Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam

perkembangannya,

hadits

mengalami

tahapan-tahapan

yang

menjadikannya tersusun secara kompleks seperti sekarang ini. Dari tahapan-tahapan


tersebut terjadilah proses untuk melestarikan hadits. Usaha-usaha para sahabat dan
tabiin dalam melestarikan hadits ikut mengiringi perkembangan hadits. Mulai dari
masa Rasulullah hingga masa tabiin.
Paparan tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadits sangat urgen,
terutama untuk mengungkap usaha-usaha para ulama hadits dalam membina dan
memelihara hadits pada masing-masing periode sampai terwujudnya kitab-kitab
hadits hasil pentadwinan secara sempurna. Seperti yang dikemukakan oleh Yaqub
dan Musthafa dalam Imam Bukhari dan Metodologi Kritis dalam Ilmu Hadits,
keberadaan hadits menjadi sasaran serangan oleh mereka yang tidak senang terhadap
Islam (misalnya Goldziher, 1850-1921 M), khususnya oerientalis tentang orisinalitas
hadits. Bahkan Joseph Schact (1902-1969 M) menyatakan bahwa tidak satupun hadits
yang otentik dari Nabi SAW, khususnya hadits-hadits tentang hukum.1 Alasan yang
sering dikemukakan adalah jauhnya rentang waktu sejak meninggalnya Nabi SAW
dengan masa pentadwinan hadits. Dengan jarak yang begitu jauh, menurut mereka,
memungkinkan hadits mengalami manipulasi sehingga orisinalitasnya patut
diragukan, sekalipun yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ataupun Muslim misalnya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pelestarian hadits pada masa Rasulullah SAW?


2. Bagaimana pelestarian hadits pada masa Sahabat?
3. Bagaimana pelestarian hadits pada masa Tabiin?

Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Mustholah Hadits, Jombang: Darul-Hikmah, 2008, hlm.

62.

-Pelestarian Hadits | 1

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pelestarian Hadits pada Masa Rasulullah SAW


Periode ini disebut ashrulwahyi wattaqwn (

( ,

yaitu turun

wahyu dan pembentukan masyarakat Islam.2


Seluruh perbuatan Nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau
menjadi perhatian para sahabat.3 Dalam masa ini, terdapat hal-hal yang berkenaan
dengan pelestarian hadits, diantaranya:
1. Penerimaan Hadits
Hadits-hadits Nabi SAW yang terhimpun di dalam kitab-kitab hadits yang
ada sekarang adalah hasil kesungguhan para sahabat dalam menerima dan
memeliharaha hadits di masa Nabi SAW dulu. Apa yang diterima oleh para sahabat
dari Nabi SAW disampaikan pula oleh mereka kepada sahabat lain yang tidak hadir
ketika itu, dan selanjutnya mereka menyampaikannya kepada generasi berikutnya,
dan demikianlah seterusnya hingga sampai kepada para perawi terakhir yang
melakukan kodifikasi hadits.
Cara penerimaan hadits di masa Nabi SAW tidak sama dengan cara
penerimaan hadits di masa generasi sesudahnya. Penerimaan hadits di masa Nabi
SAW dilakukan oleh sahabat dekat beliau, seperti Khulafaur Rasyidin dan dari
kalangan sahabat utama lainnya. Para sahabat di masa Nabi SAW mempunyai minat
yang besar untuk memperoleh hadits Nabi, oleh karenanya mereka berusaha keras
mengikuti Rasulullah agar ucapan, perbuatan, atau taqrir beliau dapat mereka terima
atau lihat secara langsung. Apabila di antara mereka ada yang berhalangan, maka
mereka mencari sahabat yang kebetulan mengikuti atau hadir bersama Rasulullah
ketika itu untuk meminta apa yang telah mereka peroleh dari beliau.
Seperti yang dikemukakan oleh Abu Syuhbah dalam Al-Kutub al-Shihah alSittah, bahwa besarnya minat para sahabat untuk memperoleh hadits Nabi SAW
dapat dilihat dari tindakan Umar ibn Khatab, ketika dia membagi tugas untuk
2

62.

Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Mustholah Hadits, Jombang: Darul-Hikmah, 2008, hlm.

Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits, Semarang: PT. Pustaka
Rizki Putra, 1999, hlm. 27.

