Anda di halaman 1dari 22

RESUME

TEKNOLOGI MINYAK DAN GAS


TKK2136

Dosen Pembimbing:
Rama Oktavian, ST., M.Sc. dan A.S. Dwi Saptati N.H., ST., MT.

Disusun oleh:
Astrid Herawati (125061100111005)

TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

HYDROCONVERSION: HYDROTREATING, HYDROCRACKING, DAN


HIDROGENASI

Hidrokonversi adalah segala proses konversi hidrokarbon yang dilakukan dengan


mereaksikan hidrokarbon dengan hidrogen untuk menghasilkan produk tertentu. Beberapa proses
yang termasuk hidrokonversi diantaranya adalah hydrotreating, hydrocracking dan hidrogenasi.
Hydrotreating merupakan proses penghilangan sulfur, nitrogen dan logam pengotor dalam bahan
baku oleh hidrogen dengan adanya katalis. Hydrocracking adalah proses perekahan berkatalis
dari bahan baku untuk menghasilkan produk dengan titik didih rendah dengan mereaksikan
hidrokarbon dengan hidrogen. Hidrogenasi digunakan untuk aromatik yang jenuh dengan
hidrogen pada naftena yang sesuai. Penggunaan teknik hidrokonversi tergantung pada jenis bahan
baku dan produk yang diinginkan seperti yang ditunjukkan dalam tabel di bawah ini:
Tabel 1. Teknik Hidrokonversi

(Sumber: Fahim, et al., 2010)

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

1.

HYDROTREATING
Tujuan dari hydrotreating adalah sebagai berikut:
1) Menghilangkan impurities (pengotor), seperti belerang, nitrogen dan oksigen untuk
mengontrol spesifikasi produk akhir atau untuk persiapan produk sebagai feed
untuk proses lebih lanjut.
2) Menghilangkan logam, biasanya dalam reaktor katalitik saat senyawa organo-logam
terhidrogenasi dan terurai, mengakibatkan deposisi logam pada pori-pori katalis.
3) Penjenuhan olefin dan senyawa-senyawa yang tidak stabil.

Tahapan kimia dan reaksi yang terjadi selama proses hydrotreating bergantung pada
kandungan pengotornya:
a. Penghilangan sulfur, disebut sebagai desulfurasi atau hydro-desulfurasi (HDS)
dimana komponen sulfur organik dikonversi menjadi hydrogen sulfide.
b. Penghilangan nitrogen, disebut sebagai denitrogenation atau hydro-denitrogenation
(HDN) dimana komponen nitrogen organik dikonversi menjadi ammonia.
c. Penghilangan logam organo-metallic, disebut sebagai hydro-demetallation atau
hydro-demetallization dimana logam organo dikonversi menjadi logam sulfide.
d. Penghilangan oksigen, dimana komponen oksigen organik dikonversi menjadi air.
e. Penjenuhan olefin dimana komponen organik yang mengandung ikatan rangkap
dikonversi menjadi bentuk yang jenuh.
f. Penjenuhan aromatik, disebut sebagai hydro-dearomatization dimana beberapa
komponen aromatic dikonversi menjadi naphtana.
g. Penghilangan halide, dimana komponen halide dikonversi menjadi hydrogen halide.
(Jones and Pujado, 2006)

Peran hydrotreating biasanya sangat dibutuhkan pada kilang minyak khususnya untuk
membersihkan aliran dari pengotor seperti sulfur, nitrogen atau logam yang berbahaya bagi
katalis.

