Anda di halaman 1dari 22

Instalasi pengolahan air limbah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman initampilkan/sembunyikan detail

IPAL di Warsawa, Polandia


Instalasi pengolahan air limbah (IPAL) (wastewater treatment plant, WWTP), adalah sebuah struktur
yang dirancang untuk membuang limbah biologis dan kimiawi dari air sehingga memungkinkan air
tersebut untuk digunakan pada aktivitas yang lain. Fungsi dari IPAL mencakup:

Pengolahan air limbah pertanian, untuk membuang kotoran hewan, residu pestisida, dan sebagainya
dari lingkungan pertanian.
Pengolahan air limbah perkotaan, untuk membuang limbah manusia dan limbah rumah tangga lainnya.
Pengolahan air limbah industri, untuk mengolah limbah cair dari aktivitas manufaktur sebuah industri
dan komersial, termasuk juga aktivitas pertambangan.
Meski demikian, dapat juga didesain sebuah fasilitas pengolahan tunggal yang mampu melakukan
beragam fungsi.[1] Beberapa metode seperti biodegradasi diketahui tidak mampu menangani air limbah
secara efektif, terutama yang mengandung bahan kimia berbahaya.[2]

Pengertian IPAL
IPAL adalah suatu perangkat peralatan teknik beserta perlengkapannya yang memproses / mengolah
cairan sisa proses produksi pabrik, sehingga cairan tersebut layak dibuang ke lingkungan
Manfaat IPAL
IPAL itu sangat bermanfaat bagi manusia serta makhluk hidup lainnya, natara lain:
a. Mengolah Air Limbah domestik atau industri, agar air tersebut dapat di gunakan kembali sesuai
kebutuhan masing-masing
b. Agar air limbah yang akan di alirkan kesungai tidak tercemar
c. Agar Biota-biota yang ada di sungai tidak mati
Tujuan IPAL
tujuan IPAL yaitu untuk menyaring dan membersihkan air yang sudah tercemar dari baik domestik
maupun bahan kimia industri.

A. PENDAHULUAN(sumber dr internet :
http://hakasprayuda.blogspot.com/2013/03/instalasi-pengolahan-air-limbah_23.html)
Latar Belakang
Air merupakan salah satu sumber utama bagi kehidupan baik di darat,laut
maupun di udara. Oleh karena itu, air dapat dikatakan sumber hidup yang mendukung
secara mutlak dengan semakin meningkatnya perkembangan industri, maka semakin
meningkat pula tingkat pencemaran pada perairan yang disebabkan oleh industry (
Limbah ).
Yogyakarta semakin hari semakin padat, selain sebagai kota pendidikan juga
sebagai kota pariwisata. Namun keadaan air sungai dan air tanah mengalami pencemaran
yang cukup besar sehingga perlu adanya upaya upaya pencegahan atau pengurangan
pencemaran tersebut. Dengan dibangunnya instalasi pengolahan air limbah di jalan Bantul
KM.8 Sewon Bantul, setidaknya dapat mengurangi pencemaran tersebut. Instalasi
pengolahan air limbah tersebut dibangun pada tahun 1994, sedangkan pengoperasiannya
pada tahun 1996 dan diresmikan pada 9 desember 1998.
Instalasi Pengolahan Air Limbah ini dibangun dengan biaya yang merupakan
hibah dari pemerintah Jepang. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah rumah
tangga di desa Pendowoharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul ini merupakan
tindak lanjut Program Jangka Menengah Pembangunan Aglomerasi Perkotaan
Yogyakarta (APY) periode 1993/1994 1997/1998 yang meliputi seluruh wilayah Kodya
Yogyakarta, sebagian wilayah Kab.Sleman ( 3 Kecamatan ) dan sebagian wilayah
Kab.Bantul ( 3 Kecamatan ). Pada dasarnya system penyaluran air limbah rumah tangga
ke dalam pipa-pipa limbah di kota Yogyakarta telah dibangun sejak zaman colonial
Belanda pada tahun 1936 dengan panjang pipa total 110 KM. Tapi system penyaluran air
limbah ini belum dapat bekerja secara baik, karena sampai saat ini limbah cair tersebut
masih dibuang secara langsung ke sungai Code, Gajah Wong dan Winongo.
Pelayanan air limbah secara bertahap akan ditingkatkan. Sampai dengan tahun
2002 telah melayani 29% wilayah perkotaan ( 110.000 penduduk ). Sehingga pada tahun
2012 ditargetkan 59% wilayah perkotaan (237.000 penduduk) telah terlayani.
2 Maksud dan Tujuan
Pengembangan Instalasi Pengolahan Air Limbah merupakan upaya untuk
mendukung Program Kali Bersih ( Prokasih ) oleh D.I.Yogyakarta yang telah ditetapkan
bagi ketiga sungai diatas ( sungai Code, Gajah Wong dan Winongo ). Di samping sebagai
penunjang Prokasih, juga untuk mengurangi akibat buruk yang ditimbulkan pada
masyarakat karena memanfaatkan air sungai tersebut. Diharapkan dengan Pembangunan
Instalasi Pengolahan Air Limbah ini dapat meningkatkan kualitas air sungai serta estetika

lingkungan di sekitar daerah aliran sungai termasuk pula penurunan pencemaran air
tanah.
Dengan dilakukannya percobaan ini diharapkan kita dapat memperoleh masukan
dan gambaran tentang pencemaran air sungai. Dengan pengamatan ini pula kita dapat
mengetahui keadaan lingkungan instalasi baik limbah yang masuk serta limbah yang
keluar dari instalasi dan analisa kualitas air limbah di laboratorium sehingga akan
diperoleh korelasi antara lingkungan instalasi dan kualitas air limbahnya dengan
kemampuan air instalasi itu sendiri dalam mengolah limbah yang ramah lingkungan, serta
untuk mengetahui kadar DO, Fe, dan nilai pH.

