Anda di halaman 1dari 7

Menjaga Batas-Batas Allah

Posted on April 8, 2014 by admin

Khutbah Pertama:

.
Kaum Muslimin rahimakumullah,
Khatib mewasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian agar senantiasa bertakwa
kepada Allah Taala, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Bertakwa
dengan cara menaati-Nya bukan berbuatk maksiat kepada-Nya, mensyukuri nikmat-Nya bukan
malah mengkufurinya, dan selalu mengingat-Nya bukan melupakan-Nya.
Segala puji bagi-Nya Rabb semesta alam, yang telah mengaruniakan berbagai kenikmatan yang
tak terhingga. Shalawat dan salam bagi penghulu para rasul, kekasih dan penyejuk hati kita,
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, serta
pengikutnya hingga akhir zaman.
Kaum muslimin rahimakumullah
Sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda (berpesan) kepada
seorang anak muda, yang mana dia adalah anak pamannya. Dia-lah Abdullah ibn Abbas
radiyallahu anhu. Apakah gerangan sabda yang dipesankan kepada anak muda yang mulia ini?.
Marilah kita simak langsung dari penuturan Abdullah ibn Abbas radiyallahu anhu, beliau
berkata;
:

Pada suatu hari, aku berada di belakang Rasulillah sallallahu alaihi wa sallam, kemudian
beliau bersabda kepadaku; wahai anak muda, sesungguhnya aku mengajarimu (aku berpesan
kepadamu) beberapa kalimat, jagalah Allah niscaya Allah menjagamu, jagalah Allah niscaya
engkau mendapatiNya ada di hadapanmu, apabila kamu meminta maka mintalah hanya kepada
Allah, apabila kamu mohon pertolongan maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allah, dan
ketahuilah bahwa sekiranya suatu kaum berkumpul untuk mendatangkan kemanfaatan bagimu
(mendatangkan kebaikan untukmu), maka mereka tidak akan dapat melakukan hal itu melainkan
hanya sedikit saja sekedar apa yang telah Allah tentukan untukmu, dan kalau sekiranya mereka
hendak mendatangkan bahaya kepadamu (mendatangkankan kemadhorotan atasmu), maka
mereka tidak akan dapat melakukan hal itu melainkan sedikit saja sekedar apa yang telah Allah
tentukan atasmu. Pena telah terangkat, dan lembar-lembar takdir telah mengering (segalanya
telah ditetapkan sebagai ketetapan yang pasti). (HR. at Tirmidzi, dishohihkan oleh Syaikh al
Albani)
Kaum muslimin rahimakumullah
Dari hadits ini, khatib hanya akan menjelaskan kalimat yang pertama, yaitu Jagalah Allah
niscaya Allah menjagamu!.
Lalu apakah yang dimaksud dengan menjaga Allah Subhanahu Wa Taala?.
Imam Abdurrahman ibn Abi Bakr Jalaludin as Suyuthi rahimahullah dalam kitabnya Qutul
Mughtadzi berkata, Imam al Kahfani rahimahullah berkata,
Menjaga Allah, maksudnya adalah kamu menjaga perintah Allah Subhanahu Wa Taala dan
kamu bertakwa kepadaNya. Maka jangan sampai Allah melihatmu berbuat kemaksiatan atau
berbuat pelanggaran terhadap perintahNya.
Dan Imam Ibn Daqiq al Id rahimahullah berkata,
Memjaga Allah maksudnya adalah, jadilah kamu orang yang selalu taat kepada Allah
Subhanahu Wa Taala, berteguh dalam menjalankan perintahNya dan dalam menjauhi
laranganNya.
Kaum muslimin rahimakumullah
Dan merupakan perbuatan seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah
dengan menjaga anggota badannya agar tidak digunakan untuk hal kemaksiatan atau perbuatan
dosa. Maka hendaknya setiap kita memperhatikan dan merenungkan siapa sebenarnya di balik
rupa kita ini. Siapa sebenarnya di balik anggota badan kita ini?
Kaum muslimin rahimakumullah
Ada 5 anggota badan dari diri kita ini yang perlu direnungkan bersama oleh kita. Sudahkah kita
menjaga ke 5 anggota badan ini untuk tidak bermaksiat kepada Allah Subhanahu Wa Taala?

1. Menjaga Hati.
Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah dia yang menjaga
hatinya dari perkara-perkara syubhat yang dapat mengkeruhkan keyakinannya, dan adalah dia
yang dapat menjaga hatinya dari perkara-perkara syahwat yang dapat menyesatkan dan
menyengsarakannya.
Hati memiliki kedudukan yang penting bagi hidup setiap manusia. Apabila hati telah hilang,
maka hilanglah segala hidupnya. Apabila hati telah rusak, maka rusaklah segala perilaku
hidupnya.
:
Ketahuilah, sesungguhnya di dalam badan/tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik,
maka baiklah seluruh badan. Namun apabila ia rusak, maka rusak pula seluruh badan.
Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka hendaknya setiap kita selalu menjaga hati dan menatanya agar tetap dalam kondisi yang
baik dan bersih dari noda-noda hitam dosa. Setiap manusia akan merugi pada hari kiamat,
kecuali dia yang datang dalam keadaan hatinya bersih lagi sejahtera. Tidak ada syahwat, tidak
ada syubhat di dalam hatinya. Tidak ada sesuatu pun di dalam hatinya kecuali kalimat Laa ilaaha
illallaah Muhammad rasulullaah.
)

