Anda di halaman 1dari 7

E.

Penegakan Diagnosis
1. Anamnesa
Dislipidemia sering tidak menimbulkan gejala dan untuk anamnesa
biasanya dilihat dari riwayat faktor risiko yang berhubungan. Gejala pada
dislipidemia kebanyakan timbul akibat telah terjadinya aterosklerosis yaitu
seperti nyeri dada, nafas pendek, nyeri tungkai saat berjalan, kerontokan
rambut, pusing, sakit kepala yang memberat, dan terdapat defisit
neurologis sementara atau permanen (Brashers, 2008). Orang yang
dicurigai dislipidemia memiliki riwayat seperti diet tinggi lemak, diabetes
melitus, obesitas, merokok dan alcohol. Pada riwayat keluarga perlu
ditanyakan apakah terdapat orang tua yang memiliki kadar kolesterol yang
tinggi, penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes mellitus. Riwayat social
ekonomi perlu ditanyakan aktivitas fisik orang tersebut dan juga diet orang
tersebut (Adam, 2009).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan yang spesifik.
Pemeriksaan fisik mungkin terjadi setelah terjadi komplikasi seperti
penyakit jantung koroner. Pemeriksaan tanda-tanda vital akan mengalami
kenaikan pada tekanan darah, frekuensi nafas, dan juga denyut jantung.
Orang yang dislipidemia memiliki faktor risiko obesitas sehingga dapat
ditemukan Indeks Masa Tubuh > 25% (Adam, 2009).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium memiliki peranan penting dalam menegakan
diagnosis dan bisa menjadi gold standart.
a. Pemeriksaan lipid serum
Pemeriksaan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL,
dan trigliserida plasma. National Cholesterol Education Program Adult
Panel III (NCEP-ATP III) telah membuat batasan tentang kadar lipi
serum normal tanpa melihat faktor risiko koroner seseorang.

Tabel 1. Kadar Lipid Serum Normal


Kolesterol total
<200

Optimal

200-239

Diinginkan

240

Tinggi

Kolesterol LDL
< 100

Optimal

100-129

Mendekati optimal

130-159

Diinginkan

160-189

Tinggi

190

Sangat Tinggi

Kolesterol HDL
< 40

Rendah

60

Tinggi

Trigliserid
< 150

Optimal

150-199

Diinginkan

200-499

Tinggi

500

Sangat Tinggi

b. Pemeriksaan Thyroid Stimulating Hormon (TSH)


Pemeriksaan TSH dilakukan untuk mengetahui apakah terjadi
hipertiroidisme atau tidak. Pada keadaan hipertiroidisme akan terjadi
peningkatan

kecepatan

metabolisme

yang

akan

menghidrolisis

trigliserida atau mempercepat proses lipolisis. Kadar normal TSH


antara 0,3-3,4mlU/L.
c. Elektrokardiogram (EKG)
Elektrokardiogram digunakan untuk mengetahui apakah terjadi
komplikasi pada sistem kardiovaskular atau tidak.
d. Gula Darah Puasa
Pemeriksaan Gula Darah Puasa dilakukan untuk mengetahui faktor
risiko Diabetes Melitus. Pasien disuruh puasa selama 10-12 jam

kemudian kadar Gula Darah puasa diukur menggunakan serum. Nilai


normal GDP adalah 50-100 mg/dl.

F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dislipidemia dimulai dengan penilaian faktor risiko penyakit
jantung koroner pada pasien untuk menentukan kolesterol-LDL yang harus
dicapai. Berikut ini adalah tabel faktor resiko (selain kolesterol LDL) yang
menentukan sasaran kolesterol LDL yang ingin dicapai berdasarkan NCEPATP III (Sudoyo, 2006) :
Tabel 7. Faktor Risiko (Selain Kolesterol LDL) yang Menentukan
Sasaran Kolesterol LDL yang Ingin Dicapai
Faktor Risiko (Selain Kolesterol LDL) yang Menentukan Sasaran
Kolesterol LDL yang Ingin Dicapai
-

Umur pria 45 tahun dan wanita 55 tahun.

Riwayat keluarga PAK (Penyakit Arteri Koroner) dini yaitu ayah


usia < 55 tahun dan ibu < 65 tahun.