B. LANDASAN TEORI
Menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik
Indonesia No.02 / MENKLH / I / 1998 yang dimaksud dengan polusi atau pencemaran air
dan udara adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energy atau komponen
lain ke dalam air / udara dan atau berubahnya tetenan / komposisi air / udara oleh
kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas air / udara turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan air / udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi
lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Sistem pembuangan limbah di daerah perkotaan beberapa diantaranya bermuara ke
sungai. Sedangkan kemampuan sungai untuk membersihkan dirinya amat bergantung
pada karakteristik sungai itu sendiri. Karena kemampuan sungai terbatas, maka
diperlukan Pengolahan Air Limbah tersebut sebelum masuk ke sungai atau sebelum
dimanfaatkan kembali.
Salah satu usaha untuk mengurangi beban sungai tersebut adalah dengan
pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah ( IPAL ). IPAL tersebut dilengkapi
dengan bangunan bangunan seperti rumah pompa ( tempat pipa ulir ), bak pengendap
pasir, bak pembagi, kolam fakultatif, kolam pematangan dan sebagainya yang semuanya
itu bertujuan menurunkan nilai BOD dari limbah yang baru masuk ke lokasi IPAL.
Dissolve Oxygen ( DO ), merupakan unsure terpenting dalam kandungan air dalam
menghidupi makhluk hidup yang ada didalamnya. Semakin banyak polutan ( makanan
bagi bakteri ) organic, maka akan menyebabkan bakteri aerob berkembang biak. Apabila
bakteri pengurai berjumlah cukup banyak, maka akan lebih banyak pula dibutuhkan
oksigen yang terlarut dalam air. Akibatnya kadar oksigen terlarut, sehingga terjadinya
deficit dan menurun. Turunnya kadar DO tentunya akan mengakibatkan turunnya
kenyamanan ikan dan makhluk hidup lain yang menggantungkan hidupnya pada kadar
DO.
Biologycal Oxygen Demand ( BOD ) merupakan salah satu analisa empiris yang
mencoba mendekati secara global proses proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi
dalam air. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air
buangan penduduk atau industri dan untuk mendesain systemsystem pengolahan biologis

1.

2.

3.
a.
b.
c.
d.

air tercemar tersebut. Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan
air dicemari oleh zat organik, bakteri akan menghabiskan oksigen terlarut, dalam air
selama proses oksidasi tersebut yang menyebabkan kematian ikan-ikan dalam air,
kemudian keadaan menjadi anaerobic sehingga dapat pula mengakibatkan bau busuk
pada air tersebut.
Indicator-indikator lain yang dapat dipakai dalam menentukan kualitas air adalah :
Pengamatan visual air ( warna, bau, rasa dan kekeruhan )
Kualitas air dapat dilihat secara fisik. Air yang mempunyai kualitas baik akan
memenuhi persyaratan tidak berwarna ( jernih ), tidak berbau, dan tidak berasa.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907 / MENKES /
SK / VII / 2002, air dikatakan bersih apabila tidak berbau, tidak berasa dan tidak
berwarna.
pH
Nilai pH air yang normal adalah sekitar netral, yaitu pH = 7, sedangkan pH air yang
terpolusi, seperti air buangan nilai pH-nya berbeda-beda tergantung dari jenis
buangannya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907 / MENKES /
SK / VII / 2002, air dikatakan bersih apabila ph=6,5-8,5.
Suhu udara / air
Kenaikan suhu akan menimbulkan beberapa akibat sebagai berikut :
Jumlah oksigen terlarut di dalam air menurun
Kecepatan reaksi kimia meningkat
Kehidupan ikan dan hewan air lainnya terganggu
Jika batas suhu yang mematikan terlampaui, ikan dan hewan lainnya mungkin akan mati
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907 / MENKES / SK /
VII / 2002, air dikatakan bersih apabila suhu air sama dengan suhu udara disekitarnya.

4. Kadar zat besi ( Fe )


Banyak sedikitnya kandungan Fe dapat dipakai sebagai indikator terhadap
pencemaran logam berat pada kandungan air limbah tersebut.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.907 / MENKES /
SK / VII / 2002, air dikatakan belum tercemar apabila kandungan .
Kualitas air bersih menurut Peraturan Menteri Republik Indonesia No. 907 /
MENKES / SK / VII / 2002 sebagai berikut :

(sumber dr internet: http://dinadinadino.blogspot.com/2012/07/makalahpengolahan-air-limbah.html)


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan industri dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan. Tidak dapat
dihindari, dampak ikutan dari industrialisasi ini adalah juga terjadinya peningkatan pencemaran
yang dihasilkan dariproses produksi. Proses produksi ini akan menghasilkan produk yang
diinginkan dan hasil samping yang tidak diinginkan yaitu berupa limbah.Limbah adalah buangan
yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga) yang
keberadaannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak
memiliki nilai ekonomis.
Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan salah satunya adalah limbah cair yang
berasal dari industri. Limbah cair yang tidak dikelola akan menimbulkan dampak yang luar biasa
pada perairan, khususnya sumber daya air. Kelangkaan sumber daya air di masa mendatang dan
bencana alam semisal erosi, banjir, dan kepunahan ekosistem perairan tidak pelak lagi dapat
terjadi apabila kita kaum akademisi tidak peduli terhadap permasalahan tersebut.
Sungai merupakan salah satu sumber air yang banyak dimanfaatkan. Hal ini tentu
berbeda lagi apabila sungai telah menjadi tercemar. Bagi beberapa anggota masyarakat yang
mengabaikan bahaya limbah, air sungai masih dimanfaatkan untuk mencuci, mandi, bahkan
memasak. Ikanikan yang hidup dalam sungai tersebut juga dimanfaatkan untuk memenuhi
kebutuhan protein mereka. Padahal jika sungai tersebut mengandung limbah, ikan yang mereka
konsumsi juga akan menimbulkan penyakit. Apalagi di daerah perkotaan, limbah memang
menjadi masalah yang serius. Selain limbah industri yang semakin besar, aktivitas masyarakat
setiap hari juga menimbulkan limbah rumah tangga yang sangat besar.
Sumberdaya air selain merupakan sumber daya alam juga merupakan komponen
ekosistem yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan akan air cenderung semakin
meningkat dari waktu ke waktu, baik untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti untuk air
minum, air bersih dan sanitasi maupun sebagai sumber daya yang diperlukan bagi pembangunan
ekonomi seperti untuk pertanian, industri, pembangkit tenaga listrik dan pariwisata. Air yang
digunakan untuk berbagai kebutuhan dan keperluan hingga saat ini dan untuk kurun waktu
mendatang masih mengandalkan pada sumber air permukaan, khususnya air sungai.
Ketersediaan sumber daya air sungai cenderung menurun karena penurunan kualitas dan
kuantitas yang tersedia juga karena kualitas yang ada menjadi tidak dapat dimanfaatkan karena
adanya pencemaran.
Pengelolaan kualitas air merupakan salah satu prioritas dalam pengelolaan lingkungan di
Indonesia. Air mempunyai karakteristik fisik dan kimiawi yang sangat mempengaruhi kehidupan
organisme di dalamnya. Apabila terjadi perubahan kualitas perairan, terutama oleh bahan

