Anda di halaman 1dari 6

Sekitar abad 1516, di kesultanan Deli lama lahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri

Hijau. Legenda ini sampai sekarang masih dikenal dikalangan orang-orang Deli dan malahan
juga dalam masyarakat Melayu di Malaysia. Legenda ini ada dalam dua versi, yaitu versi
Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo
Versi melayu:
konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa Siberaya, dekat hulu sungai
Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan yang berkilau dan menjadi
kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga bagian utara pulau Jawa. Ia
kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri memiliki dua saudara laki-laki
yaitu bernama Mambang Yazid dan Mambang khayali.
Sang Puteri bersama kedua saudaranya menetap di sebuah perkampungan yang sekarang dikenal
dengan nama Deli Tua. Di sini, para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan
demikian, negeri itu cepat makmur.
Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika
mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang
Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan
membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga
jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat
kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.
Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglimapanglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan
uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak
terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya.
Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan
mudah menguasai benteng.
Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu
Mambang khayali menjelma menjadi sepucuk meriam yang terus menembaki tentara Aceh. Tapi
karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar, dan terputus
dua. Bagian moncongnya tercampak ke Desa Sukanalu Simbelang, Kecamatan Barusjahe.
Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di halaman Istana Maimoon
Medan.
Sisa pecahan meriam itu hingga saat ini ada di tiga tempat, yakni di Istana Maimoon, di
Desa Sukanalu (Tanah Karo) dan di Deli Tua (Deli Serdang).
Melihat situasi yang tak menguntungkan, Mambang Yazid, saudara Sang Puteri lainnya,
menjelma menjadi seekor ular naga dan kemudian menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya
dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan (Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan
langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni
sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.

Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia
ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya
dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu
upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan
berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur
Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul
gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular naga, yang
dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke
dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala.
Kabarnya, setelah Putri Hijau di bawa pergi oleh Saudaranya yang menjelma menjadi Ular naga.
Sang raja Aceh membawa sebagian hartanya dan orang orang kepercayaannya. Namun, saat sang
Raja pulang. Sang Raja Aceh tidak membawa harta dan para prajurit pilihannya.

Pecahan Meriam Buntung disimpan di Istana Maimoon disimpan di rumah ala Karo yang
terdapat di halaman sebelah kanan istana Maimoon. Kenapa dibangun sebuah rumah Karo, itu
karena leluhur raja-raja Deli memiliki darah Batak Karo juga selain darah dari India.

Abad 15 dan 16 adalah periode paling berdarah di zona dataran rendah Aceh, Sumatera Timur,
dan semenanjung Malaysia. Empat kerajaan saling bantai, berkonspirasi, dan saling
menaklukkan untuk memperebutkan kekuasaan pada zona perdagangan internasional yang kini
dikenal dengan Selat Malaka. Di tengah kecamuk perebutan kue ekonomi itu, pada tepian sungai
Delitepatnya sekitar 9 km dari Labuhan Delilahirlah sebuah legenda klasik bernama Puteri
Hijau.
Legenda Sang Puteri yang selalu digambarkan dengan segala kosa kata kecantikan, bertahan
hingga kini dalam dua versi. Versi pertama berasal dari catatan sejarah yang mirip cerita lisan
yang berkembang di masyarakat Melayu Deli. Versi kedua adalah hikayat dari masyarakat Karo.
Keduanya bertentangan dan kelihatan sekali saling berlomba menonjolkan identitas dan ego suku
masing-masing.
Dari versi lisan Melayu, konon pernah lahir seorang puteri yang sangat cantik jelita di desa
Siberaya, dekat hulu sungai Petani (sungai Deli). Kecantikannya memancarkan warna kehijauan
yang berkilau dan menjadi kesohor ke berbagai pelosok negeri, mulai dari Aceh, Malaka, hingga
bagian utara pulau Jawa. Ia kemudian dinamai Puteri Hijau. Dalam hikayatnya, Sang Puteri
memiliki dua saudara kembar yang dipercaya adalah seekor naga bernama Ular Simangombus
dan sebuah meriam bernama Meriam Puntung.
Alkisah, Ular Simangombus memiliki selera makan yang luar biasa. Ia digambarkan seakan tidak
pernah kenyang. Rakyat Siberaya akhirnya tidak sanggup lagi menyediakan makanan untuk naga
ini, sehingga Sang Puteri bersama kedua saudaranya memutuskan pindah ke hilir sungai dan
menetap di sebuah perkampungan baru yang sekarang dikenal dengan nama Deli Tua. Di sini,
para pengikutnya membangun benteng yang kuat. Dengan demikian, negeri itu cepat makmur.
Kecantikan Sang Puteri yang menyebar seperti kabar burung ke segala penjuru, suatu ketika
mendarat di telinga Raja Aceh. Ia lantas kepincut dan mengirim bala tentara untuk meminang
Puteri Hijau. Utusan langsung dikirim. Pantun bersahut-sahutan. Tapi pinangan ini ditolak dan
membuat Raja Aceh betul-betul dilanda murka. Ia merasa diri dan kerajaannya dihina sehingga
jatuhlah perintah untuk segera menyerang benteng Puteri Hijau. Tapi karena bentengnya sangat
kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.
Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglimapanglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan
uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak
terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya.
Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang logam, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan
mudah menguasai benteng.
Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu
Meriam Puntung. Tapi karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak,
terlontar, dan terputus dua. Bagian moncongnya tercampak ke Desa Sukanalu Simbelang,

