Anda di halaman 1dari 14

RUNTUHNYA KERAJAAN HINDU JAWA DAN TIMBULNYA NEGARA-NEGARA

ISLAM DI NUSANTARA

Oleh:
Nurul Maghfiroh ER (134284054)
Wahyu Nur Firmanullah ()
Faridhian Nur Maulana ()
S1 Pendidikan Sejarah 2013 / B
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PENDIDIKAN SEJARAH
2014

Penulis : Prof Dr Slamet Muljana


Penerbit : LKiS Yogyakarta
Cetakan I : Maret 2005
Tebal : viii + 303 hlm (indeks)

TRAGEDI kehancuran Kerajaan Majapahit, yang di sertai tumbuhnya negara-negara


Islam di Bumi Nusantara, menyimpan banyak sekali fakta sejarah yang sangat menarik
untuk diungkap kembali. Sebagai kerajaan tertua di tanah Jawa, Majapahit bukan saja
menjadi romantisme sejarah dari puncak kemajuan peradaban Hindu-Jawa, sudah
menjadi bukti sejarah tentang pergulatan politik yang terjadi di tengah islamisasi pada
masa peralihan. Keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak mengantarkan suatu peradaban
bagi orang China dalam proses islamisasi di Nusantara. Stigma yang kecenderungan para
sejarawan dalam mengungkapkan bahwa kedatangan Islam di Indonesia lebih pada
kecenderungan orang Arablah yang berjasa sebagai penyebar Islam, sehingga tidak
pernah melirik, orang China pernah andil dalam membangun peradaban Islam. Hadirnya
Buku Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di
Nusantara yang di tulis Prof Slamet Muljana pada tahun 1968 yang beredar di Indonesia
pernah dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971, karena mengungkapkan hal-hal yang
kontroversial waktu itu tentang para Wali Songo berasal dari China. Pijakan yang dipakai
rujukan oleh Slamet Muljana hanya membandingkan dari tiga sumber, yaitu Serat Kanda,
Babad, Tanah Jawi dan naskah dari Kelenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan
dikutip oleh Parlindungan. Residen Poortman tahun 1928 telah ditugasi pemerintah
kolonial untuk menyelidiki apakah Raden Patah itu orang China atau bukan sebagai dasar
rujukan awal. Perkembangan peristiwa itu ternyata menjadi sejarah politisasi bahwa
China
dikaitkan terhadap pemberontakan Partai Komunis Indonesia yang terjadi tahun
1926/1927, ini memberikan kesempatan kepada pemerintah kolonial untuk menggeledah
Kelenteng Sam Po Kong di Semarang untuk mengangkut naskah berbahasa Tionghoa
yang terdapat di sana, sebagian sudah berusia 400 tahun--sebanyak 3 cikar (pedati yang

ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh Mangaraja Onggang Palindungan yang
menulis buku yang kontroversial--Tuanku Rao.
Pada tahapan selanjutnya Slamet memberikan ilustrasi bahwa Bong Swi Hoo yang
datang di Jawa tahun 1445 sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah
dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan Kapitan China
di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan ini lahirnya
Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang ini diasuh oleh Sunan
Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri. Putra Gan Eng
Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapitan China di Semarang. Tahun 1481
Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari
galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu dibangun dengan model
konstruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi.
Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu
yang utuh. Slamet menyimpulkan bahwa Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama
Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. SedangkanSunan Gunung Jati atau Syarif
Hidayatullah, menurut Slamet Muljana, adalah Toh A Bo, putra dari Sultan Trenggana
(memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara itu, Sunan Kudus atau Jafar Sidik
tak lain dari Ja Tik Su. Tentu tidak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali
Songo itu berasal dari China atau keturunan China. Namun, kelemahan Slamet Muljana,
ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis oleh MO Parlindungan. Ia
hanya melihat arsip Poortman dan tidak membaca sendiri naskah China tersebut. Begitu
pula, Slamet sendiri tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang berasal dari kelenteng
Sam Po Kong Semarang itu. Bagi para sejarawan di masa mendatang, dengan melakukan
penelitian terhadap sumber berbahasa China baik yang ada di Nusantara maupun di
daratan China, diharapkan periode ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di
Jawa abad XV-XVI) dapat dijelaskan dengan lebih baik.

