Anda di halaman 1dari 3

PENDIDIKAN DI KERAJAAN HUAMUAL

Latar Belakang Kerajaan


Kerajaan huamual merupakan sebuah kerajaan yang telah memiliki konsep kenegaraan, karena memilki
rakyat yg besar, memiliki teritorial, memiliki sistem pemerintahan, memiliki lambang & Bendera
kerajaan. Dalam beberapa dokumen kolonial belanda, digambarkan bahwa lambang kerajaan Huamual
terdiri atas dua lambang, yakni: Lambang sekekor "Burung Guheba" yg disebut " Mual Nagara Takka latu
manu ela lessy" (Pataka kerajaan) dan Lambang "Ular kepala naga", yg di sebut sebagai "Mual Nagara
taka latu nija lessy" (pataka Prajurit).
Sedangkan Bendera Kerajaan Huamual bendera bulan sebelah, bulan merah/bulan sabit yg disebut
"Hulan
huamual

liu

kau

hula". Dalam Dokumen

tersebut

dijabarkan

bahwa sebagian

masyarakat

melakukan segala aktifitas kerajaan harus sesuai dengan perbintangan yakni budaya

"TANOAR" artinya bahwa melakukan segala sesuatunya berpatokan pada perhitungan bulan langit
(hulan Lanite), sehingga bendera tersebut merupakan suatu defenisi dari budaya & tradisi masyarakat
huamual.
Dalam dokumen yg lain, disebutkan bahwa pulau seram terbagi menjadi dua bagian yaitu seram daratan
kecil (Halbinsel Hoalmoal) & seram daratan besar, Huamual memilki kekuasaan meliputi seram daratan
besar dan pulau-pulau lainnya. Pada Abad ke 7 masehi, kerajaan sriwijaya merupakan pusat bandar
perdagangan, semua armada perdagngan menjadikan sriwijaya sebagai tempat persinggahan dengann
tujuan pembelian Rempah-rempah di indonesia bagian timur yakni kepulauan maluku. nah jika maluku
adalah pusat dari hasil rempah-rempah dunia, maka tidak menutup kemungkinan jika huamual merupakan
bandar dan pusat penghasil rempah-rempah di maluku. Dan hal ini sangat di perkuat oleh karena perang
huamual adalah perang cengkeh dan pala.
Sistem Perekonomian Kerajaan
Sistem perdagangan internasional tak mungkin melakukan pembelian Cengkeh & pala dari masyarakat
antar pulau, tetapi sewajarnya harus memiliki bandar perdagangan, yg mana pastinya tertata dengan baik
sesuai denga sistem perdagangan dunia pada saat itu. Dalam beberapa catatan RUMPIUS di sebutkan
juga bahwa saat beliau melakukan penelitian di leihitu, dia mengatakan bahwa keadaan di pulau ambon
masih dalam keaadaan yg sangat mengkuatirkan sebab masih terjadi peperangan/pergolakan di hitu dan
huamual di pimpin leh Gimelaha Majira. nah sdh sangat terbukti bahwa Gimelaha majira yg memimpin
pergolakan melawan kolonial belanda di huamual dan jasirah leihitu, apakah hal tersebut menyatakan
kalau hitu juga merupakan bagian dari huamual.(Perlu di teliti).

Peperangan Melawan Penjajahan Belanda


Perlu kita ketahui bahwa Kerajaan Huamual terdiri dari 99 negeri, yang kemudian di basmi oleh Kolonial
belanda,

sehingga

peperangan

Huamual

adalah

merupakan

suatu

Proses

"Genosida"

