Anda di halaman 1dari 39

TAMBANG TERBUKA

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TAHAPAN KEGIATAN PERTAMBANGAN

BAB III PERTIMBANGAN DASAR RENCANA PENAMBANGAN

3.1 Pertimbangan Ekonomis


3.2 Pertimbangan Teknis
BAB IV PEMILIHAN DAN KLASIFIKASI METODA PENAMBANGAN 10
4.1 Klasifikasi Metoda Penambangan 11
BAB V TAMBANG TERBUKA 12
5.1 Sejarah Tambang Terbuka 12
5.2 Keuntungan dan Kerugian Tambang Terbuka 14
5.3 Tahapan Kegiatan Tambang Terbuka 14
BAB VI METODE-METODE TAMBANG TERBUKA 22
6.1 Open Pit/Open Cut/Open Cast/Open Mine 22
6.2 Quarry 24
6.3 Strip Mine 26
6.4 Alluvial Mine 27
6.5 Tambang Terbuka Untuk Batubara 30
DAFTAR PUSTAKA 34

7
7

BAB I
PENDAHULUAN

Pertambangan sumber daya mineral telah dimulai sejak peradaban manusia dimulai. Hasil
pertambangan tersebut dimanfaatkan demi ksejahteraan manusia. Oleh karena pertambangan
diyakini sebagai ikhtiar kedua yang dilakukan manusia setelah pertanian/agrikultur. Pertambangan
adalah suatu bentuk usaha atau pekerjaan dalam pengambilan endapan berharga atau yang
mempunyai nilai dari Bumi dan diangkut ke tempat pengolahan atau pemakai. Tujuan industri
pertambangan adalah untuk memanfaatkan sumber daya mineral yang terdapat di dalam kulit Bumi
demi kesejahteraan manusia.
Penemuan dan pemanfaatan mineral sering kali diasosiasikan dengan era budaya (cultural
ages of man), antara lain: zaman batu (4000 SM), zaman tembaga (4000-1500 SM), zaman besi
(1500 SM - 1780), zaman baja (1780 - 1945), dan zaman nuklir (sejak 1945).
Dalam pelaksanaannya, kegiatan pertambangan di suatu daerah akan memberikan dampak
terhadap lingkungannya, baik dampak positif maupun negatif. Kontribusi positif dari industri
pertambangan antara lain:
1. Menambah pendapatan dan devisa negara.
2. Meningkatkan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat daerah di
sekitarnya.
3. Terbukanya lapangan kerja yang lebih besar.
4. Adanya kesempatan alih teknologi.
5. Berperan sebagai pusat pengembangan wilayah (community and regional development).
Dampak negatif dari idustri pertambangan antara lain:
1. Mengubah morfologi dan fisiologi daerah tersebut (tata guna lahan).
2. Berpeluang merusak lingkungan, karena:
1. Kesuburan tanah dapat berkurang/hilang.

2. Mengurangi vegetasi, sehingga dapat menimbulkan kegundulan hutan, longsor dan erosi.
3. Flora dan fauna rusak sehingga ekosistemnya juga rusak.
4. Mencemari badan air (sungai, danau dan laut).
5. Terjadinya polusi suara dan udara (debu dan kebisingan).
3. Dapat menimbulkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya di sekitar daerah tersebut.

BAB II
TAHAPAN KEGIATAN PERTAMBANGAN

Secara garis besar tahapan kegiatan dalam usaha pertambangan adalah sebagai berikut.
Penyelidikan Umum
Eksplorasi
Studi Kelayakan
Tidak menguntungkan Tidak layak tambang

Menguntungkan/tidak

Persiapan Penambangan
Arsip
Perencanaan Penambangan
Penambangan
Pengolahan/Pemurnian
Pengolahan/Pemurnian
Pengolahan/Pemurnian

Tahap-Tahap Kegiatan Pertambangan

Kegiatan pertambangan dibagi dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.


1. Kegiatan prapenambangan yang meliputi:
1. Penyelidikan umum (prospecting) yang merupakan kegiatan penyelidikan, pencarian dan
atau penemuan endapan-endapan mineral berharga yang bertujuan mencari komoditas bahan
galian tertentu maupun di lokasi tertentu., artinya penyelidikan harus difokuskan pada
(tipe/jenis) bahan galian yang spesifik atau pada daerah yang spesifik (wilayah/negara) dan

mempelajari keadaan geologi secara umum untuk daerah yang bersangkutan berdasarkan
data permukaan.
2. Eksplorasi yang merupakan kegiatan pencarian mineral berharga yang dimulai dari
penyelidikan umum sampai eksplorasi rinci dengan cara pengeboran eksplorasi, serta
melakukan studi kelayakan dari keberadaan bahan galian tersebut agar dapat ditentukan
kelayakan bahan galian tersebut untuk ditambang.

Kegiatan Eksplorasi

3. Studi kelayakan (feasibility study) adalah kegiatan yang mempelajari secara rinci untuk
menghitung atau mempertimbangkan suatu kegiatan pertambangan agar dapat dilakukan
secara menguntungkan dilihat terutama dari dari komponen ekonomi, teknis, dan
lingkungan. Kegiatan ini merupakan tahapan akhir dari rentetan penyelidikan awal yang
telah dilakukan sebelumnya.
4. Perencanaan tambang adalah suatu proses membuat rancangan tambang geometris dan nongeometris (mencapai ultimate pit limit) dalam jangka waktu tertentu secara aman dan
menguntungkan.
5. Persiapan/development adalah suatu kegiatan untuk membuat sarana dan prasarana yang
diperlukan untuk penambangan dan pengolahan bijih.
2. Kegiatan penambangan adalah kegiatan yang ditujukan untuk membebaskan dan mengambil
bahan galian dari dalam kulit Bumi, kemudian dibawa ke permukaan untuk dimanfaatkan.
Kegiatan ini meliputi pembersihan lahan, pemberaian, pemuatan dan pengangkutan.