Sebetulnya pada masa ini cukup banyak sumber mengenai Laksamana Muslim Cheng
Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV dengan armada yang lebih

besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga
beragama Islam dan menuliskan pengalaman ini dalam buku Yingyai Senglan.
Di dalam buku ini dilaporkan tentang masyarakat China yang bermukim di Jawa yang
berasal dari Kanton, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka telah meninggalkan negeri
China dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sebelah timur. Di Tuban mereka
merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai ''seribu
keluarga lebih sedikit''. Di Gresik hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum orang
Kanton menetap di sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk juga orang China.
Menurut Ma Huan, kebanyakan orang China itu telah masuk agama Islam dan menaati
aturan agama (hlm 42). Fakta sejarah mulai abad ke-15 di masa dinasti Ming (13681643), orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama
Islam, terutama di pulau Jawa. Tak dapat disangkal bahwa Laksamana Cheng Ho alias
Sam Po Kong pada tahun 1410 dan tahun 1416 dengan armada yang dipimpinnya
mendarat di pantai Simongan, Semarang.
Selain menjadi utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit, ia juga
bertujuan menyebarkan agama Islam. Selain Laksamana Cheng Ho, sebagian besar dari
Wali Songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di pesisir Pulau Jawa dan
mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak berasal dari etnik Tionghoa. Para wali
tersebut antara lain Sunan Bonang (Bong Ang), Sunan Kalijaga (Gan Si Cang), Sunan
Ngampel (Bong Swi Hoo), Sunan Gunung Jati (Toh A Bo) konon berasal dari Champa
(Kamboja/Vietnam), Manila dan Tiongkok. Demikian juga Raden Patah alias Jin Bun
(Cek Ko Po), sultan pertama kerajaan Islam Demak, adalah putra Kung Ta Bu Mi
(Kertabumi), raja Majapahit (Brawijaya V) yang menikah dengan putri China, anak
pedagang Tionghoa bernama Ban Hong (Babah Bantong). Penyebaran agama Islam di
Nusantara ada pandangan yang menyatakan bahwa Islam yang berkembang di sini
berasal Hadramaut, Arab Selatan. Penyebarannya justru datang dari India dan Islam yang
berkembang di kepulauan ini berasal dari China. Tetapi Menurut sebagian sejarawan
Islam, bahwa Islam datang dari Gujarat, India antara lain, karena persamaan motif batu
nisan Maulana Malik Ibrahim di Gresik dengan yang ada di Gujarat. Hal ini didukung
pula karena faktor bahasa, istilah pinjaman dari bahasa Arab tidak murni menurut lafal

aslinya,

seperti

terlihat

dalam

kata

salat,

zakat,

dan

seterusnya.

Jadi kata itu dipinjam melalui bahasa Persia atau bahasa-bahasa umat Islam di daratan
Asia yang menjadikan bahasa Persi sebagai rujukan. Namun, mazhab di Asia daratan itu
adalah Sunni-Hanafi bukan Sunni Syafii yang banyak dianut di Nusantara. Maka Islam
itu datang dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut yang juga menganut
mazhab Sunni-Syafii. Yang didukung pula dengan fakta, bahwa kawasan itu terkenal
dengan aktivitas perdagangan laut internasionalnya. Sejalan dengan persoalan istilah
pinjaman di atas. Islam di Nusantara berasal dari China--paling tidak dalam satu fase
tertentu perkembangannya di Asia Tenggara patut diperhitungkan, karena terdapat
kesesuaian dalam hal mazhab (Sunni-Syafii) dan faktor bahasa tadi (hlm 164).
Pengembangan Islam di Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India, dan
China. Peristiwa itu bisa terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau berbagai
wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang mulai dianut
oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat di Nusantara, sebagian
berasal dari Arabia Selatan, India, dan China terjadi bersamaan atau berurutan pada satu
atau berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama Islam, yang
mulai dianut oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah masyarakat. Tri
Muryono,

pekerja

buku

aktif

di

Rumah

Baca

LKiS

KERAJAAN MAJAPAHIT
Didirikan tahun 1294 oleh Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jayawardana yang
merupakan keturunan Ken Arok raja Singosari. Raja yang memerintah:
a. Raden Wijaya 1273 1309
b. Jayanegara 1309-1328
c. Tribhuwanatunggaldewi 1328-1350
d. Hayam Wuruk 1350-1389

e. Wikramawardana 1389-1429
f. Kertabhumi 1429-1478
Mencapai

puncak

kejayaannya

di

masa

pemerintahan

Raja

Hayam

Wuruk

(1350-1389) kebesaran kerajaan ditunjang oleh:


a.