pencemaran lingkungan, maka keseimbangan hidup organisme yang ada di perairan tersebut
bahkan kehidupan manusia pada khususnya dapat terganggu. Berdasarkan permasalahan itulah,
pemerintah mulai serius mencanangkan program untuk mengelola air limbah, yakni dengan
membentuk unit pengelola air limbah atau yang disebut Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAL).
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
C.
1.
2.
3.
4.
5.
6.

RUMUSAN MASALAH
Apakah tujuan dari pengolahan air limbah?
Bagaimanakah proses pengelohan air limbah hingga dapat dilepas lagi ke lingkungan?
Apakah parameter yang menjadi dasar untuk air limbah dapat dilepas lagi ke lingkungan?
Apakah hasil dari pengolahan air limbah?
Apakah jenis limbah yang ditangani oleh IPAL?
Apakah prinsip pengolahan air limbah di IPAL?
TUJUAN
Mengetahui tujuan dari pengolahan air limbah.
Mengetahui pengelohan air limbah hingga dapat dilepas lagi ke lingkungan.
Mengetahui parameter yang menjadi dasar untuk air limbah dapat dilepas lagi ke lingkungan.
Mengetahui hasil dari pengolahan air limbah.
Mengetahui jenis limbah yang ditangani oleh IPAL.
Mengetahui prinsip pengolahan air limbah di IPAL.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN LIMBAH DAN MACAMNYA
Limbah adalah bahan sisa atau sampah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia
dan mahluk lainnya. Sedangkan menurut keputusan Menperindag RI No.
231/MPP/Kep/7/1997 Pasal 1 tentang Prosedur Impor Limbah bahwa limbah adalah
bahan/barang sisa atau bekas dari suatu kegiatan atau proses produksi yang fungsinya sudah
berubah dari aslinya, kecuali yang dapat dimakan oleh manusia dan hewan.
Macam-macam limbah :
1. Berdasarkan sifatnya :
a. Limbah Padat
Limbah padat adalah hasil buangan industri yang berupa padatan, lumpur, bubur yang
berasal dari sisa kegiatan dan atau proses pengolahan. Contohnya : limbah dari pabrik tapioka
yang berupa onggok, limbah dari pabrik gula berupa bagase, limbah dari pabrik pengalengan
jamur, limbah dari industri pengolahan unggas, dan lain-lain. Limbah padat dibagi menjadi 2,
yaitu:
Dapat didegradasi, contohnya sampah bahan organik, onggok,
Tidak dapat didegradasi contoh plastik, kaca, tekstil, potongan logam.
b. Limbah Cair
Limbah Cair adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud
cair. Contohnya antara lain : Limbah dari pabrik tahu dan tempe yang banyak
mengandung protein, limbah dari industri pengolahan susu.
c. Limbah Gas
Limbah gas/asap adalah sisa dari proses usaha dan/atau kegiatan yang berwujud
gas/asap. Limbah gas diantaranya adalahberupa karbon monokida (CO), karbon dioksida (CO2)
berupa gas yang tidak berwarna dan berbau, sulfur monoksida (SO) berupa gas tidak berwarna
dan berbau tajam, asam sulfat, ammoniak gas tidak berwarna tapi berbau, dan nitrogen oksida
(NO) berupa gas berwarna dan berbau. Contohnya : limbah dari pabrik semen
2. Berdasarkan bahan penyusunnya :
a. Limbah Organik
Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah
tangga, kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses
yang alami. Limbah pertanian berupa sisa tumpahan atau penyemprotan yang berlebihan,
misalnya dari pestisida dan herbisida, begitu pula dengan pemupukan yang berlebihan. Limbah
ini mempunyai sifat kimia yang setabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah,
dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup
didalamnya. Sedangkan limbah rumah tangga dapat berupa padatan seperti kertas, plastik dan

b.

3.
a.

b.

c.

