Anda di halaman 1dari 5

Tugas Teori Akuntansi : Penjelasan mengenai PSAK 10 & PSAK 55

Oleh Kelompok 9:
1. I Gusti Ngurah Hendra Santa D
2. I Gede Artha Septiana
3. I Made Sastra Wiguna

(1206305101)
(1206305175)
(1206305202)

Penjelasan Konseptual Mengenai PSAK 10 & PsAK 55


A. Penjelasan Tentang PSAK 10
PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu perusahaan mengukur transaksinya menggunakan mata
uang fungsionalnya dan membolehkan perusahaan menyajikan laporan keuangannya dengan
menggunakan mata uang apa saja. Namun PSAK 10 paragraf 38 juga menyatakan bahwa mata
uang pelaporan di Indonesia adalah Rupiah.
Faktor-faktor dalam menentukan mata uang fungsional menurut PSAK 10 adalah:
1. Mata uang utama yang memengaruhi harga jual barang dan jasa
2. Mata uang utama yang memengaruhi biaya tenaga kerja, nahan baku, dan biaya lainnya
dalam penjualan barang dan jasa.
Jika kedua faktor tersebut tumpang tindih, maka PSAK 10 mensyaratkan bahwa suatu
perusahaan juga dapat mempertimbangkan pendukung lain dalam menentukan mata uang
fungsionalnya, diantaranya:
1. Mata uang yang digunakan dalam menghasilkan aktivitas pendanaan
2. Mata uang yang digunakan dalam menahan pendapatan dari aktivitas operasi
PSAK 10 lebih lanjut menyatakan bahwa setelah ditentukan, mata uang fungsional tidak boleh
diubah, kecuali terjadi perubahan transaksi, peristiwa, atau kondisi (paragraf 13). Jika diubah,
mata uang fungsional itu harus diperhitungkan secara prospektif sejak tanggal perubahan itu
(paragraf 35).

AKUNTANSI UNTUK TRANSAKSI DALAM MATA UANG ASING


Dalam akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing, terdapat 2 isu terkait, yaitu:
1. Kurs mana yang digunakan untuk menyaji ulang mata uang asing ke dalam mata uang
fungsional, dan
2. Bagaimana cara menangani perbedaan kurs yang timbul

KURS
Tentang kurs valuta asing yang digunakan untuk menyaji ulang mata uang asing ke dalam mata
uang fungsional, PSAK 10 menyatakan bahwa:
1. Pada saat pengakuan awal: Transaksi dalam mata uang asing harus disaji ulang ke dalam
mata uang fungsional menggunakan kurs tanggal transaksi (paragraf 21), dan
2. Pada setiap tanggal pelaporan (paragraf 23):
1. Pos-pos moneter disaji ulang menggunakan kurs penutup
2. Pos-pos non-moneter yang dicatat pada biaya historis harus dilaporkan menggunakan
kurs tanggal transaksi, dan
3. Pos-pos non-moneter yang dicatat pada nilai wajar harus disaji ulang menggunakan
kurs yang berlaku pada saat nilai etrsebut ditentukan.
Penjabaran Laporan Keuangan Merujuk pada PSAK 10, ada 2 skenario dimana penjabaran
laporan keuangan dianggap perlu, yaitu:
1. Ketika mata uang pelaporan suatu entitas tidak sama dengan mata uang fungsionalnya,
dan
2. Ketika untuk kepentingan penyajian laporan keuangan konsolidasian mata uang
pelaporan anak perusahaan dan perusahaan asosiasi tidak sama dengan induk perusahaan.
Dalam penjabaran laporan keuangan mata uang asing, 2 persoalan akuntansi akan muncul:

1. Manakah kurs yang akan digunakan untuk menjabarkan berbagai laporan posisi keuangan
serta pos-pos laba rugi, dan
2. Bagaimana menangani perbedaan kurs (disebut perbedaan penjabaran) yang
diakibatkan oleh penjabaran ini.
Persoalan lain adalah bagaimana menangani perbedaan penjabaran. Perbedaan penjabaran terjadi
ketika pos-pos dijabarkan dengan menggunakan kurs yang berbeda dalam laporan keuangan
suksesif (atau dalam laporan keuangan yang berbeda pada periode yang sama)
Kedua persoalan tersebut, yaitu:
1. Kurs mana yang akan digunakan
2. Bagaimana perbedaan penjabaran ini harus dijelaskan, dapat dijawab dengan cara yang
berbeda bergantung pada metode penjabaran yang digunakan.

