Anda di halaman 1dari 10

1.

HIPERTENSI PADA KEHAMILAN

Hipertensi dalam kehamilan adalah adanya tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah kehamilan 20 minggu
pada wanita yang sebelumnya normotensif, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan atau tekanan diastolik
15 mmHg di atas nilai normal. Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah
140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal
terjadi. Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita preeklampsia, yang juga dapat disertai koma. Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang
bisa menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kehamilan, persalinan, dan masa nifas
yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Kasus pre-eklampsia dan eklampsia terjadi pada 6-8% wanita hamil di
Indonesia (Ben-zion, 1994).
Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang kerapkali muncul selama kehamilan dan dapat
menimbulkan komplikasi pada 2-3 % kehamilan. Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan
morbiditas/kesakitan pada ibu (termasuk kejang eklamsia, perdarahan otak, edema paru (cairan di dalam paru),
gagal ginjal akut, dan penggumpalan/pengentalan darah di dalam pembuluh darah) serta morbiditas pada janin
(termasuk pertumbuhan janin terhambat di dalam rahim, kematian janin di dalam rahim, solusio
plasenta/plasenta terlepas dari tempat
melekatnya di rahim, dan kelahiran prematur). Selain itu, hipertensi pada kehamilan juga masih merupakan
sumber utama penyebab kematian pada ibu (Prawihardjo,
2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) Berdasarkan data resmi Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2007, terus mengalami penurunan. Pada tahun 2004 yaitu 270 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2005 yaitu 262
per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 255 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2007 menjadi 228 per
100.000 kelahiran hidup. Menurut Profil Kesehatan Indonesia (2010), walaupun sudah terjadi penurunan
AKI di Indonesia, namun angka tersebut masih menempatkan Indonesia pada peringkat 12 dari 18 negara
ASEAN dan SEARO (South East Asia Region, yaitu: Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Maladewa,
Myanmar, Nepal, Timor Leste, dan lain-lain).
Negara- negara didunia memberikan perhatian cukup besar terhadap AKI sehingga menempatkan kesehatan ibu
diantara delapan tujuan yang tertuang dalam Millenium Development Goals (MDGs) yang harus dicapai
sebelum 2015, AKI di Indonesia harus mencapai 125 per 100.000 kelahiran hidup. Komitmen yang ditanda
tangani 189 negara pada September 2000, pada prinsipnya bertujuan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan
manusia (Yustina, 2007).
Angka Kematian Ibu di Provinsi Sumatera Utara dalam 4 tahun terakhir menunjukkan kecenderungan
penurunan, dari 320 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2006 menjadi 315 per 100.000 kelahiran hidup,
pada tahun 2007 menjadi 275 per 100.000 kelahiran hidup, pada tahun 2008 sebesar 260 per 100.000 kelahiran
hidup dan pada tahun 2009 sebesar 248 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Propsu, 2009).
Angka Kematian Ibu di Kabupaten Langkat pada tahun 2010 yaitu 238 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab
kematian ibu di Indonesia masih disebabkan oleh trias klasik (perdarahan, infeksi dan eklamsi), dan non medis
(status gizi, faktor ekonomi, sosial budaya).

