Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum

Pengawasan Mutu

Hari, tanggal : Selasa, 14 Oktober 2014


Dosen
: Dr. Ir. Sapta Rahardja, DEA.
Asisten :
1) Ismanda Harry S.
(F34100002)
2) Taufiq Pratama P.
(F34100013)

UJI SKORING DAN UJI RANKING

1.
2.
3.
4.

Hardianti Muthia Achas


M. Rausyan Fikri
Nur Amikalia
Wike Tri Lestari

(F34120040)
(F34120052)
(F34120066)
(F34120067)

DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2014

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Uji sensori merupakan uji pertama penentu penerimaan produk pangan
dengan menggunakan indera manusia sebagai alat ukur. Penilaian pertama
konsumen terhadap produk pangan berdasarkan karakteristik sensorinya, seperti
aroma, tekstur, kenampakan (appearence), dan rasa. Konsumen hanya akan
mengonsumsi makanan yang karateristik sensorinya baik dan memenuhi syarat.
Penilaian cara ini banyak disenangi karena dapat dilaksanakan dengan cepat dan
langsung. Hal tersebut yang membuat industri pangan melakukan perbaikan
produk maupun pemilihan produk terbaik menjadi salah satu alternatif untuk
menunjang pemasarannya. Keinginan konsumen yang selalu menghendaki produk
dengan mutu baik harus disediakan bila industri tersebut ingin menjaring
keuntungan dari penjualan produk yang dihasilkan.
Keberagaman jenis produk pangan menyebabkan banyaknya produk
yang beredar, baik yang berlawanan jenis maupun yang mempunyai sifat sensoris
yang mirip dan diproduksi oleh pabrik atau produsen yang berbeda. Hal ini
memicu persaingan yang ketat antara para produsen yang memproduksi produk
yang sejenis dalam mengambil hati para konsumen. Berbagai hal seperti
menurunkan harga, penyebaran iklan, pembagian hadiah, dan saling menjatuhkan
bisnis pesaing dilakukan oleh produsen untuk membuat produknya banyak
diterima oleh konsumen. Walaupun usaha yang dilakukan oleh produsen
bermacam-macam, tingkat penerimaan konsumen terhadap suatu produk memiliki
keragaman. Oleh karena itu, dibutuhkan uji ranking dan uji skoring terhadap
produk yang akan dipasarkan yang untuk mengetahui tingkat kesukaan dan
penerimaan konsumen terhadap produk yang diujikan. Hal tersebut yang
membuat uji ranking dan uji skoring penting untuk dilakukan oleh produsen,
terutama industri pangan. Hasil pengujian akan dijadikan evaluasi dari produk
yang ada dan sebagai rujukan dalam penyempurnaan inovasi baru yang akan
dikembangkan selanjutnya dan mengurangi kelemahan produk yang sudah ada.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan memberikan nilai atau skor terhadap karakteristik
mutu dari produk yang diuji dan memberikan penjenjangan terhadap produk yang
diuji berdasarkan karakteristik produk yang telah ditetapkan.

METODOLOGI
Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah wadah gelas, sendok,
dan label. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah susu UHT (Indomilk
dan Ultra).
Metode

