Anda di halaman 1dari 65

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Dalam dunia yang sudah maju ini dalam dunia bisnis sangatlah penting

mengetahui informasi, Informasi adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi


stakeholders untuk mengambil keputusan. Penyampaian informasi melalui
laporan keuangan perlu dilakukan agar pihak-pihak yang memiliki kepentingan
(stakeholders) dapat memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Laporan
keuangan dapat digunakan sebagai sumber informasi yang penting mengenai
kondisi ekonomi perusahaan yang berguna untuk pertimbangan dalam
pengambilan keputusan. Dengan informasi yang akurat, lengkap dan tepat waktu
memudahkan investor untuk mengambil keputusan yang diharapkan dapat
memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan investor tersebut.
Informasi yang seringkali diminta untuk diungkapkan oleh perusahaan
adalah mengenai tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibilty
(CSR). Secara umum, CSR didefinisikan sebagai komitmen perusahaan untuk
tidak hanya berupaya mencari keuntungan dari roda bisnisnya, tetapi juga
menjaga keharmonisan dengan lingkungan sosial di sekitar tempatnya berusaha,
melalui upaya-upaya yang mengarah pada peningkatan kehidupan komunitas
setempat di segala aspeknya. Perusahaan akan mengungkapkan praktik tanggung
jawab sosial agar bentuk kontribusi yang telah dilakukan oleh perusahaan tersebut

dapat

diketahui

oleh

berbagai

pihak

yang

berkepentingan.

Dengan

mengungkapkan informasi mengenai kontribusi perusahaan terhadap lingkungan


maka diharapkan perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa
perusahaan dalam melaksanakan aktivitasnya juga turut memperhatikan dampak
yang ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar.
Hadi (2011:65) mengemukakan bahwa Social Responsibility dengan
perjalanan waktu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan
perusahaan. Hal itu karena keberadaan perusahaan di tengah lingkungan memiliki
dampak positif maupun negatif. Khusus dampak negatif (negative externalities)
memicu reaksi dan protes stakeholder, sehingga perlu penyeimbangan lewat peran
social responsibility sebagai salah satu strategi legitimasi perusahaan.
Pemerintah Indonesia memberikan respon yang baik terhadap pelaksanaan
CSR yaitu dengan mengeluarkan regulasi tentang tanggung jawab sosial (social
responsibility) sebagaimana dimuat dalam Undang-Undang No. 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas Pasal 66 dan Pasal 74. Pada pasal 66 ayat (2) bagian c
disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga
diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Sedangkan dalam pasal 74 menjelaskan kewajiban untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan
dengan sumber daya alam. Selain itu, kewajiban pelaksanaan CSR juga diatur
dalam Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 tahun 2007 pasal 15 bagian b,
pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setiap penanaman modal diwajibkan untuk
ikut serta dalam tanggung jawab sosial perusahaan. Pelaksanaan fungsi sosial juga

dimuat dalam UU No. 21 tahun 2008 mengenai perbankan syariah, pada bab II
pasal 4 ayat (2) dan ayat (3 )Pengungkapan tanggung jawab sosial secara implisit
juga telah terakomodasi dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
No. 1 tahun 2004 tentang Penyajian Laporan Keuangan dan dalam Exposure
Dariaft PSAK no 20 tahun 2005 tentang Akuntansi Lingkungan.
PSAK No. 1 tahun 2004 tentang Penyajian Laporan Keuangan, bagian
Tanggung jawab atas Laporan Keuangan paragraf 09 dinyatakan bahwa :
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti
laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value
added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor
lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang
menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang
memegang peranan penting.
Dalam Exposure Dariaft PSAK nomor 20 tahun 2005 tentang Akuntansi
Lingkungan bagian Pendahuluan paragraf 01 dinyatakan bahwa :
......perusahaan-perusahaan pada masa kini diharapkan atau
diwajibkan untuk mengungkapkan informasi mengenai kebijakan
dan sasaran-sasaran lingkungannya, program-program yang sedang
dilakukan dan kos-kos yang terjadi karena mengejar tujuan-tujuan
ini dan menyiapkan serta mengungkapkan risiko-risiko lingkungan.
Dalam area akuntansi, inisiatif yang telah digunakan untuk
memfasilitasi pengumpulan data dan untuk menigkatkan kesadaran
perusahaan dalam hal terdapatnya implikasi keuangan dari masalahmasalah lingkungan.
Perusahaan akan mendapatkan manfaat tersendiri dengan melakukan
praktik pengungkapan CSR. Secara tidak langsung CSR dapat menjadi media
promosi bagi perusahaan untuk memperkuat citra positifnya kepada masyarakat.
Hadi (2011:156) menyatakan bahwa perusahaan akan mendapatkan sejumlah
keuntungan dengan melakukan pengungkapan atas biaya sosial yang telah

dikeluarkan perusahaan, antara lain: (1) menunjukkan kepedulian terhadap


lingkungan dan masyarakat sekitar; (2) transparansi; (3) wujud social
responsibility; (4) membangun image perusahaan; (5) membangun image terhadap
mutual fund dan shareholder; (6) mendukung tingkat kembalian investasi; (7)
membangun image terhadap investor supaya investasi saham lebih aman.
Praktik dan pengungkapan CSR merupakan konsekuensi logis dari
implementasi konsep Good Corporate Governance (GCG), yang prinsipnya
antara lain menyatakan bahwa perusahaan perlu memperhatikan kepentingan
stakeholders-nya, sesuai dengan aturan yang ada dan menjalin kerjasama yang
aktif dengan stakeholders demi kelangsungan hidup jangka panjang perusahaan
(Utama 2007). Terkait dengan pelaksanaan CSR, Sudana dan Arlindania (2011)
menyatakan bahwa CSR dapat dilaksanakan secara langsung oleh perusahaan di
bawah divisi human resource development atau public relation. CSR bisa pula
dilakukan oleh yayasan yang dibentuk terpisah dari organisasi induk perusahaan,
namun tetap bertanggungjawab kepada CEO atau kepada dewan direksi.
CSR tidak hanya terdapat pada ekonomi konvensional, tetapi berkembang
juga pada ekonomi syariah. Bahkan ekonomi syariah sudah mempunyai konsep
CSR sebelum dikeluarkannya UU No. 21 tahun 2008 mengenai perbankan
syariah. Konsep tersebut diwujudkan dalam laporan sumber dan penggunaan dana
zakat dan kebajikan. Seperti yang dikemukakan Widiawati dan Raharja (2012)
bahwa konsep CSR dalam Islam erat kaitannya dengan perusahaan-perusahaan
yang menjalankan bisnis sesuai dengan konsep syariah yang diharapkan
perusahaan tersebut dapat melakukan tanggung jawab sosial perusahaan secara

Islami.
Institusi keuangan syariah, khususnya perbankan syariah seharusnya
mempunyai komitmen kuat dalam mengembangkan program CSR. Karena bank
syariah tidak dibentuk hanya berorientasi pada profit saja tetapi juga untuk
membantu mensejahterakan masyarakat. Yusuf (2010) menyatakan bahwa
program CSR perbankan syariah harus benar-benar menyentuh kebutuhan asasi
masyarakat untuk menciptakan pemerataan kesejahteraan ekonomi bagi
masyarakat.
Tahun 2008 pemerintah menerbitkan UU No. 21 tentang Perbankan
Syariah. UU ini menjadi payung hukum bagi sektor perbankan syariah. Hadirnya
UU perbankan syariah sangat diharapkan mampu memacu peningkatan peran dan
kontribusi perbankan syariah dalam mengentaskan kemiskinan, kesejahteraan
masyarakat, serta pembukaan lapangan kerja melalui program sosial. Beberapa
Bank Syariah telah melakukan pengungkapan CSR sebelum terbitnya UndangUndang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, berikut diantaranya:
Tabel 1.1
Bank Syariah yang Mengungkapkan CSR tahun 2007-2008
No.

Nama Bank

1.

Pengungkapan CSR
2007

2008

PT. Bank Syariah Muamalat Indonesia

2.

PT. Bank Syariah Mandiri

3.

PT. Bank Syariah Mega Indonesia

Sumber: Annual Report Bank Umum Syariah 2007-2008


Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebelum diterbitkannya
Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah, beberapa bank
5

syariah telah memiliki kesadaran untuk mengungkapkan CSR. Alasan


pengungkapan CSR karena perbankan syariah menganggap bahwa CSR
merupakan bagian tak terpisahkan dari tujuan usaha perusahaan untuk
mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur sejalan dengan prinsipprinsip dasar perekonomian syariah.
Perkembangan perbankan syariah di Indonesia yang maju pesat,
menjadikan penelitian tentang CSR pada bank syariah diperlukan. Statistik
perkembangan

perbankan

syariah

sampai

dengan

bulan

Januari

2013

menunjukkan bahwa perbankan syariah semakin luas tersebar di seluruh


Indonesia dengan 11 Bank Umum Syariah (BUS) dan jumlah kantor 1.780 unit,
24 Unit Usaha Syariah (UUS), serta 158 BPRS. Total aset perbankan syariah telah
mencapai Rp 193,110 triliun.
Haniffa (2002) menyatakan bahwa selama ini pengukuran CSR disclosure
pada perbankan syariah masih mengacu pada Global Reporting Initiative Index
(GRI). Padahal saat ini banyak diperbincangkan mengenai Islamic Social
Reporting yang sesuai dengan prinsip syariah. Peneliti-peneliti ekonomi syariah
saat ini banyak yang menggunakan Islamic Social Reporting Index (ISR) untuk
mengukur CSR institusi keuangan syariah. Indeks ISR berisi item-item standard
CSR yang ditetapkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for
Islamic Financial Institutions). Fitria dan Hartanti (2010) menyatakan bahwa
indeks ISR diyakini dapat menjadi pijakan awal dalam hal standar pengungkapan
CSR yang sesuai dengan perspektif Islam.
Indeks ISR pertama kali dikembangkan oleh Haniffa (2002) yang

kemudian dikembangkan oleh Othman et al. (2009). Haniffa (2002) menyatakan


bahwa terdapat keterbatasan pada kerangka pelaporan sosial yang dilakukan oleh
lembaga konvensional sehingga ia mengemukakan kerangka konseptual Islamic
Social Reporting.
Penelitian mengenai pengungkapan tanggung jawab sosial perbankan
syariah masih terbatas. Harahap (2002) meneliti tentang pengungkapan nilai-nilai
Islam pada Bank Muamalat Indonesia dengan melakukan analisis terhadap
laporan tahunannya tahun 1993-2000. Penelitian tersebut membandingkan
pengungkapan

yang

digunakan

pada

akuntansi

konvensional

dengan

pengungkapan yang berdasar pada standar AAOIFI. Penelitian tersebut


menunjukkan hasil bahwa Bank Muamalat Indonesia masih menggunakan standar
akuntansi konvensional yang belum sesuai dengan prinsip syariah. Sedangkan
Abdullah et.al (2011) melakukan penelitian mengenai pengungkapan pelaporan
tanggung jawab sosial yang berfokus pada laporan Dewan Pengawas Syariah dan
pelaporan zakat pada bank syariah di Indonesia dan Malaysia. Hasilnya
pengungkapan yang dilakukan oleh bank syariah di kedua negara masih terbatas.
Widiawati dan Raharja (2012) melakukan penelitian mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi Islamic Social Reporting perusahaan yang terdapat
pada daftar efek syariah tahun 2009-2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ukuran perusahaan, profitabilitas, tipe industri dan jenis bank berpengaruh positif
signifikan terhadap ISR.
Faktor yang diduga mempengaruhi pengungkapan Islamic Social
Reporting antara lain adalah Cross-Directorship. Cross-Directorship

yaitu

direktur memangku kedudukan pada dua atau lebih perusahaan. Menurut Dahya et
al. (1996) dalam Haniffa dan Cooke (2000), cross-directorship akan membuat
informasi menjadi lebih transparan karena digunakan sebagai perbandingan dari
pengetahuan organisasi lain.
Faktor lain yang diduga mempengaruhi ISR adalah Profesionalitas Dewan
Pengawas Syariah. Profesionalitas Dewan Pengawas Syariah adalah kompetensi
dari