pertanian sudah teratur

b. perdagangan lancar dan maju


c. Memiliki armada angkutan laut yang kuat
d. Dipimpin oleh Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada.
Di bawah patih Gajah Mada Majapahit menaklukkan daerah lain ia mengucapkan
Sumpah Palapa yang berbunyi: Ia tidak akan makan buah palapa sebelum berhasil
menyatukan seluruh wilayah Nusantara Mpu Prapanca dalam bukunya Negara
Kertagama menceritakan tentang zaman gemilang kerajaan di masa Hayam Wuruk dan
juga silsilah raja sebelumnya tahun 1364 Gajah Mada meninggal disusun oleh Hayam
Wuruk di tahun 1389 dan kerajaan Majapahit mulai mengalami kemunduran Penyebab
kemunduran:
a. Majapahit kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada
b. Meletusnya

Perang

Paragreg

tahun

1401-1406

merupakan

perang

saudara

memperebutkan kekuasaan
c. Daerah bawahan mulai melepaskan diri
d. Berkembangnya Islam di daerah pesisir
e. Serangan pasukan Kediri tahun 1478.
Peninggalan kerajaan Majapahit:
a. Bangunan: Candi Panataran, Sawentar, Tiga Wangi, Muara Takus
b. Kitab:
1. Negara Kertagama oleh Mpu Prapanca
2. Sutasoma oleh Mpu Tantular yang memuat slogan Bhinneka Tunggal Ika
3. Paraton
4. Kidung Sundayana dan Sorandaka R Wijaya Mendapat Wangsit Mendirikan Kerajaan
Majapahit. Dua pohon beringin di pintu masuk Pendopo Agung di Trowulan, Mojokerto.
Dua pohon beringin itu ditanam pada 22 Desemebr 1973 oleh Pangdam Widjojo Soejono

dan Gubernur Moehammad Noer. Di belakang bangunan Pendopo Agung yang


memampang foto para Pangdam Brawijaya, terdapat bangunan mungil yang dikelilingi
kuburan umum. Bangunan bernama Petilasan Panggung itu diyakini Petilasan Raden
Wijaya dan Tempat Patih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa. Begitu
memasuki bangunan Petilasan Panggung, yang memiliki pendopo mini sebagai latarnya,
tampak

beberapa

bebatuan

yang

dibentuk

layaknya

kuburan,

dinding di sekitar " kuburan " itu diselimuti kelambu putih transparan yang
mampu menambah kesakralan tempat itu. Menurut Sajadu ( 53 ) penjaga Petilasan
Panggung, disinilah dulu Raden Wijaya bertapa sampai akhirnya mendapat wangsit
mendirikan kerajaan Majapahit. Selain itu, ditempat ini pula Patih Gajah Mada
mengumandangkan Sumpah Palapa. " Tempat ini dikeramatkan karena dianggap sebagai
Asnya Kerajaan Majapahit " katanya.Pada waktu tertentu khususnya bertepatan dengan
malam jumat legi, banyak orang datang untuk berdoa dan mengharapkan berkah. " orang
berdatangan untuk berdoa, agar tujuannya tercapai " kata Sajadu yang menyatakan
pekerjaan menjaga Petilasan Panggung sudah dilakukan turun-temurun sejak leluhurnya.
Sembari menghisap rokok kreteknya, pria yang mewarisi sebagai penjaga petilasan dari
ayahnya sejak 1985 juga menceritakan, dulunya tempat itu hanya berupa tumpukkan
bebatuan. Sampai sekarang, batu tersebut masih ada di dalam, katanya. Kemudian pada
1964, dilakukan pemugaran pertama kali oleh Ibu Sudarijah atau yang dikenal dengan
Ibu Dar Moeriar dari Surabaya. Baru pada tahun 1995 dilakukan pemugaran kembali oleh
Pangdam Brawijaya yang saat itu dijabat oleh Utomo. Memasuki kawasan Petilasan
Panggung, terpampang gambar Gajah Mada tepat disamping pintu masuk. Sedangkan
dibagian depan pintu bergantung sebuah papan kecil dengan tulisan " Lima Pedoman "
yang merupakan pedoman suri teladan bagi warga. Selengkapnya " Ponco Waliko " itu
bertuliskan " Kudutrisno Marang Sepadane Urip, Ora Pareng Ngilik Sing Dudu
Semestine, Ora Pareng Sepatah Nyepatani dan Ora Pareng Eidra Hing Ubaya "
Dikisahkan Sajadu pula, Petilasan Panggung ini sempat dinyatakan tertutup bagi umum
pada tahun 1985 hingga 1995. Baru setelah itu dibuka lagi untuk umum, sejak dinyatakan
dibuka

