Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Perkembangan industri saat ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan
masyarakat saja, namun juga dapat menimbulkan eksternalitas negatif. Hal ini
disebabkan karena selain menghasilkan produk sebagai hasil akhir proses
produksi, kegiatan juga menghasilkan

limbah sebagai sisa proses produksi.

Limbah industri akan berdampak negative bagi lingkungan jika tidak diolah
dengan tepat karena akan menimbulkan pencemaran lingkungan yang melewati
daya dukung lingkungan dapat menurunkan kualitas lingkungan dan selanjutnya
dapat membahayakan kehidupan dan kesehatan mahluk hidup. Industri pulp dan
kertas adalah salah satu jenis industri di Indonesia yang berkembang baik secara
kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi kebutuhan kertas dalam negeri dan
kebutuhan ekspor. Industri pulp dan kertas adalah industri yang menghasilkan
bubur kertas (pulp) dan kertas yang menggunakan kayu sebagai bahan utama
proses produksi. Sebagai bahan penunjang dalam proses produksi juga digunakan
senyawa kimia sebagai pelarut ataupun pemutih seperti H2SO3. Larutan H2SO3
digunakan dalam proses pembentukan bubur kertas dari kayu lapis (Vesilind dan
Peirce 1994).
Limbah Industri pulp dan kertas terdiri dari tiga fase yaitu fase cair, padat
dan gas. Limbah cair adalah air limbah yang dihasilkan dari proses pembuatan
pulp dan kertas yang menggunakan air sebagai pelarut bahan kimia atau untuk
proses pencucian. Sementara limbah padat berasal dari sisa atau residu
pengolahan limbah cair serta sisa kayu (chips) dari proses pengolahan kayu.
Limbah gas berupa fly ash dihasilkan pada proses boiler. Setiap fase limbah
tersebut

diolah

diminimalisasi

konsentrasinya

dengan

berbagai

metode

pengolahan limbah. Banyaknya kebutuhan air dalam proses, maka industri ini
akan menghasilkan limbah cair yang cukup besar pula. Limbah cair yang
dikeluarkan dari industri pulp dan kertas akan mengandung kontaminasi dari
bahan baku produksi (kayu) dan bahan-bahan kimia pembantu proses serta hasil

dalam proses produksi. Dalam menjalankan proses produksinya perusahaan ini


menghasilkan limbah dengan kadar pencemaran yang masih diatas ambang batas
buangan limbah industri pulp dan kertas. Pencemaran air oleh industri pulp dan
kertas dapat merugikan di bidang ekonomi dan sosial, seperti adanya bahan-bahan
pengotor pada perairan, sehingga menyebabkan perairan tersebut tidak dapat
dimanfaatkan untuk perikanan, tempat rekreasi maupun untuk pemanfaatan yang
lain. Di samping itu juga dapat menghilangkan atau menurunkan sumber-sumber
kehidupan seperti pada nelayan dan sanitasi lingkungan khusus di badan air.
Bahan pencemar yang terdapat dalam limbah cair pulp dan kertas adalah sisa
bahan kimia yang dipakai pada proses pulping. Pulp yang dihasilkan dari proses
semacam ini hanya 40% dari total berat masa kayu, sedangkan sekitar 60 %
dikeluarkan sebagai limbah bahan organik terlarut atau air limbah (Fiedler et al.
1990). Beberapa bahan kimia yang digunakan pada proses pulp adalah NaCl,
Na2SO4, Na2CO3, Na2S, Sulfur, NaOH dan CaCO3. Banyaknya bahan kimia
yang digunakan pada saat proses pulp sehingga banyak pula sisa bahan kimia
yang terdapat dalam limbah cairnya. Bila limbah cair tersebut langsung dibuang
kebadan air, tentu merusak ekosistem yang ada di badan tersebut. Dengan
demikian perlu teknologi tepat guna untuk mengurangi bahan pencemar dari
industri pulp dan kertas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bahan Pencemar Lingkungan