Kegiatan pengolahan adalah kegiatan yang bertujuan meningkatkan kadar atau mempertinggi mutu
bahan galian yang dihasilkan dari tambang sampai memenuhi persyaratan untuk diperdagangkan
atau sebagai bahan baku untuk industri lain. Kegiatan ini jg bertujuan menghilangkan/memisahkan
mineral pengotor. Kegiatan ini meliputi pengolahan, pemurnian, pengangkutan, dan pemasaran.

BAB III
PERTIMBANGAN DASAR RENCANA PENAMBANGAN

1. Pertimbangan Ekonomis
Pertimbangan ekonomis meliputi:
1. Cut off grade (COG)

Cut off grade (COG) mempunyai dua pengertian yaitu :


1. Kadar endapan bahan galian yang masih memberikan keuntungan apabila endapan
ditambang (tidak diperlukan pencampuran endapan bahan galian)
2. Kadar rata-rata terendah dari endapan bahan galian yang masih memberikan keuntungan

apabila endapan ditambang (diperlukan pencampuran: mixing/blending)


Cut off grade (COG) akan menentukan batas-batas atau besarnya cadangan sehingga dapat
dihitung besar cadangan oleh karena itu akan berakibat umur cadangan makin lama.
2. Break Even Stripping Ratio (BESR)

Break Even Stripping Ratio (BESR) adalah perbandingan antara keuntungan kotor dengan
ongkos pembuangan overburden.

BESR =
A-B
C

A = nilai endapan bahan galian per satuan berat bahan galian


B = biaya pengambilan bahan galian per satuan berat bahan galian
C = biaya pengupasan overburden per satuan berat

Untuk memilih sistem penambangan digunakan istilah BESR bagi open pit yaitu overall
stripping ratio. Jika:
BESR-1 > 1 = sebaiknya sistem tambang terbuka
BESR-1 1 = sebaiknya sistem tambang bawah tanah

2. Pertimbangan Teknis
Pertimbangan teknis meliputi:
1. Penentuan ultimate pit limit.
Ultimate pit limit adalah batas akhir atau paling luar dari suatu tambang terbuka yang masih
diperbolehkan dengan kemiringan lereng yang masih aman. Factor-faktor yang
mempengaruhinya adalah BESR yang masih diijinkan atau menguntungkan dan kekuatan
batuan pembentuk lereng yang meliputi sifat fisik dan mekanik serta keberadaan struktur
geologi.
2. Pertimbangan struktur geologi yang lebih dominan.
1. Perlapisan dan perlipatan (sinklin dan antiklin)

2. Sesar dan patahan


3. Cleavage
3. Pertimbangan geometri
1. Geometri jenjang
Pertimbangan yang dipakai dalam menentukan geometri jenjang adalah
1. Sasaran produksi hariansasaran produksi tahunan
2. Harus mampu menampung alat-alat/ \peralatan yang dipakai untuk bekerja (working bench)
3. Masih sesuai dengan ultimate pit slope
2. Jalan tambang

Geometri dari jalan tambang akan mempengaruhi bentuk geometri daerah penambangan
secara umum. Geometri dari jalan tersebut meliputi lebar dan kemiringan jalan, yang
biasanya dipengaruhi oleh jenis alat yang digunakan dalam operasi penambangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1. Iklim
2. Tanah dasar, yang meliputi Attaberg (batas cair dan plastis) dan golongannya (unified soil
classification system). Kegunaannya untuk menentukan bearing capacity (kekuatan daya
dukung tanah)
3. Bahan pekerasan local
4. Kemiringan (glade)
5. Lebar jalan
6. Fungsi jalan, yang dibedakan menjadi jalan pengangkutan utama (main haulage road), jalan
tambang (mine road), jalan pembuangan (disposa lroad), jalan pengupasan (stripping road).
7. Jenis dan kapasitas kendaraan yang melalui jalan.
4. Stripping ratio
Stripping ratio (SR) menunjukkan jumlah overburden yang harus dipindahkan untuk
memperoleh sejumlah bijih yang diinginkan.

SR = overburden (ton)
Bijih (ton)

Dalam kegiatan strip tambang batubara adalah sebagai berikut.

SR = overburden (ton)
Coal (ton)

Nilai stripping ratio yang telah diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai BESR yang
telah dihitung sebelumnya, maka akan diperoleh bahwa secara teknis batasan kegiatan
penambangan dalam pit adalah sampai nilai BESR dicapai dalam perhitungan stripping ratio.
5. Pertimbangan hidrologi dan hidrogeologi.

