Anda di halaman 1dari 17

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Polimer
Polimer merupakan molekul besar yang terbentuk dari unit unit berulang
sederhana. Nama ini diturunkan dari bahasa yunani poly, yang berarti banyak dan mer,
yang berarti bagian. Makromolekul merupakan istilah yang sinonim dengan polimer.
Polimer sintetis dari molekul molekul sederhana yang disebut monomer (bagian
tunggal). Sebagaimana telah disebutkan, bahwa istilah polimer dihubungkan dengan
molekul molekul yang strukturnya bergantung pada monomer atau monomer
monomer yang dipakai dalam preparasinya. Jika hanya ada beberapa unit monomer yang
bergabung bersama, polimer dengan berat molekul rendah yang terjadi, disebut oligomer
(bahasa yunani oligos beberapa). Karena semua polimer sintetis dipreparasi melalui
monomer monomer yang terikat bersama, maka beberapa unit kimia akan berulang
sendiri terus menerus (Stevens, 2001).
Contoh contoh yang tak terhitung dari polimer sintetis yang bisa dicatat,
beberapa diantaranya dikenal sehari hari, antara lain seperti esoterik : serat serat
tekstil poliester dan nilon, serta poliamida berkekuatan tinggi untuk rompi tahan peluru
yang ringan, plastik polietilen untuk botol susu, plastik poliuretan untuk jantung buatan,
karet untuk ban mobil, elastomer fosfazena terfluorinasi yang masih bersifat fleksibel
dilingkungan kutub utara (Stevens, 2001).
Polimer yang memiliki kestabilan termal dan oksidasi istimewa, dipakai dalam
aplikasi aplikasi aerospace berkinerja tinggi. Plastik plastik teknik polimer yang
dirancang untuk menggantikan logam. Serat aromatik berkekuatan tinggi, yang
didasarkan pada teknologi kristal cair digunakan dalam berbagai aplikasi dari mulai
kawat, ban sampai kabel kabel untuk menjangkarkan platfom platfom pemboran
minyak lepas pantai (Stevens, 2001).

Universitas Sumatera Utara

2.2. Termoplastik Elastomer


Termoplastik membutuhkan panas agar dapat mudah terbentuk, termoplastik
dapat terbentuk pada saat panas ataupun dingin dan dapat mempertahankan bentuk
mereka saat keadaan panas ataupun dingin. Bahan-bahan ini dapat dipanaskan dan
direformasi menjadi bentuk baru dalam beberapa waktu tanpa mengalami perubahan
yang signifikan dari sifat mereka. Termoplastik sebagian besar terdiri dari rantai panjang
atom karbon yang terikat bersama ikatan kovalennya. Terkadang atom nitrogen, oksigen
atau sulfur juga terikat secara kovalen dalam rantai molekuler utamanya. Kelompok atom
tersebut akan terikat secara kovalen dengan rantai atom utama (Smith, 2004).
Termoplastik elastomer menujukan sifat fungsional dari bahan elastomer
konvensional dan dapat diproses dengan mesin pengolahan termoplastik. Bahan tersebut
memiliki morfologi fase hetero dan dapat di produksi baik sebagai kopolimer blok atau
sebagai kopolimer campuran, domain dari termoplastik elastomer menjalin pemisahan
pada suhu yang tinggi. Hal ini dapat memungkinkan untuk mengalir, kekerasan yang
domain lagi didapatkan saat menurunkan suhu. Sifat kekuatan pada suhu layanan karena
itu ditingkatkan, bidang termoplastik elastomer berdasarkan karet-karet plastik campuran
telah tumbuh

besar,

memberikan

dua kelas tingkat

densitas

yang

berbeda

(Nakason, 2006).
Termoplastik elastomer semakin populer karena mempunyai beberapa kelebihan
diantaranya adalah memperoleh sifat yang dikehendaki berdasarkan kegunaan akhir, serta
meningkatkan sifat tertentu, memperoleh sifat yang tidak terdapat di alam polimer
tunggal serta memiliki kelebihan apabila digunakan dalam keadaan servis. Walau
bagaimanapun, kelebihan dari segi ekonomi yang diperoleh melalui teknologi ini, di
mana bahanbahan ini mempunyai sifat sifat yang dikehendaki tetapi dengan biaya yang
rendah merupakan faktor utama dalam perkembangannya. Berbagai jenis campuran
polimer yang semakin mendapat perhatian seperti campuran elastomerelastomer,
plastikplastik dan elastomer termoplastik karena ciriciri pemprosesannya yang sama
seperti termoplastik dan sifat tekniknya yang sama seperti elastomer tervulkanisir.
Penggunaan elastomer yang murah dan termoplastik yang mahal akan menghasilkan

