Anda di halaman 1dari 28

JURNAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN LIKUIDA-SEMISOLIDA

KELOMPOK : 7 (tujuh)

SOAL :

SHIFT : A Reguler A

PEMBUATAN SUSPENSI REKONSTITUSI ERITROMISIN


30mg/ml

I. Latar Belakang
Eritromisin merupakan antimikroba yang dihasilkan oleh Streptomyces
eryterus yang sangat sukar larut dalam air. Eritromisin bersifat bakteriostatik dan
bakterisid, tergantung dari jenis kuman dan kadar eritromisin.Aktif terhadap kuman
gram positif cocci, gram negatif cocci, dan beberapa gram negatif basili. Eritromisin
dapat diindikasikan untuk infeksi kulit dan jaringan lunak yang disebabkan oleh
Staphylococcus aureus, infeksi saluran pernapasan pada anak, batuk rejan, sinusitis
yang disebabkan Streptococcus pyogenes, Haemofilus influenza, Streptococcus
pneumonia (Ika, 2011)
Aktivitas mikroba golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman
dengan jalan berikatan secara reversible dengan ribosom subunit 50S, dan bersifat
bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis kuman dan kadarnya. Spektrum
antimikroba. In vitro, efek terbesar eritromisin terhadap kokus gram positif, seperti
Str. Pyogenes dan Str. Pneumoniae. Str. Viridans mempunyai kepekaan yang
bervariasi terhadap eritromisin. S. aureus yang resisten terhadap eritromisin serin
dijumpai di rumah sakit (strain nosokmial). Batang gram positif yang pka terhadap
eritromisin ialah Cl. Perfringens, C. Diphtheriae, dan L. monocytogenes. Eritromisin
tidak aktif terhadap kebanyakan kuman gram negatif, namun ada beberapa spesies
yang sangat peka terhadap eritromisin yaitu N. Gonorrhoeae, Campylobacter jejuni,
M. Pneumoniae, Legionella pneumophila, dan C. Trachomatis. H. Influenzae
mempunyai kepekaan yang bervariasi terhadap obat ini.
Suspensi kering atau suspensi rekonstitusi adalah sejumlah sediaan resmi dan
diperdagangkan yang terdiri dari campuran kering atau serbuk granula, dimaksudkan
untuk disuspensikan dalam air atau pembawa lainnya sebelum pemberian.
Sebagaimana telah diketahui sediaan resmi ini mencantumkan Untuk Suspensi Oral
pada judul resminya untuk membedakannya dari suspensi yang sudah disiapkan.

Kebanyakan dari obat-obat yang dibuat sebagai campuran kering untuk


suspensi oral adalah obat-obat antibiotik. Produk kering yang dibuat secara komersial
guna mengandung obat-obat antibiotik, dengan bahan tambahan untuk pewarna,
pemanis, aroma, penstabil dan pensuspensi, atau zat pengawet yang mungkin
didinginkan untuk meningkatkan stabilitas dari serbuk kering atau campuran granul
atau dasar suspensi cair. Apabila akan dioplos dan diberikan kepada pasien maka
apoteker atau ahli farmasi akan membuka serbuk yang ada pada dasar wadah secara
perlahan-lahan dengan benda keras lalu menambahkan sejumlah air murni sesuai
dengan yang ditunjukkan pada label dan dikocok dengan kencang sampai seluruh
suspensi kering tersuspensi sempurna.
Penting bagi seorang ahli farmasi untuk menambahkan secara tepat jumlah air
yang telah ditetapkan dalam campuran kering sehingga dihasilkan konsentrasi yang
tepat per unit dosis. Penggunaan air murni lebih baik untuk menghindari penambahan
kontaminasi yang dapat merusak dan memberi efek kebalikan dari efek stabilitas
sediaan yang dihasilkan. Ahli farmasi harus memberitahukan pasien mengenai sifatsifat ini dan mengharuskannya untuk mengocok isinya baik-baik sesaat sebelum
pemakaian dan obat disimpan secara tepat (biasanya didinginkan). Erythromisin
mempunyai kelarutan praktis tidak larut dalam air padahal yang diinginkan suatu
bentuk sediaan cair yang lebih akseptabel bila digunakan oleh anak anak dan
dewasa. Erytromisin tidak stabil didalam air, sehingga dibuat sediaan dalam bentuk
suspensi rekonstitusi.

II. Preformulasi
a. Eritromisin
Struktur kimia

(FI IV, hal 357)


Rumus molekul

C37H67NO13 (FI IV, hal 357)

Nama kimia

Erythromycinum (FI IV, hal 357)

Sinonim

(3R*,4S*,5S*,6R*,7R*,9R*,1lR*,12R*,13S*,14R*)-4- (2,6Dideoksi-3-C-metil-3-0-metil-a-L-ribo-heksopiranosil)-oksi]-14etil-7,12,13-trihidroksi3,5,7 ,9,11,13-heksametil-6{3,4,6,trideoksi-3-(dimetilamino)fl-D-:rilo-heksopiranosil] oksi]


oksasik/otetradekana-2,10-dion (114-07-8] (FI IV, hal 357)

Berat molekul

733,94 (FI IV, hal 357)

Pemerian

Serbuk hablur putih atau agak kuning; tidak berbau a tau praktis
tidak berbau (FI IV, hal 357)

Kelarutan

Sukar larut dalam air; larut dalam etanol, dalam kloroform dan
dalam eter. (FI IV, hal 357)

pH larutan

8,0-10,5 (FI IV, hal 357)

Dosis

Dewasa : 200 - 400 mg tiap 6 jam sekali pakai


Anak

: 30-50mg/kg sehari dalam 4 dosis tiap 6 jam

Eritromisin etil suksinat setelah direkonstitusi dapat bertahan

Stabilitas
Panas

kurang dari 10 hari dan harus dimpan di lemari es.

