Anda di halaman 1dari 22

TEORI AKUNTANSI:

ADOPTING AN ACCOUNTING
PERSPECTIVE

Kelompok :
AHMAD MUDZAKKIR (02)
ARINA HUSNA AMALIA (05)
DANI NUR ZAINUDIN (09)
KRISMAWAN SATYA AJI LAKSANA (18)
SEPTIAN FACHRIZAL (26)

KELAS XB DIV AKUNTANSI KURIKULUM KHUSUS


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

A. PENGANTAR
Pengertian perspektif secara harfiah adalah sudut pandang manusia dalam memilih
opini, kepercayaan, dan lain-lain. Dalam akuntansi, perspektif merupakan cara pandang
tertentu dalam memahami, mempelajari, dan mempraktikkan akuntansi.
Akuntansi ada karena aktivitas komersial dan berbasis transaksi ekonomi baik yang
dilakukan individu maupun entitas. Namun, faktanya bahwa praktik akuntansi antara
kelompok-kelompok tertentu di berbagai negara jauh berbeda. Oleh karena itu, diperlukan
sudut pandang tertentu yang mendasari akuntansi dari berbagai faktor, termasuk sejarah
dan budaya, nilai-nilai masyarakat, sifat kegiatan ekonomi dan tujuan yang
mempersiapkan, menafsirkan dan menerapkan informasi akuntansi.
Terminologi akuntansi dapat dirumuskan dari dua sudut pandang, yaitu dari sudut
pandang pemakai dan sudut proses kegiatannya. Ditinjau dari sudut pemakainya,
akuntansi adalah suatu disiplin yang menyediakan informasi yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan suatu
organisasi. Informasi yang dihasilkan akuntansi diperlukan untuk membuat perencanaan
yang efektif, pengawasan, dan pengambilan keputusan oleh manajemen, dan
pertangungjawaban organisasi kepada para investor, kreditur, badan pemerintah, dan
sebagainya. Dari sudut pandang kegiatannya, akuntansi adalah suatu proses pencatatan,
penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi.
Pengertian ini menunjukan bahwa kegiatan akuntansi merupakan tugas yang kompleks
dan menyangkut bermacam-macam kegiatan. Pada dasarnya akuntansi harus
:mengidentifikasi data nama yang berkaitan atau relevan dengan keputusan yang akan
diambil, memproses atau menganalisis data yang relevan, serta mengubah data menjadi
informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
Accountant Public Board menggolongkan akuntansi sebagai kegiatan pelayanan,
yang merupakan deskripsi yang lazim diakui dan diterima oleh akuntan. Pada umumnya,
sudut pandang akuntansi tidak selalu didukung berdasarkan pada hal yang diukur dengan
logika, melainkan hanya pada sudut pandang pemerintah, kelompok atau individu yang
menerima dan mendukung. Argumen yang sama dapat dibuat terhadap politik agama yang
didasarkan pada keyakinan mendasar. Dengan demikian, berlatih dan belajar akuntansi
sangatlah penting untuk memahami serta mempertimbangkan atau mengadopsi perspektif
(sudut pandang) tertentu di dalam praktik akuntansi.
Faktor utama lain yang mempengaruhi berbagai sudut pandang akuntansi adalah
bahwa ada banyak pengguna informasi akuntansi, mewakili berbagai perspektif, yang
sering mengarah ke pertanyaan: perspektif mana yang harus diambil dalam proses
Sudut Pandang Akuntansi

akuntansi dan bagaimana teori-teori pendukung berbagai perspektif yang sering


digunakan dalam akuntansi.
B. Accounting Viewpoints
Akuntansi ada karena kegiatan-kegiatan komersial dan transaksi ekonomi dan
entitas individu yang membentuk pasar dan sektor swasta dan publik dari batas geografis
tertentu. Tujuan dari akuntansi adalah menjadi alat pengukuran dan pelaporan kegiatan
ekonomi dari suatu entitas, yang mencakup dampak aktivitas entitas baik pada masyarakat
langsung maupun yang lebih luas serta lingkungan fisik.
"Accounting is the process of identifying, measuring and communicating economic
information to permit informed judgements and decisions by users of the information.
American Accounting Association
Dengan kata sederhana, akuntansi memberikan informasi yang berhubungan
dengan kegiatan keuangan atau ekonomi bisnis suatu entitas kepada pihak lain.
Pengukuran informasi akuntansi bersifat subjektif karena melibatkan aktivitas penilaian
tentang nilai aset yang dimiliki oleh perusahaan atau kewajiban terhutang oleh bisnis. Hal
ini juga terkait dengan tingkat akurasi dalam mengukur banyaknya laba atau rugi yang
dihasilkan suatu aktivitas bisnis dalam periode tertentu. Informasi akuntansi
dikomunikasikan menggunakan laporan keuangan.
Laporan keuangan berfungsi untuk menyampaikan informasi kepada pengguna
eksternal yang tidak terlibat secara langsung dalam aktivitas bisnis dari entitas. Laporan ini
diharapkan dapat menyediakan informasi yang berguna untuk membuat dan mengevaluasi
keputusan mengenai alokasi sumber daya yang terbatas dalam suatu organisasi.
Penerapan sudut pandang akuntansi bervariasi dari setiap entitas antar satu sama lain. Hal
ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti sejarah dan budaya, nilai-nilai sosial, sifat
kegiatan ekonomi, tujuan mereka yang mempersiapkan, menafsirkan dan menerapkan
informasi akuntansi serta jumlah pengguna potensial dari informasi akuntansi yang dapat
dibagi menjadi tiga kategori- penyedia sumber daya (misalnya. pemegang Saham dan
pemegang utang), penerima barang dan jasa (misalnya. Pelanggan) dan pihak yang
melaksanaka fungsi kontrol (misalnya. auditor independen dan badan pengawas)
C. The Boundary Assumptions (Batasan Asumsi)
Batasan suatu entitas didefinisikan sebagai kegiatan yang akan diukur dan
dilaporkan dan asumsi akuntansi atau pengukuran yang diadopsi untuk melaporkan
Sudut Pandang Akuntansi

informasi dalam batas-batas yang diterima. Untuk mengukur dan melaporkan informasi,
kegiatan dan sarana penunjang kegiatan suatu entitas perlu didefinisikan.
Ada dua definisi untuk pelaporan entitas:
Any unit or activity which controls the utilisation of scarce resources in order to
generate economic benefits or service potentials and which is judged to be sufficiently
significant to warrant the preparation of general purpose financial reports for use in
economic decision making and accountability.
Dr Ian Ball, author of Definition of the Reporting Entity
All entities in respect of which it is reasonable to expect the existence of users
dependent on general purpose financial reports for information which will be useful to
them for making and evaluating decisions about the allocation of scarce resources.
Statement of Accounting Concepts (SAC 1)