Uji skoring menggunakan dua macam sampel. Setiap sampel dimasukkan


dalam dua wadah berbeda dan setiap wadah diberi label. Label yang diberikan
pada uji skoring terdiri dari dua macam caitu label X dan label Z, kedua label
mencerminkan adanya dua macam sampel yang diuji pada uji skoring. Setelah
penyiapan sampel selesai, setiap panelis akan diberikan form isian yang harus
dilengkapi dengan menggunakan tingkat kesukaan mulai dari sangat jelek sampai
amat sangat baik. Sedangkan uji penjenjangan menggunakan tiga macam sampel.
Setiap sampel pada uji penjenjangan diberi label yang berbeda. Label yang
digunakan ada tiga macam yaitu label berkode 234, 312, dan 789. Setelah proses
pemberian label pada sampel yang akan diuji secara organoleptik, maka panelis
akan diminta mengisi form yang menunjukkan tingkat kesukaan terhadap sampel
mulai dari 1-3 berdasarkan tingkat kesukaan setiap panelis.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Pengamatan
[terlampir]
Pembahasan
Menurut Soekarto (1985), pengujian organoleptik mempunyai berbagai
macam cara, cara pengujian tersebut digolongkan ke dalam beberapa kelompok.
Cara pengujian yang paling popular adalah kelompok pengujian pembedaan
(difference test) dan kelompok pengujian pemilihan (preference test). Di samping
kedua kelompok pengujian itu, dikenal juga pengujian skalar dan pengujian
deskripsi. Jika pengujian pertama banyak digunakan dalam penelitian, analisis
proses, dan penilaian hasil akhir, maka dua kelompok pengujian terakhir ini
banyak digunakan dalam pengawasan mutu (quality control).
Penilaian terhadap mutu suatu produk pangan meliputi berbagai sifat
sensoris yang kompleks. Ada kalanya mutu produk pangan didasarkan pada intensitas sifat
sensoris spesifiknya. Jadi pada dasarnya mutu suatu produk pangan merupakan
kumpulan (composite) respon semua sifat sensoris yang spesifik yang dapat berupa
bau, rasa, cita rasa (flavour), warna, dan sebagainya. Kelompok pengujian intensitas
sensoris, terdiri dari tiga macam uji yaitu uji ranking, uji skoring, dan uji
deskriptif. Uji skoring dapat digunakan untuk penilaian sifat sensoris yang
spesifik seperti tekstur pulen pada nasi, warna merah tomat, bau langu pada hasil
olahan kedelai atau sifat sensoris umum seperti sifat hedonik atau sifat-sifat
sensoris kolektif pada pengawasan mutu produk pangan. Uji skor juga disebut
pemberian skor atau skoring. Pemberian skor adalah memberikan angka nilai atau
menetapkan nilai mutu sensorik terhadap bahan yang diuji pada jenjang mutu atau
tingkat skala hedonik. Tingkat skala mutu ini dapat dinyatakan dalam ungkapanungkapan skala mutu yang sudah menjadi baku (Arikunto 1993).
Uji peringkat disebut juga uji perjenjangan atau ranking test. Panelis
diminta membuat urutan contoh uji sesuai perbedaan tingkat mutu sensoriknya
pada pengujian perjenjangan. Interval antar jenjang ke atas atau ke bawah tidak

harus sama pada urutan jenjang atau peringkat dalam uji perjenjangan. Contohnya
jenjang peringkat 1 dan 2 tidak harus sama dengan jenjang peringkat 2 dan 3. Uji
peringkat jauh berbeda dengan uji skor. Selain itu, pada uji ini setiap komoditi
harus diurutkan atau diberi nomor urut. Urutan pertama atau kesatu selalu
menyatakan yang paling tinggi, makin besar nomor peringkat menunjukkan
urutan makin ke bawah atau peringkat makin rendah (Sarastani 2012).
Hal yang sama juga terdapat pada skala mutu, pemberian skor juga dapat
dikaitkan dengan skala hedonik. Banyaknya skala hedonik tergantung dari tingkat
perbedaan yang ada dan juga tingkat kelas yang dikehendaki. Sedangkan pemberian skor pada
uji ini tergantung pada kepraktisan dan kemudahan pengolahan dan interpretasi
data. Banyaknya skala hedonik biasanya dibuat dalam jumlah tidak terlalu
besar, demikian juga skor biasanya antara 1-10. Skor hedonik yang biasanya
dipilih jumlah ganjil. Pemberian skor menggunakan nilai positif dan negatif. Nilai
positif dapat diberikan untuk skala diatas titik balik atau titik netral, nilai negatif
untuk di bawah netral. Hal ini menghasilkan skor yang disebut skor
simetrik (Arikunto 1993). Uji skoring merupakan uji yang menggunakan panelis
terlatih dan benar-benar tahu mengenai atribut yang dinilai. Tipe pengujian
skoring sering digunakan untuk menilai mutu bahan dan intensitas sifat tertentu
misalnya kemanisan, kekerasan, dan warna. Selain itu, digunakan untuk mencari
korelasi pengukuran subyektif dengan obyektif dalam rangka pengukuran obyektif
(presisi alat) (Kartika dkk 1988).
Secara garis besar, pekerjaan analisis data meliputi tiga langkah yaitu
persiapan, tabulasi, dan penerapan data sesuai dengan pendekatan penelitian.
Kegiatan dalam langkah-langkah persiapan antara lain, mengecek nama dan
kelengkapan identitas pengisi, mengecek kelengkapan data, artinya memeriksa isi
instrumen pengumpulan data (termasuk pula kelengkapan lembaran instrumen
barangkali ada yang terlepas atau sobek), mengecek macam isian data. Beberapa
hal yang termasuk dalam kegiatan tabulasi antara lain memberikan skor (scoring)
terhadap item-item yang perlu diberikan skor, memberikan kode terhadap itemitem yang tidak diberikan skor, mengubah jenis data, disesuaikan atau
dimodifikasikan dengan teknik analisa yang akan digunakan, serta memberikan
kode (coding) dalam hubungan dengan pengolahan data jika akan menggunakan
komputer (Arikunto 1993).
Proses perhitungan frekuensi yang terbilang di dalam masing-masing
kategori disebut tabulasi. Oleh karena itu hasil perhitungan demikian hampir
selalu disajikan dalam bentuk tabel, maka istilah tabulasi sering diartikan sebagai
proses penyusunan data ke dalam bentuk tabel. Tabulasi (dalam arti menyusun
data ke dalam bentuk tabel) merupakan tahap lanjutan dalam rangkaian proses
analisa data. Tabulasi data lapangan yang baik akan membuat data tampak ringkas
dan tersusun ke dalam suatu tabel yang baik, data dapat dibaca degan mudah dan
maknanya akan mudah dipahami (Sumarsono 2004).
Uji organoleptik (metode hedonik) dilakukan untuk menentukan tingkat
kesukaan atau penerimaan panelis terhadap produk. Kemudian data yang
diperoleh dari setiap perlakuan dianalisis dengan menggunakan tabel ANNOVA
(Analisis Varians), diikuti dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) untuk
menentukan perbedaan nyata antarperlakuan (Sarastani 2012). Uji duncan (DMRT)
memiliki nilai kritis yang tidak tunggal tetapi mengikutri urutan rata-rata yang
dibandingkan. Nilai kritis uji duncan dinyatakan dalam nilai least significant range.

