Anda di halaman 1dari 26

2.

1 Sejarah Kelahiran PGRI pada zaman kemerdekaan


Sebelum pecah perang dunia kedua ketika Indonesia berada dalam kekuasaaan Pemerintah Kolonial
Belanda berbagai macam organisasi guru berdiri. Kehidupan organisasi guru tersebut diwarnai dengan berbagai
macam pengaruh dari luar, baik yang bersifat kebijaksanaan pemerintahan kolonial maupun kondisi masyarakat
waktu itu Oraganisasi guru yang lahir waktu itu diwarnai, antara lain oleh hal-hal berikut :
1.

Kesadaran korps dengan segala aspek-aspeknya.

2.

Kebangkitan Nasional yang menggandrungi kemerdekaan bangsa yang disadari keharusan adanya
persatuan bangsa akan tetapi belum dapat menemukan bentuk wadahnya yang cocok.

3.

Politik devide et impera oleh pemerintah kolonial.

Kesadaran nasional, kesadaran kan persatuan dan kesadarankorps profesi guru sudah lahir pada guru sebelum
perang. Anggota Budi Oetomo waktu itu kebanyakan dan lahir dari lingkungan guru-guru. Logis memang hal ini
tidak lepas karena di negara terbelakang dan atau jajahan manapun di masa lalu warga masyarakat umum yang
dianggap terdidik adalah orang-orang terdidik atau bersekolah sesuai dengan keperluan untuk dijadikan aparat
pemerintahan kolonial dan yang keduanya adalah guru-guru. Rakyat umum cukup hanya bias baca tulis saja.
Pada tahun 1912 berdirilah suatu organisaasi guru yang besifat uni, yaitu PGHB (Persatuan Guru Hindia
Belanda) yang keanggotaannya meliputi guru-guru tanpa memandang ijazah, status, tempat kerja, keyakinan agama,
dan lain-lain. Salah satu kegiatan PGHB yang menonjol di bidang sosial adalah didirikannya perseroan asuransi
Bumi Putra langsung di bawah pimpinan PGHB. Ketua Pengurus Besar PGHB pertama dan pendiri perseroan
asuransi Bumi Putra tersebut adalah Sdr. Karta Hadi Soebroto. Perseroan tersebut akhirnya berdiri sendiri lepas
dari kaitan gerakan kaum guru.
Sungguh menyedihkan bahwa dari kelahiran persatuan yang bulat itu akhirnya harus mengalami masa
perpecahan dalam bentuk organisasi-organisasi yang berdasarkan ijazah, lapangan kerja, dan lain-lain.
Mulai tahun 1919-an lahir berbagai organisasi guru, yaitu :
1.

PGB (Persatuan Guru Bantu)

2. PNB (Perserikatan Normal School)


3. KSB (Kweek School Band)
4. SOB (School Opziener Bond)

5.

PGD (Persatuan Guru Desa)

6. VOB (Vaks Onderwijzer Bond)


7. PGAS (Persatuan Guru Ambacht School)
8. HKSB (Hoogere Kweek School Bond)
9. NIOG (Netherlands Indische Onderwijzer Genootschap)
10. OVO (Onderwijzer Vaks Organisative/lulusan HIK)
11. COV (Christelijke Onderwijzer Vereeniging)
12. KOB (Katholieke Onderwijzer Bond)
13. COB (Chinese Onderwijzer Bond)
14. Vereeniging van leeraen voor het Middelbaaronderwijs, dan sebagainya.
Usaha-usaha untuk mengatasi keadaan organisasi yang sudah berkelompok-kelompok ini dalam bentuk
federasi, termasuk mengaktifakn terus PGHB yang pada tahun 1932 diganti PGI (Persatuan Guru Indonesia)
ternyata tidk berhasil menolong keadaan secara efektif.
Pada zaman pendudukan Jepang di Indonesia, praktis tidak ada satupun organisasi masyarakat yang tampil
kecuali organissasi bentukan Jepang. Di Jakarta, antara lain ada satu bentuk perserikatan guru dengannama Guru
dipimpib oleh Sdr. Amin Singgih didampingi oleh beberapa orang Kepala Sekolah yaitu Saudara-saudara Adam
Bachtiar, Soebroto, Ny. Woworuntu, Dan lain-lain tapi tidak terbentuk organisasi yang jelas.
Guru-guru dan tokoh-tokoh aktivis organisasi di lingkungan kegururan lebih banyak mengambil
kesempatan bergerak sebagai pemimpin organisasi PETA, Keibodan, Seinendan, Fujinkai, (bagi guru wanita) dan
sebagainya yang kesemuanya itu akhirnya berhikmah menjadi sarana mempercepat proses pertumbuhan kesadaran
nasional, pembentukan rasa kesatuan bangsa dan rasa lebuh gandrung akan Kemerdekaan Tanah Air dan Bangsa
secepat-cepatnya.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, oleh Bung Karno dan Bung Hatrta
atas nama Bangsa Indonesia merombak perikehidupan masyarakat bangsa dalam berbagai bidang kehidupan.

Selanjtnya, hidup sebagai bangsa yang dijajah menjadi negara yang merdeka, berdiri sendiri, bertanggung jawab
mengurus rumah tangganya sendiri di antara kehidupan bangsa-bangsa dunia.
Tantangan yang pertama dikhadapi adalah merebut kekuasaan pemerintah dari tangan tentara pendudukan
Jepang dan mempertahankan/menegakkan kemerdekaan dari serangan tentara kolonial Belanda dengan
perlindungan tentara Sekutu yang berusaha ingin kemballi berkuasa di bumi nusantara. Disamping itu, kita juga
harus menyususn dan menata kehidupan berpemerintahan dan bernegara sebagaimana layaknya suatu bangsa yang
merdeka. Dalam suasana yang masih banyak diwarnai oleh trauma menjadi bangsa yang terjajah, gelora revolusi
merebut dan memepertahankan kemerdekaan berkobar dimana-mana dalam setiap dada rakyat Indonesia.
Negara Republik Indonesia sudah merdeka yang diproklamsikan oleh Nung Karno dan Bung Hatta
mewakili bangsa Indonesia merombak perikehidupan bangsa Indonesia . Bangsa kita hidup dari penjajahan kolonial
Belanda, sekarang menjadi bangsa yang merdeka, berdiri sendiri bertanggung jawab dan berumah tangga sendiri.
Setelah pengumuman kemerdekaan RI masih ada tantangan dari penjajah Jepang dan kolonial Belanda
yang ingin kembali menjajah Indonesia. Melalui pertempuran di Surabaya dengan sekutu, NICA_Belanda ingin
membonceng tentara sekutu Inggris. Perang kemerdekaan RI, kegiatan yang bersifat nasional, regional, ataupun
lokal, tetapi tujuannya tetap satu demi tegaknya kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Di saat memuncak Gelora Revolusi, maka pada tanggal 23 November sampai dengan 25 November 1945
dibukalah Kongres PGRI pertama di Surakarta. Tempat pembukaannya adalah di Gedung Sana Harsana (Pasar Pon)
dan tempat kongresnya di Gedung Van Deventer School, sekarang ditempati SMP Negeri 3 Surakarta. Pada waktu
kongres mendapat sambutan miltraliyur Belanda dari kapal udara yang mengadakan operasi militernya dengan
sasaran gedung RRI Surakarta. Organisasi PGRI yang baru lahir itu bersifat : 1) unitaristis, 2) independen, 3)non
partai politik serta keanggotaannya tanpa pandang perbedaan ijasah, status, tempat kerja, jenis kelamin, dan
keyakinan agama dan lain sebagainya.
Kehadiran PGRI sebagi wadah dan sarana PGRI yang sedang berevolusi Kemerdekaan, merupakan
manifestasi akan keinsyafan dan rasa tangggung jawab kaum guru Indonesia dalam memenuhi kewajiban akan
pengabdiannya serta partisispasinya kepada perjuangan menegakkan untuk mengisi kemerdekaan Republik
Indonesia.
Guru-guru sadar kan tugasnya, bahwa pendidikan adalah sarana utama dalam pembangunan bangsa dan
negara, mereka melaksanakan dwifunsi dalam baktinya yaitu : di garis belakang mendidik dan mengajar di sekolahsekolah biasa, sekolah peralihan, sekolah pengungsian. Disampingnya kerja sama dengan para bapak/ibu mendirikan
dapur umum dan mempersiapkan makanan tahan lama untuk para pejuang di garis depan. Kecuali itu mereka
menjadi pemimpin /komandan barisan tentara : BKR, TKR, TRI/TNI, BARA, API, BBRI, Hizbullah, Sabilillah,
Laskar Rakyat, LASWI, KRIS, PMIU dan para pejuang lainnya.