Kebiasaan merokok

Hipertensi (140/90 mmHg atau sedang mendapat obat


antihipertensi)

Kolesterol HDL rendah ( <40 mg/dl). Jika didapatkan kolesterol


HDL 60mg/dl maka mengurangi satu faktor risiko dari jumlah
total

Setelah menemukan banyaknya faktor risiko pada seorang pasien, maka


pasien dibagi kedalam tiga kelompok risiko penyakit arteri koroner yaitu
risiko tinggi, risiko sedang dan risiko tinggi. Hal ini digambarkan pada tabel
berikut ini (Sudoyo, 2006) :

Tabel 8. Tiga Kategori Resiko yang Menentukan Sasaran Kolesterol LDL


yang Ingin Dicapai berdasarkan NCEP (Sudoyo, 2006)
Kategori Resiko
Sasaran Kolesterol
LDL (mg/dl)
1. Resiko Tinggi

<100

a. Mempunyai Riwayat PJK dan


b. Mereka yang mempunyai risiko yang
disamakan dengan PJK
- Diabetes Melitus
- Bentuk lain penyakit aterosklerotik yaitu
stroke, penyakit arteri perifer, aneurisma aorta
abdominalis
- Faktor risiko multipel (> 2 faktor risiko) yang
mempunyai risiko PJK dalam waktu 10 tahun
> 20 % (lihat skor risiko Framingham)
2. Resiko Multipel (2 faktor resiko) dengan

<130

risiko PJK dalam kurun waktu 10 tahun < 20%


3. Resiko Rendah (0-1 faktor resiko) dengan

<160

risiko PJK dalam kurun waktu 10 tahun < 10


%
Selanjutnya penatalaksanaan pada pasien ditentukan berdasarkan kategori
risiko pada tabel diatas. Berikut ini adalah bagan penatalaksanaan untuk
masing-masing katagori risiko ( Sudoyo, 2006):

Gambar . Bagan Penatalaksanaan dislipidemia dengan faktor resiko


tinggi

Gambar . Bagan Penatalaksanaan dislipidemia dengan faktor resiko


sedang

Gambar . Bagan Penatalaksanaan Dislipidemia dengan faktor resiko 0-1


1. Farmakologis
Pada saat ini terdapat 6 jenis obat yang dapat digunakan untuk mengobati
dislipidemia yaitu bile acid sequestran, HMG-CoA reductase inhibitor
(statin), deviat asam fibrat, asam nikotinik, ezitimibe, dan asam lemak
omega-3 (Adam, 2009).
a. Bile Acid Sequestrants
Obat ini tidak diserap oleh usus dan bekerja mengikat asam empedu di
usus halus dan akan dikeluarkan dengan tinja sehingga asam empedu yang
kembali ke hati akan turun. Contoh Bile Acid Sequestrants antara lain
kolestyramin dengan dosis 8-16 g/hari
b. HMG-CoA Reductase Inhibitor
Obat ini bekerja untuk mencegah kerja enzim HMG-CoA reductase yang
berperan dalam sintesis kolesterol. Efek samping obat ialah adanya

miositis yang ditandai dengan nyeri otot. Obat HMG-CoA Reductase


Inhibitor antara lain Lovastatin 10-80 mg/dl, Pravastatin 10-40 mg/dl,
Simvastatin 5-40 mg/dl, Fluvastatin 20-40 mg/dl, Atorvastatin 10-80
mg/dl, Rosuvastatin 10-20 mg/dl.
c. Derivat Asam Fibrat
obat ini bekerja menurunkan trigliserid plasma, dan menurunkan sintesis
trigliserid di hati. Obat yang termasuk golongan ini antara lain
Gemifibrozil 600-1200 mg (2 atau 3 kali pemberian) dan Fenofibrat 160
mg.
d. Asam Nikotinik
Obat ini bekerja menghambat enzim hormone sensitive lipase di jaringan
adipose, yang berdampak mengurangi jumlah asam lemak bebas. Contoh
dari obat ini adalah Niasin 50-100 mg 3 kali pemberian, kemudian
tingkatkan 1-2,5 g 3 kali pemberian.
e. Ezetimib
Bekerja sebagai penghambat selektif penyerapan kolesterol baik yang
berasal dari makanan maupun dari asam empedu di usus halus. Dosis obat
ini adalah 10mg/hari.
f. Asam Lemak Omega-3
Minyak ikan menurunkan sintesis VLDL yang akan berpengaruh pada
penurunan kadar kolesterol juga. Dosis obat tergantung jenis kombinasi
asam lemak. Contoh obat Maxepa yang diberikan 10 kapsul sehari
2. Nonfarmakolagis
Penatalaksanaan non-farmakologis dikenal juga dengan nama perubahan
gaya hidup, meliputi terapi nutrisi medis, aktivitas fisik, serta beberapa
upaya lain seperti hentikan merokok, menurunkan berat badan bagi
mereka yang gemuk, dan mengurangi asupan alkohol.

Adam, J. 2009. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.


Jakarta : InternaPublishing.
Brashers, Valentina L. 2008. Aplikasi Klinis Patofisiologi. Jakarta : EGC
Contoh Resep
R/Nicotininic Acid tab mg 1000 No.I
1.d.d tab I p.c a.n

R/Simvastatin tab mg 10 No.1


1.d.d tab I p.c