Anda di halaman 1dari 11

Tanggal : 30 Oktober 2014

TUGAS III
MATA KULIAH TEKNOLOGI BIOPROSES
Dosen pengampu : Prof. Prof. Dr. Ir. Chandrawati Cahyani

Oleh :
Luqman Hakim Harahap

125061107111006/2012

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

A. MODE OPERASI
Proses fermentasi dapat berlangsung melalui beberapa sistem, yaitu: batch, fed-batch
dan kontinu. Pada jenis batch, digunakan sistem tertutup dimana tidak ada tambahan inokulasi,
selain pengatur pH dan udara untuk fermentasi aerobik. Pada akhir proses, produk yang
terbentuk akan dipanen, setelah itu fermentor akan dibersihkan (down time) sebelum digunakan
kembali. Industri yang menggunakan sistem ini antara lain minuman beralkohol, beberapa asam
amino, enzim dan asam organik.
Fermentor dengan sistem fed-batch memiliki mekanisme penambahan nutrisi ke dalam
media di dalamnya. Penambahan ini dapat secara kontinu, berkala atau sekali saja. Sistem ini
mampu memperpanjang fase pembentukan produk. Sistem jenis ini mampu mengatasi masalah
viskositas atau pembentukan substat yang toxic pada konsentrasi tinggi. Fed batch dengan
sistem regenerasi biomasa juga biasa digunakan pada fermentasi dan pengolahan limbah.
Kelebihan dari sistem batch adalah apabila terjadi kontaminasi, maka sumber
kontaminan dapat dengan mudah dihilangkan dan memulai kembali proses ini. Namun, sistem
ini memiliki banyak kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain: memiliki fase lag yang
panjang sehingga kurang efektif untuk pebentukan metabolit primer dan biomassa; perlunya
down-time setiap satu sehingga terdapat waktu dimana produktif; umur peralatan lebih rendah;
dan biaya lebih tinggi.
Sistem kontinu merupakan sistem terbuka dimana medium segar secara terus-menerus
ditambahkan dan kultur juga selalu dikeluarkan dengan laju yang sama. Sistem kontinu dapat
menjadi lebih produktif dari sistem batch, terutama dalam pembentukan biomassa dan metabolit
primer. Walaupun sistem ini membutuhkan modal awal yang besar serta pemrosesan limbah
terus menerus, namun, down time dan biaya operasi dapat diminimalkan.

B. STERILISASI
Pada fermentasi, kontaminasi dapat terjadi melalui udara maupun pada media atau
fermentor.
Udara. Sebagai pencegahan terjadinya kontaminasi, baik dari luar ke dalam maupun
sebaliknya, biasanya digunakan penyaring/filter udara pada kedua sisi aliran. Filter ini mampu
menjebak dan menampung kontaminan. Bahan yang dapat digunakan antara lain fiber,
polytertrafluoroethylene (PTFE) dan polyvinyl chloride (PVC). Incenerasi pada saluran udara
juga dapat dilakukan untuk membunuh mikroba pathogen.
Media atau wadah. Sterilisasi dapat dilakukan pada tempat terpisah (sebelum
dimasukkan ke fermentor) atau bersamaan di dalam fermentor. Pada sistem non-aseptic
Sterilisasi tetap dilakukan menggunakan sistem pemasakan maupun pasteurisasi agar
kontaminan tidak terlalu banyak. Apabila kontaminan terlalu banyak, dapat mengganggu
jalannya proses utama.
Cara sterilisasi alat yang umum dilakukan adalah dengan mengalirkan steam ke jaket
atau coil pemanasan. Waktu sterilisasi diatur agar mikroba dapat dihilangkan secara efisien.
Perusakan sel mikroba kontaminan pada tahap ini terjadi pada dua fase, yaitu saat pemanasan
(biasanya 100-1210C) hingga fase pendinginan (121-1000C). Seperti dapat dilihat pada profil
sterilisasi di Gambar 1. Apabila bahan yang digunakan sensitive pada panas, dapat digunakan
filter atau pemanasan suhu tinggi pada waktu yang singkat.