Universitas Sumatera Utara

pengurangan dari segi biaya dan bahan, disamping itu dapat meningkatan beberapa sifat
mekanik seperti kekuatan impak dan sifat sifat lainnya (Hoffman,1989).
Termoplastik elastomer yang dalam kasus ideal adalah menggabungkan sifat
elastomer dengan sifat pengolahan termoplastik. Kombinasi ini dapat diperoleh melalui
kehadiran simultan yang lembut, elastis segmen yang memilili sifat yang mudah
renggang dengan cukup tinggi dan suhu transisi yang rendah (nilai Tg) dan kepekaan
asosiasi (ikat silang). Segmen keras dan lunak harus terdinamika yang bertentangan satu
sama lain sehingga mereka tidak dapat menembus satu sama lain, tetapi dapat bertindak
sebagai fase individul

(Hoffman, 1989).

Pada umumnya termoplastik elastomer merupakan material yang mengandung


bagian lunak (soft) yang mempunyai suhu transisi glass (Tg) rendah, dan bagian kaku
(rigid) yang mempunyai suhu leleh (Tm) atau Tg tinggi. Atau dengan kata lain,
termoplastik elastomer mempunyai sifat dan fungsi yang mirip dengan karet vulkanisasi
pada suhu ambien, namun dapat dilelehkan seperti termoplastik pada suhu tinggi.
Karakteristik yang unik tersebut membuatnya sangat berguna dan menarik sebagai
alternatif dari elastomer konvensional dalam berbagai aplikasi dari pasar seperti, industri
otomotif (Hoffman. 1989).
Segmen yang berbeda dapat hadir baik dalam molekul yang sama, sebagian
segmen makromolekul, atau dari distribusi fase mikro heterogen dari termoplastik dari
plastik. Ini berarti bahwa termoplastik merupakan bagian yang ditandai dari komposisi
kimia nya, tetapi menurut perilaku morfologi nya, konsep termoplastik elastomer dapat
digambarkan dengan keadaan agregasi dari sebagian material nya yang ditandai dengan
tarik ulur yang tinggi dan ikat silang. Diatur dalam konfigurasi statistik nya anatara
elemen elastomer nya, ini lebih labil dibandingkan ikat silangnya (Hofmann,1989).
Termoplastik elastomer adalah kelas polimer yang menggabungkan sifat
pengolahan dari termoplastik dengan kinerja fungsional dari elastomer konvensional.
Selama empat dekade terakhir ini perkembangan elastomer termoplastik telah
mendapatkan banyak perhatian dalam bidang polimer dan teknologi. Sekarang ini

Universitas Sumatera Utara

termoplastik elastomer merupakan salah satu kelas termoplastik polimer paling komersial
(Pongdhorn, 2009).
Diantara perkembangan yang menarik di dalam penyelidikan yang melibatkan
bahan termoplastik dan karet alam adalah dengan penemuan bahan yang dikenali sebagai
termoplastik elastomer, yang mana merupakan kopolimer blok yang mempunyai sifat
elastik dari suhu kamar sampai kira kira 70 0C. Termoplastik elastomer dapat diproses
seperti termoplastik konvensional tanpa perlu dilakukan proses vulkanisasi. Sifat elastik
ini disebabkan sifat ikatan silang fisik yang dihasilkan dari pada daya antara molekul
seperti ikatan hidrogen. Ikatan ikatan ini akan terputus apabila termoplastik elastomer
dipanaskan melebihi suhu tertentu dan terbentuk kembali apabila didinginkan
(Pongdhorn, 2009).

2.3. Plastik
Plastik adalah bagian terpenting dari kehidupan sehari-hari, produk yang terbuat
dari plastik dapat berupa produk canggih seperti tempat untuk makanan sekali pakai
ataupun yang dapat berulang kali dipakai. Salah satu alasan untuk penggunaan plastik
dalam berbagai aplikasi industri adalah karena berbagai luar biasa dari sifat-sifat yang
diberikan oleh plastik dan kemudahan dalam proses pengolahannya. Properti plastik
dapat disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan spesifik dengan memvariasikan perubahan
atom struktur nya dikarenakan berbagai fleksibilitas yang sebagaimana telah diatur oleh
kehadiran dari sisi jaringan yang bercabang, dimana panjang dan polaritas rantai sisi
dengan menyesuaikan tingkat bagian dari kristalinitas yang dapat didefenisikan sebagai
jumlah

orintasi

yang

diberikan

dari

plastik

selama

prosesing

dan

melalui

kopolimerisasian campuran antara plastik dengan campuran yang lain dengan melalui
modifikasi dengan jajaran aditif (pengisi, serat, formulasinya dan stabilisator nya)
(Harper, 2000).
Bahan pembuat plastik pada mulanya adalah minyak dan gas sebagai sumber
alami, tetapi di dalam perkembangannya bahan-bahan ini digantikan dengan bahan
sintesis sehingga dapat diperoleh sifat-sifat plastik yang diinginkan dengan cara