Uji duncan digunakan untuk menguji perbedaan di antara semua pasangan perlakuan
yang ada dari percobaan tersebut, serta masih dapat mempertahankan tingkat
signifikasi yang ditetapkan (Santoso 2005).
Produk yang digunakan pada uji skoring dan uji ranking adalah susuh
UHT. Susu cair segar UHT (Ultra High Temperature) dibuat dari susu segar yang
diolah menggunakan pemanasan dengan suhu tinggi dan dalam waktu yang sangat
singkat untuk membunuh seluruh mikroba, sehingga memiliki mutu yang sangat
baik (Roswitasari 2012). Pemanasan dengan suhu tinggi bertujuan untuk
membunuh seluruh mikroorganisme (baik pembusuk maupun patogen) dan spora.
Waktu pemanasan yang singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai
gizi susu serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak
berubah seperti susu segarnya (Anonim 2010).
Kelebihan-kelebihan susu UHT adalah masa simpan yang panjang pada
suhu kamar yaitu mencapai 6-10 bulan tanpa bahan pengawet dan tidak perlu
dimasukkan ke lemari pendingin. Jangka waktu ini lebih lama dari umur simpan
produk susu cair lainnya seperti susu pasteurisasi. Selain itu susu UHT merupakan
susu yang sangat higienis karena bebas dari seluruh mikroba (patogen/penyebab
penyakit dan pembusuk) serta spora sehingga potensi kerusakan mikrobiologis
sangat minimal, bahkan hampir tidak ada. Kontak panas yang sangat singkat pada
proses UHT menyebabkan mutu sensori (warna, aroma dan rasa khas susu segar)
dan mutu zat gizi, relatif tidak berubah (Anonim 2010).
Kelemahan UHT adalah penggunaan teknologi sehingga membutuhkan
peralatan yang lengkap dan steril kondisinya. Pabrik di jaga agar tetap pada suhu
steril, baik pada pemrosesan maupun pengemasan. Tenaga ahli dibutuhkan untuk
pengoperasian mesin pabrik. Selain itu, proses sterilisasi harus diikuti langsung
dengan pengemasan anti busuk (Muharastri 2008).
Metode yang digunakan dalam proses pembandingan hasil penelitian sering
menggunakan uji hipotesis dengan distribusi Z, Chi Kuadrat atau distribusi T. Akan
tetapi, metode tersebut beresiko memiliki tingkat kesalahan yang besar. Oleh karena
itu analisis varian dilakukan untuk meminimalisir kesalahan pada saat proses
pembandingan hasil (Irianto 2009). Sehingga analisis varian (ANNOVA) dipilih
sebagai metode pembandingan hasil uji skoring dan uji ranking yang dilakukan pada
produk susu UHT.
Analisis varian digunakan untuk menganalisa sejumlah sampel dengan jumlah
data yang sama pada tiap-tiap kelompok sampel, atau dengan jumlah data yang
berbeda. Selain itu, analisis varian juga mensyaratkan data yang akan diolah sudah
dikelompokkan dalam kriteria tertentu. Varian pada sampel digunakan sebagai
indikator pembeda dengan menerapkan prinsip dasar perbedaan dan ukuran yang baik
untuk mengetahui variabilitas dari sampel yaitu dari simpangan baku. Langkah untuk
melakukan uji hipotesis dengan analisis varian, antara lain: mengumpulkan sampel
dan mengelompokkannya berdasarkan katagori tertentu, menghitung variabilitas dari
seluruh sampel, menghitung derajat bebas, menghitung variansi antar kelompok dan
variansi dalam kelompok, menghitung nilai distribusi F, membandingkan antara F
hitung dan F tabel, dan diakhiri dengan pembuatan kesimpulan berdasarkan
pernbandingan antara F hitung dengan F tabel (Irianto 2009).

