Anda di halaman 1dari 13

KASUS SENGKETA INDONESIA DENGAN MALAYSIA MENGENAI

AMBALAT SIPADAN DAN LIGITAN

Kasus perbatasan bukan barang baru bagi Indonesia. Berlokasi di antara dua benua dan
dua samudra menjadikan posisi Indonesia sangat strategis sekaligus rawan di tengah lalu
lintas dunia.
Karena posisi geografisnya, Indonesia berbatasan dengan sepuluh negara: India,
Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan
Timor Leste. Isu seputar perbatasan sepertinya tak pernah sepi dari pemberitaan.
Di awal tahun 2005, negeri ini gempar oleh kasus Ambalat. Ketegangan tidak saja
tercermin dari pemberitaan media tetapi juga dari reaksi masyarakat. Ada yang
mendaftaran diri siap berperang, ada yang membubuhkan tanda tangan darah, ada pula
yang meneriakkan "Ganyang Malaysia". Foto artis cantik Siti Nurhaliza yang tak berdosa
juga kena getahnya, dibakar dalam berbagai demonstrasi masa. Kala itu, sengketa antara
Indonesia dan Malaysia perihal kepemilikan Ambalat mencuat tinggi. Setelah empat
tahun lebih peristiwa itu berlalu, bangsa ini dikejutkan lagi oleh kata yang sama
"Ambalat".

Masih jelas dalam rekaman media, terjadi berbagai kesalahan dalam memahami kasus
Ambalat ini. Tidak sedikit yang mengira bahwa Ambalat adalah pulau atau wilayah
daratan. Sesungguhnya Ambalat adalah blok dasar laut yang dikenal dengan landas
kontinen. Menurut hukum laut internasional, Konvensi PBB tentang Hukum Laut
(UNCLOS), sebuah negara pantai seperti Indonesia, berhak atas laut teritorial (12 mil
laut), zona tambahan (24 mil laut), zona ekonomi eksklusif, ZEE (200 mil laut) dan
landas kontinen (350 mil laut atau bahkan lebih). Lebar masing-masing zona ini diukur
dari referensi yang disebut dengan garis pangkal (baseline). Pada laut teritorial berlaku
kedaulatan penuh (sovereignity) seperti di darat, sedangkan pada zona di luar itu berlaku
hak berdaulat (sovereign right). Pada kawasan hak berdaulat, suatu negara tidak memiliki
kedaulatan penuh, hanya hak untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya.

Jika ada dua negara yang berdekatan maka tidak mungkin bagi keduanya bisa mengklaim
semua zona maritim tanpa adanya tumpang tindih dengan tetangganya. Misalnya, dua
negara saling berseberangan pada jarak kurang dari 400 mil laut, maka akan terjadi
tumpang tindih ZEE dan landas kontinen. Jika jaraknya sangat dekat, kurang dari 24 mil
laut seperti Indonesia dengan Singapura, maka yang tumpang tindih adalah laut teritorial.
Dalam hal ini, dua negara tersebut harus menyepakati suatu garis yang membagi zona
maritim yang tumpang tindih tersebut. Proses inilah yang disebut delimitasi batas
maritim. Kedaulatan atau hak berdaulat masing-masing negara atas wilayah air dan dasar
laut selanjutnya dibatasi oleh garis hasil delimitasi ini. Jika ada dua negara yang
mendiami satu daratan/pulau, seperti Indonesia dan Malaysia di Kalimantan (masyarakat
Internasional mengenalnya dengan Borneo), maka batas maritimnya adalah garis yang
diteruskan dari ujung akhir batas darat untuk membagi kawasan laut di sekitarnya.

Meski sudah sering diberitakan, rasanya tetap perlu untuk sekali lagi mengingatkan
bahwa Ambalat adalah blok dasar laut yang berlokasi di sebelah timur Pulau Borneo.
Sebagian besar atau keseluruhan Blok Ambalat berada pada jarak lebih dari 12 mil laut
dari baseline sehingga termasuk dalam rejim hak berdaulat, bukan kedaulatan.

Secara keseluruhan, Pulau Borneo berhak atas laut teritorial, zona tambahan, ZEE dan
landas kontinen. Di sebelah timur, Borneo bisa mengklaim 12 mil laut teritorial, 200 mil
laut ZEE dan seterusnya. Persoalannya adalah mana yang merupakan hak Indonesia, dan
mana jatah untuk Malaysia. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa laut di bagian selatan
adalah hak Indonesia dan di utara adalah hak Malaysia.

Garis batas darat antara Indonesia dan Malaysia di Borneo memang sudah ditetapkan.
Garis itu melalui dan berhenti di ujung timur Pulau Sebatik, sebuah pulau kecil di ujung
timur Borneo, pada lokasi 4? 10? lintang utara. Idealnya garis tersebut diteruskan ke arah
laut di sebelah timur sebagai batas maritim yang harus disepakati kedua belah pihak.
Garis inilah yang hingga kini belum ada dan sedang dirundingkan. Pada kawasan yang
belum jelas garisnya inilah Ambalat berada. Dari perspektif ini, status hak berdaulat atas
Ambalat sejatinya memang belum jelas. Belum ada garis batas maritim yang menetapkan
kewenangan kedua negara.

Sipadan dan Ligitan bagaimana perannya?

Kasus Ambalat ini sering dikaitkan dengan dua pulau legendaris: Sipadan dan Ligitan.
Benarkah ada kaitan antara kedua pulau ini dengan Ambalat? Sipadan dan Ligitan berada
di Laut Sulawesi di sebelah utara kawasan dasar laut Ambalat. Perlu diperhatikan,
Sipadan dan Ligitan tidak pernah secara formal menjadi bagian dari Indonesia, tidak juga
Belanda. Dalam hukum internasional dikenal istilah uti possidetis juris yang artinya
negara baru akan memiliki wilayah atau batas wilayah yang sama dengan penjajahnya.
Tidak diklaimnya Sipadan dan Ligitan oleh Belanda menyebabkan kedua pulau tersebut
bukan bagian dari Indonesia sebagai "penerus" Belanda.