Jika kita meneliti dalam mukadimah AD/ART PGRI dan meneliti kehidupannya organisasi, sejak
kelahirannya sampai sekarang dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.

PGRI lahir karena hikamah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17Agustus 1945, merupakan
manifestasi aspirasi kaum guru Indonesia, untuk mengambil bagian dan bertanggung jawab sesuai dengan
bidang profesinya sebagai pendidik bangsa demi tercapainya cita-cita kemerdekan.

b.

PGRI mempunyai commited kepada NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

c.

PGRI berbatang tubuh suatu organisasi berlandaskan proklamasi. Suatu organisasi pemersatu kaum guru
bersifat : 1) unitaristis, 2) independen, 3) non partai politik. Juga merupakan sarana, wahana, usaha
kepentingan kaum guru, bagi pengembangan profesinya, pendidikan pada umumnya serta pengembanagan
kepada tanah air dan bangsa.

d.

PGRI adalah suatu organisasi profesi guru yang lahir dan mewariskan jiwa, semanagat, dan nilai-nilai 1945
secara teru-menerus kepada setiap generasi bangsa Indonesia.

Susunan pengurus Besar PGRI hasil Kongres I 25 November 1945


PGRI merupoakan usul persembahan dari rekan-rekan yang tergabung dalam organisasi Persatuan Guru Seluruh
Priangan (PGSP), delegasinya Sdr. A. Zahri (almarhum sekjen PB-PGRI). Susunan PB PGRI hasil Kongres I ialah
1.

Ketua I : Amin Singgih

2.

Ketua II : Rh. KOesnan

3.

Ketua III : Soemitro

4.

Penulis I : Djajeng Soegianto

5.

Penulis II : Ali Marsaban

6.

Bendahara I : Soemidi Adisasmito

7.

Bendahara II : Marto Soedigdo

8.

Anggota : Siti Wahyunah

9.

Anggota : Siswo Widjojo

10. Anggota : Parmoedjo


11. Anggota : Siswowardjojo
Beberapa bulan kemudian terjadilah pengunduran diri ketua I, karena ia diangkat menjadi Bupati Pamongpraja
Mangkunegaraan Surakarta sehingga terpaksa diadakan susunan Pengurus Besar PGRI, formasinya :
1.

Ketua I : : Rh. Koesnan

2.

Penulis I : Sastrosoemarto

3.

Penulis II : Kadjat Martosoebroto

4.

Bendahara I : Soemidi Adisasmito

5.

Bendahara II : Marto Soedigdo

6.

Anggota : Djajeng Soegianto

7.

Anggota : Siswo Widjojo

8.

Anggota : BAroja

9.

Anggota : Siswowardjojo

10. Anggota : Ny. Noerhalmi


11. Anggota : Soespandi Atmowirogo
(PGRI Dari Masa Ke Masa 1989 : 42-44)
2.2 Perjuangan Organisasi PGRI
2.2.1 Partsipasi PGRI dalam Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan
2.2.2 Peranserta PGRI dalam Mewujudkan Pendidikan Nasional
A. PGRI Pelopor dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Sebagai organisasi yang cita-cita perjuangannya sejajar dengan cita-cita bangsa Indonesia maka tantangan
dan hambatan PGRI seirama dengan arus perjuangan bangsa Indonesia saat ini. Setelah Kongres 1 PGRI mulai
menyusun dan mengembangkan organisasinya ke seluruh pelosok tanah air.
Adapun tuntutan kongres terhadap pemerintah antara lain :
1.

Sistem pendidikan agar dilakukan atas dasar kepentingan Nasional.

2.

Gaji guru tidak terbatas satu kolom.

3.

Diadakannya Undang-Undang Pokok Pendidikan dan Undang-Undang Pokok Perburuhan.


Keputusan Kongres PGRI II adalah wujud dari tanggung jawab nasional PGRI dalam upaya memperbaiki

sistem pendidikan kolonial ke arah sistem pendidikan nadional.


Kongres III menegaskan garis perjuangan PGRI yang secara jelas dcantumkan dalam asas dan tujuan PGRI
serta menjadi identitasnya . Garis perjuangan tersebut merupakan haluan bagi PGRI dan menjadi pedoman bagi
organisai serta anggotanya dalam mewujudkan cita-cita. Sikap dan pola pikir , jiwa, dan semangat bangsa Indonesia
dalam perjuangan merebut, memperjuangkan, dan mengisi kemerdekaan melalui berbagai forum organisasi PGRI
dirumuskan kemudian diputuska menjadi Jati Diri PGRI.
Jati Diri PGRI menjadi identitas dan kepribadian organisasi PGRI diwujudkan dalam sikap perilaku
anggotanya antara lain :
1.

Sikap nasionalisme

2.

Persatuan dan Kesatuan

3.

Demokrasi

4.

Kekeluargaan

5.

Disiplin

6.