Menurut Public Sector Accounting Standards Board of the Australian Accounting


Research Foundation, laporan keuangan untuk tujuan umum berarti laporan keuangan
dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi umum untuk pengguna eksternal atau
pihak luar sehingga harus disesuaikan untuk memenuhi, khususnya, semua kebutuhan
informasi mereka.
Meskipun entitas pelapor telah didefinisikan dengan baik oleh para profesional,
organisasi cenderung mendefinisikan sendiri batas-batas tersebut dalam menanggapi
tekanan organisasi maupun pihak eksternal.
Pendekatan pelaporan tradisional hanya mendefinisikan sudut pandang akuntansi
dan kemudian melaporkan kegiatan keuangan serta hasil aktivitas entitas. Batas pelaporan
ini telah diperluas untuk memenuhi kebutuhan stakeholder , yaitu mengarah ke
pendekatan yang disebut laporan akuntansi triple bottom line pada isu-isu sosial, ekonomi
dan lingkungan. Ini berfungsi sebagai sarana berkomunikasi dampak dan manfaat dari
aktivitas entitas ke berbagai pemangku kepentingan di masyarakat sebagai bentuk
pertanggung jawaban entitas terhadap pemangku kepentingan bahwa aktivitas perusahaan
telah dilakukan sesuai dengan pedoman sosial dan lingkungan untuk membangun
kepercayaan pemangku kepentingan terhadap entitas atau organisasi. Laporan tersebut
memiliki dampak langsung terhadap pemenuhan harapan pemangku kepentingan.
Kegagalan perusahaan dalam memenuhi harapan pemangku kepentingan dapat
menunjukkan implikasi besar bagi kelangsungan hidup yang berkelanjutan organisasi.
Sudut Pandang Akuntansi

D. Teori Pemilik (Proprietary Theory)


Teori ini menyatakan bahwa aset dan kewajiban dimiliki oleh pemilik. Perusahaan
dimiliki oleh beberapa orang tertentu atau kelompok yang juga bisa menjadi perseorangan
atau persekutuan komanditer. Pada tahun 1933, Littleton menyatakan pandangan bahwa
kepemilikan adalah substansi dari sistem pembukuan berpasangan (double-entry system).
Sistem pembukuan double-entry adalah sebuah aturan pencatatan informasi keuangan
dalam sistem akuntansi keuangan yang menyatakan bahwa setiap transaksi atau kejadian
ekonomi menyebabkan perubahan pada, paling tidak, dua akun buku besar. Definisi ini
didasarkan bahwa pada awal berkembanganya akuntansi, pencatatan dilakukan dengan
pena dan tinta dalam sebuah buku yang kemudian disebut jurnal dan buku besar sehingga
muncul istilah pembukuan (bookkeeping). Istilah berpasangan (double-entry) muncul
karena setiap transaksi dicatat dua kali, satu sisi disebut debet dan sisi yang lain disebut
kredit.
Teori pemilik ini muncul sejak abad kedelapan belas saat beberapa penulis mencoba
memperkenalkan logika akuntansi berdasarkan pada tujuan sebuah perusahaan, sifat
modal, dan pengertian akun dari sudut pandang pemilik usaha. Seluruh konsep-konsep,
prosedur-prosedur, dan pedoman-pedoman dalam akuntansi disusun berdasarkan
kepentingan pemilik. Sama halnya dengan sebuah perusahaan sebagai sebuah alat yang
digunakan pemilik, para pemegang saham, untuk mencapai tujuan mereka yaitu
meningkatkan kekayaan.
Pada tahun 1965, L. Goldberg menyanggah pendapat Littleton mengenai tujuan
perusahaan. Goldberg menyatakan bahwa pengukuran keuntungan dari sudut pandang
pemilik bukanlah tujuan utama pencatatan dan pelaporan. Contoh dari pendapat Goldberg
adalah pencatatan yang dilakukan oleh organisasi nirlaba atau universitas.
Neraca (Balance Sheet)
Akun-akun dalam neraca memberikan penegasan terhadap teori pemilik melalui
sebuah persamaan:
AL=P
A = Asset (aset)
L = Liability (kewajiban)
P = proprietorship (kepemilikan) yang mencerminkan kekayaan bersih pemilik
bisnis
Sehingga tujuan utama dari kegiatan bisnis adalah untuk meningkatkan kekayaan,
yaitu meningkatkan kepemilikan. Aset merupakan hak pemilik dan kewajiban menjadi
beban pemilik. Sehingga, tujuan akuntansi adalah menentukan kekayaan bersih pemilik
bisnis. Kesimpulan tersebut menyebabkan beberapa akuntan meyakini bahwa nilai saat ini
lebih relevan daripada biaya historis.

Sudut Pandang Akuntansi

Laba (Profit)
Prinsip kepemilikan (proprietorship) mencakup pendapatan (income) dan biaya
(expense). Pendapatan merupakan kenaikan dalam kepemilikan dan biaya merupakan
penurunan dalam kepemilikan. Sehingga, keuntungan merupakan peningkatan kekayaan
pemilik yang berasal dari operasi bisnis selama periode tertentu. Jika keuntungan
ditunjukkan dengan penjelasan tersebut, maka seluruh aspek yang mempengaruhi
perubahan kekayaan pemilik dimasukkan sebagai keuntungan. Pertanyaan yang muncul
dalam konsep keuntungan adalah apakah seluruh peningkatan nilai tetap dicatat walaupun
tidak ada transaksi eksternal yang terjadi? Saat Teori Pemilik diterapkan, maka
peningkatan tersebut harus dicatat. Contohnya adalah saat aset disimpan untuk jangka
waktu yang lama, maka akan ada kenaikan nilainya walaupun belum terealisasi (dijual).
Argumentasinya adalah kenaikan kekayaan bersih pemilik harus diperhitungkan,
walaupun kenaikan ini masih belum pasti sampai aset tersebut dijual kepada pihak lain.
Efek terhadap Praktik (Effect on Practice)
Praktik akuntansi saat ini didasarkan pada Teori Pemilik. Contohnya adalah dividen
dipertimbangkan sebagai distribusi keuntungan daripada biaya karena merupakan
pembayaran kepada pemilik. Sebaliknya, bunga utang dan pajak penghasilan
dipertimbangkan sebagai biaya karena keduanya mengurangi kekayaan pemilik. Dalam
laporan keuangan konsolidasi, metode perusahaan induk didasarkan pada teori pemilik.
Perusahaan induk dilihat sebagai pemilik anak perusahaan, sehingga dengan pendekatan
kepemilikan, tindakan logis apabila mempertimbangkan penurunan nilai utang anak
perusahaan sebagai keuntungan perusahaan induk.
Keterbatasan (Limitations)
Sudut pandang teori pemilik dikembangkan saat bisnis masih sederhana,
kebanyakan masih berbentuk perusahaan perorangan dan persekutuan komanditer
(partnership). Tetapi, dalam perkembangan lebih lanjut terbukti bahwa teori ini tidak
memadai sebagai basis untuk menjelaskan akuntansi perusahaan. Secara hukum,
perusahaan merupakan entitas yang berbeda dari pemilik, baik hak maupun kewajibannya.
Perusahaanlah yang menguasai aset dan terbebani utang-utang, bukannya
pemilik/pemegang saham.
Namun, perusahaan-perusahaan besar secara tidak langsung sering dihubungkan
dengan satu atau beberapa individu kunci atau organisasi pengendali. Sebagai contoh,
adalah penguasaan mayoritas saham Telstra oleh Pemerintah Australia dan aktifitasaktifitas korporasi dari keluarga Murdoch dan Parker. Untuk kasus-kasus tertentu, teori
kepemilikan/sudut pandang pemilik tidak bisa secara langsung dianggap tidak relevan.