Indonesia dan Malaysia sama-sama mengklaim Sipadan dan Ligitan yang kasusnya
berujung di Mahkamah Internasional (MI). MI memutuskan bahwa Malaysia yang berhak
atas keduanya karena Inggris (penjajah Malaysia) terbukti telah melakukan penguasaan
efektif terhadap kedua pulau tersebut. Penguasaan efektif ini berupa pemberlakuan aturan
perlindungan satwa burung, pungutan pajak atas pengumpulan telur penyu dan operasi
mercu suar. Perlu diingat, Indonesia dan Malaysia bersepakat bahwa penguasaan efektif
ini dinilai hanya berdasarkan tindakan sebelum tahun 1969. Jadi tidak benar bahwa
Malaysia mendapatkan pulau tersebut karena telah membangun resort/hotel di tahun
1990-an.

Diberikannya kedaulatan atas Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia oleh MI pada tahun
2002 melahirkan potensi berubahnya konfigurasi baseline Indonesia dan Malaysia. Oleh
Indonesia, hal ini telah diakomodir dalam dalam PP no. 37/2008 tentang garis pangkal.
Akibatnya, klaim zona maritim juga bisa berubah. Sementara itu, Sipadan dan Ligitan
secara teoritis bisa mengklaim zona maritim ke arah selatan. Tentu saja perlu kajian
secara legal dan spasial, seberapa luas klaim ini ke arah Ambalat. Di sisi lain, Indonesia
akan berargumen bahwa pulau kecil seperti Sipadan dan Ligitan semestinya tidak diberi
peran penuh (full effect) dalam hal klaim dan delimitasi maritim. Seberapapun kecilnya,
Sipadan dan Ligitan yang menjadi milik Malaysia dapat memengaruhi klaim maritim di
Laut Sulawesi. Artinya, opsi garis batas maritim juga akan terpengaruh. Tergantung dari
negosiasi antara Indonesia dan Malaysia, garis batas ini yang akan "membagi" dasar laut
di Laut Sulawesi. Apakah Ambalat juga akan terbagi? Hal ini sangat tergantung proses
negosiasi.

Faktor non teknis

Perundingan tentang batas maritim ini sedang berjalan. Pakar-pakar kita dari Deplu dan
instansi teknis seperti Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Dinas Hidro-
Oseanografi Angkatan Laut, dan badan terkait lainnya sedang menjalankan tugasnya.
Memang kenyataannya tidak banyak yang bisa didengar tentang kemajuan proses ini
karena memang tidak semua hal bisa dijadikan konsumsi publik. Di sisi lain, reaksi
masyarakat yang sedimikian rupa dan ketidakakuratan informasi di berbagai media
adalah juga indikasi kegagalan penyebaran informasi yang konstruktif.

Seeperti diberitakan, bisa dimengerti para prajurit TNI siap bersabung nyawa untuk tanah
air. Meski demikian, kita tentu sepakat bahwa kedaulatan dan hak berdaulat bangsa harus
dibela tidak saja dengan peluru tetapi juga pengetahuan. Pekerjaan rumah untuk Malaysia
dan Indonesia adalah menyepakati garis batas maritim secapatnya, sebelum bisa
menyatakan terjadinya pelanggaran kedaulatan atau hak berdaulat. Indonesia adalah
bangsa beradab dan negara kepulauan yang terbesar di dunia. Kita tidak perlu kehilangan
percaya diri dan bereaksi berlebihan menanggapi suatu perkara. Mari membela tanah air
dengan nasionalisme yang cerdas dan terhormat.

