Anda di halaman 1dari 4

Komunikasi Tertulis

Oleh : Dewinta Indri Astuti Pane,S.STP

enulis bisa jadi merupakan


kegiatan yang sangat dekat
dengan pekerjaan kita sehari-hari.
Mulai dari urusan bisnis, pemerintahan, seni
sastra sampai dunia akademik tak pernah
lepas dari kegiatan tulis-menulis. Menulis
menjadi keterampilan penting yang berguna
dalam kegiatan sehari-hari.
Menulis dapat pula dianggap sebagai
salah satu cara berkomunikasi. Misalnya,
seorang sekretaris berkomunikasi dalam
bentuk notulen, surat atau laporan hasil
analisa. Penulis buku menyebarkan gagasangagasannya melalui buku-buku yang dia
tulis.
Seniman
atau
sastrawan
menyampaikan pesan moral dan nilai
kehidupan melalui puisi, novel maupun
naskah drama. Bahkan kita menceritakan
perasaan kita kepada diri kita sendiri dengan
menuliskannya di buku harian.
Namun sebagai salah satu cara
menyampaikan pesan, komunikasi tertulis
memiliki keunikan tersendiri. Seperti
dikatakan sebelumnya, komunikasi tertulis
merupakan suatu keterampilan yang
tentunya membutuhkan ketekunan dan
latihan untuk menguasainya. Tak seperti
halnya komunikasi lisan yang hampir setiap
orang dapat menggunakan. Tentunya karena
komunikasi lisan diajarkan sejak manusia
dilahirkan.
Tulisan
berikut
mencoba
memberikan gambaran mengenai tradisi
komunikasi
dalam
bentuk
tulisan.
Selanjutnya akan dipaparkan pula kelebihan
dan kekurangan dari penggunaan tulisan
dalam proses komunikasi.

Awalnya, budaya tulis hanya


digunakan
oleh
kalangan
penguasa,
pemimpin agama dan cendekia. Isi tulisan
mereka pun berupa undang-undang, ajaran
suci atau sesuatu yang dianggap memiliki
nilai kemuliaan dalam masyarakat. Tidak
sembarang pesan atau gagasan bisa
dituangkan melalui tulisan (Suseno,
1997:17). Hal ini terjadi karena pada masa
itu tidak setiap orang memiliki keterampilan
menulis di samping budaya lisan yang masih
dominan dalam masyarakat.
Adalah bangsa-bangsa Sumeria,
Babil, Asiria dan lain-lain di Timur Tengah
yang diyakini sebagai pengguna tulisan
paling awal yakni sekitar 3000 SM. Mereka
menuliskan undang-undang serta maklumat
raja yang harus dipatuhi oleh rakyat di
lempengan batu. Selanjutnya, sekitar tahun
300
SM
bangsa
Romawi
mulai
menggunakan lembaran kulit binatang untuk
mencatat perniagaan mereka (mungkin
inilah cikal bakal dari ilmu akuntansi).
Sedangkan di Cina, tulisan digunakan untuk
menyebarkan ajaran dan kepercayaan dalam
masyarakat. Pun tak jauh beda dengan apa
yang dilakukan para filsuf Yunani. Sebagian
besar dari mereka menggunakan lempengan
batu, kulit binatang maupun daun papyrus
untuk menulis.
Perkembangan selanjutnya yaitu
penemuan mesin cetak oleh Johannes
Gutenberg pada abad 15. Penemuan ini
dianggap sebagai titik tolak bangkitnya ilmu
pengetahuan di Eropa. Berkat penemuan
mesin cetak ini, penyebaran ilmu
pengetahuan berjalan sangat cepat dan
murah. Akibat tidak langsung dari
penemuan ini adalah terjadinya revolusi
sosial dan reformasi gereja. Semakin
mudahnya akses masyarakat terhadap buku,
menumbuhkan kesadaran masyarakat atas
fenomena sosial yang terjadi di Eropa.