lagi,

pintu

depan

tidak

lagi

tertutup

dan

siangpun

boleh

masuk.

MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT


Kerajaan Majapahit mencapai masa keemasan ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk
dengan patihnya Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa. Majapahit
menaklukkan hampir seluruh Nusantara dan melebarkan sayapnya hingga ke seluruh Asia
Tenggara. Pada masa ini daerah Malang tidak lagi menjadi pusat kekuasaan karena
diduga telah pindah ke daerah Nganjuk. Menurut para ahli di Malang ditempatkan
seorang penguasa yang disebut Raja pula. Dalam Negara Kertagama dikisahkan Hayam
Wuruk sebagai Raja Majapahit melakukan ziarah ke makam leluhurnya (yang berada
disekitar daerah Malang), salah satunya di dekat makam Ken Arok. Ini menunjukkan
bahwa walaupun bukan pusat pemerintahan namun Malang adalah kawasan yang
disucikan karena merupakan tanah makam para leluhur yang dipuja sebagai Dewa.
Beberapa prasasti dan arca peninggalan Majapahit dikawasan puncak Gunung Semeru
dan juga di Gunung Arjuna menunjukkan bahwa kawasan Gunung tersebut adalah tempat
bersemayam para Dewa dan hanya keturunan Raja yang boleh menginjakkan kaki di
wilayah tersebut. Bisa disimpulkan bahwa berbagai peninggalan tersebut merupakan
rangkaian yang saling berhubungan walaupun terpisah Oleh masa yang berbeda
sepanjang 7 abad.

KERUNTUHAN MAJAPAHIT
Tersebutlah kisah, Adipati Terung meminta Sultan Bintara alias Raden Patah yang masih
"kapernah" kakaknya, untuk menghadap Prabu Brawijaya. Tapi Sultan Demak itu tidak
mau karena ayahnya dianggap masih kafir.Brawijaya adalah raja Majapahit, kerajaan
Hindu yang pernah jaya ditanah Jawa. Bahkan kemudian Raden Patah lalu
mengumpulkan para bupati pesisir seperti Tuban, Madura dan Surabaya serta para Sunan
untuk bersama-sama menyerbu Majapahit yang kafir itu. Prajurit Islam dikerahkan
mengepung ibu kota kerajaan, karena segan berperang dengan puteranya sendiri, Prabu
Brawijaya meloloskan diri dari istana bersama pengikut yang masih setia. Sehingga
ketika Raden Patah dan rombongannya (termasuk para Sunan) tiba, istana itu kosong.
Atas nasihat Sunan Ampel, untuk menawarkan segala pengaruh raja kafir, diangkatlah
Sunan Gresik jadi raja Majapahit selama 40 hari. Sesudah itu baru diserahkan kepada
Sultan Bintara untuk diboyong ke Demak. Cerita ini masih dibumbui lagi, yaitu setelah

