Anda di halaman 1dari 52

Persoalan Keberlanjutan Kunci dalam

Sektor Minyak Kelapa Sawit


Naskah Diskusi untuk Konsultasi Para Pemangku
Kepentingan (ditugaskan oleh World Bank Group)
Oleh Cheng Hai Teoh

THE WORLD BANK

Penyangkalan
Semua pendapat yang disampaikan dalam rancangan diskusi ini tidak harus mewakili
pandangan World Bank Group atau pemerintah anggotanya. World Bank Group tidak menjamin
ketepatan dari data yang tercantum dalam rancangan ini dan sama sekali tidak bertanggung
jawab atas segala akibat dari pemakaiannya. Perbatasan, warna, satuan, dan informasi lainnya
yang ditunjukkan pada peta dari rancangan ini bukanlah pernyataan pendapat tidak langsung
dari World Bank Group tentang status hukum suatu wilayah atau dukungan atau pengakuan
terhadap perbatasan.

Daftar Isi
A.

Pendahuluan ............................................................................................ 4
Latar Belakang ................................................................................................. 4
Tujuan .............................................................................................................. 4
Pendekatan ....................................................................................................... 5

B.

Pandangan Umum Sektor Minyak Kelapa Sawit ................................. 6


Pendahuluan ..................................................................................................... 6
Perkembangan sektor minyak kelapa sawit ..................................................... 7
Minyak kelapa sawit dalam industri minyak dan lemak global ....................... 8
Peran dan kontribusi minyak kelapa sawit kepada pembangunan ................... 9
Pengembangan masa depan sektor kelapa sawit .............................................11

C.

Pengalaman World Bank Group dalam Sektor Minyak Kelapa


Sawit..........................................................................................................13
Pandangan Umum Investasi World Bank .......................................................13
Pengalaman Negara Pilihan ............................................................................ 13
Pandangan Umum Investasi IFC .................................................................... 16

D.

Konteks: Perdebatan Minyak Kelapa Sawit Global Pengembangan dan


Keberlanjutan Minyak Kelapa Sawit ........................................... 19
Pendahuluan ................................................................................................... 19
Tentang apa saja? ........................................................................................... 19
Bidang apa saja menjadi pokok perdebatan? ................................................. 25
Pendekatan apa saja yang memungkinkan kesesuaian pandangan? ............... 26

E.

Tantangan dan Peluang Sektor Minyak Kelapa Sawit ....................... 28


Pendahuluan ................................................................................................... 28
Aspek Ekonomi .............................................................................................. 28
Aspek Lingkungan Hidup ............................................................................. 30
Aspek Sosial .................................................................................................. 39
Persoalan Tata Kelola .................................................................................... 45

F.

Pertanyaan yang perlu Diajukan dalam Konsultasi

dengan Pemangku

Kepentingan ........................................................................ 48
G.

Kesimpulan ............................................................................................. 49

Referensi ............................................................................................................. 50
3

A. Pendahuluan
Latar Belakang
Kelapa sawit, yang dihasilkan dari buah pohon kelapa sawit Afrika (Elaeis guineensis), sudah
menjadi komoditi pertanian global utama, yang digunakan dalam sejumlah besar produk
pangan dan non-pangan dan akhir-akhir ini dipandang sebagai bahan bakar nabati yang
menjanjikan. Kelapa sawit secara menyeluruh diolah di negara berkembang wilayah tropis yang
lembab dan menjadi landasan penting bagi perekonomian setempat, baik untuk ekspor maupun
sebagai bahan mentah industri lokal. World Bank Group, dengan misinya mengurangi
kemiskinan, melihat ini sebagai komoditi yang dapat memainkan peran penting dalam
memajukan pembangunan ekonomi negara berkembang serta menjamin kenaikan standar
hidup bagi rakyat miskin pedesaan ketika seluruh risiko lingkungan, sosial, ekonomi dan tata
kelola disikapi, serta memberikan kontribusi kepada keamanan pangan global.
World Bank dan International Finance Corporation (IFC) masing-masing sejak tahun 1965 dan
1976, menginvestasikan dan mendukung pembangunan sektor ini di Amerika Latin, Afrika dan
Asia Pasifik. Investasi ini dalam proyek-proyek sektor publik dan swasta fokus pada baik
produksi primer maupun pengolahan hilir dari kelapa sawit, dan dalam beberapa hal menyikapi
infrastruktur komplementer, pembangunan daerah dan hubungannya dengan petani kecil.
Walaupun seluruh investasi ini dilaksanakan dalam kerangka kebijakan dan prosedur
pengembangan pertanian oleh Bank dan IFC yang berlaku pada waktu itu, belum ada lembaga
lain yang secara strategis berusaha secar luas dalam sektor yag spesifik ini.
Beberapa tahun terakhir ini terjadi kekhawatiran yang semakin meningkat tentang persoalan
keberlanjutan dari sektor, khususnya berkenaan dengan produksi di Indonesia dan Malaysia
(kedua negara penghasil kelapa sawit mentah paling besar). Kekhawatiran ini belakangan
disoroti untuk IFC oleh Office of the Compliance Advisor (CAO) berkenaan dengan beberapa
investasi IFC dalam sektor. Secara khusus, CAO merekomendasikan bahwa IFC
mengembangkan strategi luas untuk investasinya dalam sektor, untuk menjamin bahwa
investasinya konsisten dengan kebijakan dan prosedur serta secara jelas memberikan
kontribusi kepada pembangunan yang berkelanjutan. Presiden World Bank Group kemudian
memberikan arahan bahwa sebuah strategi global perlu dikembangkan untuk menjamin
pendekatan yang sama terhadap sektor kelapa sawit oleh World Bank Group dan bahwa WBG
tidak akan menyetujui investasi baru dalam pengembangan kelapa sawit sampai sudah adanya
pendekatan luas seperti itu.
IFC, bekerjasama dengan World Bank, karena itu melakukan persiapan strategis yang luas bagi
seluruh kegiatan dan arah masa depan bagi sektor minyak kelapa sawit. IFC dan World Bank
mengakui bahwa banyak persoalan yang muncul dalam sektor minyak kelapa sawit bersifat
umum untuk sektor komoditi pertanian lainnya. Diharapkan bahwa pengertian mendalam dari
pengembangan strategi sektor minyak kelapa sawit akan diterapkan dalam sektor-sektor lain
dan untuk agribisnis global pada umumnya, dan diharapkan untuk disikapi dalam
pengembangan strategi masa depan.

Tujuan
Tujuan utama kegiatan persiapan strategi sektor minyak kelapa sawit adalah untuk:

Mendengar dan belajar dari berbagai para pemangku kepentingan melalui suatu proses
konsultasi yang sehat, agar memahami pandangan mereka tentang keterlibatan WBG
dalam sektor kelapa sawit dan pertukaran gagasan tentang persoalan yang dihadapi oleh
sektor;

Mengakses pilihan tentang bagaimana WBG secara pragmatis dapat menyikapi segala
persoalan dalam sektor, termasuk menetapkan peran investasi dan pendampingan WBG
dan persyaratan berdasarkan apa yang harus ada;

Menetapkan pendekatan dan mekanisme bagi pengurangan risiko sosial dan lingkungan
hidup berkenaan dengan sektor minyak kelapa sawit;

Mengidentifikasi peluang dan manfaat berkenaan dengan keberlanjutan dengan tujuan


meningkatkan pembangunan dalam sektor minyak kelapa sawit, termasuk mekanisme
untuk mewujudkan dampak positif yang sejalan dengan kapasitas World Bank Group; dan

Menyediakan landasan kuat bagi peningkatan dampak pengembangan positif sektor minyak
kelapa sawit, termasuk penentuan cara yang tepat bagi pemantauan dan evaluasi.

Pendekatan
Pengembangan strategi WBG akan dilaksanakan dalam lima tahap, mencakup:
Pekerjaan persiapan dan analitis
Selama tahap ini tim pengembangan strategi minyak kelapa sawit World Bank Group akan
berusaha mendapatkan keahlian eksternal untuk membantu merancang suatu proses yang
partisipatif, terbuka dan dapat dipercaya untuk mengembangkan strategi tersebut. Tim akan
mengkaji ulang dan menarik pelajaran dari proses konsultasi lainnya yang diselenggarakan oleh
World Bank Group di tempat lain. Selain itu, tim akan berusaha mengenali dan membawa
keahlian eksternal kedalam proses pengembangan strategi minyak kelapa sawit.
Persiapan Naskah Persoalan (Issues Paper)
Naskah Persoalan akan berusaha menegaskan segala persoalan luas dan spesifik yang
dihadapi oleh sektor, dan menetapkan landasan bagi konsultasi untuk diikuti. Naskah Persoalan
akan disiapkan oleh seorang konsultan eksternal, yang akan membawa perspektif industri
eksternal, dan satu tim World Bank Group internal. Naskah Persoalan akan diumumkan dan
akan merupakan dasar bagi penetapan sejumlah pertanyaan kunci yang dapat membantu
menyediakan kerangka kerja bagi konsultasi pemangku kepentingan.
Konsultasi pemangku kepentingan inklusif
Proses konsultasi akan dilakukan dengan melibatkan bermacam-macam kelompok pemangku
kepentingan termasuk organisasi masyarakat madani, komunitas, donor, pemegang saham,
mitra, perwakilan sektor swasta, pemerintah, pertanian dan para pemikir berorientasikan
agribisnis. Konsultasi bertujuan mendengarkan pandangan pemangku kepentingan dan
menetapkan kesamaan pandangan, dimana mungkin, tentang bagaimana World Bank Group
dapat menyikapi segala persoalan yang dihadapi sektor minyak kelapa sawit. Format konsultasi
akan meliputi kelompok-kelompok multi-stakeholder dan pertemuan satu persatu, serta
konsultasi secara elektronis dan internet yang terbuka bagi semua pihak yang berkepentingan.
Tim World Bank Group akan menyelenggarakan konsultasi multi-stakeholder regional di Asia
Timur (Indonesia), Afrika Barat (Ghana) dan Amerika Latin (Kosta Rika) serta Amerika Serikat
(Washington DC) dan Eropa Barat (Amsterdam). Seorang fasilitator yang netral dan profesional
akan menjadi moderator dari semua konsultasi multi-stakeholder.
5

Persiapan Rancangan Naskah Strategis Minyak Kelapa Sawit


Rancangan strategis, yang akan disiapkan oleh konsultan dan tim proyek, memperhitungkan
pandangan stakeholder dan menggariskan kerangka kerja strategis serta prinsip untuk
mengawal keterlibatan World Bank Group di masa depan dalam sektor minyak kelapa sawit.
Rancangan laporan akan disebar secara elektronik kepada para pemangku kepentingan untuk
kajian akhir dan diubah dimana perlu dengan memperhitungkan komentar-komentar terakhir.
Penyajian Strategi Akhir Minyak Kelapa Sawit
Strategi akhir akan disampaikan kepada manajemen senior World Bank Group untuk
pertimbangan dan pengesahan, serta pengumuman.
Dokumen ini, Persoalan Keberlanjutan Kunci dalam Sektor Minyak Kelapa Sawit,
menyikapi tahap kedua dari proses ini. Naskah ini menyediakan pandangan umum dari sektor
dan segala persoalan yang dihadapi, dan berusaha membantu menyediakan kerangka kerja
bagi perdebatan mendatang bersama dengan beraneka ragam pemangku kepentingan.

B. Pandangan Umum Sektor Minyak Kelapa Sawit


Pendahuluan
Berasal dari Afrika Barat, kelapa sawit, Elaeis guineensis Jacq., sepanjang abad terakhir
menjadi penggerak semakin penting dari perekonomian semua negara penghasil di Asia
Tenggara, Papua Nugini, Afrika Tengah dan Barat, dan untuk jumlah lebih sedikit Amerika
Latin. Sekarang minyak kelapa sawit adalah minyak sayur tropis paling penting dalam industri
minyak dan lemak global, dalam hal produksi dan perdagangan. Bermula digunakan dalam
bentuk mentah untuk memasak di negara asal, minyak kelapa sawit sudah berkembang
menjadi komoditi internasional dengan banyak aplikasi pangan dan non-pangan. Akhir-akhir ini
minyak kelapa sawit dipromosikan sebagai bahan mentah untuk menghasikan bahan bakar
nabati (biofuel).
Produk ini sangat serba guna dan dapat dijumpai dalam lebih dari 50 persen produk kemasan di
supermarket, mulai dari minyak goreng, margarin, eskrim, kue-kue dan coklat sampai sabun,
deterjen dan kosmetik. Merek-merek global seperti Flora, KitKat, Dove dan Persil memuat
ramuan yang berasal dari kelapa sawit.
Seksi ini menyediakan gambaran singkat industri kelapa sawit berkenaan dengan
perkembangannya, posisinya dalam industri minyak dan lemak global serta peran dan
kontribusinya kepada pembangunan perekonomian. Pengembangan masa depan dari sektor
juga dibahas.

Gambar 1: Peta yang menunjukkan luas pemeliharaan kelapa sawit di 43 negara


penghasil kelapa sawit pada tahun 2006

Sumber: (FAO 2007). Dikutip oleh Koh and Wilcove (2008)

Perkembangan sektor minyak kelapa sawit


Walaupun penanaman kelapa sawit secara komersial sudah dimulai pada awal abad ke 20,
yang terpusat di Kongo, Malaysia dan Indonesia, ekspansi dalam skala besar tidak bertambah
daya geraknya hingga tahun 1960an. Kini, kelapa sawit diolah di sekitar 43 negara di dunia
(Gambar 1). Pertumbuhan industri selama 4 dekade terakhir, dalam lahan tanam dan produksi
disajikan di Gambar 2 dan Tabel 1. Sementara penanaman kelapa sawit secara global tumbuh
delapan kali lipat dalam 4 dekade terakhir menjadi lebih dari 12 juta ha lahan pada tahun 2009,
lahan pemeliharaan di Malaysia meningkat 5 kali lipat dan di Indonesia 23 kali lipat dalam
periode yang sama. Ekspansi perkebunan kelapa sawit di Indonesia terutama pesat sejak tahun
2000, dengan lahan cakupan kelapa sawit dewasa bertambah menjadi 5,35 juta ha pada tahun
2009. Berkenaan dengan pertumbuhan tahunan lahan tanam, tahun 1980an mengalami
penanaman tahunan sekitar 100.000 hektar yang meningkat menjadi sekitar 200.000 hektar per
tahun pada tahun 1990an. Dari tahun 1999 sampai tahun 2003, perkiraan tingkat penanaman
adalah sekitar 500.000 hektar per tahun. (Chandran, 2010b.)
Produksi global kelapa sawit meningkat lebih dari sembilan kali lipat sejak tahun 1980 menjadi
45,1 juta ton pada tahun 2009, untuk memasok pasar-pasar utama, termasuk Uni Eropa, Cina,
Pakistan, India dan Indonesia. Sejalan dengan ekspansi sangat pesat dari lahan penanaman,
Indonesia melampaui Malaysia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar sedunia pada tahun
2007. Bersama-sama, Indonesia dan Malaysia menghasilkan 85 persen dari produksi global.
Peningkatan signifikan dalam produksi juga terlihat di negara-negara seperti Thailand, Ekuador,
Kolombia dan Papua Nugini, yang secara bersama menghasilkan 6,6 persen dari jumlah
produksi sedunia untuk tahun 2009.
Produksi kelapa sawit dikuasai sektor swasta di negara-negara penghasil utama. Pada awalnya
ekspansi didorong oleh perusahaan-perusahaan Eropa, khususnya yang berasal dari Inggris
yang mendirikan perkebunan karet, teh dan kopi diakhir tahun 1800an dan awal tahun 1900an
di Asia. Sesudah anjloknya harga karet pada tahun 1960an, perusahaan-perusahaan tersebut
mulai beralih ke kelapa sawit. Belakangan ini, perkembangan sebagian besar didorong oleh
7

perusahaan-perusahaan lokal. Sekarang 10 perusahaan perkebunan kelapa sawit terbesar


mempunyai kapitalisasi pasar sebesar US$79,1 milyar (31 Maret 2010) dan mempunyai sekitar
2,3 juta ha lahan perkebunan yang menghasilkan 9,7 juta ton (Bloomberg, 31 Maret 2010). Ini
sama dengan sekitar 22 persen produksi kelapa sawit sedunia. Sejumlah merger dan akuisisi
belum lama berselang berakibat pada munculnya beberapa perusahaan perkebunan raksasa,
seperti Sime Darby Berhad dan Wilmar International Ltd.
Perkembangan industri minyak kelapa sawit di negara-negara penghasil lainnya juga didorong
oleh sektor swasta. Misalnya, New Britain Palm Oil Ltd mendirikan beberapa perkebunan
pertama di Papua Nugini pada pertengahan tahun 1960an (NBPOL, 2007), sedangkan di Brasil,
Agropalma adalah pemain terkemuka dengan lebih dari 39.000 ha lahan perkebunan kelapa
sawit, yang membuatnya terbesar di Amerika Latin (Brito and Balao, 2009). Perusahaan
multinasional Unilever NV juga mempunyai kepentingan perkebunan di Malaysia, Afrika,
Kolombia dan Thailand namun sudah mendivestasikan investasi hulu ini sejak tahun 1990.
Para petani kecil, yang di Asia seringkali dibantu pemerintah, sudah menyumbang besar
kepada pengembangan sektor kelapa sawit, baik sebagai peserta dalam skema pengembangan
tanah atau sebagai penanam yang mandiri, mengolah mulai dari beberapa hektar sampai
sekitar 50 100 ha lahan. Secara global, sekitar 3 juta kepala keluarga petani kecil terlibat
dalam sektor (www.rspo.org). Di Malaysia, dari jumlah 4,49 juta hektar lahan yang ditanami
kelapa sawit pada tahun 2008, sekitar 30 persen adalah berdasarkan skema atau para petani
kecil terorganisir (mereka yang langsung terkait dengan kegiatan perkebunan besar) sedangkan
sekitar 11 persen dikelola oleh para petani kecil mandiri. Petani kecil di Indonesia mulai
memelihara kelapa sawit sejak tahun 1975, dan pada tahun 2009 diperkirakan bahwa para
petani kecil berdasarkan skema dan yang mandiri secara bersama mewakili 43,8 persen dari
seluruh lahan nasional yang ditanami kelapa sawit. Di Thailand, sekitar 76 persen dari seluruh
lahan kelapa sawit dewasa dimiliki para petani kecil pada tahun 2009 (Dallinger, 2010, pers
com). Di PNG, petani kecil mewakili sekitar 42 persen dari seluruh lahan penanaman kelapa
sawit seluas 134.000 ha dan sekitar 35 persen dari jumlah produksi kelapa sawit nasional
sebesar 2,1 juta ton pada tahun 2008 (Orwell, 2009). Sebuah studi pada tahun 2006
(Vermeulen and Goad, 2006) menunjukkan bahwa di Nigeria lebih dari 80 persen produksi
nasional dihasilkan dari pertanian setengah liar atau campur sari yang mencakup 1,6 juta hektar
lahan.
Minyak kelapa sawit dalam industri minyak dan lemak global
Pasar minyak dan lemak yang dapat dicerna berkembang sejalan dengan pertumbuhan
penduduk dunia, peningkatan konsumsi per kapita, dan keinginan mengganti lemak hewan
dalam aturan makan manusia. Seluruh produksi minyak sayur meningkat sebesar 335 persen
sejak tahun 1980 (Tabel 2). Dari antara minyak sayur utama, pertumbuhan produksi minyak
kelapa sawit terbilang luar biasa, benar-benar cerita keberhasilan pasar yang baru muncul,
dengan kenaikan sepuluh kali lipat dari tahun 1980 sampai tahun 2009 sedangkan pesaing
utamanya, minyak kacang kedelai, meningkat 2,7 kali lipat dalam periode yang sama. Minyak
kelapa sawit melampaui minyak kacang kedelai dalam produksi global tahun 2005. Pada tahun
2009, produksi minyak kelapa sawit sebesar 45,1 juta ton yang sama dengan 34,0 persen,
sedangkan pangsa pasar minyak kacang kedelai, minyak rapeseed dan minyak biji bunga
matahari, telah mampu melayani pasar yang secara tradisional lebih menyukai minyak yang
lain. Minyak kelapa sawit juga serba guna dalam banyak aplikasi pengolahan. Kekhawatiran
terhadap bahaya kesehatan berkenaan dengan asam lemak atau trans-fatty acids (TFA) dan
genetically modified organisms (GMO) juga meningkatkan permintaan untuk minyak kelapa
sawit. Minyak kelapa sawit, yang membutuhkan sedikit atau tanpa hydrogenation untuk
8

produksi margarin, mentega dan pembuatan permen merupakan bahan pengganti yang dapat
diterima dibandingkan dengan minyak sayur yang membutuhkan hydrogenation untuk
menghasilkan produk ini. Minyak kelapa sawit tidak berasal dari GMO.
Alasan utama lain bagi dominasi minyak kelapa sawit dalam pasar minyak sayur adalah
produktivitas yang tak terpisahkan dari tanamannya dibandingkan dengan biji minyak. Hasil
minyak rata-rata kelapa sawit adalah 3,80 ton per ha yang masing-masing 9,3, 7,6 dan 5,8 kali
lipat lebih tinggi daripada minyak kacang kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari
(Oil World 2008). Berkenaan dengan pemanfaatan lahan, minyak kelapa sawit membutuhkan
sekitar 11,2 juta lahan bagi produksinya pada tahun 2008 sedangkan minyak kacang kedelai
membutuhkan 91,32 juta ha.
Walaupun sekitar 80 persen hasil minyak kelapa sawit sedunia sekarang dikonsumsi untuk
penggunaan pangan/yang dapat dimakan, penggunaan non-pangan semakin bertambah
penting, menyumbang kepada permintaan lebih besar dan harga lebih tinggi daripada minyak
kelapa sawit. Penggunaan dalam sabun, deterjen dan surfactants, kosmetik, farmasi,
nutraceuticals dan beberapa produk industri dan tumah tangga semakin bertambah karena
pengalihan dari produk-produk berdasarkan minyak bumi dan dengan demikian membuka
permintaan non-tradisional untuk minyak kelapa sawit dan minyak palm kernel. Hasrat global
untuk menggantikan sedikitnya sebagian kecil penggunaan bahan bakar fosil dengan bahan
bakar terbarukan telah menimbulkan kenaikan permintaan untuk minyak sayur, salah satu
bahan baku untuk bahan bakar nabati (biofuel). Disamping kepedulian terhadap lingkungan,
secara relatif harga tinggi dari bahan bakar fosil telah menciptakan permintaan untuk bahan
bakar alternatif yang efektif biaya dan bersih.
Peran dan kontribusi minyak kelapa sawit kepada pembangunan
Pada abad ke 20, pertanian berlanjut sebagai instrumen yang mendasar bagi pembangunan
berkelanjutan dan pengurangan kemiskinan. Tiga dari empat rakyat miskin di negara
berkembang tinggal di daerah pedesaan dan kebanyakan bergantung pada pertanian untuk
mata pencaharian mereka. Memajukan pengembangan pertanian jelas penting sekali untuk
mencapai Millenium Development Goal yaitu mengurangi kemiskinan dengan separuh pada
tahun 2015 dan melanjutkan mengurangi kemiskinan dan kelaparan untuk beberapa dekade
kemudian.
Minyak kelapa sawit adalah bagian penting dari aturan makan di banyak negara berkembang,
dan merupakan pilar sentral dari pembangunan pedesaan di beberapa negara beriklim tropis
serta penggerak utama dari pekerjaan dan penghasilan. Minyak kelapa sawit mencakup sekitar
sepertiga dari jumlah produksi global minyak sayur yang dapat dicerna dengan kemungkinan
ekspansi lebih lanjut di wilayah-wilayah dimana industri belum dikembangkan, misalnya Afrika
Sub-Sahara.
Kontribusi kepada pembangunan dan pertumbuhan perekonomian
Di Asia Tenggara, pembangunan pertanian berdasarkan minyak kelapa sawit menjadi
penggerak utama dari pembangunan dan diversifikasi pertanian di Indonesia dan Malaysia.
Sebelum tahun 1960an, sektor tanaman pohon kedua negara sangat bergantung pada produksi
karet, dan Malaysia serta Indonesia adalah penghasil terbesar sedunia. Namun demikian,
sesudah kejatuhan harga karet dan dengan demikian pendapatan nasional, Malaysia mulai
melaksanakan program diversifikasi yang menggerakkan pembangunan sektor minyak kelapa
sawit dalam skala besar. Keputusan melakukan diversifikasi tersebut adalah untuk mengikuti
rekomendasi dari World Bank yang menghasilkan penetapan dari Federal Land Development
Authority (Felda) pada bulan Juli 1956 dengan tujuan ganda memukimkan kembali rakyat
9