Salah satu kasus dari komplikasi kehamilan sebagai penyumbang AKI di Indonesia adalah hipertensi dalam
kehamilan. Menurut Cunningham, dkk (1995) kehamilan dapat menyebabkan hipertensi pada wanita yang
sebelumnya dalam keadaan normal atau memperburuk hipertensi pada wanita yang sebelumnya telah menderita
hipertensi. Hipertensi sebagai penyulit dalam kehamilan sering ditemukan dan merupakan salah satu dari tiga
besar, selain pendarahan dan infeksi, yang terus menjadi penyebab utama sebagian besar kematian ibu di
Amerika serikat. Menurut Bobak (2004), hipertensi diperkirakan menjadi komplikasi sekitar 7% sampai 10%
seluruh kehamilan.
Lebih lanjut data kejadian hipertensi pada kehamilan juga diungkapkan oleh WHO yang dikutip oleh Khan dan
rekan dalam Boestari (1998) bahwa secara sistematis, 16% kematian ibu di negara-negara maju di seluruh dunia
disebabkan karena hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya yaitu perdarahan 13 %,
aborsi 8 %, dan sepsis 2 %. Di Amerika Serikat pada tahun 19911997, Berg dan rekan dalam Cuningham (1995) melaporkan bahwa hampir 16 % dari 3.201 kematian ibu berasal
dari komplikasi hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Dalam Profil Kesehatan Indonesia (2008) diketahui bahwa eklampsia (24%) adalah persentase tertinggi kedua
penyebab kematian ibu setelah perdarahan (28%). Kejang bisa terjadi pada pasien dengan tekanan darah tinggi
(hipertensi) yang tidak terkontrol saat persalinan. Hipertensi ini dapat terjadi karena kehamilan dan akan kembali
normal bila kehamilan sudah berakhir. Namun, ada juga yang tidak kembali normal setelah bayi lahir. Kondisi
ini akan menjadi lebih berat bila hipertensi sudah diderita ibu sebelum hamil.
Menurut Zweifel dalam Manuaba (2007) mengungkapkan bahwa cukup banyak teori tentang bagaimana
hipertensi pada kehamilan dapat terjadi sehingga disebut sebagai disease of theory. Beberapa landasan teori
yang dikemukakan yaitu teori genetik, teori immunologis, teori iskemia region uteroplasenter, teori kerusakan
endotel pembuluh darah, teori radikal bebas, teori trombosit dan teori diet. Ditinjau dari teori yang telah
disebutkan di atas, maka teori diet merupakan salah satu faktor risiko yang dapat dikendalikan dengan
melakukan upaya pencegahan oleh ibu hamil.
Faktor gizi yang sangat berhubungan dengan terjadinya hipertensi melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis
merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang. Konsumsi lemak
yang berlebih, kekurangan konsumsi zat gizi mikro (vitamin dan mineral) sering dihubungkan pula dengan
terjadinya ateroklerosis, antara vitamin C, vitamin E dan vitamin B6 yang meningkatkan kadar homosistein.
Tingginya konsumsi vitamin D merupakan faktor terjadinya asteroklerosis dimana terjadi deposit kalsium yang
menyebabkan rusaknya jaringan elastis sel dinding pembuluh darah (Kurniawan, 2002).
Berbagai faktor defesiensi gizi juga diperkirakan berperan sebagai penyebab eklampsia. Banyak saran yang
diberikan untuk menghindarkan hipertensi misalnya dengan menghindari konsumsi daging berlebihan, protein,
purine, lemak, hidangan siap saji (snack), dan produk-produk makanan instan lain. Hasil penelitian Sastrawinata,
dkk (2003) bahwa faktor gizi memiliki hubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil karena disebabkan
kekurangan kalsium, protein, kelebihan garam natrium, atau kekurangan asam lemak tak jenuh Poly
Unsaturated Fatty Acid (PUFA) dalam makanannya. John, dkk (2002) dalam Rozikhan, (2007) menemukan
bahwa diet buah dan sayur banyak mengandung aktivitas non-oksidan yang dapat menurunkan tekanan darah.
Zhang, dkk (2002) dalam Rozikhan, (2007) menemukan kejadian pre-eklampsia pada pasien dengan asupan
vitamin C harian kurang dari 85 mg dapat meningkat menjadi 2 kali lipat.