Kecamatan Barusjahe. Sedangkan bagian sisanya terlontar ke Labuhan Deli, dan kini ada di
halaman Istana Maimoon Medan.
Melihat situasi yang tak menguntungkan, Ular Simangombus, saudara Sang Puteri lainnya,
menaikkan Puteri Hijau ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan
(Jalan Puteri Hijau), memasuki sungai Deli, dan langsung ke Selat Malaka. Dan hingga sekarang
kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.
Namun sebuah anak legenda menyebutkan bahwa Puteri Hijau sebenarnya sempat tertangkap. Ia
ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya
dibawa ke Aceh. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu
upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Atas permintaannya, ia diberikan
berkarung-karung beras dan beribu-ribu telur.
Tetapi baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat, disusul
gelombang yang tinggi dan ganas. Dari perut laut muncul jelmaan saudaranya, Ular
Simangombus, yang dengan rahangnya mengambil peti tempat adiknya dikurung. Lalu Puteri
Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan pulau Berhala. Menurut cerita
ini, saudara-saudara Puteri Hijau adalah manusia-manusia sakti yang masing-masing bisa
menjelma menjadi meriam dan naga. Memang, cerita lisan selalu mewariskan banyak versi
sesuai selera masing-masing penceritanya.
Kabarnya, setelah di bawa pergi oleh Saudaranya, Ulat Simangombus. Sang raja Aceh membawa
sebagian hartanya dan orang orang kepercayaannya. Namun, saat sang Raja pulang. Sang Raja
Aceh tidak membawa harta dan para prajurit pilihannya.
Malah, suatu malam meriam puntung itu pernah membuat keajaiban. Tepatnya 5
November 1995 sekira pukul 02.00 pagi. Ketika itu, meriam itu keluar dari tempat
persemayamannya. Dan tidak diketahui keluar dari mana. "Soalnya, tempat
persemayaman itu dikunci. Sementara jerjak ruangan tidak ada yang rusak," kata
juru kunci itu bernada tak kalah heran.
Akhirnya, meriam puntung yang sudah tergeletak di tengah jalan di depan lokasi
persemayamannya itu dibawa masuk kembali oleh para kerabat istana Maimon.

MENURUT cerita, pada zaman dahulu tepatnya pada tahun 1612 lalu, berdirilah
sebuah Kerajaan yang bernama Aru Baru, (sekarang Deli Tua).
Kerajaan ini dipimpin oleh tiga bersaudara Mambang Diyazid, Putri Hijau dan
Mambang Sakti (Khayali). Ketika itu, Putri Hijau dilamar oleh petinggi kerajaan Aceh
yang pada masa itu kerajaan Aceh tersebut dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda.
Namun, lamaran tersebut ditolak mentah-mentah oleh pihak Kerajaan Aru Baru.
Akhirnya penolakan itu pun berbuntut peperangan hebat. Kekalahan pun terjadi di
pihak Kerajaan Aru Baru.
Pada saat bersamaan dengan kekalahan itu, sebuah meriam buatan Portugis terus
menerus meletus tiada hentinya. Uniknya, tiada pula satu orang pun yang
menyalakan meriam tersebut.
Karena terus menerus meletus dan terasa kian panas, akhirnya meriam itupun
pecah, yang salah satu pecahannya tercampak hingga ke Tanah Karo. Dan sampai
saat ini masih berada di Tanah Karo.
"Berdasarkan cerita, roh Mambang Sakti menitis ke dalam tubuh meriam buatan
Portugis itu. Makanya meriam itu terus menerus meletus hingga akhirnya pecah dan
kemudian diberi julukan meriam puntung," kata juru kunci meriam puntung itu.
Sementara Putri Hijau, dikabarkan menghilang dibawa oleh abangnya Mambang
Diyazid yang dikabarkan karena kesaktiannya berubah menjadi seekor naga yang
sampai kini tidak diketahui keberadaannya.
Mengenai kisah meriam puntung ini selanjutnya, sebagai penghormatan terhadap
Kerajaan Aru Baru yang sudah takluk, panglima kerajaan Aceh senantiasa
membawa meriam puntung tersebut dan kemudian dijadikan kenang-kenangan
perang.
Hingga panglima perang Aceh itupun akhirnya berhasil mendirikan kerajaan sendiri
yang diberi nama Kerajaan Deli. "Hingga kini banyak orang yang menganggap
meriam puntung itu keramat," cetus juru kunci.
Malah, suatu malam meriam puntung itu pernah membuat keajaiban. Tepatnya 5
November 1995 sekira pukul 02.00 pagi. Ketika itu, meriam itu keluar dari tempat
persemayamannya. Dan tidak diketahui keluar dari mana. "Soalnya, tempat
persemayaman itu dikunci. Sementara jerjak ruangan tidak ada yang rusak," kata
juru kunci itu bernada tak kalah heran.

Akhirnya, meriam puntung yang sudah tergeletak di tengah jalan di depan lokasi
persemayamannya itu dibawa masuk kembali oleh para kerabat istana Maimon.
Berkaitan dengan keberadaan tiga bersaudara yang sama sekali tidak memiliki
hubungan darah dengan kesultanan deli itu, pihak kerabat kesultanan deli mengaku
tidak tahu persis tentang dan bagaimana keberadaan ketiganya. Hanya saja,
kenyataan dan fakta-fakta sejarah seperti pemandian Putri Hijau yang berada di
daerah Pama, Deli Tua merujuk jika ketiganya pernah ada.