miskin dan tanpa lahan serta pindah dari pemeliharaan pohon karet. Skema Felda pertama
dengan kelapa sawit dimulai tahun 1961. Sekarang, Felda adalah penghasil minyak kelapa
sawit terbesar di Malaysia dengan 720.000 ha lahan kelapa sawit dan memukimkan kembali
112.635 keluarga yang tidak memunyai lahan (Ahmad Tarmizi, 2009).
Sektor minyak kelapa sawit merupakan penyumbang utama pendapatan ekspor negara
penghasil. Di Malaysia, nilai ekspor minyak kelapa sawit dan derivatifnya meningkat dari RM
2,98 milyar (USD 903 juta) atau 6,1 persen dari jumlah nasional tahun 1980 menjadi RM45,61
milyar (USD 13,8 milyar) pada tahun 2007. Pada waktu krisis keuangan Asia 1997/98, minyak
kelapa sawit adalah penghasil devisa tertinggi, melampaui pendapatan dari produk minyak
mentah dan bensin serta kehutanan dalam jumlah besar. Menurut Prof. K.S. Jomo (Jakiah Koya
2009) dari UN Department of Economic and Social Affairs, adalah industri minyak kelapa sawit
yang menyelamatkan Malaysia selama krisis ekonomi dengan memacu pertumbuhan ekonomi.
Sektor minyak kelapa sawit juga merupakan penghasil ekspor utama di Indonesia,
menyumbang sekitar USD 7,9 milyar pada tahun 2007 (World Bank, 2009).
Diluar fungsi primer sebagai minyak yang dapat dicerna, industri minyak kelapa sawit telah
menjadi katalisator bagi pembangunan industri berdasarkan minyak kelapa sawit seperti
produksi lemak khusus, pengganti mentega kakao, bahan kimia tiruan (oleochemical), sabun,
deterjen rumah tangga, nutraceuticals dan terakhir sebagai bahan baku untuk bioenergi.
Perusahaan penyulingan minyak Finlandia, yaitu Neste Oil, sedang membangun pabrik
biodiesel terbesar di dunia di Singapura; kalau selesai akhir 2010 maka pabrik tersebut, yang
terutama akan menggunakan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku, mempunyai kapasitas
tahunan sekitar 800.000 ton (Virki, 2007). Penghasil utama lainnya bahan bakar nabati (biofuel)
berdasarkan minyak kelapa sawit adalah Sime Darby Berhad yang mempunyai jumlah volume
produksi 290.000 ton per tahun dari pabrik-pabriknya di Malaysia dan CleanerG BV di Negeri
Belanda (The Sun, 2010). Sekarang ini, Indonesia mempunyai kapasitas terpasang 1,2 juta ton
oleochemical per tahun dan sekitar 3 juta ton biodiesel per tahun (Jurianto, 2010).
Pekerjaan
Disebabkan oleh rendahnya tingkat mekanisasi dalam tanaman pohon perkebunan yang dapat
hidup bertahun-tahun, khususnya pengumpulan buah, maka perkebunan kelapa sawit
menerapkan proses padat karya dan menggunakan sejumlah besar pekerja. Dengan demikian,
sektor minyak kelapa sawit merupakan pekerjaan utama. Sejalan dengan perluasan lahan
tanam kelapa sawit, di Malaysia jumlah pekerja sektor tumbuh dari 92.352 orang pada tahun
1980 menjadi sekitar 570.000 orang pada tahun 2009 (Kementerian Perkebunan Industri &
Komoditas, 2009). Diperkirakan bahwa 290.000 orang lagi dipekerjakan di kegiatan operasional
hilir. Di Malaysia sektor bersangkutan juga menyediakan pekerjaan untuk pekerja migran dari
Indonesia, Thailand dan Bangladesh sehingga menghasilkan banyak uang untuk dikirim ke
negara mereka. Perkiraan jumlah orang yang bekerja di sektor minyak kelapa sawit sangat
berbeda namun berdasarkan gambaran umum sekitar tiga juta orang terlibat didalam industri.
Pembangunan sosial dan pengurangan kemiskinan
Di Malaysia sektor minyak kelapa sawit juga dianggap memainkan peran kunci dalam
pemberantasan kemiskinan pedesaan melalui lembaga pengembangan lahan seperti Federal
Land Development Authority (Felda), Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority
(Felcra) dan berbagai lembaga pembangunan negara di Malaysia. Sumbangan Felda
didokumentasikan dalam Feldas Fifty Years: Land Pioneers to Investors (Lee and Tengku
Shamsul, 2006).
Pada pertengahan tahun 1990an di Malaysia, suatu skema pengembangan tanah alternatif
dengan sebutan Konsep Baru diluncurkan oleh pemerintah untuk pembangunan perkebunan
10

kelapa sawit diatas lahan Native Customary Rights (NCR). Berdasarkan skema sewa tanah ini,
dibentuk perusahaan milik tiga pemegang saham yaitu perusahaan swasta (pemegang saham
60 persen), masyarakat setempat (pemegang saham 30 persen) dan instansi pemerintah terkait
(pemegang saham 10 persen). Perusahaan swasta menyewa lahan selama 60 tahun dan
menyediakan modal keuangan bagi pembangunan perkebunan kelapa sawit (Vermeulen and
Goad, 2006). Model investasi ini kini sedang digunakan bagi pembangunan perkebunan kelapa
sawit diatas lahan BCR di Negara Bagian Sarawak.
Di Indonesia Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang diperkenalkan pemerintah dan didukung
secara keuangan oleh World Bank antara tahun 1978 dan 2001, memainkan peran kunci dalam
mengembangkan kelapa sawit bagi para petani kecil. Skema PIR merupakan bagian penting
dari program transmigrasi untuk memukimkan kembali rakyat miskin dan tanpa lahan dari Jawa,
Bali dan Sumatera ke pulau-pulau yang kurang padat penduduknya, khususnya Kalimantan.
Berdasarkan skema ini, maka sebuah perusahaan terkait dengan pemerintah mengembangkan
plasma diatas lahan seluas 2 hektar bagi masing-masing pemukim di sekitar perkebunan inti
rakyat dari perusahaan (Vermeulen and Goad, 2006). Pada puncaknya antara tahun 1979 dan
1984, 535.000 keluarga, atau hampir 2,5 juta orang dipindahkan berdasarkan program
transmigrasi. Antara tahun 1986 dan 1999, skema PIR membangun 164.000 hektar lahan
perkebunan inti rakyat dan 425.000 lahan petani plasma (Rosediana Suharto, 2009). Sejak
tahun 1995 pemerintah Indonesia memperkenalkan skema Koperasi Kredit Primer Anggota
(KKPA) yang akhirnya menggantikan skema PIR. Pada dasarnya ini adalah program keuangan
yang memungkinkan koperasi petani lokal mengakses dana dengan tingkat suku bunga subsidi.
Berdasarkan skema KKPA, yang memberikan otonomi lebih luas daripada skema PIR, maka
193.000 lahan plasma dan 79.000 ha lahan perkebunan inti rakyat sudah dibangun antara
tahun 1995 dan 2000 (Rosediana Suharto, 2009).
Perkembangan masa depan sektor minyak kelapa sawit
Kebutuhan minyak kelapa sawit di masa depan untuk pangan, non-pangan dan bahan bakar
nabati (biofuel)
Permintaan minyak kelapa sawit untuk penggunaan yang dapat dicerna diperkirakan terus
bertambah sejalan dengan pertumbuhan penduduk, kenaikan konsumsi per kapita dan karena
dunia maju beralih dari lemak jenuh hewan. Sedangkan konsumsi per kapita minyak dan lemak
selama 2008/09 di Uni Eropa dan Amerika Serikat masing-masing adalah 59,3 kg dan 51,7 kg,
konsumsi di negara berkembang seperti India, Pakistan dan Nigeria masing-masing adalah
13,4 kg, 19,9 kg dan 12,5 kg. Karena dunia berkembang menuju pada mutu kehidupan yang
lebih baik dan perubahan konsumsi per kapita menuju rata-rata dunia kini adalah 23,8 kg per
orang maka lompatan lebih lanjut dalam produksi minyak sayur dibutuhkan untuk memenuhi
permintaan masa depan (Bek-Nielsen, 2010).
Dengan asumsi kenaikan jumlah penduduk sebesar 11,6 persen (berdasarkan proyeksi World
Bank tentang jumlah penduduk 7,58 milyar pada tahun 2020) dan kenaikan 5 persen dalam
konsumsi per kapita maka tambahan 27,7 juta ton minyak sayur perlu dihasilkan sebelum tahun
2020. Apabila permintaan lebih tinggi ini perlu dipenuhi oleh minyak kelapa sawit maka
tambahan 6,3 juta ha lahan harus ditanami, dengan asumsi kenaikan 10 persen dalam
produktivitas per hektar. Namun demikian, apabila kenaikan disediakan oleh minyak kacang
kedelai maka tambahan 42 juta hektar lahan perlu diolah.
Di sektor bahan bakar nabati (biofuel), negara-negara di seluruh dunia sudah menetapkan
sasaran biodiesel berkisar 1 persen di Filipina sampai 10 persen di Uni Eropa sebelum tahun
2020. Apabila rencana ini terwujud diperkirakan 4 juta hektar lahan tambahan harus ditanami
11

untuk memenuhi kebutuhan Uni Eropa sedangkan satu juta hektar lahan lagi dibutuhkan untuk
mencukupi permintaan Cina (Shell et al, 2009).
Produksi minyak kelapa sawit di masa depan
Dengan kuatnya permintaan untuk minyak kelapa sawit, dari mana saja produksi masa depan
akan datang? Visi pemerintah Indonesia adalah untuk menjadi penghasil minyak kelapa sawit
berkelanjutan terbaik sedunia, dengan tujuan menghasilkan 40 juta ton minyak kelapa sawit
sebelum tahun 2020, dimana 50 persen untuk pangan dan 50 persen untuk energi (Jiwan,
2009). Ini berarti bahwa produksi harus berlipat dua dalam 10 tahun mendatang. Greenpeace
(2009) memperkirakan bahwa untuk memenuhi permintaan ini maka 300.000 hektar lahan
tambahan baru perlu ditanami kelapa sawit setiap tahunnya.
Mengingat keterbatasan lahan maka ekspansi kelapa sawit di Malaysia diperkirakan akan
melambat, khususnya di Semenanjung Malaysia dan Sabah. Namun demikian, pemerintah
Negara Bagian Sarawak baru-baru ini mengumumkan telah membuka bentangan lahan yang
luas bagi pemeliharaan kelapa sawit. Ini akan meningkatkan lahan kelapa sawit nasional dari
4,67 juta ha menjadi 5,4 juta ha (Wong, 2010).
Negara-negara lain juga diperkirakan akan memperluas lahan kelapa sawit mereka untuk
memenuhi kenaikan dalam permintaan global. Thailand diperkirakan akan meningkatkan lahan
kelapa sawitnya dengan 80.000 ha per tahun hingga tahun 2012 (Dallinger, 2010 pers.com).
Ada laporan bahwa perusahaan-perusahaan Cina sedang merundingkan bentangan lahan yang
sangat luas di Republik Demokratik Kongo dan Zambia (Economist, 2009) untuk membangun
perkebunan kelapa sawit. Demikian juga, perusahaan-perusahaan Malaysia sedang
mengupayakan perluasan serupa di Brasil, di lembah sungai Amazon. Malaysia dan Brasil
sudah mendirikan usaha patungan untuk membuka sekitar 100.000 hektar lahan kelapa sawit di
Brasil (New Straits Times, 2009). Juga ada kepentingan besar memperluas lahan kelapa sawit
sekarang di Afrika Barat. Perluasan industri dalam skala ini menjadi sebab bagi kekhawatiran
sangat besar diantara banyak pemangku kepentingan, khususnya masyarakat setempat yang
mungkin terkena dampak pembangunan ini serta LSM. Seluruh kekhawatiran ini dibahas lebih
lanjut di Seksi D (Perbincangan Kelapa Sawit) dan E (Tantangan dan Peluang bagi Sektor
Minyak Kelapa Sawit).

C. Pengalaman World Bank Group dalam Sektor Minyak Kelapa Sawit


Pandangan Umum Investasi World Bank
Sejak tahun 1965, World Bank (IBRD/IDA) menyediakan komitmen hampir US$1 milyar untuk
35 proyek dalam sektor minyak kelapa sawit, di 12 negara di Afrika, Amerika Latin dan Asia
Tenggara. Sekitar lima puluh persen komitmen ini ditujukan untuk membiayai serangkaian
proyek di Indonesia. Banyak proyek berdiri sendiri (stand-alone) fokus pada kelapa sawit,
sedangkan proyek-proyek lainnya meliputi karet, kelapa, kopi dll. Sebagian besar proyek sudah
selesai dilaksanakan pada tahun 1970an dan 1980an dan merupakan proyek ulangan atau
lanjutan di negara-negara bersangkutan. Berdasarkan lahan, sebagian besar proyek
dilaksanakan di Afrika Barat dan Asia Timur dengan hanya satu proyek di Amerika Latin
sepanjang periode ini. Pada saat ini tiga proyek masih dalam tahap pelaksanaan, sedangkan
sisanya sudah diselesaikan dan berakhir.
Tujuan proyek adalah meningkatkan produktivitas dalam sektor minyak kelapa sawit melalui
investasi penanaman dan penanaman kembali kelapa sawit diatas beberapa ribu hektar lahan.
Proyek sektor publik ini mencakup pembangunan pabrik pengolahan dan penyulingan minyak
kelapa sawit dan juga seluruh fasilitas terkait seperti jalan raya untuk pengumpulan, bangunan
12

dan infrastruktur lainnya (perumahan, gedung medis dan administrasi, bangsal penyimpanan,
kendaraan dan perlengkapan, dll.). Proyek mendukung perkebunan inti, menyediakan
pendanaan bagi pelayanan penyuluhan dan fasilitas kredit untuk membangun pertanian bagi
petani kecil, dan dalam beberapa hal mempromosikan skema penanaman oleh pihak luar.
Sebagian proyek generasi ketiga dan keempat memperluas ruang lingkup mereka dan
memukimkan keluarga-keluarga tanpa lahan diatas lahan yang sudah disiapkan, dan
menciptakan pekerjaan produktif diatas lahan dan dalam pabrik minyak kelapa sawit untuk
meningkatkan pendapatan petani kecil dan pekerja.
Pengalaman Negara Pilihan
Indonesia
Indonesia sudah menjadi pusat perhatian penyaluran kredit dari World Bank untuk proyek
pengembangan kelapa sawit, dengan sedikit diatas setengah jumlah penyaluran kredit untuk
sektor. Sepanjang periode 1969 1983, World Bank sudah membiayai tujuh proyek. Ini adalah
periode dimana Pemerintah Indonesia sangat menekankan pada pembangunan sektor
pertanian, dan pemerintah sudah melaksanakan serangkaian kegiatan yang disponsori
pemerintah (sektor publik) dalam kelapa sawit dan sektor-sektor lainnya.
Ketujuh proyek World Bank pada umumnya berhasil membangun perkebunan-perkebunan baru
dan memperkenalkan petani kecil dengan pengolahan kelapa sawit. Hasil pencapaian meliputi:

Penanaman atau penanaman kembali hampir 100.000 ha lahan kelapa sawit (jumlah)

12.000 keluarga petani kecil (karet dan kelapa sawit) memperoleh manfaat dan 24.000
pekerjaan baru dihasilkan pada perkebunan inti rakyat dan pertanian kecil (Sumatera Utara
I)

2,59 juta ton produksi kelapa sawit (Sumatera Utara II)

Komponen kelapa sawit dan karet memberikan manfaat kepada sekitar 10.000 keluarga
petani kecil miskin dan menghasilkan sekitar 6.000 pekerjaan baru pada perkebunan inti
rakyat dan pertanian kecil (NES V)

Perbaikan/pembangunan 900 km jalan raya (NES V)

Ketujuh proyek tersebut sudah dinilai IEG, yang menemukan bahwa lima proyek pertama
berdasarkan skema penilaian internal adalah memuaskan, sedangkan dua proyek terakhir,
yang lebih besar dan jauh lebih kompleks, kurang memuaskan karena kinerja buruk dari
instansi-instansi yang bertanggung jawab, serta kesulitan logistik dan pengelolaan. Sertifikasi
tanah masih menyita waktu terlalu lama dan hal ini masih merupakan tantangan sampai
sekarang. Dijumpai adanya sengketa kepemilikan tanah dengan masyarakat setempat yang
menolak mengambil bagian dalam proyek. Karena buruknya kinerja instansi pemerintah maka
Pemerintah Indonesia kemudian mendorong sektor swasta membangun perkebunan kelapa
sawit.
Nigeria
Nigeria adalah penerima terbesar kedua proyek sektor minyak kelapa sawit World Bank,
dengan enam proyek selama periode 1975 2009. Satu proyek masih dalam tahap
pelaksanaan.
Hasil pencapaian meliputi:

Penanaman 42.658 ha lahan kelapa sawit (jumlah)


13

Rehabilitasi 384 km jalan raya (Eastern Central and Nucleus)

Rehabilitasi dua pabrik kecil berkapasitas 1 ton dan 3 ton FFB/jam (Tree Crops)

30 ton/jam kapasitas pabrik sudah terpasang (Eastern Central and Nucleus)

Dalam mengkaji semua proyek ini, IEG hanya menilai dua dari lima yang memuaskan.
Persoalan yang berhasil diidentifikasi meliputi pengelolaan buruk, biaya tenaga kerja tinggi dan
persoalan kepemilikan tanah bagi petani kecil.
Kamerun
Dari tahun 1967 hingga 1982 World Bank membiayai enam proyek kelapa sawit di Kamerun.
Tujuan utama keenam proyek ini adalah meningkatkan produksi minyak kelapa sawit di wilayah
barat dan meningkatkan efisiensi keuangan perusahaan milik pemerintah.
Hasil pencapaian meliputi:

Penanaman 10.464 ha lahan kelapa sawit serta penebangan dan penanaman kembali
4.682 ha menghasilkan kenaikan 5.782 ha lahan (Camdev I)

Berhasilnya peningkatan kelembagaan dari perusahaan Camdev

Penanaman 8.280 ha lahan kelapa sawit (Socapalm I)

Penanaman 2.031 ha lahan kelapa sawit (281 ha perkebunan dan 1.750 ha pertanian kecil)
(Camdev II dan Socapalm II)

Dari keenam proyek tersebut, empat dinilai memuaskan oleh IEG. Dua proyek pertama
(Camdev I dan Socapalm) memuaskan dan tujuan peningkatan produksi sebagian besar
terpenuhi. Socapalm adalah perusahaan baru dan manajemennya mempunyai kinerja cukup
bagus. Walaupun berhasil, kedua proyek menghadapi kesulitan keuangan. Proyek-proyek
lanjutan (Camdev II dan Socapalm II) yang dibiayai oleh World Bank tidak mampu menyikapi
kesulitan keuangan namun memperkenalkan skema penanaman diluar petani kecil. Komponen
tambahan baru ini juga gagal dan kondisi keuangan kedua perusahaan semakin memburuk.
Akhirnya, World Bank memutuskan menghentikan investasi lebih lanjut dalam sektor ini karena
persoalan profitabilitas dan daya saing produksi minyak kelapa sawit di Kamerun.
Papua Nugini
World Bank menyelenggarakan tiga proyek di Papua Nugini selama periode 1977 2008 yang
terutama menyikapi kelapa sawit. Dua sudah ditutup sedangkan satu proyek (Smallholder
Agriculture Development Project) masih dalam tahap pelaksanaan.
Pencapaian dua proyek pertama meliputi:

50.000 ton kelapa sawit diproduksi dari 5.583 ha lahan memberikan manfaat kepada 1,517
petani kecil (Popondetta Smallholder Oil Palm)

Penanaman 8,230 ha lahan kelapa sawit dalam blok-blok baru (Oro Smallholder Oil Palm)

Pembangunan jalan raya sepanjang 345 km (Oro Smallholder Oil Palm)

IEG menilai kedua proyek pertama yang sudah ditutup masing-masing sebagai memuaskan
dan cukup memuaskan. Keberhasilan dapat dihubungkan dengan kecocokan lahan bagi
pemeliharaan kelapa sawit berkenaan dengan tanah dan iklim, dan baiknya pengelolaan oleh
para karyawan proyek. Ada kesukaran penyediaan bahan (pupuk) bagi pemeliharaan yang
menurunkan produktivitas.
Pelajaran yang Diperoleh
14