Universitas Sumatera Utara

kopolimerisasi, laminasi dan ekstruksi. Komponen utama plastik sebelum membentuk


polimer adalah monomer yang merupakan bagian atau rantai paling pendek. Misalnya
plastik polivinil klorida mempunyai monomer vinil klorida. Di samping bahan dasar
berupa monomer plastik, maka terdapat bahan-bahan tambah non plastik atau bahan aditif
yang diperlukan untuk memperbaiki sifat-sifat plastik. Bahan-bahan aditif dalam
pembuatan plastik ini merupakan bahan dengan berat molekul rendah, yaitu berupa
pemeastis, antioksidan, antiblok, antistatis, pelumas, penyerap sinar ultraviolet, bahan
pengisi dan penguat (Harper, 2000).

Plastik dibagi menjadi dua klasifikasi utama berdasarkan pertimbangan


pertimbangan ekonomis dan kegunaanya yaitu plastik komoditi dan plastik teknik. Plastik
komoditi dicirikan oleh volume nya yang tinggi dan harga yang murah, plastik ini bisa
diperbandingkan dengan baja dan aluminium dalam industri logam. Mereka sering
dipakai dalam bentuk barang yang bersifat pakai-buang (disposable) seperti lapisan
pengemas, namun ditemukan juga berdasarkan pemakaiannya dalam barang-barang yang
tahan lama. Plastik teknik lebih mahal harga nya dan volume nya lebih rendah, tetapi
memiliki sifat mekanik yang unggul dan daya tahan yang lebih baik. Mereka bersaing
dengan logam, kramik dan gelas demgan berbagai aplikasi nya (Stevens, 2001).
Plastik komoditi pada prinsipnya terdiri dari empat jenis polimer utama:
polietilen, polipropilena, polivinilklorida, dan poliester. Polietilena dibagi menjadi
produk massa jenis rendah (<0,94 g/cm3) dan produk massa jenis tinggi (>0,94 g/cm3).
Plastik-plastik komoditi mewakili sekitar 90% dari seluruh produksi termoplastik, dan
sisa nya terbagi di antara kopolimer sirena butadiena, kopolimer akrilonitril-butadienastirena (ABS), poliamida dan poliester. Hampir semua plastik yang telah disebutkan
sejauh ini merupakan termoplastik (Stevens, 2001).
Polietilen adalah polimer dari monomer etilen yang dibuat dengan proses
polimerisasi adisi dari gas etilen yang diperoleh dari hasil samping industri minyak dan
batubara (Steven, 2001).
Proses polimerisasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu polimerisasi dalam
bejana bertekanan tinggi (1000-300 atm) menghasilkan molekul makro dengan banyak

Universitas Sumatera Utara

percabangan yakni campuran dari rantai lurus dan bercabang. Cara kedua, polimerisasi
dengan bejana bertekanan rendah (10-40 atm) menghasilkan molekul makro berantai
lurus dan tersusun paralel (Stevens, 2001).

Polietilen merupakan film yang lunak, transparan dan fleksibel, mempunyai


kekuatan benturan dan kekuatan sobek yang baik. Pemanasan polietilen akan
menyebabkan plastik ini menjadi lunak dan cair pada suhu 1100C. Sifat permeabilitasnya
yang rendah dan sifat mekaniknya yang baik, maka polietilen dengan ketebalan 0.001
0.01 inci banyak digunakan unttuk mengemas bahan pangan. Plastik polietilen termasuk
golongan termoplastik sehingga dapat dibentuk menjadi kantung dengan derajat
kerapatan yang baik.
Berdasarkan densitasnya, maka plastik polietilen dibedakan atas :
a. Polietilen densitas rendah (LDPE= Low Density Polyethylene)
LDPE dihasilkan dengan cara polimerisasi pada tekanan tinggi, mudah dikleim
dan harganya murah. Dalam perdagangan dikenal dengan nama alathon, dylan dan
fortiflex. Kekakuan dan kuat tarik dari LDPE lebih rendah daripada HDPE (modulus
Young 20.000-30000 psi, dan kuat tarik 1200-2000 psi), tapi karena LDPE memiliki
derajat elongasi yang tinggi (400-800%) maka plastik ini mempunyai kekuatan terhadap
kerusakan dan ketahanan untuk putus yang tinggi. Titik lelehnya berkisar antara 105 115o C. Digunakan untuk film, mangkuk, botol dan wadah/kemasan.

b. Polietilen densitas menengah (MDPE = Medium Density Polyethylene)


MDPE lebih kaku dari LDPE dan titik lelehnya lebih tinggi dari LDPE, yaitu
antara 115-1250C, mempunyai densitas 0.927-0.940 g/cm3.
c. Linear-low-density polyethylene (LLDPE)
Kopolimer etilen dengan sejumlah kecil butana, heksana atau oktana, sehingga
mempunyai cabang pada rantai utama dengan interval (jarak) yang teratur. LLDPE lebih
kuat daripada LDPE dan sifat heat.