Itulah

sebabnya

proses

hydrotreating

dilakukan

hydrocracking dan FCC seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

sebelum

reformer,

Gambar 1. Peran hydrotreating (HT) dalam kilang minyang


(Sumber: Fahim, et al., 2010)
Hydrotreating juga diperlukan untuk menyesuaikan spesifikasi produk akhir pada
berbagai aliran, misalnya nafta ringan, minyak tanah (kerosene) dan bahan bakar
minyak rendah sulfur (LSFOs). Oleh karena itu, peran utama hydrotreating dapat
diringkas sebagai berikut:
1) Menentukan spesifikasi produk akhir
a. Minyak tanah (kerosene), minyak gas dan desulfurisasi minyak pelumas.
b. Saturasi olefin untuk perbaikan stabilitas.
c. Penghilangan nitrogen.
d. De-aromatisasi minyak tanah untuk meningkatkan angka cetane, yaitu
persentase cetane murni dalam campuran cetane dan alpha metil naftalena.
2) Persiapan feed untuk unit hilir
a. Nafta di-hydrotreate untuk menghilangkan logam dan belerang.

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

b. Penghilangan belerang, logam, poliaromatik dan karbon Conradson dari


vacuum gas oil (VGO) untuk digunakan sebagai pakan FCC.
c. Pretreatment pada feed hydrocracking untuk mengurangi sulfur, nitrogen dan
aromatik.
(Sumber: Fahim, et al., 2010)
Fraksi minyak bumi mengandung beberapa unsur asing, seperti S, N, O, dan Cl,
yang dapat dihilangkan dengan hydrotreating. Hydrotreating juga digunakan untuk
mengubah senyawa tak jenuh menjadi hidrokarbon jenuh. Dan juga digunakan untuk
melindungi katalis dari logam dan senyawa organo-logam dengan memberi katalis
pelindung yang murah. Reaksi hydrotreating dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Desulfurasi, contohnya:

Mercaptan:

Sulphide:

Disulphide:

Thiophene:

Benzo-thiophenes:

Di-benzo-thiophenes:

Kebanyakan desulfurisasi dapat berjalan mudah kecuali desulfurisasi spesies


aromatic sulfur karena reaksinya berjalan lebih kompleks dimana membutuhkan

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

adanya pemutusan rantai cincin dan penghilangan sulfur terlebih dahulu melalui
penjenuhan olefin. Mekanisme desulfurisasi:

(Jones and Pujado, 2006)


Berikut merupakan urutan 6 sulfur dari tingkatan yang paling mudah ke paling
sulit dihilangkan yaitu: Merkaptan Sulfid Disulfide Thiophenes
Benzo-thiophenes Dibenzo-thiophenes.
Penghilangan sulfur pada hidrokarbon sangat bergantung pada kadar sulfur
yang ada. Contohnya: pada naphta sulfur yang terkandung biasanya dalam
bentuk merkaptan atau sulfide yang relative mudah dihilangkan, sedangkan pada
fraksi minyak gas kebanyakan sulfur dalam bentuk benzo-thiophenes dan dibenzo-thiophenes yang lebih sulit untuk dihilangkan (Jones and Pujado, 2006)

b. Deoksidasi, contohnya:

Fenol:

Peroksida:

Oxygenates:

Naphthenic acids:

Kebanyakan petroleum memiliki kandungan yang sedikit terhadap oksigen.


Komponen oksigen yang terkandung dikonversi melalui dehidrogenasi.
Komponen dengan berat molekul yang rendah akan lebih mudah dihidrogenasi
(Jones and Pujado, 2006).

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

c. Denitrogenasi, contohnya:

Pyrrole:

Pyridine:

Amine:

Quinoline:

Berikut mekanisme dari penghilanagan nitrogen:

(Jones and Pujado, 2006)

Nitrogen relatif lebih sulit untuk dihilangkan dari pada sulfur dan juga
membutuhkan lebih banyak hydrogen karena mekanisme reaksinya melibatkan
adanya penjenuhan cincin aromatik. Pada desulfurisasi, sulfur kurang terkait
dengan cincin aromatik sehingga sulfur dapat dihilangkan tanpa adanya
penjenuhan cincin. Penghilangan nitrogen bergantung pada tekanan parsial H2
(Jones and Pujado, 2006).