Tak kenal menyerah


Nama PGRI mulai dikenal di luar negeri terbukti hubungan NEA (National Education Accociation)

mengundang PGRI untuk meninjau pendidikan di USA selama 8 bulan. WCOTP mengundang PGRI untuk
mengikuti Kongres WCOTP di London ( juni 1948 ).
B. PGRI sebagai Pelopor Mengubah Sistem Pendidikan Kolonial menjadi Sistem Pendidikan Nasional

Sejak Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sampai dengan Oktober 1946 Kementrian Pengajaran tidak
bernahkoda. Perjuangan PGRI menjadikan berlakunya Pendidikan Nasional terus berlangsung.Melalui pemikiran
tokoh-tokoh PGRI dalam pertemuan dengan pemerintah antara lain : H.Basyuni Suryamiharja, Drs.Gazali Dunia,
Prof.Dr.Winarno Surahmat, Dra. Mien,Warmaen, Ki Suratman, Dr.Anwar Yasin.M.Ed.
Dalam Kongres PGRI XIV,lahirlah Keputusan Nomor 001/KPTS/XIV/1978 tentang usaha meningkatkan
satu sistem pendidikan nasional yang mantap dan terpadu.
Akhirnya melalui perjuangan panjang pada tahun 1989 Pemerintah dengan persetujuan DPR RI menetapkan
Undang-Undang Ri Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mulai diundangkan pada tanggal
27 Maret 1989.
2.2.3 Perjuangan PGRI dalam Mempersatukan Guru Republik Indonesia
A. Kongres PGRI IV di Yogyakarta
1.

PGRI sebagai Organisasi Perjuangan


Sebagai organisasi pejuang dan organisasi profesi PGRI yang dilahirkan dalam kancah perjuangan fisik

menentang melawan penjajah Belanda memiliki sifat dan semangat yang diwarisi semangat Proklamasi 17 Agustus
1945.
Pada tanggal 26-28 Februari 1950 dilaksanakan Kongres PGRI IV di Yogyakarta (sebagai ibu kota RI
sementara) dan Mr.Asaat ditunjuk sebagai pemangku jabatan Republik RI. Berikut sambutannya :
a.

Persatukanlah, asilah dan sempurnakan makna ikrar resmi berdirinya NKRI

b.

Memuji PGRI karena merupakan pencerminan semagat juang para guru sebagai pendidik rakyat dan
pendidik bangsa..

c.

Menganjurkan agar PGRI sesuai dengan tekad da kehendak para pendirinya.

2.

Suasana Kongres PGRI IV


Tekad dan semangat juang yang menggelora , rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh mewarnai suasana

Kongres PGRI IV.Mereka datang dengan tekad bulat untuk mempertsatukan diri bernaung di bawah panji-panji
PGRI.Sejarah perjuangan Indonesia berdasarkan perjanjian Linggarjati pada tanggal 23 Maret 1947 secara de facto
diwilayah RI meliputi Sumatra, Jawa dan Madura.Kemudian muncul perjanjian Renville pada 17 Januari 1948
wilayah RI menjadi semakin sempit.
3.

Pengakuan RIS oleh Belanda dan Pengaruhnya dalam kongres PGRI IV pada 27 Desember 1949.

4.

Keputusan penting yang dikeluarkan dalm kongres PGRI IV

Mempersatukan seluruh guru di tanah air Indonesia dalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI.
5.

Susunan Pengurus Besar PGRI Hasil Kongres PGRI IV


o

Ketua I : RH.Koesnan

Ketua II : Soejono

Ketua III : Soejono Kromodimulyo

Sekjen I : Soekarno

Sekjen II : Mochamad Hidayat

Bendehara I : Soetinah

Bendahara II : Soetedjo

Ketua Perburuhan : ME.Soebiadianata

Wakil Perburuhan : Soeparmo

Ketua Pendididikan : Soedarsono

Wakil Pendidikan : F.Wanchendorff

B. Kongres PGRI V di Bandung


1.

Usaha mempersatukan guru yang bersikap Cooperator dan Non cooperator.


Masalah yang timbul mengenai penyesuaian gaji pegawai dan penghargaan kepada golongan non

cooperator yang dengan tegas menentang Belanda saat perang.Adapun usaha yang dilakukan antara lain :
o

Menyelesaikan pelaksanaan penyesuaian gaji pegawai berdasarkan PP yang ditetapkan.

Menyelesaikan upaya pemberian penghargaan kepada kepada golongan Cooperator dan Non
Cooperator

Mendesak Pemerintah agar menyusun peraturan gaji baru


2.

Konsolidasi organisasi dan hasil yang dicapai

Upaya yang dilakukan adalah :

47 cabang PGRI di sulawesi dan Kalimantan masuk ke dalam barisan PGRI

Ada 2500 guru yang berrsedia digaji berbeda menurut ketentuan Swapraja/Swatantra tertolong dsan
akhirnya digaji secara sama dan seragam dari pusat.

Pada bulan April 1951 tuntutan PGRI kepada Pemerintah tentang honor kenaikan dikabulkan.

Mulai dilakukan konferensi daerah secara teratur

Kongres PGRI IV mengandung momentum penting yaitu :


o

Menyambut lustrum PGRI

Wujud rasa syukur dan suka cita yang mendalam karena SGI/PGI (Serikat Guru
Indonesia/Persatuan Guru Indonesia) meleburkan diri ke dalam PGRI

C. Lahirnya Organisasi-Organisasi yang Berasaskan Ideologi, Agama, dan Kekaryaan


1. Gejala Separatisme
Politik devide et impera yangdiciptakan oleh penjajah Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Oleh
karena itu untuk menampung aspirasi rakyat Indonesia ada kasak kusuk akan didirikan organisasi yaitu :
a.

Ikatan PS/PSK Ikatan Direktur SMP/SMA

b.

Ikatan guru CVO/OVO

c.

Mendirikan IGN, IGM, PGII

2.

Usaha-usaha PGRI menghadapi Separatisme

Upaya yang dilakukan adalah :


a.

PB PGRI lebih meningkatkan konsolidasi organisasi ke cabang daerah.

b.

Membangkitkan kembali rasa persatuan dan kesatuan, jiwa semangat juang 45, melalui berbagai
kegiatan.

c.

Menjelaskan hasil-hasil perjuangan PGRI. Hasil yang dicapai antara lain :

Keberhasilan PGRI dalam menyelesaikan PS/PSK yaitu berhasil mengecilkan wilayah


PS/PSK menerima uang jalan tetap dan kedudukannya dalam PGP baru yang lebih baik.

Pengurangan maksimum jam mengajar dalam seminggu dan perbaikan honorarium.

Perbaikan nasib rekan-rekan guru yang berijazah CVO/DVO.

D. Asas yang Diterapkan dalam Organisasi PGRI


1.

Penerapan asas unitaristik

PGRI menerapkan asas unitaristik sebagai asa perjuangannya. Dengan asas ini PGRI berupaya
menghilangkan perbedaan , PGRI tidak mengenal perbedaan agama, ras,suku, bangsa, pendidikan, ijazah, jenis
kelamin dan sebagainya.
2.