Sudut Pandang Akuntansi

E. Teori Entitas (Entity Theory)


Teori Entitas dirumuskan untuk menanggapi Teori Pemilik mengenai status yang
terpisah dari suatu perusahaan. Teori ini dimulai dengan fakta bahwa perusahaan itu
entitas terpisah dan perusahaan memiliki identitas sendiri. Teori ini lebih dari accounting
entity assumption yang memandang secara terpisah bisnis dan urusan pribadi. Jika
perusahaan mengurus secara terpisah catatan akuntansi untuk tujuan bisnis, ini tidak
berarti bahwa perusahaan itu memiliki pandangan Teori Entitas.
Ada dua asumsi yang berhubungan mewujudkan ide dari entitas akuntansi:
1. Pemisahan, untuk kepentingan akuntansi, perusahaan dipisahkan dari pemiliknya.
2. Sudut pandang, prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang entitas.
Meskipun teori entitas sangat sesuai untuk akuntansi dari korporasi, pendukungnya
percaya bahwa teori ini dapat digunakan untuk perusahaan perseorangan (proprietorship),
partnership, dan bahkan organisasi non-profit, asalkan:
Akun dan transaksinya diklasifikasikan dan dianalisa dari sudut pandang entitas
sebagai unit operasi.
Prinsip akuntansi dan prosedurnya diformulasikan sebagai single interest seperti pada
proprietorship.

Pandangan Teori Entitas


Ada 2 pandangan dari teori entitas mengenai tujuan dari akuntansi, tapi memiliki
kesimpulan yang sama, yaitu pelayanan atau akuntabilitas adalah yang paling signifikan.
1. Pandangan lama mengatakan bahwa bisnis perusahaan beroperasi untuk keuntungan
dari pemegang saham, menyediakan dana untuk entitas. Oleh karena itu entitas harus
melaporkan kepada pemegang saham tentang status dan konsekuensi dari investasi
mereka.
2. Pandangan baru tentang teori entitas ini menginterpretasikan entitas sebagai bisnis itu
sendiri dan tertarik pada kelangsungan hidupnya. Karena ini lebih konsen pada
kelangsungan hidup, entitas bisnis melaporkan kepada pemegang saham dalam rangka
memenuhi ketentuan hukum dan untuk menjaga hubungan baik dengan hal mereka
dalam memerlukan dana di masa depan.
Meskipun keduanya fokus kepada entitas sebagai unit yang independen, pandangan
lama melihat pemegang saham sebagai rekan dalam bisnis, sedangkan pandangan yang lain
menganggap mereka sebagai pihak luar. Informasi dari laporan keuangan untuk
mengambil keputusan yang telah ditekankan dalam beberapa tahun terakhir dapat dengan
mudah berasimilasi pada kedua interpretasi teori entitas.
Sudut Pandang Akuntansi

Neraca
Kekayaan bersih tidak begitu berarti dalam konsep ini, karena entitas merupakan
pusat perhatian. Pemilik dan kreditor pemilik dan kreditur dipandang sebagai pemegang
ekuitas, yaitu penyedia dana. Persamaan akuntansinya adalah :
ASET = EKUITAS

Paton meyakini bahwa persamaan tersebut yang paling mengekspresikan logika dari
kondisi keuangan perusahaan. Ekuitas merupakan hak atau klaim atas aset entitas.
Kreditur memiliki klaim khusus ditentukan dan pemegang saham memiliki klaim residual
atas aset dalam kasus pembubaran dari sudut pandang entitas, bagaimanapun, kreditur
dan pemegang saham merupakan penyedia dana. Pemegang saham tidak mengklaim aset
tertentu, bahkan dengan laba perusahaan. mereka memiliki hak terhadap total aset dan
dividen saat diumumkan oleh dewan direksi. Namun, ini adalah hak yang diterima oleh
perjanjian kontrak, bukan karena kepemilikan.
Neraca memperlihatkan aset dari entitas, dimana Paton mengacu sebagai
representasi laporan langsung dari nilai entitas dan ekuitas yang dia sebut sebagai tidak
langsung mengekspresikan total yang sama. Asset milik dari perusahaan dan kewajiban
merupakan kewajiban dari perusahaan, bukan pemilik.
Laba
Pada Teori Pemilik, penentuan kekayaan bersih pemilik merupakan hal utama. Oleh
karena itu, neraca adalah sangat penting. untuk teori entitas, penekanan pada penentuan
keuntungan dan karena itu laporan laba rugi adalah lebih relevan daripada neraca. Laba
ditekankan untuk dua alasan:
Pemegang saham tertarik pada laba, karena jumlah ini menunjukan hasil dari investasi
pada suatu periode.
Alasan kenapa perusahaan tetap ada adalah untuk menciptakan laba. Ini penting bagi
kelangsungan perusahaan.
Laba adalah sesuatu yang dihasilkan oleh perusahaan. Sesungguhnya laba pada
teori entitas harus di definisikan dari perubahan dari asset bersih dari perusahaan dari
pada modal. penekanannya adalah pada pendapatan dan biaya: keuntungan hanyalah
perbedaan.
Efek pada Praktik

Sudut Pandang Akuntansi

Dalam prakteknya, prosedur akuntansi yang dilakukan tidak konsisten dengan baik
dari teori kepemilikan atau teori entitas. Kedua teori mempengaruhi praktik akuntansi dari
sudut yang berbeda. Konsep entitas tampaknya mendominasi teori akuntansi. Misalnya,
gaji yang diterima oleh pemegang saham yang merupakan karyawan perusahaan akan
dicatat sebagai beban. Namun prosedur akuntansi tertentu masih mengadopsi konsep
proprietary. Konsep entitas memandang kreditur dan pemegang saham sebagai pemegang
saham, penyedia dana. Jika pendekatan ini diikuti, beban bunga harus dipertimbangkan
sebagai pembagian keuntungan daripada biaya. Namun, dalam prakteknya tidak terjadi.
Praktis, beban bunga dicatat sebagai biaya dan hanya dividen akan dianggap sebagai
pembagian laba. Hal ini sesuai dengan konsep kepemilikan.

