Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PENELITIAN TENTANG PENDIDIKAN

PENGARUH KEBIJAKAN SEKOLAH GRATIS TERHADAP


PRESTASI BELAJAR DENGAN MENGONTROL KEMAMPUAN
AWAL SISWA

OLEH

Ketua : Drs. Supardi U.S., MM., M.Pd.


Anggota : Drs. Dudung Ahludin
Leonard, S.Pd., MM.
Adhi Susano, M.Kom.
Drs. Didi Supriyadi, MM.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS TEKNIK, MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI
JAKARTA
2008
HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Penelitian : Pengaruh Kebijakan Sekolah Gratis Terhadap Prestasi


Belajar Dengan Mengontrol Kemampuan Awal Siswa
2. Bidang Ilmu : Pendidikan
3. Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : Drs. Supardi U.S., MM., M.Pd.
b. Jabatan Akademik : Lektor Kepala
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Disiplin Ilmu : Pendidikan
e. Fakutlas/Prodi : FTMIPA / Pendidikan Matematika
f. Alamat : Golden Viene I B1/19 Sektor XII BSD Serpong
g. Telepon/Fax/E-mail : 08128064059 / supardi@uninda.ac.id
4. Jumlah Anggota : 3 orang
a. Nama Anggota 1 : Drs. Dudung Ahludin
b. Nama Anggota 2 : Leonard, S.Pd., MM.
c. Nama Anggota 3 : Adhi Susano, M.Kom
d. Nama Anggota 4 : Drs. Didi Supriyadi, MM
5. Lokasi : DKI Jakarta

Mengetahui, Jakarta, 10 November 2008


Dekan FTMIPA Ketua Peneliti

Drs. Supardi U.S., MM., M.Pd. Drs. Supardi U.S., MM., M.Pd.

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat

Drs. H. Syamsuri, MM
KATA PENGANTAR
Pendidikan merupakan faktor penentu dalam kemajuan sebuah bangsa, oleh sebab itu
dapat dikatakan bahwa negara yang maju dipastikan sangat memperhatikan pendidikan
di negaranya. Hal ini terlihat dari negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, China
yang selalu memperhatikan tingkat pendidikan warganya.
Di Indonesia, usaha memperhatikan pendidikan sudah dilaksanakan, pemerintah mulai
secara signifikan menggalakkan program wajib belajar kepada warga Indonesia. Hal ini
didukung dengan pemberlakuan kebijakan Sekolah Gratis. Dengan sekolah gratis ini
diharapkan seluruh rakyat Indonesia memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk
belajar, sehingga dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Akan
tetapi, kebijakan ini perlu diperhatikan pelaksanaannya, karena sangat dimungkinkan
kebijakan sekolah gratis justru menjadi batu sandungan bagi pengembangan sumber
daya manusia Indonesia.
Untuk itulah penelitian ini diarahkan untuk melihat lebih jauh seberapa jauh dampak
pelaksanaan kebijakan Sekolah Gratis terhadap prestasi belajar siswa dengan
mengontrol kemampuan awalnya. Diharapkan, melalui penelitian ini dapat dihasilkan
temuan-temuan yang bisa digunakan dalam pengambilan keputusan lanjutan, tentunya
saja seluruhnya digunakan kembali untuk kemashalatan bangsa.
Bravo Pendidikan Indonesia.