Kelebihan komunikasi tulis


Secara historis, komunikasi tertulis
memiliki arti penting bagi sejarah peradaban
manusia. Tulisan merupakan titik awal
sejarah manusia. Dengan kata lain, manusia
dapat dikatakan memasuki zaman sejarah
ketika mereka telah mengenal tulisan. Selain
itu, komunikasi tertulis memiliki fungsi
dokumentasi dan transformasi budaya.
Dibandingkan dengan komunikasi
lisan, komunikasi tertulis memiliki beberapa
kelebihan. Pertama, komunikasi tertulis
lebih tahan lama. Artinya, komunikasi
tertulis memiliki bentuk fisik baik berupa
kertas, kulit binatang maupun prasasti batu.
Sedangkan komunikasi lisan tidak memiliki
bentuk fisik. Kita tidak tahu kemana
perginya kata atau kalimat setelah
diucapkan.
Sebagaimana
disebutkan
sebelumnya, bahwa komunikasi tertulis
memiliki fungsi dokumentasi. Sehingga
pesan atau informasi yang terkandung di
dalamnya bisa tersampaikan meski pemberi
pesan sendiri sudah meninggal. Sebagai
contoh,
pemikiran-pemikiran
Plato,
Aristoteles dan filsuf lainnya hingga kini
masih bisa kita terima karena mereka
memahatkan
ajaran
mereka
pada
lempengan-lempengan batu. Meski jasad
Karl Marx, Darwin, Max Weber sudah
hancur dalam tanah, kita dan generasi
sesudah kita masih bisa menerima informasi
tentang
pemikiran
mereka
selama
perpustakaan menyimpan buku-buku karya
mereka. Bukti lain yang tak kalah penting
adalah bahwa kita masih bisa meneruskan
tradisi dan ajaran agama karena adanya
kitab-kitab suci. Semua agama besar di
dunia pasti memiliki kitab suci. Di sini kita
bisa melihat bahwa kitab suci agama
merupakan sarana komunikasi tertulis yang
memuat seperangkat aturan, cerita masa

lalu, ancaman, kabar gembira tentang masa


depan
yang
semuanya
bertujuan
melestarikan dan mempertahankan tradisi
(Suseno, 1997:17).
Kedua,
komunikasi
tertulis
berlangsung secara massive dan dinamis.
Berkat jasa Gutenberg, informasi dapat
diproduksi secara massal dengan biaya yang
lebih murah. Sehingga informasi dapat
tersebar dengan cepat dan mudah. Suseno
(1997:27) menyebutkan bahwa keberhasilan
Reformasi Gereja Martin Luther di Jerman
salah satunya dengan menggunakan sarana
pencetakan. Mereka melemparkan gagasan
dan argumen melalui selebaran yang mereka
sebar. Dikatakan pula bahwa jika
sebelumnya pikiran orang hanya dapat
dipengaruhi melalui orasi (yang terbatas
pada beberapa ratus orang dan diucapkan
sekali saja serta dengan mudah dikontrol),
kini pikiran orang dapat dipengaruhi melalui
leaflet, buku dan media cetak lain yang
dapat dibaca dan didiskusikan berulangulang dengan angota masyarakat lain.
Ketiga, komunikasi tertulis relatif
lebih terstruktur dan terencana. Sebagai
sebuah tindakan strategis (Littlejohn,
2002:13),
komunikasi
lebih
bisa
direncanakan
dan
disusun
ketika
disampaikan
melalui
media
tulisan.
Komunikator dapat menyusun pesan,
menggunakan kata-kata pilihan, memilih
topik tertentu dan memperkirakan respon
dari audience. Sehingga proses komunikasi
bisa dievaluasi dan dikembangkan.
Keempat,
ketika
kita
tidak
memahami sesuatu hal dari apa yang kita
baca atau kita menemui kata asing, kita bisa
mengulangi beberapa paragraf sebelumnya,
menggunakan kamus atau bertanya kepada
seseorang untuk memahaminya. Berbeda
dengan komunikasi lisan yang berlangsung
hanya sekali, kita tentu tak bisa serta merta

meminta pembicara untuk mengulangi


kalimat yang tidak kita pahami.
Kelemahan komunikasi tertulis
Sebagai bagian dari komunikasi
verbal, komunikasi tertulis tak bisa lepas
dari penggunaan bahasa sebagai sarana
bertukar makna. Oleh karena itu, kelemahan
unsur kebahasaan dalam proses komunikasi
tentunya
menjadi
kelemahan
dari
komunikasi tertulis.
Larry L. Barker sebagaimana dikutip
Dedy Mulyana dalam Pengantar Ilmu
Komunikasi menyebutkan tiga fungsi
bahasa: penamaan (labeling), interaksi dan
transmisi informasi. Penamaan merupakan
usaha manusia untuk mengidentifikasi
objek, tindakan dan perasaan yang berbeda
dengan memberi nama pada objek, tindakan
dan perasaan tersebut.
Meski bahasa merupakan unsur yang
sering kita gunakan dalam komunikasi
sehari-hari, bahasa memiliki sejumlah
keterbatasan. Mulyana (2002:245-255)
menguraikan keterbatasan bahasa sebagai
sarana komunikasi. Pertama, keterbatasan
jumlah kata yang tersedia untuk mewakili
objek atau perasaan. Tidak semua benda,
peristiwa, perasaan dapat diwakili oleh kata
yang berbeda. Suatu kata hanya mewakili
realitas, tetapi bukan merupakan realitas itu
sendiri. Kata hanya bisa mewakili sebagian
dari realitas, bukan keseluruhan realitas.
Keterbatasan bahasa dalam mewakili realitas
tampak pada penggunaan kata sifat. Kata
sifat cenderung dikotomis, maksudnya
membagi sesuatu hanya dalam dua kategori,
semisal kaya-miskin, bahagia-sengsara,
pandai-bodoh,
baik-buruk
dan
lain
sebagainya. Namun perlu disadari bahwa
realitas sesungguhnya tidaklah sekaku itu.
Kita tidak bisa memvonis bahwa kalau tidak
hitam berarti putih atau sebaliknya. Antara

