Anda di halaman 1dari 11

1

PRESUS
ILEUS OBSTRUKTIF PARSIAL

Pembimbing :
dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, Sp.B

Oleh:
Unggul Anugrah Pekerti
G1A013091

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
PENDIDIKAN PROFESIDOKTER
SMF ILMU BEDAH
RSUD. PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO
2014

2
LEMBAR PENGESAHAN
ILEUS OBSTRUKTIF PARSIAL

Oleh :

Unggul Anugrah Pekerti

G1A013091

Refrat penelitian ini telah dipresentasikan dan disahkan


sebagai salah satu prasyarat ujian di Kepaniteraan Klinik Dokter Muda SMF
Bedah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto.

Purwokerto,

Oktober 2014

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, Sp. B


NIP.19641215.199011.1.001

3
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan YME, penulis dapat menyelesaikan Presus


yang berjudul Ileus obstruktif Parsial ini. Terimakasih yang sebesar-besarnya
penulis ucapkan kepada dr. Hj. Fridayati Dewi Mustikawati, Sp.B selaku
pembimbing penulis sehingga referat ini dapat selesai dan tersusun paripurna.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan untuk segenap konsulen di bagian Ilmu
Bedah yang telah memberikan dukungan moril dan keilmuan sehingga penulis
dapat menyelesaikan referat ini.Penulis mengharapkan agar referat ini dapat
bermanfaat bagi para dokter, dokter muda, ataupun para medis lain atau
mahasiswa kedokteran.
Purwokerto,

Oktober 2014

Penulis

4
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu kegawatan yang sering dijumpai dalam bedah abdominalis
adalah ileus obstruktif. Penyakit ini merupakan 60-70% dari seluruh kasus
akut abdomen. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus
baik sebagian (parsial) maupun seluruh (totalis) yang berakibat terganggunya
jalannya isi usus (Sabara, 2007). Penyebab terjadinya ileus obstruktif antara
lain hernia incarserata dan non hernia incarserata (penyempitan lumen usus,
adhesi, invaginasi, volvulus, malformasi).
Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus
(Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000
menderita ileus setiap tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada
7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan
7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen
Kesehatan Indonesia.
Ileus obstruktif tidak hanya menimbulkan perasaan yang tidak nyaman,
seperti kram perut, nyeri perut, kembung, mual, dan muntah, akan tetapi bila
tidak diobati dengan benar, ileus obstruktif dapat menyebabkan kematian
usus. Kematian jaringan ini dapat ditunjukkan dengan perforasi usus, infeksi
ringan, dan shock.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan umum penulisan referat ini adalah untuk memperoleh informasi
ilmiah mengenai definisi, epidemiologi, etilogi, klasifikasi, gejala dan tanda,
patofisiologi, penegakan diagnosis, penatalaksanaan dari ileus obstruktif.
Tujuan khusus penulisan referat ini adalah untuk memenuhi tugas di
kepaniteraan klinik ilmu bedah umum.

5
C. Manfaat Penulisan
Penulisan referat ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca
sehingga dapat membantu dalam mempelajari materi mengenai ileus
obstruktif.

6
BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. T

Umur

: 48 tahun

Berat badan

: 58 Kg

Tinggi badan

: 165 cm

Jenis kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Banjarengan 1/5 Pekuncen

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan

: SMA

Tanggal masuk RSMS

: 14 september 2014

No. CM

: 784030

B. Anamnesis
1. Keluhan utama :
Tidak bisa buang air besar (BAB)
2. Keluhan tambahan : 3. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien datang rujukan dari RS Ajibarang dengan keluhan tidak bisa BAB
sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya tidak bisa BAB disertai mual dan
muntah, lalu pasien pergi ke dokter dekat rumah, tetapi tidak ada
perubahan. Selama 4 hari sebelum masuk RSMS BAB keluar kecil-kecil
seperti biji kacang. Pasien masih bisa kentut.
4. Riwayat penyakit dahulu :
a) Riwayat penyakit darah tinggi

: disangkal

b) Riwayat penyakit DM

: disangkal

c) Riwayat penyakit alergi

: disangkal

d) Riwayat penyakit asma

: disangkal

e) Riwayat operasi sebelumnya

: appendektomi (tahun 2010)

7
5. Riwayat penyakit keluarga :
a) Riwayat penyakit darah tinggi

: diakui

b) Riwayat penyakit DM

: disangkal

c) Riwayat penyakit alergi

: disangkal

d) Riwayat penyakit asma

: disangkal

C. Pemeriksaan Fisik
1. Status generalis
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Vital Sign : Tekanan darah = 110/70 mmHg
Respirasi = 20 kali/menit
Nadi = 76 kali/menit, isi dan tekanan cukup
Suhu = 36,7 C
Kepala : Mesocephal, simestris, tumor (-)
Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, Reflek cahaya +/+, Pupil
isokor, (/) 3 mm
Hidung : Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)
Mulut : Lidah kotor (-), bibir kering (-), hiperemis(-), pembesaran tonsil(-)
Gigi : gigi ompong (-), gigi palsu (-)
Telinga : Discharge (-) tidak ada kelainan bentuk
Leher : Simestris, trakea ditengah, pembesaran tiroid dan kelenjar getah
bening (-)
Thorax : Pulmo : Simetris kanan kiri, tidak ada retraksi
SD : vesikuler (+/+) normal
ST : Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
Cor