Tim Peneliti
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Harold G. Shane dalam buku Arti Pendidikan Bagi Masa Depan, mengatakan :
“pendidikan secara potensial penting karena : (1) Pendidikan adalah satu
cara yang mapan untuk memperkenalkan si siswa (learners) pada
keputusan sosial yang timbul; (2) pendidikan dapat dipakai untuk
menanggulangi masalah sosial tertentu; (3) pendidikan telah
memperlihatkan kemampuan yang meningkat untuk menerima dan
mengimplementasikan alternatif-alternatif baru; (4) pendidikan barangkali
merupakan cara terbaik yang dapat ditempuh masyarakat untuk
membimbing perkembangan manusa sehingga pengamanan dari dalam
berkembang pada setiap anak dan karena itu dia terdorong untuk
memberikan kontribusi pada kebudayaan hari esok.” (Harold G. Shane,
2002, 39).
Berangkat dari apa yang diungkapkan oleh Shane, dapat
dikatakan bahwa pendidikan merupakan bagian yang sangat
penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, sehingga setiap warga
negara Indonesia wajib mengenyam pendidikan. Hal ini
dimaksudkan agar, mutu sumber daya manusia Indonesia dapat
bersaing dengan warga negara lain di dunia ini.
Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta telah berusaha untuk
mewujudkan agar seluruh warganya dapat mengenyam
pendidikan dengan baik. Hal ini tercermin dari kebijakan sekolah
gratis yang digulirkan oleh pemerintah. Tapi perlu dicermati,
kebijakan sekolah gratis, bukan pendidikan gratis. Karena
pendidikan tidak ada yang gratis, hanya saja dalam praktiknya
biayanya dibebankan ke dalam anggaran pemerintah sehingga
rakyat tidak perlu membayar apapun untuk biaya pendidikan.
Hal ini tentunya patut diapresiasi dengan baik, karena dengan
demikian kesempatan mengenyam pendidikan tidak lagi hanya
menjadi milik mereka yang memiliki kekayaan, tetapi juga seluruh
rakyat Indonesia. Dengan ini, maka setiap warga negara Indonesia,
dari mulai keluarga pemulung, tunawisma hingga buruh bangunan
berhak untuk memperoleh pendidikan di sekolah.
Hanya saja yang menjadi pertanyaan, benarkah sekolah
gratis dapat memberikan proses pembelajaran yang optimal?
Benarkah proses pembelajarannya disamakan dengan proses
pembelajaran sebelumnya (saat masih membayar)? Dan masih
banyak pertanyaan lainnya sehubungan dengan kebijakan sekolah
gratis ini.
Penulis mencoba mencermati dari fakta empiris yang penulis
alami. Jika penulis ingin membeli sebuah barang yang mungkin
harganya cukup mahal, tentunya penulis berusaha menabung
hingga akhirnya berhasil membeli barang tersebut. Dan jika telah
memiliki barang tersebut, tentunya penulis akan mempergunakan
dan menjaganya dengan baik, karena barang tersebut didapat
dengan susah payah. Akan tetapi, jika penulis mendapatkan
barang tersebut secara gratis, yang penulis alami adalah penulis
hanya mempergunakannya dan jarang merawatnya dengan baik,
karena penulis berpikir barang tersebut diperoleh tanpa
perjuangan apapun.
Dari fakta di atas, penulis melihat ada kecenderungan
rendahnya motivasi dan semangat belajar siswa. Sama seperti
yang penulis alami, karena merasa gratis dan tidak harus
berusaha, para siswa cenderung ogah-ogahan dalam belajar dan
