Anda di halaman 1dari 10

ASPEK SOSIAL BUDAYA DAN MASALAH KESEHATAN

DIARE
Masing-masing kita dibesarkan dalam lingkup kebudayaan tertentu, dan tanpa
sadar menyerap tradisi yang ada disekitar kita dan bersammaan dengan
perkembangan menuju kealam kedewasaan .Kebudayaan dapat digambarkan sebagai
kumpulan kebiasaan , adat istiadat, sikap, pandangan pandangan hidup , norma
norma , hukum, cita-cita dan nilai moral manusia.Banyak perbedaan yang menyolok
antara satu kebudayaan dengan yang lain, akan tetapi kurang pula adanya perbedaan
perbedaan kecil yang tidak terasa kecuali bila diamati secara lebih teliti dan seksama.
Ini sangat penting bagi para tim kesehatan ( dokter dan perawat ), apalagi yang
bekerja di daerah daerah pedesaan. Suatu pengertian tentang pandangan dan sikap
penderita terhadap dirinya dan penyakit-penyakit yang ada disekitarnya , perlu sekali
dimiliki oleh semua petugas kesehatan.
Diare , meskipun disebabkan oleh organisme-organisme yang berbeda beda,
sukar di bedakan satu sama lain.Pada umumnya diare dibagi atas dua golongan besar,
yaitu yang penyebabnya diketahui dan tidak diketahui sebabnya. Keduanya tidak jauh
berbeda dalam hal beratnya, akan tetapi ada sedikit ganbaran yang berbeda dari
tanda-tandanya.
Yang paling banyak didapatkan dimasyarakat yaitu kelompok kedua , yaitu
tidak diketahui penyebabnya yang berhubungan dengan kondisi ekonomi kurang
baik. Diare ini terjadi secara tiba-tiba dan perkembangannya cepat, dengan tinja

encer dan frekuensi bab berkisar 3 sampai dengan 10 kali sehari. Sepuluh sampai 25
% anak-anak yang terkena diare ini mengeluarkan tinja yang bercampur darah atau
lendir, dan sering pula terdapat nanah. Diare ini terutama terdapat pada anak-anak
umur 2 tahun, sedang di daerah daerah tertentu terdapat pada bayi 6 bulan sampai 1
tahun, pada saat mana bayi mulai merangkak dan dan karenanya mudah sekali
terkena infeksi . Apalagi anak-anak senang memasukkan apa saja yang menarik ke
dalam mulutnya. Hal ini , yang disertai dengan keadaan kurang gizi, menyebabkan
anak-anak tersebut sangat mudah terserang infeksi.
Pada anak-anak atau bayi , yang kurang gizi dan menderita diare, kelainan
biokimiawi yang terjadi berbeda dengan yang terjadi pada anak-anak atau bayi
dengan gizi baik. Yang biasa adalah dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit,
tetapi hal ini sering berlarut-larut sehingga sukar ditanggulangi / diobati. Keadaan ini
kadang-kadang diperburuk oleh para ibu karena mereka malahan membatasi makanan
yang dimakan anaknya. Diare yang terus menerus ini menyebabkan kemunduran
lebih lanjut pada anak. Dengan berulangnya diare , maka anak yang sudah kurang gizi
semakin menurun lagi keadaan gizinya dan kemudian menjadi Marasmus.

SIKAP MASYARAKAT TERHADAP DIARE


Ini sangat penting , karena dapat menentukan kesembuhan anak. Seperti yang di
jelaskan diatas bahwa tradisi , kepercayaan dan kebudayaaan setempat memainkan
peranan pokok.

Tampaknya tiap masyarakat mempunyai pandangan yang relatif hampir sama ,


yaitu bahwa suatu bentuk puasa diperlukan untuk menanggulangi diare. Banyak
ibu yang beranggapan bahwa dengan tidak memberi makan secara total akan dapat
mengurangi diare yang terjadi. Dasar pemikiran ini sebenarnya tidaklah teralu anah,
kalau diingat bahwa pemberian makanan pada anak akan merangsang refleks gastro,
meningkatkan peristaltik dan mempercepat perjalanan tinja di ususu sehingga keluar.
Jelaslah bahwa bagi ibu-ibu puasa akan mengurangi jumlah dan volume tinja yang
keluar pada diare ini.
Sangat disayangkan bahwa pandangan ini menyebabkan banyak ibu , dan juga
para petugas kesehatan , kemudian lebih mengutamakan penghentian diare daripada
mengadakan pengamatan yang teliti terhadap keadaan gizi anak. Karena itu,
pemberian makanan makanan berkalori tinggi penting sekali bagi anak-anak dengan
diare berat, meskipun rehidrasi tetap merupakan prioritas pertama. Ini perlu diingat,
karena ketiadaan makanan berkalori akan menurunkan daya tahan anak. Jika anak
sudah kekurangan gizi , maka dengan puasa itu kondisinya justru akan lebih berat
lagi.
Pandangan lain menyatakan bahwa diare merupakan hal yang umum bagi bayi
pada saat bayi akan bertambah pandai. Diare sering terjadi pada dua tahun pertama ,
dan ini bersamaan dengan saat saat keluarnya gigi, sehingga banyak orang tua yang
berpendapat bahwa kalau diare terhenti dengan cepat justru dapat berpengaruh buruk
terhadap kemunculan gigi. Sedangkan jelas bahwa tidak ada hubungan antara
pertumbuhan gigi, atau bertambah pandainya anak, dengan diare.