Penerapan asas Independen

PGRI merupakan organisasi mandiri. Asas ini memotivasi untuk mampu berdiri di atas kaki sendiri penuh
percaya diri, bebas ketergantungan dari pihak lain.
3.

Penerapan asas non partai politik

PGRI merupakan organisasi non politik yang tidak terikat pada salah satu kekuatan sosial politik yang ada
pada PGRI memberikan kebebasan pada anggotanyadalam menyalurkan aspirasinya.
2.2.4 Usaha PGRI dalam Meningkatkan Profesionalitas Guru
2.2.5 Perjuangan PGRI dalam menumpas pemberontakan G 30 S PKI
2.2.6 Perjuangan PGRI dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa dan Pembangunan Nasional
A. PGRI Dalam Penyusunan Konsep Sistem Pendidikan Nasional
1.

Pengabdian di bidang pendidikan


Seperti yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 pada alinea keempat, ada bagian kalimat

mencerdaskan kehidupan bangsa, PGRI sangat peduli dan selalu berperan aktif untuk mewujudkan cita-cita
Proklamasi 17 Agustus 1945.

Oleh karena itu, guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya, sebagai guru dengan mempedomi
kode etik guru Indonesia sebagai berikut :
a.

Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa
Pancasila.

b.

Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran professional.

c.

Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan
pembinaan.

d.

Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar
(PBM).

e.

Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran
serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.

f.

Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.

g.

Guru memelihara hubungan profesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan social.

h.

Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi, sebagai sarana perjuangan
pengabdian.

i.

Guru melaksanakan segala kebjaksanan pemerintah dalam bidang pendidikan.

2.

PGRI dalam upaya menyusun konsep pendidikan nasional


Melalui kongres PGRI XIV telah melahirkan beberapa keputusan, diantanya keputusan No.

001/KPTS/KGR/XIV/979 tentang : Usaha Meningkatkan Satu Sistem Pendidikan Nasional yang Mantap dan
Terpadu selain itu disampaikan pula pernyataan tentang Pembaharuan Sistem Pendidikan Nasional.

B. PGRI Membangun Lembaga-Lembaga Pendidikan yang Bernaung di Bawah YPLP-PGRI


1.

Latar Belakang berdirinya YPLP-PGRI


Kongres PGRI XIII bulan Nopember 1973. PGRI menegaskan menjadi organisasi profesi. Setelah

keluarnya keputusan kongres PGRI XIV tanggal 9 Juni 1979 , bahwa pembinaan lembaga pendidikan PGRI agar
secara nasional terkendali, organisasi dan konsepsional, maka sudah waktunya PGRI secara nasional, untuk

melaksanakan pembinaan lembaga-lembaga pendidikan PGRI, sehingga struktur dan pola pembinaan serta
pelaksanaannya terarah dan bersifat menyeluruh. Untuk melaksanakan keputusan tersebut PB PGRI membentuk
Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan di singkat YPLP PGRI dengan akte notaris Mohammad Ali No. 21 tanggal
31 Maret 1980. Pembentukan yayasan serta perekrutan pengurusnya dikukuhkan dengan surat keputusan PB PGRI
tanggal 10 Oktober 1980 No:951/SK/SK/PB/XIV/1980.
Kemudian YPLP-PGRI mengadakan Mukernas I YPLP-PGRI di Jakarta tanggal 8-20 Mei 981. Mukernas
tersebut menghasilkan keputusan diantaranya:
a.

Penyeragaman nama yayasan menjadi yayasan Pembina lembaga Pendidikan PGRI (YPLP-PGRI)

b.

Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga YPLP-PGRI

c.

Pedoman pembinaan lembaga pendidikan yang bersifat nasional

2. Dasar didirikannya YPLP-PGRI


a.
a.

Anggaran Dasar (lama) PGRI Bab III Pasal 3, berbunyi:

Mencapai cita-cita Proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945, sebagaimana
terkandung dalam pembukaan UUD 945.

b.

Mempertinggi kesadaran sikap, mutu dan kegiatan profesi guru serta melindungi hak-hak profesionalnya
guna mewujudan tujuan pendidikan pada umumnya seperti dimaksud dalam GBHN.

c.

Secara aktif turut menyukseskan pembangunan nasional khususnya dalam bidang pendidikan dan
kebudayaan dengan jalan membantu pemikiran dan pelaksanaan program-program pendidikan dan
kebudayaan yang menjadi garis kebijaksanaan pemerintah.
b.

GBHN bidang pendidikan

c.

Keputusan kongres PGRI XIV Jun 1979 bahwa pembinaan lembaga pendidikan PGRI secara
nasional terkendali, organisatoris dan konsepsional. Oleh karena itu, sudah waktunya PGRI secara
nasional menumpahkan perhatian untuk melaksanakan pembinaan lembaga-lembaga pendidikan
PGRI, sehigga struktur dan pola pembinaan serta pelaksanaannya terarah dan bersifat menyeluruh.

3.

Hubungan YPLP-PGRI dengan lembaga pendidikan PGRI


PGRI lahir 100 hari setelah Proklamasi kemerdekaan RI adalah suatu organisasi perjuangan. Oleh karena

itu maka identitas lembaga pendidikan PGRI hendaknya tidak menyimpang dari misi dan identitas organisasi
induknya, yaitu:

a.

Bersifat nasional dan dikelola secara professional oleh Persatuan Guru Republik Indonesia.

b.

Sebagai lembaga pelestarian, penghayatan dan pengamalan jiwa semangat, dan nilai-nilai 1945 kepada
generasi penerus, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan yang bermanfaat bagi
pembangunan melalui sistem pendidikan nasional berdasrkan Pancasila.

c.

Dalam setiap langkah senantiasa berorientasi pada upaya penghayatan dan pengamalan Pancasila dan UUD
1945 serta perwujudan cita-cita Proklamasi kemerdekan 17 Agustus 1945.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada semua lembaga pendidikan PGRI maka ditempuh upaya pembinaan
dengan sasaran :
1.

Peningkatan kemampuan guru/dosen

2.

Perbaikan sistem pengelolaan termasuk kerjasama dengan semua pihak yang terkait dengan
pendidikan

3.

Perbaikan sistem instruksional

4.

Perbaikan sarana parasana

5.

Perbaikan kesejahteraan guru/dosen

Perbaikan pengelolaan dan pembinaan lembaga-lembaga pendidikan PGRI harus mengikuti prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1.

Prinsip nasional tiak sektarian

2.

Prinsip manfaat

3.

Prinsip kemitraan dengan masyarakat dan pemerintah

4.

Prinsip efisiensi dan efektifitas

5.

Prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi

6.

Prinsip tutwuri handayani

4.

Uraian penjelasan lambing dan panji logo YPLP-PGRI

a.

Bentuk

Sayap kiri kanan masing-masing terdiri dari 5 helai buku berwarna kuning. Melambangkan cita-cita setinggi
angkasa di bidang pendidikan dengan dasar Pancasila, membawa tunas muda harapan bangsa ke masa cerah dan
gemilang.
b.