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

d. Penjenuhan olefin, contohnya:

Hexene:

Cyclohexene:

Reaksi penjenuhan olefin ini berjalan sangat cepat dan sangat eksotermis (Jones
and Pujado, 2006).

e. Penjenuhan aromatic, contohnya:

Satu cincinToluene

Dua cincinNaphthalene

Tiga cincinPhenanthrene

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Cincin aromatik mono lebih sulit untuk dijenuhkan daripada cincin aromatic di
atau tri karena lebih membutuhkan energy yang lebih banyak (Jones and Pujado,
2006).
f. Hidrogenasi kloride:
g. Hidrogenasi olefin:
h. Hidrogenasi aromatik:

i. Penghilangan halide, contohnya kloride atau bromide yang dapat hadir sebagai
trace elemen pada fraksi petroleum. Reaksinya seperti di bawah ini:

j. Hidrogenasi komponen organo-logam dan endapan logam. Endapan


vanadium sebagai vanadium sulphide (V2S3).

k. Pembentukan kerak melalui kondensasi kimia pada radikal polynuclear

Katalis untuk hydrotreating adalah matriks alumina berpori yang dilegkapi dengan
kombinasi cobalt (Co), nikel (Ni), molibdenum (Mo) dan tungsten (W). Katalis memiliki
pori-pori dengan luas permukaan (200300 m2/g). Katalis Co-Mo paling populer untuk
desulfurisasi fraksi minyak. Katalis Ni-Mo dipilih ketika aktivitas yang lebih tinggi

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

diperlukan untuk penjenuhan senyawa aromatik polynuclear atau untuk menghilangkan


nitrogen dan sulfur yang tahan api, sedangkan katalis Ni-W dipilih hanya ketika aktivitas
yang sangat tinggi untuk saturasi aromatik (Speight, 2000).
Katalis hydrotreating memiliki komponen aktif dan sebuah promotor, yang sering
didispersikan pada bahan pensupport. Umumnya support katalis berupa gamma alumina
(-Al2O3), dengan terkadang juga ada penambahans sedikit silica atau fosfor untuk
menyiapkan luas permukaan yang besar dan memperbaiki struktur pori katalis. Komponen
aktifnya biasanya molybdenum sulfide, dengan promotornya adalah cobalt (CoMo) dan
nikel (NiMo). Komposisi secara umum biasanya mengandung 25 wt% promotor dan 25
wt% komponen aktif. Katalis hydrotreating dapat terdiri dari beberapa ukuran dan bentuk
tergantung kebutuhan, seperti pada gambar di bawah ini:

Cylindrical

1/321/4

Trilobe

1/201/10

Quadrilobe

1/201/10

Spheres

1/161/4

Hollow ring

Mencapai 1/4"

Bentuk dan ukuran dari katalis menentukan antara keinginan untuk meminimalkan
efek difusi pori-pori pada partikel katalis (mensyaratkan ukuran yang kecil) dan penuruna
tekanan dalam reaktor (mensyaratkan ukuran partikel yang besar) (Jones and Pujado,
2006).
Reaktivitas masing-masing katalis diberikan dalam Tabel 2.

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Tabel 2. Reaktifitas katalis hydrotreating

(Sumber: Fahim, et al., 2010)


Reaksi hydrotreating sifatnya eksotermis dan reversible. Pada tabel di bawah ini
diperlihatkan panas reaksi untuk beberapa reaksi hydrotreating.
Tabel 3. Panas reaksi untuk beberapa reaksi hydrotreating

(Sumber: Fahim, et al., 2010)


Konstanta keseimbangan untuk beberapa reaksi hysrodesulphurization bernilai positif
seperti yang ditunjukan pada gambar di bawah ini:

Gambar 2. Termodinamika reaksi hydrodesulphurisasi


(Sumber: Fahim, et al., 2010)

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Pada Gambar 2, dengan semakin bertambahnya suhu maka nilai konstanta Keq akan
semakin besar. Hal ini mengakibatkan reaksi akan berjalan lebih cepat. Namun terkadang,
dengan semakin tingginya suhu justru konversi akan menurun bisa dikarenakan adanya
komponen yang labil terhadap suhu. Reaksi A, B, dan C pada Gambar 2 dapat dilihat
sebagai berikut:
A