Universitas Sumatera Utara

d. Polietilen Densitas Tinggi (HDPE = High Density Polyethylene)


HDPE dihasilkan dengan cara polimerisasi pada tekanan dan suhu yang rendah
(10 atm, 50-700 C). HDPE lebih kaku dibanding LDPE dan MDPE, tahan terhadap suhu
tinggi sehingga dapat digunakan untuk produk yang akan disterilisasi.
Dalam perdagangan dikenal dengan nama alathon, alkahtene, blapol, carag, fifax,hostalon.
Sebuah HDPE digunakan sebagai komponen campuran yang diproduksi oleh
polietilen. HDPE adalah ijeksi H600J 0,7 g 10-1 min (216 kg beban pada suhu 190oC) dan
kepadatannya 9,97 g cm (Harper, 2006).
HDPE adala salah satu bahan kimia dengan volume densitas tertinggi dengan
komoditas yang dihasilkan di dunia, pada tahun 1998 permintaan di seluruh dunia adalah
1,8 x 1010kg. Metode yang paling umum dalam pengolahan HDPE adalah metode blow
molding, dimana resin berubah menjadi benda berupa botol (terutama untuk botol susu
dan jus), peralatan rumah tangga, mainan, ember, drum, dan otomotif. Hal ini juga sering
diinjeksikan ke dalam bentuk peralatan rumah tangga, mainan, wadah makanan, ember,
tong sampah dan botol susu. Film dari HDPE juga dapat ditemukan sebagai tas di
supermarket ataupun departement store. Dua metode polimerisasi komersial yang paling
sering dipergunakan adalah dengan melibatkan katalis Phillips (didukung dengan
heterogen katalis seperti titanium halida, titanium ester dan aluminium alkil yang
didukung dengan bahan kimiawi yang inert seperti PE dan PP). Terutama berat molekul
diatur melalui kontrol suhu, dimana dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan
penurunan berat molekul, dukungan dari katalis dan kimiawi juga merupakan faktor
terpenting dalam mengkontrol dalam pendistribusian berat dan molekul melekulernya
(Harper, 2000)

2.4. Ban
Ban adalah piranti yang menutupi pelak satu roda. Ban merupakan salah satu
bagian penting dari kendaraan darat karena satu-satu nya bagian yang mempunyai kontak
langsung dengan jalan. Ban berfungsi untuk mengurangi getaran yang disebabkan
ketidakteraturan permukaan jalan. Melindungi jalan dari aus dan kerusakan, serta
memberikan kestabilan antara kendaraan dan tanah untuk meningkatkan percepatan dan

Universitas Sumatera Utara

mempermudah pergerakan. Oleh karena itu, ban merupakan salah satu bagian kendaraan
yang menjamin keamanan dan kenyamanan berkendara. Seiring dengan perkembangan
otomotif, kebutuhan akan ban pun meningkat. Beberapa produsen ban membuat beragam
jenis ban dengan beragam fungsi dan tipe (Riasmin, 2010).
Ban merupakan salah satu jenis meterial yang terbuat dari karet yang tergolong
jenis polimer elastomer. Sebagian besar ban yang ada sekarang, terutama yang digunakan
untuk kendaraan bermotor, diproduksi dari karet sintetis, meskipun dapat juga diproduksi
dengan menggunakan bahan lain, seperti baja, nylon, rayon, atau polyester. Proses
produksi ban menggunakan teknologi tinggi dari pengolahan bahan baku hingga
pembentukan produk akhir dengan menggunakan peralatan seperti mesin pencampur,
mesin penggiling, mesin pelapis, mesin assembly dan mesin pemasak (Riasmin, 2010).
Berdasarkan struktur polycord, struktur ban dibedakan menjadi tipe ban radial dan
ban biasa. Ban radial memiliki polycord yang tegak lurus dengan garis tengah ban,
ditambah lapisan sabuk atau belt (rigid breaker) searah lingkar ban yang terbuat dari
benang tekstil kuat atau kawat yang dibalut keret membuat tread lebih rigid (Riasmin,
2010).
Ban biasa dibuat dengan polycord miring membentuk sudut 30 - 40 terhadap

garis tengah ban. Jenis ban ini memiliki tapak (tread) dengan daya serap benturan yang
baik sehingga memberikan kenyamanan berkendara

(Riasmin, 2010).