-Pelestarian Hadits | 2

mencari dan mendapatkan hadits Nabi SAW dengan tetangganya. Apabila hari ini
adalah tetangganya yang bertugas mengikuti atau menemui Nabi SAW, maka
besoknya giliran Umar ibn Khatab yang bertugas mengikuti atau menemui Nabi.
Siapa yang bertugas menemui dan mengikuti Nabi serta mendapatkan hadits dari
beliau, maka ia segera menyampaikan berita itu kepada yang lainnya yang ketika itu
tidak bertugas.
Ada empat cara yang ditempuh oleh para sahabat untuk mendapatkan hadits
Nabi, diantaranya:
a. Mendatangi majelis-majelis taklim yang diadakan Rasulullah SAW
Rasulullah

SAW

selalu

menyediakan

waktu-waktu

khusus

untuk

mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada para sahabat. Para sahabat selalu


berusaha untuk menghadiri majelis tersebut meskipun mereka juga sibuk dengan
pekerjaan masing-masing, seperti menggembala ternak atau berdagang. Apabila
mereka berhalangan, maka mereka bergantian mengahadiri majelis tersebut,
sebagaimana yang dilakukan Umar dan tetangganya. Yang hadir memberi tahu
informasi yang mereka dapatkan kepada yang tidak hadir.
b. Nabi SAW menjelaskan hukum dari suatu peristiwa
Umpamanya, adalah peristiwa yang dialami Nabi SAW dengan seorang
pedagang, seperti yang termuat di dalam hadits berikut:


, : .


,
. : .

)(
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW melewati seorang
penjual makanan, lantas beliau bertanya, Bagaimana caranya engkau
berjualan? Maka si pedagang menjelaskannya kepada Rasul. Selanjutnya
beliau menyuruh pedagang itu untuk memasukkan tangannya ke dalam tumpukan
makanan tersebut. Namun, ketika tangannya ditarik keluar, terlihat tangan
tersebut basah, maka Rasul SAW bersabda, Tidaklah termasuk golongan kami
orang yang menipu. (HR. Ahmad).
c. Sahabat menanyakan hukum dari suatu perbuatan
Mereka menanyakan hukumnya kepada Rasulullah SAW dan Rasul SAW
memberikan fatwa atau penjelasan hukum tentang peristiwa tersebut. Kasus yang

-Pelestarian Hadits | 3

tejadi adakalanya mengenai diri si penanya sendiri, namun tidak jarang pula
terjadi pada diri sahabat lain yang kebetulan disaksikannya atau didengarnya.
Pada umumnya, dalam rangka untuk mendapatkan keterangan yang meyakinkan
dan menentramkan hati mereka tentang peristiwa yang terjadi pada diri mereka,
para sahabat tidak merasa malu untuk datang secara langsung menannyakannya
kepada Rasul SAW. Akan tetapi, apabila di antara mereka ada yang malu untuk
bertanya secara langsung kepada Rasul SAW tentang masalah yang dialaminya,
maka biasanya sahabat yang bersangkutan akan mengutus seorang sahabat yang
lain untuk bertanya tentang kedudukan masalah tersebut. Sebagai contoh, adalah
peristiwa yang dialami Ali RA menyangkut masalah mazi:

.


) ( .
Artinya: Dari Ali RA berkata, Aku adalah seorang yang sering mengalami
keluar mazi, maka aku suruh Al-Miqdad menanyakan (masalah tersebut) kepada
Rasul SAW, maka Rasul menjawab, bahwa padanya harus berwudhu. (HR.
Bukhari).4
Setelah mendapatkan hadits melalui cara-cara di atas, para sahabat
selanjutnya menghafal hadits tersebut sebagaimana hanya dengan Al-Quran.
Akibatnya perbedaan frekuensi mereka dalam menghadiri majelis taklim yang
diadakan Nabi atau dalam mengikuti beliau, maka terdapat pula perbedaan jumlah
hadits yang dihafal atau dimiliki oleh tiap-tiap sahabat.
2. Penulisan Hadits
Pada masa Nabi SAW, kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah
bermunculan, hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di kalangan
sahabat masih kurang, Nabi menekankan untuk menghapal, memahami, memelihara,
mematerikan,

dan

memantapkan

hadits

dalam

amalan

sehari-hari,

serta

mentabligkannya kepada orang lain.5

Agus Solahudin & Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 34.