Menurut.Blum dalam Notoatmojo (2007) bahwa status kesehatan individu/masyarakat sangat dipengaruhi oleh
lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan herediter/keturunan. Berdasarkan teori tersebut dapat dikatakan
bahwa status kesehatan ibu hamil dapat dipengaruhi oleh perilaku ibu dalam memelihara/merawat kesehatan
selama hamil. Dalam program perawatan kehamilan (antenatal care) terdapat beberapa perilaku sehat yang
dianjurkan agar ibu hamil dan janin sehat selama kehamilan dan persalinan. Perilaku sehat tersebut antara lain
pemeriksaan kehamilan, kebiasaan makan, aktivitas fisik dan senam hamil. Kebiasaan makan ibu hamil sangat
mempengaruhi kondisi fisik ibu maupun janinnya. Gizi yang baik membantu ibu mengurangi terjadinya
kesulitan dalam kehamilan dan kelelahan yang biasanya akan menyebabkan ketegangan dan bertambahnya rasa
sakit pada proses persalinan.
Hal tersebut serupa dengan yang diungkapkan oleh Manuaba, (2004), bahwa salah satu hal yang perlu
diperhatikan pada saat melakukan antenatal care adalah gizi saat hamil yang dapat memperburuk kehamilan.
Untuk mengetahui keterkaitan antara faktor gizi ibu hamil dengan kejadian komplikasi kehamilan seperti
hipertensi pada kehamilan dapat dijelaskan oleh Sastrawinata, dkk (2003) bahwa faktor nutrisi memiliki
hubungan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil karena disebabkan kekurangan kalsium, protein, kelebihan
garam natrium, atau kekurangan asam lemak tak jenuh Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) dalam
makanannya.
Berdasarkan hasil penelitian Paramitasari (2005) dalam Rozikhan, (2007) tentang hubungan antara gaya hidup
selama masa kehamilan dan kejadian pre- eklampsia diketahui bahwa pola makan sebagai salah satu bentuk dari
gaya hidup yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian pre-eklampsia pada ibu hamil. Untuk itu, perlu
disarankan pada ibu hamil agar memastikan pola makannya
memenuhi kebutuhan gizi yang dianjurkan.
Faktor predisposisi lain yang berhubungan dengan kejadian pre-eklampsia diantaranya adalah primigravida,
obesitas, dan kenaikan berat badan yang berlebihan. Menurut Husaini (1992) kenaikan berat badan yang
dianggap baik untuk orang Indonesia ialah 9 kg. Kenaikan berat badan ibu tidak sama, tetapi pada umumnya
kenaikan berat badan tertinggi adalah pada umur kehamilan 1620 minggu, dan kenaikan yang paling
rendah pada 10 minggu pertama kehamilan. Kegemukan disamping menyebabkan kolesterol tinggi dalam
darah juga menyebabkan kerja jantung lebih berat, oleh karena jumlah darah yang berada dalam badan sekitar
15% dari berat badan, maka makin gemuk seorang makin banyak pula jumlah darah yang terdapat di dalam
tubuh yang berarti makin berat pula fungsi pemompaan jantung,sehingga dapat menyumbangkan terjadinya preeklampsia (Rozikhan, 2007).
Dalam penelitian Riestyawati (2004) menjelaskan tentang pengaruh jumlah kehamilan, pertambahan berat badan
dan tingkat kecukupan gizi (protein,kalsium) terhadap kejadiaan preklampsia pada kehamilan yaitu ada pengaruh
yang signifikan antara jumlah kehamilan dan pertambahan berat badan dengan kejadian pre- eklampsia. Dari uji
hubungan asosiasi diperoleh hasil bahwa jumlah kehamilan dan pertambahan berat badan merupakan faktor
risiko terhadap kejadian pre-eklampsia.
Salah satu penilaian status gizi secara langsung adalah antropometri (ukuran tubuh manusia). Ditinjau dari sudut
pandang gizi, antropometri gizi berhubungan erat dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan
komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Berat badan (BB) merupakan salah satu
ukuran yang sering digunakan untuk pengukuran antropometri (selain lingkar lengan atas/LILA, tinggi
badan/TB dan tebal lemak bawah kulit). Berat badan mengambarkan jumlah dari protein, lemak air dan

mineral pada tubuh dan menjadi parameter yang baik untuk melihat perubahan massa tubuh akibat perubahanperubahan konsumsi makanan dan perubahan kesehatan (Supariasa, 2001).
Hipertensi pada kehamilan bukanlah kondisi tunggal tapi meliputi:

Hipertensi yang telah ada sebelumnya (hipertensi kronis); apakah sebelum hamil atau terjadi sebelum 20
minggu kehamilan. Biasanya menetap lebih dari 42 hari setelah melahirkan. Apabila terdapat hipertensi yang
tidak terdiagnosa sebelum kehamilan biasanya tekanan darahnya normal pada awal kehamilan karena pada
trimester pertama tekanan darah secara fisiologis menurun sehingga dapat menutupi hipertensi jenis ini dan jika
tekanan darahnya terukur meningkat pada saat usia kehamilan > 20 minggu maka sering diinterpretasikan
sebagai hipertensi gestasional.