tidak memiliki semangat untuk maju dan berkembang. Para orang
tua tidak memaksa anak-anaknya untuk belajar, karena berpikir
jika anak mereka tidak naik kelas, tidak akan membayar apapun
sampai selesai pendidikan.
Hal ini yang juga perlu menjadi perhatian pemerintah, sekolah
gratis yang sudah berhasil membangkitkan minat rakyat untuk
bersekolah, juga seharusnya dapat membangkitkan semangat dan
motivasi siswa untuk belajar dengan tekun dan memanfaatkan
kesempatan yang ada dengan baik. Dalam hal ini pemerintah
tentunya harus mengadakan pengawasan terhadap pelaksanaan
kebijakan sekolah gratis, sehingga kebijakan ini dapat menjadi
sebuah program unggulan di Indonesia, khususnya di wilayah DKI
Jakarta.
Prestasi belajar siswa dewasa ini.masih diukur dari sisi
akademik, artinya seorang siswa dikatakan memiliki prestasi yang
baik jika nilai-nilai mata pelajarannya baik. Padahal, dalam arti
yang lebih luas prestasi belajar merupakan keseluruhan sinergi
yang dimiliki oleh siswa setelah memperoleh pembelajaran dari
sekolah. Sehingga prestasi seharusnya diartikan sebagai buah dari
proses pembelajaran yang tercermin bukan saja dari hasil
akademik tetapi juga dari keseluruhan aspek kehidupannya,
seperti akhlak, sopan santun dan agama.
Prestasi ini tentunya dapat terlihat dari berbagai aspek dan
kriteria. Dalam ilmu ekonomi dikatakan seseorang dikatakan
berprestasi jika mereka memiliki ability (kemampuan), effort
(perjuangan) dan chance (kesempatan). Seseorang tidak akan bisa
dikatakan berprestasi jika salah satu elemen di atas hilang atau
tidak dimiliki. Memiliki kemampuan tanpa perjuangan, tidak ada
hasilnya. Memiliki kemampuan dan perjuangan tetapi tidak ada
kesempatan juga tidak berhasil. Untuk itu, sudah seharusnya
pendidikan memperhatikan hal ini, yaitu menempat kemampuan
siswa serta memberikan semangat agar berjuang dan
mengarahkan siswa agar mencari kesempatan atau bila perlu
menciptakan kesempatan untuk berhasil.
Berbicara kemampuan dalam prestasi belajar, hal ini tentunya
sangat dipengaruhi oleh kemampuan awal seseorang. Siswa yang
memiliki kemampuan awal yang baik, biasanya memiliki
kecenderungan untuk memiliki prestasi belajar yang baik.
Kemampuan awal dimaksud diharapkan dapat menjadi bahan
bakar yang dapat dipakai oleh siswa tersebut untuk belajar di
tingkat yang lebih tinggi. Artinya, dengan kemampuan awal yang
baik, siswa dapat mengikuti dan bahkan menguasai pelajaran-
pelajaran sulit yang ia terima di tingkat berikutnya.
Kemampuan awal siswa, dalam hal ini kemampuan awal
siswa SD yang akan masuk ke SMP tentunya merupakan
perjuangan siswa tersebut selama mengikuti pelajaran di bangku
SD. Kemampuan awal dan perjuangan tersebut yang akan
digunakan untuk berjuang kembali di bangku SMP dan begitu
seterusnya hingga ke bangku kuliah. Hal ini dilakukan tentunya
untuk menemukan dan atau menciptakan kesempatan untuk
berkarya.
Melihat latar belakang di atas, penulis tertarik untuk meneliti
tentang perbedaan prestasi belajar antara sebelum dan sesudah
pelaksanaan kebijakan sekolah gratis, serta melihat apakah ada
pengaruh kemampuan awal siswa terhadap prestasi belajar.

