Anda di halaman 1dari 7

Bekal Abadi Ke Akhirat

Diposkan oleh Admin BeDa pada Kamis, 06 Oktober 2011 |


19.00 WIB

Khutbah Jumat: Bekal Abadi ke Akhirat Di pekan kedua bulan Dzulqa'dah 1432 H ini
Bersama Dakwah mengetengahkan Khutbah Jum'at bertema Bekal Abadi Ke Akhirat.
Semoga Khutbah Jum'at edisi 9 Dzulqa'dah 1432 H yang bertepatan dengan 7 Oktober 2011
berjudul
"Bekal
Abadi
Ke
Akhirat"
ini
bermanfaat.
***
KHUTBAH PERTAMA

.
.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Waktu mengalir begitu cepat. Menit demi menit yang tak terasa, jam demi jam yang seperti
berkejaran, lalu bergantilah hari demi hari, hingga kini kita berada di hari Jum'at. Maka patutlah
kita bersyukur kepada Allah SWT, Rabb yang telah menganugerahkan semua nikmat. Nikmat
Iman, Islam, dan juga fisik yang sehat yang dengannya kita mampu menghadiri shalat Jum'at.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Jum'at adalah hari yang agung. Dalam terminologi hadits, Jum'at disebut sebagai Sayyidul
Ayyam: rajanya hari. Hari Jum'at adalah hari terbaik, di mana pada hari itu Adam diciptakan,
dimasukkan surga serta dikeluarkan darinya. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari
Jum'at. Dalam riwayat yang lain kita mengetahui bahwa keistimewaan hari Jum'at adalah karena
banyaknya keutamaan pada hari itu. Diantaranya adalah waktu yang mustajabah, diantaranya
ketika khatib duduk diantara dua khutbah, diampuninya dosa dengan shalat Jum'at, dan juga
keutamaan membaca surat Al-Kahfi pada hari ini.

Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at, memancarlah cahaya baginya antara
dua
Jum'at
(HR.
Baihaqi,
dihasankan
Al-Albani)
Ketika Al-Qur'an atau hadits menyebutkan hari, maka yang dimaksudkan adalah hari menurut
perhitungan qamariyah atau kalender hijriyah. Yaitu dimulai matahari terbenam, hingga matahari
terbenam esok harinya. Atau dari Maghrib ke Maghrib. Bukan dari tengah malam seperti dalam
kalender
masehi.
Maka membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum'at berarti waktunya terbentang antara Maghrib
pada Kamis malam Jum'at hingga Jum'at sore sesaat sebelum Maghrib. Artinya, bagi kita yang
belum sempat membacanya, masih ada kesempatan untuk hari ini hingga sore nanti.
Jamaah
Jumat
yang
dirahmati
Allah,
Dalam surat Al-Kahfi tersebut, ada sebuah ayat yang menunjukkan perbekalan abadi menuju
akhirat, sekaligus mengingatkan kita dari ketertipuan dunia. Dalam kesempatan yang mulia ini,

marilah kita mentadabburinya bersama, dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita kepada
Allah SWT.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi
saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS.
Al-Kahfi
:
46)
Ayat 46 dari surat Al-Kahfi ini menunjukkan kepada kita, mengingatkan bahwa sesungguhnya
harta dan anak adalah perhiasan dunia. Keduanya bukan segala-galanya. Namun betapa banyak
orang yang tertipu oleh harta. Merasa bahwa harta adalah hal yang paling berharga, yang mampu
menjamin masa depan dan kemuliaan. Hingga banyak orang yang terjerumus dalam dosa karena
memburu harta dengan cara yang haram. Atau tertipu dengan harta yang telah diperolehnya
hingga ia tak lagi mempedulikan Allah yang Maha Pemberi rezeki. Syukur tidak ada, justru
kufur yang dipelihara. Maka Al-Qur'an pun menunjukkan kesudahan orang-orang seperti Qarun,
yang takabur dengan hartanya. Kekayaannya yang sangat besar, hingga kunci istananya tak
mampu dipikul unta justru membuat ia celaka. Qarun beserta hartanya akhirnya ditelan bumi.
Barangkali dari sinilah, orang-orang ketika menemukan harta dari dalam tanah menyebutnya
sebagai
harta
karun.
Demikian pula dengan anak. Mereka adalah perhiasan dunia. Seperti harta, di satu sisi ia bisa
berbuah surga jika dicari dengan cara halal, disyukuri, ditunaikan kewajiban zakat dan dipakai
memperjuangkan agama Allah. Anak merupakan potensi besar bagi manusia untuk mendapatkan
pahala. Mulai dari pahala mendidik, memberi nafkah, hingga potensi amal jariyah yang
pahalanya takkan terputus kematian kita ketika ia menjadi anak shalih dan mendoakan kita
sebagai
buah
pendidikan
islami
yang
dterimanya.
Namun di sisi lain, sebagai "ziinah" (perhiasan), anak juga bisa mencelakakan. Itulah saat di
mana anak hanya dibangga-banggakan sebagai penerus keturunan, tanpa disertai pendidikan
Islam hingga kemudian ia menjadi anak durhaka atau malah orangtua yang terseret ke dalam
kecelakaan karena anaknya. Misalnya jika demi anak kemudian orangtua menempuh jalan haram
dalam memenuhi keinginannya. Atau membanggakan anak laki-laki hingga seakan-akan menjadi
harapan
tertinggi
dalam
kehidupan.
Pada periode Makkiyah ada seorang bernama 'Uqbah bin Abi Mu'aith yang memusuhi
Rasulullah. Ia menyebut Rasulullah sebagai "abtar" (orang yang terputus) karena semua anak
laki-laki Rasulullah wafat di saat kecil. Namun ternyata, sampai hari ini nama Muhammad terus
dikumandangkan tanpa putus meskipun semua putra beliau wafat di waktu kecil. Justru Uqbah
lah yang menjadi "abtar" (terputus), baik dari rahmat maupun dari kenangan sejarah.