Hipertensi gestasional: terjadi setelah 20 minggu gestasi dan sebagian besar kasus berakhir dalam 42 hari
setelah melahirkan
Pre-eklampsia: hipertensi gestasional disertai proteinuria 0,3 g/24 jam atau creatinine urine 30 mg/mmol
sampel urine acak. Edema tidak lagi menjadi bagian kriteria diagnostik karena edema terjadi pada 60 %
kehamilan normal. Pre-eklampsia terjadi lebih sering pada kehamilan pertama, kehamilan multipel, mola
hidatidosa atau penderita diabetes mellitus. Pre-eklampsia sering berhubungan dengan insufisiensi plasenta,
menyebabkan gangguan pertumbuhan janin sertap penyebab utama terjadinya prematuritas, 25% pada semua
neonatus dengan berat bayi lahir sangat (kurang dari 1500 gram)
Tanda dan gejala pre-eklampsia berat :
a. Nyeri kuadaran kanan atas/epigastic karena edema hati hepatic haemorrhage
b. Nyeri kepala gangguan penglihatan (edema serebral)
c. Kebutaan lobus occipital
d. Hiperrefleksia klonus
e. Sindroma HELLP: haemolisis, peningkatan enzim hati dan trombositopenia
Apabila pre-eklampsia diserta kejang atau koma maka disebut eklampsia. Proteinuria bisa merupakan
manifestasi akhir dari pre-eklampsia, sebaiknya kita menduga jika terdapat hipertensi pertama kali yang disertai
dengan nyeri kepala, gangguan pengelihatan, nyeri abdominal atau pemeriksaan laboratorium yang abnormal
terutama trombositopenia dan enzim hati yang tidak abnormal. Direkomendasikan untuk ditangani sebagai
pasien dengan pre-eklampsia.
Hipertensi yang sebelumnya telah ada bersamaan dengan hipertensi gestasional dengan proteinuria
atau hipertensi kronis dengan superimposed pre-eklampsia; ketika hipertensi kronis dengan perburukan
hipertensinya disertai proteinuria 0,3 g/24 jam yang terjadi setelah 20 minggu gestasi.
Hipertensi antenatal yang belum dapat diklasifikasikan
Penatalaksanaan hipertensi kehamilan
Tergantung dari tekanan darah, umur kehamilan dan ada atau tidaknya faktor resiko maternal dan fetal yang
terkait. Sebagian besar wanita dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya, saat hamil mempunyai hipertensi
ringan sampai sedang (140-160/90-109 mmHg) dan beresiko rendah terjadinya komplikasi kardiovaskuler dalam
suatu periode singkat semasa hamil. Wanita dengan hipertensi esensial dan fungsi ginjal yang normal
merupakan kandidat terapi non-farmakologis karena tidak ada bukti bahwa dengan pemberian obat membawa
hasil lebih baik untuk neonatus.