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan tabel ANNOVA uji


ranking yang dilakukan terhadap tiga macam sampel contoh yang diujikan
(sampel berkode 234, 312, dan 789) untuk mengetahui tingkat perbedaan antar

sampel yang diujikan, diperoleh hasil bahwa ketiga sampel tidak berbeda nyata
baik pada taraf 1% maupun 5%. Hal tersebut disebabkan F hitung dari hasil
perhitungan memiliki nilai sebesar 0,272, sedangkan F tabel 1% dan 5% saat db
contoh sebesar 2 dan db error sebesar 48 memiliki nilai 5,1 dan 3,198. Sehingga F
hitung yang diperoleh lebih kecil dari F tabel. Hal tersebut yang membuat tidak
dibutuhkannya uji Duncan, karena pada tabel ANNOVA ketiga contoh sudah
menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan nyata antara ketiganya. Selain itu,
hasil perhitungan pada uji ranking ini juga menunjukkan bahwa ketiga sampel
yang diujikan memiliki karakteristik yang hampir sama, sehingga tidak berbeda
antara satu dengan yang lainnya dan dari 25 panelis yang melakukan pengujian
memiliki kesukaan yang tidak berbeda nyata terhapat ketiga sampel yang diujikan
pada uji ranking.
Berdasarkan hasil perhitungan uji skoring yang dilakukan dengan
menggunakan tabel ANNOVA dari dua sampel susu yang diuji (susu X dan susu
Z) diperoleh hasil bahwa kedua sampel yang diuji tidak berbeda nyata satu sama
lain. Hal tersebut disebabkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa F hitung
contoh dan panelis sebesar 1,22 dan 2,275, sedangkan F tabel pada taraf 1% dan
5% untuk contoh sebesar 7,82 dan 4,26 serta F tabel pada taraf 1% dan 5% untuk
panelis sebesar 2,66 dan 1,98. Sehingga nilai F hitung lebih kecil dari F tabel baik
pada F hitung contoh maupun panelis dan F tabel contoh maupun panelis. Hal
tersebut yang menyebabkan tidak perlu dilakukannya uji Duncan sebagai uji
pembuktian letak perbedaan nyata pada sampel yang diujikan. Tidak adanya
perbedaan nyata antara dua sampel yang diuji dalam uji skoring menunjukkan
bahwa kedua sampel memiliki karakteristik yang hampir sama dan tingkat
kesukaan dari 25 panelis yang melakukan uji memiliki tingkat kesukaan yang
tidak berbeda nyata antara dua sampel susu yang diujikan.

PENUTUP
Simpulan
Pengujian deskriptif biasanya banyak dilakukan untuk analisa
pengawasan mutu. Pengujian ini dapat dilakukan memalui beberap uji seperti uji
skoring dan uji rangking. Uji skoring dilakukan guna mengetahui penilaian yang
diberikan oleh panelis terhadap suatau produk bedasarkan parameter tertentu yang
telah ditentukan. Uji skoring biasanya menunjukkan hasil pada rentang atau
batasan yang telah ditentukan sebelumnya. Sedangkan uji ranking digunakan
untuk mengetahui peringkat penilaian berdasarkan parameter tertentu dari
beberapa sampel. Hasil dari uji skoring maupun uji ranking diolah menggunakan
salah satu metode statistika yakni penggunaaan tabel ANNOVA. ANNOVA yakni
suatu perhitungan analisis varian yang dilakukan dengan membandingkan hasil
yang diperoleh secara manual perhitungan dengan hasil yang diperoleh dari data
tabel. Berdasarkan kedua data inilah, dapat disimpulkan bahwa kedua produk
tersebut pbrbeda nyata atau tidak berbeda nyata. Ketika sampel yang diuji
dinyatakan berbeda nyata atau Fhitung lebih dari Ftabel, maka pengujian harus