2. Perumusan Masalah
1. Adakah pengaruh kebijakan sekolah gratis terhadap prestasi belajar siswa
dengan mengontrol kemampuan awal siswa?
2. Apakah ada peningkatan prestasi belajar setelah pemberlakukan kebijakan
sekolah gratis?

3. Kontribusi Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk :
1. Kontribusi Teoritis
Dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk penelitian lanjutan, dengan tema
yang sama akan tetapi dengan metode dan teknik analisa yang lain, sehingga
dapat dilakukan proses verifikasi demi kemajuan ilmu pengetahuan.
2. Kontribusi Praktis
a. Pemerintah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk menentukan
kebijakan yang berhubungan dengan pelaksanaan sekolah gratis, sehingga
dapat dihasilkan siswa-siswa yang berprestasi dan berguna bagi kemajuan
bangsa Indonesia.
b. Kepala Sekolah, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk
menentukan kebijakan baru dalam rangka meningkatkan prestasi belajar
siswa dengan memberikan arahan dan motivasi kepada seluruh siswa agar
tekun belajar dan memiliki keyakinan bahwa dengan sekolah gratis dapat
menghasilkan prestasi yang membanggakan.
c. Guru, sebagai ujung tombak proses pembelajaran, dapat menggunakan
hasil penelitian ini dengan mengakomodasi setiap kebutuhan siswa sehingga
siswa lebih termotivasi dan memiliki semangat untuk belajar dan akhirnya
dapat menghasilkan karya nyata bagi kemajuan bangsa.
d. Orang Tua, dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk mengarahkan
anak-anaknya belajar sesuai dengan minat dan kemampuannya, sehingga
dihasilkan siswa yang unggul dan dapat diandalkan.