Lukisan, corak, dan warna


1.

Pada bulu bagian bawah berwarna putih dengan lukisan PGRI berwarna merah, melambangkan
pengabdian yang dilandasi kesucian, cinta kasih kemurnian dan keberanian bagi kepentingan
rakyat.

2.

Suluh berdiri tegak bercorak garis tegak dan datar berwarna kuning dengan nyala 5 sinar api
warna merah, melambangkan :
2.1. Suluh dengan 4 garis tegak dan datar warna
Warna kuning berarti fungsi guru ( pra sekolah SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi)
dengan hakekat tugas pengabdianya sebagai pendidik yang besar dan uhur.
2.2. Nyala api dengan lima sinar warna merah
Arti ideolodis : Pancasila
Arti teknik : sasaran budi, cipta, rasa karsa dan karya generasi
2.3. Empat buku mengapit suluh dengan posisi 2 datar dan 2 tegak ( simetris) denganwarna corak
putih melambangkan:
Sumber ilmu yang menyangkut nilai-nilai moral pengetahuan, ketrampilan dan akhlak bagi
tingkatan lembaga-lembaga pendidikan pra dasar, dasar, menengah dan tinggi.
2.4. Warna dasar tengah hjau, melambangkan kemakmuran generasi.
2.5. Pita putih bertuliskan yayasan Pembina lembaga pendidikan sebagai penyangga sayap,
melambangkan ikatan yang kokoh kuat guru seluruh Indonesia di dalam mengejar citacitanya.

c.

Arti keseluruhan
Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan PGRI dengan itikad dan kesadaran pengabdian yang suci
murni dengan segala keberanian, keseluruhan jiwa dan cinta kasih senantiasa menumpahkan darma
baktinya terhadap Negara, tanah air dan bangsa Indonesia dalam mendidik budi, cipta, rasa, karsa

karya generasi bangsa menjadi manusia Pancasila yang memiliki moral pengetahuan, ketrampilan dan
akhlak yang tinggi.
d.

Penggunaan
1.

Sebagai lambing lencana

2.

Sebagai panji
2.1. Panji resmi
Bentuk dan berukuran bendera (panjang lebar 3:2) warna dasar putih polos, lambing di
tengah dengan ukuran perbandingan lambing dan latar yang sesuai ( harmonis )
2.2. Panji-panji biasa
Berbentuk dan berukuran bendera dengan pilihan warna bebas asal polos.
2.3. Dipasangkan mendampingi bendera PGRI dalam uapcara-upacara/ pertemuan-pertemuan
organisasi atau pertemuan-pertemuan lainnya yang diselenggarakan oleh organisasi.

3.

Digunakan sebagai stempel pengurus pusat, daerah dan lembaga pendidikan PGRI.

2.2.7 Perjuangan PGRI pada Era Reformasi


A. Pengertian Reformasi
Menurut etimologi bahasa, kata reformasi berasal dari bahasa Inggris, Re artinya kembali dan kata
Formation atau Form artinya bentuk. Jadi reformasi membentuk kembali memperbaharui atau menata
ulang.
Memperbaharui adala upaya perubahan yang bersifat menata kembali suatu sistem (tatana) yang sudah
ada yang kurang atau tidak baik dengan suatu sistem baru dengan cara dan untuk mencapai tujuan yang lebih
baik.
B. PGRI Pada Era Reformasi
1.

Kongres PGRI XVIII di Bandung

Kongres PGRI XVIII diselenggarakan pada tanggal 25- 28 Nopember 1998 di Lembang Bandung dengan
tema Reformasi Pendidikan dan PGRI dalam Memasuki Era Baru Abad 21. Berbeda dengan kongres-kongrs
sebelumnya, kongres PGRI XVIII mempunyai cirri khusus: berlangsungnya dalam suasana gegap gempitanya
semangat reformasi.
Berdasarkan AD/ART PGRI, kongres adalah forum tertingggi organisasi dan pemegang kedaulatan anggota
dengan semangat reformasi kali ini dipercepat 8 bulan dari waktu seharusnya. Fungsi dan tugas kongres adalah
mengevaluasi laporan pertanggungjawaban Pengurus Besar (PB), menyempurnakan AD/ART, menetapkan program
umum organisasi, dan memilih PB yang baru.
2.

Hal-hal yang muncul dan berkembang dalam kongres PGRI XVIII

Seluruh aktifitas selama kongres berlangsung dapat direkam berbagai hal yang muncul dan berkembang
antara lain sebagai berikut:
a.

Kongres PGRI XVIII merupakan kongres terakhir di penghujung abad XX yang penuh
keprihatinan dan ketidakpastian. Krisis ekonomi, krisis politik dan krisis kepercayaan
yang mengakibatkan jatuhnya pemerintahan orde baru.

b.

Kongres PGRI XVIII menyepakati visi dan misi bersama, dengan mengadakan reformasi
diri baik secara kelembagaan, wawasan maupun tujuan. Guru di masa depan adalah
bagian dari masyarakat madani yang memiliki martabat, harkat dan status sosial yang
memadai serta mempunyai kemampuan dalam melaksanakan tugasnya.

c.

Dalam sejarah PGRI sesudah 53 tahun berkiprah ada satu hal yang menarik dari peristiwa
sejarah itu. Kongres PGRI XVIII memutuskan PGRI kembali ke jati dirinya semula yaitu
sebagai organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan. Adapun
sifat PGRI adalah unitaristik, independent, dan tidak berpolitik praktis.

d.

Pemilihan PB masa bakti XVIII merupakan klimaks

Pemilihan dilaksanakan dengan pemungutan suara (voting) secara bebas, langsung dan rahasia mengingat
jumlah suara begitu besar (741) suara untuk memudahkan dari 27 propinsi dibagi 4 kelompok, masing-masing
tempat pemungutan suara (TPS).

C. Menetapkan PGRI Sebagai Organisasi Perjuangan dalam Memasuki Era Baru Awal Abad XXI
1.

Visi dan Misi PGRI

a.

Visi PGRI

Berdasarkan kondisi dan tantangan masa depan yang harus dihadapi serta tujuan dan cita-cita perjuangan
organissi maka PGRI harus menjadi organisasi guru yang kuat, berwibawa, terpercaya, solid. Professional,
mempunyai peran penting dalam pengambilan kebijaksanaan pembangunan pendidikan, pengembangan keguruan
dan ilmu pendidikan di Indonesia.
PGRI berkewajiban membina dan meningkatkan kemampuan profesionalisme anggotanya agar menjadi tenaga
kependidikan yang memiliki profesionalitas yang tinggi, demokratis, memperoleh kehormatan dan penghargaan
sesuai harkat martabatnya, sejahtera lahir batin, bertanggung jawab, bermoral, berdedikasi tinggi terhadap
profesinya serta berperan aktif dalam menggalang persatuan dan kerjasama guru dan organisasi guru baik kawasan
regional maupun global.
b.