Pelajaran yang diperoleh dari pengalaman World Bank dalam sektor mencakup sebagai berikut:
Pendekatan perkebunan inti rakyat terhadap pengembangan tanaman pohon petani kecil tidak
bekerja baik: Pengalaman dengan tujuh proyek perkebunan inti rakyat dan petani kecil (NES) di
Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan NES terhadap pengembangan tanaman pohon
petani kecil tidak bekerja baik sebagaimana diramalkan. Walaupun perkebunan mampu
mengimplementasi komponen fisik proyek, seperti pengadaan tanaman pohon dan pekerjaan
umum, mereka kurang ahli dalam memajukan pengembangan petani kecil yang hanya dapat
tercapai apabila ada koordinasi sepenuhnya diantara instansi-intansi pemerintah yang
mempunyai keahlian di bidang ini.
Ketidakjelasan kepemilikan dan masa berlaku tanah untuk petani kecil memperlambat
implementasi proyek: Persoalan masa berlaku tanah berulangkali muncul dalam banyak proyek
dan dalam kebanyakan kasus, proyek tidak mampu menyikapi sengketa tanah yang berlanjut
sepanjang usia proyek, sehingga menyebabkan kelambatan yang parah. Di awal proyek, lahan
untuk pengembangan tanaman seharusnya diperoleh secara sah dan melalui konsultasi
mendalam dengan para penerima manfaat proyek. Proses akuisisi lahan yang lambat bisa
menimbulkan masalah serius.
Lemahnya kemampuan pengelolaan dari perusahaan perkebunan sektor publik: Terlampau
tingginya tuntutan kemampuan pengelolaan dari perusahaan perkebunan sektor publik yang
bertanggung jawab untuk implementasi penanaman tanaman, pembangunan infrastruktur serta
koordinasi penyuluhan dan kredit untuk para petani kecil. Pendanaan juga bermasalah.
Sebagian besar perusahaan perkebunan sektor publik kurang fleksibel dalam keuangan dan
rentan terhadap kelambatan dan pengurangan dana yang dikeluarkan dari anggaran belanja
pemerintah untuk proyek. Pengelolaan keuangan merupakan masalah utama dan parastatal ini
mempunyai kinerja buruk dalam mengelola investasi komersial dalam jumlah besar.
Komponen-komponen infrastruktur (yaitu jalan raya) yang tidak terintegrasi dengan baik
kedalam proyek: Dalam beberapa proyek, jalan akses kurang diperhatikan sehingga berakibat
pada kelambatan serius dalam pembangunan dan pemeliharaannya. Perumahan untuk pekerja
dan pembangunan pabrik pengolahan (dalam sebagian proyek) perlu dibangun bersama-sama
proyek lanjutan.
Fokus utama pada sasaran fisik dan perluasan pesat dari penanaman: Sasaran kuantitatif untuk
penanaman diberikan perhatian yang kurang sepadan. Oleh karena itu intervensi tidak
dilengkapi untuk fokus pada komponen-komponen lain dari proyek yang mengakibatkan
kelebihan biaya dan perpanjangan tanggal penutupan. Akibatnya, diperlukan proyek lanjutan
yang memasukkan pembiayaan tambahan untuk menyelamatkan perusahaan-perusahaan
publik dari kesulitan keuangan.
Kurang memadainya pengetahuan tentang industri minyak kelapa sawit pada umumnya dan
kurang pemahaman tentang daya saing kelapa sawit di negara-negara yang dipilih: Dalam hal
Kamerun, World Bank sudah bekerja 15 tahun dengan enam proyek. Akhirnya, World Bank
menarik kesimpulan bahwa sektor secara keuangan tidak layak dan kelapa sawit tidak
kompetitif di pasar dunia. Sewaktu persiapan proyek, sasaran penilaian bagi produksi, hasil dan
pendapatan sama sekali tidak didukung oleh studi tentang sektor.
Pandangan Umum Investasi IFC
IFC terlibat luas sepanjang rantai persediaan sektor minyak kelapa sawit, dengan investasi
dalam perkebunan (Indonesia, Thailand, Ghana, Nikaragua) dan penyulingan minyak kelapa
sawit (Indonesia dan Ukraina) dan perdagangan minyak kelapa sawit (Indonesia dan

15

Singapura). Sejak tahun 1976, IFC menginvestasikan US$311 juta dalam 26 proyek berkaitan
dengan kelapa sawit. Ini sama dengan komitmen bersih sebesar US$5,5 milyar dalam sektor
agribisnis selama periode yang sama, dan US$80,1 milyar jumlah investasi IFC. Ringkasan
investasi ini disediakan di Tabel 3.
Investasi awal IFC fokus pada pengolahan kelapa sawit dalam skala lebih kecil dan
pemeliharaannya. Sebagian besar investasi di Afrika dilakukan melalui Africa Enterprise Fund
(AEF), yang fokus pada investasi skala UKM. Ini, dan proyek di Brasil, meliputi investasi dalam
pembangunan perkebunan kelapa sawit serta perluasan atau peningkatan tenaga pabrik
minyak kelapa sawit mentah, pemerasan buah kelapa sawit, dan fasilitas terkait (penyimpanan
dalam jumlah besar, perawatan limbah). Hanya dilakukan sedikit sekali kajian sosial dan
lingkungan hidup, karena mendahului persyaratan resmi baik dari IFC atau World Bank.
Investasi sesudah itu, sejak tahun 1990an fokus pada kegiatan operasional perkebunan lebih
besar di Indonesia, dengan investasi dalam operasi di Bengkulu, Kalimantan Barat dan Selatan,
Sumatera Utara dan Selatan. Ini dilakukan terhadap lahan pertanian yang sudah ada (proyek
transmigrasi) atau lahan kurang subur (padang rumput Imperata).
Investasi dalam perkebunan belakangan ini dilakukan di Nikaragua dan Ghana, dan investasi
lebih lanjut di Afrika dan Amerika Latin diperkirakan akan berlangsung di masa depan.
Sejak tahun 2004, IFC lebih aktif menuruni rantai persediaan, dengan investasi besar dalam
perdagangan (dukungan pembiayaan perdagangan jangka pendek Wilmar Trading) dan
penyulingan (Ukraina). Investasi-investasi ini berakibat pada kritik terhadap IFC untuk perhatian
yang kurang mencukupi kepada persoalan rantai persediaan berkenaan dengan
berkelanjutannya kegiatan perdagangan dan penyulingan, yang mendorong pengadaan strategi
sekarang ini untuk sektor minyak kelapa sawit.
Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang dibiayai IFC mempunyai kinerja yang baik dan
mampu mengembangkan usaha mereka dari waktu ke waktu meskipun adanya kesulitan tak
terduga sepanjang jalan dengan investasi (Brasil) yang gagal setelah mengalami masalah
penyakit dan kemudian menghentikan kegiatan operasional sama sekali. Tantangan utama
melaksanakan (perkebunan kelapa sawit) proyek dan mencapai keuntungan yang diharapkan
adalah: (i) lamanya masa tunggu perkebunan kelapa sawit dan beratnya komitmen modal yang
dibutuhkan dimuka, (ii) seringnya gugatan tanah sengketa; dan (iii) krisis keuangan dan
ekonomi di negara tempat kegiatan. Walaupun pada umumnya gugatan lahan dapat
diselesaikan melalui mekanisme lokal, mereka sering mengakibatkan kelambatan tanam dan
produksi. Krisis ekonomi mempunyai dampak negatif atas kinerja keuangan perkebunan karena
dampak langsung dari devaluasi, dari kebijakan yang menurunkan dasar pendapatan (misalnya
pajak ekspor), namun juga karena Pemerintah seringkali tidak mampu memenuhi komitmen
anggaran mereka (misalnya mendukung pengembangan penanaman oleh petani kecil); dalam
keadaan ini perusahaan-perusahaan sektor swasta perlu bertindak dan mengisi kesenjangan
keuangan dengan biaya tambahan yang tinggi.
Proyek kelapa sawit juga diketahui mempunyai dampak kuat terhadap perekonomian negara
yang terlibat. Mereka mendukung munculnya satu kelas perusahaan swasta yang di Indonesia
mengambil alih pengembangan produksi minyak kelapa sawit dari bermacam-macam kinerja
perkebunan milik negara (lihat pengalaman World Bank diatas). Mereka juga mempunyai
dampak signifikan pada mata pencaharian masyarakat setempat. Industri memperkirakan
bahwa satu pekerjaan diciptakan untuk setiap 5 hektar lahan yang dikembangkan. Fasilitas
lazim bagi pekerja tetap meliputi perumahan, pemeliharaan kesehatan, transportasi, air bersih
dan tenaga listrik.

16

Komponen kunci dari sebagian proyek, khususnya di Indonesia, adalah pemindahan lahan bagi
pembangunan pertanian kecil kelapa sawit. Walaupun implementasi skema ini terkadang
tertunda karena alasan yang dijelaskan sebelumnya, dan perekonomian terkena dampak kuat
dari krisis ekonomi, akhirnya akan menghasilkan pengadaan sektor petani kecil yang dapat
memperoleh mata pencaharian yang layak dari produksi mereka, sambil mengambil manfaat
dari infrastruktur perkebunan inti dan dukungan teknis.
Akhirnya, keterlibatan IFC dalam investasi memastikan bahwa seluruh investor menyesuaikan
kebijakan dan pengolahan Sosial dan Lingkungan mereka dengan pedoman World Bank dan,
sejak tahun 2006 dengan Standar Kinerja IFC.
Pelajaran yang Diperoleh
Walaupun sejumlah pelajaran umum untuk seluruh investasi IFC akan berlaku, proyek
berdasarkan kelapa sawit mempunyai perbedaan khusus sebagai berikut:
Perlu memilih pelanggan dengan hati-hati: Pengalaman investasi IFC menunjukkan bahwa
pelanggan berbeda banyak dalam kapasitas mereka untuk memahami dan menanggapi
persoalan sosial dan lingkungan hidup. Di sektor seperti minyak kelapa sawit, dimana ada
sejumlah persoalan kekhawatiran terhadap pemangku kepentingan, pelanggan perlu
mempunyai kemampuan untuk berhubungan dengan semua persoalan ini bilamana dipandang
perlu, atau mereka perlu memperoleh atau mengembangkan kemampuan demikian dengan
cepat. Adalah penting untuk tidak beranggapan bahwa nama dan reputasi perusahaan sponsor
akan menjamin pengelolaan yang baik dalam setiap hal khusus pemantauan secara teratur
dan cermat dibutuhkan dalam setiap hal agar memastikan bahwa produktivitas/pengelolaan
terus menerus mengikuti acuan.
Perlu perhatian cermat terhadap masalah akuisisi dan masa berlaku tanah: Permasalahan
berkenaan dengan penggunaan tanah dan kepemilikan tanah dapat timbul di semua negara
dimana IFC bekerja, bahkan di wilayah dimana kepemilikan tanah relatif sudah teratur dan
diatur. Dimana hak pakai tanah dipindahkan dari masyarakat setempat kepada perusahaan
sektor swasta dengan dekrit pemerintah maka perlu hati-hati dalam memastikan bahwa segala
prosedur sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan tidak merugikan rakyat
setempat.
Perlu perhatian cermat terhadap persoalan keanekaragaman nabati (biodiversity): Walaupun
perkebunan kelapa sawit sekarang tidak mencakup lahan seluas komoditi lainnya, lahan yang
cocok untuk pemeliharaan kelapa sawit di dunia juga terkaya dalam keanekaragaman nabati.
Kekhawatiran hilangnya keanekaragaman nabati dirasakan secara luas. Perubahan dari hutan
tropis primer menjadi lahan pertanian dapat mengakibatkan kehilangan besar dalam
keanekaragaman nabati. Lahan yang direncanakan bagi perubahan ke kelapa sawit (atau
tanaman lainnya) harus dianalisis untuk nilai keanekaragaman/konservasi nabati mereka, dan
lahan yang dianggap sebagai Habitat Kritis (Critical Habitat) (berdasarkan PS6 dari IFC) atau
sebagai Nilai Pelestarian Tinggi (High Conservation Value) (atau pertanda serupa) harus
mendapatkan perlindungan.
Penting bekerjasama secara efektif dengan masyarakat setempat untuk memastikan bahwa
seluruh manfaat dibagi rata dan segala persoalan diurus dengan tepat: Terutama dalam hal
dimana lahan masyarakat sudah dipindahkan kepada kendali pihak swasta, ada kebutuhan bagi
perusahaan untuk bekerjasama dengan masyarakat setempat baik untuk membangun
dukungan bagi usaha mereka maupun untuk menunjukkan bahwa manfaat pembangunan
positif dapat mendatangkan keuntungan untuk masyarakat.
Manfaat pengembangan kemitraan yang cocok dengan para pemangku kepentingan, seperti
roundtables, untuk menyikapi persoalan sektoral yang besar: Memperkuat sektor swasta diluar
17

pembiayaan usaha spesifik dapat dicapai melalui mekanisme seperti roundtables, yang
mengumpulkan bermacam-macam pemangku kepentingan untuk menyikapi segala persoalan.
Roundtables menyediakan cara tata kelola internal bagi sektor swasta, dan berusaha
mentransformasikan pasar melalui pengembangan standar yang sudah disepakati bersama
bagi keberlanjutan sektor.
Manfaat dari bekerja dalam strategi yang sudah disepakati dan ditetapkan bagi sektor: IFC
mengakui kekurangan dari pelaksanaan transaksi demi transaksi tanpa adanya strategi yang
melingkupi. Intervensi investasi dengan sasaran efektif akan paling baik tercapai melalui
pemahaman menyeluruh dari sektor dan strategi lengkap bagi pengembangannya. Strategi
seperti itu perlu menyikapi bagaimana produk investasi dan jasa pendampingan 1 yang berbeda
dapat direncanakan untuk menyikapi kondisi setempat khususnya yang berkenaan dengan
persoalan sosial dan lingkungan hidup. Strategi perlu menetapkan bagaimana IFC akan
bekerja, melalui investasi dan jasa pendampingan, dengan seluruh komponen dari sektor
swasta serta menyikapi persoalan pengaturan tertentu.
Kebutuhan akan perhatian yang memadai terhadap rantai persediaan: Kekhawatiran atas rantai
persediaan, khususnya komoditi pertanian, menjadi semakin nyata beberapa tahun terakhir ini.
Kekhawatiran nasabah terhadap persoalan sosial dan lingkungan hidup dalam produksi,
perdagangan dan pengolahan komoditi kini merupakan risiko penting yang perlu disikapi.

D. Konteks: Perdebatan Minyak Kelapa Sawit Global Pengembangan


dan Keberlanjutan Minyak Kelapa Sawit
Pendahuluan
Pencarian melalui Google (3 April 2010) untuk minyak kelapa sawit dan penebangan hutan
menghasilkan 106.600 referensi dan pandangan sedangkan minyak kelapa sawit dan
kehilangan keanekaragaman nabati menyediakan 23.700 temuan sebagian besar
pandangan berhubungan dengan perbincangan global terus-menerus tentang produksi kelapa
sawit dan perannya dalam penebangan hutan, kehilangan keanekaragaman nabati, perubahan
iklim dan konflik sosial. Perbincangan terbagi dalam dua kelompok yang bertentangan dengan
pihak pro-pengembangan mempertahankan bahwa minyak kelapa sawit merupakan industri
yang sangat berkelanjutan yang memberi makan kepada dunia sedangkan pihak prokonservasi menyalahkan sektor minyak kelapa sawit sebagai sebab utama penebangan hutan
serta segala penyakit sosial dan lingkungan lainnya.
Seksi ini menyediakan pandangan umum singkat dari perdebatan seperti yang terungkap, para
pelaku, dan bidang kunci perdebatan. Maksudnya adalah menyediakan konteks bagi
pembahasan tantangan dan peluang kunci bagi sektor minyak kelapa sawit yang akan dicakup
di Seksi E.
Tentang apa saja?
Sebagaimana diuraikan di Seksi B dari naskah ini, produksi kelapa sawit telah meningkat
secara signifikan dalam tiga sampai empat dekade terakhir, dengan para penghasil sekarang
adalah Malaysia dan Indonesia. Perluasan lahan tanam dan produksi dalam beberapa tahun
terakhir khususnya berlangsung pesat di Indonesia, yang melampaui Malaysia sebagai
penghasil terbesar sedunia pada tahun 2007.
1

Jasa Pendampingan IFC dirancang untuk melengkapi pemberian kredit investasi tradisional. Perincian tambahan
disediakan di http://www.ifc.org/ifcext/about.nsf/Content/TAAS

18

Pada umumnya, perluasan besar-besaran dalam industri minyak kelapa sawit belum benarbenar menarik perhatian LSM besar sampai tahun dimana dunia kebakaran (WWF, 1997).
Pada tahun itu, yang juga bertepatan dengan krisis keuangan Asia, kebakaran hutan secara
luas terjadi di Indonesia, Papua Nugini, Brasil, Kolombia dan Afrika. Kebakaran di Indonesia
menyebabkan banyak negara Asia Tenggara diselimuti oleh kabut campur asap dan uap untuk
waktu yang lama.
Kebakaran tahun 1997 mempercepat WWF Nederland menyelidiki sebab kebakaran yang
memusnahkan bentangan luas hutan primer (AidEnvironment 2007). Studi lanjutan oleh WWF
dan IUCN (Rowell and Moore, 2000) mengidentifikasi penggunaan api untuk membersihkan
lahan sebelum penanaman kelapa sawit sebagai salah satu sebab utama dari kebakaran hutan
di Indonesia. Studi juga menghubungkan beberapa pelaku pasar, termasuk Unilever dan
lembaga keuangan dengan peningkatan pesat kelapa sawit di Indonesia. Laporan ini
mendorong WWF Jerman untuk menyelenggarakan kampanye Pembakaran hutan untuk
margarin mereka untuk membuat perusahaan-perusahaan Jerman bertanggung jawab bagi
penggunaan minyak kelapa sawit dalam margarin dan produk-produk lainnya (AidEnvironment,
2007).
Dalam studi yang ditugaskan Greenpeace Nederland, Akker (2000) didokumentasikan
keterlibatan beberapa bank Belanda besar (termasuk ABN-AMRO, ING Bank, Rabobank dan
MeesPierson) dalam pembiayaan investasi dalam perkebunan kelapa sawit oleh perusahaanperusahaan Indonesia dan Malaysia. Sebagai tanggapan atas kampanye bersama oleh
Greenpeace Nederland, Milieudefensie and Sawit Watch Indonesia, ABN-AMRO Bank.
Rabobank dan Fortis Bank setuju untuk komit terhadap konservasi hutan dan
mengimplementasikan kebijakan penyaluran kredit yang membatasi penebangan hutan atau
penggunaan api dalam pembersihan lahan (Focus on Finance News, 2001).
Sebagai inisiatif kunci adalah WWF Forest Conversion Initiative (FCI) yang disusun pada tahun
2001 untuk mengurangi pengubahan hutan konservasi bernilai tinggi bagi pembangunan
perkebunan kelapa sawit dan kacang kedelai. Untuk mencapai tujuan ini WWF menggunakan
gabungan pendekatan seperti pengembangan kebiasaan pengelolaan terbaik dari para pelaku
pasar sepanjang rantai persediaan minyak kelapa sawit dan mempengaruhi kebijakan investasi
bagi pembangunan perkebunan (WWF, 2009).
Sementara kekhawatiran penebangan hutan merupakan fokus awal, dampak dari ekspansi
pada kehilangan keanekaragaman nabati serta konflik sosial dan tanah menjadi nyata dari
pekerjaan dan kampanye oleh berbagai LSM sosial dan lingkungan hidup. Sawit Watch, sebuah
konsorsium dari LSM sosial setempat di Indonesia, bekerjasama dengan Forest Peoples
Programme dan LSM-LSM internasional lainnya memperjuangkan perkara dari masyarakat asli
dan lokal (Colchester et al, 2000, Colchester et al, 2006 and Marti, 2008). Keprihatinan atas
kehilangan keanekaragaman nabati sudah membuat orangutan sebagai titik fokus iconic dari
kampanye
Borneo
Orangutan
Survival
International
(BOS
International)
(www.savetheorangutan.org) serta LSM-LSM lainnya.
Dengan tumbuhnya permintaan untuk bahan bakar nabati dan biodiesel dari minyak kelapa
sawit, khususnya sesudah pengumuman arahan Uni Eropa tentang energi terbarukan
berkenaan dengan kriteria berkelanjutan untuk bahan bakar nabati, perhatian beralih kepada
kemungkinan dampak produksi minyak kelapa sawit tentang emisi CO2 dan pemanasan global.
Laporan oleh Delft Hydraulics (Hooijer et al. 2006) yang menyimpulkan bahwa lahan gambut
yang ditebang dan dikeringkan di Asia Tenggara adalah sumber utama signifikan dari emisi
CO2 yang menarik perhatian dan dukungan dalam kampanye-kampanye LSM. Misalnya,
publikasi Greenpeace Bagaimana industri minyak kelapa sawit memasak iklim (Greenpeace

19

2007), fokus pada bagaimana persediaan karbon lahan gambut Indonesia sedang dihabiskan
melalui pengembangan minyak kelapa sawit.
Disisi lain dari perdebatan, industri minyak kelapa sawit dan organisasi-organisasi propengembangan menyatakan bahwa industri minyak kelapa sawit sudah berkelanjutan untuk
waktu lama. Sifat positif dan kontribusi minyak kelapa sawit kepada perekonomian nasional dan
kesejahteraan lokal dipromosikan oleh beberapa organisasi seperti Malaysian Palm Oil Council
(www.mpoc.org.my) dan LSM pro-pengembangan, World Growth (www.worldgrowth.org).
MPOC menyatakan bahwa minyak kelapa sawit merupakan produk satu-satunya yang mampu
secara efisien dan berkelanjutan memenuhi sejumlah besar permintaan yang meningkat untuk
barang konsumen berdasarkan minyak, bahan pangan dan bahan bakar nabati (MPOC
2009a). Dalam laporannya, Minyak Kelapa Sawit Minyak yang Berkelanjutan. World Growth
mengkaji ulang segala tuduhan terhadap industri minyak kelapa sawit tentang keberlanjutan
dan pembangunan ekonomi (World Growth, 2009).
Sebagian pernyataan lobi pro-minyak kelapa sawit berakar dalam keunggulan keberlanjutan
komparatif yang dimiliki minyak kelapa sawit atas minyak yang dapat dicerna, khususnya
minyak kacang kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Minyak kelapa sawit
paling produktif dari semua minyak sayur berkenaan dengan jumlah ton per hektar yang
dihasilkan, dengan demikian membutuhkan lahan yang jauh lebih sedikit. Berkenaan dengan
jumlah penggunaan lahan, orang mengatakan bahwa lahan yang ditanami kelapa sawit sama
dengan kurang dari satu persen dari lahan pertanian sedunia. Alasan-alasan lainnya yang
mendukung industri minyak kelapa sawit meliputi kontribusi industri kepada perekonomian
nasional, sumber pekerjaan dan pengurangan kemiskinan melalui pekerjaan dan skema
pengembangan lahan di Malaysia, Indonesia dan negara-negara penghasil lainnya. Tentang
bekas kaki ekologisnya, para pendukung minyak kelapa sawit mengatakan bahwa minyak
kelapa sawit dapat menjadi tempat penampungan karbon dan mengasingkan karbon dioksida
secara efisien.
Ketika perdebatan berkembang dari waktu ke waktu dan ketika kampanye oleh LSM
transnasional bertambah intensif untuk menekan rantai persediaan dan konsumen, maka
tuntutan dan tuntutan balasan dari kedua kelompok perdebatan adakalanya menyinggung
tingkat kepercayaan. Dalam kajian mereka tentang greenwashingoleh pendukung propengembangan dan blackwashing oleh pihak konservatif, Koh et al (2010) menyangkal
beberapa pernyataan utama oleh MPOC seperti kelapa sawit adalah hutan yang ditanami dan
perluasan kelapa sawit tidak mengancam keanekaragaman nabati dan pengubahan hutan telah
berhenti. Upaya MPOC untuk membela industri minyak kelapa sawit Malaysia melalui
pemasangan iklan di BBC World menghasilkan keluhan (yang dipertahankan) terhadap UK
Advertising Standards Agency (ASA) bahwa banyak tuntutan keberlanjutan tidak dapat
dibuktikan (Guardian, 2009).
Selain itu Koh et al (2010) menyatakan bahwa para aktivis lingkungan hidup juga dapat
bersalah karena membubungkan tuntutan dan menggunakan taktik menakut-nakuti untuk
memenangkan dukungan publik bagi perkara mereka. Mereka mengutip tuntutan Rainforest
Action Network bahwa orangutan diramalkan punah sebelum tahun 2011 namun menyadari
bahwa ini tak mungkin terjadi karena ada paling sedikit 50.000 ekor orang utan liar yang hidup
di Sumatera dan Kalimantan. Sementara mengakui penurunan jumlah orangutan sebagai
alasan keprihatinan, Koh et al (2010) memperingatkan bahwa pokok berita tidak realistis dapat
melemahkan kepercayaan masyarakat yang tertanam dalam kelompok-kelompok lingkungan
hidup, yang kemudian menjadi kontra produktif terhadap tujuan dari pelestarian. Sudut
pandangan lain datang dari Dr Marc Ancrenaz of HUTAN, LSM akar rumput Perancis yang
mengupayakan pelestarian orangutan di Sabah, Malaysia untuk 12 tahun terakhir: Industri
sedang diserang oleh tokoh-tokoh lingkungan hidup dan menganut pendekatan greenwashing
20

yang sangat defensif, membantah sebagai sebab utama permasalahan. LSM-LSM menganut
strategi sebaliknya yang disebut blackwashing dan menyalahkan industri untuk segala
masalah yang dialami di lapangan, yang juga tidak betul. Situasi ini sangat menyedihkan karena
perdebatan dalam tahap seperti sekarang tidak dapat bergerak kearah manapun. Kita semua
perlu bekerja sama untuk menemukan solusi (Nature Alert, 2010).
Siapa saja pelaku utama?
Model rantai persediaan minyak kelapa sawit tradisional cenderung fokus kepada para pelaku
yang terlibat langsung dalam produksi dan pengunaan minyak kelapa sawit, terutama
perkebunan, pabrik, penyuling, pengolah, manufaktur dan pengecer (Gambar 3) yang oleh
Wheeler and Sillanpaa (1997) disebut sebagai para pemangku kepentingan sosial primer
karena kepentingan mereka langsung terkait dengan nasib baik perusahaan melalui hubungan
mereka. Namun demikian, sektor minyak kelapa sawit juga mempunyai sederet pemangku
kepentingan sekunder termasuk golongan berpengaruh di bidang sosial dan lingkungan hidup,
pedagang, penyandang dana, asosiasi industri dan sejumlah perusahaan manufaktur dan jasa
yang terkait langsung dengan sektor. Meskipun interaksi terbatas berlangsung dengan mereka
di masa lampau, dalam konteks perdebatan sekarang para pemangku kepentingan ini
mempunyai pengaruh besar terhadap pihak lain dalam rantai persediaan kelapa sawit, seperti
pengecer dan nasabah, dan mereka dapat membentuk arah masa depan dari industri
berkenaan dengan keberlanjutan.
Walaupun tidak praktis mencatat semua peserta dalam perdebatan sekarang ini, para pemain
kunci secara garis besar dapat dikelompokkan dibawah Organisasi Masyarakat Madani (CSO),
media, industri minyak kelapa sawit, rantai persediaan minyak kelapa sawit dan pemerintah.