Beberapa kasus yang pernah diselesaikan oleh MAHKAMAH


INTERNASIONAL

Perkembangan hukum internasional khususnya mengenai pengajuan kasus-kasus


ke Mahkamah Internasional (International Court of Justice) dalam lima tahun
terakhir ini telah menghadapi babak baru. Paling tidak perhatian terhadap kasus-
kasus yang menyangkut persoalan lingkungan hidup khususnya sumberdaya alam
telah menjadi agenda penting, walaupun dalam kasus-kasus terdahulu hanya
merupakan bagian dari kasus mengenai sengketa perbatasan. Hal ini dapat
diketahui bahwa Mahkamah International telah menerima dua kasus penting yang
berkaitan dengan masalah lingkungan hidup khususnya mengenai pengelolaan
sumberdaya alam yaitu Case concerning Certain Phosphate Lands in Nauru
(Nauru v Australia) dan Gabcikovo-Nagymaros Project (Hungary v. Slovakia).
Mengingat kedua kasus ini memiliki karakteristik tersendiri maka dengan
pertimbangan Pasal 26 Piagam Mahkamah Internasional telah dibentuk the
Chamber of Environmental Disputte pada tanggal 19 Juli 1993.
Dalam kasus Certain Phosphat di Nauru gugatan terhadap Australia diajukan
karena sebagai anggota Dewan Perwalian PBB yang ditugaskan untuk menangani
persiapan kemerdekaan Nauru, Australia dianggap telah gagal melaksanakan
tugasnya. Bahkan kewajibannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan
pembangunan justru menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dengan tidak
merehabilitasi kerusakan akibat proyek penambangan posphat. Dalam kasus
Gabcikovo-Nagymaros Project, sengketa mengenai proyek pembangunan suatu
bendungan khususnya menyangkut soal pelaksanaan perjanjian pembangunan
telah menimbulkan dampak lingkungan dengan terancamnya sumberdaya alam
hayati yang ada di sekitar Sungai Danube.
Sebenarnya sudah sejak dahulu kala sebelum menjadi Mahkamah Internasional
(International Court of Justice atau ICJ) kasus lingkungan hidup khususnya
sumberdaya alam dalam arti luas pernah ditangani oleh Mahkamah Internasional
Permanen (PICJ) Seperti dalam penyelesaian kasus pengelolaan sumberdaya air
di antara negara-negara yang berkepentingan telah diterima dua kasus yaitu
Diversion of the Waters from the River Meuse Case (Netherland v. Belgium) dan
Territorial Jurisdiction of the International Commission of the River Oder Case
1929.
Mahkamah Internasional juga telah beberapa kali menangani sengketa yang
secara tidak langsung bersinggungan juga dengan persoalan sumberdaya alam.
Umumnya kasus-kasus tersebut sangat erat persoalannya dengan masalah
perbatasan negara yang kaya akan sumber daya alam hayati maupun non hayati.
Dalam kasus perebutan wilayah perairan yang kaya akan sumberdaya perikanan
telah diselesaikan dua kasus yang terkenal yaitu Anglo-Norwegian Fisheries Case
(United Kingdom v. Norway)(1951) dan Fisheries Jurisdiction (UK v. Iceland v.
Federal Republic Germany) (1974). Untuk Gulf of Maine Case (USA v. Canada)
1984, Mahkamah Internasional juga memperhatikan adanya sumberdaya alam
yang ada melekat dalam batas-batas geografis.
Dalam kasus-kasus perbatasan yang menyangkut landas kontinen yang kaya akan
sumberdaya alam non hayati Mahkamah Internasional juga telah menerima dan
menyelesaikan beberapa kasus seperti North Sea Continental Shelf (1969),
Continental Shelf (Libyian Arab Jamahiriya v. Malta) (1985) dan Continental
Shelf ( Tunisia v. Libya)(1982).
Hal ini tercantum secara tegas didalam Piagam PBB yang menyatakan :

“Untuk mempertahankan perdamaian dan kemanan dunia dan untuk mencapai tujuan
tersebut perlu mengadakan tindakan-tindakan bersama yang efektif untuk mencegah
dan meniadakan ancaman terhadap perdamaian serta untuk menanggulangi tindakan-
tindakan agresi atau pelanggaran atas perdamaian dengan cara damai sesuai dengan
prinsip-prinsip keadilan dan ketentuan hukum internasional, perukunana atau
enyelesaian sengketa internasional atau keadaan yang mengancam perdamaian
internasional.”

Tujuan diatas menegaskan perlunya dibentuk suatu lembaga atau badan peradilan
yang diberi wewenang menyelesaikan sengketa secara damai. Piagam PBB mengatur
mengenai Mahkamah Internasional pada Bab XIV khususnya pasal 92 hingga 96.
Beberapa kasus lainnya yang cukup penting dalam perkembangan hukum lingkungan
internasional diantaranya :
a. Chorfu Channel Case
Kasus ini merupakan sengketa antara Albania dan Inggris yang cara pengajuannya
melalui pengadilan yaitu ke Mahkamah Internasional pada tahun 1949. Peristiwanya
terjadi pada tanggal 15 Mei 1946 pada saat kapal-kapal Inggris berlayar memasuki
selat Chorfu wilayah Albania. Ketika memasuki laut teritorial Albania kapal-kapal
tersebut ditembaki dengan meriam-meriam yang ada di pantai Albania. Albania
ketika itu sedang dalam keadaan perang dengan Yunani. Tanggal 22 Oktober 1949
sebuah kapal Inggris telah menabrak ranjau yang berada di selat tersebut yang
kemudian menimbulkan korban jiwa. Atas kejadian tersebut Inggris kemudain
melakukan pembersihan terhadap ranjau-ranjau yang ada di selat tersebut tanpa
adanya izin dari pemerintah Albania. Kemudian sengketa timbul dan diajukan ke
Mahkamah Internasional. Keputusan mahkamah Internasional menyatakan bahwa
Albania bertenggungjawab atas kerusakan kapal Inggris dan Inggris telah melanggar
kedaulatan Albania karena tindakannya menyapu ranjau. Persoalan ini sebenarnya
tidak berkaitan dengan masalah lingkungan hidup secara langsung. Namun dalam
kasus ini telah diterapkan suatu prinsip yang mirip dengan Prinsip 21 Deklarasi
Stockhlom 1972 yaitu dalam salah satu keputusannya menyatakan bahwa setiap
negara tidak diperbolehkan melakukan tindakan-tindakan yang mengganggu atau
merugikan negara lainnya.

b. Gulf of Maine Case


Kasus ini mengenai masalah perbatasan antara Amerika Serikat dan Kanada.
Pengajuan perkara diajukan melalui cara ke pengadilan internasional yaitu
Mahkamah Internasional. Dalam sengketa ini untuk pertama kalinya Mahkamah
Internasional membentuk Kamar Penyelesaian Sengketa (Chamber of Disputte
Settlement) berdasarkan pasal 26 (1). Persoalan pokok yang diajukan adalah
mengenai penetapan perbatasan tunggal (single maritime boundary) yang digunakan.
Batas Kanada yang diajukan adalah equidistance line tapi Amerika Serikat
menginginkan bahwa perbatasan tergantung dari keadaan yang relevan di wilayah
tersebut. Selain itu menurut Kanada, Teluk Maine beserta wilayah yang berdekatan
termasuk bagian penting karena memunyai hubungan yang kompleks dan memiliki
proses biologis yang penting. Juga wilayah ini merupakan eksosistem laut yang
penting di wilayah utara. Dilain pihak Amerika Serikat menyatakan bahwa wilayah
ini memiliki karakteristik berdasarkan 3 prinsip rezim ekologi. Dalam hal ini ternyata
Teluk Maine juga membentuk komunitas flora dan funa dalam semua siklus jaring
makanan dari yang terkecil hingga ikan yang terbesar. Mahkamah Internasional
kemudian mempelajari kasus ini.