Hidrolisis/oksidasi Suspensi rekonstitusi dapat disimpan pada suhu dibawah 30oC


Cahaya

atau dapat disimpan pada lemari es selama 10 hari-35 hari

Kegunaan

Antibiotik, obat malaria

Inkompatibilitas

dengan natrium ampisilin dan natrium kloklasilin (FI IV, hal 357)

Wadah dan

Dalam wadah tertutup rapat (FI IV, hal 357)

penyimpanan
Kesimpulan : sediaan suspensi rekonstitusi eritromisin sebagai antibiotik dan obat
anti malaria
Bentuk zat aktif yang digunakan (basa/asam/garam/ester) :
Bentuk sediaan (lar/susp/emulsi/serbuk rekonstitusi) : serbuk rekonstitusi
(krim/salep) :
Kemasan : botol

b. Eksipien (zat tambahan)

1. Metil paraben

Struktur kimia

Rumus molekul

C8H8O3 ( HOPE 6, hal 441)

Nama kimia

Methyl-4-hydroxybenzoate (HOPE 6, hal 441)

Sinonim

Aseptoform M; CoSept M; E218; 4-hydroxybenzoic acid methyl


ester; metagin; Methyl Chemosept; methylis parahydroxy benzoas;
methyl p-hydroxybenzoate; Methyl Parasept; Nipagin M; Solbrol
M; Tegosept M; Unipen P-23 (HOPE 6, hal 441)

Berat molekul

152.15 (HOPE 6, hal 441)

Pemerian

Serbuk hablur halus, putih hampir tidak berbau, tidak


mempunyairasa, agak membakar diikuti rasa tebal (FI III hal 378).
Hablur Kecil, tidak berwarna atau sabuk hablur, putih; tidak
berbau atau berbau khas lemah; mempunyai sedikit rasa terbakar
(FI IV, hal 551); (HOPE 6, hal 441)

Kelarutan

Larut dalam 500 bagian air, daalm 20 bagian air mendidih, larut
dalam 3,5 bagian etanol, larut dalam 3 bagian aseton, mudah larut
dalam eter, dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60
bagian gliserol panas, dan dalam 40 bagian minyak lemak nabati
panas, jika didinginkan, larutan tetap jernih (FI III, hal 378);
Sukar larut dalam air, dalam benzena dan dalam karbon
tetraklorida; mudah larut dalam etanol dan dalam eter (FI IV, hal
551);

pH larutan

3-6 ( HOPE 6, hal 441)

pKa

8,4 pada suhu 220 C (HOPE 6, hal 441)

Titik lebur

1250 C- 1280 C (HOPE 6, hal 441-443)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

1,352 gr/ml atau 1,352 gr/cm3 (HOPE 6, hal 441-443)

Stabilitas

Larutan berair metil peraben pada pH 3-6 dapat disterilisasi

Panas

dengan autoklaf pada 120 0 C selama 20 Menit , juga stabil

Hidrolisis/oksidasi (dekomposisi < 10% selama lebih dari 4 Tahun pada suhu kamar,
Cahaya

sementara larutan dengan pH 8 merupakan subjek hidrolisis


(hidrolisis 10% atau lebih selama 60 hari penyimpanan di suhu
kamar) (HOPE 6, hal 441-443), aktivitas metil paraben sebagai
anti mikroba berada pada rentang pH 4-8, penggunaan bersama
propilen glikol 2-5 % meningkatkan aktivitas antimikroba metil
paraben (HOPE 6, hal 441-443)

Kegunaan

Pengawet (HOPE 6, hal 441-443)

Inkompatibilitas

Aktivitas antimikroba metil paraben dan senyawa paraben lain,


umumnya berkurang jika terdapat surfaktan non ionik, misalnya
polisorbat 80, karena dapat terjadi miselisasi, Inkompatibel dengan
bentoniy, magnesium trisilikat, talk, tragakan, sodium alginat,
sorbitol, essensial oil dan atropin (HOPE hal 441-443)

Wadah dan

Wadah tertutup baik ditempat yang dingin dan kering (HOPE 6 hal

penyimpanan

441-443)

2. Sukrosa/Saccharum Album

Struktur kimia

(HOPE 6, hal 703)


Rumus molekul

C12H22011 (HOPE 6, hal 703)

Nama kimia

b-D-fructofuranosyl-a-D-glucopyranoside (HOPE 6, hal 703)

Sinonim

Sukrosa, Sakarosa, Beet Sugar, Cane Sugar, a-D-glucopyranosylb-D-fructofuranoside; refined sugar, saccharose, saccharum; sugar
(HOPE 6, hal 703)

Berat molekul

342,30 (FI IV, hal 752)

Pemerian

Hablur Putih atau tidak berwarna; massa hablur atau berbentuk


kubus atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa manis, stabil di
udara. Larutannya netral terhadap lakmus. Sakarosa adalah gula
yang diperoleh dari Saccharum officinarum Linn~ (Familia
Graminae) , Beta vulgaris Linn ( Familia Chenopodiaceae) (FI
IV, hal 752)

Kelarutan

Sangat mudah arut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam klorofor dan
dalam eter ( FI IV, hal 752)

(HOPE, hal 703-706)


pH larutan

pKa

12,62 (HOPE, hal 703-706)

Titik leleh, titi didih

Titik Leleh 160-1860 C (dengan penguraian) titik didih 1050 C


(50% b/b); 1030 C (60 % b/b); 104 0C (64% b/b) (HOPE 6, hal
703-706)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

0.93 g/cm3 (Kristalin Sukrosa);


0.60 g/cm3 (Serbuk Sukrosa) ( HOPE 6, hal 703-706)

Stabilitas

Higroskopis dan mengabsorpsi sampai 1% air. Stabil pada suhu

Panas

ruang dan tidak terlalu lembab. Sukrosa dipanaskan hingga 1600 C

Hidrolisis/oksidasi akan membentuk Karamel. Larutan Sukrosa mudah


Cahaya

terdekomposisi jika konsentrasi lebih 60 % b/b maka lebih tahan


terhadap dekomposisi(HOPE 6, hal 703-706)

Kegunaan

Sebagai pemanis (HOPE 6, hal 703-706)

Inkompatibilitas

Sebuk Sukrosa yang terkontaminasi dengan logam berat


menyebabkan sukrosa inkompatibel dengan bagan aktif misalnua
asam askorbat, sukrosa terhidrolisis menjadi dekstrosa dan
fruktosa (gula invert). Sukrosa juga inkompatibel dengan
alumunium (HOPE 6, hal 703-706)

Wadah dan

Dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk. (HOPE 6, hal 703-

penyimpanan

706)

3. PVP (polyvinylpyrrolidone)
Struktur kimia

(Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581).