Dewan

Pengawas

Syariah

Menurut

Peraturan

Bank

Indonesia

No.11/33/PBI/2009, Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang bertugas


memberikan nasihat dan saran kepada direksi serta mengawasi kegiatan bank agar
sesuai dengan prinsip syariah. Dewan Pengawas Syariah merupakan badan
independen internal yang berfungsi untuk melakukan pengawasan atas kepatuhan
terhadap aturan dan prinsip-prinsip syariah dalam keseluruhan aspek operasional
bank syariah.
Faktor berikutnya yang diduga mempengaruhi ISR adalah Reputasi Dewan
Pengawas Syariah. Reputasi Dewan Pengawas Syariah adalah apakah Dewan
Pengawas Syariah tersebut termasuk dalam Dewan Syariah Nasional.Farook dan
Lanis (2005) meneliti transparansi pengungkapan CSR perbankan syariah di
seluruh dunia. Penelitian tersebut menemukan bahwa Islamic Governance
(sebagai proksi corporate governance di bank Islam) terbukti berpengaruh positif
secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Dalam variabel
Islamic Governance tersebut dibahas mengenai Dewan Pengawas Syariah yang
turut mempengaruhi pengungkapan CSR. Sedangkan Rizkiningsih (2012) yang
meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengungkapan Islamic

Social Reporting pada bank syariah di Indonesia, Malaysia dan negara-negara


Gulf Cooperation Council menunjukkan bahwa Islamic Governance tidak
mempengaruhi pengungkapan ISR.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, Islamics social reporting (ISR) adalah
hal yang penting bagi perbankan syariah untuk memperlihatkan kepada
masyarakat menegenai kepatuhan bank dalam menjalankan prinsip syariah.
Penelitian ini dilakukan karena tidak konsistennya hasil dari penelitian-penelitian
terdahulu mengenai pengungkapan Islamic Social Reporting. Selain itu, penelitian
mengenai pengaruh Corporate Governance terhadap Islamic Social Reporting
masih sangat jarang dilakukan di Indonesia.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin mencoba menguji
pengaruh

Cross-directorship,

Profesionalitas

serta

Reputasi

terhadap

pengungkapan ISR pada perbankan syariah. Untuk membedakan dengan


penelitian yang lain, maka penulis menggunakan Cross-directorship Dewan
Pengawas Syariah, Profesinalitas Dewan Pengawas Syariah dan Reputasi Dewan
Pengawas Syariah sebagai variabel independen. Dimana semuanya termasuk
kriteria Dewan Pengawas Syariah yang memiliki tugas melakukan pengawasan
terhadap kegiatan perbankan syariah. Selain itu Dewan Pengawas Syariah
merupakan elemen CG yang hanya terdapat pada institusi keuangan syariah.
Kemudian digunakan Islamic Social Reporting (ISR) untuk mengukur CSR yang
diyakini sebagai standar pengungkapan CSR yang sesuai dengan perspektif Islam.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul Pengaruh Cross-directorship,Profesionalitas dan
9

Reputasi Dewan Pengawas Syariah terhadap Pengungkapan Islamic Social


Reporting pada Perbankan Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah di
Indonesia.

1.2

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang terdapat pada latar belakang masalah, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini :
1.

Apakah Cross-directorship, Profesionalitas, dan Reputasi Dewan Pengawas


Syariah dapat mempengaruhi pengungkapan Islamic Social Reporting (ISR)
perbankan umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia?

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan pokok permasalahan di atas, maka yang menjadi tujuan

penelitian ini adalah sebagai berikut:


1.

Mengetahui

Cross-directorship,Profesionalitas

dan

Reputasi

Dewan

Pengawas Syariah berpengaruh terhadap pengungkapan Islamic Social


Reporting perbankan umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia.

1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat dianntaranya:
10

Manfaat Teoritis

Memberikan kontribusi dalam pengembangan akuntansi mengenai bagaimana


Cross-directorship, Profesionalitas dan Reputasi Dewan Pengawas Syariah
dapat mempengaruhi pengungkapan Islamic Social Reporting dalam laporan
tahunan perbankan umum syariah dan unit usaha syariah di Indonesia.
2 Bagi Akademisi
Dapat
menambah

dan

mengembangkan

wawasan

dan

pengetahuan menegenai penerapan good corporate governance


pada laporan tahunan perbankan syariah dan unit usaha syariah di
Indonesia.

3 Bagi Regulator
Sebagai penambah informasi bagi pengguna jasa perbankan syariah untuk
dapat mengetahui penerapan good corporate governance dan pelaporan
Islamic Social Reporting perbankan syariah dan unit usaha syariah di
Indonesia.

4. Bagi Peneliti Selanjutnya


Dapat memberikan sumber

rujukan

dalam

pengembangan

penelitian mengenai pengungkapan Islamic Social Reporting yang


dilakukan oleh perusahaan.

1.5 Sistematika Penulisan


Skripsi ini terdiri dari lima bab yang saling berhubungan antara bab yang
satu dengan bab yang lainnya dan disusun secara terperinci untuk memberikan

11

gambaran dan mempermudah pembahasan. Sistematika dari masing-masing bab


dapat diperinci sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika pembahasan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini membahas teori secara terperinci mengenai landasan teori tentang
konsep teori seperti teori legitimacy , corporate social responsibility, good
corporate governance, cross-directorship, profesionalitas, dan reputasi Dewan
Pengawas Syariah.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


Bab ini membahas mengenai populasi dan sempel penelitian, sumber data
dan teknik pengumpulan data, variabel penelitian dan pengukuran, model
penelitian, hipotesa operasional serta metode analisis yang digunakan dalam
penelitian.

BAB IV ANALISIS DATA

12

Bab ini membahas mengenai hasil penelitian berdasarkan data-data yang


telah dikumpulkan, pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan dana analisis
hasil pengujian.

BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian yang sudah dilakakukan,
implikasi penelitian, keterbatasan dan saran penelitian yang selanjutnya

13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori

2.1.1 Teori Legitimasi


Legitimasi masyarakat merupakan faktor yang dianggap penting penting
bagi perusahaan untuk terus bertahan dan mengembangkan perusahaan ke depan.
ODonovan (Hadi, 2011:87) menyatakan bahwa legitimasi organisasi dapat dilihat
sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang
diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat.
Organisasi memainkan peranan penting dalam masyarakat dan mempunyai
tanggung jawab untuk diakui keberadaannya di dalam masyarakat (Farook dan
Lanis 2005). Perubahan nilai dan norma sosial dalam masyarakat sebagai
konsekuensi perkembangan peradaban manusia, juga menjadi motivator
perubahan legitimasi perusahaan disamping juga dapat menjadi tekanan bagi
legitimasi perusahaan (Lindblom dalam Hadi, 2011:88).
Gray et.al, (Hadi, 2011:88)berpendapat bahwa legitimasi merupakan:
.....a systems-oriented view of organization and societypermits us
to focus on the role of information and disclosure in the relationship
between organizations, the state, individuals and group.
Dari definisi tersebut diketahui bahwa legitimasi adalah sistem
pengelolaan perusahaan yang berorientasi pada keberpihakan terhadap masyarakat
(society), pemerintah individu dan kelompok masyarakat. Untuk itu, sebagai suatu
14

sistem yang mengedepankan keberpihakan kepada society, operasi perusahaan


harus kongruen dengan harapan masyarakat.

Dowling dan Pfeffer (Hadi, 2011:91) menyatakan bahwa terdapat dua


dimensi agar perusahaan memperoleh dukungan legitimasi, yaitu: (1) aktivitas
organisasi perusahaan harus sesuai (congruence) dengan sistem nilai di
masyarakat; (2) pelaporan aktivitas perusahaan juga hendaknya mencerminkan
nilai sosial.
Dengan mengungkapkan CSR, diharapkan perusahaan akan memperoleh
legitimasi sosial dan memaksimalkan kekuatan keuangannya dalam jangka
panjang (Kiroyan dalam Sayekti dan Wondabio, 2007). Pengungkapan informasi
CSR dalam laporan tahunan merupakan salah satu cara perusahaan untuk
membangun, mempertahankan, dan meligitimasi kontribusi perusahaan dari sisi
ekonomi dan politis (Guthrie dan Parker dalam Sayekti dan Wondabio, 2007).
Pattern (Hadi, 2011:92) menyatakan bahwa upaya yang perlu dilakukan
oleh perusahaan dalam rangka mengelola legitimasi agar efektif, yaitu dengan
cara:
1.

Melakukan identifikasi dan komunikasi/dialog dengan publik.

2.

Melakukan komunikasi dialog tentang masalah nilai sosial kemasyarakatan


dan lingkungan, serta membangun persepsinya tentang masyarakat.

3.

Melakukan strategi legitimasi dan pengungkapan, terutama terkait dengan


masalah tanggung jawab sosial (social responsibility).
Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa teori legitimasi adalah salah

15

satu teori yang mendasari pengungkapan CSR. Teori legitimasi dapat digunakan
untuk menjelaskan keterkaitan antara struktur good corporate governance, dalam
hal ini adalah dewan komisaris dan Dewan Pengawas Syariah dengan
pengungkapan CSR perbankan syariah. Dewan komisaris dan Dewan Pengawas
Syariah dapat mendorong manajemen, selaku pelaksana operasi perusahaan untuk
mengungkapkan CSR agar regulasi dari BI terpenuhi serta menjalankan fungsi
bank syariah yang turut mengupayakan kesejahteraaan ekonomi bagi masyarakat.
Penggunaan teori legitimasi dalam penelitian ini memiliki implikasi bahwa
program CSR dilakukan perusahaan dengan harapan untuk mendapatkan nilai
positif dan legitimasi dari masyarakat. Ini berarti apabila perusahaan mendapatkan
legitimasi dari masyarakat, maka perusahaan dapat terus bertahan dan
berkembang di tengah-tengah masyarakat serta mendapatkan keuntungan pada
masa datang.

2.2

Corporate Social Responsibility (CSR)

2.2.1 Pengertian dan Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)


Akhir-akhir ini publik menginginkan adanya transparansi dan akuntabilitas
perusahaan sebagai bentuk penerapan Good Corporate Governance (GCG).
Penerapan CSR merupakan salah satu bentuk implementasi dari GCG, yang
sekarang ini menjadi trend terkait dengan isu tentang lingkungan.
Program CSR menjadi penting saat perusahaan melakukan eksploitasi
sumber daya baik itu besar maupun kecil. Dengan adanya eksploitasi itu maka
perusahaan harus memikirkan tanggung jawab kepada masyarakat dan lingkungan

16

sehingga ada keseimbangan.