KASUS SENGKETA ANTARA JEPANG DENGAN RUSIA

Jepang merupakan negara kepulauan di Asia Timur dengan empat pulau besar, yaitu
Hokkaido, Honshu, Shikoku, dan Kyushu, serta beberapa pulau kecil seperti Kepulauan
Ryukyu.

Dengan mengikutsertakan Kepulauan Bonin (Ogasawara-gunto), Daito-shoto, Minami-


jima, Okino-tori-shima, Kepulauan Ryukyu (Nansei-shoto), dan Kepulauan Volcano
(Kazan-retto), luas daratan Jepang 374,744 km². Jepang juga mengklaim memiliki laut
seluas 3.091 km². Dengan demikian luas seluruh wilayahnya 377,835 km².

Terletak di antara Samudera Pasifik Bagian Utara, Laut Jepang, Semenanjung Korea,
Laut Okhotsk dan Laut Cina Selatan, Negara Matahari Terbit itu berbatasan dengan
China, Taiwan, Korea Selatan, dan Rusia.

Dalam bertetangga, pertentangan wilayah perbatasan terjadi antara Jepang dengan ketiga
negara tersebut. Negeri Para Samurai ini bersiteru dengan China dan Taiwan soal
Kepulauan Senkaku (Bahasa Tionghoa: Diaoyutai). Ia juga bersengketa dengan Korea
Selatan tentang Batu Liancourt (bahasa Korea: Dokdo, bahasa Jepang: Takeshima).
Sedangkan dengan Rusia, Jepang bertentangan soal status wilayah Kepulauan Kuril
(Etorofu, Kunashiri, Shikotan dan Habomai).

Perseteruan soal Kepulauan Kuril antara Jepang dan Rusia (Uni Soviet) terjadi sejak
Perang Dunia II. Hingga kini pulau Etorofu, Kunashiri, Shikotan dan Habomai itu berada
dalam kekuasaan Rusia. Namun Jepang mengklaim pulau-pulau itu adalah Terirotori
Jepang bagian Utara yang dijajah oleh Rusia. Jepang juga mengklaim Batu Liancourt
yang diperintah oleh Korea Selatan sejak 1954 juga sebagai wilayah kekuasaannya.

Sementara di kasus Batu Liancourt dan Kepulauan Kuril Jepang menuntut negara-negara
tetangganya, Jepang justru dituntut oleh China dan Taiwan soal Kepulauan Senkaku.
Pulau-pulau tak berpenghuni itu diklaim oleh Jepang masuk dalam zona ekonomi
eklusifnya. Namun China dan Taiwan tidak begitu saja merelakan kawasan yang kaya
ikan dan diindikasikan kaya hidrokarbon itu dikuasai oleh Jepang.

Dalam suasana pertentangan wilayah semacam itu, Jepang berusaha keras


mempertahankan wilayah perbatasannya yang berada dalam kekuasaannya.
Terkait dengan pertahanan atas Kepulauan Senkaku yang berada dalam kekuasaannya,
Pemerintah Jepang membangun mercusuar, sementara aktivis Jepang intensif berkunjung
ke sana untuk merawat mercusuar dan lingkungan sekitarnya.

Pemerintah Jepang juga menyewa 3 pulau di kawasan Kepulauan Senkaku—yaitu


Uotsurishima, Minami-Kojima dan Kita-Kojima—yang dimiliki oleh seorang warga
Jepang untuk mencegah kemungkinan pemiliknya menjual pulau tersebut.
Dalam rangka memecahkan sengketa dengan China, Jepang mengajak China
mengembangan ladang-ladang gas di Laut China Timur bersama. Kedua negara
bersepakat memperoleh bagian 50-50% dalam pengembangan bersama ladang Longjing
atau Asunaro, yang merupakan empat ladang gas paling utara dekat dengan garis batas
kedua negara.
Meskipun masih rentan kritik dari pihak tetangganya, upaya-upaya Jepang dalam
mempertahankan kawasan perbatasannya layak diapreasiasi. Di kasus Kepulauan
Senkaku, Jepang memperlihat kegigihan mempertahankan halaman terluar negerinya dan
berusaha merangkul tetangganya untuk bekerja sama memberdayakan kawasan
perbatasan itu untuk kepentingan bersama.