-Pelestarian Hadits | 4

Mengapa hadits tidak atau belum ditulis secara resmi pada masa Rasulullah,
terdapat berbagai keterangan dan argumentasi yang, kadang-kadang, satu dengan
yang lainnya saling bertentangan. Contoh hadits:
a. Larangan Menuliskan Hadits
Terdapat sejumlah hadits Nabi yang melarang para sahabat menuliskan haditshadits yang mereka dengar atau peroleh dari Nabi. Hadits-hadits tersebut adalah:


: .
) ( .
Artinya: Dari Abi Said al-Khudri, bahwasanya Rasul SAW bersabda, Janganlah
kamu menuliskan sesuatu dariku, dan siapa yang menuliskan sesuatu dariku selain
Al-Quran maka hendaklah ia meghapusnya. (HR. Muslim)
Dari riwayat di atas dapat dipahami bahwa Rasul SAW melarang para sahabat
menuliskan hadits beliau, dan bahkan beliau memerintahkan untuk menghapus
hadits-hadits yang telah sempat dituliskan oleh para sahabat. Berdasarkan riwayat
di atas maka muncul di kalangan para ulama pendapat yang menyatakan bahwa
menuliskan hadits Rasul SAW adalah dilarang. Bahkan di kalangan para sahabat
sendiri terdapat sejumlah nama yang, menurut Al-Khatib Al-Baghdadi, meyakini
akan larangan penulisan hadits tersebut. Mereka adalah di antaranya Abu Said alKhudri, Abdullah ibn Masud, Abu Musa al-Asyari, Abu Hurairah, Abdullah ibn
Abbas, dan Abdullah ibn Umar.6
b. Perintah Menuliskan Hadits
Tidak ditulisnya hadits pada secara resmi pada masa Nabi , bukan berarti tidak
ada sahabat yang menulis hadits. Dalam sejarah penulisan hadits terdapat namanama sahabat yang menulis hadits, di antaranya:
1) Abdullah Ibn Amr Ibn Ash, shahifah-nya disebut Ash-Shadiqah.
2) Ali Ibn Abi Thalib, penulis hadits tentang hukum diyat, hukum keluarga, dan
lain-lain.
3) Anas Ibn Malik.
Di antara hadits yang membolehkan adanya penulisan hadits adalah sebagai
berikut.


:

. .
6

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 95-98.

-Pelestarian Hadits | 5

Artinya: Dari Anas Ibn Malik bahwa di berkata, Rasulullah SAW bersabda,
Ikatlah ilmu itu dengan tulisan (menuliskannya).
Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasul SAW membolehkan bahkan tampak
menganjurkan para sahabat untuk menuliskan hadits-hadits beliau. Hal tersebut
terlihat dari saran beliau untuk mengikat ilmu pengetahuan, tentunya termasuk di
dalamnya hadits-hadits beliau, dengan cara menuliskannya.7
Sementara itu, Ajjaj al-Khatib menyimpulkan beberapa pendapat yang
bervariasi dalam rangka mengkompromikan dua kelompok hadits yang terlihat saling
bertentangan dalam hal penulisan hadits Nabi SAW, yaitu:
1) Larangan menuliskan hadits itu terjadi adalah pada masa awal Islam yang ketika
itu dikhawatirkan terjadinya percampuradukan antara hadits dan al-Quran. Tetapi,
setelah umat Islam bertambah banyak dan mereka telah dapat membedakan antara
hadits dan al-Quran, maka hilanglah kekhawatiran itu dan mereka diperkenankan
untuk menuliskannya.
2) Larangan tersebut ditujukan terhadap mereka yang memiliki hafalan kuat sehingga
mereka tidak terbebani dengan tulisan; sedangkan kebolehan diberikan kepada
mereka yang hafalannya kurang baik seperti Abu Syah.
3) Larangan tersebut bersifat umum, sedangkan kebolehan menulis diberikan khusus
kepada mereka yang pandai membaca dan menulis sehingga tidak terjadi kesalahan
dalam menuliskannya, seperti Abdullah Ibn Umar yang sangat dipercaya oleh
Nabi SAW.8

B. Pelestarian Hadits pada Masa Sahabat


Periode ini terjadi pada masa Khulafaurrasyidin atau masa sahabat besar dan
dikenal dengan sebutan zamanut tastabutti wal iqlali minarriwayah

) .

Yaitu masa pengokohan dan penyederhanaan riwayat. 9 Pada masa ini

periwayatan hadits agak dibatasi, dan karenanya kurang begitu berkembang. Hal itu
disebabkan perhatian sahabat lebih terfokus pada pemeliharaan dan penyebaran alQuran. Itulah sebabnya masa ini diistilahkan dengan masa pembatasan periwayatan.

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 98-101.
Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 104-105.
9
Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Mustholah Hadits, Jombang: Darul-Hikmah, 2008, hlm.
8

62.