Ada banyak definisi tentang CSR, The World Business Council for
Sustainable Development (WBCSD) yang merupakan lembaga internasional
mendefinisikan CSR sebagai berikut:
Corporate Social Responsibility is the continuing commitment by
business to behave ethically and contribute to economic development
while improving the quality of life of the workface and their families as
well as of the local community and society at large.
Dari definisi tersebut, tanggung jawab sosial perusahaan merupakan suatu
komitmen berkelanjutan kalangan bisnis untuk berperilaku etis dan memberikan
kontribusi bagi pembangunan ekonomi, melalui kerja sama dengan karyawan,
keluarga mereka, komunitas setempat serta masyarakat luas untuk meningkatkan
kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat.
Post (Hadi, 2011:61) menyatakan bahwa ragam tanggung jawab
perusahaan terdiri dari tiga dimensi, yaitu: (1) economic responsibility; (2) legal
responsibility; dan (3) social responsibility.
Economic

responsibility,

keberadaan

perusahaan

ditujukan

untuk

meningkatkan nilai bagi shareholder, seperti: meningkatkan keuntungan (laba),


harga saham, pembayaran dividen, dan jenis lainnya. Di samping itu, perusahaan
juga perlu meningkatkan nilai bagi para kreditur, yaitu kepastian perusahaan dapat
mengembalikan pinjaman berikut interest yang dikenakan.
Legal responsibility, sebagai bagian anggota masyarakat, perusahaan
memiliki tanggung jawab mematuhi peraturan perundangan yang berlaku.
Termasuk, ketika perusahaan sedang menjalankan aktivitas operasi, maka harus
dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan perundangan.
17

Social responsibility, merupakan tanggungjawab perusahaan terhadap


lingkungan dan para pemangku kepentingan. Social responsibility menjadi satu
tuntutan ketika operasional perusahaan mempengaruhi pihak eksternal, terutama
ketika terjadi externalities dis-economic.
Perusahaan berusaha memberikan kontribusinya terhadap lingkungan dan
sosial kedalam operasinya melalui CSR. Darwin (Anggraini 2006) menyatakan
bahwa operasi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan tidak hanya berkomitmen
dengan ukuran keuntungan secara finansial saja, tetapi juga harus berkomitmen
pada pembangunan sosial ekonomi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
David (Hadi, 2011:59) menguraikan prinsip-prinsip tanggung jawab sosial
(social responsibility) menjadi tiga, yaitu:
1.

Sustainability, berkaitan dengan bagaimana perusahaan dalam melakukan


aktivitas (action) tetap memperhitungkan keberlanjutan sumberdaya di masa
depan. Keberlanjutan juga memberikan arahan bagaimana penggunaan
sumberdaya

sekarang

tetap

memperhatikan

dan

memperhitungkan

kemampuan generasi masa depan. Dengan demikian, sustainability berputar


pada keberpihakan dan upaya bagaimana society memanfaatkan sumberdaya
agar tetap memeperhatikan generasi masa datang.
2.

Accountability, adalah upaya perusahaan terbuka dan bertanggungjawab atas


aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibutuhkan, ketika aktiivitas
perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. Konsep ini
menjelaskan pengaruh kuantitatif aktivitas perusahaan terhadap pihak internal
dan eksternal.

18

3.

Transparency, merupakan prinsip yang penting bagi pihak eksternal.


Transparansi berperan mengurangi asimetri informasi, kesalahpahaman,
khususnya informasi dan pertanggung jawaban berbagai dampak dari
lingkungan.
Perkembangan pengungkapan CSR semakin berkembang sampai saat ini,

John Eklington (1997) mengemukakan konsep The Triple Bottom Line yang
menyatakan bahwa perusahaan harus memperhatikan 3P, yaitu tidak hanya
memikirkan profit tapi juga harus memberikan kontribusi pada masyarakat
(people) serta aktif dalam melestarikan lingungan (planet). Hadi (2011:56)
menyatakan bahwa konsep Triple Bottom Line telah mengaitkan antara dimensi
tujuan dan tanggung jawab, baik kepada shareholder maupun stakeholder.
Konsep CSR juga terdapat dalam Islam. Ahmad dalam Fitria dan Hartanti
(2010) menjelaskan bahwa lembaga yang menjalankan bisnisnya berdasarkan
syariah pada hakekatnya mendasarkan pada filosofi dasar Al Quran dan sunnah,
sehingga hal ini menjadikan dasar bagi pelakunya dalam berinteraksi dengan
lingkungan dan sesamanya.
Perbankan syariah merupakan salah satu lembaga bisnis yang menjalankan
operasionalnya sesuai syariah. Dusuki dan Dar (2005) menyatakan bahwa pada
perbankan syariah tanggung jawab sosial sangat relevan untuk dibicarakan
mengingat beberapa faktor yaitu perbankan syariah berlandaskan syariah yang
beroperasi dengan landasan moral, etika dan tanggung jawab sosial dan adanya
prinsip atas ketaaatan pada perintah Allah dan khalifah.
Menurut AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic

19

Financial Institutions), CSR dalam perspektif Islam adalah segala kegiatan yang
dilakukan institusi finansial Islam untuk memenuhi kepentingan religius,
ekonomi, hukum, etika dan discretionary responsibilities sebagai lembaga
finansial intermediary baik itu bagi individu maupun bagi institusi. Tanggung
jawab religius yaitu kewajiban bagi institusi finansial Islam untuk mematuhi
hukum Islam pada semua kegiatan operasionalnya. Tanggung jawab ekonomi
yaitu kewajiban bank syariah untuk mematuhi kelayakan ekonomi secara efisien
dan menguntungkan. Tanggung jawab hukum yaitu kewajiban institusi finansial
Islam untuk mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku di negara beroperasinya
institusi tersebut. Tanggung jawab etika yaitu menghormati masyarakat, norma
agama dan kebiasaan yang tidak diatur dalam hukum.

Discretionary

responsibilities mengacu pada ekspektasi yang diharapkan oleh pemegang saham


bahwa institusi finansial Islam akan melaksanakan peran sosialnya dalam
mengimplementasikan cita-cita Islam.

2.2.2 Islamic Social Reporting (ISR)


Saat ini tuntutan publik agar perusahaan melakukan dan mengungkapkan
CSR cukup tinggi, ini terjadi karena kesadaran masyarakat mengenai pentingnya
CSR. Seperti dikemukakan oleh Fitria dan Hartanti (2010) bahwa tanggung jawab
sosial (CSR) merupakan wacana yang makin umum dalam dunia bisnis di
Indonesia, dimana fenomena ini dipicu oleh semakin mengglobalnya tren
mengenai praktek CSR dalam bisnis.
Anggraini (2006), menyatakan bahwa tuntutan terhadap perusahaan untuk
20

memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel, serta tata


kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) memaksa perusahaan
untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya.
Kewajiban pengungkapan CSR di Indonesia telah diatur dalam beberapa
regulasi, antara lain pernyataan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang
menyarankan perusahaan agar mengungkapkan tanggung jawab mengenai sosial
dan lingkungan sebagaimana dituangkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) nomor1 (Revisi 1998) Paragraf kesembilan:
Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti
laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (added
value statement), khusunya bagi industri dimana faktor-faktor
lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang
menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan
yangmemegang perananpenting.
Pemerintah Indonesia turut mendukung praktik dan pengungkapan CSR
yaitu dengan mengeluarkan regulasi tentang tanggung jawab sosial (social
responsibility) sebagaimana dimuat dalam Undang-undang No. 40 tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas Pasal 66 dan Pasal 74. Pada pasal 66 ayat (2) bagian c
disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga
diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Sedangkan dalam pasal 74 menjelaskan kewajiban untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan
dengan sumber daya alam. Selain itu, kewajiban pelaksanaan CSR juga diatur
dalam Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 tahun 2007 pasal 15 bagian b,
pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setiap penanaman modal diwajibkan untuk
ikut serta dalam tanggung jawab sosial perusahaan.
21

Praktek CSR umumnya dilakukan oleh perusahaan manufaktur maupun


pertambangan. Akan tetapi karena CSR telah menjadi trend global, maka
perbankan juga ikut melaksanakan program CSR. Program CSR tidak hanya
dilakukan oleh perbankan konvensional, tetapi dilakukan juga oleh perbankan
syariah.
Perkembangan yang pesat dari perbankan syariah di Indonesia membuat
pemerintah perlu mengeluarakan regulasi mengenai CSR khusus bagi perbankan
syariah. Regulasi tersebut adalah UU No. 21 tahun 2008 tentang perbankan
syariah. Pada pasal 4 ayat (1) dinyatakan bahwa bank syariah dan Unit Usaha
Syariah (UUS) wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana
masyarakat. Selanjutnya ayat (2) dijelaskan bahwa bank syariah dan UUS dapat
menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga baitul mal, yaitu menerima dana
yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah atau dana sosial lainnya dan
menyalurkannya kepada organisasi pengelola zakat. Kemudian pada ayat (3)
disebutkan bahwa bank syariah dan UUS dapat menghimpun dana sosial yang
berasal dari wakaf uang dan menyalurkannya kepada pegelola wakaf (nazir)
sesuai dengan kehendak pemberi wakaf (wakif).
Menurut Setiawan (2009), bahwa selain penghimpunan dan penyaluran
zakat dan wakaf, bank syariah juga memiliki produk pembiayaan qard (dana
kebajikan). Produk ini juga dapat dikategorikan sebagai wujud tanggung jawab
sosial bank syariah yang tidak dapat diperoleh dari bank konvensional.
Standar pengungkapan CSR yang berkembang di Indonesia mengacu pada
standar yang dikembangkan oleh GRI (Global Reporting Initiatives). Ikatan

22

Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Manajemen (IAI-KAM) atau


sekarang dikenal Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) merujuk standar
yang dikembangkan oleh GRI dalam pemberian penghargaan Indonesia
Sustainability Report Award (ISRA) kepada perusahaan-perusahaan yang ikut
serta dalam membuat laporan keberlanjutan atau sustainability report. Standar
GRI dipilih karena memfokuskan pada standar pengungkapan berbagai kinerja
ekonomi, sosial dan lingkungan perusahaan dengan tujuan untuk meningkatkan
kualitas, rigor, dan pemanfaatan sustainability reporting.
Terkait dengan adanya kebutuhan mengenai pengungkapan tanggung
jawab sosial pada perbankan syariah, peneliti-peneliti ekonomi syariah saat ini
banyak yang menggunakan Islamic Social Reporting Index (ISR) untuk mengukur
CSR institusi keuangan syariah. Indeks ISR diyakini dapat menjadi pijakan awal
dalam hal standar pengungkapan CSR yang sesuai dengan perspektif Islam.
Menurut Fitria dan Hartanti (2010) Indeks ISR adalah indeks yang berisi
item-item standard CSR yang ditetapkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institutions) yang kemudian dikembangkan
lebih lanjut oleh peneliti-peneliti mengenai item-item CSR yang seharusnya
diungkapkan oleh suatu entitas Islam.
Indeks ISR pertama kali dikembangkan oleh Haniffa (2002) yang
kemudian dikembangkan oleh Othman et al. (2009). Haniffa (2002) menyatakan
bahwa terdapat keterbatasan pada kerangka pelaporan sosial yang dilakukan oleh
lembaga konvensional sehingga ia mengemukakan kerangka konseptual Islamic
Social Reporting.