Pencemaran adalah peristiwa adanya penambahan bermacam-macam
bahan sebagai hasil dari aktivitas manusia ke dalam lingkungan yang biasanya
memberikan pengaruh berbahaya terhadap lingkungan (saeni M,S, 1989).
Menurut Odum (1971), pencemaran adalah perubahan-perubahan sifat fisik, kimia
dan biologi yang tidak dikehendaki pada udara, tanah dan air. Perubahan tersebut
dapat menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia atau spesies-spesies yang
berguna, proses-proses industri, tempat tinggal dan peninggalan budaya atau dapat
merusak sumber bahan mentah meliputi pencemaran kimiawi yang dapat berupa
bahanbahan organic, mineral, zat-zat beracun, pencemaran biologis yang dapat
disebabkan oleh berkembang biaknya organisme makro yang berbahaya atau
gabungan dari kedua bahan pencemaran tersebut.Sedangkan yang disebut zat
pencemaran adalah zat yang mempunyai pengaruh penurunan nilai lingkungan.
Kontaminasi tidak digolongkan zat sebagai pencemar bila tidak menimbulkan
penurunan kualitas lingkungan (saeni M.S 1989)
2.2 Industri Pulp dan Kertas
Secara garis besar sumber pencemaran yang dihasilkan oleh industri pulp
dan kertas ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu dari proses pembuatan
kertas. Sedang proses pembuatan pulp dan proses pembuatan kertas tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Proses Pembuatan Pulp.
Bahan baku pembuatan pulp adalah kayu, sedangakan kertas bekas hanya
dikenakan proses penghancuran saja bersama air dengan menggunakan pengaduk
yang dilengkapi dengan pisau. Pada pembuatan pulp, kayu dengan panjang kurang
lebih 1,5-2,0m ditumpuk pada tempat penampungan kayu selama sekitar 30 hari
untuk proses pengeringan dan oksidasi getah kayu secara alami. Selanjutnya kayu
dibawa ke unit pembuatan serpihan kayu (chip) yang dilakukan secara mekanik,

kemudian dibawa ke unit pulping. Secara garis besar proses pembuatan pulp
adalah sebagai berikut:
a. Persiapan bahan baku yang meliputi pengulitan, penyerpihan dan penimbunan.
b. Pembuatan pulp yang dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pemasakan,
penyaringan, pencucian, pemutihan (jika diperlukan) dan pembersihan.
c. Pemulihan bahan kimia.
d. Pembuatan lembaran pulp dimesin pengering (jika pulp akan dibawa keluar
dari pabrik)
2. Proses pembuatan kertas
Proses pembuatan kertas secara garis besar terdiri dari:
a. Persiapan bahan baku. Tahap ini hanya dilakukan pada pabrik kertas yang tidak
memproduksi pulp sendiri yang meliputi tahapan pembuburan lembaran pulp,
b. pembersihan dan penghalusan pulp, pelarutan bahan serta pencampuran bahan
ambahan pembantu proses.
c. Pembentukan lembaran kertas dimesin kertas.
d. Pengeringan kertas.

2.2.1 Proses Produksi Pulp dan Kertas


Proses pembuatan kertas dapat dibagi menjadi tiga tahap utama yaitu
pembuatan pulp (pulping), persiapan stok dan pembuatan kertas. Proses Pulping
diawali dengan pemotongan kayu gelondongan menjadi potongan kayu kecil atau
chip pada mesin pemotong (chipper). Selanjutnya chip atau potongan kayu
tersebut dimasak (digesting) pada boiler. Proses digesting adalah proses
penghancuran chips dengan mengunakan panas yang dikontrol pada temperatur
tertentu. Pada proses ini dihasilkan polutan berupa fly ash atau partikel debu.
Proses pemasakan ini dilakukan secara kontinu agar dihasilkan kualitas pulp yang
lebih baik dan seragam (Lesmono2005).
Pada proses pulping secara kimia dengan basa, proses kraft, menggunakan
natrium hidroksida dan natrium sulfit untuk memecahkan ikatan serat selulosa
dengan senyawa organik lainnya dengan pemanasan 150 - 200C. Pulp yang
dihasilkan dari proses semacam ini hanya 40% dari total berat masa kayu.