Gambar 3: Rantai Persediaan Minyak Kelapa Sawit

21

Organisasi Masyarakat Madani (CSO): Diantara CSO yang terlibat dalam kampanye
transnasional tentang minyak kelapa sawit, para pelaku kunci adalah LSM lingkungan hidup
seperti WWF, Greenpeace International, Friends of the Earth (FoE) dan LSM sosial dan
pembangunan seperti Oxfam International, Forest Peoples Programme dan Sawit Watch. WWF
International memainkan peran dini terlibat dalam rantai persediaan minyak kelapa sawit,
termasuk penghasil kelapa sawit yang akhirnya mengarah pada penyelenggaraan Roundtable
on Sustainable Palm Oil pada tahun 2004. Greenpeace dan Friends of the Earth
menyelenggarakan serangkaian kampanye agresif yang terutama fokus pada pencegahan
penebangan hutan dan kehilangan keanekaragaman nabati serta perubahan iklim dengan
pengungkitan (leveraging) sektor keuangan dan rantai persediaan di negara-negara konsumen
untuk memaksa para penghasil mengambil tindakan. Inisiatif utama adalah permintaan
penangguhan perluasan lebih lanjut dari produksi kelapa sawit di seluruh dunia (Greenpeace,
2009). Keprihatinan terhadap keadilan sosial dan permintaan untuk reformasi tanah dan sosial
dipelopori oleh Forest Peoples Programme (FPP), Sawit Watch of Indonesia dan Oxfam
International.
Keluhan yang disampaikan oleh FPP dan Sawit Watch serta LSM-LSM lainnya terhadap IFC
karena tidak memenuhi Standar Kinerjanya sendiri dalam sektor minyak kelapa sawit membawa
pada pengumuman World Bank Group pada bulan Agustus 2009 (World Bank 2009) untuk tidak
menyetujui investasi baru dalam kelapa sawit sampai adanya strategi yang baru. LSM-LSM
lainnya mengkampanyekan persoalan lebih spesifik seperti pelestarian orangutan oleh Borneo
Orangutan Survival International, persoalan gender oleh Tenaganita for Malaysia dan Wetlands
International tentang pelestarian hutan gambut.
Media: Cetakan lokal dan internasional serta media elektronik telah membawa perdebatan
kepada arus utama dan telah menimbulkan kesadaran konsumen dan masyarakat umum akan
segala persoalan yang menyangkut industri minyak kelapa sawit. Para pelaku aktif meliputi
Guardian, Telegraph, Financial Times, The Independent dan Economist di Inggris, dan surat
kabar nasional seperti The Star di Malaysia dan Jakarta Post. Misalnya, artikel Independent
tentang Rahasia-rahasia kesalahan minyak kelapa sawit: Apakah tanpa disadari Anda sudah
memberikan kontribusi pada pengrusakan hutan? (Hickman, 2009) ditujukan kepada
konsumen pada umumnya. Perdebatan tentang minyak kelapa sawit secara global diikuti oleh
saluran berita TV seperti CNN, BBC World dan Aljazeera.
Jaringan sosial seperti Facebook dan Twitter memainkan peran berarti, dengan kemampuan
mereka menggalang rakyat secara online untuk bergabung dalam kampanye terhadap suatu
perkara sebagaimana diperagakan dengan jelas dalam kampanye terakhir oleh Greenpeace
terhadap Nestle atas penggunaan minyak kelapa sawit berkelanjutan dan kontribusi pada
penebangan hutan. Setelah Nestle membuat YouTube menghilangkan sebuah video kampanye
Greenpeace (Give the Rainforest a Break) dengan alasan pelanggaran hak cipta, media
alternatif tersebut dengan gencar mengumumkan melalui Facebook dan tweets serta blogs
sehingga komunitas online menyebabkan bencana hubungan masyarakat bagi raksasa pangan
bersangkutan dalam waktu 4 hari sejak peluncuran kampanye Greenpeace tanggal 17 Maret
2007. (http://prezi.com/kmrh4fmizsen/nestle-kerfuffle/)
Penghasil Minyak Kelapa Sawit: Industri minyak kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia adalah
peserta aktif dalam perdebatan karena mereka adalah fokus utama dari kampanye yang
dilakukan oleh LSM. Secara kolektif mereka diwakili oleh GAPKI dan Malaysian Palm Oil
Association (MPOA). Malaysian Palm Oil Council (MPOC) yang didukung oleh Pemerintah
Malaysia, mempunyai mandat untuk mempromosikan ekspansi pasar minyak kelapa sawit
22

Malaysia dan produk-produknya. Akar MPOC dapat diusut kembali kepada Palm Oil Promotion
Fund yang dibentuk untuk menyikapi kampanye anti minyak tropis di Amerika Serikat pada
tahun 1980an. (MPOC, 2009b). Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa MPOC sering
mempertahankan pendirian yang agresif untuk menghadapi dugaan terhadap industri. Perlu
dicatat adanya dasar persepsi bahwa kampanye terus menerus terhadap keberlanjutan dapat
dihubungkan dengan hambatan teknis terhadap perdagangan (Pushparajah, 2010).
Pemerintah: Pemerintah negara-negara penghasil juga memainkan peran yang aktif. Malaysia
dan Indonesia telah mengadakan kerjasama bilateral tingkat tinggi pada tingkat menteri untuk
bersama-sama menyikapi persoalan dan keprihatinan berkaitan dengan komoditi primer.
Bidang kerjasama berkenaan dengan minyak kelapa sawit termasuk usaha bersama dalam
melawan kampanye anti kelapa sawit, kerjasama tentang bahan bakar nabati dan biodiesel,
produksi minyak kelapa sawit secara berkelanjutan dan pengendalian kebakaran dan asap
(MPOA, 2009). Kerjasama antara penghasil minyak kelapa sawit terbesar sedunia dicerminkan
dalam upaya bersama oleh kedua Menteri yang bertanggung jawab untuk industri minyak
kelapa sawit dari kedua negara untuk menyikapi World Sustainable Palm Oil Conference pada
tanggal 16 September 2008 di London, Inggris (MPOC, 2008a). Di negara-negara konsumen,
arahan Uni Eropa berkenaan dengan kriteria keberlanjutan untuk energi terbarukan telah
memicu perdebatan dari perspektif emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim.
Rantai Persediaan Minyak Kelapa Sawit: Diantara para pelaku rantai persediaan minyak kelapa
sawit, bank dan lembaga keuangan dan perusahaan manufaktur pangan dan pengecer sejak
permulaan sudah dibawa dalam perdebatan. Beberapa bank Belanda menjadi terlibat ketika
mereka dilibatkan untuk mendanai pengrusakan hutan (Wakker 2000) dan menanggapi dengan
kebijakan berkelanjutan untuk dukungan investasi dalam minyak kelapa sawit (Focus on
Finance News, 2001). Friends of the Earth memulai kampanye minyak kelapa sawit mereka
yang diarahkan kepada pasar eceran, khususnya supermarket-supermarket Inggris pada tahun
2005 dengan kampanye seperti Palm oil rain forest in your shopping bag atau Minyak
kelapa sawit hutan dalam tas belanja Anda dan Oil for ape scandal atau Skandal minyak
untuk monyet.
Diantara perusahaan manufaktur barang konsumen pangan, Unilever (sebagai pembeli tunggal
minyak kelapa sawit terbesar sedunia) memainkan peran pokok dalam menentukan
perdebatan. Disamping menyediakan kepemimpinan bagi Roundtable on Sustainable Palm Oil
(RSPO) sejak pembentukannya, Unilever bekerjasama dengan Greenpeace untuk mendukung
penghentian sementara tentang penebangan hutan bagi kelapa sawit di Indonesia dan
mengumumkan akan membeli minyak kelapa sawit yang dapat diusut sepenuhnya sebelum
tahun 2015 (Industry Week, 2008). Pada bulan Desember 2009, Unilever mengambil pendirian
publik terhadap penebangan hutan dengan menghentikan sementara pembelian minyak kelapa
sawit di masa depan dari pemasok Indonesianya, PT SMART (anggota Sinar Mas Group)
dengan alasan dugaan kontribusi pada pengrusakan dan pengembangan lahan gambut
(Unilever, 2009). Pendirian serupa diambil terhadap pemasok yang lain, PT Duta Palma pada
bulan Februari 2010 (Koswanage, 2010). Nestle mengikuti pendekatan ini pada bulan Maret
2010 dengan menghentikan pasokan minyak kelapa sawit dari Sinar Mas sesudah kampanye
Greenpeace terhadap KitKat (Hornby, 2010).
Berurusan dengan persoalan rantai persediaan merupakan keprihatinan utama bagi lembaga
keuangan. Berurusan dengan para pengolah dan pedagang serupa yang dapat menjamin
bahwa hanya sebagian kecil bahan dalam rantai persediaan mereka dapat dipertanggungkan
kebenarannya adalah suatu tantangan, dan perjanjian dibutuhkan tentang bagaimana
sebaiknya berurusan dengan situasi ini agar dapat mempromosikan keberlanjutan.
Bidang apa saja menjadi pokok perdebatan?
23

Kajian publikasi berkenaan dengan perdebatan kelapa sawit menunjukkan bahwa persoalan
umum dan berulang adalah kekhawatiran serius pemangku kepentingan, khususnya CSO dan
masyarakat setempat. Tantangan dan peluang bagi perbaikan akan dibahas lebih lanjut di
Seksi E dari naskah ini.
Penebangan hutan
Perlindungan dan pelestarian hutan tropis yang tersisa merupakan program inti bagi LSM
seperti WWF dan Greenpeace. Tujuan Forest Conversion Initiative atau Inisiatif Pengrubahan
Hutan dari WWF adalah menghentikan pengrubahan selanjutnya dari hutan menjadi lahan
pertanian. Walaupun prinsip & kriteria RSPO tidak mengizinkan pengembangan High
Conservation Value Forests atau Hutan Bernilai Pelestarian Tinggi sejak tahun 2005,
pemantauan oleh LSM menunjukkan bahwa penebangan hutan secara signifikan masih
berlanjut, khususnya di Indonesia. Ini terjadi meskipun adanya permintaan untuk penghentian
sementara secara global dari penebangan hutan untuk kelapa sawit oleh koalisi Greenpeace
Unilever.
Kehilangan keanekaragaman nabati
Negara-negara penghasil minyak kelapa sawit utama juga menjadi pusat keanekaragaman
nabati yang luas sekali namun kelompok binatang yang terancam punah terancam kembali
secara global melalui perluasan serangkaian komoditi pertanian. Keadaan gawat dari orangutan
berkarisma yang terancam punah sudah menjadi titik fokus dari banyak kampanye dan
diberikan ulasan pemberitaan ekstensif melalui media masa. Ancaman terbesar terhadap masa
depan orangutan adalah pembalakan liar, pengrubahan hutan menjadi lahan pertanian serta
kebakaran hutan. Kelompok binatang lain yang terkena dampak pembangunan adalah gajah
dan harimau. Masalah terkait adalah fragmentasi daerah pemukiman hutan alami dan
gangguan dari pengembangan kelapa sawit yang mengakibatkan konflik manusia binatang
liar yang serius.
Konflik tanah
Konflik tanah merupakan masalah utama di sektor minyak kelapa sawit. Konflik terjadi antara
petani kecil, masyarakat setempat dan penduduk asli dan perusahaan perkebunan serta
dengan pemerintah. Implikasi dan konsekuensi bagi masyarakat setempat dari akuisisi lahan
untuk kelapa sawit telah didokumentasikan dengan baik dalam publikasi seperti Promised Land
Palm oil and land acquisition in Indonesia atau Tanah Perjanjian Minyak kelapa sawit dan
akuisisi lahan di Indonesia, Ghosts on our own land Indonesian oil palm smallholders and
RSPO atau Hantu diatas tanah kami sendiri Petani kecil kelapa sawit Indonesia dan RSPO
dan Land is Life land rights and oil palm development in Sarawak atau Tanah itu Kehidupan
hak atas tanah dan pengembangan kelapa sawit di Sarawak. Di Indonesia, Sawit Watch
sudah mendokumentasikan lebih dari 500 sengketa tanah sedangkan WALHI mencatat 200
kasus konflik di Kalimantan Barat. Di Malaysia, ada lebih dari 150 kasus proses pengadilan
tentang sengketa tanahyang melibatkan rakyat asli, dimana sekitar 40 kasus berhubungan
dengan kelapa sawit (Marcus et al, 2007).
Perubahan iklim
Karena lahan diatas tanah mineral semakin menipis maka ekspansi kelapa sawit meningkat
dalam lahan gambut. Diperkirakan bahwa Indonesia sendiri mempunyai 22,5 juta hektar lahan
gambut atau sekitar 12 persen dari seluruh lahan. Pengeringan dari persediaan karbon yang
sangat banyak ini dan pengrubahan menjadi lahan kelapa sawit memberikan kontribusi kepada
emisi yang sangat luas dari gas rumah kaca, dan memberikan kontribusi kepada masalah mutu
udara musiman.

24

Pendekatan apa saja yang memungkinkan kesesuaian pandangan?


Dengan pemisahan jelas antara kedua pihak yang melakukan perdebatan, bagaimana
kemungkinannya menemukan kesesuaian pandangan bagi suatu pemecahan yang dapat
menyikapi persoalan keberlanjutan yang berkaitan dengan minyak kelapa sawit? Dalam suatu
pertemuan antara beberapa LSM Eropa di kantor WWF di Zurich pada bulan November 2002,
diputuskan bahwa keterlibatan para pelaku utama dalam rantai persediaan, termasuk sektor
keuangan, penghasil dan pemakai minyak kelapa sawit adalah sangat penting untuk
menemukan solusi. Ini membawa kepada gagasan untuk menyelenggarakan pertemuan
roundtable untuk menyikapi persoalan ini. Sesudah hampir dua tahun perundingan yang sulit
diantara semua pihak, khususnya tentang struktur tata kelola dari organisasi maka Roundtable
on Sustainable Palm Oil (RSPO) (www.rspo.org) terbentuk pada bulan April 2004 sebagai
platform multi-stakeholder yang melibatkan semua pelaku kunci dalam rantai persediaan untuk
menyikapi kekhawatiran pokok dan kemajuan untuk promosi dari produksi dan penggunaan
minyak kelapa sawit yang berkelanjutan. Pertumbuhan jumlah anggota cukup mengesankan,
dimulai dari dibawah 50 Anggota Biasa pada tahun 2004 menjadi 322 Anggota Biasa dan 195
Anggota Rekanan sekarang ini (19 Maret 2010) (www.rspo.org). Bahwa RSPO berhasil
mengembangkan standar bagi produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan (Prinsip dan
Kriteria RSPO) dalam dua tahun sejak permulaan dan pengembangan serta implementasi
sistem sertifikasi untuk mendukung produksi dan perdagangan dalam minyak kelapa sawit
berkelanjutan yang sudah memperoleh sertifikasi (CSPO) dalam dua tahun kemudian
merupakan pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perdagangan dalam CSPO kini
menjadi realitas komersial dan sekarang ini, lebih dari 1,57 juta ton CSPO sedang dihasilkan
oleh 11 perusahaan dan 28 perusahaan sudah mendapatkan sertifikasi rantai persediaan
(www.rspo.org) bagi pengelolaan yang berkelanjutan dari perkebunan mereka. RSPO sedang
aktif merekrut anggota di Afrika dan Amerika Latin agar mempunyai kehadiran lebih global
dalam industri.
Pembentukan RSPO disambut baik oleh semua pemangku kepentingan. RSPO merupakan
terobosan besar bagi strategi kampanye merek berdasarkan konsumen, dan karena itu,
menjadi salah satu inisiatif pemangku kepentingan yang paling sukses sepanjang waktu (Pye,
2009). Namun demikian, sejak kedatangan pengapalan pertama CSPO di Rotterdam pada
bulan November 2007, LSM dan media masa melanjutkan kampanye terhadap para anggota
RSPO karena terus melakukan penebangan hutan disamping tingkat kepercayaan kepada
RSPO sendiri (Greenpeace, 2008b; Telegraph UK 2009). Salah satu kritikus paling keras
adalah Greenpeace yang menuduh RSPO melakuka greenwashing (Greenpeace, 2008) dan
tidak mengambil tindakan terhadap anggota yang bersalah. Judith Curran, produsen film
sejarah alami menyatakan bahwa RSPO merupakan kegiatan hubungan masyarakat yang
pandai luar biasa (Woulfe and Waterford, 2009).
Dalam kajian belum lama berselang tentang kinerja RSPO, Laurance et al (2010)
mengidentifikasi beberapa kelemahan seperti struktur tata kelola yang dianggap mengandung
prasangka industri, peraturan perilaku yang lemah, kemampuan organisasi yang tidak
memadai, dan kegagalan mempromosikan larangan menyeluruh terhadap penebangan hutan.
Mereka minta diadakannya reformasi secara luas didalam RSPO dan saran-saran perbaikan
meliputi kebutuhan untuk mengembangkan pemantauan dan kemampuan penegakan
peraturan. Beberapa pihak lain mengusulkan pendekatan alternatif seperti Certificate of
Assurance (COA) yang lebih sederhana untuk perizinan bagi penghasil, pendaftaran dan
pengaturan oleh Malaysian Palm Oil Board (Basiron, 2008). Mengungkit (leveraging)
pengalaman dengan FSC certified timber, The Forest Trust mengusulkan untuk
mengembangkan satu model unik untuk perdagangan dalam minyak kelapa sawit berkelanjutan
dengan menggunakan pengungkitan (leverages) pasar untuk mencegah penebangan hutan
25

(TFT News, 2010). Walaupun ada kritik ini, May and Juniper (2009) berpendapat bahwa untuk
segala kesalahannya, tidak ada forum lain daripada RSPO yang dapat mengumpulkan semua
penanam besar kelapa sawit di Asia Tenggara bersama dengan para pemakai utama di Eropa
dan Amerika Serikat.
Namun demikian, dengan belum adanya mekanisme seperti itu pada RSPO timbul pertanyaan
tentang platform atau inisiatif global alternatif apa saja yang ada yang dapat menjamin
kelangsungan produksi kelapa sawit untuk memenuhi permintaan global yang semakin
bertambah untuk pangan dan bahan bakar tanpa membahayakan sumber daya alam dunia
yang terbatas. Organisasi lain, seperti Rainforest Alliance atau GlobalGap, sudah
mengembangkan sistem sertifikasi bagi tanaman pertanian lain yang dapat diterapkan pada
sektor minyak kelapa sawit. The Forest Stewardship Council (FSC) mempunyai pengalaman
yang relevan dalam pengembangan suatu sistem sertifikasi yang mungkin bisa berlaku untuk
sektor. Organisasi lain seperti The Forest Trust (TFT) atau Sustainable Agriculture Network
(SAN) mungkin juga dapat melakukan pendekatan yang bisa diperhitungkan. Dengan adanya
realitas dan budaya nasional yang berlainan, kemungkinan lain adalah bagi negara-negara
penghasil untuk mengembangkan sistem sertifikasi mereka sendiri untuk minyak kelapa sawit
yang berkelanjutan yang mungkin dapat di akreditisasi oleh suatu organisasi internasional
seperti International Organization for Standardization (ISO). Banyak penghasil dan perusahaan
manufaktur produk minyak kelapa sawit sudah mendapatkan sertifikasi berdasarkan standar
ISO (seperti ISO 14001, ISO 22000).
Pendekatan apapun yang dipertimbangkan, adalah penting untuk tidak kehilangan perspektif:
sertifikasi sukarela bukan solusi satu-satunya untuk segala masalah. Bahkan roundtable yang
dirancang dan dikelola paling baik tidak dapat melakukan segala sesuatu dan memecahkan
setiap persoalan perlu bekerja secara efektif didalam kerangka kerja yang kompleks dan terus
berubah dari kebutuhan akan teknologi dan pasar, serta peraturan perundang-undangan lokal,
nasional dan internasional serta kebiasaan industri agar mencapai keberlanjutan dalam sektor.