Rumus molekul

(C6H9NO)n (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581).

Nama kimia

1-Ethenyl-2-pyrrolidinone

homopolymer

(Handbook

of

Pharmaceutical Excipient 6, hal 581).


Sinonim

E1201; Kollidon; Plasdone; poly [1-(2-oxo-1 pyrrolidinyl)

ethylene];

polyvidone;

polyvinylpyrrolidone;

povidonum;

Povipharm; PVP; 1-vinyl-2-pyrrolidinone polymer. (Handbook of


Pharmaceutical Excipient 6, hal 581).
Berat molekul

Pemerian

Serbuk halus, putih krem-putih berwarna, tidak berbau atau


hampir tidak berbau, bubuk higroskopis. Povidones dengan nilai K
sama dengan atau lebih rendah dari 30 yang diproduksi dengan
spray drying. Povidone K-90 dan K-nilai yang lebih tinggi
povidones yang diproduksi dengan drum drying dan berbentuk
lempengan. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581583)

Kelarutan

Bebas larut dalam asam, kloroform, etanol ( 95 % ), keton,


metanol, dan air; praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon, dan
minyak mineral. Dalam air, konsentrasi dari solusi hanya dibatasi
oleh viskositas larutan yang dihasilkan, yang merupakan fungsi
dari K - nilai. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581583).

pH larutan

pH = 3.07.0 (5% w/v aqueous solution); pH = 4.07.0 (5% w/v


aqueous

solution)

untuk

Povipharm

K90

(Handbook

of

Pharmaceutical Excipient 6, hal 581-583)


pKa

Titik leleh

Titik leleh = 150oC. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal


581-583)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

Densitas (bulk) 0.290.39 g/cm3 for Plasdone.


Densitas (tapped) 0.390.54 g/cm3 for Plasdone.
Densitas (true) 1.180 g/cm3
(Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581-583)

Stabilitas

Povidone gelap sampai batas tertentu pada pemanasan pada 150oC,

Panas

dengan penurunan kelarutan berair. Povidone stabil untuk siklus

o
Hidrolisis/oksidasi pendek dengan panas eksposur sekitar 110-130 C; sterilisasi uap

Cahaya

dari air solusi tidak mengubah sifat-sifatnya. Larutan berair rentan


terhadap pertumbuhan jamur dan akibatnya membutuhkan

penambahan pengawet yang cocok. Povidone dapat disimpan


dalam kondisi biasa tanpa menjalani dekomposisi atau degradasi.
(Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581-583)
Kegunaan

Disintegran; peningkat disolusi; pensuspensi; pengikat tablet.


Povidone ini juga digunakan sebagai pensuspensi, menstabilkan,
atau peningkat viskositas pada sediaan topikal dan suspensi oral
dan larutan. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 581583)

Inkompatibilitas

Povidone kompatibel dalam larutan dengan berbagai anorganik


garam, resin alami dan sintetis, dan bahan kimia lainnya.
Membentuk aduk molekul dalam larutan dengan sulfathiazole,
natrium salisilat, asam salisilat, fenobarbital, tanin, dan senyawa
lain; lihat Bagian 18. khasiat beberapa pengawet, misalnya
thimerosal, mungkin terpengaruh oleh pembentukan kompleks
dengan povidone. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal
581-583)

Viskositas

Viskositas larutan povidone tergantung pada kedua konsentrasi


dan berat molekul polimer yang digunakan. (Handbook of
Pharmaceutical Excipient 6, hal 581-583)

Wadah
penyimpanan

dan Namun, sejak bubuk higroskopis, harus disimpan dalam wadah


kedap udara di tempat yang sejuk dan kering. (Handbook of
Pharmaceutical Excipient 6, hal 581-583).

4. Aerosil
Struktur kimia

Rumus molekul

SiO2 (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Nama kimia

Silika (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Si

Sinonim

Aerosil; Cab-O-Sil; Cab-O-Sil M-5P; colloidal silica; fumed


silica; fumed silicon dioxide; hochdisperses silicum dioxid; SAS;
silica colloidalis anhydrica; silica sol; silicic anhydride; silicon
dioxide colloidal; silicon dioxide fumed; synthetic amorphous
silica; Wacker HDK. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6,
hal 185)

Berat molekul

60,08 (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Pemerian

Silika submicroscopic dengan ukuran partikel sekitar 15 nm. Ini


adalah ringan, longgar, putih kebiruan berwarna, tidak berbau,
hambar, bubuk amorf. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6,
hal 185)

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan asam, kecuali
asam fluorida; larut dalam larutan panas alkali hidroksida. Bentuk
dispersi koloid dengan air. Untuk Aerosil, kelarutan dalam air
adalah 150 mg / L pada 25oC (pH 7) (Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6, hal 185)

pH larutan

pH = 3.84.2 (4% w/v aqueous dispersion) and 3.54.0 (10% w/v


aqueous dispersion) untuk Cab-O-Sil M-5P (Handbook of
Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

pKa

Titik leleh

1600oC (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

0.0290.042 g/cm3 (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal


185)