B. TINJAUAN PUSTAKA
1. Prestasi Belajar
Proses belajar mengajar di sekolah bersifat sangat kompleks, karena di
dalamnya terdapat aspek pedagogis, psikologis, dan didaktis. Aspek pedagogis
merujuk pada kenyataan bahwa belajar mengajar di sekolah terutama di sekolah
dasar berlangsung dalam lingkungan pendidikan dimana guru harus
mendampingi siswa dalam perkembangannya menuju kedewasaan, melalui
proses belajar mengajar di dalam kelas. Aspek psikologis merujuk pada
kenyataan bahwa siswa yang belajar di sekolah memiliki kondisi fisik dan
psikologis yang berbeda-beda. Selain itu, aspek psikologis merujuk pada
kenyataan bahwa proses belajar itu sendiri sangat bervariasi, misainya: ada
belajar materi yang mengandung aspek hafalan, ada belajar keterampilan
motorik, ada belajar konsep, ada belajar sikap dan seterusnya. Adanya
kemajemukan ini menyebabkan cara siswa belajar harus berbeda-beda pula,
sesuai dengan jenis belajar yang sedang berlangsung. Aspek didaktis merujuk
pada. pengaturan belajar siswa oleh tenaga. pengajar. Dalam hal inipun, ada.
berbagai prosedur didaktis. Berbagai cara mengelompokkan, dan beraneka
macam media pengajaran. Guru harus menentukan metode yang paling efektif
untuk proses belajar mengajar tertentu sesuai dengan tujuan instruksional. yang
harus dicapai. Demikian pula dengan kondisi eksternal belajar yang harus
diciptakan oleh pengajar, sangat bervariasi.
Dilihat dari sisi ini, terlihat betapa pentingnya kedudukan guru dalam
proses belajar mengajar. Prestasi anak didik dipengaruhi oleh banyak faktor,
namun yang paling menentukan adalah faktor guru (Acc Suryadi, Hartilaar,
1993, hal.1 11).
Dalam hal ini guru sangat berperan dalam menentukan cara yang dianggap
efektif untuk membelajarkan siswa, baik di sekolah maupun di luar jam sekolah,
misalnya dengan memberikan pekerjaan rumah. Ketidakpedulian guru terhadap
pembelajaran siswa akan membawa kernerosotan bagi perkembangan siswa.
Guru yang sering memberikan latihan-latihan dalam rangka pemahaman materi
akan menghasilkan siswa yang lebih baik bila dibandingkan dengan guru yang
hanya sekedar menjelaskan dan tidak memberi tindak lanjut secara kontinu.
Dengan kata lain, prestasi belajar siswa sangat ditentukan oleh cara mengajar
guru yang akan menciptakan kebiasaan belajar pada. siswa. Cara atau kebiasaan
belajar banyak diartikan sebagai bentuk belajar atau tipe belajar. Esensi istilah
tersebut adalah suatu perbuatan belajar, yaitu tingkah laku individu-individu
pada proses belajar. Kebiasaan merupakan suatu cara bertindak yang telah
dikuasai yang bersifat tahan uji (persistent) (Witherington, 1986, hal. 13).
Kebiasaan biasanya tejadi tanpa disertai kesadaran pada pihak yang memiliki
kebiasaan itu. Jenis bentuk belajar menurut Van Parreren (dalam Winkel, 1996)
meliputi: (1) Otomatisme, yaitu terutama meliputi belajar keterampilan motorik,
tetapi kadang dapat juga belajar kognitif, (2) Insidental, yaitu siswa belajar
sesuatu tanpa mempunyai intensi atau maksud untuk mempelajari hal tertentu,
khususnya yang bersifat pengetahuan mengenai fakta atau data, (3) Menghafal,
yaitu orang menanarnkan suatu materi verbal di dalam ingatan, sehingga
nantinya dapat direproduksi kembali, (4) Belajar pengetahuan, adalah orang
mulai mengetahui berbagai macam data mengenai kejadian, keadaan, benda-
benda dan orang, (5) Belajar arti kata-kata, adalah orang mulai menangkap arti
yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan, (6) Belajar konsep, yaitu
orang mengadakan abstraksi yaitu dalam obyek-obyek yang meliputi benda,
kejadian dan orang, (7) Belajar memecahkan problem melalui pengamatan, yaitu
orang dihadapkan pada problem yang harus dipecahkan dengan mengamati baik-
baik dan (8) Belajar berpikir, yaitu orang juga dihadapkan pada suatu problem
yang harus dipecahkan, tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam
pengamatan, namun dipecahkan melalui operasi mental.
Selain itu, faktor yang sangat menentukan prestasi belajar siswa adalah
motivasi siswa itu sendiri untuk berprestasi. Sering dijumpai siswa yang
memiliki intelegensi yang tinggi tetapi prestasi belajar yang dicapainya rendah,
akibat kemampuan intelektual yang dimilikinya tidak/kurang berfungsi secara
optimal. Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual yang dimiliki
siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi
yang tinggi dalam dirinya. Motivasi merupakan perubahan tenaga di dalam diri
seseorang yang ditandai oleh dorongan afektif dan reaksi-reaksi untuk mencapai
tujuan (Donald dalam Wasty Sumanto, 1998 hal. 203). Motivasi merupakan
bagian dari belajar. Dari pengertian motivasi tersebut tampak tiga hal, yaitu:
(1) motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang,
(2) motivasi itu ditandai oleh dorongan afektif yang kadang tampak dan kadang
sulit diamati, (3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.
Siswa akan berusaha sekuat tenaga apabila dia memiliki motivasi yang besar
untuk mencapai tujuan belajar. Siswa akan belajar dengan sungguh-sungguh
tanpa dipaksa, bila memiliki motivasi yang besar; yang dengan demikian
diharapkan akan mencapai prestasi yang tinggi. Adanya motivasi berprestasi
yang tinggi dalam diri siswa merupakan syarat agar siswa terdorong oleh
kemauannya sendiri untuk mengatasi berbagai kesulitan belajar yang
dihadapinya, dan lebih lanjut siswa akan sanggup untuk belajar sendiri.