lain-lain, dan berupa cairan seperti air cucian, minyak goreng bekasdan lain-lain. Limbah
tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi misalnya : sisa obat, baterai bekas, dan air
aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun, sedangkan limbah air
cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis
seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya.
Limbah Anorganik
Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah anorganik
berasal dari sumber daya alamyang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui. Air
limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-zat tersebut adalah :
Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal dari kegiatan
pertambangan dan industri.
Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolahan biji logam dan bahan
bakar fosil.
Berdasarkan sumbernya:
Limbah Rumah Tangga
Limbah rumah tangga adalah limbah yang dihasilkan oleh kegiatan
rumah tangga. Limbah rumah tangga biasanya berupa sampah, baik sampah organik maupun
sampah anorganik, detergen, dan kotoran manusia. Sampah organik contohnya adalah sisa
sayuran dan buah-buahan. Sedangkan sampah anorganik contohnya dalah kaleng dan plastik
bekas.
Limbah Industri
Limbah ini dihasilkan atau berasal dari hasil produksi oleh pabrik atau perusahaan
tertentu. Limbah industri yang dihasilkan pun sebagian besar adalah limbah yang tergolong
berbahaya dan beracun (B3), diantaranya asam anorganik dan senyawa orgaik. Limbah industri
ini perlu mendapatkan pengolahan terlebih dulu sebelum dibuang ke dalam lingkungan. Hal ini
dimaksudkan agar zat berbahaya yang terkadung di dalamnya tidak ikut terbuang ke lingkungan.
Pembungan limbah ke lingkungan tanpa pengolahan dapat menyebabkan pencemaran dan
membunuh organisme yang ada di dalamnya.
Limbah Pertanian
Limbah pertanian dapat berasal dari sisa penggunaaan pupuk (baik pupuk organik
maupun pupuk kimia) maupun sisa-sisa pestisida. Sisa penggunaan pupuk dapat larut dalam air,
kemudian terbawa menuju sungai dan mengendap pada beberapa tempat di sungai. Adanya
endapan pupuk ini menyebabkan menumpuknya unsur-unsur hara di perairan tersebut.
Akibatnya tanaman air seperti ganggang akan subur dan mendominasi pada perairan tersebut.
Populasi ganggang yang banyak ini akan mengurangi kandungan oksigen dan menghalangi sinar
matahari yang diperlukan oleh tumbuhan air lainnya. Tidak adanya oksigen dan sinar matahari
yang masuk ini akan menyebabkan kematian bagi organisme lain yang hidup di perairan
tersebut. Peristiwa ini disebut dengan eutrofikasi.

4. Berdasarkan Tingkat Toksisitasnya


a. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
Limbah B3 merupakan limbah yang mengandung zat berbahaya dan bercun. Pada jumlah
konsentrasi tertentu limbah B3 dapat menyebabkan kerusakan lingkungan serta bahaya pada
manusia. Limbah B3 yang tidak ditangani dengan baik dan pembuangannya secara sembarangan
dapat menyebabkan gangguan pada mahluk hidup berupa kerusakan kulit, kesulitan bernapas,
dan juga dapat menimbulkan kematian dan kepunahan pada beberapa jenis organisme.
Bahan yang termasuk ke dalam limbah B3 diantaranya adalah benzena, asam sulfat,
sulfur dioksida, karbon monoksida, dan nitrogen monoksida. Limbah B3 diantaranya
mempunyai sifat eksplosif (mudah meledak), beracun, berbahaya, mutagenik (menyebabkan
perubahan pada gen), dan teratogenik (menyebabkan gangguan pada gen).
b. Limbah Non-B3
Limbah non-B3 merupakan limbah yang tidak mengandung bahan berbahaya dan
beracun. Contoh dari limbah non-B3 adalah sisa-sisa sayuran dan daun yang gugur.
B. AIR LIMBAH DAN KARAKTERISTIKNYA
Air limbah yaitu air dari suatu daerah permukiman, rumah tangga, dan juga berasal dari
industry, air tanah, air permukaan serta buangan lainnya yang telah dipergunakan untuk berbagai
keperluan, harus dikumpulkan dan dibuang untuk menjaga lingkungan hidup yang sehat dan
baik. Air limbah memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan sifatnya. Karakter air limbah
meliputi sifat fisika, kimia, dan biologi.
1. Karakteristik Berdasarkan Sifat Fisika
Karaketer fisika air limbah meliputi suhu, bau, warna, dan padatan. Suhu menunjukkan
derajat atau tingkat panas air limbah yang diterakan ke dalam skala-skala. Suhu air limbah
biasanya lebih tinggi dari pada air bersih karena adanya tambahan air hangat dari pemakaian
perkotaan. Suhu air limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga tergantung pada
letak geografisnya.
Bau merupakan parameter yang subjektif. Pengukuran bau tergantung pada sensivitas
indra penciuman seseorang. Kehadiran bau menunjukkan adanya komponenkomponen lain
dalam air. Misalnya, bau seperti telur busuk menunjukkan adanya hydrogen sulfide yang
dihasilkan oleh permukaan zat-zat organic dalam kondisi anaerobik.
Pada air limbah, warna biasanya disebabkan oleh kehadiran materimateri dissolved, suspended, dan senyawa-senyawa koloidal yang dapat dilihat dari pectrum
warna yang terjadi. Padatan yang terdapat dalam air limbah dapat diklasifikasikan
menjadi floating, settleable, suspended, atau dissolved. Bahan padat total terdiri dari bahan
padat tak terlarut atau bahan padat yang terapung serta senyawa senyawa yang larut dalam air.
Kandungan bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan serta menimbang residu yang
didapat dari pengeringan.

2. Karakteristik Berdasarkan Sifat Kimia


Karakter kimia air limbah senyawa organik dan senyawa anorganik Senyawa organik
adalah karbon yang dikombinasi dengan satu atau lebih elemen-elemen lain (O, N, P, H).
Senyawa anorganik terdiri dari kombinasi elemen yang bukan tersusun dari karbon organic.
Pengujian kimia dari air limbah yaitu meliputi pengukuranBiological Oxygen Demand (BOD),
Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), Derajat keasaman (pH), logam
berat, ammonia, sulfide, fenol. Nitrogen organik, Nitrit, Nitrat, Fosfor organik dan Fosfor
anorganik. Nitrogen dan fosfor sangat penting karena kedua nutrien ini telah sangat umum
diidentifikasikan sebagai bahan untuk pertumbuhan gulma air. Pengujian pengujian lain seperti
Klorida, Sulfat, pH serta alkalinitas diperlukan untuk mengkaji dapat tidaknya air limbah yang
sudah diolah dipakai kembali serta untuk mengendalikan berbagai proses pengolahan.
3. Karakteristik Berdasarkan Sifat Biologi
Merupakan banyaknya mikroorganisme yang terdapat dalam air limbah
tersebut. Mikroorgaisme ditemukan dalam jenis yang sangat bervariasi hampir dlam semua
bentuk air limbah, bisanya dengan konsentrasi 105-108 organisme/l. Kebanyakan merupakan sel
tunggal yang bebas ataupun berkelompok dan mampu melakukan proses-proses kehidupan
(tumbuh, metabolism, dan reproduksi).
Karakteristik biologi digunakan untuk mengukur kualitas air terutama air yang
dikonsumsi sebagai air minum dan air bersih. Parameter yang biasa digunakan adalah
banyaknya mikroorganisme yang terkandung dalam air limbah. Keberadaan bakteri dalam unit
pengolahan air limbah merupakan kunci sukses efisiensi proses biologi. Bakteri juga berperan
penting untuk evaluasi kualitas air.
C. PENGOLAHAN AIR LIMBAH
Pengolahan limbah bertujuan untuk menetralkan air dari bahan-bahan tersuspensi dan
terapung, menguraikan bahan organic biodegradable, meminimalkan bakteri patogen, serta
memerhatikan estetika dan lingkungan.
1. Cara Pengolahan Air Limbah
Pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu secara alami dan secara
buatan.
a. Secara Alami
Pengolahan air limbah secara alamiah dapat dilakukan dengan pembuatan kolam
stabilisasi. Dalam kolam stabilisasi, air limbah diolah secara alamiah untuk menetralisasi zat-zat
pencemar sebelum air limbah dialirkan ke sungai. Kolam stabilisasi yang umum digunakan
adalah kolam anaerobik, kolam fakultatif (pengolahan air limbah yang tercemar bahan organik