Stabilitas

Koloid silikon dioksida bersifat higroskopis tapi adsorbsi jumlah

Panas

besar air tanpa mencairkan. Ketika digunakan dalam cairan pada

Hidrolisis/oksidasi pH 0-7,5, koloid silikon dioksida efektif dalam meningkatkan


Cahaya

viskositas dari suatu sistem. Namun, pada pH lebih besar dari 7,5
viskositas meningkat sifat koloid silikon dioksida berkurang; dan
pada pH lebih besar dari 10,7 kemampuan ini hilang sepenuhnya
karena silikon dioksida larut untuk membentuk silikat. (Handbook
of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Kegunaan

Adsorben; agen anticaking; stabilizer emulsi; glidant; agen

pensuspensi; disintegran tablet; stabilizer termal; peningkat


viskositas (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Inkompatibilitas

Inkompatibel

dengan

diethylstilbestrol

(Handbook

of

Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)


Viskositas

Ketika digunakan dalam cairan pada pH 0-7,5, koloid silikon


dioksida efektif dalam meningkatkan viskositas dari suatu sistem.
Namun, pada pH lebih besar dari 7,5 viskositas meningkat sifat
koloid silikon dioksida berkurang; dan pada pH lebih besar dari
10,7. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

Wadah dan

Harus disimpan dalam wadah tertutup baik (Handbook of

penyimpanan

Pharmaceutical Excipient 6, hal 185)

5. Etanol
Struktur kimia

(Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)


Rumus molekul

C2H6O (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Nama kimia

Ethanol (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Sinonim

Ethanolum (96 per centum); ethyl alcohol; ethyl hydroxide; grain


alcohol; methyl carbinol. (Handbook of Pharmaceutical Excipient
6, hal 17)

Berat molekul

46,07 (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Pemerian

Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bau khas dan


menyebabkan rasa terbakar pada lidah. (Handbook of
Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Kelarutan

Larut dengan kloroform, eter, gliserin, dan air (dengan kenaikan


suhu dan kontraksi volume). (Handbook of Pharmaceutical

Excipient 6, hal 17)


pH larutan

pKa

Titik didih

78,15oC (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

Stabilitas

Mudah menguap di udara terbuka

Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya
Kegunaan

Antimikroba, Pengawet, Desinfektan, Solven (Handbook of


Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

Inkompatibilitas

Dalam kondisi asam, solusi etanol dapat bereaksi keras dengan


bahan pengoksidasi. Campuran dengan alkali dapat menggelapkan
warna karena reaksi dengan jumlah sisa aldehida. Garam organik
atau akasia dapat diendapkan dari larutan berair atau dispersi.
Solusi Etanol juga kompatibel dengan aluminium wadah dan dapat
berinteraksi dengan beberapa obat. (Handbook of Pharmaceutical
Excipient 6, hal 17)

Viskositas

Wadah dan

Solusi etanol berair dapat disterilkan dengan autoklaf atau filtrasi

penyimpanan

dan harus disimpan dalam wadah kedap udara, di tempat yang


dingin. (Handbook of Pharmaceutical Excipient 6, hal 17)

6. CMC-Na FSH
Struktur kimia

(HOPE 6, hal 118)


Rumus molekul

Nama kimia

Carboxymethylcellulose Sodium (HOPE 6 hal 118)

Sinonim

Berat molekul

Akucell; Aqualon CMC; Aquasorb; Blanose; Carbose D;


carmellosum natricum; Cel-O-Brandt; cellulose gum; Cethylose;
CMC sodium; E466; Finnfix; Glykocellan; Nymcel ZSB; SCMC;
sodium carboxymethylcellulose; sodium cellulose glycolate;
Sunrose; Tylose CB; Tylose MGA; Walocel C; Xylo-Mucine.
(HOPE 6 hal 118)
-

Pemerian

Serbuk atau granul, putih sampai krem; higroskopik. (FI IV, hal
175)

Kelarutan

Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloidal; tidak


larut dalam etanol, dalam eter dan dalam pelarut organik lain. (FI
IV, hal 175)

pH larutan

Antara 6,5 dan 8,5 (FI IV, hal 175)

pKa

4,3 (HOPE 6 hal 119)

Titik leleh

227-2520 C (HOPE 6 hal 119)

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

0,52 gram/cm3 (HOPE 6 hal 119)

Stabilitas
Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya

Higroskopik dan dapat menyerap air pada kelembapan


tinggi
Stabil pada pH 2-10, pengendapan terjadi pada pH 2,
viskositas berkurang pada pH lebih dari pH 10
Sterilisasi cara kering pada suhu 1600 C selama 1 jam,
akan mengurangi viskositas dalam larutan

Perlu penambahan antimikroba dalam larutan


Kegunaan

(HOPE 6 hal 119)

Inkompatibilitas

Inkompatibel dengan larutan asam kuat dan dengan larutan


garam dari beberapa logam

pengendapan terjadi pada pH 2 dan pada saat pencampuran


dengan etanol 95%.

Membentuk kompleks dengan gliserin dan pektin.

Viskositas

Wadah dan

Dalam wadah tertutup rapat (FI IV, hal 175)

penyimpanan

7. Strawberry Esens
Pemerian

Larutan berwarna merah muda, berbau aromatis, rasa strawberry

Kelarutan

Larut dalam air dan alcohol 90%

pH larutan

5,3

Bobot jenis

1,49 g/cm3

Kegunaan

Pewarna dan pewangi

Wadah dan

Dalam wadah tertutup baik sejuk dan kering, terhindar dari cahaya

penyimpanan

matahari

8. Red Colour (Reynolds, 1982)


Struktur kimia

Rumus molekul
Nama kimia
Sinonim

C20H11N2Na3O10S3
Trisodium 3-hidroksi-4-(4-sul-phonato-1-naphthylazo) naftalena2,7-disulphonate.
Amarant; Amaranto; Bordeaux S; Asam CI Red 27; CI Food Red
9; Indeks Warna Nomor 16185; E123; sebelumnya FD & C Red

Berat molekul
Pemerian
Kelarutan
pH larutan
pKa

No 2; Naftol Rot S.
604,5
Gelap, serbuk coklat kemerahan
Larut dalam air
-

Titik lebur

18oC

Konstanta Dielektrik

Bobot jenis

Stabilitas
Cahaya
Panas
Hidrolisis/oksidasi
Cahaya
Kegunaan
Pewarna
Wadah dan
Dalam wadah tertutup baik
penyimpanan