BAB IV
PEMILIHAN DAN KLASIFIKASI METODA PENAMBANGAN

Pemilihan metoda penambangan didasarkan pada keuntungan terbesar yang akan diperoleh
serta mempunyai perolehan tambang yang terbaik dengan memperhatikan karateristik unik di
daerah yang akan ditambang. Tujuan utama dari pemilihan metoda penambangan adalah dalam
rangka merancang suatu system eksploitasi yang paling sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan sistem penambangan adalah sebagai berikut.
1. Karateristik spesial endapan
1. Ukuran (dimensi : tebal dan penyebaran)
2. Bentuk (tabular, lentikular, masiv, atau irregular)
3. Attitude (inklinasi dan dip)
4. Kedalaman
2. Kondisi geologi dan hidrogeologi
1. Mineralogi dan petrografi (sulfida dan oksida)
2. Komposisi kimia dan kualitas (bahan tambang primer dan produk samping, misalnya
batubara: CV, TM, Ash, S)
3. Struktur geologi
4. Bidang lemah (kekar, retakan, cleavage untuk endapan bijih, dan cleats dalam batubara)
5. Keseragaman, alterasi, oksidasi, erosi (zona dan batas)
6. Air tanah dan hidrologi
3. Sifat-sifat geoteknik (mekanika tanah dan batuan) untuk bijih dan batuan sekelilingnya
1. Sifat elastik

2. Perilaku elastic atau vikoelastik


3. Keadaan tegangan (tegangan awal dan induksi)
4. Konsolidasi, kompaksi dan kampetensi
5. Sifat-sifat fisik lainnya (bobot isi, porositas, pemeabilitas, MC, voids)
4. Kondiderasi ekonomi
1. Cadangan (tonase dan kadar/kualitas)
2. Laju produksi (produksi per satuan waktu)
3. Umur tambang
4. Produktivitas (produksi per satuan pekerja dan waktu)
5. Perbandingan ongkos penambangan untuk metode penambangan yang cocok
5. Faktor teknologi
1. Perolehan tambang (mining recorvery)
2. Dilusi (jumlah waste yang dihasilkan dengan bijih)
3. Fleksibilitas metode terhadap perubahan teknologi
4. Selektivitas metode untuk batubara dan waste.
5. Konsentrasi atau disperse dari pekerjaan
6. Modal, pekerja, dan intensitas mekanisasi
6. Faktor lingkungan
1. Kontrol bawah tanah
2. Penurunan permukaan tanah (subsidence)

3. Kontrol atmosfir (kontrol kualitas, kontrol panas dan kelembaban dan ventilasi)
4. Kekuatan pekerja (pelatihan, rekuitmen, kondisi kesehatan dan keselamatan kerja,
kehidupan dan pemukiman

4.1 Klasifikasi Metoda Penambangan


Klasifikasi metoda penambangan telah dilakukan oleh beberapa ahli tambang antara lain:
Peele (1941), Young (1946), Lewis dan Clark (1964), Hartman (1987). Dasar pembagian ini adalah
beberapa kombinasi subyektif dari spasial, geologi dan faktor geoteknik.
Secara garis besar, metoda penambangan dapat digolongkan menjadi 3, yaitu:
1. Tambang terbuka (surface mining) adalah metoda penambangan yang segala aktifitas
penambangannya dilakukan diatas atau relative dekat dengan permukaan Bumi dan tempat
kerjanya berhubungan langsung dengan udara bebas.
2. Tambang bawah tanah (underground mining) adalah metoda penambangan yang segala
kegiatannya dilakukan dibawah permukaan Bumi dan tempat kerjanya tidak berhubungan
langsung dengan udara luar.
3. Tambang bawah air (underwater mining/marine mine) adalah metoda penambangan yang
kegiatan penggaliannya dilakukan di bawah permukaan air atau endapan mineral
berharganya terletak di bawah permukaan air.
4. Tambang di tempat (insitu mining or Novel mining).

BAB V
TAMBANG TERBUKA

5.1 Sejarah Tambang Terbuka


Penambangan telah dilakukan oleh manusia sejak jaman dahulu kala. Penambangan pertama
kali dilakukan oleh orang-orang Paleolitik kira-kira 450.000 tahun silam. Penambangan pertama
adalah penambangan bahan non-metalik. Pada saat itu penambangan batu gunung dilakukan dengan
cara sangat primitive, yaitu dengan cara dibakar terlebih dahulu kemudian disiram dengan air,
akibatnya batuan akan pecah.
Suatu ekspedisi archeometalurgi telah menemukan kompleks pertambangan prasejarah di
Phu Lon (Gunung Botak), sungai Mekong Thailand. Pertambangan tersebut diperkirakann terjadi
sekitar 2000 SM. Bahan galian yang diusahakan adalah malachite yang merupakan salah satu bijih
tembaga.
Pemakaian batubara di China telah diketahui sejak masa Dinasti Han (206 SM-200). Di
Inggris, batubara untuk pertama kali diperkenalkan pada masa pendudukan oleh bangsa Romawi.
Batubara tersebut ditambang secara memungutnya pada singkapan pantai. Kemudian mereka
mengetahui bahwa batubara itu berupa lapisan dan kemudian melakukan penambangan secara
terbuka.
Tambang terbuka modern pertama kali dilakukan pada tahun 1904 di tambang tembaga
Bingham Canyon, Utah, Amerika Serikat.
Sejarah tambang terbuka di Indonesia hanya pada umumnya mengenai tambang batubara di
Sawahlunto, Sumatera Barat; Bukit Asam, Sumatera Selatan; Tambang batu gamping di Indarung,
Sumatera Barat; tambang timah di Bangka, Belitung dan Singkep.Tambang nikel di Pomalaa,
Sorowako dan Pulau Gebe; tambang bauksit di Kijang; tambang tembaga dan emas di Tembaga
Pura, Papua. Tambang-tambang bahan galian industri dan batu serta pasir tersebar luas di seluruh
kepulauan Indonesia, yang kemudian sangat berkembang pesat pada periode 1980.