warna hitam dan putih terdapat puluhan


bahkan ratusan warna abu-abu yang pasti
beda. Seringkali agar kata yang kita
ungkapkan lebih tepat, kita menggunakan
tambahan agak atau sangat.
Untuk mengukur makna yang lebih
akurat, Charles E. Osgood, George Suci dan
Percy Tannenbaum merancang suatu
instrumen
yang
disebut
Semantic
Differential. Mereka mengukur makna suatu
konsep dalam skala 1 sampai 7. dalam hal
ini 1 menunjukkan kecenderungan negative
sedang
angka
7
menunjukkan
kecenderungan positif (Mulyana,2002:246).
Kedua, kata bersifat ambigu dan
kontekstual. Setiap kata (meskipun sama)
berpotensi untuk dimaknai secara berbeda
oleh orang yang berbeda. Perbedaan makna
tersebut dipengaruhi oleh latar belakang tiap
orang yang tentunya berbeda. Pemaknaan
kata juga perlu memperhatikan konteks
kalimatnya.
Ketiga, kata-kata mengandung bias
budaya. Budaya sangat mempengaruhi
bahasa. Menurut hipotesis Sapir-Whorf
(Griffin, 2003:30) menyatakan bahwa
struktur bahasa suatu budaya membentuk
persepsi dan perilaku manusia. Dengan kata
lain, struktur bahasa menunjukkan budaya
suatu masyarakat. Misalnya, penggunaan
tenses yang memperhitungkan waktu dalam
struktur
bahasa
masyarakat
Eropa
menunjukkan penghargaan mereka atas
waktu. Penggunaan bahasa yang bertingkat
dalam budaya Jawa menunjukkan sistem
sosial masyarakat yang terbagi dalam kelaskelas tertentu. Oleh sebab itu, sangat
mungkin terjadi kita tidak menemukan
padanan yang tepat untuk kata tertentu
dalam bahasa asing.
Disamping kelemahan-kelemahan bahasa
dalam komunikasi tertulis tersebut, Beebe

and Beebe (1997:257) menyebutkan


kelemahan dari komunikasi tertulis adalah
hubungan
antarpartisipan
komunikasi
berjarak.
Komunikator
tidak
bisa
merinteraksi dengan audien secara langsung,
melihat perubahan sikap yang terjadi atau
merespon sikap audien. Sehingga feedback
dalam proses komunikasi tersebut bersifat
tidak langsung dan tertunda (no immediate
interaction). Sedang dalam komunikasi
lisan, hubungan pembicara dengan audien
berlangsung akrab, hangat dan lebih
personal.
Komunikasi tertulis bersifat lebih formal
daripada
komunikasi
lisan.
Dalam
komunikasi tertulis kita terikat dengan
konsep atau aturan ejaan tertentu untuk
memenuhi syarat sebagai komunikasi
tertulis
yang
baik.
Kita
harus
memperhatikan struktur kalimat yang
njelimet agar bisa dipahami oleh pembaca.
Sedangkan
dalam
komunikasi
lisan
pembicara bisa memakai kalimat-kalimat
pendek tanpa harus mematuhi aturan kalimat
yang baik dengan alasan efisien.
Akhirnya, media apapun yang kita
gunakan berkomunikasi tidaklah menjadi
pokok persoalan. Toh tersedia banyak
banyak cara, saluran yang bisa kita pakai
untuk berkomunikasi. Kita pun bisa
mengkombinasikan berbagai cara untuk
mencapai tujuan kita berkomunikasi.
Namun
setidaknya,
dengan
mengetahui kelebihan dan kelemahan dari
komunikasi tertulis kita tergerak untuk
mengasah
keterampilan
kita
dalam
menggunakan pena sebagai senjata yang
katanya lebih tajam dari pedang. Selamat
menulis.