Anda di halaman 1dari 4

ANEMIA1

Penurunan kadar hemoglobin selama kehamilan dijumpai pada wanita sehat yang tidak
mengalami defisiensi zat besi atau folat. Hal ini disebabkan oleh ekspansi volume plasma
yang lebih besar daripada peningkatan massa hemoglobin dan volume sel darah merah yang
terjadi pada kehamilan normal. Pada awal kehamilan dan menjelang aterm, kadar hemoglobin
kebanyakan wanita sehat dengan simpanan zat besi adalah 11 g/dL atau lebih. Konsentrasi
hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan. Oleh karena itu, Centers for Disease
Control and Prevention (CDC) mendefinisikan anemia sebagai kadar hemoglobin yang
rendah dari 11 g/dL pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dL pada
trimester kedua.
Etiologi Anemia1
Semua penyakit penyebab anemia yang dijumpai pada wanita usia subur dapat menjadi
penyulit kehamilan. Klasifikasi yang didasarkan terutama pada etiologi dan mencakup
sebagian besar dari kausa umum anemia pada wanita hamil.
Kausa Anemia pada Kehamilan
Didapat
Anemia defisiensi zat besi
Anemia akibat kehilangan darah akut
Anemia akibat peradangan atau keganasan (penyakit kronik)
Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik didapat
Anemia aplastik atau hipoplastik
Herediter
Talasemia
Hemoglobinopati sel sabit
Hemoglobinopati lain
Anemia hemolitik herediter

Anemia Defisiensi Zat Besi1


Dua kasus tersering anemia selama kehamilan dan nifas adalah defisiensi zat besi dan
kehilangan darah akut. Tidak jarang keduanya berkaitan erat karena kehilangan darah dalam

jumlah besar disertai hilangnya zat besi hemoglobin serta habisnya simpanan zat besi pada
satu kehamilan dapat menjadi kausa penting anemia defisiensi zat besi pada kehamilan
selanjutnya.
Pada gestasi tipikal dengan satu janin, kebutuhan total ibu akan zat besi yang dipicu oleh
kehamilan rata-rata mendekati 1000 mg yang jauh melebihi simpanan zat besi sebagian besar
wanita. Kecuali jika perbedaan antara jumlah simpanan zat besi yang tersedia ke ibu dan
kebutuhan zat besi pada kehamilan normal dikompensasi oleh penyerapan zat besi dari
saluran cerna, maka akan terjadi anemia defisiensi zat besi. Karena jumlah zat besi yang
disalurkan ke janin dari ibu defisiensi zat besi tidak jauh berbeda dari jumlah yang secara
normal dialihkan, maka neonatus dari ibu yang mengalami anemia berat tidak menderita
anemia defisiensi zat besi.
Regulasi Transfer Iron ke Janin2
Transfer iron dari ibu ke janin didukung oleh peningkatan yang substansial dalam
penyerapan zat besi ibu selama kehamilan dan diatur oleh plasenta. Serum ferritin biasanya
benar-benar jatuh antara 12 dan 25 minggu usia kehamilan, mungkin sebagai akibat
pemanfaatan besi untuk ekspansi massa sel darah merah ibu. Kebanyakan transfer iron ke
janin terjadi setelah minggu 30 kehamilan, yang sesuai dengan waktu puncak efisiensi
penyerapan zat besi ibu. Serum transferin membawa besi dari sirkulasi maternal pada
reseptor transferin terletak pada permukaan apikal sinsitiotrofoblas plasenta, holotransferrin
yang endocytosed, besi dilepaskan, dan apotransferrin dikembalikan ke sirkulasi maternal.
Free iron kemudian mengikat feritin dalam sel plasenta dimana ia ditransfer ke
apotransferrin, yang masuk dari sisi janin plasenta dan keluar sebagai holotransferrin ke
dalam sirkulasi janin. Sistem transfer iron plasenta ini mengatur transportasi zat besi pada
janin. Ketika status zat besi ibu miskin, jumlah reseptor transferin plasenta meningkat
sehingga lebih banyak zat besi diambil oleh plasenta. Transportasi besi yang berlebihan pada
janin dapat dicegah dengan sintesis plasenta feritin. Kapasitas sistem ini mungkin tidak
memadai untuk menjaga mentransfer besi pada janin ketika ibu kekurangan zat besi.
Diagnosis Anemia Defisiensi Zat Besi1
Evaluasi awal pada wanita hamil dengan anemia sedang (hematokrit 22 sampai 29 persen
volume) harus mencakup pengukuran hemoglobin, hematokrit, dan indeks sel darah merah;
pemeriksaan cermat atas apusan darah perifer; dan pengukuran konsentrasi zat besi serum