Penatalaksanaan Non-farmakologis dan pencegahan hipertensi pada kehamilan


Termasuk pengawasan ketat, pembatasan aktivitas dan istirahat dengan posisi miring ke kiri. Penanganan ini
harus dipertimbangkan untuk pasien dengan tekanan darah sistolik 140-150 mmHg dan atau diastolik 9099mmHg. Dianjurkan diet normal tanpa disertai restriksi/pembatasan garam terutama jika mendekati saat
melahirkan karena dapat menyebabkan penurunan volume intravaskular. Pemberian suplemen kalsium minimal
1 g per hari selama kehamilan, hampir setengah pasien pre-eklampsia tidak menimbulkan bahaya apapun.
Efeknya terbesar terjadi pada wanita beresiko tinggi. Namun bagaimanapun juga penambahan kalsium untuk
mencegah hipertensi adalah bertentangan. Suplemen minyak ikan, vitamin dan gizi tidak mempunyai peran
dalam
pencegahan
hipertensi.
Pengurangan berat badan tidak dianjurkan selama kehamilan pada wanita obesitas, karena dapat menyebabkan
penurunan berat badan dan gangguan pertumbuhan janin. Namun, ibu dengan obesitas dapat mengakibatkan
dampak buruk baik bagi ibu sendiri maupun janinnya. Pedoman untuk rentang berat badan sehat pada kehamilan
telah dibentuk dimana pada wanita hamil dengan indeks massa tubuh yang normal (BMI, 25 kg/m2) maka
penambahan berat badan yang dianjurkan adalah 11,2-15,9 kg, sedangkan untuk ibu hamil dengan kelebihan
berat badan (BMI 25,0-29,9 kg/m2) peningkatannya adalah 6,8-11,2 kg, dan untuk ibu hamil yang obesitas (BMI
30 kg/m2) peningkatan berat badan yang dianjurkan adalah 6,8 kg.
Penatalaksanaan Farmakologis dan pencegahan hipertensi pada kehamilan
Walaupun terdapat konsensus bahwa penggunaan obat untuk hipertensi berat pada kehamilan memberikan
manfaat, namun pengobatan untuk kondisi hipertensi ringan masih merupakan kontroversi karena dapat
mengganggu perfusi uteroplasenta dan membahayakan perkembangan janin meskipun mungkin berguna bagi
ibunya yang dapat menurunkan tekanan darahnya. Obat pilihan pertama untuk hipertensi pada kehamilan adalah
alfa metildopa. Labetolol juga memberikan efektivitas sebanding dengan metildopa dan dapat diberikan secara iv
pada
kondisi
berat.
Pemberian
metoprolol
juga
direkomendasikan.
Calcium Channel blocker seperti nifedipin (oral) atau isradipine adalah obat pilihan kedua untuk terapi
hipertensi. Obat-obatan golongan diatas dapat digunakan pada hipertensi emergensi atau hipertensi akibat preeklampsia. Potensi sinergis dengan magnesium sulfat dapat menginduksi hipertensi maternal dan hipoksia janin.
Uradipil dapat juga digunakan untuk hipertensi emergensi. Magnesium sulfat iv merupakan obat yang dipilih
untuk mengatasi kejang dan mencegah eklamspsia. Penggunaan diuretik harus dihindari karena menurunkan
aliran darah ke plasenta dan tidak direkomendasikan untuk diberikan pada kasus pre-eklampsia. Penggunaan
ACE inhibitor, ARB dan inhibitor renin langsung merupakan kontraindikasi saat kehamilan karena bersifat
toksik terhadap fetus terutama pada trimester kedua dan ketiga. Jika tidak sengaja meminumnya pada saat
trimester pertama maka ganti dengan obat yang lain dan dianjurkan monitoring ketat termasuk dengan usg janin.
Tekanan darah sistole 170mmHg atau diastole 110mmHg pada wanita hamil merupakan keadaan emergensi
dan indikasi untuk rawat inap. Penatalaksanaan farmakologis dapat dengan labetolol iv atau methyldopa oral
atau nifedipine. Hydralazine iv tidak lagi digunakan karena efek samping perinatal yang lebih besar
dibandingkan obat yang lain. Pilihan utama untuk krisis hipertensi adalah infus sodium nitroprusside 0.255.0
g/kg/min. Pemberian sodium nitroprusside jangka panjang berhubungan dengan peningkatan terjadinya
keracunan cyanide pada janin akibat nitroprusside yang dimetabolisme menjadi thiocyanate. Pilihan utama untuk
pasien pre-eklampsia dengan edema paru adalah infus nitrogliserin (glyceryl trinitrate) 5 g/min dan
ditingkatkan bertahap tiap 3-5 menit sampai dosis maksimum 100g/min