Majapahit jatuh, Adipati Terung ditugasi mengusung paseban raja Majapahit ke Demak
untuk kemudian dijadikan serambi masjid. Adipati Bintara itu kemudian bergelar
"Senapati Jinbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama". Cerita
mengenai serbuan tentara Majapahit itu dapat ditemui dalam "BABAD TANAH JAWI".
Tapi cerita senada juga terdapat dalam "Serat Kanda". Disebutkan, Adipati Bintara
bersama pengikutnya memberontak pada Prabu Brawijaya. Bala tentara Majapahit
dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada, Adipati Terung dan Andayaningrat (Bupati
Pengging). Karena takut kepada Syekh Lemah Abang, gurunya, Kebo Kenanga (Putra
Bupati Pengging) membelot ikut musuh. Sementara itu Kebo Kanigara saudaranya tetap
setia kepada Sang Prabu Brawijaya. Tentara Demak dibawah pimpinan Raden Imam
diperlengkapi dengan senjata sakti "Keris Makripat" pemberian Sunan Giri yang bisa
mengeluarkan hama kumbang dan "Badhong" anugerah Sunan Cirebon yang bisa
mendatangkan angin ribut. Tentara Majapahit berhasil dipukul mundur sampai keibukota,
cuma rumah adipati Terung yang selamat karena ia memeluk Islam. Karena terdesak,
Prabu Brawijaya mengungsi ke (Tanjung) sengguruh beserta keluarganya diiringi Patih
gajah Mada. Itu terjadi tahun 1399 Saka atau 1477 Masehi. Setelah dinobatkan menjadi
Sultan Demak bergelar "Panembahan Jinbun", adipati Bintara mengutus Lembu Peteng
dan jaran panoleh ke sengguruh meminta sang Prabu masuk agama Islam. tapi beliau
tetap menolak. Akhirnya Sengguruh diserbu dan Prabu Brawijaya lari kepulau Bali.
Cerita versi BABAD TANAH JAWI dan SERAT KANDA itulah yang selama ini
popular dikalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah
dasar dimasa lalu. Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan
Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab
seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah. Padahal
kenyataannya tidak begitu. Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam
dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga
menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam demak. Prof. Dr. Slamet Muljana
dalam bukunya "Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit" secara panjang lebar
membantah isi cerita itu berdasarkan bukti-bukti sejarah. Dikatakan Babad Tanah Jawi
dan Serat Kanda yang ditulis abad XVII dijaman Mataram itu tanpa konsultasi sumber
sejarah yang dapat dipercaya. Sumber sejarah itu antara lain beberapa prasasti dan karya

sejarah tentang Majapahit, seperti "Negara Kertagama dan Pararaton". Karena itu tidak
mengherankan jika uraiannya tentang Majapahit banyak yang cacat.
"Prasasti Petak" dan "Trailokyapuri" menerangkan, raja Majapahit terakhir adalah Dyah
Suraprahawa, runtuh akibat serangan tentara keling pimpinan Girindrawardhana pada
tahun 1478 masehi, sesuai Pararaton. Sejak itu Majapahit telah berhenti sebagai ibu kota
kerajaan. Dengan demikian tak mungkin Majapahit runtuh karena serbuan Demak.
Sumber sejarah Portugis tulisan Tome Pires juga menyebutkan bahwa Kerajaan Demak
sudah berdiri dijaman pemerintahan Girindrawardhana di Keling. Saat itu Tuban, Gresik,
Surabaya dan Madura serta beberapa kota lain dipesisir utara Jawa berada dalam wilayah
kerajaan Kediri, sehingga tidak mungkin seperti diceritakan dalam Babad Jawa, Raden
Patah mengumpulkan para bupati itu untuk menggempur Majapahit. Penggubah Babad
Tanah Jawi tampaknya mencampur adukkan antara pembentukan kerajaan Demak pada
tahun 1478 dengan runtuhnya Kediri oleh serbuan Demak dijaman pemerintahan Sultan
Trenggano 1527. Penyerbuan Sultan Trenggano ini dilakukan karena Kediri mengadakan
hubungan dengan Portugis di Malaka seperti yang dilaporkan Tome Pires. Demak yang
memang memusuhi Portugis hingga menggempurnya ke Malaka tidak rela Kediri
menjalin hubungan dengan bangsa penjajah itu. Setelah Kediri jatuh (Bukan Majapahit)
diserang Demak, bukan lari kepulau Bali seperti disebutkan dalam uraian Serat Kanda,
melainkan ke Panarukan, Situbondo setelah dari Sengguruh, Malang. Bisa saja sebagian
lari ke Bali sehingga sampai sekarang penduduk Bali berkebudayaaan Hindu, tetapi itu
bukan pelarian raja terakhir Majapahit seperti disebutkan Babad itu. Lebih jelasnya lagi
raden Patah bukanlah putra Raja Majapahit terakhir seperti disebutkan dalam Buku
Babad dan Serat Kanda itu, demikian Dr. Slamet Muljana. Sejarawan Mr. Moh. Yamin
dalam bukunya "Gajah Mada" juga menyebutkan bahwa runtuhnya Brawijaya V raja
Majapahit terakhir, akibat serangan Ranawijaya dari kerajaan Keling, jadi bukan
serangan dari Demak. Uraian tentang keterlibatan Mahapatih Gajah Mada memimpin
pasukan Majapahit ketika diserang Demak 1478 itu sudah bertentangan dengan sejarah.
Soalnya Gajah Mada sudah meninggal tahun 1364 Masehi atau 1286 Saka. Penuturan
buku "Dari Panggung Sejarah" terjemahan IP Simanjuntak yang bersumber dari tulisan
H.J. Van Den Berg ternyata juga runtuhnya Majapahit bukan akibat serangan Demak atau
tentara Islam. Ma Huan, penulis Tionghoa Muslim, dalam bukunya "Ying Yai Sheng