2. Kemampuan Awal
Penyusunan program pembelajaran yang baik memerlukan dua macam
informasi, yaitu : (a) tujuan pembelajaran khusus. (b) kemampuan awal dan
karakteristik siswa. Tujuan pembelajaran khusus adalah kemampuan,
keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa manakala ia telah selesai
mengikuti suatu program pembelajaran. Menurut Abdul Gafur [1980,57],
kemampuan awal dan karakteristik siswa adalah “Pengetahuan dan keterampilan
yang relevan, termasuk di dalamnya latar belakang informasi karakteristik siswa
yang telah ia miliki pada saat akan mengikuti suatu program pembelajaran”.
Setiap siswa telah mempunyai berbagai pengalaman, kondisi dan potensi
sewaktu memasuki situasi belajar. Ia telah memiliki sikap-sikap dan
intelegensi tertentu serta pengalaman belajar sebelumnya di dalam maupun di
luar sekolah. Semuanya ini merupakan latar belakang ataupun karakteristik
siswa. Pengetahuan atau kemampuan yang telah dimiliki siswa yang
berhubungan dengan pelajaran yang akan diikutinya memegang peranan amat
penting dalam proses belajar mengajar di sekolah. Informasi ini perlu diketahui
guru, sebab dengan hal itu guru dapat merancang dan mendesain model
pembelajaran secara tepat dan berarti. Untuk dapat merancang pembelajaran
yang efektif, seorang guru harus mampu mengidentifikasi keterampilan awal
siswa yang dibutuhkan sehingga mempunyai implikasi pada perencanaan model
pembelajaran. Oleh sebab itu, mengenali tingkah laku masukan (siswa) dan ciri-
ciri siswa merupakan langkah awal yang sangat penting untuk dilakukan dan
berguna untuk memperjelas sasaran dalam pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut Cecco mengemukakan bahwa
kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa sebelum memulai pelajaran baru,
mempunyai pengaruh pada kemampuan siswa untuk memahami materi pelajaran
yang akan dihadapinya. Hal ini terjadi kalau antara “Kemampuan awal dan
materi pelajaran baru menunjukkan adanya relevansi, terutama kalau
pengetahuan awal tersebut merupakan pengetahuan persyaratan terhadap
pelajaran berikutnya”.
Pengaruh ini nampak dalam pemantauan hasil belajar siswa dalam jangka
waktu tertentu. Sebab pada umumnya hasil belajar siswa yang dicantumkan
sebagai nilai rapor caturwulan atau semester dalam suatu bidang studi tertentu
menunjukkan perkembangan hasil belajar dalam satu, dua atau tiga tahun
berikutnya. Dengan demikian, prilaku kemampuan awal mempunyai dua
karakteristik, yaitu : (1) sebagai prasyarat belajar untuk menghadapi pelajaran
berikutnya, dan (2) mempunyai hubungan dengan hasil belajar dalam materi dan
tugas-tugas pembelajaran berikutnya.
Pernyataan di atas, berkaitan dengan pendapat Sudjana yang menyatakan
bahwa hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu
faktor dari dalam diri siswa dan fator dari luar atau lingkungan. Faktor yang
datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor
kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.
Adanya pengaruh dari dalam diri siswa, merupakan hal yang logis dan
wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perubahan tingkah laku individu
yang diniati dan disadarinya. Siswa harus merasakan adanya suatu kebutuhan
untuk belajar dan berprestasi. Ia harus berusaha mengerahkan segala daya untuk
dapat mencapainya. Selain itu, hasil yang dapat diraih masih juga bergantung
dari lingkungan. Artinya ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang
dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Yang paling
dominan adalah kualitas pembelajaran, sebab hasil belajar pada hakikatnya
tersirat dalam tujuan pembelajaran. Dengan demikian, hasil belajar siswa di
sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran.
Pendapat ini sesuai dengan teori belajar (Theori of School Learning) dari
Bloom yang mengatakan bahwa ada tiga variabel utama dalam teori belajar di
sekolah, yaitu : karakteristik individu, kualitas pembelajaran dan hasil belajar
siswa. Dalam kegiatan belajar, lebih banyak memerlukan aktivitas siswa
sehingga kualitas masukan (keadaan awal siswa) itu sangat menentukan kualitas
keluarannya (hasil belajar siswa). Artinya, bagaimanapun baiknya alat
pemerosesan jika kualitas masukannya rendah untuk mengikuti suatu program
pembelajaran maka diperlukan adanya pengenalan kemampuan awal siswa.
Menurut teori konvergensi yang dikemukakan oleh Williams Stern yang
dikutip Shalahudin menyatakan bahwa “Manusia pada dasarnya mempunyai
kemampuan dasar yang baik atau sebaliknya. Perkembangan selanjutnya adalah
hasil kerjasama antara dua faktor yaitu faktor internal (fotensi hereditas) dan
faktor eksternal (lingkungan pendidikan)”.
Dari pernyataannya tersebut jelas bahwa siswa memiliki kemampuan dasar
yang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal (hereditas) dan
faktor ekternal (lingkungan pendidikan). Hal tersebut berkaitan dengan
kemampuan awal siswa yaitu apabila siswa mempunyai kemampuan dasar yang
baik maka perkembangan selanjutnya akan mengarah kepada keberhasilan,
apabila hal ini dianalogikan terhadap proses belajar-mengajar maka dengan
adanya kemampuan awal matematika yang baik maka akan memperoleh hasil
yang baik pula. Untuk mendapatkan prestasi belajar matematika yang baik maka
kemampuan awal matematika siswa juga harus baik. Kemampuan awal
matematika yang dimiliki siswa dapat dikatakan baik apabila telah dilakukan
evaluasi (penilaian). Dalam penelitian ini kemampuan awal yang
dimaksudkan adalah Nilai Ujian Akhir murni di SD, karena SD merupakan
jenjang pendidikan dasar, yang merupakan bekal awal untuk melanjutkan
kejenjang pendidikan menengah dalam hal ini SMP. Nilai Ujian Akhir SD
digunakan sebagai dasar kemampuan awal matematika, karena sesuai dengan
pasal 3 Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah ,
dijelaskan bahwa ;
Pendidikan dasar yang diselenggarakan di sekolah menengah atas (SMA)
bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan lanjutan yang merupakan
perluasan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di
SLTP yang bermanfaat bagi siswa untuk mengembangkan hidupnya sebagai
pribadi, anggota masyarakat, dan warga negara sesuai dengan tingkat
perkembangannya serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan
tinggi.
Berdasarkan penjelasan di atas bahwa SMP yang merupakan sekolah
lanjutan setelah siswa menyelesaikan pendidikan dasar 6 tahun, hal tersebut
sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk mensukseskan wajib belajar 9 tahun
yang salah satu jenjangnya adalah pendidikan SMP dengan tujuan untuk
memberi bekal kemampuan dasar (awal) untuk melanjutkan ke jenjang
pendidikan menengah.