III. Permasalahan Farmasetika


1. Sediaan yang dibuat adalah suspensi dengan penggunaan berulang (Dosis
Ganda/Multiple Dose) mengandung air sehingga rentan terhadap pertumbuhan
mikroba
2. Rasa eritromisin kurang enak dan pahit
3. Bahan pengawet adalah metil paraben yang kelarutan rendah dalam air
4. Suspensi rekonsitusi membutuhkan zat pemanis dan pengisi
5. Eritromisin tidak stabil dalam air.
6. Sediaan suspensi rekonstitusi dibuat dengan cara granulasi agar pada saat pengisian
aliran serbuk atau partikelnya bagus. Pada pembuatan granul dibutuhkan bahan
pengikat.
7. PVP tidak larut dalam air sehingga dibutuhkan pelarut yang sesuai.
8. Sukrosa bersifat higroskopis atau mudah menyerap air.
9. Sediaan saat direkonstitusi harus mudah terdispersi kembali sehingga butuh
suspending agent khusus.

IV. Penyelesaian Masalah


1. Karena sediaan multipledose maka digunakan pengawet yaitu metil peraben

2. Untuk menutupi rasa eritromisin yang kurang enak, ditambahkan sukrosa sebagai
pemanis.
3. Agar aliran serbuk baik saat pengisian sediaan ke wadah atau botol maka sediaan
dibuat dalam bentuk granul.
4. Untuk meningkatkan viskositas sediaan agar partikel terdispersi tidak mudah
mengendap digunakan CMC-Na FSH.
5. PVP digunakan sebagai pengikat agar terbentuk massa granul, PVP tidak larut air
maka dilarutkan dalam etanol.
6. Sukrosa mudah menyerap air atau bersifat higroskopis untuk itu digunakan aerosil
sebagai absorben.
7. Sediaan dikemas dalam wadah tertutup rapat agar zat aktif tetap stabil.

V. Pendekatan Formula (Formula Yang Diusulkan)


NO. Bahan

Jumlah

Fungsi Bahan

Alasan Penambahan

30 mg/ml

Zat Aktif

Eritromisin sangat

Eritromisin

sukar larut dalam


air,maka dari itu
dibuat sediaan
suspense rekontruksi
2

Metil Paraben

0,1%

Pengawet

Karena sediaan
multiple dose dan
mengandung air
Maka mudah
ditumbuhi mikroba
sehingga digunakan
metil paraben
sebagai pengawet
untuk memperlama
jangka waktu
penyimpanan

Sukrosa

30%

Pemanis

Menutupi rasa pahit

PVP

2%

Pengikat

Menyatukan bahanbahan agar tebentuk

massa granul
5

Aerosil

0,1%

Absorben

Absorben

Etanol

5%

Pelarut

Pelarut

CMC-Na FSH

1,5%

Suspending

Karena akan dibuat

agent

sebagai suspensi
maka dibutuhkan
suspending agent

Strawberry essens

0,2%

Pengaroma

Untuk menutupi rasa


karakteristik rasa
yang tidak enak dari
eritromisin. Sehingga
rasa lebih menarik
konsumen

Red colour

0,2%

Pewarna

Digunakan agar
sediaan yang dibuat
lebih menarik dan
digunakan pewarna
ini karena sesuai
pengaroma yang
digunakan.

10

Aquadest

Ad 100%

Pelarut

Bobot granul teoritis = berat zat aktif + berat eksipien

Jumlah botol =

Bobot granul setiap botol =

Jumlah

Aerosil yang digunakan =

Pelarut

CMC-Na

FSH

Bobot granul teoritis = berat zat aktif + berat eksipien


= 3,6 + (0,12+36+0,7944)
= 40,5114 gr

Bobot granul yang diperoleh saat praktikum = 36 gr

Jumlah botol =

VI.

Bobot granul setiap botol =

Jumlah CMC-Na FSH =

Aerosil yang digunakan =

1,7417 gr

= 21,0911 gr

Perhitungan
a.

Eritromisin

x 120 ml = 3,6 gram

b.

Metil Paraben

x 120 ml = 0,12 gram

c.

Sukrosa

x 120 ml = 36 gram

d.

PVP

e.

Aerosil

f.

Etanol

g.

CMC-Na FSH

h.

Strawberry essens

x 120 ml = 0,24 ml

VII.

i.

Red colour

j.

Aquadest Ad 100 ml

x 120 ml = 0,24 ml

Penimbangan

NO. Bahan

Jumlah

Jumlah

Jumlah

dalam

penimbangan 1

penimbangan 2

formula

botol

botol

Eritromisin

30 mg/ml

1,8 gr

3,6 gr

Metil

0,1 %

0,06 gr

0,12 gr

18 gr

36 gr

Paraben
3

Sukrosa

30 %

PVP

2%

Aerosil

0,1 %

0,0105 gr

Etanol

5%

5 ml

CMC-Na

1,5 %

0, 9 gr

0,2 %

0,12 ml

0,24 ml

5 ml

FSH
8

Strawberry
Essens

Red Colour

0,2 %

0,12 ml

0,24 ml

10

Aquadest

Ad 100 ml

Ad 100 ml

Ad 100 ml

VIII.