-Pelestarian Hadits | 6

Kehati-hatian sahabat dalam membatasi periwayatan hadits, dimaksudkan


untuk menjaga fokus umat dalam pemeliharaan al-Quran, mengingat pada masa ini
al-Quran masih berada pada di tahap dihapal oleh para sahabat dan baru pada fase
awal rintisan untuk dimushafkan. Di samping itu disebabkan mereka khawatir
terjadinya kekeliruan, padahal mereka sangat menyadari bahwa hadits merupakan
sumber hukum setelah al-Quran yang harus terjaga dari kekeliruan sebagaimana alQuran. Karena itulah sahabat berusaha memperketat periwayatan dan penerimaan
hadits.10 Berikut adalah pelestarian hadits pada masa khulafaur rasyidin:
1. Pelestarian Hadits pada Masa Khalifah Abu Bakar dan Umar Ibn Khathab
Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadits tersebar secara
terbatas. Penulisan hadits pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Abu
Bakar adalah seorang sahabat yang berpendirian tidak menuliskan hadits. Bahkan
pada masa ini, Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan
hadits, dan sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan
perhatiannya untuk menyebarluaskan al-Quran.
Menurut riwayat Hakim dari Aisyah, sesungguhnya Abu Bakar telah
mengumpulkan dari Rasulullah sekitar 500 hadits. Kemudian, suatu malam ia merasa
bimbang. Pagi harinya ia memanggil putrinya, Aisyah dengan mengatakan, Berikan
padaku hadits-hadits yang ada di tanganmu itu. Maka Aisyah menyerahkan
kumpulan hadits itu kepada Abu Bakar lalu dibakarnya.11
Abu Bakar dan Umar merasakan adanya kekhawatiran terhadap buku-buku
catatan hadits yang ada di tangan para sahabat pada saat itu, mengingat dapat
berakibat pada kelengahan mereka terhadap al-Quran, bahkan mungkin sekali mereka
mengabaikan hafalan dan mengkaji isi kandungan ayat-ayat al-Quran, sebagaimana
yang pernah terjadi pada masa umat-umat terdahulu.12
2. Pelestarian Hadits pada Masa Khalifah Utsman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib
Setelah Nabi SAW wafat, yakni dalam periode sahabat, para sahabat tidak lagi
mengurung diri di Madinah. Mereka telah memulai menyebar ke kota-kota lain selain
Madinah. Intensitas penyebaran sahabat ke daerah-daerah ini terlihat begitu besar
terutama pada masa kekhalifahan Utsman Ibn Affan, yang memberikan kelonggaran
kepada para sahabat untuk meninggalkan kota Madinah. Wilayah kekuasaan Islam
10

Muhammadiyah Amin, Ilmu Hadis, Gorontalo: Sultan Amai Press, 2008, hlm. 40-41.
Agus Solahudin & Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 35.
12
Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Mustholah Hadits, Jombang: Darul-Hikmah, 2008, hlm.
11

69.

-Pelestarian Hadits | 7

pada periode Utsman telah meliputi seluruh jazirah Arabia, wilayah Syam (Palestina,
Yordania, Siria, dan Libanon), seluruh kawasan Irak, Mesir, Persia, dan kawasan
Samarkand.
Pada umumnya, ketika terjadi perluasan daerah Islam, para sahabat
mendirikan masjid-masjid di daerah-daerah baru itu; dan di tempat-tempat yang baru
itu sebagian dari mereka menyebarkan ajaran Islam dengan jalan mengajarkan alQuran dan hadits Nabi SAW kepada penduduk setempat. Dengan tersebarnya para
sahabat ke daerah-daerah disertai dengan semangat menyebarkan ajaran Islam, maka
tersebar pulalah hadits-hadits Nabi SAW.
Sejalan dengan kondisi di atas, dan dengan adanya tuntutan untuk
mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat yang baru memeluk agama Islam, maka
khalifah Utsman Ibn Affan, dan demikian juga Ali Ibn Abi Thalib, mulai
memberikan kelonggaran dalam penyebaran hadits. Akibatnya, para sahabat pun
mulai mengeluarkan khazanah dan koleksi hadits yang selama ini mereka miliki, baik
dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Mereka saling memberi dan menerima hadits
antara satu dengan yang lainnya, sehingga terjadilah apa yang disebut iktsar riwayah
hadits (peningkatan kuantitas hadits).13
C. Pelestarian Hadits pada Masa Tabiin
Wilayah Islam semakin meluas, terlihat ketika pemerintahan dipegang oleh
Bani Umayyah, wilayah kekuasaan Islam meliputi Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan,
Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai ke Spanyol, di samping
Madinah, Basrah, Syam, dan Khurasan. Para sahabat juga menyebar ke daerahdaerah. Dengan begitu penyebaran hadits pun mengalami perkembangan yang pesat.
Pada masa ini, sahabat-sahabat yang menyebar ke berbagai daerah itulah yang
melakukan pembinaan dan penyebarluasan hadits. Kepada merekalah, para tabiin
mempelajari hadits.14 Oleh ulama, masa ini disebut zaman intisyari riwayati ilal amshar (

) ,

yaitu masa tersebarnya riwayat-riwayat hadits ke

kota-kota.15
1. Penulisan Hadits
13

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 114-115
Muhammadiyah Amin, Ilmu Hadis, Gorontalo: Sultan Amai Press, 2008, hlm. 45.
15
Muhammad Mashum Zein, Ulumul Hadits & Mustholah Hadits, Jombang: Darul-Hikmah, 2008, hlm.
14

63.