Sedangkan sekitar 60% dikeluarkan sebagai limbah bahan organik terlarut atau air
limbah (Fielder et al. 1990). Beberapa jenis bahan kimia yang digunakan pada
proses pulping PT. Indah Kiat Pulp dan Kertas Karawang, Riau berikut adalah
penggunaan bahan kimia per-ton pulp: NaCl sebanyak 77.055 kg, Na2SO4; 9.83
kg, Na2CO3, 0.286 kg, Na2S; 0.003 kg, sulfur; 1.682 kg, NaOH; 7.476 kg dan
CaCO3; 59.192 kg. Persiapan stok adalah proses penghubung antara proses
pembuatan pulp dan proses pembuatan kertas. Pulp serat pendek disaring
kemudian dibersihkan dan dihaluskan. Sementara pulp serat panjang hanya
dihaluskan saja. Selanjutnya kedua jenis pulp tersebut dicampur pada wadah
pencampur. Kemudian dibersihkan dengan menggunakan bahan kimia seperti
anti-foam dan anti septik. Setelah proses pembersihan selesai dilanjutkan dengan
proses penyaringan setelah itu stok siap diproses menjadi kertas. Sebelum
dimasukkan ke dalam mesin kertas, pulp dilarutkan ke dalam air sehingga
membentuk larutan kental (slurry) agar dapat dipompa menuju mesin kertas. Hasil
olahan dari mesin kertas adalah kertas dalam bentuk lembaran. Pada proses
berikutnya, lembaran kertas akan melalui mesin press dan unit pengering dengan
menggunakan uap. Selanjutnya kertas akan digulung pada mesin calender
sehingga menghasilkan gulungan kertas. Setelah itu kertas dapat diolah sesuai
dengan kebutuhannya.

2.2.2 Limbah Pulp dan Kertas


Secara umum dapat dikatankan bahwa bahan mentah dalam industri pulp
dan kertas, akan diolah hingga menjadi produk yang diinginkan dan menghasilkan
bahan residu atau sisa dari proses produksi, yang selanjutnya disebut limbah
industri pulp dan kertas. Limbah industri pulp dan kertas terdiri dari tiga fase yaitu
limbah padat, cair dan partikel debu (fly ash). Ketiga jenis limbah tersebut harus
dikelola dengan cara yang tepat. Pengelolaan limbah bertujuan untuk mengurangi
kadar zat yang berlebihan, sehingga bahan yang dibuang ke lingkungan tidak
menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah cair diolah agar dihasilkan air
buangan yang memenuhi standart yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Pengelolaan limbah berupa partikel atau debu bertujuan agar dapat mengurangi

kadar debu di dalam emis gas yang dikeluarkan dari proses produksi. Limbah
padat dikelola dengan cara applikasi pada tanah.

2.3 Penanggulangan Pencemaran Limbah Industri


Karena pencemaran lingkungan mempunyai dampak yang sangat luas dan
sangat merugikan manusia, maka perlu diusahakan pengurangan pencemaran
lingkungan atau bila mungkin meniadakannya sama sekali menurut wardana
(1995) usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran tersebut ada dua
macam cara utama, yaitu penanggulangan secara non teknis, dan penanggulangan
secara teknis. Melalui kedua cara penanggulangan tersebut diharapkan
pencemaran lingkungan akan jauh berkurang dan kualitas hidup manusia dapat
lebih baik.

2.3.1 Penanggulangan secara Non Teknis


Menurut Wardana (1995) yang disebut penanggulangan non teknis disini,
yaitu suatu usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan
dengan cara menciptakan peraturan perundangan yang dapat direncanakan,
mengatur dan mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi
sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan. Peraturan
perundangan yang dimaksud hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas
tentang kegiatan industri dan teknologi yang akan dilaksanakan di suatu tempat
yang antara lain :
(1) Penyajian informasi lingkungan (PIL),
(2) Analisis mengani dampak lingkungan (AMDAL),
(3) Perencanaan kawasan kegiatan industri dan teknologi
(4) Pengaturan dan pengawasan kegiatan,
(5) Menanamkan perilaku disiplin.

2.3.2 Penanggulangan secara Teknis


Menurut Wardana (1995) apabila suatu kegiatan berdasarkan kajian
AMDAL (analisis Mengenai Dampak Lingkungan) ternyata dapat diduga bahwa

kemungkinan akan timbul pencemaran lingkungan, maka langkah berikutnya


adalah memikirkan penanggulangannya secara teknis. Banyak macam dan cara
yang dapat ditempuh dalam penanggulangan secara teknis. Adapun criteria yang
digunakan dalam memilih dan menentukan cara yang akan digunakan dalam
penanggulangan secara teknis tergantung pada faktor berikut :
(1) Mengutamakan keselamatan lingkungan.
(2) Teknologinya telah dikuasai.
(3) Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggung-jawabkan (Wardana, 1995)
Berdasarkan kriteria tersebut diatas, diperoleh beberapa cara dalam hal
penanggulangan secara teknis, antara lain adalah sebagai berikut :
(1) Mengubah proses,
(2) Mengganti sumber energi,
(3) Mengelola limbah
(4) Menambah alat bantu.
Keempat macam cara penanggulangan secara teknis tersebut diatas dapat
berdiri sendiri-sendiri, atau bila dipandang perlu dapat pula dilakukan bersamasama, tergantung dari hasil kajian dan kondisi di lapangan (Wardana, 1995)