D. Tantangan dan Peluang Sektor Minyak Kelapa Sawit


Pendahuluan
Seksi ini membahas tantangan kunci yang dihadapi sektor minyak kelapa sawit sekarang ini.
Maksudnya adalah menyoroti segala persoalan pokok, untuk konsultasi bersama stakeholder,
yang perlu dipertimbangkan oleh WBG ketika mengembangkan strategi baru untuk terlibat dan
investasi dalam sektor. Peluang untuk menyikapi tantangan oleh pemangku kepentingan untuk
melanjutkan keterlibatan WBG dalam sektor minyak kelapa sawit akan dibahas. Daftar
tantangan dibuat berdasarkan topik perdebatan yang ditetapkan dalam seksi sebelumnya
tentang perdebatan kelapa sawit. Diakui bahwa naskah ini tidak mungkin mencakup secara
mendalam segala persoalan kekhawatiran pemangku kepentingan, khususnya di tingkat lokal
dan regional, namun diharapkan bahwa melalui serangkaian konsultasi global persoalan
tambahan dan peluang penting dapat diidentifikasi untuk mendukung proses perencanaan
strategis dari WBG.
Menimbang bahwa produksi berkelanjutan dan penggunaan minyak kelapa sawit perlu
didasarkan pada sebuah kerangka kerja untuk pengembangan berkelanjutan dan tata kelola
yang baik, tantangan dan peluang akan dibahas dibawah judul-judul yang mencakup ekonomi,
aspek sosial dan lingkungan hidup dan tata kelola. Namun demikian, harus jelas bahwa segala
persoalan ini saling berhubungan, dan semua solusi harus menyikapi pertalian diantara mereka.

26

Aspek Ekonomi
Aspek Ekonomi Tantangan
Kesenjangan Pendapatan: Tantangan teknis paling penting terhadap sektor minyak kelapa
sawit kemungkinan adalah kesenjangan produktivitas yang besar antara hasil sesungguhnya
dan yang dapat dicapai dari minyak kelapa sawit. Walaupun pengembang tanaman sudah
membuat kemajuan yang mengesankan dalam meningkatkan potensi genetik dari hasil kelapa
sawit dari tahun ke tahun, hasil sesungguhnya dan produktivitas minyak secara nasional sudah
mandek sejak tahun 1975 dalam kisaran 3,0 sampai 4,4 ton minyak per ha (Tinker, 2000). Pada
tahun 2008, hasil minyak nasional Malaysia mencapai 4,08 ton per ha (Mohd. Basri, 2009)
sedangkan hasil rata-rata di Indonesia mencapai 3,51 ton minyak per ha (Rosediana Suharto,
2009). Menimbang bahwa bahan tanam sekarang mampu menghasilkan lebih dari 8,6 ton
minyak per ha (Henson, 1990), kesenjangan dalam hasil ini adalah salah satu tantangan
terbesar bagi industri.
Peningkatan produktivitas petani kecil menjadi tantangan yang lebih besar karena perbedaan
besar antara produksi kelapa sawit oleh perkebunan dan petani kecil. Misalnya, di Indonesia,
hasil rata-rata sektor petani kecil di Indonesia pada tahun 2008 adalah 2,52 ton minyak per ha
yaitu sekitar 35 persen dan 40 persen lebih rendah daripada masing-masing produksi
perkebunan milik Pemerintah dan swasta (Rosediana Suharto, 2009). Keanekaragaman dalam
hasil didalam pengelompokan petani kecil juga jauh lebih besar, yang mungkin disebabkan oleh
perbedaan dalam kebiasaan bertani dan bahan pertanian daripada potensi genetik dari
tanaman.
Selain itu, juga ada peluang meningkatkan tingkat ekstraksi dari pabrik CPO, yang berkisar
antara 18 dan 26 persen, bergantung pada pengelola.
Penurunan Harga dan Kenaikan Biaya: Tantangan utama selanjutnya bagi sektor adalah
kenaikan biaya produksi ditambah dengan penurunan harga riil minyak kelapa sawit. Meskipun
harga sekarang ini kelihatan menarik secara riil, Fry (2009) menunjukkan bahwa harga minyak
kelapa sawit menurun sekitar 2,3 persen per tahun sejak tahun 1950, dari sekitar USD 1.600
(2007) menjadi rata-rata dalam jangka panjang sekitar USD 400 per ton minyak sekarang ini.
Sementara itu, biaya bahan pertanian semakin meningkat dari waktu ke waktu, khususnya
pupuk yang mencakup lebih dari 50 persen jumlah biaya produksi minyak kelapa sawit. Harga
pupuk turun naik secara pesat berkenaan dengan harga bahan bakar fosil, dan kenaikan sangat
tinggi baru-baru ini terjadi misalnya ketika harga pupuk yang umum digunakan seperti potasium
klorida meningkat 3 kali lipat (Mohd. Basri, 2009). Diperkirakan bahwa produktivitas minyak
kelapa sawit perlu naik dengan 1,0 sampai 1,5 persen per tahun untuk sama cepat dengan
kenaikan biaya produksi (kenaikan sekitar 2-3 persen per tahun) dan penurunan harga riil dari
minyak kelapa sawit (penurunan sekitar 2-3 persen per tahun) (Chandran, 2010b).
Pemahaman buruk tentang minyak kelapa sawit berkelanjutan yang sudah memperoleh
sertifikasi (CSPO): Pengapalan pertama minyak kelapa sawit berkelanjutan yang sudah
memperoleh sertifikasi tiba dengan riuh rendah di Rotterdam di bulan November 2008; namun
demikian kegembiraan berubah menjadi kekecewaan bagi para penanam ketika menjadi nyata
bahwa permintaan untuk CSPO oleh para pembeli di Uni Eropa hanya sebagian kecil dari yang
diharapkan. Pertengahan tahun 2009, ketika perkebunan RSPO sertifikasi mempu memasok
1,50 juta ton CSPO per tahun, hanya 15.000 ton CSPO dibeli oleh perusahaan manufaktur Uni
Eropa, banyak dari mereka sejak awal komit untuk hanya membeli CSPO pada tahun 2015 atau
sebelumnya.
Agar mewujudkan hasrat perusahaan Eropa dan mendorong pemahaman CSPO, WWF
menyusun Palm Oil Buyers Scorecard untuk menilai kemajuan pembelian CSPO oleh 59
27

perusahaan
Eropa
dari
bulan
(www.panda.org/palmoilsscorecard).

Maret

sampai

bulan

September

2009

Inisiatif ini mempunyai dampak langsung pada volume perdagangan CSPO. Ketika hasil kartu
skor diterbitkan di bulan Oktober 2009, volume pembelian CSPO sudah meningkat menjadi
195.000 ton. Namun kuantitas ini kurang dari 5 persen jumlah konsumsi tahunan minyak kelapa
sawit oleh Uni Eropa! Namun demikian, membesarkan hati untuk mengetahui bahwa akhir-akhir
ini pemahamannya sangat baik; sekitar 95 persen produksi CSPO selama kwartal pertama
tahun 2010 telah dibeli. Pemahaman dalam 12 bulan terakhir mencapai sekitar 50 persen
(Mongabay, 2010a).
Aspek Ekonomi Peluang
Menutup Kesenjangan Hasil: Meningkatkan produktivitas lahan merupakan salah satu cara
paling efektif dalam meningkatkan profitabilitas dari sektor dan mengurangi kenaikan biaya
produksi. Penutupan perbedaan besar antara hasil sesungguhnya dan hasil potensial juga
berdampak positif pada landasan lingkungan hidup karena kenaikan produktivitas dapat
mengurangi tekanan untuk membuka lahan baru. Ini digarisbawahi oleh permintaan
Greenpeace bahwa Indonesia harus meningkatkan hasil untuk menyelamatkan hutannya
sebagaimana dikutip dari laporan baru-baru ini dari Reuters (Bhui and Davies, 2009).
Seandainya produksi meningkat 20 persen, maka 7,7 juta ton minyak kelapa sawit tambahan
dapat dihasilkan oleh Indonesia dan Malaysia ini sama dengan produksi 1,9 juta hektar lahan
tanam baru. Walaupun ini akan menjadi tujuan yang sangat menantang, ini bukan tidak realistis
sebagaimana dibuktikan oleh beberapa perusahaan seperti IOI Corporation Berhad yang telah
mencapai hasil minyak rata-rata melebihi 6,0 ton minyak per ha pada tahun 2008 dan beberapa
perkebunan menghasilkan lebih dari 7,0 ton minyak per ha (IOI Corporation 2008).
Walaupun peningkatan produktivitas di seluruh perkebunan yang sudah ada dapat dicapai
melalui implementasi dari Better Management Practices (BMP) atau Praktek Pengelolaan Lebih
Baik seperti pengelolaan efisien dari pengumpulan hasil tanaman, kesuburan tanah, sumber
daya air dan perhatian terhadap efisiensi dari pabrik, penanaman kembali kelapa sawit dengan
tepat waktu di akhir siklus ekonominya dengan tanaman unggul akan menjadi pendekatan
jangka panjang paling efektif untuk meningkatkan produktivitas. Investasi oleh sektor swasta
dalam R&D dalam aspek ini telah mencapai hasil yang menggembirakan; misalnya, riset oleh
PPTP London Sumatra Indonesia sudah mengembangkan bibit hibrida F1 (non-GM0) yang
secara potensial 3 kali lipat lebih produktif daripada tanaman konvensional (Sumatra
Bioscience, 2008).
Di Malaysia, Asiatic Development Berhad dan Sime Darby Berhad membuat terobosan berarti
dalam mengurut genome minyak kelapa sawit (Oh, 2009). Melalui pemahaman lebih baik dari
susunan genetik minyak kelapa sawit, riset-riset akan mampu menunjukkan dengan tepat
plasma yang berguna bagi menghasilkan bibit tanaman unggul dengan sifat yang diinginkan
seperti kekuatan melawan penyakit, tahan kekeringan dan minyak dengan tingkat lemak tidak
jenuh yang lebih tinggi.
Meningkatkan produktivitas petani kecil: Sementara perkebunan swasta mempunyai sumber
daya keuangan dan kemampuan untuk menyikapi kesenjangan porduktivitas, sektor petani kecil
membutuhkan bantuan mendesak untuk meningkatkan produktivitas dan praktek produksi.
Dengan pelatihan, bantuan teknis, jasa penyuluhan dan masukan pengelolaan yang tepat, tidak
ada alasan bahwa produksi petani kecil tidak dapat mendekati produktivitas dari perkebunan
besar.

28

Aspek Lingkungan Hidup


Aspek Lingkungan Hidup Tantangan
Dalam World Agriculture and the Environment, Clay (2004) mengidentifikasi permasalahan
lingkungan hidup utama yang muncul dari produksi minyak kelapa sawit sebagai perubahan
habitat, ancaman terhadap habitat kritis bagi kelompok binatang yang terancam punah, polusi
udara dan pembakaran, erosi tanah, penggunaan pestisida serta penggunaan pupuk.
Sementara LSM-LSM lingkungan hidup pada umumnya juga mempunyai kekhawatiran ini,
tantangan utama yang seringkali diutamakan dalam kampanye dan program adalah
penebangan hutan dan kehilangan keanekaragaman nabati melalui pengrubahan untuk
pengolahan minyak kelapa sawit dan perkebunan kayu.
Penebangan Hutan: Keadaan hutan dunia sudah dinilai oleh UN Food and Agriculture
Organization (FAO) dengan jarak waktu 5 sampai 10 tahun sejak tahun 1946. Dalam penilaian
yang terakhir, Global Forest Resources Assessment 2010 (FRA 2010) (FAO 2010) melaporkan
bahwa tingkat penebangan hutan sejak FRA 2005 menunjukkan tanda-tanda menurun namun
kehilangan hutan secara menyeluruh masih sangat tinggi, khususnya di Amerika Latin dan
Afrika. Namun demikian, diketahui bahwa tingkat penebangan hutan di Brasil dan Indonesia,
yang mengalami kehilangan hutan tertinggi pada tahun 1990an, sudah menurun sejak penilaian
terakhir.
Tentang lenyapnya hutan di Indonesia, Rautner et al (2005) menunjukkan bahwa luas hutan di
pulau Kalimantan telah berkurang dari 73,7 persen pada tahun 1985 menjadi 50,4 persen pada
tahun 2005 sedangkan proyeksi luas hutan pada tahun 2010 dan 2020 masing-masing sekitar
44,4 persen dan 32,6 persen. Jumlah pengurangan hutan di Kalimantan dari 1985 sampai
dengan 2002 adalah sekitar 13,3 juta hektar sedangkan luas hutan yang hilang di Sabah dan
Sarawak, Malaysia masing-masing diperkirakan 0,25 dan 0,40 juta hektar. Karena sisa hutan
dataran rendah pulau Kalimantan masih serius terancam pengrubahan maka pemerintah
Indonesia, Malaysia dan Brunei menandatangani sebuah deklarasi historis di bulan Februari
2007 untuk melestarikan Heart of Borneo atau Hati Kalimantan mencakup sekitar 220.000
kilometer persegi hutan tropis yang kaya keanekaragaman nabati di tiga negara (WWF, 2007).
Lenyapnya hutan di Sumatera, Indonesia, juga sangat mencemaskan, khususnya di Provinsi
Riau yang mempunyai hutan gambut dataran rendah paling luas di negara. Penilaian
penebangan hutan dan degradasi hutan dari tahun 1982 sampai dengan tahun 2007 (Uryu et al,
2008) menunjukkan kehilangan 65 persen hutan selama masa 25 tahun, atau hilangnya sekitar
4,2 juta hektar hutan. Diperkirakan bahwa pengembangan perkebunan kayu (Acacia)
menyumbang kepada 24 persen sedangkan pemeliharaan kelapa sawit menyumbang kepada
hilangnya 29 persen hutan sesudah eksploitasi permulaan dari sumber daya kayu.
Penebangan hutan secara signifikan berdampak pada lingkungan hidup, termasuk:

hilangnya keanekaragaman nabati

perubahan iklim dalam skala lokal, lebih luas dan global (terutama ketika pembakaran
dilakukan untuk membersihkan lahan hutan)

perubahan hidrologis karena perubahan dalam penyimpanan endapan dan tingkat curah
hujan

Ini berakibat pada hilangnya pelayanan ekosistem yang berharga bagi penduduk manusia,
khususnya rakyat miskin yang tidak atau sedikit mempunyai sumber daya lainnya.

29

Pembahasan hutan yang hilang cukup rumit karena kurangnya definisi yang sudah disetujui dari
jenis hutan yang sedang dimusnahkan. Di sebagian besar dataran rendah, hutan tropis semula
sudah ditebang, dan hutan sekunder yang dihasilkan mungkin sudah ditebang lagi oleh
pembangunan pertanian sebelum akhirnya ditebang untuk pengembangan kelapa sawit. Satu
pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah apakah hutan sekunder yang ditebang
memenuhi syarat untuk dirubah menjadi perkebunan kelapa sawit.
Hilangnya keanekaragaman nabati: Kekhawatiran mengenai hilangnya keanekaragaman nabati
berhubungan langsung dengan hilangnya hutan alami. Diketahui bahwa keanekaragaman
nabati dalam perkebunan kelapa sawit adalah jauh lebih rendah daripada di hutan alami, pada
dasarnya karena berkurangnya kompleksitas struktural dalam perkebunan seperti itu.
Menurunnya struktur habitat menyediakan relung lebih sedikit bagi flora dan fauna. Banyak
sekali perhatian dicurahkan pada kelompok binatang berkarisma yang terancam punah seperti
harimau Sumatera, gajah Asia dan orangutan. Ini dan kelompok binatang berkarisma lainnya
secara khusus rentan ketika lahan hutan dibersihkan, karena peningkatan akses membawa
kepada meningkatnya tekanan perburuan serta pembukaan lahan untuk permukiman manusia.
Meningkatnya fragmentasi dan akses habitat membawa kepada peningkatan konflik antara
manusia dan kelompok binatang ini. Sebagai contoh kasus adalah konflik gajah-manusia
sepanjang tanah dataran dari Sungai Kinabatangan di Sabah, Malaysia dimana koridor hutan
alami dari gajah pigmi telah dipecah-pecahkan oleh pembangunan perkebunan kelapa sawit.
Situasi serupa terjadi di provinsi Riau dan provinsi Bengkulu di Indonesia.
Diantara kelompok binatang yang penting, orangutan di Asia Tenggara menjadi simbol dari
permasalahan berkenaan dengan penebangan hutan dan degradasi hutan dan sering
digunakan sebagai barometer dari kesehatan hutan (Eko Hari et al, 2007). Keadaan
menyedihkan dari orangutan disoroti dalam banyak publikasi dan kampanye LSM. Publikasi
UNEP, The Last Stand of the Orangutan (Nellemann et al, 2007) menilai status dan masa
depan orangutan. Orangutan Kalimantan digolongkan oleh World Conservation Union (IUCN)
sebagai terancam sedangkan orangutan Sumatera sebagai sangat terancam. Berdasarkan
perkiraan baru-baru ini populasi orangutan yang hidup liar di pulau Kalimantan berkisar antara
45.000 dan 60.000, sebagian besar terpusat di Kalimantan sedangkan di Sumatera hanya
tersisa 7.300 orangutan. Kelangsungan hidup kelompok binatang yang terancam punah ini
sangat terancam oleh pembalakan liar, perburuan dan perdagangan liar, kebakaran hutan,
pertanian untuk penyambung hidup dan pembangunan perkebunan (terutama perkebunan
kelapa sawit dan acacia).
Masalah pokok berkenaan dengan kekhawatiran keanekaragaman nabati adalah sedikitnya
perhatian yang dicurahkan selama tahap perencanaan bagi pembangunan perkebunan, apakah
lahan yang sedang dirubah memiliki nilai keanekaragaman nabati tinggi apakah mengandung
Habitat Kritis (Critical Habitat) (berdasarkan Performance Standard 6 dari IFC) atau mempunyai
Nilai Pelestarian Tinggi (High Conservation Value)(berdasarkan definisi yang dianut RSPO). Di
masa lalu hanya ada sedikit alat untuk melakukan ini, dan kurang diperhatikan dalam
melakukan prosedur penilaian dampak lingkungan hidup formal.
Perubahan Iklim: Kekhawatiran tentang perubahan iklim karena pemanasan global awalnya
fokus pada pembakaran bahan bakar fosil untuk pemanasan dan transportasi, dan pelepasan
CO2 sesudah itu. Dengan penelitian lebih lanjut menjadi jelas bahwa bermacam-macam
kegiatan anthropogenic juga menyumbang banyak kepada pelepasan CO2, dan bahwa
pengrubahan hutan tropis yang padat karbon kemungkinan juga menjadi bagian yang penting
untuk ini. Diperkirakan bahwa penebangan hutan memberikan kontribusi sekitar 18 persen dari
emisi gas rumah kaca global (Stern, 2006).

30

Berkenaan dengan kontribusi potensial dari sektor minyak kelapa sawit terhadap perubahan
iklim, muncul kekhawatiran serius bahwa pembangunan perkebunan diatas lahan gambut tropis
berakibat pada emisi CO2 secara signifikan. Ketika lahan ini dikeringkan, terjadi oksidasi
gambut yang menghasilkan banyak pelepasan CO2 untuk waktu lama. Studi oleh Delft
Hydraulics menunjukkan bahwa sekarang ini, emisi CO2 yang ditimbulkan oleh pembusukan
dari lahan gambut yang sedang dikeringkan di Indonesia mungkin mencapai 632 Mt/thn dengan
kisaran 355 sampai 874 Mt/thn (Hooijer et al, 2006). Selanjutnya, perkiraan emisi rata-rata
1.400 Mt/thn disebabkan oleh kebakaran lahan gambut selama periode 1997-2006. Ini dan data
lainnya yang dikutip memperingkat Indonesia sebagai penghasil emisi CO2 terbesar ketiga
sedunia sesudah Cina dan Amerika Serikat. Namun demikian, kesimpulan ini mendapat
sanggahan (Hanim Adnan, 2009; Paramananthan, 2008). Karena tidak adanya pemahaman
umum tentang sifat dan skala emisi dari lahan gambut tropis, RSPO sudah membentuk
Kelompok Kerja Lahan Gambut (Peat Land Working Group) untuk menyikapi permasalahan
(www.rspo.org).
Sumber signifikan gas rumah kaca lainnya berkenaan dengan minyak kelapa sawit adalah
penggunaan api untuk pembersihan lahan dan emisi gas metan dari kolam perawatan limbah
pabrik minyak kelapa sawit. Meskipun negara-negara Asia Tenggara sudah menandatangani
ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution pada tahun 2002 dan menjalankan
kebijakan regional untuk tidak melakukan pembakaran (ASEAN Secretariat, 2003) namun
penggunaan api untuk membersihkan lahan untuk pertanian terus dilakukan dan sudah
memberikan kontribusi terhadap polusi udara regional setiap tahun. Penggunaan api oleh
petani kecil dan petani adalah lazim karena merupakan kebiasaan pertanian tradisional dan
karena kurangnya peralatan untuk melakukan pembersihan lahan dengan cara lain. Namun
banyak bukti menunjukkan bahwa penggunaan api oleh perkebunan sudah berkurang dalam
beberapa tahun terakhir ini.
Sebagian besar negara sekarang ini mengatur perawatan limbah pabrik minyak kelapa sawit
sebelum dialirkan ke saluran pembuangan. Sistem yang paling banyak digunakan adalah
pencernaan limbah dengan organisme melalui serangkaian kolam. Namun demikian, kolam
terbuka menjadi sumber utama emisi gas rumah kaca karena gas metan yang lebih kuat dari
CO2 dalam potensi pemanasan global dilepaskan melalui proses pencernaan. Sekarang ini,
sebagian besar sistem perawatan kolam terbuka tidak menyerap pelepasan gas metan.
Perusahaan lebih besar berusaha mengimplementasikan teknologi untuk menyerap dan
menggunakan gas metan, namun ini terlampau mahal untuk perusahaan kecil.
Tantangan utama terhadap sektor minyak kelapa sawit yang berkenaan dengan perubahan
iklim adalah pemenuhan European Union (EU) Directive for Renewable Energy atau Petunjuk
Uni Eropa bagi Energi Terbarukan yang mengharuskan bahan bakar nabati mencapai
sedikitnya pengurangan 35 persen dalam emisi dibandingkan dengan bahan bakar fosil pada
tahun 2010 dan ini akan ditingkatkan menjadi 60 persen pada tahun 2017. Juga ada
persyaratan terkait dengan emisi dari perubahan penggunaan lahan secara tidak langsung
(indirect land use change, ILUC) yang timbul dari permintaan untuk bahan bakar nabati.
Tentang penurunan emisi dari bahan bakar nabati, Uni Eropa menganggap default value
berkurang 19 persen dibandingkan dengan bahan bakar fosil serta menghemat 36 persen nilai
gas rumah kaca namun ini dipersoalkan oleh para penghasil karena sebuah studi mandiri
menunjukkan bahwa potensi penghematan gas rumah kaca dari minyak kelapa sawit terlampau
rendah 20 persen (MPOC, 2008b).
Didalam karya tulisnya belum lama berselang, Pehnelt dan Vietze (2010) menyatakan bahwa
Petunjuk Energi Terbarukan dari Uni Eropa bersifat diskriminatif sejak permulaan dan nilai
penghematan gas rumah kaca dan penafsirannya didasarkan pada asumsi yang keliru dan
perhitungan yang salah. Misalnya, berdasarkan Petunjuk itu penghasil bahan bakar nabati di
31