: BJ I-II reguler, S1>S2, bising (-)

Abdomen : Status lokalis


Extremitas : Superior : edema (-/-), sianosis (-/-)
Inferior : edema (-/-), sianosis (-/-)
Turgor kulit : < 2 detik
Akral : hangat

8
Vertebrae : Tidak ada kelainan

2. Status lokalis
Regio Abdomen
Inpeksi

: cembung, darm countur (+), darm steifung (+)

Auskultasi

: bising usus (+) meningkat, metalic sound (-)

Perkusi

: hipertimpani

Palpasi

: supel, nyeri tekan (+), defanse muskular (-)

3. Pemeriksaan rectal toucher :


Tonus sfingter ani

: cukup

Ampulla recti

: tidak kolaps

Nyeri tekan

: (-)

Sarung tangan

: Feses (+), lendir (-), darah (-)

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium (14/09/14)
a) Darah lengkap
: 14,4 g/dl (14 18 g/dl)

1) Hb

2) Leukosit : 5780 ul (4800 10800 ul)


3) Ht

: 42 % (W 37 47 %)

4) Eritrosit

: 4.7 jt/ul (W 4.2 5.4 jt)

5) Trombosit : 190000/ul (150000 450000/ul)


6) MCV

: 90.0 fl (79 99 fl)

7) MCH

: 30.7 pgr (27 31 pgr)

8) MCHC

: 34.1 % (33 -37 %)

9) Hitung jenis :

Eosinofil

: 0.9 (2 4%)

Basofil

: 0.5 (0-1%)

Batang

: 0.00 (2 5%)

Segmen

: 60.6 (40-70 %)

Limfosit

: 20.9 (25 40 %)

Monosit

: 17.1 (2 8%)

10) PT

: 12.8 detik (11.5-15.5 detik)

11) APTT

: 29.6 detik (25-35 detik)

b) Kimia Klinik
1) SGOT

: 26 U/L (15-37)

2) SGPT

: 20 U/L (30-65)

3) Ureum

: 81.1 mg/dL (14.98-38.52)

4) Kreatinin : 1.07 mg/dL (0.8-1.3)


5) GDS

: 85 mg/dL (<200)

c) Elektrolit
1) Natrium : 133 mmol/L (136-145)
2) Kalium

: 4.4 mmol/L (2.5-5.1)

3) Klorida

: 94 mmol/L (98-107)

2. Pemeriksaan X Foto BNO 2 posisi (14/09/14)

Hasil :
a)

Pre peritoneal kiri baik

b) Psoas line kanan kiri baik


c)

Kontur kedua ginjal tidak jelas, tertutup udara usus

d) Distribusi udara usus meningkat


e)

Tampak dilatasi dan distensi usus

f)

Tampak gambaran coiled spring dan herring bone

10
g) Tak tampak free air
h) Pada posisi LLD, tampak multiple air fluid level pendek-pendek
Kesan : Gambaran Ileus Obstruktif

E. Diagnosis Kerja
Ileus Obstruktif Parsial

F. Diagnosis differential
Ileus obstruktif total

G. Penatalaksanaan
1.

Konservatif :
a) Non-farmakologis
1) Rehidrasi dengan cairan isotonik RL 30 tpm
2) Pasang NGT 2 x 24 jam
3) DC 2 x 24 jam
4) Rectal tube 2 x 24 jam
5) Mobilisasi duduk
b) Farmakologis
1) Ceftriaxon 2x1 gr
2) Metronidazol 3 x 500 amp
3) Ranitidin 2x1 amp
4) Dulcolax supp 1x1 kapsul

2.

Operatif :
Tindakan operatif (laparotomi) pada pasien ini tidak dilakukan karena
tindakan konservatif berhasil dilakukan dan keadaan pasien sudah
membaik.

11
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan kasus di atas, dari hasil anamnesis didapatkan Tn. T, usia 48


tahun, datang dengan keluhan tidak bisa BAB sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan
disertai mual dan muntah. Kemudian pasien pergi ke dokter dekat rumah, akan
tetapi keluhan tidak berkurang. Sejak 4 hari yang lalu, pasien mengaku bisa BAB
sedikit, kecil-kecil seperti biji kacang. Pasien masih bisa kentut.
Dari hasil pemeriksaan fisik pada status lokalis abdomen, inspeksi : datar,
darm steifung (+), darm countur (+); auskultasi : BU (+) meningkat; perkusi :
hipertimpani; palpasi : supel, NT (+), defanse muskular (-). Dari hasil
pemeriksaan rectal toucher tidak ditemukan kelainan. Hasil pemeriksaan X foto
BNO terdapat kesan gambaran Ileus Obstruktif.
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
pasien Tn. T didiagnosis sebagai ileus obstruktif parsial. Penatalaksanaan awal
yang diberikan pada pasien ini adalah tindakan konservatif, yaitu : rehidrasi
dengan cairan isotonik, pemasangan NGT, DC, rectal tube, dan diberikan terapi
farmakologis berupa ceftriaxon, ranitidin dan dulcolax supp. Tindakan operatif
pada pasien ini tidak dilakukan karena tindakan konservatif sudah berhasil untuk
menangani keluhan pasien dan keadaan umum pasien sudah mulai membaik.