F. Physical capital concept


Pandangan Entitas (entity view) menganggap asset entitas hanya sebagai milik
entitas sendiri, dan harta pemilik dianggap sebagai bagian terpisah dari entitas. . Physical
capital adalah segala aset non-manusia yang digunakan dalam produksi (kapasitas/ input
produksi) seperti mesin, gedung, atau kendaraan. Keuntungan atau laba diperoleh dari
kegiatan bisnis. Menurut pandangan entitas, hal yang utama adalah menjaga kemampuan
entitas untuk menjalankan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. Dan hal ini berarti
terkait dengan kemampuan entitas untuk menjaga kapasitas operasi fisik perusahaan.
Pandangan ini juga sering disebut pandangan Modal Fisik (physical capital view)
yang berfokus pasa kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Para
pendukung konsep pemeliharaan modal fisik (physical capital maintenance) berpendapat
bahwa baik tidaknya kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari kemampuannya untuk
mempertahankan suatu level fisik produksi tertentu pada akhir periode menjadi seperti
pada awal periode. Menurut konsep ini, pemeliharaan modal terkait dengan kemampuan
perusahaan untuk mengembalikan asset perusahaan pada kondisi semula di awal periode.
Keuntungan hanya didapatkan setelah perusahaan selesai mengembalikan asset ke kondisi
semula.
Para pendukung pandangan ini juga menyetujui bahwa biaya pengembalian
(recovery) adalah biaya asset saat ini sesuai dengan kapasitas semula. Dan nilai yang
relevan dengan kondisi ini adalah current atau replacement cost Karena konsep dasarnya
adalah mengembalikan atau mengganti kapasitas produksi yang sama
Secara singkat dapat dikatakan bahwa menurut pandangan ini, kapasitas fisik suatu
entitas untuk menghasilkan barang dan jasa ditentukan setelah memperhitungkan
perubahan harga dari asset dan kewajiban yang menentukan kemampuan operasional
entitas
Sudut Pandang Akuntansi

Financial capital concept versus physical capital concept


Perbedaan utama antara model kepemilikan (proprietary) dan model entitas (entity)
terkait laba adalah:
Perubahan nilai uang (monetary value) termasuk bagian laba, sedangkan menurut
model entitas bukan merupakan bagian laba.
Ahli yang mendukung pandangan Kepemilikan (Financial Capital) berpendapat bahwa
perubahan nilai asset dan kewajiban adalah laba atau rugi ditahan. Sedangkan pendukung
pandangan entitas (physical capital) berpendapat bahwa kenaikan harga atas item-item
yang harus dimiliki perusahaan untuk melanjutkan usahanya bukan merupakan bagian
dari laba. tetapi merupakan suatu capital maintenance adjustment yang ditempatkan
langsung di bagian ekuitas. Jumlah inilah yang diperlukan perusahaan untuk mengganti
asetnya.
Berikut ini adalah contoh sederhana untuk membandingkan kedua pendekatan tersebut.
Misalkan ada sebuah perusahaan kecil yang membeli dan menjual satu karya seni
per tahun. Asumsikan bahwa dalam Tahun pertama pemilik membeli karya seni sebesar $
700 dan menjualnya seharga $ 1000, sehingga terdapat keuntungan $ 300. Namun selama
di akhir tahun, biaya pembelian karya seni meningkat menjadi $ 800.
Jika pendapatan dihitung berdasarkan nilai historis, maka akan didapat keuntungan
$ 300 ($ 1000 $ 700). Namun jika semua keuntungan ini diambil, maka uang yang tersisa
di perusahaan tidak cukup bagi mereka untuk melanjutkan bisnis di Tahun 2. Mereka
membutuhkan $ 800 untuk mempertahankan kemampuan operasional untuk membeli 1
unit karya seni.
Tabel Perbandingan proprietary and entity views:
Proprietary view

Entity view

Sales revenue $1000

Sales revenue $1000

Current cost of sales 800

Current cost of sales 800

Operating profit 200

Profit $ 200

Holding gain 100


Profit $ 300

Sudut Pandang Akuntansi

Capital maintenance adjust. $ 100

10

Dapat kita lihat bahwa menurut Financial Capital, keuntungan adalah jumlah yang
dapat didistribusikan tanpa mengurangi jumlah modal awal perusahaan. Sedangkan
menurut pandangan physical capital, keuntungan hanyalah $200 karena $100 merupakan
jumlah yang diperlukan untuk menjaga kemampuan operasional perusahaan.

G. Fund Theory/Cash Flows


Teori ini dikemukakan seorang ahli yang bernama William Vatter. Beliau
mengajukan suatu teori yang berfokus pada dana atau Fund dan bukan pada
perseorangan. Menurut beliau titik pandang perseorangan tidak berkontribusi pada
objektivitas informasi akuntansi.
Fund merupakan suatu unit operasi, suatu pusat interest, dengan suatu tujuan
khusus atau sekelompok kegiatan, kewajiban, dan peembatasan yang mewakili fungsi atau
aktifitas ekonomi. Setiap kelompok dana memiliki asset dengan pembatasan untuk tujuan
tertentu.
Sudut pandang personal tidak berpengaruh pada obyektivitas informasi akuntansi.
Dan tidak bias oleh pemikiran yang sifatnya personal.
Persamaan akuntansi untuk dana adalah:
ASET = PEMBATASAN ASET
Setiap dana ditujukan untuk memenuhi beberapa tujuan, dan layanan yang
terkandung dalam asset tersebut adalah sarana utama untuk mencapai tujuan itu. Vatter
tidak setuju atas interpretasi asset, tetapi lebih melihat ekuitas sebagai pembatasan atas
asset. Menurutnya, klaim tidak diajukan kepada suatu asset, tetapi pada seseorang.
Kewajiban merupakan pembayaran masa depan dan bukan merupakan klaim saat ini pada
aset. Oleh karena itu, pentingnya kewajiban terletak pada pembatasan yang dibebankan
pada dana aset, yang mengalokasikan suatu bagian tertentu dari total aktiva untuk
pembayaran. Ekuitas pemilik merupatan pembatasan terakhir atas asset dan merupakan
penyeimbang antara asset dan ekuitas. Penggunaan isitilah pembatasan asset ini
merupakan istilah umum yang dapat dipakai semua organisasi.
Menurut teori dana, neraca dianggap sebagai suatu laporan persediaan atas aset
dan batasan yang ada pada asset tersebut. Penyusunan informasi dan juga metode
penilaian dapat berbeda tergantung pada siapa yang menjadi pengguna laporan tersebut.
Misalnya, neraca untuk tujuan kredit akan berbeda dengan neraca untuk para
pemegang saham.
Sudut Pandang Akuntansi