Gambar 1. Sterilisasi Fermentor

C. FERMENTASI DENGAN SUBSTAT SOLID


Jenis fermentasi menggunakan media dengan kadar air bebas yang sangat rendah.
Biasanya mikroorganisme yang digunakan memiliki Aw (water activity) sebesar 0,7. Media
yang dapat digunakan antara lain: serbuk kayu, jerami, butir gandum, dan jenis karbohidrat
lainnya. Substrat solid banyak digunakan untuk fermentasi makanan tradisional, seperti tempe
dan tahu.
Fermentasi pada media solid memiliki kelemahan, terutama pada sistem kontrolnya.
Properti seperti kelembapan, suhu dan kinetika pertumbuhan mikrona tidak dapat diatur secara
efisien. Namun, pada industri jamur, fermentasi padat tetap dapat diandalkan. Kelebihan dan
kekurangan dari sistem fermentasi solid dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kekurangan serta kelebihan fermentasi dengan substrat solid

Fermentasi dengan substrat solid, biasanya terdiri dari beberapa tahapan, yaitu :
1. Pretreatment substrat, baik menggunakan proses mekanis, kimiawi, maupun biologis;
2. Hidrolisis substrat polimer, contoh: protein dan polisakarida;
3. Penggunaan produk hasil hidrolisis; dan
4. Pemisahan dan pemurnian produk akhir.

Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi fermentasi substrat solid. Parameter ini
memengaruhi perkembangan mikroba yang dikembangbiakkan. Parameter tersebut antara lain:
1. Aktivitas air (Aw)
Hal ini memengaruhi perpindahan oksigen dan laju difusi. Apabila kadar air sedikit,
substrat semakin sulit digunakan dan perkembangan mikroba akan berkurang. Namun,
apabila kadarnya terlalu tinggi, porositas substrat akan berkurang, mengurangi laju
difusi oksigen, serta menyebabkan kontaminasi. Pengaturannya dapat menggunakan
humidifikasi atau penambahan air secara berkala.
2. Suhu
Parameter ini mempengaruhi kelembapan relative di dalam fermentor. Suhu dapat diatur
dengan aerasi dan pengadukan substrat.
3. Aerasi
Sebagian besar fermentasi substrat solid merupakan fermentasi aerob, namun,
kebutuhan tiap mikroba berbeda. Laju oksigen dipengaruhi oleh adanya ruang kosong
pada substrat dan kelembapan.
Bioreaktor yang digunakan dalam jenis fermentasi solid
Sebagian besar industri yang menggunakan jenis fermentasi ini menggunakan sistem
fermentasi batch. Prosesnya terdiri dari penyebaran substrat pada wadah yang sesuai. Apabila
dibutuhkan kondisi anaerobic, contoh pada produksi silage, pengadukan dan aerasi tidak
diperlukan. Jenis fermentor yang digunakan untuk fermentasi substrat solid antara lain:
1. Rotating Drum Fermentor. Merupakan wadah silinder dengan kapasitas mencapai 100
L yang tersambung pada roller yang menahan dan memutar wadah (Gambar 2).
Fermentor ini biasa digunakan pada produksi enzim dan biomassa. Kekurangan alat ini
adalah pengadukannya yang tidak merata serta kapasitas maksimalnya hanya 30% dari
volume wadah.

Gambar 2. Rotating Drum Fermentor

2. Tray fermentor. Jenis fermentor yang biasa digunakan untuk produksi makanan
tradisional. Substrat akan disebar pada setiap tray sedalam beberapa sentimeter, lalu
disimpan di ruangan khusus dengan sirkulasi udara lembap. Sistem ini memrlukan
ruangan yang cukup luas dan banyak tray. (Gambar 3)

Gambar 3. Tray Fermentor


3. Bed systems. Menggunakan substrat solid sedalam 1 meter sebagai sumber nutrisi
mikroba. Udara yang dihumidifikasi kemudian dialirkan secara kontinu dari bagian
bawah. (Gambar 4)

Gambar 4. Bed Systems

4. Column bioreactors. Terdiri dari kolum plastic atau kaca yang di dalamnya diberikan
packing media padat. Wadah ini dikelilingin oleh jaket untuk mengatur suhu di dalm
reaktor. Jenis sistem ini biasa digunakan untuk produksi asam organik, ethanol dan
biomassa.
5. Fluidized bed reactor. Menggunakan pengadukan kontinu untuk mencegah adesi dan
agregasi substrat akibat udara. Sistem ini biasa digunakan pada pembuatan pakan ternak.