:
Dengan konstanta kesetimbangannya adalah:

Jika diasumsikan bahwa kecepatan reaksi berhubungan dengan orde n, maka:

Dapat dintegrasikan menjadi:

dimana t adalah waktu reaksi (jam), k adalah konstanta kecepatan reaksi (jam-1), C0 adalah
konsentrasi awal kandungan sulfur pada bahan (wt%), C adalah konsentrasi kandungan
sulfur pada produk akhir (wt%), dan n adalah orde reaksi 1.
Proses hydrotreating dapat dilihat pada gambar di bawah:

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Gambar 3. Elemen utama pada proses Hydrotreating


(Sumber: Fahim, et al., 2010)

Berdasarkan Gambar 3, bahan baku dalam bentuk liquid tercampur dengan H2 make up dan
masuk ke dalam preheater, pemanas, kemudian ke reaktor fes batch berkatalis. Keluaran
dari reaktor berupa gas kemudian masuk ke preheater, namun keluaran ini digunakan
sebagai media pemanas. Sehingga keluaran reaktor yang sudah tidak terlalu panas
kemudian didinginkan gas yang kaya hidrokarbon dipisahkan menggunakan separator
bertekanan tinggi. Liquid nya akan dikeluarkan ke fraksinator, sedangkan gas yang
mengandung hydrogen akan direcycle. Sebelum hydrogen direcycle, hydrogen sulfide
dihilangkan terlebih dahulu menggunakan scrubber amina, dilakukan pada tahap gas
treating. Gas yang telah terbebas dari H2S kemudian berupa treated gas sebagian akan di
alirkan ke proses lebih lanjut dan sebagian akan di recycle. Sebagian recycle gas
dibersihkan untuk membuat akumulasi pada hidrokarbon ringan (C4C5) dan untuk
mengontrol tekanan parsial hydrogen.
Pada Gambar 3, tekanan parsial hydrogen dalam reaktor harus dijaga dengan adanya
recycling pada hydrogen yang tidak bereaksi dan penambahan hydrogen make-up.
Hidrogen make-up dapat dihitung melalui persamaan:

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Persyaratan hydrogen untuk hidrotreating diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Persyaratan kimia: Hidrogen harus bersih dari pengotor seperti sulfur, oksigen,
nitrogen, olefin, organo logam. Terkadang juga perlu adanya pengubahan aromatic
dan naftan menjadi paraffin.
b. Hydrogen hilang karena terjadi pelarutan hydrogen dalam hidrokarbon. Hidrogen
dapat diprediksi melalui persamaan keadaan di bawah kondisi hydrotreating.
c. Sejumlah hydrogen hilang dengan adanya pembersihan hidrokarbon ringan (C1C4)
dan hydrogen sulfide (jika tidak dihilangkan dengan pemberian amina). Hidrogen
dapat diprediksi dengan perhitungan cepat atau menggunakan rasio gas yang
terbersihkan. Dengan persamaan:

Rasio di atas berpengaruh pada kemurnian hydrogen dalam gas recycle. Beberapa
tipe rasio purge dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4. Persyaratan purge pada proses hydrodesulfurisasi

(Sumber: Fahim, et al., 2010)


Kondisi operasi pada proses hydrotreating diantaranya adalah:
a. Tekanan,
b. Suhu, semakin tinggi suhu akan meningkatkan konstanta kecepatan reaksi dan
memperbaiki kinetikanya. Meskipun dengan semakin tingginya suhu akan memicu
terjadinya perekahan termal dan pembentukan kerak.
c. Jumlah penambahan katalis
d. Kecepatan pemasukan bahan baku
e. Tekanan parsial hydrogen, semakin tinggi tekanan parsial hydrogen akan
memperbaiki penghilangan sulfur dan nitrogen serta mengurangi pembentukan kerak.