23

Social reporting adalah perluasan dari sistem pelaporan keuangan yang


merefleksikan perkiraan yang baru dan yang lebih luas dari masyarakat
sehubungan dengan peran komunitas bisnis dalam perekonomian (Haniffa, 2002).
Menurut Maali (2006) ada beberapa hal yang penting dalam social
reporting dalam perspektif Islam yaitu pemahaman mengenai akuntabilitas,
keadilan sosial dan kepemilikan sosial. Akuntabilitas sangat dipengaruhi oleh
antara hubungan individu perusahaan dengan Allah. Hal ini berdasarkan tauhid,
yang menegaskan bahwa segala sesuatu harus dipertanggungjawabkan kepada
Allah SWT dan segala sesuatu yang dilakukan harus sesuai dengan perintah-Nya.
Keadilan sosial yang dimaksud Maali (2006) adalah berlaku adil kepada siapa
pun. Konsep keadilan sosial meliputi keadilan kepada karyawan, pelanggan dan
seluruh anggota masyarakat dimana perusahaan beroperasi. Kemudian yang
penting dalam ISR adalah konsep kepemilikan. Islam mengakui adanya
kepemilikan individu, tetapi pada hakekatnya segala sesuatu adalah milik Allah
SWT sehingga pemilik bertanggung jawab menggunakan sumber daya yang
dimilikinya sesuai perintah Allah SWT dan bertujuan memberikan manfaat bagi
ummat.
Penelitian ini menggunakan indeks Islamic Social Reporting yang
digunakan oleh Maali (2006) dengan beberapa penyesuaian.
Indeks ISR dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tema. Tema yang
Tersebut meliputi Opini syariah tentang transaksi haram, zakat , Quard Hassan,
kegiatan amal dan sosial, karyawan , keterlambatan pembayaran dan klien yang
bangkrut, lingkungan, dan aspek lain yang menyangkut masyarakat secara

24

lengkapnya dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1
Indeks ISR Maali
Area

Pengungkapan

AAOIFI Keterangan

Opini shariah
tentang transaksi
yang haram

Laporan Dewan Pengawas


Syariah

Sifat/dasar transaksi yang


haram

Alasan melakukan transaksi


tersebut

Pendapat Dewan Pengawas


Syariah tentang keperluan
transaksi tersebut

Jumlah pendapatan dan biaya


dari transaksi tersebut

Bagaimana bank
memperlakukan pendapatan
tersebut

Zakat (bagi bank


yang harus
membayar)

Pernyataan darimana
sumber dana zakat didapat
dan penggunaanya

Balance dari dana zakat


dan alasanya kenapa dana
tersebut nggak di
distribusikan

25

Laporannya
required by
AAOIFI termasuk
zakat dan keg amal

Pengesahan Dewan
N
Pengawas Syariah
mengenai perhitungan dana
zakat dan pendistribusinya
Zakat (bagi bank
yang tidak harus
membayar)

Nilai pada saat jatuh tempo


untuk saham dan deposito

Required by
AAOIFI. Sbg
standar laporan

Pendapat Dewan Pengawas Y


Syariah tentang validitas
perhitungan
Quard Hassan
( Peminjaman
Modal )

Kegiatan amal
dan sosial

Sumber dana yang di


alokasikan untuk untuk
Quard

Jumlah yang diberikan ke


penerima manfaat

Tujuan sosial yang ingin


dicapai dari pemberian
pendanaan tersebut

kebijakan bank
memberikan pinjaman
tersebut

kebijakan bank yang di


sepakati jika penerima
manfaat tersebut bangkrut

Sifat/dasar pembiayaan
kegiatan amal dan sosial

Jumlah biaya yang


dikeluarkan untuk aktivitas
amal dan sosial

26

Required by
AAOIFI. Bagian
dari laporan zakat

Sumber dana untuk


Y
pembiayaan aktivitas amal dan
sosial

Karyawan

Keterlambatan
pembayaran dan
klien yang
bangkrut

Kebijakan mengenai gaji dan


remunerasi

Kebijakan mengenai
pendidikan dan pelatihan untuk
karyawan

Kebijakan tentang kesempatan


yang sama

Kebijakan tentang lingkungan


pekerjaan

Kebijakan mengenai
kesepakatan dengan klien
yang bangkrut

Lihat
Required by
komentar AAOIFI. Khusus
untuk murabahah

Nilai yang dibebankan saat


akhir, jika ada
Opini Dewan Pengawas
Syariah tentang perizinan
adanya tambahan biaya
tambahan ( denda
keterlambatan
pembayaran )

Lingkungan

Jumlah dan sifat/dasar dari


donasi atau aktivitas yang
dijalankan untuk melindungi
lingkungan

27

Aspek lain yang


menyangkut
masyarakat

2.3

Proyek proyek yang dibiayai


oleh bank beresiko merusak
lingkungan

Peran bank dalam


pembangunan ekonomi

Peran bank dalam mengenai


masalah sosial

Good Corporate Governance (GCG)

2.3.1 Pengertian dan Konsep Good Corporate Governance (GCG)


Corporate Governance timbul karena kepentingan perusahaan untuk
memastikan kepada pihak penyandang dana (principal/investor) bahwa dana
yang ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien (Setyapurnama dan
Norpratiwi 2007). Tanpa adanya penerapan corporate governance yang efektif,
perbankan syariah akan sulit untuk bisa memperluas jaringan, meningkatkan
skim pembiayaan syariahnya dan menunjukkan kinerjanya dengan lebih efektif
(Saptia 2012).
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/33/PBI/2009 tentang
Pelaksanaan GCG bagi bank umum syariah dan unit usaha syariah, Good
Corporate Governance yang selanjutnya disebut GCG adalah suatu tata kelola
Bank yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas
(accountability), pertanggungjawaban (responsibility), profesional (professional),
dan kewajaran (fairness). Sedangkan Forum for Corporate Governance in
28

Indonesia (FCGI2001) mendefiniskan Corporate Governance sebagai berikut:


Seperangkatperaturan yang mengatur hubungan antara pemegang,
pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah,
karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal
lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau
dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan.
Tujuan Corporate Governance ialah untuk menciptakan nilai
tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders).
Hasan (Saptia 2012) mendefinisikan corporate governance dalam
perspektif Islam sebagai sistem yang mengarahkan dan mengendalikan
perusahaan dengan mengupayakan tercapaianya tujuan perusahaan melalui
perlindungan atas hak dan kepentingan semua stakeholder.
Salah satu bagian terpenting dalam GCG di perbankan adalah komitmen
penuh dari seluruh jajaran pengurus bank hingga pegawai yang terendah untuk
melaksanakan ketentuan tersebut. Oleh karena itu seluruh karyawan wajib untuk
menjunjung

tinggi

prinsip

GCG

yang

menganut

prinsip

keterbukaan

(transparency), memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan


ukuran-ukuran yang konsisten dengan corporate values, sasaran usaha dan
strategi bank sebagai pencerminan akuntabilitas bank (accountability), berpegang
pada prudential banking practices dan menjamin dilaksanakannya ketentuan yang
berlaku sebagai wujud tanggung jawab bank (responsibility), objektif dan bebas
dari tekanan pihak manapun dalam pengambilan keputusan (independency), serta
senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders berdasarkan azas
kesetaraan dan kewajaran (fairness) atau biasa disingkat dengan TARIF (Komite
Nasional Kebijakan Governance, 2006).
Lebih

lanjut

Komite

Nasional
29

Kebijakan

Governance

(KNKG)

menjelaskan bahwa dalam hubungan dengan prinsip tersebut bank perlu


memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1.

Keterbukaan (Transparency)
a. Bank harus mengungkapkan informasi secara tepat waktu, memadai,
jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh
stakeholders sesuai dengan haknya.
b. Informasi yang harus diungkapkan meliputi tapi tidak terbatas pada halhal yang bertalian dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi
perusahaan, kondisi keuangan, susunan dan kompensasi pengurus,
pemegang saham pengendali, cross shareholding, pejabat eksekutif,
pengelolaan

risiko

(risk

management),

sistem

pengawasan

dan

pengendalian intern, status kepatuhan, sistem dan pelaksanaan GCG serta


kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi bank.
c. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh bank tidak mengurangi kewajiban
untuk memenuhi ketentuan rahasia bank sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, rahasia jabatan, dan hak-hak pribadi.
d. Kebijakan bank harus tertulis dan dikomunikasikan kepada pihak yang
berkepentingan (stakeholders) dan yang berhak memperoleh informasi
tentang kebijakan tersebut.
2.

Akuntabilitas (Accountability)
a. Bank harus menetapkan tanggung jawab yang jelas dari masing-masing
organ organisasi yang selaras dengan visi, misi, sasaran usaha dan strategi
perusahaan.

30

b. Bank harus meyakini bahwa semua organ organisasi bank mempunyai


kompetensi sesuai dengan tanggung jawabnya dan memahami perannya
dalam pelaksanaan GCG.
c. Bank harus memastikan terdapatnya check and balance system dalam
pengelolaan bank.
d. Bank harus memiliki ukuran kinerja dari semua jajaran bank berdasarkan
ukuran-ukuran yang disepakati konsisten dengan nilai perusahaan
(corporate values), sasaran usaha dan strategi bank serta memiliki
rewards and punishment system.
3.

Tanggung Jawab (Responsibility)


a. Untuk menjaga kelangsungan usahanya, bank harus berpegang pada
prinsip kehati-hatian (prudential banking practices) dan menjamin
dilaksanakannya ketentuan yang berlaku.
b. Bank harus bertindak sebagai good corporate citizen (perusahaan yang
baik) termasuk peduli terhadap lingkungan dan melaksanakan tanggung
jawab sosial.

4.

Independensi (Independency)
a. Bank harus menghindari terjadinya dominasi yang tidak wajar oleh
stakeholder manapun dan tidak terpengaruh oleh kepentingan sepihak
serta bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest).
b. Bank dalam mengambil keputusan harus obyektif dan bebas dari segala
tekanan dari pihak manapun.

5.

Kewajaran (Fairness)

31

a. Bank harus senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh stakeholders


berdasarkan azas kesetaraan dan kewajaran (equal treatment).
b. Bank harus memberikan kesempatan kepada seluruh stakeholders untuk
memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan
bank serta mempunyai akses terhadap informasi sesuai dengan prinsip
keterbukaan.
Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang
transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin
bagus semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai
aktivitas sosialnya (Anggraini 2006). Berikut adalah manfaat yang diperoleh
apabila menerapkan GCG, yaitu:
1.

Mengurangi agency cost, yaitu suatu biaya yang harus ditanggung pemegang
saham sebagai akibat pendelegasian wewenang kepada pihak manajemen.
Biaya-biaya ini dapat berupa kerugian yang diderita perusahaan sebagai
akibat penyalahgunaan wewenang (wrong doing), ataupun berupa biaya
pengawasan yang timbul untuk mencegah terjadinya hal tersebut.

2.

Mengurangi biaya modal (cost of capital), yaitu sebagai dampak dari


pengelolaan perusahaan yang baik tadi menyebabkan tingkat bunga atas dana
atau sumber daya yang dipinjam oleh perusahaan semakin kecil seiring
dengan turunnyatingkat resiko perusahaan.

3.

Meningkatkan nilai saham perusahaan sekaligus dapat meningkatkan citra


perusahaan tersebut kepada publik luas dalam jangka panjang.

4.