Prosedur Pembuatan

Alat dan bahan disiapkan

Dipanaskan aquadest hingga mendidih lalu didinginkan

Bahan-bahan ditimbang, botol dikalibrasi 100 ml

Eritromisin dimasukkan ke dalam lumpang digerus sampai halus

Sukrosa digerus sampai halus, lalu ditambahkan red colour, dicampur hingga
merata

Eritromisin ditambahkan sukrosa, metil paraben, strawberry essens

Campur hingga semua bahan merata

Larutkan PVP dalam 5 ml etanol setelah itu masukkan ke dalam mortar yang
telah berisi campuran bahan sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang
dapat digranulasi

Massa yang telah terbentuk diayak dengan nomer mesh 12, kemudian
keringkan-anginkan hingga kadar air pada granul hanya 2%

Tambahkan CMC-Na FSH dan aerosol ke dalam granul sambil dibentuk


granul

Granul ditimbang kemudian dimasukkan dalam botol

Ditambahkan dengan aquadest yang telah dingin sampai tanda batas tara,
dikocok hingga rata kemudian dievaluasi

IX. Analisis titik kritis pembuatan sediaan

1. Air sebagai pelarut harus didihkan kemudian didinginkan dalam keadaan tertutup
untuk membuat suspensi.
2. PVP yang kealrutan rendah atau sukar larut air dilarutkan dalam etanol.
3. Sukrosa harus dihaluskan terlebih dahulu agar didapatkan granul yang homogen.
4. Penambahan larutan pengikat harus sedikit demi sedikit hingga diperoleh massa yang
siap untuk di granulasi.

X. Evaluasi
Suspensi rekontruksi
No

Jenis evaluasi

Prinsip evaluasi

Uji
organoleptis
(warna, bau,
rasa dan
kejernihan)

Pengamatan secara
visual.

Uji pH
suspensi
setelah

Menentukan pH
larutan dengan pHmeter yang telah

Jumlah
sampel
1

Hasil
pengamatan
Warna =
merah muda
Rasa = sedikit
pahit
Bau =
strawberry
pH = 5

Syarat
Suspensi
memperbaiki
rasa untuk zat
aktif yang pahit

pH yang baik
6,0-8,5

direkonstitusi
3

dibakukan dengan
larutan dapar tertentu.
Uji kecepatan
Berdasarkan
sedimentasi
kecepatan
partikel dalam pengendapan partikel
suspensi
dalam suspensi akibat
setelah
adanya gaya gravitasi
direkonstitusi
bumi setelah
didiamkan selama
waktu tertentu (10,
20, 30, 60, 2 jam, 1
hari, 3 hari) dengan
menghitung rasio
tinggi endapan yang
terbentuk setelah
waktu tertentu
dengan tinggi sediaan
awal.
Penetapan
Mengukur diameter
ukuran partikel partikel fasa
dan distrbusi
terdispersi dalam
ukuran partikel suspensi dan
pasa terdispersi distribusi ukurannya.

Penentuan
densitas
larutan (FI IV,
1030)

Penentuan
viskositas dan
sifat aliran
suspensi
dengan alat
Brokefield
setelah
direkostitusi
Uji stabilitas
sediaan

H0 = 5,3cm

Menentukan densitas
larutan dengan
menimbang massa
larutan sebanyak
volume tertentu (10
mL) dengan
piknometer yang
kemudian
dibandingkan dengan
cairan yang telah
diketahui densitasnya
(aquadest) pada suhu
tertentu
Mengukur tekanan
geser suspensi pada
beberapa kecepatan
putar tertentu.

Diusap pada
kaca
arloji
terdapat
butiranbutiran serbuk
artinya
suspensi ini
tidak
homogen
-

Sediaan disimpan
pada temperatur

Uji volume
terpindahkan

Penetapan
kadar zat aktif

10

Waktu
rekonstitusi

kamar untuk
mengamati lamanya
stabilitas sediaan.
Pengukuran volume
sediaan dengan gelas
ukur.
Penetapan kadar zat
aktif dengan metode
analisis yang sesuai

30

Dari 100 ml
menjadi 91 ml

5 detik

Waktu
rekonstitusi
harus singkat

XI. Hasil Percobaan (untuk Laporan)


Hasil dari pecobaan didapatkan suspensi rekonstitusi eritromisin

atau

suspensi kering eritromisin berupa granul-granul yang berwarna merah muda.


Suspensi rekonstitusi dikemas dalam botol bening dengan tutup aluminium.
Suspensi rekonstitusi yang telah ditambahkan aquadest menjadi berwarna merah
muda dengan rasa sedikit pahit dengan aroma strawberry. Suspensi eritromisin
ini mudah untuk terdispersi dalam waktu 5 detik. Suspensi eritromisin
mempunyai tingkat kehomogenitasan yang kurang, terdapat sedimentasi pada
dasar botol. Sediaan suspesi eritromisin ini mempunyai pH = 5. Volume awal
suspensi eritromisin adalah 100 ml setelah dipindahkan volumenya menjadi 91
ml, jadi volume yang hilang adalah sebanyak 9 ml. Suspensi eritromisin
mempunyai khasiat antimalaria dan antibakteri.

XII. Pembahasan (untuk Laporan)


Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung obat padat, tidak melarut dan
terdispersikan sempurna dalam cairan pembawa, atau sediaan padat terdiri dari obat
dalam bentuk serbuk halus, dengan atau tanpa zat tambahan, yang akan terdispersikan
sempurna dalam cairan pembawa yang ditetapkan. Yang pertama berupa suspensi jadi.
Sedangkan yang kedua berupa serbuk untuk suspensi yang harus disuspensikan lebih
dahulu sebelum digunakan.
Keuntungan Sediaan Suspensi adalah baik digunakan bagi pasien yang sukar
menerima tablet atau kapsul terutama pada anak-anak, homogenitas tinggi, lebih mudah
diabsorpsi dari pada tablet atau kap (karena luas permukaan kontak antara zat aktif