Lan" menyebutkan, ketika mendatangi Majapahit tahun 1413 Masehi sudah menyebutkan
masyarakat Islam yang bermukim di Majapahit berasal dari Gujarat dan Malaka.
Disebutkannya, tahun 1400 Masehi saudagar Islam dari Gujarat dan Parsi sudah
bermukim di pantai utara Jawa. Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim yang
dimakamkan di Pasarean Gapura Wetan Kab. Gresik dengan angka tahun 12 Rabi'ul
Awwal 882 H atau 8 April 1419 Masehi, berarti pada jaman pemerintahan
Wikramawardhana (1389-1429) yaitu Raja Majapahit IV setelah Hayam Wuruk. Batu
nisan yang berpahat kaligrafi Arab itu menurut Tjokrosujono (Mantan kepala Suaka
Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Mojokerto), nisan itu asli bukan buatan baru. Salah
satu bukti bahwa sejak jaman Majapahit sudah ada pemukiman Muslim diibu kota,
adalah situs Kuna Makam Troloyo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, JATIM. Makammakam Islam disitus Troloyo Desa Sentonorejo itu beragam angka tahunnya, mulai dari
tahun 1369 (abad XIV Masehi) hingga tahun 1611 (abad XVII Masehi).
Nisan-nisan makam petilasan di Troloyo ini penuh tulisan Arab hingga mirip prasati.
Lafalnya diambil dari bacaan Doa, kalimah Thayibah dan petikan ayat-ayat AlQuran
dengan bentuk huruf sedikit kaku. Tampaknya pembuatnya seorang mualaf dalam Islam.
Isinya pun bukan bersifat data kelahiran dan kematian tokoh yang dimakamkan,
melainkan lebih banyak bersifat dakwah antara lain kutipan Surat Ar-Rahman ayat 26-27.
P.J. Veth adalah sarjana Belanda yang pertama kali meneliti dan menulismakam Troloyo
dalam buku JAVA II tahun 1873.L.C. Damais peneliti dari Prancis yang mengikutinya
menyebutkan angka tahun pada nisan mulai abad XIV hingga XVI. Soeyono
Wisnoewhardono, Staf Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Trowulan
mengatakan, nisan-nisan itu membuktikan ketika kerajaan Majapahit masih berdiri,
orang-orang Islam sudah bermukim secara damai disekitar ibu kota. Tampak jelas disini
agama Islam masuk kebumi Majapahit penuh kedamaian dan toleransi. Satu situs
kepurbakalaan lagi dikecamatan trowulan yakni di Desa dan kecamatan Trowulan adalah
Makam Putri Cempa. Menurut Babad Tanah jawi, Putri Cempa (Jeumpa, bahasa Aceh)
adalah istri Prabu Brawijaya yang beragama Islam. Dua nisan yang ditemukan
dikompleks kekunaan ini berangka tahun 1370 Saka (1448 Masehi) dan 1313 Saka (1391
Masehi). Dalam legenda rakyat disebutkan dengan memperistri Putri Cempa itu, sang
Prabu sebenarnya sudah memeluk agama Islam. Ketika wafat ia dimakamkan secara