SENGKETA CINA DENGAN BEBERAPA NEGARA UNTUK


MEMPEBUTKAN KEPULAUAN SPARTLY DAN PARACEL

Sejarah Konflik Laut Cina Selatan


Secara geografis kawasan Laut Cina Selatan dikelilingi sepuluh negara pantai (RRC dan
Taiwan, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei
Darussalam, Filipina), serta negara tak berpantai yaitu Laos, dan dependent territory yaitu
Makau. Luas perairan Laut Cina Selatan mencakup Teluk Siam yang dibatasi Vietnam,
Kamboja, Thailand dan Malaysia serta Teluk Tonkin yang dibatasi Vietnam dan RRC.
Kawasan laut Cina Selatan, bila dilihat dalam tata lautan internasional merupakan
kawasan bernilai ekonomis, politis dan strategis. Kawasan ini menjadi sangat penting
karena kondisi potensi geografisnya maupun potensi sumber daya alam yang dimilikinya.
Selain itu, kawasan tersebut merupakan jalur pelayaran dan komunikasi internasional
(jalur lintas laut perdagangan internasional), sehingga menjadikan kawasan itu
mengandung potensi konflik sekaligus potensi kerjasama.
Di Laut Cina Selatan sendiri terdapat empat kelompok gugusan kepulauan, dan karang-
karang yaitu: Paracel, Spartly, Pratas, dan kepulauan Maccalesfield. Meskipun sengketa
teritorial di Laut Cina Selatan tidak terbatas pada kedua gugusan kepulauan Spartly dan
paracel, (misalnya perselisihan mengenai Pulau Phu Quac di Teluk Thailand antara
Kamboja dan Vietnam), namun klaim multilateral Spartly dan Paracel lebih menonjol
karena intensitas konfliknya. Di antara kedua kepulauan itu, permasalahannya lebih
terpusat pada Spartly, yang merupakan gugus kepulauan yang mencakup bagian laut Cina
Selatan, yang diklaim oleh enam negara yaitu Cina, Taiwan, Vietnam, Brunei, Filipina,
dan Malaysia, sementara Kepulauan Paracel dan juga Pratas, praktis secara efektif
masing-masing sudah berada di bawah kendali Cina dan Taiwan.
Mengenai penamaan Kepulauan di Laut Cina Selatan umumnya tergantung atas
klaimnya, Taiwan misalnya menamakan Kepulauan Spartly dengan Shinnengunto,
Vietnam menyebut dengan Truong Sa (Beting Panjang), Filipina menyebut Kalayaan
(kemerdekaan), Malaysia menyebut dengan Itu Aba dan Terumbu Layang-layang,
sedangkan RRC lebih suka menyebut Nansha Quadao (kelompok Pulau Selatan).
Masyarakat internasional menyebutnya Kepulauan Spartly yang berarti burung layang-
layang.

a. Latar Belakang Sengketa


Sengketa teritorial di kawasan laut Cina Selatan khususnya sengketa atas kepemilikan
Kepulauan Spartly dan Kepulauan Paracel mempunyai perjalanan sejarah konflik yang
panjang. Sejarah menunjukkan bahwa, penguasaan kepulauan ini telah melibatkan
banyak negara diantaranya Inggris, Prancis, Jepang, RRC, Vietnam, yang kemudian
melibatkan pula Malaysia, Brunei, Filipina dan Taiwan. Sengketa teritorial di kawasan
laut Cina Selatan bukan hanya terbatas pada masalah kedaulatan atas kepemilikan pulau-
pulau, tetapi juga bercampur dengan masalah hak berdaulat atas Landas Kontinen dan
ZEE serta menyangkut masalah penggunaan teknologi baru penambangan laut dalam
(dasar laut) yang menembus kedaulatan negara.
Sengketa teritorial dan penguasaan kepulauan di Laut Cina Selatan, diawali oleh tuntutan
Cina atas seluruh pulau-pulau di kawasan laut Cina Selatan yang mengacu pada catatan
sejarah, penemuan situs, dokumen-dokumen Kuno, peta-peta, dan penggunaan gugus-
gugus pulau oleh nelayannya. Menurut Cina, sejak 2000 tahun yang lalu, Laut Cina
Selatan telah menjadi jalur pelayaran bagi mereka. Beijing menegaskan, yang pertama
menemukan dan menduduki Kepulauan Spartly adalah Cina, didukung bukti-bukti
arkeologis Cina dari Dinasti Han (206-220 Sebelum Masehi). Namun Vietnam
membantahnya, dan mengganggap Kepulauan Spartly dan Paracel adalah bagian dari
wilayah Kedaulatannya. Vietnam menyebutkan Kepulauan Spartly dan Paracel secara
efektif didudukinya sejak abad ke 17 ketika kedua kepulauan itu tidak berada dalam
penguasaan sesuatu negara.
Dalam perkembangannya, Vietnam tidak mengakui wilayah kedaulatan Cina di kawasan
tersebut, sehingga pada saar Perang Dunia II berakhir Vietnam Selatan menduduki
Kepulauan Paracel, termasuk beberapa gugus pulau di Kepulauan Spartly. Selain
Vietnam Selatan, Kepulauan spartly juga diduduki oleh Taiwan (sejak Perang Dunia II)
dan Filipina (tahun 1971).
Sedangkan Filipina menduduki kelompok gugus pulau di bagian Timur kepulauan
Spartly yang disebut sebagai Kelayaan. Tahun 1978 menduduki lagi gugus pulau Panata.
Alasan Filipina menduduki kawasan tersebut karena kawasan ritu merupakan tanah yang
tidak sedang dimiliki oleh negara-negara manapun (kososng).Filipina juga menunjuk
Perjanjian Perdamaian San Francisco 1951, yang antara lain menyatakan, Jepang telah
melepaskan haknya terhadap Kepulauan Spartly, mengemukakan diserahkan kepada
negara mana.
Malaysia juga menduduki beberapa gugus pulau Kepulauan Spartly, yang dinamai
Terumbu Layang. Menurut Malaysia, Langkah itu diambil berdasarkan Peta Batas
Landas Kontinen Malaysia tahun 1979, yang mencakup sebagian dari Kepulauan Spartly.
Dua kelompok gugus pulau lain, juga diklaim Malaysia sebagai wilayahnya yaitu
Terumbu laksamana diduduki oleh Filipina dan Amboyna diduduki Vetnam. Sementara,
Brunei Darussalam yang memperoleh kemerdekaan secara penuh dari Inggris 1 Januari
1984 kemudian juga ikut mengklaim wilayah di Kepulauan Spratly. Namun, Brunei
hanya mengklaim peraian dan bukan gugus pulau.
Klaim tumpang tindih tersebut mengakibatkan adanya pendudukan terhadap seluruh
wilayah kepulauan bagian Selatan kawasan Laut Cina Selatan. Sampai saat ini, negara
yang aktif menduduki disekitar kawasan ini adalah Taiwan, Vietnam, Filipina, dan
Malaysia. Sementara RRC sendiri baru menguasai kepulauan tersebut pada tahun 1988,
secara agresif membangun konstruksi dan instalansi militer serta menghadirkan
militernya secara rutin di kepulauan tersebut.
Pada momentum yang bersamaan RRC melakukan pendekatan terhadap Filipina dan
malaysia untuk mencari penyelesaian sengketa atas Kepulauan Spratly secara damai.
Pada waktu itu beberapa negara yang mengklaim laut Cina Selatan telah sepakat untuk
tidak menggunakan senjata sebagai alat penyelesaian sengketa. Akan tetapi RRC
mengadakan pendekatan kepada kedua negara tersebut, RRC terus bersikeras
memperkuat kehadirannya di kepulauan Spralty dengan meningkatkan sejumlah
tentaranya di pulau kecil yang lain di kawasan Laut Cina Selatan.
Sikap dan tindakan RRC itu merupakan bentuk frontal penolakan terhadap serentetan
protes yang dilakukan Vietnam dan seru-seruan agar diadakan perundingan-perundingan
mengenai Kepulauan Spratly. Hal ini semakin jelas karena RRC berusaha mengukuhkan
kehadirannya di Laut Cina Selatan, secara de jure, dengan mengeluarkan Undang-
Undang tentang Laut Teritorial dan Contiguous Zone pada tanggal 25 Febuari 1992, dan
telah diloloskan Parlemen Cina yang memasukkan Kepulauan Spratly sebagai
wilayahnya, sedang de facto, Cina telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan
tersebut, serta melakukan modernisasi kekuatan pertahanan menuju ke arah tercapainya
armada samudra.
Demikianlah, persengketaan teritorial ini menciptakan potensi konflik yang luar biasa
besar di sepanjang kawasan Asia Pasifik. Dengan kondisi seperti ini, masalah
penyelesaian sengketa teritorial di Laut Cina Selatan tampaknya semakin rumit dan
membutuhkan mekanisme pengelolaan yang lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan
ekses-ekses instabilitas di kawasan.