5.2 Keuntungan dan Kerugian Tambang Terbuka


Metode tambang terbuka merupakan kegiatan penambangan yang diterapkan terhadap
endapan bahan galian yang terletak di dekat permukaan bumi. Dengan demikian kegiatan
penambangan langsung berhubungan dengan udara bebas, sehingga mempunyai keuntungan
sebagai berikut.
1. Kondisi kerja dan keselamatan kerja lebih baik.
2. Segala macam peralatan dari yang kecil sampai yang besar dapat dipakai, sehingga
produksinya bisa besar.
3. Segala jenis bahan peledak dapat dimanfaatkan dan dapat diperoleh nisbah peledakan

(blasting ratio) yang tinggi.


4. Biaya operasi lebih murah
5. Perolehan dari penambangan lebih besar karena pengaruh faktor-faktor yang disebutkan
diatas.
6. Pengamanan dan pengawasan lebih mudah.
7. System ventilasi tidak terlalu begitu dipentingkan, yang terpenting adalah pencegahan debu
dan kebisingan pada tempat kerja.
Kerugian tambang terbuka adalah :
1. Merusak lingkungan hidup.
2. Susah mencari tempat untuk menimbun material penutup (overburden) yang tidak
mengganggu kegiatan penambangan dan memperparah kerusakan lingkungan, karena
volume material yang akan ditimbun sangat banyak.
3. Para pekerja terkena langsung oleh pteriknya sinar matahari sehingga dapat mempengaruhi
efesiensi kerjanya.
4. Pengawasan terhadap peralatan lebih susah karena umumnya letaknya tersebar.
5. Kedalaman penggalian terbatas sehingga bagi perusahaan kecil akan sangat berpengaruh
karena hanya dapat mengambil pada kedalaman dangkal.

5.3 Tahapan Kegiatan Tambang Terbuka


Secara garis besar tahapan kegiatan penambangan pada tambang terbuka adalah sebagai
berikut :
1. Pembabatan dan pembersihan lahan (land clearing).
2. Pengupasan tanah penutup (stripping).
3. Pembongkaran atau penggalian bahan galian (mining).
4. Pemuatan dan pengankutan
5. Penirisan (drainage)
6. Penjenjangan/Kestabilan Lereng
7. Reklamasi Daerah Bekas Tambang

5.3.1 Pembabatan Dan Pembersihan Lahan


Pembabatan dan pembersihan lahan adalah pembersihan daerah yang akan ditambang dari
semak-semak, pepohonan dan tanah maupun bongkah-bongkah batu yang menghalangi pekerjaanpekerjaan selanjutnya. Tanah pucuk yang subur (humus) harus ditimbun di tempat tertentu, lalu
ditanami rerumputan dan semak-semak agar tidak mudah tererosi, sehingga kelak dapat dipakai
untuk reklamasi bekas-bekas tambang.
Pembabatan ini bisa dilakukan dengan :
1. Tenaga manusia yang menggunakan alat-alat sederhana seperti kapak, gergaji, arit, cangkul
dan lain-lain.
2. Menggunakan alat-alat mekanis yaitu buldoser dengan rooter/ripper, rake blade, rantai dan
lain-lain.

5.3.2 Pengupasan Tanah Penutup

Pengupasan tanah penutup dimaksudkan untuk membuang tanah penutup (overburden) agar
endapan bahan galiannya terkupas dan mudah untuk ditambang.
Ada beberapa macam cara pengupasan tanah penutup yang banyak diterapkan, yaitu:
1. Back filling digging method
Pada cara ini tanah penutup dibuang ke tempat yang endapan bijih atau batubaranya sudah
digali. Peralatan yang banyak digunakan adalah power shovel atau dragline. Bila digunakan
hanya satu buah peralatan mekanis, power shovel atau dragline saja, disebut single stripping
shovel atau dragline dan bila menggunakan lebih dari satu buah power shovel atau
dragline disebut tandem stripping shovel atau dragline

Back filling digging method

Cara back filling digging method cocok untuk tanah penutup yang :
1. tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan batubara atau endapan bijih (satu lapis),
2. material atau batuannya lunak, dan
3. letaknya mendatar (horisontal).
2. Sistem jenjang (benching system)

Pengupasan tanah penutup dengan sistem jenjang (benching system) dilakukan bersamaan
waktunya dengan pembuatan jenjang untuk penambangan atau penggalian bahan-bahan galian

Sistem jenjang (benching system)


Sistem ini cocok untuk :
1. tanah penutup yang tebal.
2. bahan galian atau lapisan batubara yang juga tebal.
3. Cara konvensional kombinasi alat gali (bulldozer), alat muat (track loader) dan alat angkut

(dump truck)

Pengupasan Tanah Penutup Konvesional

5.3.3 Penambangan atau Penggalian Bahan-Bahan Galian


Penambangan atau penggalian bahan-bahan galian adalah kegiatan pengambilan endapan
bahan galian termasuk batubara dari dalam kulit bumi dan dibawa ke permukaan bumi untuk
dimanfaatkan atau untuk diproses selanjutnya.

Pembongkaran atau penggalian bahan galian dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai
berikut.
1. Pembongkaran dengan alat gali. Alat-alat gali tersebut antara lain backhoe, dragline, bucket

wheel excavator, power shovel dan lain-lain.