88) )

89) [

: 88 89]

(Pada hari kiamat) hari yang mana harta benda dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali dia
yang datang dengan hati yang sejahtera (hati yang selamat dan bersih dari dosa). (QS. Asy
Syuara : 88-89)
Dialah hati yang tidak ada kesyirikan di dalamnya, tidak ada riya, tidak ada kemunafikan, tidak
ada kesombongan, tidak ada kebanggaan diri, tidak ada dendam, tidak ada dengki. Hatinya murni
penuh dengan tauhid Allah Subhanahu Wa Taala. Penuh dengan keikhlasan dan kejujuran.
Penuh dengan ketawakkalan dan penyandaran diri yang tulus hanya kepada Allah Subhanahu Wa
Taala. Sebagaimana hati kholilullah Ibrahim alaihissalam.
:

84]

(ingatlah) ketika dia Ibrahim datang kepada Rabbnya dengan hati yang bersih (ikhlas
sepenuhnya hanya untuk Allah). (QS. Ash Shoffat : 84)
Kaum muslimin rahimakumullah
2. Menjaga Lisan
Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah dia yang menjaga
lisannya. Lisan memiliki perkara yang sangat mengagumkan. Berapa banyakkah kehormatan

orang yang hancur disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah harga diri yang menjadi rendah
disebabkan oleh lisan? Berapa banyakkah rumah tangga yang runtuh disebabkan oleh lisan? Dan
berapa banyakkah kemaksiatan yang keluar dari lisan, namun kita tidak pernah menyadarinya?
Ghibah (menggunjing orang lain), namimah (mengadu domba), mengejek, menghina, berdusta,
menipu, atau saling berdebat untuk sesuatu yang tidak berguna, tidak ada manfaatnya sama
sekali.


Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu kalimat, ia menganggapnya biasa. Tapi ternyata
kalimat tersebut menjadikannya terlempar ke dalam api neraka sejauh 70 tahun perjalanan. (HR.
Ahmad, dishohihkan oleh Syaikh al Albani)

Sesungguhnya seseorang berkata dengan satu kalimat yang tidak ada kejelasan di dalamnya (dia
mengucapkannya tanpa ilmu). Maka oleh sebab kalimat itu, dia tergelinicir ke dalam api
jahannam sejauh jarak antara timur dan barat. (HR. Bukhari-Muslim)
Maka hendaknya setiap kita menjaga lisan ini, agar tidak keluar darinya kecuali sesuatu yang
mendatangkan ridho Allah Subhanahu Wa Taala, atau sesuatu yang menggembirakan hati orang
yang mendengarnya. Abu Bakar ash Shiddiq radiyallahu anhuu berkata,

Demi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih berhak untuk terus dijaga sepanjang waktu daripada
lisan ini.
Rosululloh shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baikbaik, (kalau tidak bisa) maka lebih baik ia diam saja. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Nabi sallallahu alaihi wa sallam juga bersabda,

Barangsiapa memberi jaminan kepadaku, apa yang ada diantara kumis dan jenggotnya (yaitu
lisan), dan apa yang ada diantara kedua kakinya (yaitu kemaluan), maka aku menjamin baginya
Surga. (HR. Bukhari)
Kaum muslimin rahimakumullah
3. Menjaga Pendengaran (Telinga)

Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah dia yang menjaga
pendengarannya. Seorang muslim, seorang mumin tidak pantas baginya mendengarkan sesuatu
yang diharamkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala. Tidak mendengarkan perkataan kotor. Tidak
mendengarkan musik-musik. Tidak mendengarkan siulan-siulan. Dan tidak mendengarkan
perkataan yang sia-sia.

(Dan termasuk hamba Allah Yang Maha Penyayang adalah), orang-orang yang tidak
memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan orang yang melakukan
perbuatan/perkataan yang sia-sia, maka dia berlalu dengan tetap menjaga kehormatan dirinya.
(QS. Al Furqon : 72)
Maka jagalah telinga kita, jagalah pendengaran kita. Sungguh ayat-ayat Al Quran adalah lebih
berhak untuk kita dengarkan, nasihat-nasihat atau ceramah yang baik adalah lebih layak untuk
kita dengarkan, atau berita-berita tentang kabar kaum muslimin, tentang keadaan kaum
muslimin, sungguh semua itu lebih pantas untuk kita dengarkan.

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati. Semua itu akan dimintai pertanggung
jawabannya. (QS. Al Isra : 36)
Kaum muslimin rahimakumullah
4. Menjaga Penglihatan (Mata)
Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah dia yang menjaga
penglihatannya. Sesungguhnya mata, apabila ia digunakan untuk melihat atau memandang
sesuatu yang haram, maka sesungguhnya dia adalah panah beracun iblis yang dapat merusak hati
dan mengoyak keimanan yang ada di dalamnya. Namun apabila ia dijaga untuk tidak melihat
atau memandang hal-hal yang diharamkan, maka Allah akan memberi ganti keimanan untuk kita
yang kita rasakan manisnya di dalam dada.