2.3.3 Aerasi
Aerasi adalah proses pemasukan udara ke dalam air (AWWA,1984),
contoh yang sangat sederhana dan umum dapat dilihat pada air terjun atau aliran
air yang turbulen. Turbulensi tersebut akan membawa atau membuat air kontak
dengan udara dan melarutkannya kedalam air. Proses aerasi tersebut dapat
menghilangkan unsur-unsur pencemar atau mineral yang tidak diinginkan
keberadaannya dalam air. Untuk meningkatkan kelarutan oksigen atau udara
kedalam air pada prinsifnya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Membuat air kontak dengan udara
Pada proses ini air diaduk sedemikian rupa atau diturbulensikan sehingga
butir-butir air terangkat ke udara dan permukaannya dapat kontak dengan udara.
Semakin banyak butiran

yang dibentuk semakin luas permukaan yang dapat dikontak dengan udara.
Contoh buatan adalah pengadukan air secara mekanis dengan putaran pengaduk
yang cukup cepat (rpm) atau membuat air terpancurkan (dibuatkan naik keatas
dan dijatuhkan bebas).
2. Memasukkan udara atau oksigen kedalam air
Udara secara kontimu dimasukan kedalam air dengan tekanan melalui
material yangporous atau nosel. Macam-macam bentuk aerasi yaitu; (1) air
dikontakan ke udara, (2) udara masuk ke air, (3) kombinasi aerator. Keberadaan
air limbah di alam dapat mempengaruhi keadaan manusia baik secara langsung
maupun tidak langsung diantaranya menurut Djabu (1990) adalah:
1. Pengaruh air limbah terhadap kesehatan
Lingkungan yang tidak sehat akibat tercemar air buangan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat. Air buangan dapat menjadi media
tempat berkembangnya mikroorganisme patogen larva nyamuk ataupun serangga
lainnya yang menjadi media transmisi penyakit, terutama penyakit-penyakit yang
penurannya melalui air yang tercemar seperti kholera, typhus abdominalis,
dicentri baciler dan sebagainya. Bahan kimia juga dapat menimbulkan gangguan
kesehatan baik melalui minuman maupun makanan. Jenis bahan kimia yang dapat
menimbulkan gangguan kesehatan antara lain Cadmium, Pb, Merkuri, Chrom,
Cobalt, Cyanida, Hidrokarbon, Minyak dan lemak, nikel, Arsen, seng dan
Tembaga.
2. Pengaruh air limbah terhadap lingkungan
Pencemaran badan-badan air menimbulkan masalah teknis, biologis,
bakteriologis dan estetika dengan berbagai tingkat tergantung keadaan
pencemarnya. Flora dan fauna aquatis akan mempengaruhi pencemaran tanah
yang makin meluas baik oleh kotoran padat maupun cairan penyebab masyarakat
dapat terkena infeksi dan infestasi cacing. Depkes (1975) pencemaran oleh zat
kimia makin hebat lebih-lebih dengan ditemukanya zat-zat sintetis tiap tahun
untuk penggunaan domestik, pertanian dan industi zat-zat beracun dapat
menggagu ekosistem apabila berkumpul pada organisme aquatis yang dimakan
manusia.