dengan saluran cerna meningkat, dapat menutupi rasa tidak enak atau pahit obat (dari
larut atau tidaknya), mengurangi penguraian zat aktif yang tidak stabil dalam air.
Kekurangan Sediaan Suspensi antara lain kestabilan rendah (penumbuhan kristal jika
jenuh, degradasi), jika membentuk cacking akan sulit terdispersi kembali sehingga
homogenitasnya turun, alirannya menyebabkan sukar dituang, ketepatan dosis lebih
rendah dari pada bentuk sediaan larutan, pada saat, penyimpanan, kemungkinan terjadi
perubahan sistem dispersi (cacking, flokulasi, deflokulasi) terutama jika terjadi fluktuasi
(perubahan temperatur), dan sediaan suspensi harus dikocok terlebih dahulu uuntuk
memperoleh dosis yang diinginkan.
Macam-macam suspensi berdasarkan penggunaan antara lain supensi oral,
topikal, tetes telinga dan optalmik. Sedangkan berdasarkan istilahnya suspensi dapat
dibedakan menjadi suspensi susu, magma, dan lotio. Berdasarkan sifat-sifatnya suspensi
dibedakan menjadi suspensi deflokulasi dan flokulasi. Di mana suspensi flokulasi lebih
baik dibandingkan suspensi deflokulasi. Pada suspensi flokulasi ukuran partikel yang
terdispersi ukurannya beragam (variatif) sehingga saat mengendap air mudah memasuki
celah di antara partikel-partikelnya sehingga akan mudah untuk terdispersi kembali.
Pada suspensi deflokulasi akan mudah terbentuk cacking karena ukuran partikel yang
kecil dan seragam sehingga air tidak bisa menembus celah antar partikelnya, sehingga
ketika terbentuk cacking akan sulit diredispersikan kembali.
Syarat Suspensi adalah tidak boleh diinjeksikan secara intravena atau intra tekal.
Suspensi boleh diinjeksikan secara intramuskular, tetapi suspensi yang diinjeksikan
pada intramuskular mempunyai dosis yang kecil. Suspensi yang dinyatakan untuk
digunakan dengan cara tertentu harus mengandung zat antimikroba, suspensi harus
dikocok sebelum digunakan, suspensi harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, zat
yang terdispersi harus halus dan tidak boleh mengendap terlalu cepat, jika dikocok
harus segera terdispersi kembali, mengandung zat tambahan untuk meningkatkan
stabilitas suspensi, kekentalan suspensi tidak boleh terlalu tinggi agar sedian mudah di
kocok dan di tuang, karakteristik suspensi harus dibuat sedemikian rupa sehingga
ukuran partikel dari suspensi tetap konstan untuk yang lama pada penyimpanan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam suspensi yaitu kecepatan sedimentasi,
pembasahanan serbuk, penyebab floatasi, pertumbuhan kristal, pengaruh gula,
deflokulasi dan flokulasi serta pengaruh alat-alat pendispersi. Sifat fisik untuk formulasi
suspensi yang baik adalah suspensi harus tetap homogen pada suatu perioda,
pengendapan yang terjadi pada saat penyimpanan harus mudah didispersikan kembali

pada saaat pengocokan, suspensi harus kental untuk mengurangi kecepatan


pengendapan partikel yang terdispersi, partikel suspensi harus kecil dan seragam
sehingga memberikan penampilan hasil jadi baik dan tidak kasar.
Formula umum dalam suspensi antara lain zat aktif dan bahan tambahan yang
berupa suspending agent, bahan pembasah, pemanis, pewarna, pewangi, pengawet,
dapar, anti oksidan, anti caking, floculating agent, anti busa. Bahan pembawa: air, sirup,
dll. Bahan pensuspensi berfungsi untuk memperlambat pengendapan, mencegah
penurunan partikel, mencegah penggumpalan. Cara kerjanya dengan meningkatkan
kekentalan, kekentalan yang berlebihan akan mempersulit rekonstitusi dengan
pengocokan. Suspensi yang baik mempunyai kekentalan yang sedang dan partikel yang
terlindung dari gumpalan. Faktor pemilihan suspending agent penggunaan bahan
(oral/topikal), komposisi kimia, stabilias pembawa dan waktu hidup produk, produk,
sumber, inkompatibilitas dari suspending agent. Contoh suspending agent adalah PGA,
CMC-Na.
Bahan pembasah berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan bahan
dengan air dan meningkatkan dispersi bahan yang tidak larut. Cara kerjanya adalah
menghilangkan lapisan udara pada permukaan zat padat, sehingga zat padat ditambah
humektan lebih mudah kontak dengan pembawa. Contoh: gliserin, propilenglikol,
polietilenglikol. Pemanis berfungsi untuk memperbaiki rasa dari sediaan. Sukrosa dapat
menyebabkan kristalisasi, untuk mreduksi kristalisasi ini maka dikombinasi dengan
sorbitol, gliserin, dan polyol lain. Sukrosa stabil pada pH 4 8. Pewarna dan Pewangi,
untuk memperbaiki tampilan sediaan digunakan pewarna dan untuk memperbaiki aroma
digunakan pewangi. Asin: butterscoth, mafile, apricot, peach, vanili, wintergreen mint.
Pahit: wild cherry, wallnut, coklat, mint combination, fashion fruit, mint spice anisi.
Manis: buah-buahan berry, vanili, asam, sitrus, licorice, rootbeer, raspberry.
Pengawet yang ideal harus memenuhi 3 kriteria yaitu harus efektif menyerang
pada spektrum broad mikroorganisme, secara fisika, kimia, dan mikrobiologi stabil
dalam produk untuk jangka waktu yang panjang, tidak toksis dan sensitif, harus larut
dan kompatibel dengan komponen lain dalam formula. Antioksidan mempunyai cara
kerja, memblokir reaksi oksidatif yang berantai pada tahap awal dengan memberikan
atom hidrogen. Hal ini akan merusak radikal bebas dan mencegah terbentuknya
peroksida. Pendapar berfungsi mengatur pH, memperbesar potensial pengawet dan
meningkatkan kelarutan. Acidifier berfungsi untuk mengatur pH meningkatkan
kestabilan suspensi, memperbesar potensial pengawet menigkatkan kelarutatan.