Ban terdiri dari 90% produksi karet campuran. Di Eropa, pada penggunaan
terakhir memadukan karet senyawa umtuk komponen ban yang spesifik telah berubah
dalam beberapa tahun terakhir karena kemajuan ban radial. Sedangkan aslinya campuran
karet telah banyak digunakan dalam tapak senyawa untuk meningkatkan ketahanan
abrasi, dengan ban radial ini, karet ini telah menemukan penggunaan yang lebih besar,
dinding samping dan senyawa manik manik, karena tapakan radial memiliki ketahanan
abrasi sudah menjadi intrinsik lebih tinggi dibandingkan ban biasa (Hofmann, 1989).

Universitas Sumatera Utara

2.5. Vulkanisasi
Vulkanisasi adalah proses pembentukan ikat silang kimia dari rantai molekul yang
berdiri sendiri, meningkatkan elastisitas dan menurunkan plastisitas. Salah satu faktor
yang penting dalam proses vulkanisai adalah suhu, namun tanpa adanya panas pun karet
tetap dapat divulkanisasi. Proses vulkanisasi berperan penting dalam pembentukan sifat
fisik dan sifat kimia yang diinginkan

(Riasmin, 2010).

Ada dua jenis vulkanisasi, yaitu vulkanisasi dengan sulfur (belerang) dan
vulkanisasi tanpa sulfur. Vulkanisasi dengan sulfur merupakan teknik vulkanisasi dengan
memanaskan keret dengan sulfur. Vulkanisasi tanpa sulfur adalah dengan uretan
peroksida amina, resin, atau iradiasi yang digunakan spesifik untuk elastomer khusus atau
elastomer umum untuk mendapatkan sifat khusus (Riasmin, 2010).
Vulkanisasi ban dengan cara vulkanisasi dengan sulfur. Walaupun karet alam
dapat di ikat silang dengan peroksida atau dengan energi radiasi tinggi , namun sulfur dan
aselarator juga banyak digunakan. Dibandingkan dengan karet alam sintetis karet alam
lebih membutuhkan konsentrasi sulfur yang pada umum nya lebih tinggi (2-3phr) dan
dengan jumlah lebih kecil dari pada aselarator nya dengan dosis sulfur tinggi 30-40 phr
ebonit nya (Riasmin, 2010).
Untuk sulfur dengan konsentrasi rendah, hasil aselarator nya besar atau tinggi
yang akan dihasilkannya, dalam peningkatan titik didih akan meningkatkan ikat silang
nya. Untuk kadar sulfur tinggi dari ikatan silang yang dapat menghasilkan menyebabkan
vulkanisai akan semakin meningkat saat panas yang memiliki konsentrasi baik dan dapat
mempertahankan kondisi panas nya (Hofmann, 1989).
Dalam proses vulkanisasi digunakan bahan kimia yang dapat bereaksi dengan
gugus aktif pada molekul karet untuk membentuk crosslinking antara molekul. Bahan
kimia ini disebut dengan istilah curring agent (Hoffman, 1989).
Pada vulkanisasi dengan sulfur, bahan yang digunakan sebagai curring agent
untuk menghasilkan karet vulkanisir dengan membentuk ikat silang sulfur adalah sulfur

Universitas Sumatera Utara

donor seperti TMTD (tetramethylthiuramdisulfide) atau DTDM (4.4-dithiodimorpholine)


(Riasmin, 2010).
2.6. Inisiator
Sekarang sudah banyak inisiator inisiator radikal bebas, mereka bisa
dikelompokkan ke dalam empat tipe utama: peroksida dan hidroperoksida, senyawa azo,
inisiator redoks dan beberapa senyawa yang membentuk radikal radikal di bawah
pengaruh cahaya. Diantara berbagai inisiator, peroksida (ROOR) dan hidroperoksida
(ROOH) merupakan jenis yang paling banyak dipakai. Mereka tidak stabil terhadap
panas dan terurai menjadi radikal radikal pada suatu suhu dan laju yang bergantung
pada strukturnya (Malcolm, 2001). Berikut mekanisme dikumil peroksida dapat dilihat
pada gambar 2.1.

CH3
C

CH3
O

CH3

CH3
Pemanasan pada suhu 165oC

CH3
O.

. CH

CH3

2 RH
2 CH4 +
Radikal kumiloksi (2-phenylpropanoxy)

CH3
2

C OH +

2R

2R

Substrat

.
Ashetonpenon

CH3
Gambar 2.1. Mekanisme reaksi dikumil peroksida

Universitas Sumatera Utara

CH3

Teknik ikat silang karet dengan peroksida telah dikenal beberapa tahun terkahir
ini. Keuntungan umum peroksida untuk ikat silang adalah sangat baik ketahanannya pada
temperatur tinggi, elastisitas yang baik, dan tidak ada penghilangan warna pada hasil
akhir. Perbandingan peroksida yang digunakan tergantung pada temperatur penguraian
peroksida yang dipilih. Temperatur ikat silang dikumil peroksida yaitu pada 1600C dan
efisiensi ikat silang 50% (Thitithsammawong, 2006).