-Pelestarian Hadits | 8

Penulisam hadits pada masa tabiin mengikuti jejak para sahabat. Karena
para tabiin memperoleh ilmu, termasuk di dalamnya hadits-hadits Nabi SAW
adalah dari sahabat. Dengan demikian wajar kalau mereka bersikap menolak
penulisan hadits, apabila sebab-sebab larangannya ada, sebagaimana yang
dilakukan oleh khulafaur rasyidin dan para sahabat lainnya. Dan sebaliknya,
mereka pun sepakat untuk membolehkan penulisan hadits, bahkan sebagian besar
dari mereka mendorong dan menggalakkan penulisan dan pembukuannya.16
Kegiatan penulisan hadits, di masa tabiin semakin meluas pada akhir
abad pertama dan awal abad kedua Hijriyah. Umar Ibn Abdul Aziz, sebagai
seorang Amirul Muminin, juga turut aktif secara langsung mencari dan
menuliskan hadits.17
2. Penyebaran Hadits
Para tabiin yang ingin mengetahui hadits-hadits Nabi SAW diharuskan
berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan
hadits kepada sahabat-sahabat yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan
demikian, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadits ke pelosokpelosok Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadits pun menjadi ramai.18
3. Pemalsuan Hadits
Pada periode ini mulai muncul usaha pemalsuan hadits oleh orang-orang
yang tidak bertanggung jawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Ali r.a. Pada masa
ini, umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama,
golongan Ali Ibn Abi Thalib, yang kemudian dinamakan golongan Syiah.
Kedua, golongan khawarij, yang menentang Ali, dan golongan Muawiyah, dan
ketiga, golongan jumhur (golongan pemerintah pada masa itu).19
Terpecahnya umat Islam tersebut, memacu orang-orang yang tidak
bertanggung jawab untuk mendatangkan keterangan-keterangan yang berasal dari
Rasulullah SAW untuk mendukung golongan mereka. Oleh sebab itulah, mereka
membuat hadits palsu dan menyebarkannya kepada masyarakat.

16

Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 122.
Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, Jakarta: PT. Mutiara Sumber Jaya, 1998, hlm. 125.
18
Agus Solahudin & Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 36.
19
Agus Solahudin & Agus Suyadi, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, 2008, hlm. 38.
17

-Pelestarian Hadits | 9

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hadist di masa Khulafaur Rasyidin diatur ketat dan periwayatan hadist diharuskan
dengan teliti agar periwayatan itu benar dan sesuai dengan apa yang didengarnya
dari Nabi SAW.
2. Teliti dalam meriwayatkan hadist khususnya di bawah pemerintahan Abu Bakar
dan Umar bukan berarti menyedikitkan riwayat atau penyebaran hadist. Maksud
lain dari perintah itu adalah orang-orang yang baru masuk Islam lebih
memfokuskan diri belajar al-Quran terlebih dahulu.
3. Para sahabat yang sedikit meriwayatkan hadist pada waktu itu pada dasarnya
meniliti terlebih dahulu apa yang akan diriwayatkannya dengan berkonsultasi
dengan sahabat lainnya. Agar periwayatan tidak salah karena adanya ancaman
keras dari Nabi SAW jika berdusta atas namanya.
4. Para sahabat yang banyak meriwayatkan hadist ketika itu mereka telah meniliti
terlebih dahulu dan telah yakin bahwa apa yang diriwayatkan itu sesuai dengan
apa yang didengarnya dari Nabi SAW.
5. Sebab seseorang yang mencintai Islam, mencintai al-Quran dan mencintai
Sunnah pastilah dia tidak akan jemu dan lelah mencari ketiganya meskipun jauh
letaknya.
B. Kritik dan Saran
Demikian makalah yang dapat kami paparkan tentang pelestarian hadits, semoga
bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan pada kami pada khususnya. Dan tentunya
makalah ini tidak lepas dari kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat konstruktif
sangat kami butuhkan, guna memperbaiki makalah selanjutnya.

-Pelestarian Hadits | 10

Anda mungkin juga menyukai