b. Sengketa Bilateral (Bilateral Dispute)


Pada perkembangannya perebuatan wilayah seputar Laut Cina Selatan semakin memanas,
dan konflik-konflik bilateral tidak dapat dihindarkan. Sengeketa Bilateral ini tidak dapat
dianggap sepele, karena pada akhirnya akan menimbulkan ketegangan bagi negara-
negara sekitarnya.
Sengketa antara RRC dan Vietnam misalnya. Sengketa dua negara ini dianggap yang
paling lama dan keras, bahkan pernah berubah menjadi bentrokan senjata, pada tahun
1974 di Paracel. Konflik RRC-Vietnam ini juga dilatarbelakangi persaingan strategis,
baik dalam konteks Timur-Barat dalam kasus RRC-Vietnam Selatan, mapun dalam
konteks persaingan regional, dalam kasus Vietnam (setelah bersatu) – RRC. Sengketa
antara dua negara dini diperuncing dengan konflik teritorial mereka di wilayah lain.
Konflik Malaysia-Filipina, berawal pada tahun 1979 ketika Malaysia menerbitkan Peta
Baru dimana Landas Kontinennya mencakup wilayah dasar laut dan gugusan karang di
bagian selatan Laut Cina Selatan yang kemudian memicu timbulnya konflik kedua negara
tersebut.
Dalam konteks ASEAN, konflik Malaysia-Filipina mengalami hubungan pasang-surut,
dan beberapa kali terjadi insiden yang menaikkan suhu politik dua negara. Konflik
semakin memanas pada saat adanya usulan dari sejumlah politikus dan oposisi Filipina
untuk memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Malaysia.
Konflik bilateral juga terjadi pada negara Filipina dan Taiwan. Klaim dan kontra antara
Filipina-Taiwan juga memperlihatkan situasi yang cukup rawan. Di Kepulauan Kalayan
misalnya ternyata mengalami tumpang tindih diantara mereka. Wilayah yang paling
dipertentangkan adalah Pulau Itu Abaa, yang oleh Filipina disebut Pulau Ligaw. Pada
tahun 1988 Angkatan laut Filipina menahan 4 buah kapal nelayan Taiwan yang dituduh
telah memasuki wilayah perairan Filipina di Kalayaan.
Selain konflik Filipina-Taiwan, filipina juga telah menghadapi beberapa kali
pertentangan yang sengit dengan RRC yang berlangsung sejak tahun 1950-an. Hal ini
bermula ketika sejumlah kalangan di Filipina mulai menunjukkan perhatiannya terhadap
Spratly. Sementara itu media di RRC kerapkali mengeluarkan artikel dan peringatan yang
menegaskan kedaulatan RRC atas Spratly.
Pada dasarnya sengketa Filipina-RRC di Spratly relatif lebih tenang dibandingkan
misalnya, sengketa Vietnam-RRC. Walaupun RRC menentang pertanyaannya klain
Filipina mulai melancarkan aksi pendudukan terhadap sejumlah pulau dan gugusan
karang di Kalayaan. Hal ini nampaknya merupakan dampak dari usaha RRC untuk
memperbaiki kedudukan geopolitisnya di Asia Pasifik dengan “open door policy” nya
dalam menjalin hubungan dengan negara-negara kawasan.
Namun dalam perkembangan terakhir, sengketa Filipina-RRC meningkat dengan adanya
berita bahwa RRC telah menempatkan kapal perang dan membangun fasilitas baru di
gugusan karang yang diklaim Filipina. Peselisihan dua negara ini semakin sukit dihindari
pada 1995, ketika terjadi insiden di kawasan itu dimana militer filipina membongkar
bangunan Cina di Spratly. Pada saat yang bersamaan, Angkatan laut Filipina menangkap
nelayan Cina sehingga hubungan Cina-Filipina semakin menegang.
Selanjutnya adalah sengketa antara Malaysia-Vietnam. Sebagai seseama anggota
ASEAN, Malaysia dan Vietnam kerapkali berbenturan karena persoalaan pendudukan
Vietnam terhadap beberapa wilayah Malaysia termasuk Terumbu layang-Layang. Secara
fisik wilayah tersebut dikuasai oleh Vietnam. Sebaliknya pada tahun 1977 Malaysia
menerbitkan peta baru.
Lain halnya dengan sengketa Filipina-Vietnam di Spratly dimana terfokus pada cakupan
4 pulau atau gugusan karang yang kini dikuasai Vietnam yaitu (Southwest Cay) dalam
bahasa tagalog adalah Pugad, Sin Cowe, Nam Yit, dab Sand Cay. Filipina menganggap
keempat pulau itu sebagai bagian dari Kalayaan, yang diduduki secara tidak sah oleh
Vietnam. Pada November 1999, terjadi ketegangan yang lebih besar antara dua negara
ini, setelah pesawat pengintai filipina ditembak pasikan Vietnam. Pesawat Filipina
berkali-kali terbang diatas sejumlah pulau disemenanjung Spratly.
Sementara itu Brunei yang merupakan satu-satunya pihak yang tidak mengklaim pulau
Laut Cina Selatan, termasuk Spratly tetap saja mengalami konflik dengan Malaysia.
Yaitu sengketa mengenai sebuah karang di sebelah selatan Laut Cina Selatan yang
sewaktu pasang berada di bawah permukaan laut.
Brunei mengklaim gugusan karang itu dan juga landas kontinen di sekitarnya. Sementara
Malaysia pada 1979 mengklaim gugusan karang tersebut dan mendudukinya serta telah
membangun mercusuar diatas gugusan karang tersebut. Sengketa antara kedua negara ini
relatif tenang. Meskipun gugusan karang ini sebenarnya merupakan konflik multilateral,
karena diklaim pula oleh RRC, Vietnam dan Taiwan.
Konflik bilateral lainnya adalah antara Taiwan-RRC. Jika dilihat secara historis dari sisi
politik teritorialnya, sesungguhnya tidak terdapat sengketa wilayah karena klaim RRC di
Laut Cina Selatan sama dengan klain Taiwan. Terakhir adalah sengketa antara Indonesia-
RRC yang tersangkut sengketa bilateral dalam masalah landas Kontinen dan ZEE
sebagaimana sidefinisikan dalam konvensi Hukum Laut Internasional 1982.
Meskipun Indonesia bukan merupakan penuntut atas kepulauan atau bantuan di gugusan
Spratly, akan tetapi Indonesia memiliki fakta sengketa bilateral dengan RRC. Sengketa
ini tidak begitu menonjol ketimbang sengketa oleh enam negara lainnya dilaut Cina
Selatan. Selain itu, RRC juga pernah menyatakan klaim terhadap sebagian Laut Natuna
sampai ke perairan Pulau Bangka dan 20 mil dari Kalimantan Barat dan sekeliling
Vietnam. Laut Natuna sangat vital bagi RRC karena kawasan itu merupakan alur
pelayaran penting sebagai penghubung komunikasi di Utara –Selatan, dan Timur-Barat.
Begitu pula RRC sudah melakukan kontrak eksplorasi minyak dengan Amerika Serikat di
sekitar Pulau Hainan (sebelah utara Natura).