Uni Eropa diizinkan menuntut penghematan gas rumah kaca lebih tinggi daripada penghasil
bahan bakar nabati diluar Uni Eropa. Ini merupakan tindakan proteksi dan jelas melanggar
undang-undang perdagangan internasional.
Penggunaan pestisida dan pupuk: Penyalahgunaan pestisida dan pupuk sering disebut sebagai
dampak negatif pemeliharaan kelapa sawit. Pada umumnya, penggunaan pestisida cukup
rendah apabila dibandingkan dengan banyak tanaman lainnya, namun beberapa bahan kimia
yang digunakan merupakan risiko signifikan untuk pengelola dan petani kecil serta lingkungan
hidup. Prinsip & Kriteria RSPO mengharuskan penghapusan penggunaan bahan kimia yang
digolongkan oleh World Health Organization sebagai Jenis 1A dan 1B, atau tercatat oleh
Konvensi Stockholm atau Konvensi Rotterdam, dan paraquat tersebut wajib dikurangi atau
dihapuskan (www.rspo.org). Diantara bahan kimia yang membahayakan ini, paraquat herbisida
menyebabkan kekhawatiran paling besar karena menyajikan risiko kesehatan serius kepada
para pekerja penyemprot. Pesticides Action Network Asia & Pacific sudah menuntut
pelarangan produksi dan penggunaan paraquat berulangkali namun tanpa hasil (PAN AP,
2009). RSPO baru-baru ini menugaskan penelitian untuk mencari pengganti yang cocok untuk
paraquat (Rutherford, 2009) namun solusi yang jelas belum datang juga. Jelas bahwa
tantangan ini harus disikapi secara mendesak. Tujuan menyeluruh adalah memperkecil
ketergantungan pada herbisida didalam konteks Integrated Weed Management (IWM) atau
Pengelolaan Rumput Liar Terpadu yang menggunakan gabungan pendekatan pengendalian
fisik, budaya, biologis dan kimia.
Penggunaan pupuk dalam jumlah besar dbutuhkan untuk kelapa sawit pada lahan tropis yang
kurang subur. Dampak terhadap lingkungan hidup khususnya berhubungan dengan
penggunaan yang salah sehingga mengakibatkan hilangnya air permukaan dan membutuhkan
eutrophication (pengayaan nutrisi). Sementara kebutuhan nutrisi untuk kelapa sawit umumnya
didasarkan pada analisis tanah dan daun-daunan, efisiensi dari penggunaan pupuk terkadang
dipertanyakan. Corley (2009) melihat bahwa dari nutrisi yang dipasok oleh pupuk, hanya
sebagian kecil nitrogen dan potasium diekspor kepada kelapa sawit dan bijinya. Sebagai
implikasi adalah kurang efisiennya recycling nutrisi setelah penanaman kembali dan banyak
kelebihan nutrisi menjadi hilang. Dengan demikian, Corley mempertanyakan apakah perlu
melanjutkan penggunaan pupuk dalam jumlah besar. Penggunaan pupuk dengan lebih efisien
berarti biaya produksi yang lebih rendah dan juga dampak lebih sedikit terhadap lingkungan
hidup. Lagi sekali, riset lebih lanjut perlu diselenggarakan. Di masa lalu, tandan buah kosong
(empty fruit bunches, EFB) sering dibakar dalam tempat pembakaran dari pabrik. Kebiasaan
baik sekarang ini adalah menggunakan EFB secara langsung atau dijadikan kompos bersama
limbah CPO untuk menyuburkan perkebunan, dengan demikian mengembalikan nutrisi secara
langsung kepada lapangan untuk dimanfaatkan oleh pohon kelapa sawit dan sayuran
pendamping.
Aspek Lingkungan Hidup Peluang
Moratorium (penghentian sementara) penebangan hutan: Greenpeace dan Unilever
bekerjasama dalam sebuah koalisi dan menyarankan moratorium penebangan hutan di
Indonesia (Unilever, 2009b). Usulan tersebut menuntut penghentian sementara dua sampai tiga
tahun pengrubahan segala jenis hutan agar memungkinkan pembuatan peta oleh Hutan Nilai
Pelestarian Tinggi (High Conservation Value Forests) dan Lanskap Nilai Karbon Tinggi (High
Carbon Value Landscapes). Berdasarkan peta ini, maka kebijakan perencanaan penggunaan
lahan baru dapat disusun di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten.
Namun demikian, usulan tersebut ditentang oleh Indonesia, dengan alasan melanggar
kedaulatan nasional dan berpotensi sebagai rintangan dagang. Para penanam anggota RSPO
32

merasa bahwa moratorium tidak akan perlu karena pemenuhan persyaratan P&C bagi
pengembangan lahan baru akan menjamin bahwa hutan-hutan HCV tidak akan dirubah.
Penggunaan lahan degradasi untuk pemeliharaan kelapa sawit: Ancaman dari penebangan
hutan dapat diperkecil apabila perluasan kelapa sawit di masa depan ditujukan pada lahan
degradasi (lihat Kotak 1 untuk definisi). Walaupun perkiraan luasnya lahan degradasi dari pihak
berwenang tidak tersedia, Clay (2004) berpendapat bahwa ada sekitar 20 juta hektar lahan
seperti itu di Indonesia yang cocok bagi pertanian, sedangkan World Resources Institute (WRI)
menyediakan perkiraan 15 sampai 20 juta hektar (www.projectpotico.org). Penggunaan lahan
degradasi akan bergantung pada biaya rehabilitasi dan juga diakui bahwa akan lebih
menguntungkan membangun perkebunan dari lahan hutan karena pendapatan dapat diperoleh
dari penjualan kayu yang akan menopang tahapan non-produktif dari perkebunan. Namun
demikian, apabila pembayaran jasa lingkungan hidup diperhitungkan maka rehabilitasi lahan
degradasi bisa menawarkan potensi pengasingan karbon secara signifikan. (Clay, 2004).
WRI telah meluncurkan proyek baru dengan nama POTICO (Palm Oil, TImber, Carbon
Offsets) untuk mempromosikan penggunaan lahan kurang subur dan mengurangi tekanan pada
hutan primer dan juga untuk mengekang pembalakan liar (www.projectpotico.org). POTICO
terdiri dari sebuah portofolio investasi dalam minyak kelapa sawit berkelanjutan, kayu FSC,
dan carbon offsets yang dirancang untuk mengalihkan perkebunan kelapa sawit baru pada
lahan kurang subur dan membawa hutan yang dicalonkan untuk pengrubahan menjadi lahan
kehutanan berkelanjutan yang sudah memperoleh sertifikasi.
Lahan Degradasi

Istilah lahan degradasi seringkali digunakan tanpa definisi yang jelas tentang apa yang
sedang dibahas, dan ini dapat menyebabkan kebingungan ketika pemangku kepentingan
menggunakan definisi yang saling berbeda. Istilah degradasi dapat merujuk kepada
lahannya sendiri (tanah) atau kepada hutan atau tumbuh-tumbuhan yang ada diatasnya.

Tanah degradasi pada umumnya dianggap tanah yang sudah terkikis atau luluh nutrisi.
Sebagian tanah tropis rentan terhadap kehilangan nutrisi dan kadar garam, yang berakibat
pada produktivitas yang sangat rendah.

Hutan degradasi adalah hutan dimana struktur, komposisi binatang, biomass dan/atau
canopy cover sudah berkurang dari hutan asli semula. (Pada umumnya memanen hutan
dapat mengakibatkan degradasi dari hutan bersangkutan). Terdapat kisaran luas dari jenisjenis hutan yang dapat dianggap sudah degradasi.

Setiap pembahasan dari penggunaan lahan degradasi untuk menanam kelapa sawit perlu
jelas tentang aspek apa saja yang dianggap degradasi, dan tingkatannya. Lahan
degradasi mungkin milik orang yang tidak menganggap lahannya sudah degradasi dan
kepemilikannya yang sah atas lahan ini perlu dihargai dan diperhitungkan.

Mekanisme pengurangan emisi gas rumah kaca:


CDM. Diantara
mekanisme fleksibel berdasarkan Protokol Kyoto maka Clean Development Mechanism (CDM)
memungkinkan negara industri untuk mendukung pencapaian komitmen pengurangan emisi
mereka dengan memperoleh kredit karbon (Certified Emissions Reductions atau CER) melalui
bantuan untuk negara berkembang dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Ini dilakukan
melalui implementasi proyek CDM yang diterima oleh negara tuan rumah dan disetujui
(terdaftar) oleh Badan Eksekutif CDM.
Di sektor minyak kelapa sawit, proyek CDM kebanyakan dilaksanakan untuk menyerap gas
metan yang dilepaskan mesin perawatan limbah pabrik minyak kelapa sawit dan memanfaatkan
33

biogas untuk menghasikan listrik. Namun demikian, jumlah proyek CDM terdaftar seperti itu
masih agak sedikit dibandingkan dengan jumlah pabrik minyak kelapa sawit yang beroperasi.
Kebutuhan akan modal awal yang besar sering disebutkan sebagai rintangan bagi proyek CDM
seperti itu. Namun demikian, mengingat pendapatan potensial dari CER, jumlah proyek CDM
mungkin bisa bertambah. Baru-baru ini, Felda dari Malaysia mengumumkan rencananya untuk
memaksimalkan penggunaan sampah dan limbah biomass dari ke 60 pabrik minyak kelapa
sawitnya menjadi energi terbarukan melalui proyek CDM dengan melibatkan 56 pabrik biogas
(Hanim Adnan, 2010). Mempergunakan biogas untuk menghasilkan tenaga listrik juga sudah
diterapkan melalui rute CDM oleh industri minyak kelapa sawit di Kolombia (Becerra and Hoof,
2005).
REDD+. Dipahami sebagai mekanisme kunci untuk pasca permufakatan iklim 2012, REDD
adalah singkatan dari Reducing Emissions from Deforestation and Degradation. Tanda (+)
disisipkan kemudian untuk menandakan tambahan pelestarian dan peningkatan persediaan
karbon, misalnya melalui pengasingan. Konsep dasar adalah bahwa semua negara yang mau
dan mampu mengurangi emisi dari penebangan hutan harus mendapatkan ganti rugi untuk
berbuat begitu (Scholz and Schmidt, 2008). Sederhana seperti kelihatannya, REDD sudah
membangkitkan perdebatan global yang sangat banyak sejak diagendakan oleh UN Framework
Convention on Climate Change (UNFCCC) untuk pembahasan pada Sesi ke 11 dari
Conference of Parties (COP11) di Montreal pada tahun 2005. Perundingan mendalam terlihat
pada pertemuan COP15 di Copenhagen pada akhir tahun 2009 karena ada banyak
ketidaktentuan tentang manfaat dan efektivitas sesungguhnya dari REDD dan bagaimana akan
diimplementasi dan dibiayai.
Banyak CSO tidak mendukung REDD, karena mereka melihatnya sebagai mekanisme
berorientasikan pasar bagi negara industri untuk terus melakukan polusi tanpa upaya nyata
untuk menghambat penebangan hutan. Greenpeace (Mongabay, 2010b) menyatakan bahwa
memperkenalkan kredit hutan yang dapat diperdagangkan dapat sangat mempengaruhi pasar
karbon dunia dan sebaliknya mengusulkan sebuah mekanisme alternatif yang mencakup
pengadaan dana global untuk mendukung proyek-proyek pelestarian hutan di negara-negara
tropis. Friends of the Earth (2008) menyatakan bahwa usulan REDD yang ada sekarang ini
bertujuan menghasilkan keuntungan untuk pembuat polusi, bukan menghentikan perubahan
iklim.
Disamping itu, WWF memandang REDD sebagai komponen kritis dari seluruh pengurangan
emisi gas rumah kaca untuk mencapai tujuan mempertahankan kenaikan suhu global dibawah
2 derajat Celsius. Untuk mendukung tujuan ini, WWF menyarankan sebuah strategi yang terdiri
dari suatu pendekatan bertahap yang digerakkan oleh program-program REDD di tingkat
nasional (Brickell, 2009).
Apa relevansi dari REDD dengan sektor minyak kelapa sawit? Sebuah analisis dari keuntungan
merubah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit melawan pelestarian dilakukan oleh Butler et
al (2009) dan menyimpulkan bahwa lebih menguntungkan untuk merubah hutan menjadi
perkebunan kelapa sawit daripada memperoleh kredit karbon dari pelestariannya. Namun
demikian, hasilnya lebih menguntungkan bagi pelestarian apabila kredit karbon dari
menghindari penebangan hutan diterima dalam skema REDD dan apabila pembayaran bagi
melayani lingkungan hidup (payments for environmental services, PES) (yang bukan dianggap
faktor dalam studi) juga dimasukkan.
Dari kedua mekanisme yang dibahas, pendekatan CDM sekarang sedang berlaku dan perlu
didorong bagi sektor minyak kelapa sawit. Walaupun terdapat banyak pekerjaan persiapan
untuk REDD+, kegagalan menyepakati suatu mekanisme implementasi di Copenhagen telah

34

mengakibatkan ketidaktentuan besar mengenai kapan ini akan dilaksanakan. Peran REDD+
dalam strategi minyak kelapa sawit perlu ditegaskan lebih lanjut.
Transformasi pasar: Strategi untuk menyikapi tantangan lingkungan hidup yang kompleks
seperti penebangan hutan, pelestarian keanekaragaman nabati dan perubahan iklim harus
mencakup pendekatan berdasarkan pasar secara menyeluruh dan melibatkan berbagai pelaku
dalam rantai persediaan. Proyek WRI POTICO yang sudah dibahas terlebih dahulu merupakan
salah satu pendekatan transformasi pasar, selain IFC Biodiversity and Agricultural Commodities
Program (BACP) atau Program Keanekaragaman Nabati dan Komoditi Pertanian dari IFC.
BACP dirancang untuk menyikapi segala ancaman yang disajikan oleh perluasan dalam
komoditi pertanian melalui strategi transformasi pasar dari komoditi sasaran, pada awalnya
minyak kelapa sawit dan minyak kacang kedelai. BACP menyediakan hibah untuk proyek yang
akan memajukan, dari perspektif pelestarian keanekaragaman nabati, penyempurnaan
kebijakan publik dan kelembagaan, mengadopsi praktek pengelolaan lebih baik (better
management practices, BMP), kenaikan permintaan pasar untuk produk-produk dengan
dampak keanekaragaman nabati positif dan promosi produk dan jasa keuangan prokeanekaragaman nabati (www.bacp.net). BACP menyediakan peluang bagi kemitraan diantara
pemangku kepentingan dari industri, sektor publik dan masyarakat madani untuk menghasilkan
kemajuan pesat dalam pelestarian keanekaragaman nabati.
Sekarang ini ada empat proyek BACP yang sudah disetujui di sektor minyak kelapa sawit:
praktek penghalusan dan uji coba proyek seperti Pengkajian Nilai Pelestarian Tinggi (High
Conservation Value Assessments) dan satu yang mendukung RSPO secara langsung untuk
pengadaan peralatan dan informasi relevan untuk para anggota sehingga mereka bisa
mengimplementasi lebih mudah prinsip dan kriteria berkenaan dengan keanekaragaman nabati
(www.bacp.net). Suatu proyek tanpa henti BACP adalah kolaborasi antara Zoological Society of
London (ZSL) dan beberapa penghasil minyak kelapa sawit, dimana Wilmar International
adalah salah atu, untuk mengembangkan kerangka kerja ilmiah bagi pelestarian
keanekaragaman nabati dalam lanskap minyak kelapa sawit (RSPO, 2008). Selain itu, BACP
sedang mengembangkan, dengan dukungan Eco-agriculture Partners, sebuah alat web-based
untuk memantau dan menjelaskan dampak dari sertifikasi sehingga mungkin menelusuri
dampak yang terjadi dari transformasi.
Pendekatan lainnya yang digerakkan oleh pasar adalah WWF Market Transformation Initiative
(MTI) atau Inisiatif Transformasi Pasar dari WWF untuk bermacam-macam komoditi global,
termasuk minyak kelapa sawit dan minyak kacang kedelai. Perubahan dalam pasar sedang
terjadi melalui suatu kerangka kerja terpadu yang melibatkan multi-stakeholder seperti RSPO,
kemitraan transformational dengan perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan keberlanjutan
dari rantai persediaan, mengembangkan dan mempromosikan BMP dan investasi berkelanjutan
dalam komoditi (http://www.panda.org/what we do/foot print/agriculture/). Berkenaan dengan
sektor minyak kelapa sawit, prioritas kunci MTI termasuk mempertahankan dan meningkatkan
efektivitas dari RSPO dan standar-standarnya, mempromosikan perencanaan penggunaan
lahan untuk menetapkan dan melindungi lahan HCV, mendorong perusahaan manufaktur dan
pengecer untuk mengadopsi kebiasaan perolehan yang berkekanjutan dan mempengaruhi
investasi dan praktek penyaluran kredit (Tan 2010, pers com).
Didalam komponen investasi berkelanjutan dari inisiatif ini, WWF sudah menerbitkan The Palm
Oil Financing Handbook bagi investasi berkelanjutan dalam minyak kelapa sawit (Taylor et al,
2008). Walaupun buku pegangan tersebut menyediakan panduan praktis tentang
pengembangan dan implementasi kebijakan investasi dan pembiayaan minyak kelapa sawit
secara bertanggung jawab, sampai sekarang adopsi pendekatan masih terbatas untuk bank
internasional (Tan, 2010 pers com). Sektor investasi dan keuangan dapat memainkan peran
35

secara efektif dalam menjamin investasi berkelanjutan dalam minyak kelapa sawit, dan
mekanisme perlu ditetapkan untuk mendorong dimasukkannya kebiasaan terbaik dalam
pemberian kredit.
Melalui program yang disebutkan diatas atau secara terpisah, sejumlah CSO, perusahaan,
pemerintah, kesatuan riset dan kemitraan seperti RSPO atau Program Offset Keanekaragaman
Nabati dan Usaha (Business and Biodiversity Offsets Program, BBOP) sedang mencari cara
yang kreatif untuk mengorganisir dan membayar biaya pekerjaan mengurus alam, pelestarian
dan sertifikasi sambil menambah nilai ekonomi. Salah satu alasan utama mengapa
keanekaragaman nabati hilang adalah karena nilainya tidak cukup dicerminkan dalam
perekonomian dan karena mereka yang melestarikan manfaat tidak memperoleh pembayaran.
Penyimpanan karbon, atau penghindaran gas rumah kaca, saat ini adalah satu-satunya
pelayanan ekosistem yang bisa menerima pembayaran berdasarkan kondisi tertentu. Ini
bersifat win-win dengan pelestarian keanekaragaman nabati namun sekarang ini tidak
mencukupi, dalam tingkat pembayaran dan cakupan, untuk menutup seluruh biaya yang perlu.
Aspek Sosial
Aspek Sosial Tantangan
Bermacam-macam persoalan sosial dihubungkan dengan pembangunan di sektor minyak
kelapa sawit. Di Asia Tenggara, ini terdokumentasikan dalam beraneka ragam publikasi (Marti,
2008; Colchester et al, 2007; Zen et al, 2008; McCarthy and Cramb, 2008). Persoalan serupa
muncul dalam wilayah yang lain. Banyak persoalan mengerucut pada pertanyaan tentang
penggunaan, kepemilikan dan masa berlaku dari lahan, dan bagaimana hak ini dipindahkan.
Berhubungan dengan ini adalah peran petani kecil dan risiko yang mereka hadapi berkenaan
dengan produktivitas rendah, kelayakan harga, serta akses atas pembiayaan dan pasar. Segala
persoalan ini tentu saja umum untuk sektor pertanian, namun mereka terutama bermasalah di
wilayah dimana terjadi modernisasi pesat dan perubahan dari pertanian dasar untuk
menyambung hidup ke pertanian tanaman industri modern.
Hak atas tanah, penggunaan tanah dan akuisisi tanah: Mendapatkan akses atas lahan dengan
bentangan luas dan berdampingan untuk penanaman kelapa sawit merupakan persoalan
sentral di semua wilayah. Perusahaan kelapa sawit besar lebih suka memperoleh akses atas
lahan yang berdampingan karena alasan economies of scale yang signifikan dalam
membersihkan, menanami dan mengelola properti seperti itu. Kebutuhan ini sering
bertentangan dengan kebutuhan dari baik perseorangan maupun masyarakat setempat yang
mungkin ingin mempertahankan akses atas lahan mereka. Dalam banyak hal, penerapan dan
penafsiran peraturan tidak jelas.
Di Indonesia, perusahaan dapat mengajukan permohonan kepada pemerintah kabupaten untuk
mengakses lahan. Proses melibatkan beberapa izin dan membutuhkan negosiasi dengan
masyarakat setempat dan perseorangan. Banyak keluhan mengenai penyalahgunaan muncul
dari kurangnya pemahaman oleh perseorangan dan masyarakat tentang hak mereka dan
bagaimana proses bekerja dan prosedur yang perlu mereka ikuti.
Sementara banyak konflik lahan dapat diusut kembali ke hari-hari dini ketika lahan hutan dibuka
untuk konsesi kayu dan proyek pembangunan pedesaan, sektor industri kelapa sawit sering
menghadapi konflik lahan. Sebuah analisis tentang konflik hutan dan lahan di Indonesia yang
dicatat oleh Konsorsium tentang Reformasi Agraria (Consortium on Agrarian Reform) pada
tahun 2001 menunjukkan bahwa konflik berkaitan dengan perkebunan menghasilkan 32 persen
atau 260 kasus dari jumlah kasus yang terdokumentasi. Pada tahun 2008, Sawit Watch
mencatat dan memantau 570 konflik dalam perkebunan kelapa sawit, dimana banyak berasal
36