2.7. Ikat Silang


Ikat silang (crosslink) tersebut mungkin mengandung ciri ciri struktur yang sama
sebagaimana rantai rantai utamanya, yang biasanya terdapat pada kasus yang pertama,
atau mungkin mempunyai struktur yang sama sekali berbeda yang lebih karakteristik
pada kasus yang kedua (Saechtling, 1987).
Divinilbenzena memiliki rumus molekul C10H10, dengan titik didihnya 195oC,
tidak larut dalam air dan larut dalam etanol dan eter dan memiliki titik nyala 76oC.
Divinilbenzena merupakan zat pengikat silang yang dapat meningkatkan sifat polimer.
Divinilbenzena telah digunakan dengan luas dalam pabrik perekat, plastik, elastomer,
keramik, pelapis, katalis, membran, farmasi, polimer khusus dan resin penukar ion
(Kroschwitz, 1998) Berikut struktur divinilbenzen dapat dilihat pada gambar 2.2.:
HC

CH2

HC

CH2

Gambar 2.2. Struktur Divinilbenzen


Divinilbenzena telah digunakan dalam berbagai industri. Sebagai contoh,
divinilbenzena banyak digunakan pada pabrik adhesif, plastik, elastomer, keramik,
material biologis, mantel, katalis, membran, peralatan farmasi, khususnya polimer dan

Universitas Sumatera Utara

resin penukar ion. Pada pabrik plastik, divinilbenzena digunakan untuk mengikat silang
dan modifikasi material-material dan membantu proses kopolimerisasi. Divinilbenzena
juga dapat membantu meningkatkan resistansi terhadap tekanan retak, bahan kimia, panas
distorsi, kekerasan dan kekuatan serta membantu meningkatkan stabilitas termal dari
komposisi resin epoksi (Blackley, 1983)
Mekanisme yang paling tepat dalam menurunkan kebebasan molekul adalah ikat
silang kimia yang mengikat bersama rantai rantai polimer melalui ikatan kovalen atau
ion untuk membentuk suatu jaringan. Kadang kadang istilang curing dipakai untuk
menunjukan ikat silang, tetapi pada dasarnya semuanya diringkaskan menjadi dua
katagori (1) pengikat silangan selama polimerisasi melaluipemakaian monomer
monomer polifungsi sebagai ganti dari monomer difungsi; dan (2) ikat silang dalam suatu
tahap proses yang terpisah setelah terbentuk polimer linier (bercabang) (Malcolm, 2001).
Sejumlah perubahan yang ekstrim akan menyertai ikat silang ini. Jika sebelumnya
bersifat dapat larut, maka polimer yang bersangkutan tidak dapat larut lagi (kecuali dalam
kasus beberapa polimer ikat silang ion). Ketika hadir pelarut, suatu polimer ikat silang
akan menggembung ketika molekul molekul pelarut menembus jaringannya. Tingkat
penggebungan ini selain bergantung pada tingkat pengikatsilangan, juga tergantung pada
afinitas antara pelarut dan polimer.

(Malcolm, 2001)

2.8. Uji Tarik


Untuk mengukur kekuatan tarik, modulus, dan elongasi suatu spesimen uji dijepit
pada kedua ujung nya. Salah satu ujung dibuat tetap dan diaplikasikan suatu beban yang
naik sedikit demi sedikit ke ujung lainnya sampai sampel terasa patah (Stevens, 20101).
Spesimen spesimen uji plastik biasanya mempunyai dimensi. Spesimen spesimen
serat dan elastomer bentuk nya berbeda, tetapi pada prinsip nya diuji dengan cara yang
sama. Suatu instrumen pengujian khas yang mengukur secara otomatis stress dan strain
dengan beban beban skala penuh dan beban kurang dari satu gram ke beban setinggi