c. Sengketa Antar Negara (Multiple Dispute)


Masalah sengketa antar negara di kawasan, sangat terkait dengan aspek “national
interest” masing-masing negara dalam mewujudjan keinginan mempertahankan wilayah
pengaruh/hegemoni serta jaminan akan keselamatan pelayaran sebagai akibat yang
disebabkan posisi strategis dan vital di kawasan Laut Cina Selatan. Klain teritorial
tumpang tindih atas Laut Cina Selatan sesungguhnya bukanlah masalah baru. Secara
tradisional, Cina termasuk Taiwan dan Vietnam telah menegaskan pemilikan mereka atas
keseluruhan gugusan kepulauan Spratly dan sumberdaya yang ada di kawasan itu.
Pada perkembangan selanjutnya Filipina dan Malaysia juga mengklaim sebagian pulau di
kawasan Spratly, sedangkan Brunei Darussalam mengklaim Louise Reef, gugusan karang
yang terletak di luar gugus Spratly. Dalam masalah klaim multilateral, seringkali masalah
klaim RRC, Taiwan dan Vietnam dibahas menjadi satu karena erat kaitannya dengan satu
dengan lainnya, akibat perkembangan sejarah, misalnya antara RRC dan Taiwan,
Vietnam Selatan, Vietnam Utara dan Vietnam setelah unifikasi.
Cina sebenarnya merupakan satu-satunya negara sampai Perang Dunia I yang mengklaim
kedaulatan sepenuhnya atas seluruh Kepulauan Spratly, dengan mendasarkan klaimnya
atas penemuan pertama. Masalah kedaulatan menjadi masalah yang sensitif anatara
Prancis, Inggris dan Jepang pada akhir abad 19, padahal pada tahun 1876 Cina telah
menyatakan bahwa kepulauan Spratly merupakan miliknya.
Saling Klaim juga dilakukan beberapa negara lainnya, antara lain; Taiwan mengklaim
dan menduduki kembali (1956) kelompok kepulauan ini dengan menempatkan satu
garnisiun berkekuatan 600 tentara secara permanen di pulau terbesar, yaitu Itu Aba
(Taiping dalam bahasa Cina), serta membangun landasan pesawat dan instalasi militer
lainnya; Vietnam Selatan kembali menegaskan haknya atas kepulauan Spratly dan
Paracel (1951) dalam konfrensi Sanfrancisco. Bahkan setelah unifikasi, Vietnam
menegaskan kembali tuntutannya atas kedua kepulauan tersebut pada berbagai
kesempatan, dan vietnam secara teratur mengadakan patroli di sekitar Paracel.
Berbeda dengan ketiga negara sebelumnya, Filipina tidak mengklaim seluruh kepulauan
Spratly dan tidak juga didasarkan atas alasan sejarah. Filipina pertama menyatakan
klaimnya apada tahun 1946 di Majelis Umum PBB dan diulang lagi (1950) ketika
Taiwan menarik pasukannya. Meskipun Filipina lebih belakangan menyatakan klaimnya
atas gugusan Spratly, namun negara ini telah awal melakukan pendudukan militer,
membuat landasan terbang dan menempatkan militer di kepulauan itu. Enam pulau yang
diduduki Filipina merupakan pulau-pulau terbesar di kepulauan itu.
Sementara itu Malaysia baru kembali mengklaim (1979) atas 11 pulau karang di bagian
Tenggara Kepulauan Spratly berdasarka pemetaan yang dilakukannya. Dan pada tahun
1983 melakukan survey dan menyatakan kepulauan tersebut berada di perairan Malaysia.
Dan Brunei Darussalam adalah yang terakhir menyatakan klaimnya atas sebagian
kawasan Spratly. Klaim Brunei hampir serupa dangan Malaysia karena didasarkan pada
doktrin Landas Kontinental, akan tetapi garis-garis batas ditarik secara tegak lurus dari
dua titik ekstrem di garis pantai Brunei darussalam.