Islam dimakam panjang (Kubur Dawa). Dusun Unggah-unggahan jarak 300 meter dari
makam Putri Cempa bangsawan Islam itu. Dari fakta dan situs sejarah itu, tampak bukti
otentik tentang betapa tidak benarnya bahwa Islam dikembangkan dengan peperangan.
Justru beberapa situs kesejarahan lain membuktikan Islam sangat toleran terhadap agama
lain (termasuk Hindu) saat Islam sudah berkembang pesat ditanah Jawa. Dikompleks
Sunan

Bonang

di

Tuban,

Jawa

Timur

misalnya,

berdiri

tegak

Candi

Siwa Budha dengan angka tahun 1400 Saka (1478 masehi) yang kini letaknya
berada dibelakang kantor Pemda tuban. Padahal, saat itu sudah berdiri pondok
pesantren asuhan Sunan Bonang. Pondok pesantren dan candi yang berdekatan
letaknya ini dilestarikan dalam sebuah maket kecil dari kayu tua yang kini
tersimpan di Museum Kambang Putih, Tuban. Di Kudus, Jawa Tengah, ketika Sunan
Kudus Ja'far Sodiq menyebarkan ajaran Islam disana, ia melarang umat Islam
menyembelih sapi untuk dimakan. Walau daging sapi halal menurut Islam tetapi dilarang
menyembelihnya untuk menghormati kepercayaan umat Hindu yang memuliakan sapi.
Untuk menunjukkan rasa toleransinya kepada umat Hindu, Sunan Kudus menambatkan
sapi dihalaman masjid yang tempatnya masih dilestarikan sampai sekarang. Bahkan
menara Masjid Kudus dibangun dengan gaya arsitektur candi Hindu. ketika kerajaan
Majapahit berdiri sebagai bagian dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan Raden
Wijaya yang bergelar Kertanegara Dharmawangsa, kerajaan ini senantiasa diliputi
fenomena pemberontakan. Pewaris tahta Raden Wijaya, yakni masa pemerintahan
Kalagemet/Jayanegara (1309-1328), yang dalam sebuah prasasti dianggap sebagai titisan
Wisnu dengan Lencana negara Minadwaya (dua ekor ikan) dalam memerintah banyak
menghadapi pemberontakan-pemberontakan terhadap Majapahit dari mereka yang masih
setia kepada Kertarajasa. Pemberontakan pertama sebetulnya sudah dimulai sejak
Kertarajasa masih hidup, yaitu oleh Rangga Lawe yang berkedudukan di Tuban, akibat
tidak puas karena bukan dia yang menjadi patih Majapahit tetapi Nambi, anak Wiraraja.
Tetapi usahanya (1309) dapat digagalkan. Pemberontakan kedua di tahun 1311 oleh Sora,
seorang rakryan di Majapahit, tapi gagal. Lalu yang ketiga dalam tahun 1316, oleh
patihnya sendiri yaitu Nambi, dari daerah Lumajang dan benteng di Pajarakan. Ia pun
sekeluarga ditumpas. Pemberontakan selanjutnya oleh Kuti di tahun 1319, dimana
Ibukota Majapahit sempat diduduki, sang raja melarikan diri dibawah lindungan penjaga-

penjaga istana yang disebut Bhayangkari sebanyak 15 orang dibawah pimpinan Gajah
Mada. Namun dengan bantuan pasukan-pasukan Majapahit yang masih setia, Gajah
Mada dengan Bhayangkarinya menggempur Kuti, dan akhirnya Jayanegara dapat
melanjutkan pemerintahannya. Berhenti pemberontakan Kuti, tahun 1331 muncul
pemberontakan di Sadeng dan Keta (daerah Besuki). Maka patih Majapahit Pu Naga
digantikan patih Daha yaitu Gajah Mada, sehingga pemberontakan dapat ditumpas.
Keberhasilan Gajah Mada memadamkan pemberontakan Sadeng membawanya meraih
karier

diangkat

sebagai

mahapatih

kerajaan.

Namun pada masa pemerintahan Hayam Wuruk pada tahun 1350-1389, berkali-kali
sang patih Gajah Mada --yang juga panglima ahli perang di masa ituharus menguras
energi

untuk

memadamkan

pemberontakan

di

beberapa

daerah.