3. Kebijakan Sekolah Gratis


Sekolah gratis merupakan kebijakan pemerintah dalam hal membebaskan
seluruh biaya pendidikan bagi rakyat, dalam hal ini beban pendidikan tersebut
ditanggung oleh anggaran pemerintah. Sekolah gratis mulai diterapkan mula-
mula untuk siswa SD dan akhirnya meningkatkan untuk siswa SMP dan SMA.
Kebijakan sekolah gratis mulai diterapkan di SMP sejak tahun pelajaran
2004/2005, sedangkan di SD sudah dilaksanakan lebih dahulu.

4. Kerangka Berpikir
Sekolah Gratis merupakan sebuah kebijakan yang dilandasi kepedulian
pemerintah terhadap nasib rakyat Indonesia. Masih banyaknya rakyat Indonesia
yang terkurung dalam kebodohan membuat pemerintah mengambil langkah
strategis yaitu sekolah gratis. Hal ini perlu diwaspadai, tidak ada pendidikan
yang gratis. Sekolah gratis artinya masyarakat tidak perlu membayar biayanya,
tetapi yang membayar adalah pemerintah.
Melihat fenomena masyarakat tidak terbebani sedikitpun untuk mengakses
pendidikan, tidak jarang masyarakat tidak termotivasi untuk belajar dan
berusaha memanfaatkan peluang yang ada. Kecenderungan ini kadang berimbas
pada prestasi belajar siswa, artinya mereka yang bersekolah gratis memiliki
kecenderungan masa bodoh dan enggan berusaha.
Dari uraian di atas, peneliti melihat bahwa kebijakan sekolah gratis justru
berpengaruh negatif terhadap prestasi belajar siswa. Artinya, dengan
pelaksanaan sekolah gratis, prestasi belajar siswa justru akan semakin turun.
C. METODE PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi
belajar siswa sebelum kebijakan sekolah gratis dijalankan.
b. Untuk menemukan seberapa besar pengaruh kemampuan awal terhadap prestasi
belajar siswa sesudah kebijakan sekolah gratis dijalankan.
c. Untuk menemukan perbedaan prestasi belajar siswa sebelum dan susudah
kebijakan sekolah gratis dijalankan.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian survei expose-facto, yaitu penelitian yang
digunakan untuk memperoleh suatu fakta tentang gejala atau permasalahan yang
timbul dengan membandingkan kondisi-kondisi yang ada dengan kriteria yang telah
ditentukan antar masing-masing variabel yang ada dalam penelitian ini.
Adapun desain penelitian/konstelasi masalah dapat digambarkan sebagai berikut:
A1 A2