Misi PGRI

1. Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, membela dan mempertahankan
NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta mewujudkan cita-cita Proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945.
2.

Menyukseskan pembangunan nasional khusunya pembangunan pendidikan dan kebudayaan yang


berlandaskan pada asas demokrasi keterbukaan, pengakuan dan penghormatan atas hak asasi manusia
memotivasi untuk mampu berdiri diatas kaki sendiri, penuh percaya diri, bebas dari sifat ketergantungan
pada siapa pun juga.

3.

Non politik

Sebagai organisasi PGRI terikat atau meningkatkan diri pada salah satu kekuatan sosial politik maupun PGTI
memberikan kebebasan kepada individu anggotanya untuk menyalurkan aspirasi politiknya tanpa meninggalkan
asas dan jati dri PGRI.
4.

Kejuangan

PGRI sebagai organisasi perjuangan mengemban amanat cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dilandasi
jiwa, semangat, menegakkan nilai-nilai 945 dengan penuh rasa tanggung jawab, menegakkan dan melaksanakan
secara aktif hakekat dan perwujudan cita-cita nasional bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan
UUD 945
5.

Manfaat

PGRI berusaha memeberikan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi organisasi maupum masyarakat tanpa
harus merugikan dan mengganggu hak dan kepentingan orang lain.
6.

Kebersamaan dan kekeluargaan

Asas kebersamaan menimbulkan sikap saling menghargai, saling memahami, saling asih, saling asah, dan saling
asuh. Asas kekeluargaan memberikan pedoman agar saling menghormati dan saling tenggang rasa, yang muda
menghormati yang tua, yang tua menjadi teladan yang muda, konsekuen, menegakkan moral dan akhlak.
7.

Kesetiakawanan social

Kepekaan terhadap keadaan lingkungan, kehidupan anggota dan penderitaan orang lain, semangat rela
berkorban untuk kepentingan orang lain anggota yang sangat memerlukan.
8.

Keterbukaan

Sikap keterbukaan untuk menumbuhkan rasa memiliki, mawas diri merasa termotivasi, berpartisipasi dan rasa
tanggung jawab diantara sesama anggota, sesama pengurus dan diantara anggota pengurus menumbuhkan
kepercayaan, menghindarkan kecurigaan dan meningkatkan kepedulian. Keterbukaan adalah salah satu wujud
kejujuran dan tegaknya keadilan.
9.

Keterpaduan dan kemitraan

Sesama rekan seperjuangan sesama organisasi kemasyarakatan, sesama pengabdi masyarakat, bangsa dan
negara dikembangkan sikap kemitraan yang saling menguntungkan, saling membantu, saling bekerja sama bahu
membahu. Keterpaduan dengan berbagai dimensi kehidupan merupakan hal yang esensial untuk mewujudkan
rasa kemitraan yang saling menunjang antara sesama anggota dan dengan pemerintah serta segenap lapisan
masyarakat.
10. Demokrasi
Asas demokrasi yang berdasarkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila dan asas-asas universal,
keadilan, kebenaran, dan kemanusiaan bebas berpendapat, bebas menyalurkan pendapat bebas membela dan
mempertahankan hak asasi sendiri akan tetapi berkewajiban pula untuk menegakkan dan menghormati hak asasi
orang lain.

SEJARAH LAHIRNYA PGRI


Pada tanggal 25 November 1945 (seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik
Indonesia) Persatuan Guru Indonesia berubah nama menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia
(PGRI). Sejak Kongres Guru Indonesia itulah, semua guru Indonesia menyatakan dirinya bersatu
di dalam wadah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sehingga tanggal 25 November
ditetapkan sebagai hari jadi PGRI (Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994).
Adapun tujuan didirikannya PGRI saat itu adalah :
1. Mempertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia
2. Mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan
3. Membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya jiwa pengabdian, tekad
perjuangan dan semangat persatuan dan kesatuan PGRI yang dimiliki secara historis terus
dipupuk dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan negara kesatuan republik Indonesia.
2.2 TUJUAN ORGANISASI PGRI
PGRI bertujuan :
1. Mewujudkan cita-cita Proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mempertahankan,
mengamankan,
2.

serta

mengamalkan

pancasila

dan

Undang-undang

Dasar

1945
Berperan aktif mencapai tujuan nasional dalam mencerdaskan bangsa dan membentuk

manusia Indonesia seutuhnya


3. Berperan serta mmengembangkan system dan pelaksanaan pendidikan nasional
4. Mempertinggi kesadaran dan sikap guru, meningkatkan mutu dan kemampuan profesi
guru dan tenaga kependidikan lainnya
5.
Menjaga, memelihara, membela,

serta

meningkatkan

harkat

dan

martabat

guru

melalui peningkatan kesejahteraan anggota serta kesetiakawanan organisasi.


Tujuan Dan Sasaran PGRI
1. Tujuan
Program umum PGRI masa bakti 2008-2014 bertujuan :

Memberikan arahan tentang pokok-pokok program yang dijadikan landasan kegiatan organisasi
yang operasionalisasinya akan ditetapkan setiap tahun melalui Konkerprop

Melaksanakan upaya reformasi dilingkungan PGRI baik sebagai organisasi perjuangan,

organisasi profesi maupun organisasi ketenagakerjaan


Menata, mempertahankan, dan meningkatkan citra PGRI sebagai organisasi yang mampu

menjadi wadah tempat berhimpunnya para guru professional.


Menyusun dan menetapkan langkah-langkah kebijakan organisasi dalam upaya peningkatan

harkat, martabat, dan kesejahteraan guru pada umumnya dan anggota PGRI pada khususnya
Mewujudkan visi dan misi organisasi berlandaskan pertimbangan kondisi Bangsa dan Negara.

2. Sasaran

Peningkatan fungsi dan peran PGRI sebagai organisasi perjuangan, profesi dan ketenagakerjaan

yang bersifat independen, unitaristik, dan non partisan


Restrukturisasi dan penataan organisasi dari tingkat propinsi dibawah yang meliputi seluruh
tatanan kelembagaan organisasi PGRI sehingga tetap memiliki visi dan misi yang memberikan

motivasi.
Peningkatan kesadaran seluruh pengurus dan anggota PGRI di propinsi Daerah Istimewa

Yogyakarta mengenai perlunya perubahan sikap, perilaku, wawasan dan rasa tanggung jawab.
Peningkatan secara optimal dan merata diseluruh propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

2.3 JATI DIRI PGRI


Jati diri PGRI adalah organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi
ketenagakerjaan. Sedangkan sifat PGRI adalah Unitaristik: tidak mengandung perbedaan ijazah,
tempat kerja, kedudukan, agama, suku, golongan, gener, dan asal usul. Independen: kemandirian
dan kemitrasejajaran dengan pihak lain. Non partai politik: bukan bagian atau berafiliasi dengan
partai politik. Semangat: demokrasi, kekeluargaan, keterbukaan, tanggung jawab etika, moral,
serta hukum.
1.
a.
b.
c.
2.