Pemberontakan Ronggolawe sampai serangan kerajaan Dhaha, Kediri. Bahkan salah satu
penyebab kemunduran dan hancurnya kerajaan Majapahit adalah ketika meletusnya
Perang Paragreg tahun 1401-1406 merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan,
daerah bawahan mulai melepaskan diri dan berkembangnya Islam di daerah pesisir.
Kerajaan Majapahit yang pernah mengalami masa keemasan dan kejayaan harus runtuh
terpecah-pecah setelah kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada.
Sunan Ampel Berdarah Cina Surabaya, CyberNews. Hasil penelitian dosen Fakultas
Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, Drs H Sjamsudduha dalam penelitian sejak
1971 menyimpulkan, Sunan Ampel yang merupakan "guru" para wali itu keturunan Cina,
karena ibunya berasal dari Campa, Cina."Ada sejarahwan yang bilang Campa itu Jeumpa
di Aceh Utara, lalu saya melakukan penelitian ke Aceh, ternyata Jeumpa itu kerajaan pra
Islam dan bukan pelabuhan yang mempunyai hubungan dagang dengan Pasai atau Jawa,
karena itu Campa itu bukan Jeumpa, apalagi peneliti Aceh sendiri menyebut Campa itu di
Indocina," katanya di Surabaya, Rabu. Ia mengemukakan hal itu dalam bedah buku
"Sunan Ampel, Guru Para Wali di Jawa dan Perintis Pembangunan Kota Surabaya" yang
ditulisnya sejak 1971 dalam bentuk skripsi dan akhirnya diterbitkan sebagai buku dalam
rangka "Festival Internasional Ampel 2004" pada 27 Juni - 27 Juli 2004 dengan 19
rangkaian kegiatan. Menurut Sjamsudduha, ayah Sunan Ampel sendiri bernama Ibrahim
yang berasal dari Arab, sedangkan nama ibunya beragam, diantaranya Retna Sujinah,
Retna Dyah Siti Asmara, Darawati, Dewi Candrasasi atau Dewi Candrawulan, namun

semua sumber sepakat bahwa ibu Sunan Ampel adalah seorang putri bangsawan Campa.
Buku yang ditulis berdasarkan bukti tertulis seperti Babad Tanah Jawi, telaah interteks,
dan telaah teori serta tesis itu, katanya, juga menumbangkan teori Prof Dr Slamet
Mulyono bahwa Sunan Ampel itu merupakan "aktor intelektual" runtuhnya Kerajaan
Majapahit dan lunturnya ajaran agama Hindu Jawa. "Profesor Slamet Mulyono menilai
runtuhnya Majapahit itu tak lepas dari komunitas muslim Cina di bawah pimpinan Sunan
Ampel yang menyerang Majapahit dengan memanfaatkan fanatisme agama, tapi hasil
penelitian saya justru meragukan kesimpulan itu, karena Majapahit runtuh pada 1527 dan
bukan 1478, sedangkan Sunan Ampel sendiri wafat pada 1484," katanya. Selain itu,
katanya, teks-teks yang ada justru menemukan penyebab keruntuhan Kerajaan Majapahit
adalah pemberontakan Raja Keling yang merupakan bawahan Kerajaan Majapahit yang
terletak di sekitar Kediri. Dalam bukunya itu, Sjamsudduha juga mengupas ajaran Sunan
Ampel yang berfaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam akidah (keimanan), bermadzhab
Imam Syafi'i dalam fiqh (hukum Islam), dan mengajarkan Thariqat Naqsyabandiyah
dalam tasawuf. Selain itu, Sunan Ampel yang bernama kecil Raden Rahmat itu berjuang
dengan cara dakwah, pendidikan kepesantrenan, pembangunan kota Surabaya, dan
pendidikan kader dakwah. "Masjid Ampel yang sudah mengalami renovasi berkali-kali
itu merupakan pusat perkembangan bagi kampung-kampung di Surabaya, karena itu
Sunan Ampel adalah peletak dasar dan perintis dari perkembangan kota Surabaya,"
katanya.
Sementara itu, guru besar Universitas Negeri Malang (UNM) Prof Dr Abdul Mustopo
menilai penelitian Sjamsudduha cukup penting dan karenanya harus dilanjutkan peneliti
lain, karena masih banyak manuskrip tentang Sunan Ampel yang belum diungkap.