11

Pendapatan merupakan kenaikan asset dalam dana yang benar-bebas dari


pembatasan selain sebagai residual equity (ekuitas pemilik). Transaksi lainnya mungkin
akan meningkatkan nilai asset total, tetapi akan selalu saja ada pembatasan yang
mengikutinya. Contoh, penjualan obligasi akan meningkatkan nilai asset, tetapi akan
menghasilkan pembatasan pada asset karena adanya pembayaran di masa depan untuk
pokok dan bunganya.
Penerimaan hibah atau warisan merupakan pendapatan, namun jika ada batasan
bahwa dana tersebut harus digunakan untuk investasi dan dana pokoknya harus terus
dipertahankan, maka hal ini bukanlah pendapatan. Namun, tidak ada pembatasan pada
Bunga dan dividen yang diterima atas investasi tersebut sehingga keduanya merupakan
pendapatan.
Beban merupakan arus keluar untuk suatu tujuan khusus yang telah ditetapkan
dalam mencapai tujuan suatu dana. Definisi ini dapat dianggap sebagai biaya untuk
mendapatkan pendapatan. Tetapi memiliki arti yang lebih luas dan dapat dipakai juga oleh
organisasi nirlaba.
Vatter kurang percaya pada konsep laba. beliau melihat banyak permasalahan
dalam penentuan laba dan percaya bahwa akuntan terlalu menekankan pada laba. Laba
tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi yang penting dan jumlah angka laba yang
tertera dalam laporan yang bersifat umum terbatas penggunaannya.
Alih alih membuat income statement yang berakhir dengan suatu nominal laba
tertentu, Vatter justru menyarankan suatu laporan dimana informasi dilaporkan dalam
suatu cara tertentu agar pengguna laporan dapat menghitung suatu nilai laba yang benarbenar memiliki arti sesuai dengan kebutuhan pengguna. Beliau berpendapat bahwa fokus
dari laporan ini adalah aliran dana, bukan laba.
Fund theory menyediakan kerangka acuan bagi pemerintahan dan organisasi
nirlaba. Beliau memiliki niat agar terori dana ini juga dapat dalam kegiatan bisnis. Tetapi
penerimaan atas teori ini di bidang tersebut sangat terbatas. Namun demikian, konsep
yang lebih luas tentang dana ini turut berkontribusi dalam theoretical framework terkait
dengan dikenalkannya laporan arus kas, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
laporan keuangan saat ini.
Meskipun pendapat Vatter kurang mendapat sambutan secara luas, namun
pendapatnya banyak dikuti oleh pendukung laporan dana, setidaknya secara implisit.

H. Commander Theory

Sudut Pandang Akuntansi

12

Teori ini digagas oleh Louis Goldberg (19081997), seorang penulis, peneliti, dan
pengajar akuntansi di Australia. Commander Theory diungkap Goldberg dalam bukunya
yang paling terkenal, An Inquiry into the Nature of Accounting (1965).
Goldberg berpendapat bahwa baik Teori Pemilik dan Teori Entitas yang didasarkan
pada kepemilikan, merupakan konsep yang sulit untuk didefinisikan dan dianalisis. Alihalih kepemilikan, ia percaya harus fokus pada kontrol ekonomi yang efektif atas sumber
daya. Menurut konsep teori ini, yang menjadi pusat perhatian dari penyajian informasi
akuntansi adalah bukan pada pemilik maupun entitas, melainkan pada pihak-pihak yang
memiliki kekuasaan atau wewenang untuk melakukan pengendalian ekonomi secara
efektif atas sumber daya perusahaan. Penekanan informasi menurut konsep teori ini
adalah terletak pada pertanggungjawaban atau stewardship, dengan kata lain bagaimana
pihak-pihak yang telah diberikan kepercayaan (commander) mengelola sumber daya
perusahaan yang dipercayakan tersebut.
Yang harus diperhatikan adalah fungsi kontrol ini hanya bisa dilakukan oleh
seseorang. Yang ditekankan dalam Teori Pemilik adalah hak milik, bukan pada kontrol atas
sumber daya. Kepemilikan merupakan hubungan hukum, sedangkan kontrol adalah fungsi
ekonomi. Pada dasarnya pemilik tunggal perusahaan adalah commander, dimana dapat
mengelola sumber daya perusahaan, yaitu, untuk mengarahkan, mengatur dan
memanipulasi sumber daya. Sedangkan dalam sebuah perusahaan besar, pemegang saham
adalah bagian pemilik perusahaan, tapi dia tidak menguasai sumber daya perusahaan.
Pengelolaan atas sumber daya perusahaan hirarkinya ada di tangan pimpinan, yang
disebut commander oleh Goldberg. Setiap manajer memiliki kontrol yang terbatas atas
beberapa sumber daya, dengan satu atau beberapa dari mereka memiliki perintah umum
atas semua sumber daya.
Neraca dan Laporan Laba-Rugi
Goldberg meyakini bahwa fungsi akuntansi yang dilakukan untuk dan atas nama
pimpinan (commander). Laporan keuangan oleh laporan dari pimpinan (commander)
untuk pimpinan (commander). Catatan akuntansi disimpan, laporan keuangan disusun, dan
laporan dianalisa oleh masyarakat atas nama masyarakat untuk kepentingan masyarakat.
Prosedur akuntansi dilakukan dari sudut pandang pimpinan (commander) perusahaan,
bukan pemilik atau entitas maupun dana.
Jika neraca disusun oleh dan atas nama pimpinan (commander) perusahaan, maka
pernyataan tersebut menunjukkan sumber dari mana pimpinan (commander) menerima
sumber daya, dan penggunaan dari sumber daya tersebut. Jadi, neraca lebih ke pernyataan
pertanggungjawaban daripada kepemilikan (pernyataan akuntabilitas). Neraca merupakan
laporan yang menunjukan sumber daya yang dipercayakan kepada commander dibawah
kendalinya, tetapi ia tidak memilikinya. Sedangkan, laporan laba rugi adalah penjelasan
Sudut Pandang Akuntansi

13

dari hasil kegiatan-kegiatan dalam periode tertentu oleh pimpinan (commander) dan
timnya, sesuai dengan sudut pandang mereka. Laporan ini menunjukkan jenis rinci
pengeluaran yang telah terjadi dan yang akan datang.
Akuntabilitas dan Commander Theory
Goldberg (1965) beralasan bahwa akuntabilitas adalah masalah penginformasian
yang harus diselesaikan melalui administrasi dan organisasi sumber daya di bawah
perintah seseorang. Dia menggambarkan alasan di balik prosedur ini sebagai akuntansi
commandership dan bahwa hasil dari perekaman peristiwa extemal dan intern merupakan
suatu gambaran kegiatan pimipinan (commander) yang mungkin memiliki didelegasikan
kepada orang lain dalam rantai hirarki komando. Mulgan (1997) sepakat bahwa pada
setiap titik dalam 'rantai akuntabilitas, pejabat bertanggung jawab kepada atasan langsung
mereka untuk kinerja mereka sendiri dan untuk kinerja orang lain di bawah mereka '.
Goldberg menyatakan bahwa laporan yang ditarik dari data keuangan tersebut
kemungkinan akan digunakan untuk menjawab pertanyaan pada tanggung jawab dan
kinerja pimpinan (commander. Misalnya: pendapatan apa yang telah telah diproduksi oleh
kegiatan pimpinan (commander); dan, apa yang telah menjadi hasil keuangan dari kegiatan
tersebut?
Implikasi praktek
Secara umum Commander Theory tidak memiliki efek langsung pada praktik
akuntansi sampai sekarang. Akan tetapi implikasi dari teori proprietary dan entity theory
tampak bertentangan sehingga commander theory bisa menjadi dasar untuk mensintesis
dan rasionalisasi penggunaan simultan prosedur dengan menekankan gagasan kontrol
ekonomi. Gagasan "kontrol" baru-baru ini menjadi penting dalam menentukan sifat aset
dan rekening yang entitas 'harus dimasukkan dalam laporan keuangan konsolidasi. Oleh
karena itu, dapat dilihat bahwa commander theory telah mendapatkan beberapa dukungan
dan pengaruh atas praktik akuntansi yang berlaku.

