Anda di halaman 1dari 3

Amelia Budiarto

3203012197/Kelas E

PENGUJIAN AUDIT DALAM AUDIT SIKLUS AKUISISI DAN


PEMBAYARAN
Terdapat 3 akun yang saling terkait satu sama lain di dalam siklus akuisisi dan
pembayaran. Akun-akun yang terkait dengan siklus ini adalah Kas di Bank, Utang Dagang,
Beban Akuisisi, dan Aset Akuisisi. Pada akun Kas di Bank, Utang Dagang, dan Beban
Akuisisi diaudit melalui 3 proses, yakni Pengujian atas Pengendalian (PAP), Pengujian
Substansif atas Transaksi (PSAT), dan Prosedur Analitis (PA). Sementara itu, auditor juga
meneliti saldo akhir akun Utang Dagang, Beban Akuisisi, dan Aset Akuisisi dengan melalui 2
proses yakni Prosedur Analitis (PA) dan Pengujian Terinci atas Saldo (PTAS). Dalam
ulasan kali ini, asersi yang dicapai dalam mengaudit seluruh prosedur adalah asersi
keterjadian.
Hal pertama yang harus dikerjakan auditor terlebih dahulu adalah memahami
pengendalian internal perusahaan klien. Khususnya pada tujuan audit terkait dengan transaksi
keterjadian, yakni pencatatan akuisisi dilakukan saat barang atau jasa diterima yang konsisten
dengan kepentingan utama klien, pengendalian internal kunci yang harus diamati oleh auditor
adalah (1)permintaan pembelian, pesanan pembelian, laporan penerimaan dan faktur vendor
dilampirkan dalam voucher; (2)Akuisisi disetujui pada tingkat manajemen yang tepat;
(3)Akses komputer atas pembelian hanya diakses oleh vendor yang diotorisasi dalam berkas
utama vendor; (4)dokumen dibatalkan agar tidak digunakan kembali; dan (5)faktur vendor,
laporan penerimaan, pesanan pembelian, dan permintaan pembelian diverifikasi secara
internal. Jika auditor menganggap pengendalian memadai untuk tujuan ini, maka kesalahan
atau kecurangan terutama dalam hal duplikasi pencatatan akuisisi tidak akan terjadi, sehingga
pengujian transaksi yang tidak benar dan transaksi yang tidak benar-benar terjadi dapat
dikurangi secara signifikan. Pada kerja lapangan secara umum, terdapat kasus-kasus
kecurangan atau kesalahan yang mudah dilacak (contoh: akuisisi terhadap produk yang tidak
diotorisasi), juga terdapat pula kasus transaksi yang sulit dilacak (contoh: fasilitas untuk
pejabat tinggi beserta keluarganya). Dengan demikian, kasus sulit tersebut harus dilacak
dengan menggunakan bukti atau dokumen pendukung. Berikut prosedur Pengujian Umum
atas Pengendalian yang dapat dilakukan oleh auditor, yang masing-masing terkait dengan
proses pengujian substansif umum atas transaksi: (1)memeriksa dokumen dalam bundel

Halaman | 1

voucher atas keberadaanya. Hal ini dilakukan dengan menelaah jurnal akuisisi, buku besar,
dan berkas utama utang dagang untuk jumlah yang besar atau tidak biasa; (2)memeriksa
indikasi persetujuan, dengan cara memeriksa dokumen pendukung untuk kewajaran dan
keasliannya (faktur vendor, laporan penerimaan, pesanan pembelian, dan permintaan
pembelian); (3)memeriksa input transaksi, apakah dilakukan oleh vendor yang valid atau
tidak valid. Kemudian, auditor dapat melakukan pemeriksaan berkas utama vendor untuk
vendor yang tidak biasa; (4)memeriksa indikasi pembatalan; dan (5)memeriksa indikasi
adanya verifikasi internal, dengan melacak akuisisi persediaan ke dalam berkas utama
persediaan dan memeriksa aset yang tetap dibeli.
Pada proses audit transaksi pengeluaran kas, terutama untuk mencapai tujuan audit
terkait transaksi keterjadian dimana pencatatan pengeluaran kas untuk barang dan jasa yang
benar-benar diterima, auditor harus memeriksa apakah pengendalian internal kunci
perusahaan mengenai pemisahan tugas antaran utang dagang dan pemegang cek, dokumen
pendukung telah diperiksa sebelum penandatangan cek oleh pihak berwenang, penyerahan
dokumen pendukung untuk persetujuan pembayaran saat cek ditandatangani sudah dilakukan
atau tidak. Apabila pengamatan tersebut memberikan kesimpulan bahwa pengendalian
kurang/tidak efektif, maka auditor perlu melakukan pengujian pengendalian dengan:
(1)mendiskusikan dengan petugas dan mengamati aktivitasnya; dan (2)memeriksa indikasi
adanya kegiatan persetujuan. Kedua hal tersebut akan berhubungan dengan pengujian
substansif atas transaksi berupa: (1)memeriksa jurnal pengeluaran kas, buku besar, dan
berkas utama utang dagang atas jumlah transaksi yang tidak lazim; (2)melacak cek yang
dibatalkan ke jurnal akuisisi terkait dan memeriksa nama orang yang dibayar dan jumlah
yang dibayarkan; dan (3)memeriksa cek yang dibatalkan untuk otorisasi, persetujuan dari
pihak yang benar, dan pembatalan oleh bank, serta pemeriksaan dokumen pendukung sebagai
bagian dari pengujian akuisisi.
Sedangkan pada proses transaksi yang menghubungkan akun utang dagang, auditor
terlebih dahulu perlu memahami resiko bisnis klien, terutama ketika sistem dan pengaturan
perusahaan bersifat kompleks (penekanan pembelian persediaan JIT, mengefisiensikan
jalannya pertukaran informasi antara penjual dan pembeli melalui teknologi e-commerce,
perubahan seluruh aspek siklus akuisisi dan pembayaran pada banyak perusahaan). Setelah
itu, auditor menentukan salah saji yang dapat diterima dan menilai resiko bawaan. Kemudian,
pada tahap selanjutnya auditor menilai resiko pengendalian, mendesain, dan melakukan
proses pengujian pengendalian dan pengujian substansif atas transaksi. Selanjutnya, auditor
Halaman| 2

melakukan prosedur analitis dengan membandingkan rasio-rasio atau total saldo di tahun
sekarang dengan tahun sebelumya untuk mengungkapkan salah saji dalam utang dagang dan
akun beban. Untuk mencapai tujuan audit terkait transaksi keterjadian, yakni dalam hal utang
dagang dalam daftar utang dagang sesuai dengan berkas utama terkait, dan totalnya sudah
ditambahkan dengan benar sesuai dengan buku besar, auditor melakukan pengujian terinci
atas perincian saldo dengan: (1)menambahkan kembali atau menggunakan komputer untuk
menentukan total daftar utang dagang; (2)penulusuran total ke buku besar; dan
(3)penelusuran masing-masing faktur vendor ke berkas utama untuk nama dan jumlahnya.

Halaman| 3