Peralatan Tambang
2. Pembongkaran dengan peledakan. Peralatan yang digunakan adalah compressor, jack
hammer, mesin peledakan, bahan peledak, kabel-kebel listrik, detonator, sumbu ledak,
cleaner gas, drilling machine dan lain-lain.
3. Pembongkaran dengan penggaruan. Alat-alat yang digunakan adalah ripper, bulldozer.
Rancangan penggalian dengan penggaruan ditentukan oleh:
1. Kondisi dan karateristik endaoan bahan galian
2. Kondisi medan kerja
3. Karateristik peralatan
4. Pengumpulan hasil pembongkaran

5.3.4 Pemuatan dan Pengangkutan


Pemuatan dan pengangkutan pada tambang terbuka dilakukan setelah
penggalian/pengambilan bahan galian tambang elaesai dilakukan. Tujuannya adalah untuk
memindahkan bahan galian dari lokasi penambangan ke stock yard tambang

Pemuatan dilakukan dengan backhoe, power shovel, wheel loader, dan lain-lain.

Pemuatan

Pengangkutan adalah serangkain pekerjaan yang dilakukan untuk mengankut batuan, bijih,
batu atau tanah buangan (waste), kayu-kayu, penyangga, karyawan, dan keperluan lain sehari-hari
pada suatu operasi penambangan. Pengangkutan sangat mempengaruhi operasi penambangan; untuk
dan rugi suatu perusahaan penambangan terletak juga pada lancar-tidaknya pengangkutan.
Cara pengangkutan pada open pit/open cut/open cast/open mine tergantung dari kedalaman
endapan dan topografinya. Pada dasarnya cara pengangkutannya ada 2 (dua) macam, yaitu :
1. Cara konvensional atau cara langsung, yaitu hasil galian atau peledakan diangkut

oleh truck / belt conveyor / mine car / skip dump type rail cars, dan sebagainya,
langsung dari tempat penggalian ke tempat dumping dengan menelusuri tebingtebing sepanjang bukit.

Pengankutan dengan Belt Conveyor

Pengangkutan dengan dump truck


2. Cara inkonvensional atau cara tak langsung adalah cara pengangkutan hasil
galian/peledakan ke tempat stick pileg dengan menggunakan cara kombinasi alat-alat
angkut. Misalnya dari permuka/medan kerja (front) ke tempat crusher digunakan
truk, dan selanjutnya melalui ore pass ke loading point; dari sini diangkut ke ore
bin dengan memakai belt conveyor, dan akhirnya diangkut ke luar tambang
dengan cage.

4. Penirisan (drainage)

Tujuan penirisan adalah untuk mengeringkan air permukaan dan rembesan air tanah yang
terdapat dan mengalir di daerah kerja dan daerah tambang secara keseluruhan. Peralatan yang
digunakan adalah pipa, pompa, siphon, selokan, dragline, backhoe dan lain-lain.
Rancangan penirisan ditentukan atas dasar:
1. Kondisi daerah kerja
2. Hidrologi
3. Curah hujan
4. Karateristik peralatan
Penirisan air tambang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengeringan air yang terlanjur
masuk daerah kerja (cara konvensional) dan cara pencegahan air supaya tidak masuk daerah kerja.

4. Penjenjangan/Kestabilan Lereng
Kegiatan ini bertujuan untuk menghindari kelongsoran medan kerja dan dinding medan
kerja atau daerah bekas penggalian. Kemiringan dinding daerah penggalian dan bekas penggalian
tidak boleh lebih besar dari sudt batas luncur bahan yang digali.
Rancangan kemantapan jenjang/lereng ditentukan atas dasar:
1. Kondisi batuan/bijih (sifat fisik dan mekanik)
2. Jenis batuan/bijih
3. Kondisi air
4. Struktur geologi
5. Curah hujan
6. Macam peralatan yang dipergunakan
7. Metoda penambangan
8. Kecepatan produksi

9. System perhitungan kemantapan jenjang/lereng

4. Reklamasi Daerah Bekas Tambang


Reklamasi daerah tambang dilakukan dalam bentuk penghutan, petrnakan, pertanian,
perkebunan, pemukiman, dan daerahwisata. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka memenuhi
tuntutan masyarakat dan pemerintah atau ketetapan dari pemerintah untuk mencegah perusakan
lingkungan alam dan ekasistem, perubahan system ekonomi dan budaya masyarakat sekitar
tambang.

BAB VI
METODE-METODE TAMBANG TERBUKA

Metode penambangan yang termasuk tambang terbuka ada 4 (empat) macam, yaitu :
1. Open pit / open cut / open cast / open mine,
2. Quarry,
3. Strip mine, dan
4. Alluvial mine.

6.1 Open Pit/Open Cut/Open Cast/Open Mine


Open pit/open cut/open cast/open mine adalah cara-cara penambangan terbuka yang
dilakukan untuk menggali endapan-endapan bijih metal seperti endapan bijih nikel, endapan bijih
besi, endapan bijih tembaga, dan sebagainya. . Contohnya tambang nikel di Pomalla, Sulawesi
Tenggara yang mineralnya Garnierite, tambang alumunium di Pulau Kijang Kepulauan Riau yang
mineralnya Gibbsite, Boechmite, Diaspore (Bauksit), tambang tembaga di Tembagapura Papua
yang mineralnya Calcophyrite dan Cuprite, tambang timah di Pulau Bangka yang mineralnya
Cassiterite.
Bentuk tambang berdasarkan letak endapan bijih itu sendiri ada 2 (dua) macam, yaitu:
1. Open pit
Merupakan bentuk penambangan untuk endapan bijih yang terletak pada suatu daerah yang
datar atau lembah. Dengan demikian medan kerja digali ke arah bawah sehingga akan
membentuk semacam cekungan atau pit

Open Pit

2. Open cast / open mine / open cut


Merupakan bentuk penambangan untuk endapan bijiih yang terletak pada lereng bukit.
Dengan demikian medan kerja digali dari arah bawah ke atas atau sebaliknya (side hill type).
Bentuk tambang dapat pula melingkari bukit atau undakan, hal tersebut tergantung dari letak
endapan penambangan yang diinginkan.