Dasar Jatidiri PGRI


Dasar Historis
Dasar Ideologis Politis
Dasar Sosiologis dan IPTEK
Ciri Jatidiri PGRI
Jati diri PGRI memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.
b.
c.
d.
e.

Nasionalisme
Demokrasi
Kemitraan
Unitarisme
Profesionalisme

f.
g.
h.
i.

Kekeluargaan
Kemandirian
Non Partai Politik
Jiwa, Semangat dan Nilai-nilai 45

2.4 VISI DAN MISI PGRI


1. Visi PGRI
Terwujudnya organisasi mandiri dan dinamis yang dicintai anggotanya, disegani mitra, dan
diakui perannya oleh masyarakat". PGRI didirikan untuk mempertahankan kemerdekaan,
mengisi kemerdekaan dengan program utamadi bidang pendidikan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan memperjuangkan kesejahteraan bagi para guru.
2. Misi PGRI
a. Mewujudkan Cita-cita Proklamasi PGRI bersama komponen bangsa yang lain berjuang, yaitu
berusaha secarakonsisten mempertahankan dan mengisi kemerdekaan sesuai amanat Undang
undang Dasar 1945.
b. Mensukseskan Pembangunan Nasional PGRI.
c. Memajukan Pendidikan Nasional PGRI selalu berusaha untuk terlaksananya system penddikan
nasional, berusaha selalu memberikan masukan-masukan tentang pembangunan pendidikan
kepada Departemen Pendidikan Nasional.
d. Meningkatkan Profesionalitas Guru PGRI berusaha dengan sungguh-sungguh agar guru menjadi
profesional sehingga pembangunan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dapat
direalisasikan.
e. Meningkatkan Kesejahteraan Guru Agar guru dapat profesional.
2.5 SEJARAH ORGANISASI PGRI
Tujuan utama pendirian PGRI adalah:
a. Membela dan mempertahankan Republik Indonesia (organisasi perjuangan)
b. Memajukan pendidikan seluruh rakyat berdasar kerakyatan (organisasi Pendirian PGRI sama
c.

dengan EI: education as public service, profesi not commodity.


Membela dan memperjuangkan nasib guru khususnya dan nasib buruh pada umumnya
(organisasi ketenagakerjaan).
Tiga unsur pendiri (founding fathers) PGRI adalah:

a. Guru yang pro kemerdekaan


b. Pensiunan guru pendukung proklamasi kemerdekaan Indonesia
c. Pegawai Kementerian PPK yang baru saha didirikan

2.6 EMPAT PERIODE PERANAN PGRI DI BIDANG KETENAGAKERJAAN


A. Periode 1945-1962
RH Koesnan, Ketua Umum PB PGRI diangkat menjadi Menteri Perburuhan dan Sosial
RI dalam kabinet Hatta.
Hasilnya a.l. : keluarnya PGP 1947/1948 tentang Peraturan Gaji INTInya: Ijazah yang
setara SMP=SGB, SNA=SGA, SM=B1, Pegawai. Sarjana=B2. Kalau menjadi guru, ijazah
SGB/SGA,B1/B2 pangkatnya setingkat lebih tinggi dari ijazah SMP/SMA/SM/Sarjana. SMP =
IIIA, SGB/KGB = IIIA/b SMA = IV/a, SGA/KGA = IV/b SM = V/a, B1 = V/b Sarjana = VI/a,
B2 = VI/b.
Soedjono, Ketua Umum PB PGRI Menghasilkan konsep PGRI tentang pendidikan
nasional. Untuk mengatasi kekurangan guru: Kursus Guru Tjepat (KGTJ) dijadikan SGB/KGB
KPKPKB dijadikan SGB berasrama SGA berasrama ME Subiadinata, Ketua Umum PB PGRI
Tahun 1968 diangkat menjadi Kepala Kantor urusan Pegawai (KUP), sekarang BKN/BAKN.
PGRI membentuk Rukun Kerja Sama (RKS) Pegawai Negeri untuk perbaikan nasib.

B. Periode 1962 1970


PGRI mendirikan PSPN (Persatuan Serikat Pekerja Pegawai Negeri), a.l PGRI,
PERSAJA (Persatuan Djaksa), PERSAHI (Persatuan Hakim Indonesia), SSKDN (Serikat
Sekerja Kementerian Dalam Negeri), PBKA (Persatuan Buruh Kereta Api), PPPRI (Persatuan
Pegawai Polisi RI), PBPTT (Persatuan Buruh Pos Telepon Telegraf) dsb.
PSPN didirikan untuk menghadapi tekanan/serangan PKI (Partai Komunis) melalui
SOBSI/PKI terhadap Serikat Pekerja Non Komunis. PSPN akhirnya bergabung menjadi KSBM
(Kerja Sama Buruh Militer) KSBM adalah cikal bakal Sekber Golkar (Sekretariat Bersama
Golongan Karya) 1964. Tahun 1966 PGRI menjadi anggota WCOTP (World Confederation of
Teaching Profesion) dalam WCOTP World Congress di Seoul, Korea Selatan (Subiadinata,
Slamet I). Tanggal 5 Oktober 1966 Konvensi ILO/UNESCO di Paris menghasilkan Status of
Teachers (Status Guru Dunia). Pemerintah RI dan PGRI (HM Hidajat dan Ir. GB Dharmasetia)
hadir dan menandatangani konvensi ILO/Unesco tersebut.