Persalinan
Induksi persalinan diindikasikan pada pre-eklampsia dengan kondisi buruk seperti gangguan pengelihatan,
abnormalitas koagulasi atau distres janin.
Menyusui
Pada ibu menyusui, proses laktasi tidak meningkatkan tekanan darah. Semua obat antihipertensi diekskresikan
melalui air susu ibu dengan konsentrasi sangat rendah kecuali propanolol dan nifedipin.
Prognosis setelah kehamilan
Tekanan darah biasanya meningkat selama 5 hari pertama masa nifas, hipertensi postpartum sering dijumpai.
Hindari penggunaan metildopa karena resiko depresi postpartum.
Wanita yang mengalami hipertensi pada kehamilan pertama dengan onset yang lebih cepat akan meningkatkan
rekurensi terjadinya hipertensi pada kehamilan berikutnya.
Wanita dengan hipertensi gestasional dan pre-eklampsia pada umumnya meningkatkan resiko terjadinya
hipertensi, stroke dan penyakit jantung koroner pada masa tuanya. Pada pasien dengan pre-eklampsia, resiko
relatif berkembang menjadi penyakit jantung koroner adalah 2x lipat dan hipertensi hampir 4x lipat lebih besar
jika dibandingkan pada wanita hamil yang normal. Modifikasi gaya hidup merupakan indikasi primer untuk
menurunkan resiko kardiovaskuler dikemudian hari. Direkomendasikan kontrol teratur ke dokter untuk
pemeriksaan tekanan darah dan faktor metabolik tiap tahun.
Rekomendasi Penatalaksanaan Hipertensi
Rekomendasi
Kelas
Direkomendasikan dilakukan penatalaksanaan non-farmakologis bagi wanita I
hamil yang memiliki SBP 140-150mmHg atau DBP 90-99mmHg
Pada wanita dengan hipertensi gestasional atau hipertensi yang telah ada dan I
ditambah dengan hipertensi gestasional (hipertensi kronis dengan
superimposed hipertensi gestasional) atau dengan hipertensi dan kerusakan
organ subklinis atau gejala dalam masa kehamilan, inisiasi pemberian obat
direkomendasikan pada TD 140/90mmHg. Dalam keadaan lainnya, inisiasi
pengobatan pada SBP 150mmHg atau DBP 95mmHg
SBP 170mmHg atau DBP 110mmHg pada wanita hamil merupakan I
kondisi emergensi dan direkomendasikan untuk rawat inap di rumah sakit
Penginduksian persalinan direkomendasikan bagi wanita yang mengalami I
hipertensi gestasional dengan proteinuria dengan gangguan pengelihatan
atau abnormalitas koagulasi atau gawat janin
Pada pre-eklampsia dengan edema paru direkomendasikan pemberian infus I
nitrogliserin
Pada hipertensi berat, direkomendasikan pemberian obat dengan labetolol iv I
atau metildopa oral atau nifedipin
Wanita dengan hipertensi yang telah ada sebelumnya perlu dipertimbangkan IIa
untuk meneruskan pengobatannya kecuali untuk ACE inhibitor, ARB dan
renin inhibitor langsung dengan pemantauan tekanan darah secara ketat
SBP: systolic blood pressure; DBP: diastolic blood pressure

level
C
C

C
C

C
C
C

2. KOMPLIKASI PADA KEHAMILAN


- Perdarahan
- Pre-Eklampsi
- Infeksi
- Solusio Plasenta
A. Definisi
1)
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau keseluruhan plasenta dari implantasi normalnya
(korpus uteri) setelah kehamilan 20 minggu dan sebelum janin lahir. (9) .
2)
Cunningham dalam bukunya mendefinisikan solusio plasenta sebagai separasi prematur plasenta
dengan implantasi normalnya korpus uteri sebelum janin lahir.(1)
3)
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi normalnya sebelum janin lahir,
dan definisi ini hanya berlaku apabila terjadi pada kehamilan di atas 22 minggu atau berat janin di atas
500 gram (2)
B. Klasifikasi

solusio plasenta

a. Trijatmo Rachimhadhi membagi solusio plasenta menurut derajat pelepasan plasenta


1. Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas seluruhnya.
2. Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas sebagian.
3. Ruptura sinus marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas.
b. Pritchard JA membagi solusio plasenta menurut bentuk perdarahan
1. Solusio plasenta dengan perdarahan keluar
2. Solusio plasenta dengan perdarahan tersembunyi, yang membentuk hematoma retroplacenter
3. Solusio plasenta yang perdarahannya masuk ke dalam kantong amnion .
c. Cunningham dan Gasong masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan solusio plasenta menurut
tingkat gejala klinisnya, yaitu: (5,6)
1. Ringan : perdarahan <100-200 cc,uterus tidak tegang, belum ada tanda renjatan, janin
hidup,pelepasan plasenta <1/6 bagian permukaan,kadar fibrinogen plasma >150 mg%
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin
telah mati, pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%.

3. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan
plasenta
dapat
terjadi
lebih
2/3
bagian
atau
keseluruhan.