3. Pengaruh limbah terhadap sosial ekonomi


Lingkungan hidup manusia sangat mempengaruhi bukan hanya kesehatan
fisik saja tetapi juga kesehatan mental dan sosial pada manusia. Kesehatan
lingkungan yang buruk menyebabkan perasaan yang tidak nyaman dan tidak
menyenangkan. Sebagai akibatnya kesehatan manusia terganggu dan menjadi
kurang produktif.
2.3.4 Arang Aktif
Arang aktif atau karbon aktif adalah karbon yang diproses sedemikian
rupa sehingga mempunyai daya serap yang tinggi. Bahan dasar yang digunakan
untuk pembuatan karbon aktif yaitu sekam padi, bagasse, serbuk gergaji,
tempurung kelapa dan lain-lain. Karbon aktif terdiri dari lempengan-lempengan
datar yang atom C-nya terikat secara kuat dalam satu sisi heksagon. Lempenganlempengan ini bertumpuk membentuk kristal dengan sisa hidrokarbon yang
tertinggal di permukaannya. Dengan menghilangkan hidrokarbon, permukaannya
menjadi aktif. Aktivitas dapat mengubah daya serap yang rendah menjadi tinggi.
Proses pembuatan arang aktif dapat dibagi menjadi dua tingkatan proses yaitu
karbonisasi (pengarangan) dan aktivitas karbon.
Menurut Fardiaz (1992) karbon aktif yang sekarang banyak digunakan
untuk pengolahan limbah cair industri dapat berbentuk butiran (granular) atau
berbentuk bubuk (tepung). Karbon aktif berbentuk granular dapat diaktifkan
kembali untuk digunakan selanjutnya, yaitu dengan cara memanaskan di dalam
pembakar ganda, selama reaktivasi terjadi kehilangan karbon sebanyak kira-kira
5%. Karbon berbentuk granular dapat dicuci sedangkan yang berbentuk bubuk
(amorf) tidak dapat dicuci sehingga sulit untuk di regenerasi (Sugiharto, 1987).
Penggunaan karbon aktif berbentuk bubuk dapat dilakukan dengan cara
menaburkan bubuk ini ke dalam saluran yang berasal dari pengolahan biologis.
Pengkontakan ini biasanya dilakukan pada bak tertentu, setelah bubuk tercampur
dengan adanya gaya berat akan mengendap dengan membawa partikel terlarut dan
partikel tercampur. Untuk lebih mempercepat pengendapan dapat juga dibantu
dengan penambahan zat pembantu pengendap. Agar karbon aktif menjadi lebih
ekonomis, maka dapat dipergunakan kembali setelah dipakai dengan cara

melakukan oksidasi pada tekanan tinggi. Pada proses regenerasi ini biasanya akan
hancur sebanyak 5-10%, ukuran partikel 230 mesh serta luas permukaan 10002000 m2/gram dan mempunyai jari-jari antara 20-30 mikron (Sugiarto,1987).

2.3.5 Filtrasi
Filtrasi atau penyaringan adalah proses penjernihan air dimana air yang
diolah dilewatkan melalui substansi yang berporos. Menurut Huisman (1970)
selama dalam proses atau lewat saringan kualitas air akan menjadi baik yaitu
dalam hal (1) kandungan koloidal yang tersuspensi, (2) Menurunnya kandungan
Bakteri dan organisme lain serta (3) perubahan kandungan parameter kimia.
Dalam penggunaanya filtrasi menggunakan bahan-bahan yang stabil seperti pasir,
pecahan batu, gelas dan arang aktif.
2.3.5.1 Mekanisme penyaringan/filtrasi
Pengurangan partikel kotoran secara keseluruhan dengan proses filtrasi
adalah akibat berbagai penomena dan yang penting yaitu:
a. Penyaringan/pengayakan secara mekanik (straining)
Menyaring kotoran yang melalui celah antara butiran-butiran pasir
tertahan pada permukaan saringan. Saringan dengan ukuran partikel 0,4 mm akan
memberikan ruang celah berdiameter 60 Gm, sehingga tidak dapat menahan
partikel koloidal (0,001 0,1 Gm), bakteri (1-10 Gm) atau juga flok dari besi atau
alumunium (20 50 Gm).
b. Pengendapan
Dalam proses pengendapan partikel-partikel yang lebih halus dari celah
akan jatuh pada permukaan butiran pasir, seperti halnya pengendapan dalam bak.
Pada tangki pengendapan proses pengendapan terjadi di dasar tangki. Suatu
saringan dengan pore space () maka setiap satu m3 saringan butiran-butiran bulat
berdiameter (d) akan mempunyai luas permukaan secara kasar 6/d [1- ] m2.
Porositas () 0,4 dan diameter butiran 0,8 mm akan mempunyai luas area
permukaan tidak kurang dari 4500 m2 per m3 saringan atau luas 5400 m2 per m3
saringan yang tebalnya 1,2 m. Walaupun hanya sebagian luas permukaan yang
efektif tetapi luas area pengendapan per m2 saringan bisa dikatakan sebesar 300