Banyak sekali alasan mengapa anak-anak dengan dehidrasi, terutama yang


berasal dari daerah pedesaan , tidak pernah mencapai rumah sakit . Faktor faktor
kebudayaan semacam itu dan hal-hal lain seperti takut pada rumah sakit, keinginan
agar anak meninggal di rumah, merupakan sebagian dari alasan mengapa anak-anak
kemudian tidakn dibawa ke rumah sakit pada saat mereka harus mendapat perawatan
yang teliti.
Faktor faktor kepercayaan , sosial dan budaya suatu masyarakat menentukan
sekali keberhasilan program kesehatan di suatu daerah . Sehubungan dengan contohcontoh di atas , maka usaha untuk menemukan dan kemudian menghilangkan
kepercayaan dan sikap yang salah seperti itu, merupakan bagian yang penting dari
pendidikan kesehatan masyarakat.

TUGAS INDIVIDU
DOSEN : Dra. Sani Silwana, M.Ph

MATA KULIAH : ILMU SOSIAL DAN MASALAH KEPERAWATAN

Di susun Oleh :
NAMA MAHASISWA : RATNA MAHMUD
NIM
: C.120 05 227
KELAS
: NERS . B .1.
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNHAS
MAKASSAR TAHUN 2005

HUBUNGAN DOKTER, PERAWAT, DAN PASIEN


DALAM PELAYANAN KESEHATAN.
HUBUNGAN DOKTER PASIEN
Tokoh kunci dalam proses pengobatan atau penyembuhan suatu penyakit ialah
petugas kesehatan , atau lebih khusus dokter.Bagi masyarakat awam seorang dokter
dianggap mempunyai pengetahuan dan keterampilan

untuk mendiagnosa dan

menyembuhkan penyakit sehingga dia berwenang melakukan tindakan terhadap si


sakit demi pencapaian kesembuhannya. Dalam melakukan perannya sebagai seorang
dokter dia harus memiliki kompetinsi untuk mengobati orang sakit. Dokter
diharapkan bersikap idealis , artinya mengupayakan mencapai kondisi sebaik
mungkin bagi si pasien. Artinya seorang dokter sebaiknya tidak bersikap sebagai
orang yang serba tahu dan dapat memberikan nasehat dalam segala hal. Interaksi
dengan pasien di jaga sebatas hubungan profesional. Perasaan simpati , antipati dan
emosi lainya seharusnya dijauhkan dalam merawat seorang pasien. Dokter sebaiknya
tidak bersikap pilih-pilih atau membedakan sikapnya antara satu pasien

dengan

pasien lainnya. Apabila ditinjau dari kenyataaan yang ada maka kebanyakan dokter
menunjukkan tindakan yang berlainan dengan apa yang sudah menjadi sumpahnya.
Para dokter memberlakukan peraturan peraturan yang bersifat khusus dan tidak
selalu berdasarkan hukum universal. Kebanyakan dokter tidak mempunyai waktu
untuk melakukan penelitian dan pengamatan yang seksama dan menunggu hasil
penelitian tentang efektifitas suatu metodeterapi sebelum menerapkannya kepada
pasien. Yang sering terjadi adalah bahwa pasien membutuhkan pertolongan dengan

segera dan berdasarkan pengalaman klinisnya dokter menentukan metode terapi yang
akan digunakan untuk pasien tersebut, tanpa selalu mempunyai bukti empiris bahwa
metode tersebut merupakan yang terbaik bagi penyakit itu.
Dalam tugasnya dilapangan seorang dokter tidak saja harus menghadapi
masalah yang dipelajari di bangku kuliah, melainkan harus pula memecahkan segala
masalah sosial dan kemanusiaan. Masyarakat tidak membedakan apakah keluhan
yang dideritanya merupakan masalah medis/fisik ataukah karena masalah sosial.
Sukses dokter dalam menangani keluhan pasien-pasiennya tidak saja terletak pada
hasil pendidikannya