Menciptakan dukungan para stakeholder (para pihak yang berkepentingan)

32

dalam

lingkungan

perusahaan

tersebut

terhadap

keberadaan

dan

berbagaistrategi dan kebijakan yang ditempuh perusahaan, karena umumnya


mereka mendapat jaminan bahwa mereka juga mendapat manfaat maksimal
dari segala tindakan dan operasi perusahaan dalam menciptakan kemakmuran
dan kesejahteraan (www.madani-ri.com).
Manfaat GCG bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga dalam jangka
panjang. FCGI (2001) juga menjelaskan manfaat yang akan diperoleh apabila
menerapkan GCG, yaitu:
1.

Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan


keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan
serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.

2.

Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga


dapat lebih meningkatkan corporate value.

3.

Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di


Indonesia.

4.

Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena


sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen.

2.3.2 Implementasi Good Corporate Governance (GCG)


Dalam penerapan GCG di Indonesia, seluruh pemangku kepentingan turut
berpartisipasi. Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG)
yang diawal tahun 2005 di ubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance
telah menerbitkan pedoman GCG pada bulan Maret 2011 (Kaihatu 2006).
KNKCG

berpendapat

bahwa

perusahaan-perusahaan

33

di

Indonesia

mempunyai tanggung jawab untuk menerapkan standar GCG yang telah


diterapkan di tingkat internasional. Namun, walau menyadari pentingnya GCG,
banyak pihak yang melaporkan masih rendahnya perusahaan yang menerapkan
prinsip tersebut. Masih banyak perusahaan menerapkan prinsip GCG karena
dorongan regulasi dan menghindari sanksi yang ada dibandingkan yang
menganggap prinsip tersebut sebagai bagian dari kultur perusahaan. Selain itu,
kewajiban penerapan prinsip GCG seharusnya mempunyai pengaruh yang positif
terhadap kualitas laporan keuangan yang dipublikasikan.

Perbankan Syariah memiliki peraturan tersendiri mengenai pelaksanaan


good corporate governance, yaitu Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor
11/33/PBI/2009. Terbitnya peraturan ini diharapkan mampu memperkuat industri
perbankan syariah menjadi industri yang sehat dan tangguh. Kemudian peraturan
ini juga memperjelas bahwa pelaksanaan GCG di dalam industri perbankan
syariah berbeda dengan pelaksanaan GCG di perbankan konnvensional, dimana
pelaksanaan GCG perbankan syariah harus memenuhi prinsip syariah (Sharia
Compliance). Dengan dilaksanakannya GCG di perbankan syariah diharapkan
mampu melindungi kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan
terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku secara umum pada industri
perbankan syariah.
Menurut Choudhury dan Hoque (Saptia 2012), terdapat empat prinsip dan
instrumen yang mengatur tata kelola perusahaan, yaitu Tauhid melalui (1) proses
interaktif, integratif dan evolusi untuk berinteraksi dengan faktor lingkungan; (2)

34

prinsip keadilan; (3) prinsip sumber daya yang produktif dalam sosial; dan (4)
prinsip kegiatan ekonomi.
Isfandayani (2012) menyatakan bahwa GCG mempunyai pilar-pilar
mekanisme supaya sistem GCG efektif. Pilar-pilar tersebut adalah:
a.

Peran dan tanggung jawab DPS harus dioptimalkan untuk memberikan


keyakinan bahwa seluruh transaksi yang dilakukan oleh perusahaan tidak
melanggar kaidah-kaidah syariah.

b.

Bank syariah harus memiliki sistem pengawasan internal dan manajemen


resiko yang tangguh untuk mendeteksi dan menghindari terjadinya salah
kelola dan penipuan maupun kegagalan sistem dan prosedur pada bank
syariah.

c.

Dalam konteks syariah, auditor eksternal tidak saja berperan untuk


memberikan opini bahwa laporan keuangan bank telah disajikan secara wajar
sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Auditor eksternal juga harus
bekerjasama dan mengorelasikan pekerjaannya dengan DPS dan auditor
internal untuk mendapatkan keyakinan bahwa penyajian laporan keuangan
telah memiliki tingkat pengungkapan dan transparansi yang memadai.

d.

Transformasi budaya korporasi yang Islami dan peningkatan kualitas SDM


harus menjadi komitmen bagi manajemen bank syariah.

e.

Perangkat hukum dan peraturan Bank Indonesia dan pasar modal yang sesuai
dengan karakteristik bank syariah menjadi prasyarat guna terciptanya iklim
pengawasan dan GCG yang sehat bagi perbankan syariah.
Mustapha dan Salleh (Saptia 2012) menyatakan bahwa konsep corporate

35

governance dalam perspektif Islam lebih menekankan pada tiga prinsip


governance yang paling utama, yaitu adanya akuntabilitas, transparansi dan
kepercayaan dalam tata kelola perusahaan.

2.4

Cross-directorship
Cross-directorship berarti Dewan Pengawas Syariah yang memangku

kedudukan pada dua atau lebih perusahaan. Menurut Dahya et al. (1996) dalam
Haniffa dan Cooke (2000), cross-directorship akan membuat informasi menjadi
lebih transparan karena digunakan sebagai perbandingan dari pengetahuan
organisasi lain.
Hashim dan Devi (2007) menemukan hubungan positif signifikan antara
proporsi dewan yang memiliki cross-directorship (governance expertise) dengan
earnings quality. Gul dan Leung (2000) juga menemukan bahwa independent
director yang berkualitas, dalam hal ini memiliki cross directorship, mampu
mengeliminasi pengaruh tidak signifikan antara independent director dengan
pengungkapan voluntary disclosure. Penggunaan komisaris independen yang
memiliki crossdirectorship akan memberikan keyakinan yang lebih tinggi dalam
pengungkapan voluntary disclosure (Tsui dan Gul, 2000).

2.5

Profesionalitas
Profesional adalah tingkat penguasaan dan pelaksanaan terhadap

knowledengane, skill, dan character. Seorang yang profesional akan mempunyai


tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut (Bernardi, 1994:68).
Perilaku profesional diperlukan bagi semua profesi, agar profesi yang telah
menjadi pilihannya mendapat kepercayaan dari masyarakat(Bonner and Lewis,
1990).
Karim (1990) menyatakan bahwa ada sejumlah persamaan mendasar
antara peran DPS dan akuntan publik, sehingga teori-teori profesionalisme
akuntan publik (auditor) dapat menjelaskan profesionalisme seoarang DPS.

36

Dimensi profesionalisme yang dikembangkan oleh Hall (1968) banyak


dilakukan oleh para peneliti untuk mengukur profesionalisme dari profesi auditor
intern yang tercermin dari sikap dan perilaku. Hall (1968) menjelaskan bahwa ada
hubungan timbal balik antara sikap dan perilaku, yaitu perilaku profesionalisme
adalah refleksi dari sikap profesionalisme dan demikian sebaliknya. Kelima
dimensi profesionalisme Hall (1968) adalah afiliasi komunitas (Community
affiliation), kebutuhan untuk mandiri (Autonomy demand), keyakinan terhadap
peraturan sendiri / profesi (Belief self regulation), dedikasi pada profesi
(Dedication) dan kewajiban sosial (Social obligation).
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan prinsip profesionalisme adalah
sebagai tingkat kompetensi seorang DPS dalam melakukan tugasnya. Mengacu
pada penelitian Bernardi (1994), Sawyer (2003), dan penelitian Hall (1968), dapat
diperkirakan

bahwa

meningkatnya

profesionalisme

seorang

DPS

akan

meningkatkan independensi dan hasil kerja DPS. Dengan kata lain independensi
mempengaruhi profesionalisme dan hasil kerja DPS.

2.6 Reputasi Dewan Pengawas Syariah


Dewan Syariah merupakan sebuah lembaga yang berperan
dalam menjamin ke-Islaman keuangan syariah di seluruh dunia.
Di Indonesia, peran ini dijalankan oleh Dewan Syariah Nasional
(DSN) yang dibentuk oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun
1998 dan dikukuhkan oleh SK Dewan Pimpinan MUI No. Kep754/MUI/II/1999 tanggal 10 Februari 1999.
Setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan

(UU

pengembangan

Perbankan
ekonomi

No.
dan

10

Tahun

keuangan

1998),

kegiatan

dan

syariah

semakin

giat

dilaksanakan, bahkan dalam UU Perbankan No. 10 Tahun 1998 telah


memuat ketentuan tentang aktivitas ekonomi berdasarkan prinsip
syariah. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi pertumbuhan pesat

37

aktivitas perekonomian yang berasaskan prinsip syariah. Termasuk


yang mendorong berdirinya beberapa lembaga keuangan syariah.
Berdasarkan hal teresebut, muncullah gagasan untuk dibentuk
DSN, yang jauh sebelumnya memang sudah diwacanakan, tepatnya
pada tanggal 19-20 Agustus tahun 1990 ketika acara lokakarya dan
pertemuan yang membahas tentang bunga bank serta pengembangan
ekonomi rakyat yang akhirnya merekomendasikan kepada pihak
pemerintah agar memfasilitasi pendirian bank berdasarkan prinsip
syariah. Sehingga pada 14 Oktober 1997 diselenggarakan lokakarya
ulama tentang Reksadana Syariah, dan salah satu rekomendasinya
adalah pembentukan DSN. Rekomendasi tersebut kemudian ditindak
lanjuti sehingga tersusunlah DSN secara resmi pada tahun 1998.
DSN adalah lembaga yang dibentuk oleh MUI yang secara
struktural berada dibawah MUI dan bertugas menangani masalahmasalah

yang

berkaitan

dengan

ekonomi

syariah,

baik

yang

berhubungan langsung dengan lembaga keuangan syariah ataupun


lainnya. Pada prinsipnya, pendirian DSN dimaksudkan sebagai usaha
untuk efisiensi dan koordinasi para ulama dalam menanggapi isu-isu
yang berhubungan dengan masalah ekonomi dan keuangan, selain itu
DSN juga diharapkan dapat berperan sebagai pengawas, pengarah dan
pendorong penerapan nilai-nilai prinsip ajaran islam dalam kehidupan
ekonomi.