I. Teori Investor
Teori investor ditemukan oleh George J. Staubus. Berdasarkan tujuan akuntansi
yaitu memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus berpendapat bahwa fungsi
akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang investor. Investor
adalah pemegang saham dan kreditur. Persamaan akuntansi dalam teori ini adalah:
ASET = EKUITAS SPESIFIK + EKUITAS RESIDUAL

Sudut Pandang Akuntansi

14

Ekuitas spesifik terdiri dari utang (kewajiban) dan saham preferen. Dalam banyak
kasus, untuk perusahaan, ekuitas residual setara dengan ekuitas saham biasa. Hanya
dalam hal ekuitas saham biasa dihapuskan ekuitas saham preferen akan menjadi ekuitas
residual. Persamaan akuntansi ini mengungkapkan ketergantungan ekuitas residual pada
nilai-nilai aset dan ekuitas spesifik.
Investor menginginkan informasi untuk memprediksi penerimaan kas masa depan
sebagai hasil dari hubungan mereka dengan perusahaan tertentu. Staubus menyatakan
bahwa penerimaan kas masa depan investor bergantung pada:
1.

Kapasitas moneter perusahaan mengucurkan uang tunai. Ini berkaitan dengan


kepemilikan perusahaan akan uang tunai pada saat invesors berharap untuk dibayar.
Laporan keuangan dapat memberikan dasar untuk memprediksi jumlah kas masa
depan

2.

Kesediaan manajemen untuk membayar investor. Informasi tentang hal ini dapat
diperoleh secara tidak langsung dengan pengetahuan mengenai kebutuhan kas
perusahaan untuk penggantian maupun ekspansi, persyaratan utang, dll. Laporan
keuangan membantu investor memastikan kesediaan perusahaan untuk mengucurkan
uang tunai kepada mereka.

3.

Prioritas hukum atas klaim investor. Informasi pada faktor ketiga dapat diperoleh oleh
investor di luar laporan keuangan.

Teori Investor menekankan kebutuhan pengguna eksternal, khususnya, pemegang


saham. Meskipun teori kepemilikan juga termasuk pemegang saham, mereka dipandang
sebagai pemilik yang memiliki kekuatan lebih dari yang benar untuk perusahaan. Teori
Staubus melihat pemegang saham sebagai investor dengan sedikit kekuasaan
untuk menentukan apa yang terjadi di perusahaan, dan oleh karena itu, harus bergantung
pada laporan keuangan. Karena fokus terhadap investor, kebutuhan akan informasi arus
kas menjadi tepat.
J. Teori Perusahaan (Enterprise Theory)
Mengambil tulisan Peter Drucker, yang mengamati bahwa perusahaan besar adalah
suatu institusi dengan tanggung jawab sosial, Suojanen merumuskan Teori Perusahaan.
Teori ini memandang perusahaan sebagai lembaga sosial dimana keputusan yang dibuat
mempengaruhi beberapa pihak yang berkepentingan. Pihak tersebut adalah pemegang
saham, karyawan, kreditor, pelanggan, berbagai lembaga pemerintah, dan masyarakat.
Konsep perusahaan lebih luas daripada entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran
dalam masyarakat, sedangkan teori entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan
yang berusaha untuk memperoleh keuntungan. Suojanen berpendapat bahwa manajemen
Sudut Pandang Akuntansi

15

saat ini tidak menganggap dirinya hanya sebagai wakil dari pemegang saham, tetapi
sebagai pelindung perusahaan, bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup dan
pertumbuhan perusahaan. Dengan demikian, manajer melakukan fungsi meditatif diantara
berbagai pihak yang berkepentingan. Meskipun pemegang saham memiliki hak hukum
sebagai pemilik, dari sudut pandang perusahaan hak-hak mereka merupakan anak
perusahaan untuk organisasi dan kelangsungan hidupnya. Mereka yang menerima
penghasilan dari kontrak mereka dengan perusahaan, yaitu, pemegang saham, kreditur,
karyawan dan pemerintah, yang memiliki saham penting dalam kesejahteraan perusahaan,
dan dengan demikian perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap mereka, bukan hanya
pemegang saham. Tanggung jawab ini secara langsung dikaitkan dengan fungsi perusahaan
dengan memanfaatkan sumber daya moneter, manusia, dan material dalam produksi dan
proses distribusi, serta bermanfaat terhadap pihak yang menyediakan sumber daya.
Pandangan ini konsisten dengan konsep triple bottom line yang diadopsi oleh sejumlah
organisasi publik yang besar. Fokusnya adalah pada dampak sosial, ekonomi dan
lingkungan perusahaan, yang menarik berbagai pemangku kepentingan.
Keuntungan Nilai Tambah (Value-added Profit)
Sebagai lembaga sosial, perusahaan besar harus dievaluasi dari segi
tanggung jawabnya, seperti yang disebutkan sebelumnya, yang berhubungan dengan
output, karena ini adalah kontribusinya kepada masyarakat. Suojanen percaya bahwa
pendekatan nilai-tambah terhadap penghasilan adalah yang terbaik mengungkapkan
kontribusi ini. Idenya adalah menentukan nilai yang diciptakan oleh perusahaan dalam
suatu periode tertentu. Suojanen mengusulkan pernyataan tambahan untuk
mengungkapkan nilai-tambah penghasilan dan sumber atau distribusi antara para peserta
dari perusahaan. Pada tahun 1975, Accounting Steering Committee di Inggris
merekomendasikan bahwa perusahaan-perusahaan memasukkan laporan nilai tambah
sebagai data tambahan. Diperkirakan bahwa setidaknya seperlima dari perusahaan
terdaftar di Inggris sekarang menerbitkan laporan seperti itu.
Nilai tambah adalah suatu ukuran kinerja, ukuran nilai atau kekayaan yang
diciptakan oleh perusahaan pada suatu periode tertentu. Cara lain untuk melihat itu adalah
untuk mengatakan bahwa mengukur kinerja peserta dalam entitas; karyawan, penyedia
dana modal (pemegang saham dan kreditur), dan pemerintah yang secara kooperatif
berupaya untuk menciptakan kekayaan tambahan. Keuntungann dalam akuntansi
tradisional adalah ukuran kekayaan diciptakan untuk kepentingan pemegang saham. Hal
ini merupakan hasil bottom line yang diperoleh para pemegang saham. Pendekatan nilai
tambah memandang pendapatan sebagai hasil dari upaya kerja sama dari sejumlah
peserta. Morley berpendapat bahwa konsep nilai tambah ini menjadi semakin penting
karena mencerminkan perubahan sosial.