b.

pekat), dan kolam maturasi (pemusnahan mikroorganisme patogen). Karena biaya yang
dibutuhkan murah, cara ini direkomendasikan untuk daerah tropis dan sedang berkembang.
Secara Buatan
Pengolahan air limbah dengan bantuan alat dilakukan pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL). Pengolahan ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu primary treatment
(pengolahan pertama), secondary treatment (pengolahan kedua), dan tertiary treatment
(pengolahan lanjutan).

2. Tahapan Pengolahan Air Limbah


Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di
dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik
yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah
secara umum dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:
1) Pengolahan Awal (Pretreatment)
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan
tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung
pada tahap ini ialah screen and grit removal, equalization and storage, serta oil separation.
2) Pengolahan Tahap Pertama (Primary Treatment)
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan
pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi
pada pengolahan tahap pertama ialah neutralization, chemical addition and
coagulation, flotation, sedimentation, dan filtration.
3) Pengolahan Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang
tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan
pada pengolahan tahap ini ialah activated sludge, anaerobic lagoon, tricking filter, aerated
lagoon,stabilization basin, rotating biological contactor, serta anaerobic contactor and filter.
4) Pengolahan Tahap Ketiga (Tertiary Treatment)
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah coagulation and
sedimentation, filtration, carbon adsorption, ion exchange, membrane separation,
serta thickening gravity or flotation.
5) Pengolahan Lumpur (Sludge Treatment)
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah
kembali melalui proses digestion or wet combustion, pressure filtration, vacuum
filtration,centrifugation, lagooning or drying bed, incineration, atau landfill.
Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik
kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan
di tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail

mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian.
Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan
karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga
dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:
a. Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan
karakteristik limbah yang akan diolah.
b. Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi
pengolahan yang diharapkan.
c. Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.
3. Parameter Pengolahan Air Limbah
Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang
digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter
organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran
jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari total organic
carbon (TOC), chemical oxygen demand (COD), biochemical oxygen demand (BOD), minyak
dan lemak (O&G), dan total petrolum hydrocarbons (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah
dapat dilihat dari parameter total suspended solids (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan
potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa
organik atau anorganik.
Apabila BOD tinggi dibuang ke badan air penerima akan mengambil oksigen dari
badan air penerima, pengendapan dari bahan tersuspensi dan terendap mengakibatkan keadaan
tanpa oksigen. Alkalinitas yang tinggi dan adanya bahan-bahan beracun sperti sulfide dan
chromium akan mempengaruhi kehidupan di badan air penerima, beberapa bahan pewarna juga
beracun. Warna pada badan air penerima akan sangat mengganggu apabila air akan digunakan
untuk air industri. Adanya sulfida menyebabkan air limbah bersifat korosif, khususnya untuk
bangunan beton. Ammonia yang tinggi dapat mengganggu kehidupan di air selain itu apabila
digunakan untuk air irigasi menyebabkan padi bertambah subur tetapi tidak berbuah (gabuk).
Kandungan Na yang tinggi pada air limbah dapat merusak struktur tanah, apabila digunakan
untuk irigasi (tanaman akan mati). Parameter yang menjadi dasar untuk air limbah dapat dilepas
ke lingkungan yaitu apabila air sudah benar-benar steril barulah air dapat dilepas ke lingkungan.

D. IPAL DAN UNIT PENGOLAHANNYA


IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) adalah salah satu teknologi pengolahan limbah
cair industri yang bertujuan untuk menghilangkan/memisahkan cemaran dalam air limbah
sebelum dibuang ke lingkungan sampai memenuhi baku mutu lingkungan. IPAL yang baik
adalah IPAL yang memiliki kriteria :
Sedikit memerlukan perawatan
Aman dalam pengoperasiannya
Less biaya energy
Less product excess (produk sampingan) seperti lumpur atau sludge IPAL
IPAL merupakan kombinasi dari pengolahan secara fisika, kimia, dan biologi
1) Proses Fisika
Proses fisika merupakan pengolahan untuk memisahkan bahan pencemar dalam air
limbah secara fisika. Proses pengolahan secara fisika meliputi:
a. Screening (Penyaringan)
Fungsinya adalah untuk menahan benda- benda kasar seperti sampah dan benda- benda terapung
lainnya.
b. Grit Chamber
c. Sieves

d.
e.
f.
g.
h.