dialkuakn dengan analisa tabel Duncan untuk mengetahui keterkaitan atau


hubungan antara satu sampel dengan sampel lainnya.
Berdasarkan hasil pegujian yang dilakukan terhadap beberapa produk
suru, diperoleh hasil bahwa Fhitung kurang dari Ftabel. hal ini menunjukkan bahwa
sampel yang diuji tidak berbeda nyata dan tidak perlu dilanjutkan dengan analisa
tabel Duncan. Sampel yang diuji yakni beberapa jenis susu UHT. Beberapa jenis
susu UHT tersebut memiliki sifat dasar dan perlakuan yang sama. Hal inilah yang
kemungkinan mendasari berbeda nyata dari produk tersebut.
Saran
Uji skoring dan uji ranking terhadap dua produk yang memiliki
karakteristik yang hampir sama membutuhkan konsentrasi tinggi untuk dapat
memberikan penilaian terbaik terhadap produk yang diuji. Selain itu, kedua uji
tersebut membutuhkan panelis minimal memiliki tingkatan sebagai panelis agak
terlatih agar hasil pengujian organoleptik yang dilakukan menunjukkan hasil yang
baik dan memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi. Sehingga katagori panelis
yang melakukan pengujian dan tingkat konsentrasi di saat melakukan pengujian
harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil penilaian dari produk yang
berkarakteristik hampir sama antara satu dengan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2010. Susu UHT Bernilai Gizi Lebih. Available from:


http://forum.detik.com/susu-uht-bernilai-gizi-lebih-t194670.html (12
April 2012)
Arikunto. 1993. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek, Edisi
Kesembilan. Jakarta: Rineka Cipta
Irianto A. 2009. Statistik: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Penerbit
Kencana
Kartika B dkk. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Yogyakarta: PAU
Pangan dan Gizi UGM
Muharastri Y. 2008. Analisis Kepuasan Konsumen Susu UHT Merek Real Good di
Kota Bogor. Skripsi. Bogor: IPB.
Roswitasari LD. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku
Konsumen dalam Keputusan Pembelian Susu Cair Ultra Milk. Bogor:
IPB
Santosa. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta: Prestasi
Pustaka
Sarastani D. 2012. Analisis Organoleptik. Bogor: IPB
Soekarto S. 1985. Penilaian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil
Pertanian. Jakarta: Bharata Karya Aksara
Sumarsono. 2004. Metode Penelitian Akuntansi Beserta Contoh Interprestasi
Hasil Pengolahan Data. Surabaya: Salemba Empat

LAMPIRAN
Data Uji Skoring dan Uji Ranking
Panelis
Nabila
Naufal
Vairul Dwi N.
Elvin W.
Desti M. Walla
Retno Puji Rahayu
Khairunnisa R.
Inna Dinovita
Sabrina Manora
Nurlia Damayanti
Isma N. A.
Asdani M. S.
Hardianti Muthia A.
Angga Panji Trisna
Maulana R. Fikri
Yunia Istifani
Ridwan F.
Ajeng
Dwi Sutartini
Wilda Wardaty
Manggala
Wike
Taufik
Fitriana Dina
Irfan
Jumlah

Uji Skoring
X
Z
3
2
2
1
3
2
3
5
1
3
3
4
1
1
4
3
4
2
2
3
3
4
2
3
1
4
3
2
2
4
3
2
2
3
2
1
3
4
4
2
2
4
4
3
3
5
1
1
1
1
62
69

Total

Panelis

5
3
5
8
4
7
2
7
6
5
7
5
5
5
6
5
5
3
7
6
6
7
8
2
2
131

Nabila
Naufal
Vairul Dwi N.
Elvin W.
Desti M. Walla
Retno Puji Rahayu
Khairunnisa R.
Inna Dinovita
Sabrina Manora
Nurlia Damayanti
Isma N. A.
Asdani M. S.
Hardianti Muthia A.
Angga Panji Trisna
Maulana R. Fikri
Yunia Istifani
Ridwan F.
Ajeng
Dwi Sutartini
Wilda Wardaty
Manggala
Wike
Taufik
Fitriana Dina
Irfan
Jumlah

PENGOLAHAN DATA UJI RANKING


Panelis
Nabila
Naufal
Vairul Dwi N.