dan kemahirannya dalam bidang kedokteran, melainkan

ditentukan oleh unsur unsur pribadi dokter itu sendiri dan harapan / pandangan
pasien atau masyarakat yang di layaninya.
Hubungan antara dokter pasien dapat dikategorikan menurut intensitas
harmoni atau adanya konflik antara kedua pihak. Dokter mempunyai kedudukan
yang lebih kuat / tinggi karena pengetahuannya dibidang medis , sedangkan si pasien
biasanya awam dalam bidang itu serta sangat membutuhkan pertolongan dokternya.
Oleh sebab itu kebanyakan pasien bersedia bekerjasama dan tidak menentang
kehendak dokter sehingga konsensus dapat dicapai.Hal ini tidaklah berarti bahwa
pasien memahami apa yang disarankan oleh dokter.
Berdasarkan jenis penyakit atau kondisi kesehatan pasien, hubungan dokter
pasien secara umum dapat di bedakan menjadi 3 model : yaitu aktif pasif,
pemimpin-pengikut, dan hubungan setara. Dalam hubungan aktif pasif terjadi
bilamana pasien berada dalam kondisi yang tidak mungkin bereaksi atau turut

berperan serta dalam relasi itu. Dalam hal ini pasien benar benar merupakan obyek
yang hanya menerima apa saja yang diberikan kepadanya. Hubungan pemimpinpengikut akan terjadi jika pasien mengalami penyakit yang akut atau infeksi, dimana
dokter memberikan instruksi , sedangkan pasien mematuhi instruksi tersebut. Model
relasi ini dianggap sebagai model yang menandai

hubungan dokter-pasien pada

umumnya. Model setara terjadi jika dokter membantu pasien untuk menolong dirinya
sendiri. Dalam hubungan ini dokter memberikan saran / nasihat yang didiskusikan
bersama pasien dan pasien diharapkan aktif memutuskan apa yang akan dilakukannya
demi kesembuhan dan kebaikan dirinya sendiri. Jika dokter tidak memperhitungkan
hal ini maka komunikasi dengan pasien tentu tidak akan efektif dan hasil pengobatan
pun menjadi tidak optimal.
Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak jarang ditemukan situasi
dimana sang pasien justru mendikte dokternya, artinya pasienlah yang aktif
sedangkan dokternya pasif dan menuruti kehendak pasien. Hal ini dapat terjadi jika
pasien merasa lebih tinggi dari sang dokter, lebih tinggi tingkat sosialnya, atau lebih
berpengalaman. Makin besar perbedaan budaya itu , makin kuat kecendrungannya
untuk mengikuti model aktif pasif. Hubungan setara lebih mungkin terjadi jika
perbedaan sosio budaya antara keduanya kecil.
Dari uraian diatas jelaslah bahwa unsur penting dalam hubungan dokter
pasien ialah komunikasi. Secara umum dikatakan bahwa dalam berkomunikasi orang
berusaha menyampaikan pandangan, perasaan dan harapannnya kepada orang lain.
Dalam hubungan dokter-pasien yang paling penting ialah komunikasi antar

individu.Komunikasi merupakan proses timbal balik yang berkesinambungan yang


menyangkut dua pihak. Pihak-pihak yang bersangkutan secara bergantian berperan
menjadi pemberi informasi dan penerima informasi. Namun yang terjadi dilapangan
dokter ternyata bukanlah pendengar yang baik. Mereka aktif mengarahkan jalannya
komunikasi dengan memberikan berbagai pertanyaan yang mendukung asumsi
tentang penyakit si pasien namun mereka jarang mendengarkan jawaban sepenuhnya
dari pasien. Artinya , jarang sekali pasien diberi kesempatan untuk mengemukakan
pendapat atau perasaannya yang berlainan dari anggapan dokter , ataupun jika hal itu
dikemukakan

oleh pasien maka seringkali dokter tidak menganggapnya penting

untuk diperhatikan. Sebaliknya , banyak juga pasien yang tidak berani / mau
mengutarakan pendapat/ perasaanya meski telah ditanya oleh dokter.
Hal-hal

yang sering menghambat komunikasi antara dokter-pasien ialah

pengunaan simbol-simbol yang diartikan secara berbeda atau sama sekali tidak
dimengerti oleh pasien. Seringkali dokter memberikan terlalu banyak informasi dan
berbicara dengan gaya paternalistik dan merendahkan pasien., terutama jika pasien
berasal dari tingkat sosial/pendidikan yang rendah.
Keterampilan berkomunikasi yang harus dimiliki oleh dokter

ialah

mendengarkan, mengulang, dan menyimpulkan. Mendengarkan itu bukan sekedar


mendengar suara atau kata-kata pasien, tetapi juga mencoba membaca pesan pasien
melalui gerak-gerik, ekspresi wajahnya serta tanda-tanda non verbalnya.Yang lebih
menentukan kepatuhan pasien kepada dokternya adalah kepuasan terhadap proses dan
hasil konsultasi. Jika pasien merasa diperhatikan dan didengar pendapatnya maka dia

akan lebih bersedia mematuhi anjuran dokter. Dan jika dokter mendengarkan
pandangan dan perasaan pasien dengan baik maka dia akan memberikan saran /
anjuran yang realistis bagi si pasien, artinya yang mempertimbangkan kondisi pasien
beserta lingkungannya, sehingga saran itu lebih mungkin dilaksanakan oleh pasien.
Singkat kata, banyak faktor yang menentukan / mempengaruhi ketaatan pasien
terhadap nasehat dokternya.