Equalisasi
Flotasi
Filter (pemisahan dengan memanfaatkan gaya gravitasi (sedimentasi atau oil/water separator)
Adsorbsi
Stripping
Pemisahan padatan dalam air limbah merupakan tahapan penting untuk mengurangi
beban, mengembalikan bahan-bahan yang bermanfaat dan mengurangi resiko rusaknya peralatan
akibat kebuntuan (clogging) pada pipa, valve dan pompa.
Dua prinsip dalam pengolahan secara fisika:
i.
Screening, sieving, dan filtrasi
ii.
Penggunaan gaya gravitasi (sedimentasi, flotasi dansentrifugasi)
2) Proses Kimia
Proses ini menggunakan bahan kimia untuk menghilangkan bahan pencemar. Pengolahan
air buangan secara kimia biasanya dilakukan untuk menghilangkan partikelpartikel yang tidak
mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun;
dengan membubuhkan bahan kimia tertentu yang diperlukan. Penyisihan bahan-bahan tersebut
pada prinsipnya berlangsung melalui perubahan sifat bahan-bahan tersebut, yaitu dari tak dapat
diendapkan menjadi mudah diendapkan (flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi
oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung sebagai hasil reaksi oksidasi.
3) Proses Biologi
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Sebagai
pengolahan sekunder, pengolahan secara biologi dipandang sebagai pengolahan yang
paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang berbagai metode
pengolahan biologi dengan segala modifikasinya. Pada dasarnya, reaktor pengolahan secara
biologi dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
a. Reaktor pertumbuhan tersuspensi (suspended growth reaktor);
b. Reaktor pertumbuhan lekat (attached growth reaktor).
Ditinjau dari segi lingkungan dimana berlangsung proses penguraian secara
biologi,proses ini dapat dibedakan menjadi dua jenis:
a. Proses aerob, yang berlangsung dengan hadirnya oksigen;
b. Proses anaerob, yang berlangsung tanpa adanya oksigen.
Proses pengolahan limbah cair di IPAL berdasarkan tingkatan perlakuannya dapat
digolongkan menjadi 5 tahap yang sudah dijelaskan di atas yaitu pretreatment, primary
treatment, secondary treatment, tertiary treatment, dan sludge treatment. Akan tetapi dalam suatu
instalasi pengolahan limbah, tidak harus ke lima tingkatan ini ada atau dipergunakan.

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Unit IPAL dirancang sedemikan rupa agar cara operasinya mudah dan biaya
operasionalnya murah. Unit ini terdiri dari perangkat utama dan perangkat penunjang. Perangkat
utama dalam system pengolahan terdiri dari unit pencampur statis (static mixer), bak antara, bak
koagulasi-flokulasi, saringan multimedia/ kerikil, pasir, karbon, mangan zeolit (multimedia
filter), saringan karbon aktif (activated carbon filter), dan saringan penukar ion (ion
exchange filter). Perangkat penunjang dalam sistem pengolahan ini dipasang untuk mendukung
operasi treatment yang terdiri dari pompa air baku untuk intake (raw water pump), pompa dosing
(dosing pump), tangki bahan kimia (chemical tank), pompa filter untuk mempompa air dari bak
koagulasi-flokulasi ke saringan/filter, dan perpipaan serta kelengkapan lainnya.
Pompa Air Baku (Raw water pump)
Pompa air baku yang digunakan jenis setrifugal dengan kapasitas maksimum yang
dibutuhkan untuk unit pengolahan (daya tarik minimal 9 meter dan daya dorong 40 meter). Air
baku yang dipompa berasal dari bak akhir dari proses pengendapan pada hasil buangan limbah
industri pelapisan logam.
Pompa Dosing
Merupakan peralatan untuk mengijeksi bahan kimia (ferrosulfat dan PAC) dengan
pengaturan laju alir dan konsentrasi tertentu untuk mengatur dosis bahan kimia tersebut. Tujuan
dari pemberian bahan kimia ini adalah sebagai oksidator.
Pencampur Statik
Dalam peralatan ini bahan-bahan kimia dicampur sampai homogen dengan kecepatan
pengadukan tertentu untuk menghindari pecah flok.
Bak Koagulasi-Flokulasi
Dalam unit ini terjadi pemisahan padatan tersuspensi yang terkumpul dalam bentukbentuk flok dan mengendap, sedangkan air mengalir overflow menuju proses berikutnya.
Pompa Filter
Pompa yang digunakan mirip dengan pompa air baku. Pompa ini harus dapat melalui
saringan multimedia, saringan karbon aktif, dan saringan penukar ion.
Saringan Multimedia
Air dari bak koagulasi-flokulasi dipompa masuk ke unit penyaringan multimedia dengan
tekanan maksimum sekitar 4 Bar. Unit ini berfungsi menyaring partikel kasar yang berasal dari
air olahan. Unit filter berbentuk silinder dan terbuat dari bahan fiberglas. Unit ini dilengkapi
dengan keran multi purpose (multiport), sehingga untuk proses pencucian balik dapat dilakukan
dengan sangat sederhana, yaitu dengan hanya memutar keran tersebut sesuai dengan
petunjuknya. Tinggi filter ini mencapai 120 cm dan berdiameter 30 cm. Media penyaring yang
digunakan berupa pasir silika dan mangan zeolit. Unit filter ini juga didisain secara khusus,
sehingga memudahkan dalam hal pengoperasiannya dan pemeliharaannya. Dengan
menggunakan unit ini, maka kadar besi dan mangan, serta beberapa logam-logam lain yang

g.

h.

i.

j.