C. Etiologi
Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa faktor yang menjadi predisposisi
1. Faktor kardio-reno-vaskuler
Glomerulonefritis kronik, hipertensi essensial, sindroma preeklamsia dan eklamsia. Pada penelitian di
Parkland, ditemukan bahwa terdapat hipertensi pada separuh kasus solusio plasenta berat, dan separuh
dari wanita yang hipertensi tersebut mempunyai penyakit hipertensi kronik, sisanya hipertensi yang
disebabkan oleh kehamilan.(7,8)
2. Faktor trauma
Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas, versi luar atau tindakan
pertolongan persalinan
Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
3. Faktor paritas ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada primipara. Beberapa penelitian menerangkan
bahwa makin tinggi paritas ibu makin kurang baik keadaan endometrium (7,8)
4. Faktor usia ibu
Makin tua umur ibu, makin tinggi frekuensi hipertensi menahun. (2)
5. Leiomioma uteri (uterine leiomyoma) yang hamil dapat menyebabkan solusio plasenta apabila plasenta
berimplantasi di atas bagian yang mengandung leiomioma (1,7)
6. Faktor pengunaan kokain
Penggunaan kokain mengakibatkan peninggian tekanan darah dan peningkatan pelepasan katekolamin
yang bertanggung jawab atas terjadinya vasospasme pembuluh darah uterus dan berakibat terlepasnya
plasenta. Namun, hipotesis ini belum terbukti secara definitif
7. Faktor kebiasaan merokok
Ibu yang perokok juga merupakan penyebab peningkatan kasus solusio plasenta sampai dengan 25%
pada ibu yang merokok 1 (satu) bungkus per hari. Ini dapat diterangkan pada ibu yang perokok
plasenta menjadi tipis, diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya
8. Riwayat solusio plasenta sebelumnya
Hal yang sangat penting dan menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa
resiko berulangnya kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibu
hamil yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta
9. Pengaruh lain, seperti anemia, malnutrisi/defisiensi gizi, tekanan uterus pada vena cava inferior
dikarenakan
pembesaran
ukuran
uterus
oleh
adanya kehamilan,
dan
lain-lain. (8)

D. Gambaran Klinis (1,2,3)


1. Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan ini disebut juga ruptura sinus marginalis, dimana terdapat pelepasan sebagian
kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. Apabila terjadi perdarahan pervaginam, warnanya akan
kehitam-hitaman dan sedikit sakit. Perut terasa agak sakit, atau terasa agak tegang yang sifatnya terus
menerus. Walaupun demikian, bagian-bagian janin masih mudah diraba. Uterus yang agak tegang ini
harus selalu diawasi, karena dapat saja menjadi semakin tegang karena perdarahan yang berlangsung.
2. Solusio plasenta sedang
Dalam hal ini plasenta terlepas lebih dari 1/4 bagian, tetapi belum 2/3 luas permukaan Tanda dan
gejala dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan, tetapi dapat juga secara mendadak
dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan

pervaginam. Walaupun perdarahan pervaginam dapat sedikit, tetapi perdarahan sebenarnya mungkin
telah mencapai 1000 ml. Ibu mungkin telah jatuh ke dalam syok, demikian pula janinnya yang jika
masih hidup mungkin telah berada dalam keadaan gawat. Dinding uterus teraba tegang terus-menerus
dan nyeri tekan sehingga bagian-bagian janin sukar untuk diraba. Jika janin masih hidup, bunyi
jantung sukar didengar. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah
terjadi,walaupun hal tersebut lebih sering terjadi pada solusio plasenta berat
3. Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannnya. Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu telah jatuh
dalam keadaan syok dan janinnya telah meninggal. Uterus sangat tegang seperti papan dan sangat
nyeri. Perdarahan pervaginam tampak tidak sesuai dengan keadaan syok ibu, terkadang perdarahan
pervaginam mungkin saja belum sempat terjadi. Pada keadaan-keadaan di atas besar kemungkinan
telah terjadi kelainan pada pembekuan darah dan kelainan/gangguan fungsi ginjal

E. Komplikasi
a. Syok perdarahan
Pendarahan antepartum dan intrapartum pada solusio plasenta hampir tidak dapat dicegah, kecuali
dengan menyelesaikan persalinan segera. Bila persalinan telah diselesaikan, penderita belum
bebas dari perdarahan postpartum karena kontraksi uterus yang tidak kuat untuk menghentikan
perdarahan pada kala III . Pada solusio plasenta berat keadaan syok sering tidak sesuai dengan jumlah
perdarahan yang terlihat (1,10,17)
b. Gagal ginjal
Gagal ginjal merupakan komplikasi yang sering terjadi pada penderita solusio plasenta, pada
dasarnya disebabkan oleh keadaan hipovolemia karena perdarahan yang terjadi. Biasanya terjadi
nekrosis tubuli ginjal yang mendadak, yang umumnya masih dapat ditolong dengan penanganan yang
baik. (1,2)
c. Kelainan pembekuan darah
Kelainan pembekuan darah biasanya disebabkan oleh hipofibrinogenemia. (2)
d. Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Pada solusio plasenta yang berat terjadi perdarahan dalam otot-otot rahim dan di bawah perimetrium
kadang-kadang juga dalam ligamentum latum. Perdarahan ini menyebabkan gangguan kontraktilitas
uterus dan warna uterus berubah menjadi biru atau ungu yang biasa disebut Uterus couvelaire.