Universitas Sumatera Utara

20.000 pound. Kekuatan dan elongasi pada titik yield, sebagaimana juga pada patahan
biasanya dicatat (Stevens, 2001).
Instrumen yang sama dipakai untuk mengukur kekuatan komperasif dan fleksur.
Fleks yang berulang dari suatu sampel melalui jarak tertentu sering menyebabkan sampel
rusak pada stress yang lebih rendah daripada untuk fleks tunggal, suatu fenomena yang
dikenal dengan kelelahan. Siklus siklus yang berselang seling dari tegangan tensil dan
kompresif juga dipakai untuk mengevaluasi kelelahan. Pada umum nya ketahanan
kelelahan turun ketika kekuatan atau tingkat ikat silang polimer naik (Stevens, 2001).
Uji tarik dalam mesin penguji adalah jenis yang paling sering digunakan untuk
menguji. Satu memperoleh suatu sigmoidal karakteristik tegangan regangan melalui
kurva disaat karet diperpanjang sampai dengan deformasi besar. Hukum Hookes tidak
dapat diterapkan dalam kasus ini (Stevens, 2001).
Dalam rangka untuk mendapatkan nilai yang diinginkan, adalah dengan kebiasaan
untuk mendefenisikan regangan yang sesuai untuk mendapatkan deformasi tertentu (nilai
regangan). Seiring dengan harga regangan 300 pada 300% deformasinya. Kurva
tegangan regangan dapat digambarkan secara kuantitatif untuk jenis yang lebih kecil
(Hofmann, 1989).
Perbandingan gaya pada sampel terhadap luas penampang lintang pada saat
pemberian gaya disebut tegangan (stress). Tegangan tarik maksimum suatu kekuatan
tarik (tensile strength) suatu bahan ditetapkan dengan membagi gaya tarik maksimum
dengan luas penampang mula mula.
Persamaan tegangan dapat kita lihat dalam persamaan 2.1 sebagai berikut :

........................ (2.1)

Dimana : adalah tegangan (N/m2)


F adalah gaya yang bekerja (N)
A0 adalah luas penampang (m2)

Universitas Sumatera Utara

Perubahan panjang yang terjadi akibatprubahan statikl)


( terhadap pajang batang
mula mula (lo).Persamaan regangan dapat kita lihat dalam persamaan 2.2 sebagai
berikut :

0
0

= ................... (2.2)
0

Dimana : adalah regangan


l adalah panjang setelah diperpanjang (mm)
l0 adalah panjang mula mula sebelum perpanjangan (mm)
Modulus elastis adalah ukuran suatu bahan yang diartikan ketahanan material
tersebut terhadap deformasi elastik. Makin besar modulusnya maka semakin kecil
regangan elastik yang dihasilkan akibat pemberian tegangan.Persamaan modulus
elastisitas dapat kita lihat dalam persamaan 2.3 berikut :

E =

............................ (2.3)

Dimana : E adalah modulus elastisitas atau Modulus Young (Nm-2)


adalah tegangan (N/m2)
adalah regangan (Smith,2004)

Faktor utama merupakan hukum Hookes, yang kedua mengkoreksi untuk luas
penampang ( adalah regangan daerah plat badan kaku dari sampel), dan faktor ketiga
merupakan koreksi yang mengikuti dari teori statistik elastisitas karet. Untuk menentukan
kekuatan tarik dan perpanjangan putus di mesin uji, satu menggunakan juga sering (selain
dari sampel persegi panjang) sample cincin yang menyederhanakan rekaan langsung dari
tegangan regangan diagram. Kekuatan tarik ditemukan untuk sampel reqtangular sering
lebih tinggi dari pada yang ditemukan untuk sampel cincin. Yang kekuatan tariknya
tergantung pada jumlah cacat yang ditemukan dalam sampel yang sebanding dengan
volume sampel. Sampel volume cincin lebih besar daripada sample persegi panjang
(Hofmann, 1989).

Universitas Sumatera Utara

2.9. Analisa Sifat Permukaan dengan Pengujian Scanning Electron Microscopy


`` (SEM)
SEM adalah alat yang dapat membentuk bayangan permukaan spesimen secara
makroskopik. Berkas elektron dengan diameter 5-10 nm diarahkan pada spesimen.
Interaksi berkas elektron dengan spesimen menghasilkan beberapa fenomena yaitu
hamburan balik berkas elektron, sinar X, elektron sekunder dan absorpsi elektron (Rusdi,
2008).
SEM merupakan pencitraan material dengan menggunakan prinsip mikroskopi,
mirip dengan kikroskop optik, namun alih alih menggunakan cahaya, SEM
menggunakan elektron sebagai sumber pencitraan dan medan elektromagnetik sebagai
lensanya (Smith, 2004).
Elektron diemisikan dari katoda (electron gun) melalui efek foto listrik dan
dipercepat menuju anoda. Filamen yang digunakan biasanya adalah tungsten atau
lanthanum hexaboride (LaB). Scanning coil, akan mendefleksikan berkas elektron
menjadi sekumpulan array (berkas yang lebih kecil), disebut scanning beam dan lensa
obyektif (magnetik) akan memfokuskannya pada permukan sampel (Simth, 2004).
Sampel yang dianalisa dengan teknik ini harus mempunyai permukaan dengan
konduktivitas tinggi. Karena polimer mempunyai kondiktivitas rendah maka bahan perlu
dilapisi dengan bahan konduktor (bahan pengantar) yang tipis. Bahan yang biasa
digunakan adalah perak, tetapi juga dianalisa dalam waktu yang lama, lebih baik
digunakan emas atas campuran emas dan palladium

(Rusdi, 2008).