XY XY

A = pemberlakuan kebijakan sekolah gratis, yang terbagi atas kategori:


A1 = sebelum pemberlakukan sekolah gratis
A2 = setelah pemberlakukan sekolah gratis
X = kemampuan awal siswa
Y = prestasi belajar siswa

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini bersumber dari GURU/KEPALA
SEKOLAH dan atau DINAS PENDIDIKAN setempat, yaitu dengan cara meminta
hasil kemampuan awal siswa (dalam bentuk Nilai Ujian Akhir SD atau nilai seleksi
masuk SMP) dan meminta data prestasi belajar seluruh siswa melalui Legger yang
dimiliki oleh setiap guru.
Setelah data didapatkan akan dilakukan uji persyaratan analisis data, yaitu uji
normalitas (menggunakan kosmogorov smirnov, untuk menguji apakah data
berdistribusi normal atau tidak), uji homogenitas dan uji linieritas (untuk menguji
linieritas regresi).
Teknik analisa data pengujian hipotesis yang digunakan untuk mengetahui seberapa
besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dengan mengontrol
kovariabel (kemampuan awal) menggunakan teknik ANKOVA (Analisis Kovariat).

DAFTAR PUSTAKA
Harold G. Shane, Arti Pendidikan Bagi Masa Depan (____, ____, 2002)
Arikunto, Suharsimi, 1993, Manajemen Penelitian, (Jakarta, Rineka Cipta)
Gulo, W., 2005, Strategi Belajar Mengajar Cet ke 3 (Jakarta, Grasindo)
Hamalik, Oemar, 2004, Proses Belajar Mengajar (Jakarta, Bumi Aksara)
Lubis, Zulkifli, 1998, Teori Belajar (Jakarta, STKIP Wijaya Bakti)
Purwanto, M. Ngalim, 1992, Psikologi Pendidikan (Bandung, Remaja Rosda Karya)
Riduwan, 2005, Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti
Pemula (Bandung, Alfabeta)
Sudjana, Nana, 2004, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar cet. ke 9 (Bandung,
Remaja Rosda Karya)
Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Administrasi (Bandung, Alfabeta)
Winkel, W.S., 1996, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan (Jakarta,
Gramedia)
Suryabrata, Sumadi; 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada
Lampiran

JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini akan memakan waktu 3 bulan, dengan jadwal sebagai berikut :
Bulan ke-1 Bulan ke-2 Bulan ke-3
No Deskripsi Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Pengajuan Judul Penelitian √ √
2 Studi Pendahuluan √ √ √
3 Perancangan Instrumen Penelitian √ √
4 Pengumpulan Data √ √ √ √
5 Pengolahan Data √ √ √ √
6 Ringkasan Eksekutif √
(Executive Summary)
7 Seminar Hasil Penelitian √
8 Penulisan Laporan Penelitian √ √
9 Penggandaan Laporan Penelitian √
PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN
Persiapan dan Pengumpulan Data
1. Survey Pendahuluan Rp. 500.000,-
2. Perizinan Penelitian Rp. 1.000.000,-
2. Pembahasan Awal dan Pengumpulan Data Awal
a. Honor Peneliti Rp. 1.000.000,-
b. Tenaga Lapangan Rp. 500.000,-
c. Transportasi Rp. 700.000,-
Subtotal A Rp. 3.700.000,-

Operasional Lapangan
1. Honor Peneliti Rp. 2.000.000,-
2. Staf Administrasi Rp. 500.000,-
3. Tenaga Lapangan Rp. 1.000.000,-
4. Transportasi Rp. 1.000.000,-
Subtotal B Rp. 4.500.000,-

Penyusunan Laporan Hasil Penelitian


1. Menyusun Laporan Akhir Rp. 1.000.000,-
2. Penggandaan Laporan Akhir Rp. 300.000,-
Subtotal C Rp. 1.300.000,-
TOTAL A + B + C Rp. 9.500.000,-