masih terlarut dalam air dapat dikurangi sampai sesuai dengan kandungan yang diperbolehkan
untuk air minum.
Saringan Karbon Aktif
Unit ini khusus digunakan untuk penghilang bau, warna, logam berat dan pengotorpengotor organik lainnya. Ukuran dan bentuk unit ini sama dengan unit penyaring lainnya.
Media penyaring yang digunakan adalah karbon aktif granular atau butiran dengan ukuran 1
2,5 mm atau resin sintetis, serta menggunakan juga media pendukung berupa pasir silika pada
bagian dasar.
Saringan Penukar Ion
Pada proses pertukaran ion, kalsium dan magnesium ditukardengan sodium. Pertukaran ini
berlangsung dengan cara melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat dari bahan
yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Bahan penukar ion pada awalnya menggunakan
bahan yang berasal dari alam yaitu greensand yang biasa disebut zeolit, Agar lebih efektif Bahan
greensand diproses terlebih dahulu. Disamping itu digunakan zeolit sintetis yang terbuat dari
sulphonated coals dan condentation polymer. Pada saat ini bahan-bahan tersebut sudah diganti
dengan bahan yang lebih efektif yang disebut resin penukar ion. Resin penukar ion umumnya
terbuat dari partikel cross-linked polystyrene. Apabila resin telah jenuh maka resin tersebut perlu
diregenerasi. Proses regenerasi dilakukan dengan cara melewatkan larutan garam dapur pekat ke
dalam unggun resin yang telah jenuh. Pada proses regenerasi terjadi reaksi sebaliknya yaitu
kalsium dan magnesium dilepaskan dari resin, digantikan dengan sodium dari larutan garam.
Sistem Jaringan Perpipaan
Sistem jaringan perpipaan terdiri dari empat bagian, yaitu jaringan inlet (air masuk),
jaringan outlet (air hasil olahan), jaringan bahan kimia dari pompa dosing dan jaringan pipa
pembuangan air pencucian. Sistem jaringan ini dilengkapi dengan keran-keran sesuai dengan
ukuran perpipaan. Diameter yang dipakai sebagian besar adalah 1 dan pembuangan dari bak
koagulasi-flokulasi sebesar 2. Bahan pipa PVC tahan tekan, seperti rucika. Sedangkan keran
(ball valve) yang dipakai adalah keran tahan karat terbuat dari plastik.
Tangki Bahan-Bahan Kimia
Tangki bahan kimia terdiri dari 2 buah tangki fiberglas dengan volume masing-masing 30
liter. Bahan-bahan kimia adalah ferrosulfat dan PAC. Bahan kimia berfungsi sebagai oksidator.
Proses pengolahan diawali dengan memompa air baku dari bak penampungan kemudian
diinjeksi dengan bahan kimia ferrosulfat dan PAC (Poly Allumunium Chloride), kemudian
dicampur melalui static mixer supaya bercampur dengan baik. Kemudian air baku yang
teroksidasi dialirkan ke bak koagulasi flokulasi dengan waktu tinggal sekitar 2 jam. Setelah itu
air dari bak dipompa ke saringan multimedia, saringan karbon aktif dan saringan penukar ion.
Hasil air olahan di masukkan ke bak penampungan untuk digunakan kembali sebagai air
pencucian. Selanjutnya diendapkan dalam bak pengendap, sebagian lumpur disirkulasi dan
sebagian lagi dikeringkan dalam drying bed.

Dengan demikian hasil akhir dari pengolahan air limbah di IPAL yaitu berupa air dan
lumpur. Air hasil proses pengolahan dapat langsung di buang ke sungai atau saluran umum.
Sedangkan untuk lumpur biologi setelah dikeringkan dapat dibakar atau dimanfaatkan untuk
pupuk.

(sumber dr internet: http://arindina90076.wordpress.com/2012/02/18/67/)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Air limbah adalah air buangan rumah tangga dan/atau air buangan domestik, tidak
termasuk air buangan industri dan air hujan. (Peraturan WalikotaNo.937/2009 Bab I
Ketentuan Umum, Pasal 1, butir 23). Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari
dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran manusia.
Limbah merupakan buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah
terdapat bahan kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat
memberi kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dsb. Air
limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan
lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.
Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan bak
peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;

Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya baik air
dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.

Tidak mengotori permukaan tanah.

Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.

Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.

Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah didapat dan murah.

Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.

Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan pasir dan
benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan. Benda yang melayang
dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat khusus untuk menghilangkan minyak
dan lemak. Lumpur dari bak pengendap pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan
lumpur, di mana lumpur menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan
dibuang. Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui oksidasi
dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier hanya untuk
membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan tergantung keadaan setempat,
seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.
Salah satu lembaga yang bergerak di bidang pengolahan air limbah yaitu Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang. IPAL Bojongsoang beroperasi dibawah
naungan PDAM Kota Bandung. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang terletak di
Bojongsoang ini merupakan instalasi yang mengolah air buangan rumah tangga yang
disalurkan melalui perpipaan. Instalasi ini untuk mengolah buangan domestik rumah
tangga yang berasal dari area wilayah Bandung Timur dan Bandung Tengah, Selatan
dengan kapasitas pelayanan 400.000 jiwa. IPAL ini dibangun untuk mengurangi tingkat
pencemaran air sungai Citarum.
IPAL Bojongsoang beroperasi secara konvensional dengan mengunakan Stabilisasi
Pond/Kolam Stabilisasi. Dengan adanya proses pengolahan limbah domestik rumah tangga,
kualitas air buangan yang dibuang ke sungai Citarum tidak terlalu buruk. Instalasi ini
berlokasi di Kabupaten Bandung, yaitu di desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang. Luas
area keseluruhan seluas 85 ha dengan system pengolahan biologi yaitu kolam stabilisasi.
IPAL ini merupakan instalasi pengolahan air buangan domestik terbesar di Indonesia,
bahkan mungkin di AsiaTenggara.
1.2
Tujuan Kunjungan
Studi lapangan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) bertujuan untuk mengetahui
dan memahami bagaimana cara atau metode pengolahan air limbah terutama limbah
domestik dan melihat metode pengolahan limbah rumah tangga yang dilakukan oleh
Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bandung.
1.3
Manfaat Kunjungan
Studi kunjungan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang ini diharapkan
dapat memberikan informasi bagaimana cara mengolah air limbah terutama limbah
domestik dan dapat memberikan informasi kepada kita agar kita dapat selalu menjaga
lingkungan sekitar kita.

http://tugas-tugasmakalahmatakuliahsemester3.blogspot.com/2014/01/intalasipengolahan-air-limbah-ipal.html
E.