Flokulating agent dapat dibagi menjadi 4 kelompok yaitu surfaktan, polimer


hidrofillik, clay, dan elektrolit. Suspensi kering dibuat dengan cara granulasi. Granulasi
adalah suatu metode yang memperbesar ukuran partikel serbuk guna memperbaiki sifat
alir. Persyaratan pada sebuah granulat sebaiknya :
1. Dalam bentuk dan warna yang sedapat mungkin teratur
2. Memiliki sifat alir yang baik
3. Tidak terlalu kering
4. Hancur baik dalam air
5. Menunjukan kekompakan mekanis yang memuaskan
Untuk suspensi kering yang dibuat dengan cara granulasi memiliki keuntungan
sebagai berikut :
1. Mencegah agregasi campuran serbuk.
2. Mendapat sifat alir yang baik.
Pembuatan suspensi kering berrlangsung dalam 4 tahapan, yaitu :
1. Agregasi campuran serbuk dengan penambahan suatu cairan penggranul.
2. Pembagian rasa
3. Pengeringan granulat
4. Mengayak bagian yng halus sekalian menyiapkan granulat, artinya
melonggarkan butiran granulat yang masih melekat bersama-sama dari
proses pengeringan melalui gerakan-gerakan yang hati-hati diatas ayakan.
Hasil dari pecobaan didapatkan suspensi rekonstitusi eritromisin atau suspensi
kering eritromisin berupa granul-granul yang berwarna merah muda. Suspensi
rekonstitusi dikemas dalam botol bening dengan tutup aluminium. Suspensi rekonstitusi
yang telah ditambahkan aquadest berwarna merah muda dengan rasa manis. Suspensi
eritromisin ini mudah untuk terdispersi dalam waktu 5 detik. Suspensi eritromisin
memiliki tingkat kehomogenitasan yang kurang homogen, terdapat sedimentasi pada
dasar botol. Suspensi eritromisin mempunyai khasiat antimalaria dan antibakteri.
Penambahan jumlah air harus diperhatikan, air yang ditambahkan harus air yang murni
dan dalam jumlah yang tepat agar dihasilkan konsentrasi yang tepat per unit dosis.
Penggunaan air murni lebih baik untuk menghindari penambahan kontaminasi yang
dapat merusak dan memberi efek kebalikan dari efek stabilitas sediaan yang dihasilkan.
Eritromisin mempunyai kelarutan praktis tidak larut dalam air padahal yang
diinginkan suatu bentuk sediaan cair yang lebih dapat diterima (acceptable) bila

digunakan oleh anak-anak dan dewasa. Eritromisin merupakan zat aktif yang tidak
stabil didalam air, sehingga dibuat sediaan dalam bentuk suspensi rekonstitusi.

XIII. Kesimpulan :
1. Didapatkan sediaan suspensi rekonstitusi eritromisin berwarna merah
muda, rasanya sedikit pahit, dan aromanya strawberry, dengan pH = 5.
2. Suspensi eritromisin ini mudah untuk terdispersi dalam waktu 5 detik
dan ketika mengendap mudah diredispersikan kembali.
3. Eritromisin tidak stabil didalam air, sehingga dibuat sediaan dalam
bentuk suspensi rekonstitusi.
4. Suspensi eritromisin mempunyai khasiat antimalaria dan antibakteri.

XIV. Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta :
Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Ika Ristia. 2011. Uji Stabilitas Fisik Dan Daya Antibakteri Suspensi Eritromisin Dengan
Suspending Agent Pulvis Gummi Arabici. Pharmacon Vol 12 No. 2 Desember 2011
Rowe, R.C., Sheckey, P.J., and Quinn, M.E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients.
Sixth Edition Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. London

XV.

LAMPIRAN EVALUASI SEDIAAN

1. Penentuan Bobot Jenis Larutan dengan Piknometer (FI IV p.1030)


a.

Gunakan piknometer bersih dan kering

b.

Timbang piknometer kosong

c.

Timbang piknometer yang berisi air yang baru dididihkan

d.

Timbang piknometer yang berisi sediaan larutan.

e.

Bobot jenis sediaan =


Diketahui:

Wsediaan Wkosong
Wair Wkosong

air

bobot jenis air pada suhu 20C = 997,18 gram/liter


bobot jenis air pada suhu 25C = 996,02 gram/liter
bobot jenis air pada suhu 30C = 994,62 gram/liter

2. Penentuan Viskositas Larutan dengan Alat Brookfield


a. pilih spindel sesuai dengan viskositas cairan yang hendak diukur.
b. pasang spindel pada gantungan spindel.
c. turunkan spindel sedemikian rupa sehingga batas spindel tercelup ke dalam cairan
yang hendak diukur viskositasnya.
d. pasang stop kontak.
e. hidupkan motor sambil menekan tombol.
f. biarkan spindel berputar dan perhatikan jarum merah pada skala.
g. catat angka yang ditunjukkan jarum merah tersebut. (untuk menghitung viskositas,
angka pembacaan dikalikan dengan suatu faktor yang dapat dikutip dari tabel yang
terdapat pada brosur alat.)
h. dengan mengubah-ubah ppm, akan diperoleh viskositas cairan pada berbagai ppm.

3. Penentuan pH larutan (FI IV p. 1039)


Uji pH larutan dilakukan dengan menggunakan kertas pH atau dengan pHmeter.

4. Penentuan Volume Terpindahkan (FI IV p. 1089)


a.

Tuang isi dari tiap wadah perlahan-lahan ke dalam gelas ukur kering terpisah
dengan kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur
dan telah dikalibrasi.

b.

Diamkan selama 30 menit.

Amati sediaan selama beberapa hari untuk mengamati adanya pertumbuhan


mikroorganisme, cap- locking dan pengendapan.
Pengamatan

Hari ke 1

Hari ke 2

Hari ke 3

Warna

Merah mudah

Merah muda

Merah muda

Rasa

Sedikit pahit

Sedikit pahit

Sedikit pahit

Aroma

Strawberry

Strawberry

Strawberry

Mikroorganisme

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Capslocking

Tinggi Sedimentasi

Hv/Ho (cm)

10
5,3
cm

20

30

60

2 jam

1 hari

3 hari