Katakanlah kepada kaum muminin (orang-orang yang beriman), agar mereka menjaga
pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka. Karena yang demikian itu lebih baik bagi
mereka (lebih mensucikan jiwa mereka). Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang
mereka perbuat. (QS. An Nur : 30)
Maka hendaknya setiap kita memalingkan pandangan, mengarahkan penglihatan kita kepada
kekuasaan Allah Subhanahu Wa Taala yang ada di muka bumi ini, agar kita dapat merenungi
akan betapa maha agungnya penciptaan langit dan bumi.

Katakanlah, perhatikanlah (lihatlah, pandanglah) apa yang ada di langit dan di bumi. (QS.
Yunus : 101)

Maka tidakkah mereka memperhatikan (tidakkah mereka melihat) kepada unta, bagaimana ia
diciptakan?, (dan tidakkah mereka melihat) kepada langit, bagaimana ia ditinggikan, (dan
tidakkah mereka melihat) kepada gunung, bagaimana ia ditegakkan, (dan tidakkah mereka
melihat) kepada bumi, bagaimana ia dihamparkan?. (QS. Al Ghosyiyah : 17-20)
Kaum muslimin rahimakumullah
5. Menjaga Perut
Termasuk seorang hamba yang menjaga Allah Subhanahu Wa Taala adalah dia yang menjaga
perutnya. Seorang muslim menjaga perutnya dari makanan yang haram. Dia tidak makan kecuali
dari apa yang telah dibolehkan, dari apa yang telah dihalalkan untuknya. Dia menjauhi unsurunsur penghasilan yang datang dari riba, penipuan, atau jual beli yang curang, sehingga tidak ada
keberkahannya sama sekali pada harta tersebut. Justru yang ada adalah kecelakaan dan
kesengsaraan. Seorang muslim makanannya adalah makan yang baik dan bersumber dari
penghasilan yang baik. Karena Allah Subhanahu Wa Taala tidaklah menerima kecuali apa-apa
yang baik. Dan tidak menerima doa kecuali dari orang-orang yang baik.
:
:

]{

51]

]{

172]

Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali apa-apa yang baik.
Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mumin dengan apa yang telah diperintahkan
kepada para rasul. Allah berfirman, wahai para rasul, makanlah kalian dari apa yang baik-baik,
dan beramal sholihlah, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuat. Dan Allah
berfirman, wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik, yang telah
Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian Rasulullah menggambarkan tentang seseorang yang
melakukan perjalanan jauh, nampak bekas perjalanan tersebut di sekujur tubuhnya, penuh debu,
dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berseru ya rabb ya rabb, sedangkan
makanannya adalah haram, minumannya adalah haram, dan pakaiannya adalah haram, dia
tumbuh dari sesuatu yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dijawab?. (HR.
Muslim)


Khutbah Kedua:

.
.
Kaum muslimin rahimakumullah
Dalam khutbah yang kedua ini, khatib mengajak jamaah sekalian untuk bersama merenung.
Setiap hari tentu kita menyempatkan diri untuk bercermin. Bahkan hampir di setiap waktu kita
menyempatkan diri untuk bercermin. Kira-kira untuk apakah kita bercermin?. Tidak lain
adalah untuk melihat penampilan kita. Setiap kita ingin tampil dengan fisik yang sempurna,
dengan fisik yang baik, sehingga sedap dipandang oleh banyak orang.
Namun jamaah sekalian yang dirahmati Allah, pernahkah kita melihat sesuatu yang lain dari diri
kita di dalam cermin. Sunggguh kebanyakan kita telah tertipu dengan apa yang dilihat di dalam
cermin. Kita hanya sekedar melihat fisik, tapi tidak melihat apa yang ada dibalik fisik kita. Untuk
apakah kita gunakan setiap anggota fisik kita ini, untuk apakah kita gunakan setiap anggota
badan kita ini?. Untuk ketaatan kepada Allah, ataukah justru untuk kemaksiatan dan perbuatan
dosa. Sudahkah kita menjaganya, ataukah justru kita menelantarkannya terbuang ke dalam
lumpur kehinaan. Memang terkadang fisik itu tampak bagus, tapi apalah artinya jika isinya
adalah keropos dan kosong. Seperti batang pohon yang terlihat kuat, tapi ternyata dalamnya
termakan rayap.
Maka kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Taala, jagalah Allah dengan
menjaga anggota tubuh kita agar tetap dan terus dalam ketaatan dan ketakwaan kepadaNya, serta
jauh dari segala kemaksiatan dan perbuatan dosa. Sehingga dengan begitu, Allah akan menjaga
kita. Dan sehingga ketika kita melihat diri kita di dalam cermin, kita dapat tersenyum. Karena
kita melihat calon penghuni Surga. Insya Allah. Aamiin.

.
.