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

f. Space velocity, semakin besar space velocity feed dalam reaktor maka akan membuat
rendahnya konversi, rendahnya konsumsi hydrogen, dan rendahnya pembentukan
kerak.
Berikut beberapa range operasi pada hydrotreating dengan bahan baku yang berbeda:
Tabel 5. Parameter proses untuk hydrotreating pada bahan baku yang berbeda

(Sumber: Heinrich and Kasztelan, 2010)

2.

HYDROCRACKING DAN HIDROGENASI


Hydrocracking adalah proses hidrogenasi berkatalis dimana bahan baku dengan berat
molekul yang besar dikonversi dan dihidrogenasi menjadi produk yang memiliki berat
molekul lebih rendah. Katalis yang digunakan memiliki fungsi ganda. Salah satunya
merupaka bagian logam (metallic) untuk memicu hidrogenasi, dan yang lainnya adalah
bagian asam yang memicu terjadinya perekahan. Hidrogenasi menghilangkan pengotor
pada bahan baku misalnya dulfur, nitrogen, dan logam. Perekahan akan memutus ikatan
dan mengakibatkan produk tidak jenuh yang harus dihidrogenasi menjadi komponen yang
stabil.
Hydrocracking memiliki peran penting pada proses konversi dalam kilang minyak.
Khususnya pada produksi middle distilat yang memiliki kandungan sulfur rendah seperti
kerosene dan diesel. Jika digunakan hidrocracking ringan, low sulphur fuel oil (LSFO)
dapat terbentuk. Seiring dengan perkembangan, juga digunakan untuk penghilangan lilin
melalui penghilangan berkatalis dan juga untuk penghilangan aromatik melalui penjenuhan
hydrogen. seperti pada gambar di bawah ini:

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Gambar 4. Peran Hydrocracking dalam kilang minyak


(Sumber: Fahim, et al., 2010)

Jenis reaksi kimia hidrocracking adalah sebagai berikut:


a. Hidrocracking alkana

b. Hidrodealkilasi

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

c. Pembukaan cincin aromatik

d. Hidroisomerisasi

e. Hydrocracking aromatic polynuclear

Salah satu bahan baku utama untuk hydrocracker adalah vacuum gas oil (VGO).
Namun beberapa bahan baku lainnya juga dapat digunakan, contohnya seperti pada tabel
berikut:
Tabel 6. Jenis bahan baku dan produk pada Hydrocracking

(Sumber: Fahim, et al., 2010)

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

Hydrocracking berkatalis memiliki fungsi ganda, yaitu fungsi merekahkan dan fungsi
hidrogenasi seperti pada gambar di bawah ini:

Gambar 5. Klasifikasi hydrocracking berkatalis


(Sumber: Secherzer and Gruia, 1996)

Pada Gambar 5 di atas, fungsi merekahkan (cracking function) terjadi melalui adanya
penambahan support asam seperti oksida amorf (misal silica-alumina), kristal zeolit
(kebanyakan berbentuk Y zeolit ditambah alumina), atau campuran kristal zeolit dan oksida
amorf, dimana reaksi perekahan dan isomerisasi terjadi pada support asam tersebut.
Sedangkan fungsi hidrogenasi-dehidrogenasi terjadi melalui aktivitas logam, seperti logam
mulia (palladium, platinum) atau logam non-mulia (kobalt, nikel). Logam tersebut
mengkatalitik hidrogenasi pada bahan baku, membuatnya lebih reaktif untuk merekah,
penghilangan heteroatom, dan pengurangan kecepetan pengkerakan.