(Pembasmian/pembunuhan masal terhadap Etnik/masyarakat huamual). Banyak penduduk Huamual yg


melarikan diri keluar dari daerahnya dan mencari pemukiman baru tersebar hampir di seluruh pelosok
adapun di pulau ambon contohnya, Negeri Hatu yg semua penduduknya adalah merupakan pelarian dari
daerah (Hena Hatu) Piru Jasirah Huamual. demikian juga di Negeri liang, ada tempat tinggal masyarakat
huamual sehingga tempat itu di beri nama Hunimua, yg kemudian membaur dengan masyarakat setempat.
Beberapa mata rumah di ujung nusaniwe,latuhalat,seilale amahussu adalah merupakan anak-anak cucu
Huamual yang sampai sekarang masih menempati daerah tersebut. demikian juga di negeri soya,
kilang,naku, ema,hatalai,Hutumury, merupakan daerah-daerah yang didatangi masyarakat huamual ketika
terjadi peperangan di daerahnya. Sebagian masyarakat Pulau buru, merupakan ketrurunan dan anak cucu
huamual yg hingga saat ini menepati pulau tersebut. dan masih banyak lagi yg tdk kami sebutakan seperti
di pulau saparua, [pada saat perang ama ihal, kerajaan Huamual mengirimkan 66 pucuk Meriam dengan
pasukannya untuk membantu kerajaan Iha, pasukan-pasukan tersebut akhirnya menetap di saparua
hingga kini.
Di maluku,semua daerah mengklaim dirinya sebagai kerajaan tetapi tidak memiliki Bendera kerajaan, tapi
yal yg sangat nyata adalah kerajaan huamual, disitu digambarkan dengan jelas bentuk bendera kerajaan
yg berdiri Megah di ibukota kerajaan huamual. di Negeri-negeri yg lain banyak mengklaim dirinya
sebagai kerajaan, bahkan memproklamirkan sejarah negerinya sebagai yang tersohor. Huamual telah
hilang di ingatan mereka, tetapi huamual menyimpan banyak misteri sejarah, yang jika diangkat akan
menjadi ukuran bagi budaya bangsa maluku.
Keadaan Pendidikan Kerajaan
Keadaan Pendidikan di Huamual berkembang dengan baik, akan tetapi pendidikan dikerajaan huamual
hanya terpusat pada pendidikan agama islam (Islamisasi). Karena adanya anggapan bahwa kekuatan
kerajaan akan diperoleh jika para penduduknya memiliki kepercayaan yang kuat dan agama menjadi
fondasi utama bagi penduduknya. Pendidikan pondok pesantren pada saat itu menjadi pendidikan yang
wajib dan utama yang harus di dapat oleh setiap individu. Akan tetapi adanya peperangan Huamual
dengan belanda adalah merupakan suatu Proses "Genosida" (Pembasmian/pembunuhan masal terhadap
Etnik/masyarakat huamual) banyak penduduk Huamual yg melarikan diri keluar dari daerahnya dan
mencari pemukiman baru tersebar hampir di seluruh pelosok negeri, dan di tempat baru tersebut
penduduk huamual mendirikan surau-surau kecil untuk pendidikan keagamaan meskipun dalam keadaan

terbatas. Seluruh kerajaan islam di nusantara serentak melakukan penguatan pendidikan agama di semua
kalangan keluarga maupun masyarakat yang berada di lingkung kerajaan islam nusantara. Semua
Kerajaan cenderung melakukan perlawanan kepada belanda dengan mengisolasi diri dan memperkuat
identitas. Padahal hal tersebut secara tidak langsung akan melemahkan keadaan ekonomi di wilayah
kerajaan.

Huamual merupakan Nagara yang masyarakatnya mayoritas muslim pada zamannya, akan tetapi pada
dekade terakhir ini islam menjadi agama minoritas di Maluku (Huamual). Berdasarkan data terbaru yang
saya dapat sekitar tahun 2010 perkembangan agama islam di Maluku mengalami perkembangan yang
signifikan. Hal ini juga karena adanya banyak pendatang dari luar daerah yang masuk ke daerah Maluku
untuk berdagang dan mayoritas beragama islam. Hal ini menjadi