Open Cut/Open Cast/Open Mine

6.2 Quarry
Quarry adalah cara-cara penambangan terbuka yang dilakukan untuk menggali endapanendapan bahan galian industri atau mineral industri, seperti batu marmer, batu granit, batu andesit,
batu gamping, dan lain-lain. Contoh : tambang batu pualam di Tulung Agung Jawa Timur yang
batuannya Marmer, tambang aspal di Pulau Buton yang batuannya batu gamping beraspal, tambang
granit di Pulau Karimun yang batuannya granit
Bentuk tambang berdasarkan letak endapan bahan galian industri itu sendiri ada 2 (dua)
macam, yaitu :
1. Side hill type
Side hill type merupakan bentuk penambangan untuk batuan atau bahan galian indutri yang
terletak dilereng-lereng bukit. Medan kerja dibuat mengikuti arah lereng-lereng bukit itu
dengan 2 (dua) kemungkinan, yaitu :
1. Bila seluruh lereng bukit itu akan digali dari atas ke bawah, maka medan kerja dapat dibuat
melingkar bukit dengan jalan masuk (access road) berbentuk spiral.
2. Jika hanya sebagian lereng bukit saja yang akan di tambang atau bentuk bukit itu
memanjang, maka medan kerja dibuat memanjang pula dengan jalan masuk dari salah satu
sisisnya atau dari depan yang disebut straight ramp.
Keuntungan side hill type ini ialah :
1. Dapat diusahakan adanya cara penirisan alamiah dengan membuat medan kerja sedikit
miring ke arah luar dan di tepi jalan masuk dibuatkan saluran air.
2. Alat-angkut bermuatan bergerak ke arah bawah yang berarti mendapat bantuan gaya
gravitasi. Dengan demikian waktu pengangkutannya (cycle time) menjadi lebih singkat.
Kerugiannya adalah :
1. Meterial penutup harus dikupas dan dibuang sekaligus sebelum penambangan dilakukan,
berarti diperlukan modal yang besar untuk mengongkosi pengupasan material penutup.

2. Karena jalan masuknya miring, kalau pengemudi-pengemudi alat-alat angkut kurang hatihati karena ingin dapat premi produksi, maka hal ini akan dapat menyebabkan kecelakaan,
terutama pada jalan masuk yang berbentuk spiral.

Side hill type

2. Pit type / subsurface type


Pit type / subsurface type merupakan bentuk penambangan untuk batuan atau bahan galian
industri yang terletak pada suatu daerah yang mendatar. Dengan demikian medan kerja harus
digali ke arah bawah sehingga akan membentuk kerja atau cekungan (pit). Bentuk medan kerja
atau cekungan tersebut ada 2 (dua) kemungkinan, yaitu :
1. Kalau bentuk endapan kurang lebih bulat atau lonjong (oval), maka medan kerja dan jalan
masuk dibuat berbentuk spiral (lihat Gambar 10).
2. Bila bentuk endapan kurang lebih empat persegi panjang atau bujur sangkar, maka medan
kerjapun di buat seperti bentuk-bentuk tersebut di atas dengan jalan masuk dari sisi yang
disebut straight ramp atau berbentuk switch back.
Bentuk-bentuk kuari (quarry) yang diuraikan diatas adalah bentuk-bentuk dasar dari kuari
yang tentu saja masih banyak lagi variasi-variasinya yang pada umumnya diusahakan agar
menyesuaikan bentuk-bentuk dasar tersebut dengan keadaan dan bentuk endapan serta topografi
daerahnya.

Subsurface Type

6.3 Strip Mine


Strip mine dalah cara-cara penambangan terbuka yang dilakukan untuk endapan-endapan
yang letaknya mendatar atau sedikit miring. Hal yang harus diperhitungkan dalam penambangan
cara ini adalah nisbah penguapan (stripping ratio) dari endapan yang akan ditambang, yaitu
perbandingan banyaknya volume tanah penutup (m3 atau BCM) yang harus dikupas untuk
mendapatkan 1 ton endapan. Cara ini sering diterapkan pada penambangan batubara, atau endapan
garam-garam. tambang batubara di Tanjung Enim Sumatera Selatan, tambang batubara di Ombilin
Sawah Lunto Sumatera Barat mineralnya Bituminous Coal, dan lain-lain.

