasikan dengan adanya obstruksi


jalan napas.
b. Dorong dan bantu pasien melakukan latihan napas abdomen atau
bibir

16

Rasional

: Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi


dan mengontrol dipsnea dan menurunkan jebakan
udara.

c. Tingkatkan masukan ciran sampai 3000ml/hari sesuai toleransi


jantung.memberikan air hangat.anjurkan masukan cairan sebagai
pengganti makanan.
Rasional

: Hidrasi membantu menurunkan kekentalan sekret,


mempermudah pengeluaran sekret.penggunaan cairan
hangat dapat menurunkan spasme bronkus.

5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikir b/d asupan


kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit kwashiokor
dan marasmus.
a. Sadari penyimpangan kemampuan berpikir pasien
Rasional : Memungkinkan perawat membuat harapan nyata pada
pasien dan memberikan informasi serta dukungan yang
tepat.
b. Ikuti program nutrisi dengan ketat
Rasional : Memperbaiki nutrisi penting untuk memperbaiki fungsi
otak.
c. Kaji tes fungsi ginjal / elektrolit
Rasional : Ketidakseimbangan mempengaruhi fungsi otak dan
memerlukan perbaikan sebelum intervensi terapeutik
dapat dimulai.
6.

Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti terjadi
moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.
a. Tingkatkan konsep diritanpa penilaian moral
Rasional : Pasien melihat diri sebagai lemah harapan, meskipun
bagian pribadi merasa kuat dan dapat mengontrol
b. Biarkan pasien menggambarkan dirinya sendiri.

17

Rasional : Memberikan kesempatan mendiskusikan persepsi pasien


tentang gambaran diri dan kenyataan individu.
c. Catat penolakan pasien dari ketidaknyamanan dalam hubungan
sosial.
Rasional : Menunjukkan perasaan isolasi dan takut penolakan atau
penilaian orang lain. Penghindaran situasi sosial dan
kontak dengan orang lain dapat membuat perasaan tak
berharga.
3.4 Evaluasi Keperawatan
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak
adekuat,anoreksia dan diare .
a. Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.
b. Menyiapkan pola diet dengan masukan kalori adekuat untuk
meningkatkan / mempertahankan berat badan yang ideal.
c. Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang
diharapkan individu.
2.

Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan


peningkatan ekskresicairan tubuh akibat diare.
a. Mempertahankan / menunjukkan perubahan keseimbangan cairan,
dibuktikan oleh haluaran urine adekuat,tanda vital stabil,membran
mukosa lembab,turgor kulit baik.
b. Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan perilaku yang perlu
untuk memperbaiki defisit cairan.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan


a. Melaporkan peningkatan toleransi aktifitas (ternasuk aktifitas
sehari-hari).

18

b. Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi, misal nadi,


pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentan normal
pasien.
4. Resiko Bersihan jalan napas tak efektif b/d peningkatan sekresi
trakheobronkhial sekunder terhadap infeksi saluran pernapasan
a. Mempertahankan jalan napas paten dengan bunyi naps bersih atau
jelas.
b. Pasien dapat menunjukkan perilaku untuk memperbaiki jalan
napas secara mandiri misal batuk,mengelarkan sekret,melakukan
latihan napas abdomen atau bibir.
5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan proses berpikir b/d
asupan kalori dan protein yang tidak adekuat dan proses penyakit
kwashiokor dan marasmus.
a. Pasien mampu menyatakan pemahaman faktor penyebab dan
menyadari adanya gangguan.
b. Pasien menunjukkan perilaku untuk mengubah / mencegah
malnurisi.
c. Pasien menunjukkan perubahan kemampuan untuk membuat
keputusan,dan mampu memecahkan masalah.
6. Gangguan citra diri b/d perubahan bentuk fisiologis tubuh seperti
terjadi moon face dan akibat turgor kulit yang menurun.
a. Pasien mampu membuat gambaran dirinya secara nyata.
b. Mengakui diri sebagai individu yang berharga dengan
menumbuhkan rasa percaya diriyang baik.
c. Menerima tanggung jawab untuk tindakan sendiri.

BAB IV
PENUTUP

19

4.1 Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan, malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak
mendapat asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan
yang disebabkan oleh ketidakseimbangan di antara pengambilan makanan
dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bisa terjadi
karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang
tidak seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat
terjadinya malabsorpsi makanan atau kegagalan metabolik.
Malnutrisi dapat diklasifikasikan menurut IMT ( Malnutrisi berat,
Malnutrisi sedang, Malnutrisi ringan) dan berdasarkan penyebab KEP
(kwasiokor, marasmus, dan campuran keduanya). Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya malnutrisi, intinya adalah semua itu tertuju pada
masalah asupan nutrisi pada tubuh.
4.2 Saran
Pemenuhan akan kebutuhan gizi dalam tubuh merupakan salah satu
cara meminimaklisir terjadinya Malnutrisi. Cara itu dapat dilakukan dengan
cara mengkonsumsi makanan yang mengandung empat sehat lima sempurna.

Daftar Pustaka
Doenges, E. Marilyn. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. EGC :
Jakarta.
Ilmu Kesehatan Anak. Defisiensi gizi : Buku kuliah 1. Jakarta. Hal.360-64.
Pudjiadi, Solihin. 1990. Ilmu Giji Klinis Pada Anak . Balai Penerbit : Jakarta

20

http://echyners.wordpress.com/2013/06/22/makalah-malnutrisi/ diunggah
tanggal (26 Oktober 2014)
http://sunuykayai.blogspot.com/2012/07/asuhan-keperawatanmalnutrisi.htmldiunggah pada tanggal (23 Oktober 2014)
http://kamuskesehatan.com/arti/malnutrisi/diunggah pada tanggal (23
Oktober 2014)
http://digilib.unila.ac.id/288/8/BAB%20II.pdfdiunggah pada tanggal (23
Oktober 2014)
http://www.indonesiafightpoverty.com/2014/04/01/indonesia-masih-dihantuikasus-gizi-buruk/diunggah pada tanggal (26 Oktober 2014)

21