Anda di halaman 1dari 5

Kerugian Hakiki

Posted on December 18, 2013 by admin

Khutbah Pertama:

.
Melalui khutbah ini, kami berwasiat kepada diri kami dan seluruh kaum muslimin, hendaklah
kita senantiasa menjaga dan berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah sambil terus
berdoa agar diberi keistiqamahan dan diwafatkan dalam keadaan Islam.
Kaum muslimin rahimakumullah
Semua orang pasti ingin selalu bahagia dan tidak pernah menginginkan kesengsaraan walau
sejenak. Semua orang ingin senantiasa beruntung dan berusaha maksimal menghindari kerugian,
namun apa hendak dikata, fakta berbicara lain. Tidak semua yang diinginkan manusia di dunia
terwujud, terkadang apa yang justru dihindari menjadi fakta yang harus diterima, meski terasa
pahit. Kerugian terus mendera. Kenyataan pahit ini disikapi dengan sikap yang berbeda-beda,
mulai dari sikap ekstrim sampai yang biasa-biasa saja. Terkadang sikap itu justru mendatangkan
kerugian atau penderitaan baru, seperti bunuh diri naudzu billah-, merusak harta-benda,
mencederai diri sendiri atau mencederai orang lain. Tapi ada juga yang menyikapi dengan santai,
tenang dan penuh kesabaran. Dia menyadari bahwa kerugian yang dialami di dunia ini bukanlah
kerugian hakiki, bukan kerugian yang akan mendatangkan penderitaan abadi; itu bukanlah
kerugian yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Taala dalam fiman-Nya:

Katakanlah, Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri
mereka sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat. Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian
yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15)
Kaum muslimin rahimakumullah
Karugian yang disebutkan dalam ayat di atas itulah kerugian yang hakiki, yang akan
menyebabkan penyesalan yang kekal. Kerugian pada Hari Kiamat; kerugian di saat kebaikan dan
keburukan manusia ditimbang dengan timbangan teradil yang tidak mengandung kecurangan
sama sekali. Semoga Allah Subhanahu wa Taala menyelamatkan kita semua dari kerugian
tersebut.
Kerugian pada Hari Kiamat merupakan akibat dari perbuatan kita selama hidup di dunia. Jika
kesempatan hidup ini bisa kita manfaatkan dengan baik dan maksimal, sebagaimana seorang
pebisnis memanfaatkan modal usahanya yang sangat terbatas untuk meraih keuntungan
sebanyak-banyaknya, maka insya Allah kita akan terselamatkan dari kerugian tersebut.
Kaum muslimin rahimakumullah
Kerugian terburuk yang menimpa seseorang adalah kerugian yang menimpa agamanya, karena
kerugian ini akan menyebabkan penderitaan abadi di akhirat. Kerugian yang menimpa agama
seseorang merupakan musibah terparah bagi seseorang. Oleh karena itu, diantara doa Nabi
shallallahu alaihi wa sallam adalah

Janganlah Engkau menjadikan musibah pada agama kami


Apalagi jika musibah pada agama ini sampai menyeretnya ke lembah kemurtadan
naudzubillahKaum muslimin rahimakumullah
Diantara ciri orang yang menderita kerugian dengan kerugian hakiki adalah ia melalaikan
kesempatan beramal shaleh dalam kehidupannya. Dia membiarkan kesempatan itu lewat begitu
saja, sehingga akhirnya saat kematian tiba, amal kebaikan yang pernah dilakukannya masih
sedikit, sementara keburukannya menggunung. Padahal Allah Subhanahu wa Taala telah
berfirman:

Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan
kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan
kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri disebabkan mereka selalu
mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al-Araf: 8-9)

Kaum muslimin rahimakumullah


Tanda-tanda orang merugi lainnya adalah sering mengingkari janji, membuat kerusakan di muka
bumi dengan menyebarkan syubhat dan membangkitkan nafsu syahwat. Orang yang tunduk dan
taat kepada orang-orang kafir serta memberikan loyalitas kepada mereka, juga diantara ciri orang
yang rugi. Alquran dengan tegas telah mengingatkan perbuatan yang menyebabkan akibat buruk
ini. Karena orang-orang kafir itu akan berusaha membuat kita seperti mereka. Allah Subhanahu
wa Taala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya
mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadikanlah kamu orang-orang
yang rugi. (QS. Ali Imran: 149)
Kaum muslimin rahimakumullah
Termasuk orang-orang yang merugi pada Hari Kiamat adalah orang yang hanya beribadah
kepada Allah Subhanahu wa Taala di saat dia mendapatkan anugerah kebaikan, di saat
hidupnya nyaman, enak dan makmur atau dia beribadah kepada Allah Subhanahu wa Taala
disaat apa yang dilakukan itu bisa mendatangkan keuntungan atau kebaikan duniawi. Allah
Subhanahu wa Taala berfirman,

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika
memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana,
berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian
yang nyata. (QS. Al-Hajj: 11)
Termasuk merugi juga yaitu orang yang dilalaikan oleh harta dan keluarga sehingga tidak bisa
beribadah kepada Allah.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Alquran yang menyebutkan kata merugi dan hal-hal yang
menyebabkan kerugian. Ini semua dalam rangka mengingatkan manusia agar tidak tertimpa
kerugian yang mengakibatkan penderitaan yang tidak terperikan akibatnya dalam kehidupan
akhirat.
Akhirnya, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Taala agar menjaga dan menyelamatkan
kita dari kerugian-kerugian tersebut.

Khutbah Kedua:

.
Kaum muslimin rahimakumullah
Setelah mendengarkan pemaparan pada khutbah pertama, tentu kita terus bertanya-tanya;
Bagaimanakah cara kita menghindari kerugian tersebut? Manakah usaha yang bisa
mendatangkan keuntungan hakiki?
Jawabannya telah dijelaskan dalam Alquran dengan penjelasan gamblang dalam Alquran surat
al-Aahr.
Dalam ayat lain dijelaskan rambu-rambu bisnis yang mendatangkan keuntungan serta dijamin
tidak akan tersentuh kerugian.. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:
.
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat
menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu
mengetahuinya. (QS. Ash-Shaff: 10-11)
Allah Subhanahu wa Taala juga berfirman:

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan
menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam
dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Fathir:
29)
Kaum muslimin rahimakumullah
Itulah jawabannya, itulah cara dan langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk menghidari
kerugian dan meraih keuntungan. Barangsiapa melalaikan dan mengabaikan cara yang diberikan
oleh Allah tersebut, kerugian pasti tidak akan terelakkan dan dia akan merasakan penyesalan
yang tiada tara. Semoga kita semau senantiasa berada dalam hidayah Allah Subhanahu wa
Taala dan senantiasa mendapatkan taufiq dari Allah untuk beramal sesuai dengan atauran Allah
Subhanahu wa Taala

.
.

Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 06/Thn XVII/Dzulqadah 1434 H/Oktober 2013 M

This entry was posted in Khutbah Jumat Pilihan and tagged dunia, fitnah harta, harta, Rugi.
Bookmark the permalink.

Post navigation
Kisah Kaum Aad
Bahaya Menggunjing

3 thoughts on Kerugian Hakiki

1.

Mu'az Mahmud Sanusi says:


January 28, 2014 at 2:50 am
Reply
Alhamdulillah, isi khutbahnya sangat memuazkan, singkat padat dan tepat sasaran.

2.

Pen Al Quran says:


February 1, 2014 at 5:00 am