234
-0.85
0.85
0

Uji Ranking
312
0
0
0.85

TOTAL
789
0.85
-0.85
-0.85

0
0
0

Uji Ranking
234
312
789
3
2
1
1
2
3
2
1
3
1
3
2
1
3
2
3
1
2
1
2
3
2
3
1
1
2
3
1
2
3
3
2
1
2
1
3
3
1
2
1
3
2
2
3
1
2
3
1
3
1
2
1
2
3
2
1
3
2
1
3
2
3
1
2
3
1
1
2
3
2
3
1
3
2
1
47
52
51

Elvin W.
Desti M. Walla
Retno Puji Rahayu
Khairunnisa R.
Inna Dinovita
Sabrina Manora
Nurlia Damayanti
Isma N. A.
Asdani M. S.
Hardianti Muthia A.
Angga Panji Trisna
Maulana R. Fikri
Yunia Istifani
Ridwan F.
Ajeng
Dwi Sutartini
Wilda Wardaty
Manggala
Wike
Taufik
Fitriana Dina
Irfan
Total Skor

0.85
0.85
-0.85
0.85
0
0.85
0.85
-0.85
0
-0.85
0.85
0
0
-0.85
0.85
0
0
0
0
0.85
0
-0.85
2.55

-0.85
-0.85
0.85
0
-0.85
0
0
0
0.85
0.85
-0.85
-0.85
-0.85
0.85
0
0.85
0.85
-0.85
-0.85
0
-0.85
0
-1.7

0
0
0
-0.85
0.85
-0.85
-0.85
0.85
-0.85
0
0
0.85
0.85
0
-0.85
-0.85
-0.85
0.85
0.85
-0.85
0.85
0.85
-0.85

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Faktor Koreksi (FK) =

JK Contoh =

JK Panelis =
JK Total = Jumlah kuadrta tiap respon FK
=

= 36.125
JK Error = JK Total JK Contoh JK Panelis = 36.125 0.4046 0 = 35.7204
Daftar Sidik Ragam Contoh Susu
Sumber

Db

JK

JKR

Fhitung

Ftabel

Keragaman
Contoh
Panelis
Error
Total

2
24
48
74

0.4046
0
35.7204
6.125

0.2023
0
0.744

0.272
0

1%
5.1

5%
3.198

Simpulan
: Berdasarkan hasil perhitungan uji ranking didapatkan bahwa
contoh tidak berbeda nyata, karena F hitung < F tabel.
PENGOLAHAN DATA UJI SKORING
Panelis
Nabila
Naufal
Vairul Dwi N.
Elvin W.
Desti M. Walla
Retno Puji Rahayu
Khairunnisa R.
Inna Dinovita
Sabrina Manora
Nurlia Damayanti
Isma N. A.
Asdani M. S.
Hardianti Muthia A.
Angga Panji Trisna
Maulana R. Fikri
Yunia Istifani
Ridwan F.
Ajeng
Dwi Sutartini
Wilda Wardaty
Manggala
Wike
Taufik
Fitriana Dina
Irfan
Jumlah

Faktor Koreksi (FK) =

Uji Skoring
X
Z
3
2
2
1
3
2
3
5
1
3
3
4
1
1
4
3
4
2
2
3
3
4
2
3
1
4
3
2
2
4
3
2
2
3
2
1
3
4
4
2
2
4
4
3
3
5
1
1
1
1
62
69

Total
5
3
5
8
4
7
2
7
6
5
7
5
5
5
6
5
5
3
7
6
6
7
8
2
2
131

JK Contoh =

JK Panelis =
JK Total = Jumlah kuadrat tiap respon FK
=

= 63.78
JK Error = JK Total JK Contoh JK Panelis = 63.78 0.98 43.67 = 19.13
Daftar Sidik Ragam Contoh Susu
Sumber
Keragaman
Contoh
Panelis
Error
Total

Db
1
24
24
49

JK
0.98
43.6
19.13
63.71

JKR
0.98
1.82
0.80

Fhitung
1.22
2.275

1%
7.82
2.66

Ftabel
5%
4.26
1.98

Simpulan
: Berdasarkan hasil perhitungan uji skoring didapatkan bahwa contoh
tidak berbeda nyata, karena F hitung < F tabel.