Berdasarkan Keputusan Dewan Pimpinan MUI No. Kep 200/MUI/VI/2003


tentangPengembanganOrganisasidanKeanggotaanDewanSyariahNasional(DSN)
PeriodeTahun20102015:
Ketua

:K.H.MarufAmin

WakilKetua

:Dr.H.M.AnwarIbrahim

WakilKetua

:Prof.Dr.H.FathurrahmanDjamil,MA

WakilKetua

:Ir.H.AdiwarmanA.Karim,MBA,MAEP

Sekretaris

:Drs.H.M.IchwanSam

WakilSekretaris:Drs.ZainuttauhidSaadi,M.Si
38

WakilSekretaris:Dr.Hasanudin,M.Ag
WakilSekretaris:HKannyHidaya,SE,MA
Bendahara

:Dr.Ir.HM.NadratuzamanHosen,M.Ec

AnggotaKelompokKerjaPerbankandanPegadaian:

H.CecepMaskanulHakim,M.Ec

H.IkhwanA.Basri,MA,M.Sc

Dr.H.SetiawanBudiUtomo,Lc

Dr.KH.A.MalikMadani,MA

Prof.Drs.H.M.NaharNahrawi,SH,MM

AnggotaKelompokKerjaAsuransidanBisnis:

dr.H.EndyM.Astiwara,MA,AAAIJ

Drs.H.AminudinYakub,MA

AchmadSetyaRahmanta,SE

Ir.AgusHaryadi,AAAIJ,FIIS,ASAI

AminMusa,SE

Drs.H.Moh.Hidayat,MBA,MBL

AnggotaKelompokKerjaPasarModaldanProgram:

M.GunawanYasni,SE.Ak,MM

MuhammadTouriq,SE,MBA

IggiH.Ahsien,SE

Prof.Dr.JaihMubarok,M.Ag

YulizarJamaludinSanrego,MA

39

Dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/2/PBI/2009 (PBI) lebih


mempertegas lagi posisi Dewan Pengawas Syariah (DPS) bahwa setiap
usaha Bank Umum yang membuka Unit Usaha Syariah diharuskan
mengangkat DPS yang tugas utamanya adalah memberi nasihat dan
saran kepada direksi serta mengawasi kesesuaian syariah. Sedangkan
dalam ketentuan UUPS No. 21 Tahun 2008 tegas dinyatakan bahwa
DPS diangkat dalam rapat umum pemegang saham atas rekomendasi
MUI. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa DSN
merupakan lembaga satu-satunya yang diberi amanat oleh undangundang untuk menetapkan fatwa tentang ekonomi dan keuangan
syariah, juga merupakan lembaga yang didirikan untuk memberikan
ketentuan hukum islam kepada lembaga keuangan syariah dalam
menjalanan aktivitasnya. Ketentuan tersebut sangatlah penting dan
menjadi dasar hukum utama dalam perjalanan operasinya. Tanpa
adanya ketentuan hukum, termasuk hukum islam, maka lembaga
keuangan syariah akan kesulitan dalam menjalankan aktivitasnya

Upaya untuk memastikan bahwa praktik-praktik dan kegiatan bank-bank


syariah tetap berada pada koridor etika Islam, bank syariah diharapkan untuk
membentuk Dewan Pengawas Syariah (Shariah Supervisory Board), yang terdiri
dari yurisprudensi Islam, yang bertindak sebagai penasihat kepada bank (Saptia
2012). Dewan Pengawas Syariah (DPS) dibentuk dengan tujuan untuk memenuhi
kepentingan stakeholder terhadap kepatuhan syariah. DPS terdiri dari para ahli
dalam bidang syariah yang mempunyai tanggung jawab untuk mengawasi
aktivitas perbankan syariah agar patuh pada aturan dan prinsip-prinsip syariah.
Menurut Peraturan Bank Indonesia No.11/33/PBI/2009, Dewan Pengawas
Syariah (DPS) adalah dewan yang bertugas memberikan nasihat dan saran kepada
Direksi serta mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip Syariah.
Jumlah anggota Dewan Pengawas Syariah menurut ketentuan GCG yang

40

ditetapkan UU No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas yaitu sekurangkurangnya sebanyak dua orang.
DPS merupakan komponen yang hanya dimiliki oleh perusahaan yang
dijalankan sesuai syariah Islam. Laporan DPS dibuat untuk meyakinkan
stakeholder bahwa perusahaan telah menjalankan aktivitas operasinya sesuai
dengan prinsip syariah.
Tugas dan Tanggung Jawab DPS diatur dalam Peraturan Bank Indonesia
No.11/33/PBI/2009 pada pasal 46 dan 47. Pada pasal 46, Dewan Pengawas
Syariah wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan prinsipprinsip GCG. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Dewan Pengawas Syariah
sebagaimana padaPasal 47 meliputi antara lain :
1.

Menilai dan memastikan pemenuhan Prinsip Syariah atas pedoman


operasional dan produk yang dikeluarkan Bank;

2.

Mengawasi proses pengembangan produk baru Bank agar sesuai dengan


fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia;

3.

Meminta fatwa kepada Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia


untuk produk baru Bank yang belum ada fatwanya;

4.

Melakukan review secara berkala atas pemenuhan Prinsip Syariah terhadap


mekanisme penghimpunan dana dan penyaluran dana serta pelayanan jasa
Bank; dan

5.

Meminta data dan informasi terkait dengan aspek syariah dari satuan kerja
Bank dalam rangka pelaksanaan tugasnya.
Sedangkan menurut Grais dan Pellegrini (Saptia 2012) peranan DPS pada

41

dasarnya meliputi lima bidang utama, yaitu:


1.

Memberikan izin mengenai instrument keuangan yang akan digunakan


melalui fatwa.

2.

Memastikan bahwa transaksi yang dilakukan sesuai fatwa yang dikeluarkan.

3.

Menghitung dan membayarkan zakat.

4.

Menghilangkan pendapatan yang tidak memenuhi ketentuan syariah.

5.

Member saran dan nasehat mengenai pembagian penghasilan dan


pengeluaran antara para pemegang saham dengan nasabah invenstor.
Berdasarkan uraian fungsi DPS di atas maka dapat dikatakan bahwa DPS

mempunyai peran dalam pengungkapan ISR perbankan syariah. Hal ini karena
DPS mempunyai wewenang mengawasi kepatuhan perusahaan terhadap prinsip
syariah, antara lain mengawasi kegiatan menyalurkan dana zakat, infak, sedekah
yang bisa diakui sebagai bentuk ISR perusahaan. Selain itu terdapat dana
kebajikan (qard) yang dapat dikategorikan sebagai ISR dan DPS memiliki
wewenang untuk mengawasi kegiatan ini.
Beberapa peneliti terdahulu menyertakan variabel Dewan Pengawas
Syariah dalam penelitiannya. Farook dan Lanis (2005) melakukan penelitian
tentang transparansi pengungkapan CSR perbankan syariah di seluruh dunia.
Penelitian tersebut menemukan bahwa Islamic Governance (sebagai proksi
corporate governance di bank Islam) terbukti berpengaruh positif secara
signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial. Di dalam variabel
Islamic Governance tersebut dibahas mengenai jumlah Dewan Pengawas Syariah,
dimana semakin banyak jumlah DPS dapat meningkatkan level pengungkapan.

42

Chariri (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh Islamic corporate


governance terhadap pengungkapan CSR pada bank syariah di Asia. Hasil
penelitian

menunjukkan

bahwa

Islamic

corporate

governance

terbukti

berpengaruh terhadap pengungkapan CSR pada bank syariah di Asia.


Keberhasilan DPS dalam menjalankan fungsinya dapat mempengaruhi
keyakinan stakeholder bahwa bank-bank syariah telah beroperasi berdasarkan
prinsip syariah (Saptia 2012). Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diambil
kesimpulan bahwa Dewan Pengawas Syariah yang termasuk Badan Pengawas
Syariah maka akan semakin efektif pengawasan terhadap prinsip syariah dan
pengungkapan ISR yang sesuai dengan syariah.

43

2.7

Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu tentang pengungkapan ISR masih sedikit. Penelitian tersebut memberikan hasil yang bermacam-macam. Berikut
adalah beberapa contoh penelitian terdahulu tentang ISR:
Pengarang

Judul

Variabel

Sampel
penelitian

Hasil kesimpulan

Assegaf,Y.U.,
Falikhatun.,
Wahyuni,S
(2013)

Bank Syariah
Di Indonesia:
Corporate
Governance

Indepeden :
Board
size,Crossdirectorship,Ma
nagerial
Ownership,own
ership diffusion

Seluruh
Bank Umum
Syariah dan
Unit usaha
Syariah dari
Bank Devisa
yang telah
ada di
Indonesia
sejak tahun
2002 dan
menerbitkan
Laporan
Keuangan
antara tahun
2007 2010.

pada bank syariah di board size tidak


berpengaruh pada variasi
pengungkapan ,tetapi berpengaruh
terhadap volume pengungkapan
informasi

Dan
Pengungkapa
n
Pertanggungj
awaban
Sosial Islami
(Islamic
Social
Responsibilit
y Disclosure)

Dependen :ISR

Islamic Social Responsibility, tidak


terdapat
pengaruh Cross-directorship terhadap
Islamic Corporate Social
Responsibility ,Managerial
Ownership
berpengaruh negatif signifikan
terhadap

44

variasi ISRDI, dan tidak berpengaruh


terhadap volume ISRWC, tidak
terdapat pengaruh ownership
diffussion
terhadap Islamic Corporate Social
Responsibility baik variasi maupun
volume pengungkapan

Khoirudin.A
(2013)

Rizkiningsih
(2012)

Pengaruh
Elemen
Good
Corporate
Governance
Terhadap
Pengungkapa
n ISR Pada
Perbankan
Syairah di
Indonesia

Indepeden:
Ukuran Dewan
Pengawas
Syariah, Ukuran
Dewan
Komisaris

Bank umum
syariah di
Indonesia

Ukuran dewan komisaris


berpengaruh positif terhadap
pengungkapan Islamic Social
Reporting perbankan syariah di
Indonesia, Ukuran Dewan Pengawas
Syariah tidak berpengaruh terhadap
pengungkapan Islamic Social
Reporting perbankan syariah di
Indonesia

Faktor
Faktor Yang
Mempengaru
hi
Pengungkapa

Indepeden:
tekanan politik
dan
pemerintah,juml
ah penduduk

Bank Syariah
di
Indonesia,M
alaysia, dan

Tekanan politik dan masyarakat dan


jumlah populasi muslim memiliki
pengaruh yang signifikan pada ISR,
Tekanan politik dan masyarakat dan
laverage memiliki pengaruh negatif
45

Widiawati dan
Raharja
(2012)

n Islamic
Social
Reporting
(ISR) :Studi
Empiris
terhadap
Bank Syariah
di
Indonesia,M
alaysia dan
negara Gulf
Coorperation
Council

muslim,islamic
governance
score,laverage,
profitabilitas

faktor-faktor
yang
mempengaru
hi Islamic
Social
Reporting
perusahaanperusahaan
yang terdapat
pada daftar
efek syariah
tahun 20092011

Indepeden:
ukuran
perusahaan,
profitabilitas,
tipe industri dan
jenis bank

Negara GCC

terhadap ISR, Jumlah populasi


muslim di suatu negara memiliki
pengaruh yang positif terhadap ISR,
Islamic governance score leverage
dan proitabilitas tidak mempengaruhi
ISR

perusahaanperusahaan
yang terdapat
pada daftar
efek syariah
tahun 20092011

ukuran perusahaan, profitabilitas, tipe


industri dan jenis bank terbukti
berpengaruh positif signifikan
terhadap ISR

Dependen:
pengungkapan
ISR

Dependen : ISR

46

Sofyani dkk
(2012)

Fitria dan
Hartanti
(2010)

ISR index
sebagai
model
pengukuran
kinerja sosial
perbankan
syariah (studi
komparasi
Indonesia
dan
Malaysia)

penelitian
komparatif

perbandingan
pengungkapa
n antara

Perbandingan
pengungkapan
antara global

independen :
ISR
dependen :
Kinerja Sosial

tiga bank
syariah
Indonesia
dan Malaysia
yaitu :Bank
Muamalat
Indonesia
(BMI), Bank
Syariah
Mandiri
(BSM), dan
Bank Mega
Syariah
(BMS), Bank
Muamalat
Malaysia
(BMM),
Bank Islam
Malaysia
(BIM), dan
Hong Leong
Islamic Bank
(HLIB)

rendahnya kinerja sosial perbankan


syariah di Indonesia dibandingkan
perbankan syariah di Malaysia.