Strip Mine

6.4 Alluvial Mine


Alluvial mine adalah tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapan-endapan
alluvial, misalnya tambang bijih timah, pasir besi, emas dan lain-lain. tambang bijih timah di Pulau
Bangka Belitung yang mineralnya cassiterite, tambang bijih besi di Cilacap yang mineralnya
magnetite, hematite, ilmenite, dll.
Berdasarkan cara penggaliannya, maka alluvial mine dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam,
yaitu :
1. Tambang semprot (hydraulicking).
Pada tambang semprot penggalian endapan alluvial dilakukan dengan menggunakan semprotan
air yang bertekanan tinggi yang berasal dari penyemprotan yang disebut monitor atau water
jet atau giant.
Tekanan aliran air yang dihasilkan oleh monitor dapat diatur sesuai dengan keadaan material
yang akan digali atau disemprot yang biasanya bisa mencapai tekanan sampai 10 atm.
Untuk memperbesar produksi biasanya :
1. Digunakan lebih dari satu monitor, baik bekerja sendiri-sendiri atau bersama di satu
permuka kerja;
2. Monitor dibantu dengan alat mekanis seperti back hoe atau buldoser
Untuk mengangkut material hasil galian atau semprotan ke instalasi pengolahan digunakan air
yang digerakkan dengan pompa.
Jadi jika digunakan cara penambangan tambang semprot harus tersedia cukup air, baik untuk
sperasi penambangan maupun untuk proses pengolahannya (konsentrasi).

Tambang Semprot

2. Penambangan dengan kapal keruk (dredging)


Penambangan dengan kapal keruk (MGM = Mesin Gali Mangkok) ini digunakan bila endapan
yang akan digali terletak di bawah permukaan air, misalnya di lepas pantai, sungai danau atau
dia suatu lembah dimana tersedia banyak air.
Berdasarkan macam alat galinya, maka kapal keruk yang digunakan untuk penambangan dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu :
1. Multi bucket dredge (lihat Gambar 13), yaitu kapal keruk yang alat-galinya berupa
rangkaian mangkok (bucket).
2. Cutter suction dredge, yaitu kapal keruk dengan alat-gali berupa pisau pemotong yang
menyerupai bentuk mahkota.
3. Bucket wheel dredge, yaitu kapal keruk yang dilengkapi dengan timba yang berputar (bucket
wheel) sebagai alat-gali.
Sistem penggalian dengan kapal keruk dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) macam, yaitu :
1. Sistem tangga (benches), yaitu cara pengerukan dengan membuat atau membentuk tangga
atau jenjang (benches).
2. Sistem tekan, yaitu cara pengerukan dengan menekan tangga (ladder) sampai pada
kedalaman yang dikehendaki, kemudian maju secara bertahap tanpa membentuk tangga.

3. Sistem kombinasi, yaitu merupakan gabungan dari cara atau sistem tangga dengan sistem
tekan. Biasanya sistem tangga dipakai untuk menggalikan tanah penutup, sedangkan sistem
tekan untuk menggali endapan bijihnya (kaksa).

Kapal Keruk

3. Manual mining method


Manual method atau penambangan secara sederhana adalah penambangan yang menggunakan
tanaga manusia atau hampir tidak menggunakan tenaga masin atau alat mekanis.
Cara ini biasanya dilakukan oleh rakyat setempat atau kontraktor kecil untuk menambang
endapan yang :
1. Ukuran atau jumlah cadangannya tidak besar.
2. Letaknya tersebar dan terpencil.
3. Tetapi endapannya cukup kaya.
Alat-alat konsentrasi yang biasanya digunakan pada manual method ialah :
1. Pan / batea / dulang
2. Rocker (craddle)

3. Sluice box

Manual mining method

6.5 Tambang Terbuka untuk Batubara


Beberapa sistem tambang terbuka untuk penambangan batubara adalah sebagai berikut.
1. Strip mining
Strip mining pada umumnya digunakan untuk endapan batubara yang memiliki kemiringan
endapan (dip) kecil atau landai dimana sistem penambangan yang lain sulit untuk diterapkan
karena keterbatasan jangkuan alat-alat
Selain itu endapan batubaranya

harus tebal, terutama bila lapisan tanah penutupnya juga

tebal. hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan perbandingan yang masih ekonomis anatara
jumlah tanah penututp yang harus dikupas dengan jumlah batubara yang dapat digali
(economic stripping ratio).

Strip Mining
2. Contour mining
Sistem penambangan ini biasanya diterapkan untuk cadangan batubara yang tersingkap di
lereng pegunungan atau bukit.Kegiatan penambangan diawali dengan pengupasan tanah
penutup di daerah singkapan (outcrap) di sepanjang lereng mengikuti garis kontur, kemudian
diikuti dengan penggalian endapan batubaranya. Penggalian kemudian dilanjutkan ke arah
tebingsampai mancapai batas penggalian yang masih ekonomis, mengingat tebalnya tanah
penutup yang harus dikupas untuk mendapatkan batubaranya. Karena keterbatasannya daerah
yang biasanya digali, maka daerah menjadi sempit tetapi panjang sehingga memerlukan alatalat yang mudah berpindah-pindah. Umur tambang biasanya pendek.
Kerugian sistem ini ialah :
1. Keterbatasannya jumlah cadangan yang ekonomis untuk ditambang karena tebalnya tanah
penutup yang harus dikupas.
2. Tempat kerjanya sempit.
3. Tebing (highwall) yang terbentuk bisa terlalu tinggi sehingga menyebabkan kemantapan
lerengnya rendah.
4. Mudah terjadi kelongsoran pada timbunan tanah buangan (timbunan tanah penutup)
3. Area mining
Sistem ini pada umumnya diterapkan untuk endapan batubara yang letaknya kurang lebih
horizontal (mendatar) serta daerahnya juga merupakan dataran. Kegiatan penambangan dimulai