Pengembangan Proses Fermentasi


Ketika mikroorganisme telah dipilih, tahap selanjutnya adalah melakukan penelitian
awal dalam wadah 1-10 L untuk mengamati formulasi media, metode feeding dan jenis
fermentasi yang sesuai. Selain itu hal ini dilakukan untuk mengamati kondisi operasi. Setelah
tahap ini selesai, selanjutnya dibuat skala pilot-plant (10-100 L) lalu akhirnya sampai pada tahap
produksi (>1000 L). Tahap ini dinamakan scale-up.
Selama scale-up, terkadang yield yang dihasilkan saat skala pilot-plant atau laboratrium
tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini diakibatkan oleh kondisi operasinya yang
berbeda. Beberapa hal utama yang harus diperhatikan saat scale-up antara lain:
1. Prosedur propagasi inoculum yang digunakan, serta kualitas dan kuantitas inoculum
yang dipakai untuk memulai fermentasi;
2. Pemilihan medium;
3. Sterilisasi skala industri dapat menyebabkan degradasi komponen yang sensitif pada
panas, yang memengaruhi kualitas medium;
4. Fermentor yang lebih besar memiliki kondisi pencampuran yang berbeda (pH,
temperatur, oksigen dan nutrisi lain) dari fermentor skala kecil; dan
5. Busa, gaya gesek, dan laju pembuangan karbon dioksida berbeda pada skala yang
berbeda.
Variasi dari satu atau lebih faktor ini dapat mengubah kondisi operasi dan
mempengaruhi yield. Perbedaan kondisi dan hasil ini dapat diatasi dengan menentukan
parameter kunci yang harus tetap dijaga. Beberapa parameter ini dapat digunakan: rasio
ketinggian dan diameter, tenaga yang digunakan per volume, koefisien transfer oksigen, level
oksigen terlarut atau kecepatan impeller.

D. DOWNSTREAM PROCESSING
Fermentasi skala industri, tidak hanya berurusan dengan proses upstream (USP), namun
juga proses downstream (DSP). USP terdiri dari tiga tahap yaitu 1) Penyediaan, pengembangan
serta pemeliharaan mikroorganisme yang sesuai dan efisien secara ekonomi; 2) Pemilihan dan
penyediaan media fermentasi, sumber karbon, energi atau nutrisi lainnya; dan 3) fermentasi,
yaitu tahap untuk mengembangbiakkan mikroba agar mendapatkan hasil yang diinginkan.
Downstream processing (DSP) meliputi proses yang dilakukan setelah fermentasi.
Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk meregenerasi kembali bahan yang dapat digunakan
kembali, meningkatkan yield, kemurnian, dan meminimalkan biaya.
Setiap tahap prosedur recovery bergantung pada fermentasi yang dilakukan. Hal-hal
yang berpengaruh antara lain sifat, morfologi, flokulasi, ukuran dan kekerasan mikroba yang
digunakan pada fermentasi. Beberapa faktor diatas berpengaruh pada kemampuan hasil
fermentasi untuk difilter, disedimentasi dan dihomogenasi. Pendekatan secara menyeluruh, baik
dari pemilihan media dan alat yang digunakan, diperlukan saat pengembangan sistem purifikasi
untuk meminimalkan biaya produksi.
DSP dapat dibagi menjadi beberapa unit proses yang menjadi satu kesatuan untuk
memurnikan produk. Beberapa proses yang dapat dipilih, antara lain seperti yang tertera pada
Gambar 5. Pada umumnya jumlah tahapan yang digunakan seminimal mungkin untuk
mengurangi kehilangangan yield akibat proses (Gambar 6) maupun untuk mengurangi cost.

Gambar 5. Jenis-jenis Unit Proses yang Digunakan dalam DPS.

Pemilihan proses bergantung pada beberapa hal, diantaranya: faktor ekonomi, hasil yang
ingin dicapai pada setiap tahap, kemurnian produk, dan faktor keselamatan. Agar produktivitas
proses semakin optimal dan waktu proses lebih singkat, sistem fermentasi dan DPS terintegrasi
biasa digunakan.

Gambar 6. Efek Purifikasi Multi-tahap pada Yield.

Sistem terintegrasi dapat dilakukan dengan membuat proses separasi di dalam fermentor
atau dengan menggabungkan keduanya secara langsung, atau disebut in situ. Salah satu proses
yang termasuk cara in situ adalah mengunakan ekstraksi, adsorpsi atau stripping. Metode ex
situ juga dapat dilakukan, yaitu dengan mengalirkan produk ke proses di peralatan yang lain
kemudian media dikembalikan lagi ke proses fermentasi.

DAFTAR PUSTAKA
Waites, Michael J., Morgan, Neil L., Rockey, John S., and Highton, Gary. 2001. Industrial
Microbiology : An Introduction. London : Blackwell Science Ltd.