Dalam ayat yang lain disebutkan bahwa anak takkan bermanfaat kecuali bagi orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih.

(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang
menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)
Maka harta dan anak, pada awalnya ia adalah netral. Bisa menjadi sarana ke surga, namun juga
bisa
menyeret
ke
neraka
ketika
kita
tidak
pandai
mengelolanya.
Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Penggalan kedua ayat 46 dari surat Al-Kahfi itulah yang sangat menarik. Bahwa jauh di atas
perhatian kita kepada perhiasan dunia berupa harta dan anak-anak, menyibukkan diri dengannya,
atau khawatir terhadap keturunan kita, semestinya kita mengutamakan Al-Baqiyatus Shalihah.

tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta
lebih
baik
untuk
menjadi
harapan.
(QS.
Al-Kahfi
:
46)
Apa itu Al-Baqiyatus Shalihah? Secara bahasa artinya adaah amal-amal yang kekal lagi baik,
mengekalkan pelakunya berada dalam surga. Amal apa yang dimaksud? Ustman bin Affan dan
sahabat lainnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Al-Baqiyatus Shalihah adalah lima
kalimat dzikir:

,
Maha
Segala
Tiada
Allah
Tiada

suci
puji
Ilah
daya

dan

bagi
kecuali
Maha
kekuatan

kecuali

dari

Allah,
Allah
Allah
Besar
Allah

Maka berzikir kepada Allah dengan memperbanyak membaca lima kalimat di atas, merupakan
amal yang akan mengekalkan pelakunya di dalam surga hingga pantas menjadi harapan.

Jama'ah
Jum'at
yang
dirahmati
Allah,
Sa'id bin Jubair mengungkapkan penjelasan lain mengenai Al-Baqiyatus Shalihah. Bahwa AlBaqiyatus Shalihah itu tidak lain adalah shalat lima waktu. Maka mereka yang menjaga dan
mendirikan shalat lima waktu, dengan berjamaah, niscaya menjadi amal yang akan
mengekalkannya
di
dalam
surga
yang
abadi.
Ibnu Abbas juga menyampaikan bahwa Al-Baqiyatus Shalihah adalah ucapan yang baik. Entah
itu zikir maupun dakwa. Entah itu mengajak kepada yang baik atau mencegah dari yang salah.
Sedangkan pendapat yang lebih umum yang kemudian dipilih Ibnu Jarir adalah yang mengatakan
bahwa Al-Baqiyatus Shalihah adalah amal shalih secara umum. Ia meliputi ibadah mahdhah
seperti shalat lima waktu, bisa berbentuk amal lisan seperti zikir khususnya lima kalimat di atas,
bisa pula ucapan yang baik, dakwah dan segala amal yang bisa dikategorikan ibadah; baik khas
maupun
ammah.
Maka hendaklah kita, seiring dengan nasehat khatib di setiap Jum'at untuk meningkatkan taqwa,
kita berupaya memperbanyak amal kesalihan, meningkatkan keimanan, mempertebal keyakinan,
menebar manfaat bagi sesama, berinvestasi sebanyak-banyaknya Al-Baqiyatus Shalihah.

KHUTBAH KEDUA

.
.

.
.