Bank
konvensional
dan Bank

bank konvensional memiliki


pengungkapan yang lebih baik
daripada bank syariah, indeks GRI
47

Maali dkk
(2006)

global
reporting
initiative
index dengan
Islamic
Social
Reporting
index

reporting
initiative index
dengan Islamic
Social
Reporting index

Syariah

memiliki skor yang lebih baik


daripada indeks ISR, kemudian
secara garis besar indeks ISR cukup
mewakili indeks GRI

Pelaporan
Sosial oleh
Bank Islam

Indepeden:
Akuntabilitas,Ta
nggung jawab
sosial dan
keadilan,
Kepemilikan
dan kepercayaan

Seluruh
Bank Islam
di Dunia

Pelaporan bank syariah jauh dari


harapan peneliti, pelaporan sosial
oleh bank syariah tidak signifikan ,
bank bank diwajibkan untuk
membayar pajak dan zakat untuk
pengungkapan sosial yang lebih baik.

Dependen :
Pengungkapan
dalam konteks
Islam

48

2.8 Pengembangan Hipotesis


2.8.1

Pengaruh Cross-directorship
Cross-directorship berarti Dewan Pengawas Syariah yang memangku

kedudukan pada dua atau lebih perusahaan. Menurut Dahya et al. (1996) dalam
Haniffa dan Cooke (2000), cross-directorship akan membuat informasi menjadi
lebih transparan karena digunakan sebagai perbandingan dari pengetahuan
organisasi lain
Ketika kedudukan Dewan Pengawas Syariah hanya pada satu perusahaan
maka tidak akan terjadi distribusi informasi yang diperlukan. Selanjutnya Dewan
Pengawas Syariah tidak akan memperoleh informasi untuk mengevaluasi
manajemen dan informasi dari organisasi lain yang dapat

memberikan nilai

tambah, maka dari itu mempunyai kedudukan di satu perusahaan atau lain akan
membuat informasi yang lebih bagus.

Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


H1: Cross-directorship berpengaruh positif terhadap pengungkapan
Islamic Social Reporting perbankan umum syariah dan unit usaha syariah di
Indonesia

2.8.2

Pengaruh Profesionalitas
49

Profesional adalah tingkat penguasaan dan pelaksanaan terhadap


knowledengane, skill, dan character. Seorang yang profesional akan mempunyai
tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut (Bernardi, 1994:68).
Kompetensi amat sangatlah penting dalam tingkat penguasaan ilmu karena
didasari ilmu yang kuat maka karakter dan skill seseorang akan naik dengan
sendirinya karena di ikuti dengan perkembangan ilmu yang dia dapat.
Profesionalisme sebagai sikap dan perilaku seseorang dalam melakukan
profesi tertentu. Ia menyebutkan bahwa seorang yang profesional, di samping
mempunyai keahlian dan kecakapan teknis, harus mempunyai kesungguhan dan
ketelitian bekerja, mengejar kepuasan orang lain, keberanian menanggung risiko,
ketekunan dan ketabahan hati, integritas tinggi, konsistensi dan kesatuan pikiran,
kata dan perbuatan (Christian,1994).
Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H2: Profesionalitas berpengaruh positif terhadap pengungkapan


Islamic Social Reporting perbankan umum syariah dan unit
usaha syariah di Indonesia.
2.8.3

Pengaruh Reputasi Dewan Pengawas Syariah


Penelitian yang dilakukan Farook dan Lanis (2005) tentang transparansi

pengungkapan CSR perbankan syariah di seluruh dunia menemukan bahwa


Islamic Governance (sebagai proksi corporate governance di bank Islam) terbukti
berpengaruh positif secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab

50

sosial.
DSN adalah lembaga yang dibentuk oleh MUI yang secara
struktural berada dibawah MUI dan bertugas menangani masalahmasalah

yang

berkaitan

dengan

ekonomi

syariah,

baik

yang

berhubungan langsung dengan lembaga keuangan syariah ataupun


lainnya.
Jika Dewan Pengawas Syariah menajdi Anggota Dewan Syariah
Nasional maka mereka akan makin di percaya oleh para pembaca
laporan yang mereka buat, karena reputasi yang mereka punya sudah
terbukti.

Hipotesis yang di ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut


H3: Ukuran Dewan Pengawas Syariah berpengaruh positif terhadap
pengungkapan Islamic Social Reporting perbankan umum
syariah dan unit usaha syariah di Indonesia.
2.8.4 Model Penelitian
Cross
Directorship
Dewan
Pengawas
Profesinalitas
Dewan
Pengawas
Syariah
Reputasi Dewan
Pengawas
Syariah

H1(+)

Pengungkapan Islamic
Social Reporting pada
perbankan umum
syariah dan unit usaha
syariah.

H2(+)

H3(+
)

51

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1

Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bank umum syariah di

Indonesia yang berjumlah 11 unit bank. Unit analisis yang digunakan adalah
annual report bank umum syariah. Periode pengamatan dalam penelitian ini
adalah tahun 2012-2013. Pemilihan tahun ini didasarkan pada fakta bahwa
mayoritas bank umum syariah di Indonesia baru berdiri pada tahun 2010, jadi

52

annual report yang tersedia sangat terbatas, maka dilakukan pengamatan selama
dua tahun yaitu tahun 2012-2013.
Penentuan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu hanya
data yang memenuhi kriteria yang akan dijadikan sampel.
Kriteria kriteria yang digunakan dalam penelitian ini merujuk
pada kriteria yang digunakan dalam penelitian Khoirul,A. (2010) .
Kriterianya dalah sebagai berikut:

Bank Umum Syariah dibentuk sebelum 2010 serta sudah


terdaftar di Indonesia .

Unit Usaha Syariah yang dibentuk sebelum 2010 serta


sudah terdaftar di Indonesia

Bank umum syariah dan Unit Usaha Syariah yang menerbitkan


annual report tahun 2010-2014 yang dapat diakses dari website
masing-masing bank .

3.2

Sumber dan Metode Pengumpulan Data


Sumber data yang digunakan dalam penilitan ini adalah data sekunder.

Data sekunder tersebut bersumber pada laporan keuangan berupa annual report
dan laporan keuangan yang bisa di akses di masing- masing website bank
tersebut.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode dokumentasi, yaitu dengan cara mengumpulkan, mencatat, dan mengkaji
data sekunder yang berupa laporan keuangan auditan dan laporan tahunan (annual
report).

3.3

Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian


53

Variabel yang diteliti terdiri dari 4 (empat) variabel penelitian


yang diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Variabel dependen, terdiri dari: Pengungkapan ISR
2. Variabel
independen,terdiri
dari:
Cross-directorship,
Profesionalisme dan Reputasi Dewan Pengawas Syariah

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel


3.4.1

Variabel Terikat (Dependent Variable)


Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat pengungkapan

tanggung jawab sosial pada laporan tahunan perbankan umum syariah dan unit
usaha syariah yang diukur dengan nilai (score) dari indeks Islamic Social
Reporting (ISR). Nilai ISR diperoleh dari hasil content analysis. Pengukuran
dengan indeks ISR dipilih karena perusahaan yang diteliti adalah bank umum
syariah, jadi model pengukurannya lebih tepat apabila menggunakan indeks ISR
yang diyakini sesuai dengan perspektif Islam. Indeks ISR dalam penelitian ini
adalah indeks ISR yang digunakan dalam penelitian Maali (2006) dengan
beberapa penyesuaian. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam
melakukan content analysis (Maali 2006), adalah:
1) Membuat daftar ISR sesuai dengan Maali (2006) dengan beberapa
penyesuaian.
2) Memberi nilai pada setiap komponen ISR secara dikotomi, yaitu 1 apabila
komponen tersebut diungkapkan dan 0 apabila tidak diungkapkan.
3) Nilai yang diperoleh dari setiap perusahaan dijumlahkan untuk mendapatkan
nilai total dari indeks ISR.
54

3.4.2

Variabel Bebas (independent variable)

3.4.2.1 Cross-directorship
Cross-directorship yang dimaksud adalah jumlah anggota Dewan
Pengawas Syariah yang memangku kedudukan dua atau lebih . Menurut Dahya et
al. (1996) dalam Haniffa dan Cooke (2000), cross-directorship akan membuat
informasi menjadi lebih transparan.
Pengukuran variable ini dengan cara perhitungan skala ratio jumlah

Dewan Pengawas Syariah yang melakukan cross-directorship dibagi dengan


jumlah Dewan Pengawas Syariah.
Jumlah DPS yang melakukan Cross-directorship
Jumlah Dewan Pengawas Syariah
3.4.2.2 Profesionalisme
Profesionalisme yang dimaksud adalah kompetensi Dewan Pengawas
Syariah yang sudah menempuh progam Doktor karena di anggap memiliki
knowledge, skill, dan character. Seorang yang profesional akan mempunyai
tingkat tertentu pada ketiga bidang tersebut (Bernardi, 1994:68).
Pengukuran variable ini menggunakan skala ratio jumlah Dewan
Pengawas Syariah yang sudah mempunyai gelar Doktor dengan jumlah Dewan
Pengawas Syariah
DPS yang sudah bergelar Doktor , Ph.D (S3)
Jumlah Dewan Pengawas Syariah

3.4.2.3

Reputasi Dewan Pengawas Syariah


Reputasi Dewan Pengawas Syariah yang dimaksud adalah
55

Dewan Pengawas Syariah yang termasuk dalam Dewan Syariah


Nasional . Dewan Pengawas Syariah yang menjadi Anggota Dewan
Syariah Nasional maka mereka akan makin di percaya karena reputasi
yang mereka punya sudah terbukti di tingkat Nasional.

Pengukuran variable ini menggunakan variabel dummy jika perusahaan di


mempunyai Dewan Pengawas Syariah yang termasuk anggota Dewan Pengawas
Syariah diberi angka 1 dan perusahaan yang mempunyai Dewan Pengawas
Syariah tetapi tidak termasuk anggota Dewan Syariah Nasional diberi angka 0.
3.5 Metode Analisis
Penelitian ini menggunakan regresi ordinary least square (OLS) untuk
melihat hubungan pengungkapan laporan sosial perbankan umum syariah dan unit
usaha syariah, yang sesuai dengan prinsip Islam dengan variabel bebas crossdirectorship,profesionalitas dan reputasi Dewan Pengawas Syariah.

3.6

Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan deskripsi suatu data yang

dilihat dari rata-rata (mean), standar deviasi (standard deviation), dan maksimumminimum. Mean digunakan untuk memperkirakan besar rata-rata populasi yang
diperkirakan dari sampel. Standar deviasi digunakan untuk menilai dispersi rata
-rata dari sampel.