Katalis untuk hidrogenasi dapat dibagi menjadi beberapa grup, diantaranya:


a. Logam, seperti platinum, palladium, dan nikel, biasanya digunakan dalam bentuk
murni dan digunakan pada reaksi penjenuhan pada hidrokarbon tak jenuh dan
benzene. Logam ini digunakan pada proses dengan temperature rendah. Sebelum
digunakan harus dipastikan terbebas dari adanya racun katalis misalnya saja sulfur.
b. Logam oksidan dan sulfide atau dengan pencampuran dengan asam, misalnya
alumina-silikat, magnesium-silikat, alumina (asam) atau lumpur aktif. Biasanya
digunakan pada reaksi hydroisomerisasi dan perekahan hydrogen.
Aktivitas dari katalis logam bergantung pada properti elektroniknya. Kebanyakan
terdiri dari elemen golongan VI dan VIII pada tabel periodik. Untuk beberapa kasus

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

digunakan logam dalam bentuk oksida atau sulfide dalam keadaan bebas tanpa
penyangga dengan adanya sifat asam, contohnya tungsten disulfide (B.K. Sharma,
1999).
Beberapa faktor dapat mempengaruhi operasi (kualitas produk), hasil (kuantitas
produk), dan biaya dari segi ekonomis proses secara keseluruhan. Beberapa faktornya
diantaranya:
1) Konfigurasi proses: satu stage (once through recycle) atau two stage.
a.

Proses satu stage, dapat digunakan untuk bahan baku yang melalui proses
dengan atau tanpa recycle. Konversinya dapat mencapai 40-80%. Jika
diinginkan konversi yang tinggi, maka produk dari bagian bawah tower distilasi
direcycle kembali ke dalam reaktor untuk konversi yang sempurna. Baik untuk
digunakan pada produksi diesel dengan menggunakan katalis amorf.

Gambar 6. Hydrocracking satu stage dengan atau tanpa recycle


(Sumber: Fahim, et al., 2010)

b.

Proses dua stage, dimana keluaran dari reaktor stage pertama akan masuk ke
separator dan fraksinator. Keluaran pada bagian bawah fraksinator akan masuk
ke reaktor kedua. Hidrogen akan dipisahkan dalam separator bertekanan tinggi
dan direcycle kembali ke reaktor. Katalis hydrocracking pada stage pertama
mempunyai rasio hidrogenasi/keasaman yang tinggi, disebabkan penghilangan

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

sulfur dan nitrogen. Pada reaktor kedua, katalis digunakan pada rasio
hidrogenasi/keasaman yang rendah dimana produksi naphta dimaksimalkan.

Gambar 7. Hydrocracking dua stage


(Sumber: Fahim, et al., 2010)
2) Tipe katalis
3) Kondisi operasi (bergantung pada objek prosesnya(, seperti:
a.

Tingkat konversi

b.

Maksimisasi produk yang diinginkan

c.

Kualitas produk

d.

Siklus katalis

e.

Tekanan parsial hydrogen

f.

Space velocity liquid per jam

g.

Rasio recycle feed/hydrogen

Pada tabel dibawah ini akan diperlihatkan beberapa reaksi yang sering terjadi selama
pelaksanaan proses hydrotreating, hydrocracking, ataupun saat keduanya dilakukan.
Berikut tabelnya:
Tabel 6. Beberapa tipikal proses hidro

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

(Sumber: Scherzer and Guria, 1996)

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014

DAFTAR PUSTAKA

B.K. Sharma. 1999. .Industrial Chemistry, (including Chemical Engineering. Meerut: GOEL
Publishing House.
Fahim, Mohamed, A., Taher. A. Al-Sahhaf, and Amal Alkilani. 2010. Fundamentals of
Petroleum Refining. UK: Elsevier.
Heinrich, G., and Kasztelan, S. 2001. Hydrotreating chapter 16 in Conversion Processes
Petroleum Refining vol. 3. Francis: Leprince ed. TECHNIP.
Jones, David S.J and Pujado, Peter R. 2006. Handbook of Petroleum Processing. Netherlands:
Springer.
Scherzer, Julius and A.J. Guria. 1996. Hydorcracking Science and Technology. New York:
Marcel Dekker, Inc.
Speight, J. G. 1999. The Chemistry and Technology of Petroleum 3rd editon. New York: Marcel
Dekker, Inc.

Teknologi Minyak dan Gas Hidrokonversi (Teknik Kimia FT UB)2014