Fetal

Komplikasi yang dapat terjadi pada janin:


distress, Gangguan
pertumbuhan/perkembangan, Hipoksia,

anemia, Kematian

F. Diagnosis (5)
1. Anamnesis
- Perasaan sakit yang tiba-tiba di perut
- Perdarahan pervaginam yang sifatnya dapat hebat dan sekonyong-konyong(non-recurrent) terdiri dari
darah segar dan bekuan-bekuan darah yang berwarna kehitaman
- Pergerakan anak mulai hebat kemudian terasa pelan dan akhirnya berhenti
- Kepala terasa pusing, lemas, muntah, pucat, mata berkunang-kunang.
- Kadang ibu dapat menceritakan trauma dan faktor kausal yang lain.
2. Inspeksi
- Pasien gelisah, sering mengerang karena kesakitan.
- Pucat, sianosis dan berkeringat dingin.
- Terlihat darah keluar pervaginam (tidak selalu).
3. Palpasi

Tinggi fundus uteri (TFU) tidak sesuai dengan tuanya kehamilan.


- Uterus tegang dan keras seperti papan yang disebut uterus in bois (wooden uterus) baik waktu his
maupun di luar his.
- Nyeri tekan di tempat plasenta terlepas.
- Bagian-bagian janin sulit dikenali, karena perut (uterus) tegang.
4. Auskultasi
Sulit dilakukan karena uterus tegang, bila DJJ terdengar biasanya di atas 140, kemudian turun di
bawah 100 dan akhirnya hilang bila plasenta yang terlepas lebih dari 1/3 bagian.
5. Pemeriksaan dalam
- Serviks dapat telah terbuka atau masih tertutup.
- Kalau sudah terbuka maka plasenta dapat teraba menonjol dan tegang
- Apabila plasenta sudah pecah dan sudah terlepas seluruhnya, plasenta ini akan turun ke bawah dan teraba
pada pemeriksaan, disebut prolapsus placenta
6. Pemeriksaan umum
Tekanan darah semula mungkin tinggi karena pasien sebelumnya menderita penyakit vaskuler, tetapi
akan turun dan pasien jatuh dalam keadaan syok. Nadi cepat dan kecil
7. Pemeriksaan laboratorium
Urin : Albumin (+), pada pemeriksaan sedimen dapat ditemukan silinder dan leukosit.
Darah : Hb menurun, periksa golongan darah, lakukan cross-match test. Karena pada solusio plasenta
sering terjadi kelainan pembekuan darah hipofibrinogenemia
8. Pemeriksaan plasenta.
Plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan
terdapat koagulum atau darah beku yang biasanya menempel di belakang plasenta, yang
disebut hematoma retroplacenter.
9. Pemeriksaaan Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG yang dapat ditemukan antara lain :Terlihat daerah terlepasnya plasenta, Janin
dan kandung kemih ibu, Darah, Tepian plasenta
-

G. Terapi
1) Solusio plasenta ringan
Bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti, perut tidak
sakit, uterus tidak tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan observasi ketat, kemudian
tunggu persalinan spontan. (2)
Bila ada perburukan (perdarahan berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas, pada
pemantauan dengan USG daerah solusio plasenta bertambah luas), maka kehamilan harus segera
diakhiri. Bila janin hidup, lakukan seksio sesaria, bila janin mati lakukan amniotomi disusul infus
oksitosin untuk mempercepat persalinan
2) Solusio plasenta sedang dan berat (2)
Apabila tanda dan gejala klinis solusio plasenta jelas ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi
transfusi darah, amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria
Apabila diagnosis solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah terjadi sekurang-kurangnya
1000 ml. Maka transfusi darah harus segera diberikan. Amniotomi akan merangsang persalinan dan
mengurangi tekanan intrauterin.
Dengan melakukan persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan pembekuan
darah. Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya solusio plasenta. Tetapi jika
tidak memungkinkan, walaupun sudah dilakukan amniotomi dan infus oksitosin, maka satu-satunya cara
melakukan persalinan adalah seksio sesaria
Apoplexi uteroplacenta tidak merupakan indikasi histerektomi. Tetapi jika perdarahan tidak dapat
dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka histerektomi perlu dilakukan