III. Konsep Kerjasama Politik dan Keamanan ASEAN

Dalam mengatasi potensi konflik di Laut Cina Selatan, diharapkan nilai-nilai positif yang
dapat dicapai ASEAN melalui pengelolaan keamanan bersama regional (regional
common security) harus dipromosikan untuk menciptakan keamanan dan perdamaian
berlandaskan kepentingan yang sama, sehingga semua negara kawasan, termasuk negara
ekstra kawasan harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi dalam memberikan
jaminan keamanan kawasan di samping adanya konvergensi kepentingan masing-masing.
Hal ini penting karena pada dasarnya kawasan Laut Cina Selatan merupakan lahan
potensial masa depan dan salah satu kunci penentu bagi lancarnya pertumbuhan ekonomi
dan pembangunan nasional masing-masing negara kawasan. Selain itu, Laut Cina Selatan
juga tidak dapat dijauhkan dari fungsinya sebagai safety belt dalam menghadapi
ancaman, tantanganm hambatan dan gangguan khususnya bagi negara-negara dalam
lingkaran Asia Tenggara dan Asia Pasifik. Pada titik inilah ASEAN melihat urgensitas
Konflik Laut Cina Selatan sebagai masalah yang sangat penting.

Hingga saat ini banyak negara menghadap persoalan perbatasan dengan


tetangganya yang belum terselesaikan lewat perundingan. Bahkan kebiasaan
menunda penyelesaian masalah justru menambah rumit persoalan. Beberapa
persoalan perbatasan dan "dispute territorial" yang cukup mengusik harmonisasi
antar negara maupun ke-amanan kawasan, antara lain;
a. Sengketa Indonesia dan Malaysia mengenai garis perbatasan di perairan
laut Sulawesi menyusul perubahan status kepemilikan Pulau Sipadan dan
Ligitan, dan garis perbatasan di pulau Kalimantan (salah satunya mengenai blok
Ambalat);
b. Perbedaan pendapat dan kepentingan antara Indonesia, Australia dan
Timor Leste di perairan Celah Timor;
c. Konflik historis antara Malaysia dan Filipina mengenai klaim Filipina atas
wilayah Kesultanan Sabah Malaysia Timur;
d. Konflik antara Malaysia dan Singapura tentang pemilikan Pulau Batu
Putih (Pedra Branca) di Selat Johor;
e. Ketegangan sosial politik laten Malaysia dan Thailand di wilayah perbatasan;
f. Perbedaan pendapat antara Malaysia dan Brunei mengenai batas
wilayah tak bertanda di daratan Sarawak Malaysia Timur serta batas wilayah
perairan Zona Ekonomi Eksklusif;
g. Perbedaan pendapat antara Malaysia dan Vietnam mengenai batas
wilayah di perairan lepas pantai dari masing-masing negara;
h. Konflik berlarut antara Myanmar dan Bangladesh di wilayah perbatasan;
Ketegangan antara Myanmar dan Cina mengenai batas wilayah kedua negara;
j. Sengketa Myanmar dan Thailand, mengenai perbatasan ke dua negara;
k. Sengketa berlaRut antara Cina dengan India mengenai perbatasan kedua
negara;
l. Konflik antara Vietnam dan Kamboja di wilayah perbatasan kedua negara;
m. Sengketa antara Cina dan Vietnam tentang pemilikan wilayah perairan di
sekitar Kepulauan Paracel;
n. Konflik laten antara Cina di satu pihak dengan Indonesia, Malaysia,
Brunei, Filipina, Vietnam di lain pihak sehubungan klaim cina atas seluruh
perairan Laut Cina Selatan;
o. Konflik intensitas rendah (Low intensity) antara Cina dengan Filipina,
Vietnam dan Taiwan mengenai status pemilikan wilayah perairan Kepulauan
Spratly;
p. Konflik antara Cina dengan Jepang mengenai pemilikan Kepulauan
Senaku (Diaoyutai);
q. Sengketa antara Cina dengan Korea Selatan mengenai pemilikan
Liancourt Rocks (Take-shima atau Tak do) dibagian selatan laut Jepang;
r. Konflik antara Cina dengan Korea Selatan mengenai batas wilayah
perairan teritorial;
s. Sengketa berlarut antara Rusia dengan Jepang mengenai status
pemilikan Kepulauan Kuril Selatan;
t. Sengketa antara Cina dengan Taiwan sehubungan rencana reunifikasi
seluruh wilayah Cina oleh RRC;
u. Sengketa India dan Pakistan mengenai status wilayah Kashmir.
Memperhatikan anatomi persengketaan di atas, maka tampak sebagian besar
terjadi pada garis per-batasan di perairan laut.