3.7

Uji Multikolinieritas

56

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi


ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang
baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala korelasi yang kuat di antara
variabel bebasnya. Pengujian ini menggunakan matrikkorelasi antar variabel
bebas untuk melihat besarnya korelasi antar variabel independen.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan uji multikoliniritas dengan
menganalisis matrik korelasi antar variabel bebas. Jika ada korelasi yang cukup
tinggi, maka didalam model regresi tersebut terdapat multikolinearitas.
3.8

Menguji Kelayakan Model Regresi


Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan

Hosmer and

Lemeshows Goodness of Fit Test. Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test
menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atausesuai dengan model (tidak
ada perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat dikatakan fit). Jika
nilai Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test statistics sama dengan atau
kurang dari 0,05, maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan
antara model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik
karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai statistik
Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test

lebih besar dari 0,05, maka

hipotesis nol tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai
observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena cocok dengan data
observasinya.
3.9

Koefisien Determinasi
57

Menurut Ghozali (2011:97) koefisien determinasi (R ) pada intinya


mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel
2

dependen. Nilai koefisien determinasi adalah diantara nol dan satu. Nilai R yang
kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan
variabel dependen sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen menjelaskan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen. Ghozali (2011:97) menambahkan bahwa
2

banyak peneliti menganjurkan menggunakan nilai Adjusted R , Hal ini karena


2

Adjusted R dapat naik dan turun apabila satu variabel independen ditambah
kedalam model.
Uji Statistik t
Ghozali (2011:98), menjelaskan bahwa uji statistik t pada dasarnya
menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara
individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hipotesis nol (H 0) yang
hendak diuji adalah apakah suatu parameter(bi) sama dengan nol, atau:
H0: bi=0
Artinya apakah suatu variabel independen bukan merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis alternatifnya (H a), apakah suatu
parameter tidak sama dengan nol, atau:
Ha: bi 0
Artinya apakah suatu variabel dependen merupakan penjelas yang
signifikan terhadap variabel dependen.
Penentuan nilai kritis dalam pengujian hipotesis terhadap koefisien regresi

58

dapat ditentukan dengan menggunakan tablel distribusi normal dengan


memperhatikan tingkat signifikansi () dan banyaknya sampel yang digunakan.
Penentuan t tabel dalam penelitian ini menggunakan degree of freedom atau df =
n-k dan = 0.05, n adalah banyaknya sampel, k adalah jumlah variabel.
Kriteria pengujian adalah sebagai berikut:
1) H0 diterima dan Ha ditolak apabila thitung < ttabel, artinya faktor tersebut secara
parsial tidak mempengaruhi secara signifikan.
2) H0 ditolak dan diterima Ha apabila thitung > ttabel, artinya faktor tersebut secara
parsial mempengaruhi secara signifikan.

3.10 Model Regresi Yang Terbentuk


59

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi, yaitu
dengan melihat pengaruh cross-directorship,profesionalitas da reputasi Dewan
Pengawas Syariah sebagai variabel intervening
Adapun model regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
. Persamaan regresi yang digunakan yaitu:
ISR

= 0 + 1 CROSS + 2 PROFE + 3 REPUT

Keterangan :
ISR

: Pengungkapan ISR

CROSS

: Cross-Directorship

PROFE

: Profesionalitas

REPUT

: Reputasi Dewan Pengawas Syariah

: Konstanta

1-3

: Koefisien Regresi

DAFTAR PUSTAKA
60

Abdullah, W. A., Percy, M., & Steward, J. 2011. Corporate Social Responsibility
in Islamic Banks: A Study of Shariah Supervisory Board Disclosure and
Zakat Disclosure in Malaysia and Indonesian Islamic Banks.
Ajija, Shochirul R., Dyah W. Sari., Rahmat H. Setianto., dan Martha R. Primanti.
2011. Cara Cerdas Menguasai Eviews. Jakarta: Salemba Empat.
Akhtarudin, Mohamed., Monirul Alam Hossaiin., Mahmud Hossain., dan Lee
Yao. 2009. Corporate Governance and Voluntary Disclosure in
Corporate Annual Reports of Malaysian Firm. JAMAR. Vol. 7,
November.
Anggraini, Fr. RR. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan
Keuangan Tahunan (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang
Terdaftar pada Bursa Efek Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi 9.
Padang.
Daniri, Mas Achmad. 2008a. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
(Bag I). http://www.madani -ri.com/2008/01/17/standarisasi-tanggungjawab-sosialperusahaan-bag-i/. Diakses tanggal 11 Maret 2013.
--------------. 2008b. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Bag II).
http://www.madani-ri.com/2008/02/11/standarisasi-tanggung-jawabsosial-perusahaan-bag-ii/. Diakses tanggal 11 Maret 2013.
--------------. 2008c. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Bag III Finish). http://www.madani-ri.com/2008/02/11/standarisasi-tanggungjawabsosial-perusahaan-bag-iii-finish/. Diakses tanggal 11 Maret 2013.
Dusuki, Asyraf Wajdi dan Dar, Humayon. 2005. Stakeholders Perceptions of
Corporate Social Responsibility of Islamic Banks: Evidence From
th
Malaysian Economy. The 6 International Confernce on Islamic
Economic and Finance. Jakarta. Vol. 1.
Farook, S. Z., & Lanis, R. 2005. Banking on Islam? Determinants of CSR
Disclosure. International Conference on Islamic Economics and
Finance.
Farook, Sayd. 2007. On Corporate Social Responsibility of Islamic Financial
Institutions. Islamic Economic Studies. Vol. 15, No. 1, July.
Fitria, Soraya dan Dwi Hartanti. 2010. Islam dan Tanggung Jawab Sosial: Studi
Perbandingan Pengungkapan Berdasarkan Global Reporting Initiative
Indeks dan Islamic Social Reporting Indeks. Simposium Nasional
61

Akuntansi 13. Purwokerto.


Forum Corporate Governance Indonesia. 2001. Corporate Governance: Tata
Kelola Perusahaan. Edisi Ketiga: Jakarta.
Ghozali, Imam. 2011. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS
19. Semarang. Universitas Diponegoro.
Gujarati dan Porter. 2009. Dasar-Dasar Ekonometrika. Jakarta : Salemba Empat.
Hadi, Nor. 2011. Corporate Social Responsibility. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Haniffa, R. 2002. Social Reporting Disclosure: An Islamic Perspective.
Indonesian Management Research, 128-146.
Harahap, S.S. 2002. The Disclosure of Islamic Value-Annual Report Analysis of
Bank Muamalat Indonesias Annual Report. Iqtisad, Journal of Islamic
Economic, 35-45.
Indariiyantoro, Nur dan Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk
Akuntansi dan Manajemen. Edisi pertama. Yogyakarta. BPFE.
Isfandayani. 2012. Pengawasan Perbankan Syariah untuk Optimalisasi Good
Corporate Governance melalui Islamic Corporate Identity: Studi
Analisis Penyajian Laporan Keuangan Bank Umum Syariah. Maslahah,
Vol.1, No.1, Maret. 2012.
Kaihatu, Thomas S. 2006. Good Corporate Governance dan Penerapannya di
Indonesia. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol. 8, No. 1, Maret.
Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara. KEP-117/M-MBU/2002 tentang
Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada BUMN.
Khan, Md. Habib-Uz-Zaman., Mohammad Azizul Islam., dan Khadem Ahmed.
2010. Corporate Sustainability Reporting of Major Commercial Banks
in line with GRI: Bangladesh Evidence. Accepted for presentataion in
th
the 6 Asia Pacific Interdisciplinary Research on Accounting (APIRA)
Conference. July.
Khoirul,A. Corporate Governance Dan Pengungkapan Islamic Social Corporate
Governance Dan Pengungkapan Islamic Social Reporting Pada
Perbankan Syariah Di Indonesia. Accounting Analysis Journal
Komite Nasional Kebijakan Governance. 2006. Pedoman Umum Good Corporate
Governance Indonesia. Jakarta.
Maali, Bassam, Casson, Peter, dan Napier, Christopher. 2006. Social Reporting
by Islamic Banks. ABACUS, Vol. 42. No. 2. The University of Sidney.
Auatralia.
62

Nurkhin, Akhmad. 2009. Corporate Governance dan Profitabilitas; Pengaruhnya


terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahan (Studi
Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).
Jurnal Magister Akuntansi. Universitas Diponegoro.
Othman, R., Thani, A. M., & Ghani, E. K. 2009. Determinants of Islamic Social
Reporting Among Top Sharia-Approved Companies in Bursa Malaysia.
Research Journal of International Studies.
Peraturan Bank Indonesia No. 11/33/PBI/2009 tentang Pelaksanaan Good
Corporate Governance bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha
Syariah.
Prasetyoningrum, Ari Kristin. 2010. Analisis Pengaruh Independensi dan
Profesionalisme Dewan Pengawas Syariah terhadap Kinerja Bank Perkreditan
Rakyat Syariah di Jawa Tengah. Asset. Hal. 27-36, Maret.
Rizkiningsih, Priyesta. 2012. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan
Islamic Social Reporting (ISR): Studi Empiris pada Bank Syariah di Indonesia,
Malaysia dan Negara-Negara Gulf Cooperation Council. Skripsi. Universitas
Indonesia.
Saptia, Yeni. 2012. Good Corporate Governance Perbankan Syariah. Journal
P2PE-LIPI. No. XVIII(2).
Sayekti, Yosefa dan Ludovicus Sensi Wondabio. 2007. Pengaruh CSR Disclosure
terhadap Earning Response Coefficient. Simposium Nasional Akuntansi 10.
Makassar.
Sembiring, Eddy Rismanda. 2005. Perkembangan Corporate
Responsibility di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo.

Social

Setiawan, Aziz Budi. 2009. Kesehatan Finansial dan Kinerja Sosial Bank Umum
Syariah di Indonesia. Makalah disajikan dalam Seminar Ilmiah Kerjasama
Magister Bisnis Keuangan Islam Univ. Paramadina, Ikatan Ahli Ekonomi
Islam (IAEI) Pusat dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Aula Nurcholis
Madjid, Jakarta, 30 Juli.
Setyapurnama, Yudi. S. dan A. M. V. Norpratiwi. 2007. Pengaruh Corporate
Governance Terhadap Peringkat Obligasi dan Yield Obligasi. Jurnal
Akuntansi dan Bisnis Edisi Agustus Fakultas Ekonomi UNS Surakarta.
Siregar, S. V., & Bachtiar, Y. 2010. Corporate Social Reporting: Empirical
63

Evidence from Indonesia Stock Exchange. International Journal of Islamic


and Middle Eastern Financial and Management, 241-252.
Sofyani, Hafiez., Ihyaul Ulum., Daniel Syam., dan Sri Wahjuni L. 2012. Islamic
Social Reporting Index Sebagai Model Pengukuran Kinerja Sosial Perbankan
Syariah (Studi Komparasi Indonesia dan Malaysia). Jurnal Dinamika
Akuntansi. Vol. 4, No. 1, Maret 2012, pp. 36-46.
Sudana, I Made dan Putu Ayu Arlindania W. 2011. Corporate Governance dan
Pengungkapan Corporate Social Responsibility pada Perusahaan Go-Public di
Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan. Tahun 4, No.
1.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman
Modal.
Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan
Syariah.
Utama, Sidharta. 2007. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung
Jawab Sosial dan Lingkungan di Indonesia. Pidato ilmiah pengukuhan guru
besar FEUI. Jakarta.
Veronica, Theodora Martina dan Agus Sumin. 2009. Pengaruh Karakteristik
Perusahaan terhadap Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial pada Perusahaan
Sektor Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Universitas
Gunadarma Jakarta.
Widarjono, Agus. 2009. Ekonometrika Pengantar dan Aplikasinya. Yogyakarta.
Ekonisia.
Widiawati, Septi dan Surya Raharja. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Islamic Social Reporting Perusahaan-Perusahaan yang
Terdapat pada Daftar Efek Syariah Tahun 2009-2011. Diponegoro Journal
of Accounting. Vol. 21, No. 2, hal. 1-15.
Winarno,Wing Wahyu. 2009. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan
Eviews. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN.
World Business Council for Sustainable Development (WBCSD). 2000.
WBCSDs first report-Corporate Social Responsibility. Geneva.
Yusuf, Muhammad Yasir. 2010. Aplikasi CSR pada Bank Syariah: Suatu
64

Pendekatan Maslahah dan Maqasid Syariah. EKBISI. Vol. 4, No. 2, hal. 981

65