Unit IPAL
Unit IPAL dirancang sedemikan rupa agar cara operasinya mudah dan biaya
operasionalnya murah. Unit ini terdiri dari perangkat utama dan perangkat penunjang.
Perangkat utama dalam system pengolahan terdiri dari unit pencampur statis (static mixer),
bak antara, bak koagulasi-flokulasi, saringan multimedia/ kerikil, pasir, karbon, mangan
zeolit (multimedia filter), saringan karbon aktif (activated carbon filter), dan saringan
penukar ion (ion exchange filter). Perangkat penunjang dalam sistem pengolahan ini
dipasang untuk mendukung operasi treatment yang terdiri dari pompa air baku untuk intake
(raw water pump), pompa dosing (dosing pump), tangki bahan kimia (chemical tank),
pompa filter untuk mempompa air dari bak koagulasi-flokulasi ke saringan/filter, dan
perpipaan serta kelengkapan lainnya.
Proses pengolahan diawali dengan memompa air baku dari bak penampungan
kemudian diinjeksi dengan bahan kimia ferrosulfat dan PAC (Poly Allumunium Chloride),
kemudian dicampur melaluistatic mixer supaya bercampur dengan baik. Kemudian air baku
yang teroksidasi dialirkan ke bak koagulasiflokulasi dengan waktu tinggal sekitar 2 jam.
Setelah itu air dari bak dipompa ke saringan multimedia, saringan karbon aktif dan saringan
penukar ion. Hasil air olahan di masukkan ke bak penampungan untuk digunakan kembali
sebagai air pencucian.

F.
1.

Cara Kerja IPAL


Pompa Air Baku (Raw water pump)
Pompa air baku yang digunakan jenis setrifugal dengan kapasitas maksimum yang
dibutuhkan untuk unit pengolahan (daya tarik minimal 9 meter dan daya dorong 40 meter).
Air baku yang dipompa berasal dari bak akhir dari proses pengendapan pada hasil buangan
limbah industri pelapisan logam.

2.

Pompa Dosing (Dosing pump)


Merupakan peralatan untuk mengijeksi bahan kimia (ferrosulfat dan PAC) dengan
pengaturan laju alir dan konsentrasi tertentu untuk mengatur dosis bahan kimia tersebut.
Tujuan dari pemberian bahan kimia ini adalah sebagai oksidator.

3.

Pencampur Statik (Static mixer)


Dalam peralatan ini bahan-bahan kimia dicampur sampai homogen dengan kecepatan
pengadukan tertentu untuk menghindari pecah flok.

4.

Bak Koagulasi-Flokulasi

Dalam unit ini terjadi pemisahan padatan tersuspensi yang terkumpul dalam bentukbentuk flok dan mengendap, sedangkan air mengalir overflow menuju proses berikutnya.
5.

Pompa Filter
Pompa yang digunakan mirip dengan pompa air baku. Pompa ini harus dapat melalui
saringan multimedia, saringan karbon aktif, dan saringan penukar ion.

6.

Saringan Multimedia
Air dari bak koagulasi-flokulasi dipompa masuk ke unit penyaringan multimedia dengan
tekanan maksimum sekitar 4 Bar. Unit ini berfungsi menyaring partikel kasar yang berasal
dari air olahan. Unit filter berbentuk silinder dan terbuat dari bahan fiberglas. Unit ini
dilengkapi dengan keran multi purpose (multiport), sehingga untuk proses pencucian balik
dapat dilakukan dengan sangat sederhana, yaitu dengan hanya memutar keran tersebut
sesuai dengan petunjuknya. Tinggi filter ini mencapai 120 cm dan berdiameter 30 cm.
Media penyaring yang digunakan berupa pasir silika dan mangan zeolit. Unit filter ini juga
didisain

secara

khusus,

pemeliharaannya.

sehingga

memudahkan

dalam

hal

pengoperasiannya

dan

Dengan menggunakan unit ini, maka kadar besi dan mangan, serta

beberapa logam-logam lain yang masih terlarut dalam air dapat dikurangi sampai sesuai
dengan kandungan yang diperbolehkan untuk air minum.
7.

Saringan Karbon Aktif


Unit ini khusus digunakan untuk penghilang bau, warna, logam berat dan pengotorpengotor organik lainnya. Ukuran dan bentuk unit ini sama dengan unit penyaring lainnya.
Media penyaring yang digunakan adalah karbon aktif granular atau butiran dengan ukuran 1
2,5 mm atau resin sintetis, serta menggunakan juga media pendukung berupa pasir silika
pada bagian dasar.

8.

Saringan Penukar Ion


Pada proses pertukaran ion, kalsium dan magnesium ditukardengan sodium. Pertukaran
ini berlangsung dengan cara melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat
dari bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Bahan penukar ion pada
awalnya menggunakan bahan yang berasal dari alam yaitu greensand yang biasa disebut
zeolit, Agar lebih efektif Bahan greensand diproses terlebih dahulu. Disamping itu digunakan
zeolit sintetis yang terbuat dari sulphonated coals dan condentation polymer. Pada saat ini
bahan-bahan tersebut sudah diganti dengan bahan yang lebih efektif yang disebut resin
penukar ion. Resin penukar ion umumnya terbuat dari partikel cross-linked polystyrene.
Apabila resin telah jenuh maka resin tersebut perlu diregenerasi. Proses regenerasi
dilakukan dengan cara melewatkan larutan garam dapur pekat ke dalam unggun resin yang
telah jenuh. Pada proses regenerasi terjadi reaksi sebaliknya yaitu kalsium dan magnesium
dilepaskan dari resin, digantikan dengan sodium dari larutan garam.

9.

Sistem Jaringan Perpipaan

Sistem jaringan perpipaan terdiri dari empat bagian, yaitu jaringan inlet (air masuk),
jaringan outlet (air hasil olahan), jaringan bahan kimia dari pompa dosing dan jaringan pipa
pembuangan air pencucian. Sistem jaringan ini dilengkapi dengan keran-keran sesuai
dengan

ukuran

perpipaan.

Diameter

yang

dipakai

sebagian

besar

adalah

dan

pembuangan dari bak koagulasi-flokulasi sebesar 2. Bahan pipa PVC tahan tekan, seperti
rucika. Sedangkan keran (ball valve) yang dipakai adalah keran tahan karat terbuat dari
plastik.
10. Tangki Bahan-Bahan Kimia
Tangki bahan kimia terdiri dari 2 buah tangki fiberglas dengan volume masing-masing
30 liter. Bahan-bahan kimia adalah ferrosulfat dan PAC. Bahan kimia berfungsi sebagai
oksidator.