Sudut Pandang Akuntansi

16

Bagaimana seharusnya nilai tambah dapat dihitung? Ekonom memandang nilai


tambah terutama dalam hal penentuan pendapatan nasional, dan karena itu, akuntan
melihatnya dengan cara yang berbeda. Misalnya, ekonom akan memulai dengan total
output pada harga penjualan, sedangkan akuntan paling suka menggunakan angka
penjualan, karena ini merupakan hal dimana pelanggan bersedia membayar untuk output
perusahaan. Tidak ada prinsip-prinsip yang berlaku umum untuk pernyataan nilai tambah,
oleh karena itu, ada perbedaan.
Nilai tambah harus mewakili jumlah kekayaan yang diciptakan oleh entitas
selama periode yang diberikan. Tetapi nilai penjualan tidak dibuat sepenuhnya oleh
peserta dari perusahaan, karena sebagian sudah diproduksi oleh perusahaan lain dan
ditransfer ke perusahaan. Oleh karena itu, jumlah barang dan jasa yang dibeli dari
perusahaan lain, dan digunakan, dipotong untuk mencapai nilai tambah (value-added ).
Salah satu isu kontroversial adalah apakah pengurangan ini harus mencakup beban
penyusutan. Banyak yang percaya bahwa itu harus dikeluarkan, karena jumlahnya yang
diperkirakan dan pemasukannya. Oleh karena itu akan mengurangi objektivitas dan
keyakinan dalam gambaran nilai tambah. Jika penyusutan dikecualikan, maka akan
ditambahkan di bawah judul distribusi ke perusahaan untuk penggantian dan ekspansi.
Kebanyakan perusahaan di Inggris mengecualikan depresiasi dari bahan, perlengkapan,
dan jasa yang digunakan.
Ini adalah pendekatan kotor, mirip dengan Produk Nasional Bruto, sebagai
lawan pendekatan bersih, yang mirip dengan Laba Bersih nasional. Contohnya meliputi
depresiasi dalam pengurangan untuk sejumlah alasan. Salah satunya adalah bahwa
pengecualian yang memberikan kesan bahwa nilai dibuat tanpa manfaat dari pabrik dan
peralatan yang dibeli dari perusahaan lain dan oleh karena itu, agar konsisten dengan
gagasan nilai yang diciptakan hanya oleh perusahaan, biaya bagian yang digunakan harus
dikurangi. Mengurangkan depresiasi dan barang lain dan jasa yang dibeli dari perusahaan
lain, dan digunakan selama periode tersebut, konsisten dengan prinsip akrual dan
pencocokan. Meskipun penyertaan penyusutan dalam pengurangan dari nilai penjualan
tidak mengurangi objektivitas angka nilai tambah, tanpa penyusutan tersebut dapat
menyesatkan kesimpulan yang dibuat.
Nilai tambah dibagi antara penyedia dana modal, karyawan, pemerintah,
dan perusahaan itu sendiri. Perusahaan menginvestasikan kembali semua penghasilan
yang dipertahankan untuk tujuan kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan, dan
dengan demikian bermanfaat bagi semua pihak. Pernyataan nilai-tambah menunjukkan
aliran barang yang dijual, kontribusi perusahaan kepada masyarakat, diimbangi dengan
aliran pendapatan dalam arah yang berlawanan ke berbagai penerima. Nilai penjualan
perusahaan adalah pendapatan ke sejumlah pihak di masyarakat.

Sudut Pandang Akuntansi

17

Implikasi
Teori Perusahaan adalah pelopor dari konsep akuntansi sosial, dimana laporan laba
rugi sosial adalah turunannya. Sudut pandangnya adalah dari kelompok peserta yang
memperoleh pendapatan melalui usaha gabungan mereka di perusahaan. Sudut pandang
ini berfokus pada kebutuhan bagi mereka peserta untuk bekerja sama jika perusahaan
ingin bertahan dan terus menciptakan penghasilan bagi mereka. Meskipun Teori
Perusahaan bertentangan dengan pandangan tradisional bahwa pendapatan bisnis untuk
pemilik, ini mungkin teori dimana waktu yang akan menjawabnya.
Konsep Nilai Deprival
Menurut Steering Comittee on National Performance Monitorung of Government
Trading Enterprises (GTEs) dengan laporan yang berjudul Panduan tentang Kebijakan
Akuntansi untuk Penilaian Aset Usaha Perusahaan Perdagangan Pemerintah Menggunakan
Metode Penilaian Saat Ini (Current Valuation), semua aset non-keuangan GTEs harus diukur
dengan menggunakan konsep 'nilai devripal'. ini merupakan permulaan yang signifikan
dari pelaporan menggunakan biaya historis tradisional.
Dalam konsep nilai deprival, aset dinilai dari jumlah yang mewakili kerugian yang
mungkin terjadi yang harus dikeluarkan oleh suatu entitas jika entitas kehilangan potensi
jasa atau manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut pada tanggal pelaporan.
Sehingga nilai entitas dalam banyak kasus akan diukur oleh biaya penggantian jasa atau
manfaat saat ini yang diwujudkan dalam bentuk aset, mengingat bahwa nilai deprival
biasanya akan mewakili biaya dihindari sebagai akibat dari pengendalian aset dan biaya
penggantian merupakan jumlah kas yang dibutuhkan untuk memperoleh aset setara atau
identik. Dalam kasus di mana dinyatakan bahwa aset tidak dapat diganti, aset harus dinilai
pada nilai bersih sekarang (net present value) dari arus kas yang diharapkan dari
penggunaan terus menerus dan pembuangan selanjutnya dari aset.
Pernyataan praktik akuntansi dalam SAP 1 Current Cost Accounting pertama kali
dikeluarkan oleh CPA Australia dan lembaga akuntan di Australia pada Oktober 1976 dan
didasarkan pada nilai-nilai deprival konsep. menurut ayat 177 dari laporan Steering
Committee, konsep nilai deprival diuraikan dalam SAP 1 harus diadopsi hanya dalam
kaitannya dengan pengukuran aset non-moneter fisik.
K. KONSEP ENTITAS PELAPORAN
Dengan terbitnya Australian Accounting Standards Board (AASB) 1025 Penerapan
Konsep Entitas Pelaporan Dan Amandemen Lainnya pada Juli 1991 membawa era baru
dalam peraturan akuntansi di Australia.
Sudut Pandang Akuntansi

18

AASB 1025 memperkenalkan konsep pelaporan diferensial. Dampak dari standar ini
adalah untuk menciptakan dua tingkat pelaporan untuk entitas, satu untuk entitas
pelaporan dan lainnya untuk entitas non-pelaporan. Tujuan utama AASB 1025 adalah
untuk mengubah semua standar AASB yang ada untuk membatasi aplikasi untuk:
1.

Entitas pelaporan, atau

2.

Entitas yang tidak perlu membuat laporan, tetapi mempersiapkan laporan keuangan
yang dimaksudkan untuk menjadi laporan keuangan untuk tujuan umum.

Akibatnya, perusahaan yang tidak termasuk dalam definisi di atas tidak wajib
menerapkan standar akuntansi AASB dalam menyajikan laporan keuangan.
Meskipun tidak ada padanan internasional untuk AASB 1025, konsep pelaporan
diferensial telah diabadikan dengan dimasukkannya klausul aplikasi Australia-spesifik
berikut dalam standar baru. Standar ini berlaku untuk:
1.