atau feritin, atau keduanya. Secara pragmatis, diagnosis defisiensi zat besi pada wanita hamil
dengan anemia sedang biasanya bersifat persumtif dan terutama berdasarkan penyingkiran
dugaan kausa lain anemia.
Anemia Akibat Kehilangan Darah Akut1
Perdarahan akut masif membutuhkan terapi segera untuk memulihkan dan mempertahankan
perfusi ke organ-oragan vital, seperti ginjal. Meskipun jumlah darah yang diganti sering tidak
secara sempurna memulihkan defisit hemoglobin yang terjadi akibat perdarahan, naun secara
umum jika hipovolemia yang berbahaya tersebut telah teratasi dan hemostasis tercapai,
anemia yang tersisa harus diterapi dengan zat besi. Untuk wanita dengan anemia sedang yang
memiliki hemoglobinnya lebih dari 7 g/dL yang kondisinya stabil, tidak lagi menghadapi
perdarahan serius lebih lanjut, dapat melakukan ambulansi tanpa gejala yang mengganggu,
terapi besi selama paling sedikit 3 bulan, dan bukan transfusi darah, adalah pengobatan
terbaik.
Terapi1
Tujuan pengobatan adalah perbaikan defisit massa hemoglobin dan akhirnya pemulihan
simpanan zat besi. Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian senyawa zat besi
sederhana per oral, fero sulfat, fumarat, atau glukonat yang memberikan dosis harian sekitar
200 mg zat besi elemental. Sebagai contoh, di Parkland Hospital meresepkan pil kombinasi
yang mengandung fero fumarat (menghasilkan 82 mg zat besi elemental) dan asam folat (0.8
mg) dua kali sehari. Untuk menggantikan simpanan zat besi, terapi oral harus dilanjutkan
selama sekitar 3 bulan setelah anemia dikoreksi. Pada wanita hamil dengan anemia defisiensi
zat besi derajat sedang yang diberi terapi zat besi dalam jumlah memadai, respons
hematologis dideteksi dengan meningkatnya hitung retikulosit.
Transfusi sel darah merah atau darah lengkat jarang diindikasikan sebagai terapi anemia
defisiensi zat besi kecuali juga terdapat hipovolemia akibat kehilangan darah atau harus
dilakukan pembedahan darurat pada wanita dengan anemia berat (hematokrit <20 persen
volume).
1. Leveno KJ, Cunningham FG, Gant FN, Alexander JM, Bloom LS and (kalo dan
lainnya apa? Gw lupa tulisannya, soalnnya yg ngarang lebih dari 6). Williams Manual
of Obstetri: Panduan Ringkas. Ed. 21. Anemia. Jakarta: ECG. 2004. 646-9.

2. Allen LH. Am J Clin Nutr May 2000 vol. 71 no. 5 1280s-1284s. Anemia and Iron
Deficiency: Effect of Pragnancy Outcome.
NOTES:
1. Yang gw merahin itu gw masih bingung. Soalnya beda sumbernya dan
keputusan yg tadi kita ambil rada beda. Jadi tolong di consider yah dipake apa
engga.
2. Terus yg gw ijoin itu maksudnya dafpus. Sorry ada yg gw merahin di dafpusnya.
Soalnya gw lupa cara penulisan kalo pengarangnya lebih dari 6.