B. Penjelasan Mengenai PSAK 55 ( Pengukuran & Pengakuan)


Nilai wajar adalah harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan
dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada
tanggal pengukuran (Lihat PSAK 68).
Ruang Lingkup
02. Pernyataan ini diterapkan oleh semua entitas untuk seluruh jenis instrumen keuangan, kecuali
untuk:
(a) pada entitas anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama yang dicatat berdasarkan PSAK 65:
Laporan Keuangan Konsolidasi, PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri, PSAK 15: Investasi
pada Entitas Asosiasi. Akan tetapi, entitas menerapkan Pernyataan ini untuk pada entitas anak
entitas asosiasi atau ventura bersama yang menurut PSAK 4 atau PSAK 15 dicatat berdasarkan
Pernyataan ini.
(b) hak dan kewajiban dalam sewa yang diatur dalam PSAK 30: Sewa. Akan tetapi:
(i) piutang sewa yang diakui lessor mengikuti ketentuan penghentian pengakuan dan penurunan
nilai dalam Pernyataan ini.
(ii) utang sewa pembiayaan yang diakui oleh lessee mengikuti ketentuan penghentian pengakuan
dalam Pernyataan ini.

(iii) derivatif yang melekat pada sewa mengikuti ketentuan mengenai derivatif melekat dalam
Pernyatan ini.
(e) hak dan kewajiban yang timbul dalam (i) kontrak asuransi sesuai dengan PSAK 62: Kontrak
Asuransi, selain hak dan kewajiban penerbit yang timbul dalam kontrak asuransi yang memenuhi
definisi kontrak jaminan keuangan atau (ii) kontrak dalam ruang lingkup PSAK 62 karena
kontrak tersebut berisi fitur partisipasi tidak mengikat. Akan tetapi, Pernyataan ini berlaku untuk
derivatif yang melekat pada kontrak dalam ruang lingkup PSAK 62 jika derivatif tersebut tidak
dengan sendirinya merupakan kontrak yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 62.
(f) kontrak antara pihak pengakuisisi dan untuk menjual atau membeli pihak yang diakuisisi yang
akan menghasilkan kombinasi bisnis di masa depan pada tanggal akuisisi.
DERIVATIF MELEKAT
09. Derivatif melekat merupakan suatu komponen dari instrumen campuran (gabungan) yang di
dalamnya termasuk kontrak utama nonderivatif, yang mengakibatkan sebagian arus kas yang
berasal dari instrumen gabungan bervariasi serupa dengan derivatif yang berdiri sendiri.
Derivatif melekat menyebabkan sebagian atau seluruh arus kas yang dipersyaratkan dalam
kontrak, dimodifikasi menurut variabel yang telah ditentukan, antara lain: suku bunga, harga
instrumen keuangan, harga komoditas, kurs valuta asing, indeks harga atau indeks suku bunga,
peringkat kredit atau indeks kredit, atau variabel lain.
Jika entitas disyaratkan oleh Pernyataan ini untuk memisahkan derivatif melekat dari kontrak
utamanya, tetapi tidak dapat mengukur derivatif melekat secara terpisah, baik pada saat
perolehan ataupun pada akhir periode pelaporan berikutnya, maka entitas memperlakukan
keseluruhan kontrak dari instrumen gabungan atau instrumen campuran tersebut sebagai aset
keuangan atau liabilitas keuangan yang ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba
rugi.
13. Jika entitas tidak dapat menentukan nilai wajar derivatif melekat secara andal berdasarkan
persyaratan dan ketentuan derivatif tersebut (misalnya karena derivatif melekat didasarkan pada
instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga pada pasar aktif atas instrumen sejenis,
yaitu input level 1), maka nilai wajar derivatif melekat merupakan selisih antara nilai wajar
instrumen gabungan atau instrumen campuran dan nilai wajar kontrak utama.

PENGAKUAN DAN PENGHENTIAN PENGAKUAN


Penghentian Pengakuan Aset Keuangan

Dalam laporan keuangan konsolidasian, paragraf 16-23 dan PA49-PA67 diterapkan pada tingkat
konsolidasi. Dengan demikian, entitas pertama mengonsolidasikan seluruh laporan entitas anak
sesuai dengan PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasian dan selanjutnya menerapkan paragraf
1623 dan PA49PA67 pada konsolidasi kelompok usaha.

Daftar Pustaka:
1. http://elraihany.wordpress.com/2013/06/18/pengaruh-perubahan-kurs-valuta-asing-psak10/
2. DSAK IAI. November 2013. Expose Draft PSAK 55: Instrumen Keuangan (Pengakuan
& Pengukuran).Ikatan Akuntan Indonesia.