Tahun 1966 PGRI mendirikan KAGI (Kesatuan Aksi Guru Indonesia) terdiri dari PGRI,
IGM (Muhammadiyah), PG Perti, Pergunu, PGII, Pergukri, PGK (Katolik) dan PGM
(Marhaenis) Tokoh-tokoh KAGI: ME Subiadinata, Rusli Yunus, Drs. WDF Rindorindo (Ketuaketua Periodik), Drs. Estiko Suparjono, T. Simbolon, FX Pasaribu (sekjen/Wakil Sekjen),
Harkam Effendi, Nurimansyah Hasibuan, Effendi Sudijawinata, Abdullah Latif dsb. Tahun 1967
dlm Kongres PGRI XII di Bandung KAGI meleburkan diri ke dalam PGRI (unitaristik,
independen, dan non parpol), artinya menanggalkan baju parpol, hanya bicara guru dalam PGRI.
C. Periode 1970 1998
Tahun 1970 PGRI diundang ke Head Quarters IFFTU (International Federation of Free
Teachers Union) di Brussel, diwakili oleh Rusli Yunus. Tahun 1969 PGRI memprakarsai
berdirinya MPBI (Majelis Permusyawaratan Buruh Indonesia), ME Subiadinata, M.Hatta, Rusli
Yunus. Tahun 1970 MPBI menjadi FBSI (Federasi Buruh Seluruh Indonesia), PGRI terpaksa
keluar dari FBSI karena Kongres PGRI ke XIII di Bandung melarang PGRI ikut serikat buruh,
hanya boleh profesi saja.
H. Basyuni Suryamiharja, Ketua Umum PB PGRI, telah berhasil menyelamatkan PGRI
untuk tidak dibubarkan, mengikuti keputusan pemerintah dengan meninggalkan serikat
pekerja/perburuhan. Mendirikan Gedung Guru Indonesia (GGI) di Jakarta. Tahun 1979
menyelenggarakan World WCOTP Congress di Jakarta. Memprakarsai berdirinya ASEAN
Council of Teachers (ACT) tahun 1974. PGRI memprakarsai Pertemuan Guru-guru Nusantara
(PGN) 1983 di Singapura (Prof. Gazali Dunia dan Rusli Yunus). Tahun 1993 di Stockholm
terjadi merger/penyatuan WCOTP dan IFFTU menjadi Educational International (EI).
D. Periode 1998 SEKARANG
Tahun 1998 Kongres PGRI XVIII di Lembang: Prof.Dr. HM Surya, Ketua Umum PB
PGRI, Drs. H. Sulaiman SB Ismaya, Sekretaris Jenderal.
Kongres menghasilkan antara lain:
a. PGRI keluar dari Golkar
b. PGRI menyatakan diri kembali sebagai organisasi perjuangan (cita-cita proklamasi kemerdekaan
dan kesetiaan PGRI hanya kepada bangsa dan NKRI), organisasi profesi (meningkatkan kualitas
pendidikan) dan organisasi ketenagakerjaan (kembali sebagai Serikat Pekerja Guru/Teachers
Union.

Sekretaris Jenderal PB PGRI. Tahun 2004 Sekretaris Jenderal KSPI: Rusli Yunus Tahun
2005 audiensi PB PGRI dengan Menakertrans (Fahmi Idris):
1.
a.
b.
2.
a.
b.
c.

Mengklarifikasi UU No.21/2000 tentang SP/SB khususnya Pasal 48:


PNS berhak menjadi anggota SP/SB
Akan diatur dalam suatu Undang-Undang
Pernyataan Menakertrans RI:
Pemerintah RI telah meratifikasi Konvensi ILO No. 87 dengan Keppres No. 83 Tahun 1998.
PGRI jalan terus sebagai Serikat Pekerja Guru Modern
Setiap orang tidak boleh menjadi anggota dua SP dan SB. Karena itu PGRI yang PNS tinggal
memilih menjadi anggota PGRI atau anggota KORPRI. (Konvensi ILO No.87, keanggotaan
SP/SB harus sukarela dan tidak boleh dipaksa, sesuai dengan HAM, SP/SB harus dibentuk

3.

secara demokratis).
Menakertrans meminta PGRI dan ILO Indonesia serta Depnakertrans melaksanakan seminar

4.

nasional tentang konvensi ILO nomor 87 dan Keppres No. 83 Tahun 1998.
Menakertrans memberi kesempatan kepada PGRI tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/ kota
mendaftarkan kembali PGRI sebagai SP pada Disnaker provinsi dan Kabupaten/Kota.

2.7 PGRI Sebagai Organisasi Guru


PGRI adalah organisasi perjuangan, organisasi profesi dan organisasi ketenagakerjaan
yang berfokus pada bidang keguruan. PGRI merupakan organisasi perjuangan, organisasi
profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang berdasarkan Pancasila, bersifat independen, dan
non politik praktis, secara aktif menjaga, memelihara, mempertahankan, dan meningkatkan
persatuan dan kesatuan bangsa yang dijiwai semangat kekeluargaan, kesetiakawanan sosial yang
kokoh serta sejahtera lahir batin, dan kesetiakawanan organisasi baik nasional maupun
internasional.
A.

Kesetaraan Profesi
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. (UU SPN. 1:1).
Selain mendapatkan gaji, mereka juga secara rutin mendapat pendidikan dan latihan,
serta bimbingan teknis profesi guru secara berkala, sementara guru non PNS menunggu
bertahun-tahun untuk mendapatkan pendidikan dan latihan, serta bimbingan teknis keguruan
yang diselenggarakan pemerintah. Begitu juga masalah karir, guru-guru PNS sangat jelas jenjang
karirnya, sementara guru non-PNS tidak memiliki kejelasan jenjang karir.

Perlakuan ini bertolak belakang dengan UUD NKRI 1945 pasal 27 ayat 1, yang
menegaskan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.
Sebagaimana ditetapkan UU RI No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, berbagi tugas dan
wewenang. Untuk guru-guru PNS pengelolaannya dikembalikan kepada pemerintah pusat,
sementara guru-guru non PNS pengelolaannya di tangani pemerintah provinsi untuk level
pendidikan menengah, dan pemerintah kabupaten kota untuk level pendidikan dasar.
B.

Tugas dan Fungsi PGRI


Dalam Pasal 7 AD/ART PGRI disebutkan bahwa PGRI mempunyai tugas dan fungsi
sebagai berikut :

Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.


Membela, mempertahankan, mengamankan dan mengamalkan Pancasila.
Mempertahankan dan melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Meningkatkan integritas bangsa dan menjaga tetap terjamin serta terpeliharanya keutuhan

kesatuan dan persatuan bangsa.


Mengupayakan dan mengevaluasi terlaksananya peningkatan kualifikasi akademik, sertifikasi,

C.

akreditasi, sebagai lisensi bagi pengukuhan kompetensi profesi guru.


Perjuangan PGRI
Hasil rapat kerja PGRI dengan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi serta Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) tanggal 19 Mei 2010
adalah:

Tahun 2010/2011 sebanyak 197.678 guru dan tenaga honorer, termasuk CPNS-Teranulir dari

Jawa Tengah dan 5.966 orang guru bantu DKI akan diangkat PNS
Segera diterbitkan PP mengenai Penyelesaian Permasalahan tenaga Honorer
Segera diterbitkan PP mengenai PTT atau Pagawai Tidak Tetap (termasuk guru) yang antara lain

memuat penghargaan/gaji minimal


Segera diterbitkan Perpres mengenai BUP (Batas Usia Pensiun) Penilik menjadi 60 tahun
Segera dibayarkannya tunjangan profesi dan penambahan penghasilan Rp. 250.000/bulan (bagi
yang belum dibayarkan).

2.8 Undang-Undang No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen


Ketentuan umum yang terdapat dalam Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru
dan dosen terdiri dari pembatasan pengertian tentang guru, kualifikasi akademik, kompotensi,
sertifikasi dan seterusnya.

Uraian Lengkap tentang ketentuan umum tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme,


Memiliki komitmen, kualifikasi akademik, kompetensi, tanggung jawab,
Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja,
Memiliki jaminan perlindungan hukum,
Memiliki organisasi profesi yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.