Pada SEM, sinyal yang diolah merupakan hasil deteksi dari secondary electron
yang merupakan elektron yang berpindah dari permukaan sampel. SEM dipakai untuk
mengetahui struktuur mikro suatu material meliputi tekstur, morfologi, komposisi dan
informasi kristalografi permukaan partikel. Morfologi yang diamati oleh SEM berupa:
bentuk, ukuran dan susunan partikel

(Smith, 2004).

Teknik SEM pada hakekatnya merupakan pemeriksaan dan analisa permukaan.


Data atau tampilan yang diperoleh adalah data dari permukaan atau dari lapisan yang
tebalnya sekitar 20 m dari permukaan. Gambar permukaan yang diperoleh merupakan
tofografi dengan segala tonjolan, lekukan dan lubang pada permukaan. Gambar tofografi

Universitas Sumatera Utara

diperoleh dari penangkapan elektron sekunder yang dipancarkan oleh spesimen


(Smith, 2004).
Sinyal elektron sekunder yang dihasilkan ditangkap oleh detektor yang diteruskan
ke monitor. Pada monitor akan diperoleh gambar yang khas menggambarkan struktur
permukaan spesimen. Selanjutnya gambar di monitor dapat dipotret dengan
menggunakan film hitam putih atau dapat pula direkam ke dalam suatu disket
(Rusdi, 2008).
SEM berbeda dengan mikroskopi elektron transmisi (TEM) dalam hal bahwa
suatu berkas insiden elektron yang sangat halus di-scan menyilang permukaan sampel
dalam sinkronisasi dengan berkas tersebut dalam tabung sinar katoda. Elektron elektron
yang terhambur digunakan untuk memproduksi sinyak yang memodulasi berkas dalam
tabung sinar katoda, yang memprodukasi suatu citra dengan kedalamaan medan yang
besar dan penampakan yang hampir tiga dimensi. Dalam penelitian morfologi permukaan
SEM terbatas pemakainnya, tetapi memberikan informasi yang bermanfaat mengenai
topologi permukaan dengan resolusi sekitar 100 (Stevens, 2001).
2.10. Differensial Thermal Analysis(DTA)
Dalam metode DTA suatu sampel polimer dan referensi inert dipanaskan,
biasanya dalam asmosfer nitrogen dan kemudian tarnsisi-transisi termal dalam sampel
tersebut dideteksi dan diukur. Pemegang sampel yang paling umum dipakai adalah
cangkir aluminium sangat kecil (emas atau grafit dipakai untuk analisis-analisis diatas
8000C), dan referensinya berupa cangkir kosong atau cangkir yang mengandung bahan
inert dalam daerah temperatur yang diinginkan, misalnya alumina bebas air. Ukuran
sampel bervariasi dari sekitar 0,5 sampai sekitar 10 mg. Sampel dan referensi keduanya
dipanaskan oleh sumber pemanasan yang saama, dengan dicatat perbedaan temperatur
(T) antara keduanya. Ketika terjadi satu transisi dalam sampel tersebut, misalnya
transisi gelas atau reaksi ikat silang, temperatur sampel akan tertinggal dibelakang
temperatur referensi jika transisi tersebut endotermik, dan akan mendahului jika transisi
tersebut eksotermik (Stevens, 2001).

Universitas Sumatera Utara

Data di plot sebagai (T) di atas ord inat versus temperatur di atas absis. Plot-plot
demikian disebut termogram. Meskipun (T) tidak proporsional secara linier, keduanya
mempunyai kaitan dengan kapasitas panas. Dengan demikian termogram-termogram
DTA memiliki bentuk yang sama. Transisi gelas menimbulkan suatu geseran endotermik
pada garis dasar awal karena kapasitas panas sampel yang naik. Transisi-transisi
endotermik terletak dibawah garis dasar pada termogrram-termogram ini, dan transisi
eksotermik terletak diatas, meskipun bervariasi dengan pembuatnya. Dalam laporannya
temperatur-temperatur transisi, adalah hal yang penting untuk menunjukkan apakah satu
peak menunjuk ke permulaan transisi atau ke titik infleksi atau maksimum peak
(Stevens, 2001).
Teknik analisa DTA digunakan untuk digunakan untuk mendeteksi perubahan
fisika (penguapan) atau kimia (dekomposisi) suatu bahan yang ditunjukkan dengan
penyerapan panas (endotermik) dan pengeluaran panas (eksotermik). Proses DTA
meliputi antara lain perubahan fase (suhu transisi gelas), pelunakan, pelelehan, oksidasi
dan dekomposisi. Dalam kaitannya dengan industri teknik analisa analisa DTA
digunakan untuk penentuan kualitas kontrol suatu produk dan bahan khusus polimer
(Saechtling, 1987).

Universitas Sumatera Utara