m2. Sehingga surface loading sebagian hasil perhitungan jumlah air yang akan
diolah dengan luas area pengendapan menjadi sangat kecil. Bila Filtrasi rate 5,4
m/jam surface loading (s) tak lebih dari 0,018 m/jam.
c. Adsorpsi
Sistem Adsorpsi adalah suatu sistem yang memanfaatkan kemampuan zat
padat untuk menyerap suatu zat yang spesifik dan penyerapan itu hanya terbatas
pada permukaan. Hal terjadi karena adanya gaya tarik menarik dari atom-atom
atau molekul-molekul pada lapisan bagian luar zat padat. Sistem adsorpsi ini
terjadi dengan cara mengkontakan larutan/campuran yang hendak dipisahkan
dengan fase yang tidak dapat larut yaitu zat padat yang mempunyai kemampuan
menyerap (adsorben). Proses ini adalah proses adsorpsi secara fisika, yaitu proses
terkonsentrasinya moleku-molekul adsorbat (zat yang akan diserap) dalam air
(misalnya zat organik/anorganik dan lain-lain) ke permukaan karbon aktif oleh
karena adanya gaya tarik-menarik antara molekul karbon aktif dengan molekulmolekul adsorbat yang ada dalam larutan. Adsorpsi adalah peristiwa paling
penting dalam saringan cepat yang berpengaruh terhadap kotoran koloidal dan
molekul disolved. Tenaga adsorpsi hanya mampu bekerja pada jarak pendek dan
tidak lebih dari 0,01 1 Gm. Pada permukaan butiran saringan terdapat lapisan
film. Tebalnya saringan tidak lebih dari 90 mm bila suatu saringan dengan butiran
material 0,8 mm porositas 40% dan 0,4 ruang per m3 saringan dengan luas
permukaan material 4500 m2.
d. Proses kimia
Proses kimia terjadi terhadap kotoran-kotoran yang larut dalam air yang
kemudian dihancurkan menjadi bentuk atau susunan lebih sederhana, kurang
berbahaya atau diubah bentuk menjadi bahan yang tidak larut, yang kemudian
bisa terpisah dari air setelah pengendapan, tersaring atau diadsorpsi. Bila ada
oksigen zat-zat organik dapat didegradasi secara aerobik.
e. Aktifitas biologi
Mikroorganisme yang hidup dipermukaan butiran-butiran saringan terus
mempertahankan hidupnya. Maka untuk kelangsungan hidupnya mereka
memerlukan makanan yang diperoleh dari bahan-bahan organik dan nutrisi yang

melewatinya. Makanan diperlukan untuk proses kehidupan serta untuk


pertumbuhannya dengan mengubah kotoran laut dan koloidal menjadi benda
hidup. Tingkat perbandingannya sebagai berikut:
Ammonia Nitrat Nitrit dan menjadi Air, CO2 dan lain-lain mineral yang
keluar lewat effuen. Dengan terbatasnya jumlah makanan yang dibawa oleh air
baku, maka sejumlah bakteri tertentu dapat hidup dan tumbuh bahkan sebagian
jumlah lagi akan mati. Sebagian bakteri akan terkuras pada saat backwashing dan
sebagian mati dalam saringan. Sedangkan bahan organik yang dapat dicerna atau
dihancurkan akan diubah bentuk menjadi mineral. Air baku yang diolah tidak
hanya berbahaya dan berguna bagi saringan, tetapi juga mengandung E.coli dan
bakteri pathogen. Sebagian organisme ini akan dipindah dari air baku kebutiran
pasir/saringan melalui proses straining, sedimentasi dan adsorpsi, serta sebagian
bakteri akan lewat dari penyaringan. Dengan demikian saringan pasir cepat tidak
dapat menghasilkan air yang aman sebagai airminum ditinjau dari segi
bakteriologi.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar. Azrul. 1986. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan . Jakarta. Mutiara


sumber Widya
Benfield dan Randall. 1980. Biological Process Design For Waste Water
Treatment. Virginia Polytecnic Institute and State University. New york.
Darpito, Hening. (!999). Kualitas Air Dalam Teknik Penyehatan.Unit Peminatan
Teknik Penyehatan. Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1975 .Pembuangan Air Kotor
(Disposal Of Community Waste Water) Terjemahan (Jakarta Depkes R.I)
Djabu. U. 1990. Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja dan Air Limbah.
Jakarta. PUSDIKNAKES.
Djajadiningrat. 1992. Pengendalian Pencemaran Limbah Industri. Jurusan Teknik
Lingkngan. ITB. Bandung.
Fiedler, H., O. Hutzinger, and C.W. Timms.1990 Dioxines; sources of
environmental load and human exposure.Toxicol. Environ. Chem.
29:157-234.
.Herlambang. 2000. Teknologi Pengolahan Air Limbah secara Aerob (Kajian
Asfek Pemilihan Teknologi). Bahan Pelatihan Teknologi Pengolahan Air
Limbah Cair. BPPT. Jakarta.