Setiap entitas yang perlu untuk mempersiapkan laporan keuangan sesuai dengan
bagian 2M.3 dari UU Korporasi

2.

Laporan keuangan bertujuan umum dari setiap entitas pelaporan, dan

3.

Laporan keuangan yang, atau yang dimiliki untuk menjadi, laporan keuangan
bertujuan umum.

Standar akuntansi oleh karena itu harus diterapkan dalam laporan keuangan
perusahaan publik dan perusahaan kepemilikan besar, laporan keuangan bertujuan umum
dari laporan entitas dan laporan keuangan bertujuan umum dari entitas non pelaporan.
Entitas pelaporan didefinisikan dalam IFRS 3/AASB 3 Bussiness Combination sebagai:
Entitas adalah hal yang masuk akal untuk mengharapkan adanya pengguna yang
bergantung pada laporan keuangan untuk tujuan umum entitas untuk informasi yang
akan berguna bagi mereka untuk membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai
alokasi sumber daya. entitas pelaporan dapat bersifat tunggal atau kelompok yang
terdiri dari induk dan semua anak perusahaan nya
Oleh karena itu, faktor kunci dalam menentukan apakah suatu entitas pelaporan ada
adalah apakah tidak ada pengguna yang bergantung pada laporan keuangan yng bertujuan
umum dari sebuah entitas tertentu sebagai dasar untuk membuat dan mengevaluasi
keputusan tentang alokasi sumber daya. Dalam banyak kasus, ini akan menjadi jelas.
Namun, dalam kasus di mana keberadaan atau ketidakberadaan tidak jelas, SAC 1 Definisi
dari Entitas Pelaporan menyarankan beberapa indikator yang dapat digunakan dalam
menentukan apakah suatu entitas pelaporan ada, termasuk:
Sudut Pandang Akuntansi

19

1.

Pemisahan manajemen dari kepentingan ekonomi (paragraf 20)

2.

Ekonomi atau politik penting/berpengaruh

3.

Karakteristik keuangan

Panduan lebih lanjut dinyatakan dalam Australian Professional Statement APS 1


Kesesuaian dengan standar akuntansi dan pandangan konsensus UIG. Menurut paragraf 16
APS1, jenis entitas berikut selalu menunjukkan karakteristik pelaporan entitas:
1.

Perusahaan yang sekuritasnya tercantum di bursa

2.

Perusahaan menggalang dana dari masyarakat

3.

Federal, Negara Bagian, dan Pemerintahan Teritori

4.

Pemerintah daerah

Sebaliknya, sesuai dengan paragraf 18 dari APS 1, jenis entitas berikut sering tidak
menunjukkan karakteristik entitas pelaporan dan, oleh karena itu, umumnya tidak
diharuskan untuk menyiapkan laporan keuangan bertujuan umum.
1. perusahaan berkepemilikan bebas
2. Family Trust
3. Partnership
4. Pedagang tunggal
5. Anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Entitas Pelaporan Australia
Ini hanya contoh dan klasifikasi entitas tertentu tergantung pada keadaan di sekitar
entitas tersebut. Klasifikasi ini juga dapat berubah seiring waktu.
Ketika memutuskan apakah suatu entitas pelaporan ada, penting untuk
mempertimbangkan apakah setiap pengguna laporan keuangan dapat memerintah
penyusunan laporan keuangan dan pada saat diminta, daripada mengandalkan laporan
keuangan untuk tujuan umum dari suatu entitas.
Standar AASB sekarang didasarkan pada campuran sudut pandang yang berkaitan
dengan baik biaya historis dan prinsip-prinsip nilai saat ini. Namun, perspektif yang
mendasari adalah pandangan entitas, di mana entitas pelapor adalah entitas yang berbeda
dan berdiri sendiri, terpisah dari pandangan individu, aset dan kewajiban dari pemilik. ini
berarti bahwa dalam lingkungan pelaporan Australia, pandangan entitas mendominasi.

Sudut Pandang Akuntansi

20

Entitas Pelaporan dalam SAP


Istilah entitas pelaporan masuk dalam khasanah perundang-undangan melalui
penjelasan pasal 51 ayat (2) dan ayat (3) dari UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang
perbendaharaan Negara, yang berbunyi: tiap-tiap kementerian negara/lembaga merupakan
entitas pelaporan yang tidak hanya wajib menyelenggarakan akuntansi, tetapi juga wajib
menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
Berangkat dari ketentuan hukum di atas, maka dalam standar akuntansi
pemerintahan (SAP) dibakukan dan dipertegas eksistensi Entitas Pelaporan dan Entitas
Akuntansi, yang masing-masing menurut alur pikir proses dan dari sudut pandang profesi
diberi batasan sebagai berikut:
a. Entitas Pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas
akuntansi yang menurut ketentuan peraturan penrundang-undangan wajib
menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
b. Entitas Akuntansi adaah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang
dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan
keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.

L. KESIMPULAN
Konsep akuntansi saat ini telah dibangun oleh berbagai perspektif yang
berkembang dan mendasari perkembangan akuntansi itu sendiri. Menurut teori
kepemilikan Littleton, Kepemilikan adalah substansi dari sistem pencatatan berpasangan.
Lain halnya dengan teori kepemilikan, terdapat pula teori entitas. Teori ini dimulai dengan
fakta bahwa korporasi adalah entitas yang terpisah dengan identitas sendiri. Teori entitas
dirumuskan dalam rangka menanggapi kekurangan dari pandangan eksklusif tentang
perusahaan. Teori dana, William Vatter, telah mengusulkan pandangan teoritis yang
berfokus pada sebuah dana pribadi daripada kepemilikan. Teori eksklusif ini mengambil
sudut pandang pemilik, dan teori entitas mengambil sudut pandang entitas. Vatter percaya
bahwa pandangan pribadi mengarah ke interpretasi yang spesifik dan metode penilaian
yang baik. Goldbert melalui teori commander berpendapat bahwa baik kepemilikan dan
teori entitas didasarkan kepemilikan, yang merupakan konsep yang sulit untuk
didefinisikan dan dianalisis. Teori investor dibangun berdasarkan tujuan akuntansi
memberikan informasi kepada pemasok modal, Staubus berpendapat bahwa fungsi
akuntansi dan laporan keuangan harus mengambil sudut pandang investor. Sedangkan
Teori perusahaan/enterprise menyatakan bahwa konsep perusahaan lebih luas daripada
Sudut Pandang Akuntansi

21

entitas, karena melihat perusahaan memiliki peran dalam masyarakat, sedangkan teori
entitas memandang perusahaan sebagai sebuah badan yang berusaha untuk memperoleh
keuntungan.

DAFTAR REFERENSI
Godfrey, Jayne. 2006. Accounting Theory. Edisi keenam. Jons Wiley and Sons:
Australia.
Artikel Makalah Sudut Pandang Akuntansi, dengan alamat :
http://wahbranz.wordpress.com/2012/12/18/makalah-sudut-pandang-akuntansi/,
diakses tanggal 4 November 2014.

Sudut Pandang Akuntansi

22