dengan pengupasan tanah penutup dengan cara membuat paritan besar yang biasanya
disebut box cut dan tanah penutupnya dibuang ke daerah yang tidak di tambang. Setelah
endapan batubara dari galian pertama diambil, kemudian disusul dengan pengupasan
berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tanah penutupnya ditimbun atau
dibuang ke tempat bekas penambangan atau penggalian yang pertama (back filling digging
method). Demikianlah selanjutnya penggalian demi penggalian dilanjutkan sampai penggalian
yang terakhir. Penggalian yang terakhir akan meninggalkan lubang memanjang yang di satu sisi
lainnya oleh tanah penutup yang tidak digali. Seirama dengan kemajuan penambangan, secara
bertahap timbunan tanah penutup juga diratakan.
4. Auger mining
Untuk menambang endapan batubara yang tipis dan tersingkap di lereng bukit dapat
dipakai auger head miner yang memiliki auger berdiameter 28-36 inchi (71-91cm). Kemudian
alat ini diperbaiki menjadi twin auger yang berdiameter 20-28 inchi (50-71 cm) dengan
kedalaman penggalian efektif 5 ft (1,5 m).
Pada saat penambangan alat ini ditempatkan dibagian pinggir lombong (stope). Auger yang
satu diletakkan di dasar lombong, sedang auger yang kedua dinaikkan sehingga alat tersebut
digerakkan kesamping ke arah pinggir lombong diseberangnya dengan ditarik kabel yang
diikatkan pada 2 buah jangkar penopang di kiri-kanan alat. Gerakan ke samping itu dilakukan
berulang-ulang sambil diikuti dengan gerakan maju. Batubara yang tergali diterima oleh chain
conveyor pengumpul untuk diangkat ke luar lombong.

Auger Mining

5. Box cut mining

Sebenarnya yang dimaksud dengan box cut adalah suatu lubang galian awal pada daerah yang
efektif datar yang tak memiliki daerah pembuangan tanah penutup, sehingga tanah penutup
terpaksa dibuang kesamping lubang galian awal. Kemudian lubang galian awal ini
dikembangkan menjadi kawasan penambangan yang lebih baik dengan berbagai cara.
Pengembangan box cut itu adalah yang disebut advance benching system. Bila tanah
penutupnya lunak, maka dapat dipakai dragline atau back hoe sebagai alat gali sehingga box
cut-nya dapat diperluas menjadi medan kerja (front) yang memanjang. Batubara yang telah
terkupas kemudian ditambang dengan peralatan khusus, misalnya dengan pemboran dan
peledakan atau penggaruan (ripping), Kemudian dimuatkan ke alat-angkut untuk dibawa keluar
tambang.

DAFTAR PUSTAKA

Nurhakim,2004.Draft Bahan kuliah Tambang Terbuka.Banjar Baru: Program


Studi Teknik Pertambangan,Universitas Lambung Mangkurat
Prodjosumarto,Partanto.2000.Tambang Terbuka (surface
mining).Bandung:Institut Teknologi Bandung.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan
Batubara.SistemPenambangan.Bandung:Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.
Sjaepudin, M Anda;Noor,M Zurni.1995.Tambang Terbuka.Bandung: Pusat
Pengembangan Tenaga Pertambangan,Direktorat Jendral
Pertambangan Umum,Departemen Pertambangan dan Energi.
Sjaepudin, M Anda.1995.Tambang Terbuka II.Bandung: Pusat
Pengembangan Tenaga Pertambangan,Direktorat Jendral
Pertambangan Umum,Departemen Pertambangan dan Energi.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. ________ , (1997), Geological Modeling of a Multi Seam Coal Deposit Surpac Sofware.
2. Direktorat Jendral Pertambangan Umum, (1998), Analisis dan Perhitungan
Cadangan,Departemen Pertambangan dan Energi.
3. Erlangga,E.O, (2001), Open Pit Design, Badan Diklat Teknologi Mineral dan Batubara,Pusat
Pengembangan Tenaga Pertambangan, Bandung.
4. Hartman, H.L, (1987), Interoductory Mining Engineering , University of Alabama,Alabama.
5. Prodjosumatro, P, (2000), Tambang Terbuka, Jurusan Teknik Pertambangan, InstitutTeknologi
Bandung, Bandung.
6. Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara, (2004), Teknik Pertambangan batubara,Depertemen
Energi dan Sumber Daya Mineral.
7. Bruce A, Kennedy, 1990, Surface Mining, Penerbit : Universitas Gadjah Mada,Yogyakarta.

GENJOT PENERIMAAN, ESDM TETAPKAN


ATURAN 4 WILAYAH PERTAMBANGAN

Merdeka.com - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral


(ESDM) telah menerbitkan aturan untuk wilayah pertambangan. Empat wilayah tersebut
yakni Sulawesi, Kepulauan Maluku, Kalimantan dan Papua.
Wilayah Pertambangan (WP) terdiri dari Wilayah Pencadangan Negara (WPN), Wilayah
Pertambangan Rakyat (WPR), dan Wilayah Usaha Pertambangan (WUP).
"Kita sedang menunggu untuk Sumatera, Bali, NTT dan Jawa," ujar Dirjen Minerba
Kementerian ESDM, R Sukhiyar di kantornya, Jakarta, Jumat (3/1).
Hal ini diberlakukan untuk mengoptimalkan penerimaan negara di sektor minerba. Tujuan
aturan ini adalah optimalisasi penggunaan SDA dengan meningkatkan sistem
pengawasan. Sehingga, yang sebelumnya tidak tercatat menjadi tercatat.
WP ini sendiri telah diterbitkan sejak 19 Desember lalu. Ke depan, WUP dengan basis
logam, batu bara dan bukan logam akan diberikan izinnya oleh bupati setempat.