dari masa Suharto ketika hak atas tanah dari masyarakat kurang diakui (Jiwan, 2009). Di
Sarawak, dari 150 kasus konflik lahan di pengadilan pada waktu itu, sekitar 40 kasus
menyangkut para pengembang perkebunan kelapa sawit (Colchester et al, 2007).
Di Amerika Latin, khususnya di Brasil, terjadi banyak insiden penyerobotan tanah, dimana
kelompok-kelompok yang tidak mempunyai tanah menyerbu lahan perkebunan besar dan
menduduki lahan. Ini mencerminkan kebutuhan akan perhatian yang cermat terhadap
persoalan masa berlaku tanah.
Rakyat pribumi dan masyarakat setempat: Untuk rakyat pribumi, tanah itu kehidupan. Lahan
bersama merupakan aspek penting dari kebanyakan sistem hak milik di banyak negara di Asia
Tenggara. Ketika klaim mereka atas lahan yang digunakan selama beberapa generasi
terancam atau berkurang melalui pembangunan, rakyat pribumi melakukan perlawanan.
Sebagai contoh adalah peristiwa bersejarah tahun 1987 ketika masyarakat Penan, Kayan dan
Kelabit memblokir jalan raya di 23 tempat berbeda di Sarawak selama delapan bulan (Rautner
et al, 2005). Protes berlanjut secara berkala, meskipun dalam skala lebih rendah daripada
kejadian tahun 1987. Protes baru-baru ini adalah blokade jalan untuk mengangkut kayu
gelondongan oleh penduduk asli di wilayah Upper Baram untuk mencegah penebangan kayu
dari hutan perawan terakhir yang tersisa di daerah perusahaan kayu pada bulan Maret 2010
(www.world-wire.com/news/1004060001).
Sebab yang mendasari konflik tanah dengan rakyat pribumi adalah inkonsistensi peraturan
berkenaan dengan pengakuan dan penghargaan untuk hak adat penduduk asli atas tanah.
Indonesia dan Malaysia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya mewarisi prinsip kolonial
dari penguasaan negara atas sumber daya tanah. Berdasarkan Domain Declaration dari
Undang-undang Agraria tahun 1870 yang dikeluarkan pemerintah kolonial Belanda, tanah yang
tidak mempunyai kepemilikan yang jelas dianggap sebagai Tanah Negara; hak komunitas atas
tanah tidak diakui sebagai kepemilikan oleh undang-undang Belanda (Marti, 2008). Walaupun
Undang-undang Dasar 1945 mengakui keberadaan kesatuan politik tradisional berdasarkan
warisan dari masyarakat pribumi, sebagian undang-undang yang ditetapkan mempertahankan
prinsip domain yang mempengaruhi hak masyarakat pribumi di Indonesia. Misalnya,
perkenalan Undang-undang Kehutanan Dasar (Basic Forest Law) No. 5 di masa rezim Suharto
melakukan diskriminasi terhadap penggunaan barang dan jasa ekosistem hutan oleh
masyarakat pribumi (Jiwan, 2009). Situasi serupa dapat dilihat di Sarawak di Malaysia dimana
Sarawak Land Code tahun 1957 mengakui hak suku Dayak atas tanah, namun Forest
Ordinance tahun 1953 yang menggolongkan bentangan lahan luas sebagai Hutan Permanen
(Permanent Forest) membatasi atau mengendalikan kegiatan masyarakat pribumi di wilayah ini
untuk mengurangi kebiasaan pertanian berpindah-pindah (Rautner et al, 2005).
Konflik tanah antara masyarakat asli dengan masyarakat lokal dan perusahaan perkebunan
seringkali adalah akibat dari kurang memadainya konsultasi dan kesepakatan diantara semua
pihak. RSPO mengharuskan (Criterion 7.5) penerapan prinsip Free Prior Informed Consent
(FPIC) bilamana tanah sedang diakuisisi. Pendekatan ini juga dianjurkan olwh WWF sebagai
alat due diligence untuk memperkecil risiko bagi para investor. Didalam konteks RSPO, FPIC
dihubungkan dengan persoalan seperti hak adat, akuisisi tanah, pemberian ganti rugi dan
pengaturan pengkajian dampak sosial.
Petani kecil: Barangkali meningkatkan produktivitas adalah tantangan paling besar yang
dihadapi sektor petani kecil. Masalah ini lebih serius diantara petani kecil mandiri, karena petani
kecil yang dibantu atau berdasarkan skema lahan seperti Felda di Malaysia dan skema NES
serta skema koperasi mendatang (KKPA) (subesequent cooperative schemes) di Indonesia
mempunyai akses atas bantuan teknis dan keuangan dari perusahaan induk. Suatu penelitian
oleh MPOB menunjukkan bahwa ketidakefisienan diantara para petani kecil yang mandiri
37

terutama dianggap sebab dari penggunaan bahan penanaman yang tidak diseleksi dulu,
pemakaian pupuk kurang banyak dan memanen tandan buah belum masak (Ayat Rahman et
al, 2008).
Kendala-kendala utama terhadap produksi petani kecil yang disebut Vermeulen and Goad
(2006) termasuk kesukaran mendapatkan modal kerja dimuka untuk membayar biaya dimuka.
Mereka seringkali tidak cukup mempunyai agunan untuk mendapatkan pembiayaan dari bank,
serta kekurangan pendampingan teknis yang baik dan informasi pasar. Memperoleh harga
layak untuk produksi mereka merupakan keprihatinan pokok bagi petani kecil. Menurut asosiasi
petani kelapa sawit di Kalimantan Barat yaitu Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), ada kurang
keterbukaan dalam penentuan mekanisme bagi penetapan harga tandan buah segar (fresh fruit
bunches, FFB). Meskipun Departemen Pertanian di Indonesia sudah menetapkan formula bagi
penetapan harga FFB, para petani kecil tidak mempunyai peluang untuk mengambil bagian
dalam proses. Persepsi mereka adalah bahwa sistem kurang adil untuk para petani kecil
(Aleksander, 2009). Berada dalam situasi monopsoni didaerah pedesaan, mereka biasanya
mempunyai daya tawar lemah dalam penetapan harga.
Ketika industri minyak kelapa sawit bergerak menuju produksi minyak kelapa sawit
berkelanjutan dan sertifikasi berdasarkan standar-standar yang ditentukan RSPO, petani kecil
menghadapi risiko kehilangan peluang pasar apabila mereka tidak memperbaiki kebiasaan
produksi untuk memenuhi persyaratan sertifikasi yang ketat. Ini khususnya menantang untuk
petani kecil mandiri. Karena petani kecil skema merupakan bagian dari basis pasokan pabrik
minyak kelapa sawit bersertifikasi, mereka harus memperoleh dukungan yang perlu untuk
memperbaiki. Berdasarkan skema sertifikasi RSPO, pabrik minyak kelapa sawit berkewajiban
menjamin bahwa seluruh petani kecil dan penanam lepas sebagai bagian dari rantai
persediaannya sudah berstandar sertifikasi dalam 3 tahun (RSPO, 2007). Bagi petani kecil
mandiri, mereka bisa memperoleh sertifikasi melalui skema kelompok sertifikasi, seperti sudah
dilakukan untuk komoditi lain seperti kopi, meskipun sebagian mungkin tidak merasa nyaman
diharuskan mengikuti pengaturan seperti itu. Walaupun RSPO bekerja berdasarkan versi-versi
yang sudah di modifikasi dari Prinsip dan Kriterianya untuk produksi minyak kelapa sawit
berkelanjutan bagi penerapan para petani kecil skema dan mandiri, melaksanakan semua ini
dalam praktek akan menjadi tugas yang besar.
Pekerja perkebunan: Implementasi efektif dari P&C RSPO, khususnya Prinsip 6 yang
mewajibkan pertimbangan bertanggung jawab dari pekerja dan perseorangan serta
masyarakat yang terkena dampak dari pabrik dan penanam serta undang-undang nasional
yang berlaku akan menjamin tempat kerja yang aman dan adil bagi para pekerja di perkebunan.
Walaupun perusahaan yang sudah memperoleh sertifikasi RSPO berkemampuan memberikan
kepastian ini, tantangannya adalah melihat bagaimana persyaratan ini dilaksanakan secara
konsisten di seluruh sektor. Bidang-bidang keprihatinan meliputi kebijakan dan praktek
keamanan kerja dan kesehatan (occupational safety and health, OSH), kebebasan berkumpul,
pekerjaan oleh anak-anak dan berbagai bentuk diskriminasi. Pada umumnya, hanya ada sedikit
data kuantitatif tentang bagaimana dan apakah para pekerja sudah dilindungi oleh skema ganti
rugi pekerja dan bagaimana perawatan kesehatan dan kehilangan upah ditanggung. Ada
kebutuhan luas untuk studi lanjutan di bidang ini.
Walaupun upah minimum dan tunjangan kerja ditentukan instansi Pemerintah yang relevan
atau melalui perjanjian bersama antara majikan dan serikat pekerja, penerapan upah dan
tunjangan standar secara konsisten dalam industri mungkin tidak tercapai. Contoh kasus adalah
Malaysia dimana perjanjian upah bersama telah dibuat antara Malaysian Agricultural Producers
Association dengan National Union of Plantation Workers dan All Malayan Estates Staff Union
masing-masing untuk pekerja dan karyawan di Semenanjung Malaysia sejak tahun 1960an.
Namun demikian, perjanjian bersama di tingkat industri tidak dipraktekkan di Sabah atau
38

Sarawak yang mencakup lebih dari 40 persen produksi nasional minyak kelapa sawit. Dengan
ketiadaan serikat dagang resmi di kedua negara bagian ini, majikan menentukan besarnya
upah dan tunjangan kerja (Daud Amatzin, 2008).
Perlakuan terhadap pekerja wanita di perkebunan pantas diberikan perhatian. Kebanyakan
wanita dipekerjakan untuk menjalankan kegiatan lapangan seperti penanaman, pembersihan
rumput liar dan penggunaan pestisida. Penyemproton bahan kimia yang berbahaya seperti
paraquat seringkali menyebabkan masalah kesehatan diantara para pekerja wanita dan risiko
ini diperburuk kalau mereka bekerja pada tahap awal dari kehamilan. Wanita menghadapi risiko
lebih besar ketika berurusan dengan bahan kimia dengan ramuan aktif organophosphate yang
merupakan pengganggu endocrine yang dapat diserap melalui jaringan lemak dan sesudah itu
mempengaruhi pertumbuhan janin. Untuk alasan ini, wanita yang sedang hamil dan yang
menyusui harus dilarang melakukan pekerjaan yang membiarkan mereka berurusan dengan
bahan kimia seperti itu.
Sebelum pemberlakuan P&C RSPO pada tahun 2005, pengembangan dan implementasi
sistematis dari kebijakan-kebijakan berkenaan dengan gender untuk menyikapi persoalan
seperti diskriminasi, pelecehan seksual, kekerasan terhadap wanita dan perlindungan hak
reproduksi jarang diberlakukan terhadap perkebunan. Ini adalah gagasan yang perlu disikapi
oleh industri; pengalaman yang didapatkan oleh Sime Darby Berhad yang bekerjasama dengan
LSM sosial wanita , Tenaganita, tentang pengembangan pendekatan konsultatif bagi
pengembangan kebijakan berdasarkan gender dapat menyediakan panduan berguna untuk
perusahaan-perusahaan lainnya (Syed Mahdar and Intan Shafinaz, 2008). Persyaratan sosial
mendasar seperti modal pendapatan, mutu pekerjaan dan persamaan gender serta Upah
Hidup Layak (Decent Living Wage) yang ditetapkan oleh ILO masih harus diperhitungkan.
Industri minyak kelapa sawit di Malaysia sangat bergantung pada pekerja migran atau tamu;
diperkirakan bahwa sekitar 450.000 warganegara asing sedang bekerja di perkebunannya,
yang sebagian besar berasal dari Indonesia. Walaupun undang-undang memungkinkan mereka
menikmati sebagian besar fasilitas yang tersedia bagi pekerja Malaysia, diketahui bahwa
mereka sering dibayar kurang dari upah minimum (Marti, 2008). Pekerja asing boleh masuk
serikat pekerja namun tidak boleh menjadi karyawan kantor karena izin tinggal sementara
mereka (Daud Amatzin, 2008).
Tenaga kerja kanak-kanak: Keberadaan tenaga kerja kanak-kanak terjadi melalui interaksi
kompleks dari banyak faktor, termasuk status sosial keluarga, keinginan agar kanak-kanak
belajar berdagang, kemiskinan dan kekurangan akses pendidikan. Banyak keluarga cenderung
bekerja sama-sama dalam pertanian, memungkinkan kanak-kanak bekerja untuk keluarga
(mengasuh anak atau pekerjaan rumah tangga), atau, sesudah mereka bertambah besar, mulai
terlibat dalam penugasan yang menghasilkan upah. Lokasi perkebunan dan lapangan seringkali
membuat kanak-kanak jauh dari sekolah, dan mengharapkan perusahaan perkebunan untuk
menyediakan fasilitas seperti itu di perkebunan mereka. Posisi RSPO tentang penggunaan
tenaga kerja kanak-kanak diperinci di Criterion 6.7 dari Prinsip dan Kriteria yang menyatakan,
Tenaga kerja kanak-kanak tidak dipergunakan. Kanak-kanak tidak dihadapkan dengan kondisi
kerja yang berbahaya. Bekerja dengan kanak-kanak dibolehkan di lahan pertanian keluarga,
dibawah pengawasan orang dewasa dan kalau tidak mengganggu program pendidikan.
(RSPO, 2005)
Persoalan Keamanan: Di Amerika Latin, khususnya di Kolombia tetapi juga di tempat lain, ada
bermacam-macam persoalan berkenaan dengan kehadiran kelompok pemberontak (gerilya),
yang sering dipersulit oleh kelompok pedagang obat bius. Di Indonesia, dalam hal kekacauan
setempat, sebagian perkebunan bekerja erat dengan angkatan bersenjata Indonesia untuk
menyediakan keamanan setempat dan menyelesaikan protes setempat.
39

Aspek Sosial Peluang


Reformasi tanah berdasarkan hukum: Pemeriksaan secara teliti terhadap seluruh undangundang tentang tanah dan sumber daya alam akan menjadi cara mendasar kedepan yang
efektif memberikan pengakuan hak adat yang dilindungi oleh Undang-undang Dasar dari
Indonesia dan Malaysia (Colchester et al, 2006 Promised Land atau Tanah yang Sudah
Dijanjikan). Walaupun reformasi hukum adalah proses yang kompleks dan berkepanjangan,
reformasi tersebut didukung keputusan-keputusan hukum resmi sebagai pola untuk menangani
kasus-kasus berikutnya seperti peristiwa penting kasus Medali dimana Federal Court of
Malaysia mengakui hak adat atas lahan konsesi bekas perusahaan bahan bakar di Sarawak
(Borneo Post, 2007). Belum lama berselang, Miri High Court di Sarawak memenangkan
penduduk asli bahwa persewaan kepada IOI Corporation oleh pemerintah Sarawak adalah tidak
sah dan melanggar undang-undang dasar (http://www.world-wire.com/news/1004010001.html,
2010).
Mekanisme penyelesaian konflik: Selain Proses Keluhan (Grievance Process) bagi menyikapi
segala keluhan terhadap semua anggotanya, RSPO sedang membentuk Fasilitas Penyelesaian
Sengketa (Dispute Settlement Facility, DSF) untuk secara khusus menangani sengketa
berkaitan dengan tanah. Tujuan utama adalah menyediakan cara untuk mencapai
penyelesaian yang adil dan abadi terhadap sengketa secara lebih efisien dan kurang birokratis
dan/atau secara sah, sementara masih mempertahankan seluruh persyaratan RSPO termasuk
pemenuhan legislasi yang relevan. Diharapkan bahwa melalui DSF, seluruh persengketaan
dapat ditangani pada tahap dini, sehingga mencegah mereka meningkat menjadi konflik besar.
Rancangan kerangka kerja dan protokol DSF sudah menjalani konsultasi umum dan diharapkan
segera selesai dan akan dilaksanakan begitu pendanaan diperoleh untuk 2 sampai 3 tahun
permulaan. Karena sengketa sosial seringkali kompleks dan dinamis, DFS perlu mulai dengan
uji coba beberapa kasus (Wolvekamp, 2009). DSF perlu belajar dari pengalaman organisasiorganisasi lainnya dan sebagai contoh adalah peran yang dimainkan oleh IFCs Office the
Compliance Advisor/Ombudsman (CAO) dalam menyelesaikan persoalan masyarakat di
Kalimantan Barat.
Dukungan kelembagaan untuk sektor petani kecil: Ketika RSPO dibentuk, ditegaskan bahwa
sektor petani kecil harus dijadikan bagian yang utuh dari inisiatif. Karena Prinsip dan Kriteria
RSPO bagi produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan pada awalnya terutama dikembangkan
untuk perkebunan, RSPO membentuk Satuan Tugas bagi Petani Kecil (Task Force for
Smallholders, TFS) pada bulan November 2005 untuk mengkaji kesesuaian P&C bagi para
petani kecil dan meekomendasikan bagaimana sebaiknya mereka dapat mengambil bagian
dalam proses. Dipimpin oleh Forest Peoples Programme dan Sawit Watch, TFS berhasil baik
dalam menggalang partisipasi petani kecil dan pemangku kepentingan yang relevan dan telah
menyusun semua dokumen petunjuk bagi implementasi P&C untuk para petani kecil skema dan
mandiri. TFS juga mengembangkan protokol untuk skema sertifikasi kelompok bagi para petani
kecil mandiri. Persoalan-persoalan spesifik yang disikapi oleh TFS meliputi bagaimana petani
kecil dapat memperoleh hak guna bangunan, meningkatkan produktivitas dan mendapatkan
akses pembiayaan dan pasar.
Berangkat dari kemajuan yang sudah dicapai sejauh ini, TFS dalam pertemuannya pada bulan
November 2009 melihat kebutuhan akan memperluas mandatnya dari penetapan standar ke
mempromosikan implementasi dan membawa sektor petani kecil kedalam arus utama produksi
minyak kelapa sawit berkelanjutan (Colchester, 2009). Karena TFS sekarang termasuk
partisipasi dari kembaga-lembaga nasional seperti Indonesian Palm Oil Commission (IPOC),
PNG Oil Palm Research Association (PNGOPRA), Felda dan National Association of
40

Smallholders (NASH) di Malaysia dan Thai Oil Palm Association dalam Steering Group-nya,
TFS menyediakan platform yang bagus bagi tukar menukar dan pembelajaran diantara
berbagai implementasi spesifik dan praktek dukungan yang berlaku untuk memenuhi
permintaan petani kecil lebih lanjut. Partisipasi dari lembaga-lembaga internasional dan donor
dapat membantu tujuan TFS selanjutnya.
Membantu petani kecil memperoleh sertifikasi: Menyadari bahwa petani kecil akan menghadapi
kendala keuangan dalam mempersiapkan sertifikasi, RSPO telah memutuskan untuk
membentuk dana escrow untuk mendukung sektor petani kecil. Walaupun mekanisme
pengelolaan belum dikembangkan, sudah dipertimbangkan bahwa pendapatan RSPO yang
dihasilkan dari perdagangan dalam minyak bersertifikasi (melalui pendaftaran oleh Utz
Certified) dan dari sertifikat yang diperdagangkan (Greenpalm) dapat didedikasikan untuk dana
petani kecil (Verburg, 2009). Dana yang diusulkan dapat menyediakan peluang bagi lembagalembaga internasional dan donor untuk memainkan peran langsung dalam partisipasi petani
kecil di pasar untuk minyak kelapa sawit berkelanjutan dan bersertifikat.
Inisiatif mendorong pasar yang disebut Palm Oil Support Initiative (POPSI) oleh Solaridad,
WWF dan RSPO menyediakan peluang bagi berbagai pelaku dalam rantai persediaan untuk
mendukung tujuan yang menyeluruh untuk menambah nilai pada rantai persediaan minyak
kelapa sawit dan pekerja perkebunan di sektor minyak kelapa sawit sedunia untuk
mendapatkan sertifikasi RSPO. Sasaran POPSI adalah melatih sekitar 35.000 petani kecil dan
kelompok petani serta meningkatkan kesadaran sekitar 100.000 pekerja perkebunan tentang
pemenuhan P&C RSPO di negara-negara penghasil utama di Asia, Afrika dan Amerika Latin.
Kegiatan percobaan bagi pendanaan bersama antara POPSI dan para peserta rantai
persediaan akan meliputi pelatihan petani kecil tentang Kebiasaan Pengelolaan Lebih Baik
(Better Management Practices), dukungan organisasi bagi sertifikasi kelompok dan alat
pembiayaan bagi petani kecil (Dros, 2009).
Penggunaan pabrik lebih kecil: Ketergantungan petani kecil mandiri pada pabrik minyak kelapa
sawit perkebunan untuk membeli tandan buah segar (FFB) mereka dapat dihapus apabila
mereka dapat secara kolektif, misalnya melalui koperasi, mempunyai fasilitas pengolahan
minyak kelapa sawit mereka sendiri. Pabrik-pabrik kecil dapat diperkenalkan yang dapat
mengolah sekitar 5 sampai 10 ton FFB per jam (dibandingkan dengan kapasitas normal 30
sampai 60 ton per jam di pabrik konvensional). Pabrik-pabrik kecil yang menggunakan sistem
sterilasisi terus-menerus inovatif telah didirikan di beberapa tempat di Sumatera sejak tahun
2003 (www.modipalm.com.my/images/projects). Konsep modular tersebut memungkinkan
kapasitas pabrik untuk ditingkatkan sejalan dengan kenaikan produksi dari waktu ke waktu.
Pabrik kecil serta pabrik mikro yang mampu mengolah 1 sampai 5 ton FFB per jam juga
direkomendasikan bagi produksi bahan bakar nabati skala kecil di Aceh (Fricke, 2009).
Kekhawatiran dengan pabrik seperti itu termasuk kesukaran dengan perawatan limbah dan
efisiensi pabrik.
Mempromosikan pertanian terpadu: Meskipun pendapatan rata-rata petani kecil kelapa sawit
jauh lebih tinggi daripada pendapatan petani penyambung hidup di Indonesia (Shiel, et al 2009),
sering dikhawatirkan bahwa menjadi tanaman yang hidup lebih dari dua tahun dengan siklus
ekonomi sekitar 25 tahun, siklus harga naik-turun dari minyak kelapa sawit akan membuat
petani kecil lebih rentan secara ekonomi. Untuk memperkecil risiko ini, petani kecil dapant
menanam tanaman tambahan atau menggabungkan pemeliharaan ternak dengan tanaman
kelapa sawit. Pertanian campuran secara khusus relevan untuk menopang petani kecil selama
3 sampai 4 tahun pertama ketika pohon kelapa sawit masih muda. Penggabungan ternak
dengan kelapa sawit adalah salah satu tujuan MPOB untuk memaksimalkan produktivitas dan
pendapatan petani kecil dan Unit Penggabungan Ternak Dengan Tanaman (Crop and Livestock
Integration Unit) yang berdedikasi telah dibentuk untuk menjalankan agenda ini. Sementara
41

mendiversifikasikan kedalam tanaman lainnya bisa mengurangi kerentanan petani kecil


terhadap ketidaktentuan ekonomi, keadaan yang sebenarnya dari mengelola lebih banyak
tanaman harus diperhitungkan.
Persoalan Tata Kelola
Persoalan tata kelola Tantangan
Kurang efektifnya kebijakan, struktur tata kelola dan sistem pengelolaan berkenaan dengan
kinerja sosial dan lingkungan hidup mungkin adalah ancaman utama terhadap pembangunan
yang berkelanjutan, di berbagai tingkat, dari pemerintah, lembaga internasional dan lembaga
industri sampai perusahaan perorangan.
Pemerintah: Di tingkat pemerintah, kebijakan, kerangka kerja perencanaan dan hukum serta
pengaturan, kususnya berkenaan dengan pengembangan lahan, dapat menempatkan lahan
HCV dalam risiko. Misalnya, usulan mega proyek minyak kelapa sawit di perbatasan
Kalimantan seluas 1,8 juta hektar sepanjang perbatasan Kalimantan- Malaysia mengundang
banyak kritik dari masyarakat madani dan pihak lainnya yang berpendapat bahwa proyek
tersebut dapat merusak hutan dari tiga Taman Nasional di wilayah bersangkutan dan juga
merusak hak adat masyarakat pribumi di daerah proyek (Wakker, 2006).
Dalam menyikapi tantangan terhadap promosi produksi minyak kelapa sawit berkelanjutan,
Bangun (2009) menyatakan bahwa tantangan pertama adalah penegakan hukum. Undangundang tentang kehutanan telah dirumuskan pada tahun 2009 namun penegakan hukum
adalah lemah, yang mengakibatkan kasus-kasus pembalakan liar dan degradasi hutan lindung.
Prinsip No. 2 dari RSPO menyatakan bahwa sudah ada pemenuhan peraturan perundangundangan lokal, nasional dan internasional yang sudah di ratifikasi. Didalam situasi dimana
undang-undang nasional kurang ketat daripada kerangka pengaturan regional atau
internasional, maka implikasinya adalah bahwa undang-undang internasional akan didahulukan.
Namun demikian, kenyataannya ini tidak selalu demikian. Misalnya, demi alasan nasional,
Indonesia belum juga meratifikasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution yang
sudah ditandatangani pada bulan Juni 2002, sedangkan Malaysia belum meratifikasi beberapa
Konvensi ILO seperti Freedom of Association and Protection of the Right to Organize
Convention 1948 (No 87).
Lembaga Internasional: Organisasi internasional multilateral seperti WBG sudah menerapkan
proses sistematis untuk menjamin bahwa keterlibatannya dalam proyek-proyek pembangunan
memenuhi standar dan kebiasaan berkelanjutan yang sehat. IFC dan Multilateral Investment
Guarantee Agency (MIGA) mempunyai kebijakan dan prosedur berkelanjutan untuk mengawal
kinerja mereka di tingkat proyek dan para pelanggan mereka diharuskan memenuhi seluruh
Standar Kinerja yang mencakup bermacam-macam topik seperti kajian sosial dan lingkungan
hidup, akuisisi lahan dan penyelesaian diluar kemauan dan rakyat pribumi. World Bank
mempunyai satu set terdiri dari 11 Safeguard Policies untuk tata kelola sosial dan lingkungan
hidup yang baik. Standar Kinerja IFC saat ini sedang dikaji ulang dan diubah.
Walaupun semua sistem ini menyediakan tingkat kepastian tinggi dari pekerjaan mengurus E&S
dengan baik, banyak kritik diarahkan kepada IFC dan World Bank karena tidak mengikuti
prosedur mereka dengan tepat. Compliance Advisor/Ombudsman (CAO) IFC sudah
merekomendasikan semua bidang yang perlu diperkuat, termasuk persiapan strategi lengkap
untuk sektor minyak kelapa sawit.
Platform Multi-stakeholder: Didalam inisiatif multi-stakeholder seperti RSPO, maka perilaku
semua anggota dan hubungannya dengan para pemangku kepentingan dikendalikan oleh
42

anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun demikian, kinerja buruk atau kurang
efektif dari para anggotanya dapat menimbulkan risiko kepercayaan dan nama baik dari
organisasi. Walaupun semua anggota ketika bergabung sudah menandatangani perjanjian
untuk mendukung Code of Conduct yang termasuk ketaatan terhadap Prinsip dan Kriteria
RSPO, LSM-LSM dapat menghasilkan bukti ketidaktaatan, termasuk penebangan hutan oleh
sebagian anggota.
Prosedur Keluhan (Grievance Procedure) nampaknya kurang efektif menyikapi keluhan dari
pemangku kepentingan. Bahwa Unilever, Nestle dan perusahaan-perusahaan lainnya memilih
untuk bertindak langsung menanggapi keluhan-keluhan dari LSM daripada menjalani proses
standar keluhan RSPO, dapat melemahkan tingkat kepercayaan organisasi. Beberapa
kelemahan tata kelola telah diidentifikasi dalam beberapa karya tulis seperti Laurance et al
(2010). Dengan demikian, sangat penting bahwa RSPO memperkuat tata kelola dan
pemantauan kinerja anggota agar tetap relevan.
Organisasi Masyarakat Madani: Secara tradisional CSO memainkan peran sebagai anjing
penjaga untuk menjaga kepentingan umum dan membentuk arah perdebatan global tentang
segala persoalan sangat penting seperti perubahan iklim, pengentasan kemiskinan dan
kesehatan. Seperti organisasi lainnya, CSO memiliki stakeholder primernya sendiri seperti
dewan perwalian dan lembaga-lembaga donor. Menjelang akhir abad ke 20, suatu studi
internasional diselenggarakan untuk meneliti peran masa depan dan arahan untuk abad ke 21
dari LSM-LSM. Tentang pertanggungan jawab, studi tersebut merekomendasikan bahwa hal
pertama adalah menyadari bahwa keberadaan pasar adalah sentral untuk masa depan mereka.
Pasar menjadi saluran sah bagi perubahan sosial dan mungkin demikian, serta lebih efisien
dan efektif daripada banyak pendekatan tradisional (SustainAbility, 2003). Kebutuhan untuk
mendorong perubahan melalui pasar memperoleh penghargaan beberapa LSM yang sudah
memulai inisiatif transformasi pasar. Ini menunjuk pada kegunaan sertifikasi sukarela dan
skema lainnya, yang menggunakan kekuatan pasar untuk berfungsi sebagai pelengkap untuk
peraturan pemerintah.
Korporasi: Di tingkat korporasi, maka mantra 3P [People (rakyat), Planet (planet) dan Profit
(laba)] menyebar melalui brosur perusahaan dan laporan namun kenyataannya, banyak
perusahaan tidak sepenuhnya melaksanakan filsafat tersebut dalam praktek. Banyak merasa
terdorong oleh mind-set sertifikasi dan keberhasilan memperoleh sertifikasi dilihat sebagai
tujuan akhir. Namun izin operasi dapat terancam oleh kinerja buruk perusahaan berkenaan
dengan bottom line sosial dan lingkungan hidupnya. Laporan mengenai pelanggaran oleh
kelompok perkebunan besar baru-baru ini mengakibatkan penghentian pembelian minyak
kelapa sawit selanjutnya oleh para pembeli besar. Selain kehilangan pendapatan, perusahaan
juga menderita kerusakan merek dan nama baik yang berat serta hilangnya kepercayaan dari
nasabah dan pemangku kepentingan, yang pemulihannya akan membutuhkan banyak tenaga,
waktu dan biaya.
Tantangan utama bagi perusahaan adalah bagaimana mereka dapat membakukan
keberlanjutan sebagai bagian yang utuh dari budaya korporasi dan sistem pengelolaan. Agar ini
dapat tejadi, maka komitmen yang kuat dan jelas dari manajemen puncak dari korporasi penting
sekali dan ini harus ditunjukkan dengan kata dan perbuatan. Pendekatan yang sistematis dan
holistik diperlukan untuk melaksanakan keberlanjutan. Walaupun sistem manajemen umum
seperti sistem manajemen lingkungan hidup ISO 14001 relevan untuk ini, sebagian perusahaan
telah mengembangkan sistem manajemen mereka sendiri yang disejajarkan dengan P&C
RSPO. Teoh and Tan (2007) mengembangkan sistem umum yang didasarkan pada prinsipprinsip RSPO untuk menghasilkan hasil kartu skor yang sudah cocok melalui penggabungan
indikator kinerja kunci dalam aspek-aspek hukum, ekonomi, sosial dan lingkungan hidup dari
usaha.
43

Persoalan Tata Kelola Peluang


Kemitraan Publik: Swasta: CSO untuk keberlanjutan: Didalam survei GlobeScan tentang
kecenderungan pembangunan yang berkelanjutan, para ahli keberlanjutan sedunia
menyimpulkan bahwa kelompok yang menyediakan kepemimpinan terpenting dalam
pembangunan yang berkelanjutan adalah pemerintah, perusahaan dan LSM. Didalam survei
tahun 2006, hasil yang serupa telah diberikan untuk kelompok ini pemerintah (29 persen dari
jumlah responden), perusahaan (28 persen) dan LSM (25 persen) (GlobeScan, 2006). Dalam
mengusut peran ketiga pelaku ini sebagai masalah, solusi atau katalisator/pemantau dalam
pembangunan yang berkelanjutan sejak tahun 1980an (Tabel 4), Najam (2009) menyimpulkan
bahwa untuk masa depan, semua kelompok harus bekerja sebagai mitra untuk menyikapi
seluruh tantangan sosial dan lingkungan hidup serta perubahan iklim yang mendesak.
Kebutuhan akan kemitraan swasta: publik bersama dengan masyarakat madani untuk
menggerakkan pembangunan yang berkelanjutan sudah diakui sejak Konperensi tentang
Pembangunan & Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-bangsa (UN Conference on
Environment & Development, UNCED) pada tahun 1992. Membesarkan hati untuk melihat
bahwa inisiatif transformasi pasar belum lama berselang oleh LSM-LSM melibatkan kemitraan
dengan perusahaan dan pemerintah. Perusahaan-perusahaan juga sudah mengambil inisiatif
untuk menempa kemitraan dengan LSM-LSM dan para pemangku kepentingan lainnya untuk
pelestarian, dan sebagai contoh adalah kemitraan Agropalma SA dengan Conservation
International dan Instituto Peabiru (LSM sosial) untuk menciptakan Private Reserve of Natural
Heritage (PNRP) dalam 64.000 ha tanah cadangan untuk hutan milik perusahaan di Belem
Centre of Endemism di Brasil (Brito and Baiao, 2009).

F. Pertanyaan yang perlu


Pemangku Kepentingan

Diajukan

dalam

Konsultasi

dengan

Berdasarkan persoalan spesifik dan luas yang dihadapi sektor minyak kelapa sawit
sebagaimana diidentifikasi dalam beberapa seksi sebelumnya dari naskah ini, beberapa
pertanyaan telah dirumuskan untuk fokus dan mengawal konsultasi stakeholder inklusif yang
akan dilakukan dalam pertemuan-pertemuan fisik serta cara elektronis dalam tahap kedua dari
persiapan strategi. Semua pertanyaan ini telah dibingkai untuk memfasilitasi pembahasan
stakeholder dan memperoleh hasil atau rekomendasi yang berguna untuk mengawal WBG
menetapkan kembali peran dan strateginya dalam sektor minyak kelapa sawit.
Semua pertanyaan untuk diajukan dalam konsultasi stakeholder disajikan dibawah:
Beberapa pertanyaan untuk Konsultasi Stakeholder tentang Pembangunan dari Strategi
Kelompok World Bank untuk Sektor Minyak Kelapa Sawit
P1. Dari perspektif Anda, apa saja dari 5 aspek paling penting yang harus dicakup oleh IFC dan
World Bank dalam strategi baru mereka untuk perjanjian dan investasi dalam sektor minyak
kelapa sawit? Harap berikan alasan untuk jawaban Anda.
P2.Haruskah WBG terus melakukan investasi dalam sektor minyak kelapa sawit, atau apakah
sebaiknya menarik diri sampai segala persoalan utama sosial dan lingkungan hidup sudah

44

dipecahkan? Apabila WBG terus melakukan investasi dalam sektor tersebut, apa saja prasyarat
pantas untuk melakukan investasi di suatu negara tertentu?
P3.Bagaimana WBG dapat menggunakan kerangka kebijakannya (kebijakan keberlanjutan,
standar kinerja, kebijakan perlindungan) untuk mempengaruhi kinerja pelaku utama dalam
rantai persediaan minyak kelapa sawit, termasuk lembaga keuangan dan bank, perusahaan
perkebunan, LSM dan RSPO atau organisasi minyak kelapa sawit lainnya untuk menjamin
bahwa investasi, produksi dan penggunaan minyak kelapa sawit dilakukan berdasarkan prinsipprinsip berkelanjutan sosial dan lingkungan hidup?
P4. Mengingat bahwa pengembangan minyak kelapa sawit akan terus meluas untuk memenuhi
permintaan yang selalu meningkat untuk pangan, bahan bakar dan serat, dan bahwa perluasan
seperti itu mungkin menyebar ke wilayah-wilayah lain di Afrika dan Amerika Latin, peran apa
saja perlu dimainkan oleh WBG, bersama-sama para mitra dan stakeholdernya, untuk
memastikan bahwa pengembangan baru itu dilakukan dengan cara yang berkelanjutan dan
memberikan kontribusi kepada pengurangan kemiskinan?
P5.Diluar pembiayaan proyek-proyek investasi dalam sektor minyak kelapa sawit, dan
disamping mengurangi risiko dan penggunaan kerangka kebijakan WBG (P3), kegiatan
pendamping apa saja yang Anda anggap penting untuk membantu menyikapi tantangan yang
sudah ditetapkan dalam Issues Paper, atau berdasarkan pengalaman Anda sendiri dari sektor?

G. Kesimpulan
Naskah ini menyediakan pandangan umum tentang tantangan-tantangan utama yang dihadapi
sektor minyak kelapa sawit berkenaan dengan aspek-aspek sosial, lingkungan hidup dan
ekonomi serta persoalan-persoalan tata kelola. Naskah ini tidak dimaksudkan untuk lengkap
atau mencakup seluruh aspek dari sektor dalam wilayah-wilayah yang berbeda dan juga tidak
dimaksudkan untuk bersifat menentukan ketika mengidentifikasi peluang-peluang potensial.
Namun demikian, penting untuk mengetahui sejumlah peluang yang mungkin ada namun belum
terpikirkan, atau diketahui bersama sejauh ini. Sebaiknya proses konsultasi juga memungkinkan
muncul dan diketahuinya ide dan solusi kreatif. Mereka dapat berkisar dari skema organisasi
alternatif atau mekanisme pembiayaan bagi petani kecil hingga konsumen yang lebih banyak
terlibat. Investor kelembagaan yang besar, misalnya (terutama dana pensiun besar),
merupakan kelompok stakeholder yang sering terlupakan oleh pihak lain atau dianggap dalam
fora berbeda namun dapat cukup berpengaruh. Khususnya di Eropa, para pelaku seperti itu
merupakan pemilik besar dari perusahaan internasional besar di negara mereka (misalnya, ATP
dan Danisco, ABP dan Unilever, USS dan Tesco). Walaupun mereka sudah menyetujui banyak
prinsip, dari waktu ke waktu mereka akan menghadapi tantangan dalam implementasi
sesungguhnya dari misalnya minyak kelapa sawit. Mungkin perlu dipertimbangkan juga mencari
investor-investor lain apakah melalui RSPO atau melalui mekanisme yang lain.
Maksud naskah ini adalah untuk memudahkan diskusi dalam serangkaian konsultasi
stakeholder yang inklusif di wilayah-wilayah selektif kunci yang akan diselenggarakan dalam
waktu dekat. Hasil dan rekomendasi dari konsultasi ini kemudian akan mengawal World Bank
Group mengembangkan sebuah strategi yang komprehensif bagi investasi dan
pendampingannya dalam sektor minyak kelapa sawit.

45

Referensi
Ahmad Tarmizi, A. 2008. Felda- A success story. Global Oils & Fats Business Magazine. Vol.5, Issue
1: 7-11.
AidEvironment. 2007. Towards effective conservation strategies: The application of strategic principles
to increase the impact and sustainability of WWF conservation efforts. Report commissioned by WWF
Nederland, on behalf of WWF US and WWF UK.
Aleksander, C. 2009. The future of nucleus-plasma partnership .Presentation at the RSPO Task Force
for Smallholders meeting, 1 November, 2009, Kuala Lumpur.
Ayat Rahman, Ramli Abdullah, Faizah Mohd Shariff and Mohd Arif Simeh. 2008. The Malaysian palm
oil supply chain: The role of the independent smallholder. Oil Palm Industry Economic Journal Vol 8
(2): 17-27.
ASEAN. 2003.Guidelines for the Implementation of the ASEAN Policy on Zero Burning. The ASEAN
Secretariat, Jakarta.
ASEAN.2009 ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution.
<http://haze.asean.org/hazeagreement/ > (Accessed 10 August 2009)
Bangun, D.2009. Challenges in promoting the production of sustainable palm oil in Indonesia. The
Planter 85 (1001) 453-460
Basiron, Y. 2008. Malaysias oil palm Hallmark of sustainable development. Global Oils & Fats
Business Magazine Vol. 5 Issues 4 (Oct-Dec 2008): Pullout.
Bek-Nielsen, C. 2010. A perspective on palm oil and its sustainability. Paper presented at Palm Oil
and Lauric Oils Conference POC2010, Kuala Lumpur.
Becerra, M.R and Hoof, B. 2005. Environmental performance of the Colombian oil palm industry.
Fedepalma, Colombia.
Bhui, A. And Davis, E. 2009. Indonesia must boost palm yields to save forests
http://www.reuters.com/assets/print?aid=USTRE52F1UU20090316 (Accessed 18 March 2010)
Brito, M. And Baiao, P. 2009. Palm oil and the Amazonian biodiversity. Presentation at the RSPO preRT7 Biodiversity Seminar, 1 November, 2009, Kuala Lumpur.
Butler, R.A., Koh, L.P. And Ghazoul, J. 2009. REDD in the red: palm oil could undermine carbon
payment schemes Conservation Letters xx (2009) 17: Wiley Periodicals, Inc.
Brickell, E. 2009. WWF position on forests and climate change mitigation. WWF Global Climate Policy
position paper, July 2009.
Chandran, M.R. 2009. Overview of the palm oil industry in Malaysia and outlooks . Presentation at
the China International Oil and Oilseeds Summit 2009, 8-10 July 2009, Beijing
Chandran, M.R 2010a. Platinum Energy Sdn Bhd. Personal communication.
Chandran, M.R. 2010b. The Palm Oil Industry: Contributing Towards Sustainable Global Business.
Presentation at 2010 NIOP Annual Convention, California, USA, March 2010.
Clay, J.W. 2004. World agriculture and the environment: a commodity-by-commodity guide to impacts
and practices. World Wildlife Fund, USA. 45

46

Colchester, M. 2009. Minutes of the RSPO Task Force for Smallholders meeting, 1 November, 2009,
Kuala Lumpur
Colchester, M., Wee, A.P., Wong, M.C., and Jalong, T. 2000. Land is Life: Land rights and oil palm
development in Sarawak. Forest Peoples Programme & SawitWatch,
Colchester, M., Jiwan, N., Andiko, Sirait, M., Firdaus, A.Y., Surambo, A. And Pane, H. 2006. Promised
Land: Palm oil and land acquisition in Indonesian Implications for local communities and indigenous
peoples. Forest Peoples Programme & SawitWatch.
Corley, R.H.V. 2009. Where do all the fertilizers go? The Planter 85 (006) 133-147,
Dallinger, K, 2010. Bureau of Agricultural Research, Thailand. Personal communication.
Daud Amatzin. 2008. Fair or decent wages for employees in the plantation sector. The Planter 84
(992) 719-720, Guest editorial.
Economist. 2009. Buying farmland abroad Outsourcings third wave.
nd
http://www.economist.com/PrinterFriendly.cfm?story_id=13692889 (Accessed 22 June 2009)
Iko Hari, Y., Susanto, P, SAleh, C., Andayani, N., Prasetyo, D. And Atmoko, S.S.U. 2006. Guidelines
for better management practices on avoidance, mitigation and management of human-orangutan
conflict in and around oil palm plantations. WWF Indonesia.
Dros, J.M. 2009. Palm Oil Producer Support Initiative (POPSI) to improve palm oil smallholders and
workers livelihoods. Presentation at the RSPO Task Force for Smallholders meeting, 1 November,
2009, Kuala Lumpur.
FAO. 2010. Global forests resources assessment 2010: Key findings. www.fao.org/forestry/gfra2010
www.fao.org/forestry/fra2010
Focus on Finance News.2001 Dutch banks commit to forest conservation. <http://www.Forests.org
> (accessed 8 November 2001)
Fricke, T. 2009. Background study: Replicable and sustainable use of palm oil waste by-products for
employment creation, resource conservation and biofuel production in Aceh. USAID Environmental
Services Program.
Friends of the Earth .2008. REDD myths a critical review of proposed mechanisms to reduce
emissions from deforestation and degradation in developing countries. FoE International Issue 114,
December 2008.
Fry, J. 2009. Commodity Sector. Presentation at the World Bank FPD Forum, February, 2009.
http://rru.worldbank.org/FPDForum/Presentations/2009/8_James_Fry.pdf
GlobeScan.2006. Survey of sustainability experts: Highlights 2006-2.
Greenpeace.2007. How the palm oil industry is cooking the climate. Greenpeace International, The
Netherlands.
Greenpeace. 2008. United Plantations certified despite gross violations of RSPO standards.
Greenpeace Nederland.
Greenpeace. 2009. Forest destruction, climate change and palm oil expansion in Indonesia.
Greenpeace International.
Guardian. 2009. 'Sustainable' palm oil campaign banned by ASA.
http://www.guardian.co.uk/media/2009/sep/09/asa-palm-oil-advert-banned/print (Accessed 18 March
2010).
Hanim Adnan.2009. Threat to market access looms. StarBiz 12 November 2009, pg B4. 46

47

Hanim Adnan.2010. Felda tapping biomass waste to the max. StarBiz 22 February 2010.
Henson, I.1990. Estimating potential productivity of oil palm. Proc.1990 ISOPB International
Workshop on Yield Potential of Oil Palm. PORIM pp98-102
Hickman, M. The guilty secrets of palm oil: Are you unwittingly contributing to the devastation of the
rain forests? http://www.independent.co.uk/environment/the-guilty-secrets-of-palm-oil-are-youunwittingly-contributing-to-the-devastation-of-the-rain-forests-1676218.html (Accessed 19th March
2010)
Hooijer, A., Silvius, M., Wosten, H. And Page, S.2006. Peat-CO2: Assessment of CO2 emissions from
drained peatlands in SE Asia. Delft Hydraulics report Q3943.
Hornby, C. 2010.Nestle drops palm oil supplier after report.
http://www.reuters.com/article/idUSTRE62G3PM20100317 (Accessed 16 April 2010)
Industry Week. 2008. Unilever backs moratorium on palm oil deforestation in Indonesia.
http://www.industryweek.com/articles/unilever_backs_moratorium_on_palm_oil_deforestation_in_ind
onesia_16245.aspx (Accessed 16 April 2010)
IOI Corporation Berhad.2008. Giving Back: Annual Report 2008. IOI Corporation.
Janurianto, A. 2010. Indonesian palm oil industry: Impact on world oils supply and demand. Paper
presented at Palm Oil and Lauric Oils Conference POC2010, Kuala Lumpur.
Jiwan, N.2009. Political economy of the Indonesian palm oil industry: A critical analysis. Presentation
at ISEAS Workshop on the Oil Palm Controversy in Transnational Perspective. Singapore: Institute of
Southeast Asian Studies, March 2009.
Koh, L.P. And Wilcove, D.S. 2008. Is oil palm agriculture really destroying tropical biodiversity?.
Conservation Letters 1 (2008) 6064 :Blackwell Publishing, Inc.
Koh, L.P., Ghazoul, J., Butker, R.A., Laurance, W.F., Sodhi, N.S., Mateo-Vega, J and Bradshaw, C.J.A.
2010. Wash and spin cycle threats to tropical biodiversity. BIOTROPICA 42(1): 67-71.
Koswanage, N. 2010. Unilever stops buying palm oil from Indonesian planter.
http://www.reuters.com/article/idUSTRE61N1LE20100224 (Accessed 16 April 2010)
Laurance, W.F., Koh, L.P., Butler, R., Sodhi, N.S., Bradshaw, C.J.A., Neidel, J.D., Consunji, H And
Vega, J.M. 2010. Improving the Performance of the Roundtable on Sustainable Palm Oil for Nature
Conservation Conservation Biology, 2010 Society for Conservation Biology
Lee, B.T. And Tunku Shamsul, B. 2006. Feldas fifty years: Land pioneers to investors. Felda, Kuala
Lumpur. ISBN 983-99544-4-X.
Malaysian Palm Oil Association. 2009. Annual Report 2008, MPOA, Kuala Lumpur.
Malaysian Palm Oil Council. 2008a. World Sustainable Palm Oil Conference. Global Oils & Fats
Business Magazine. Vol.5, Issue 4.
Malaysian Palm Oil Council. 2008b. Four steps to rationality for sustainable biofuels. Global Oils &
Fats Business Magazine. Vol.5, Issue 3.
Malaysian Palm Oil Council. 2009a. Palm Oil - The Green Answer.
<http://www.mpoc.org.my/Palm_Oil_-_The_Green_Answer.aspx > (Accessed 10 August 2009)
Malaysian Palm Oil Council. 2009b. Corporate Profile.
<http://www.mpoc.org.my/Corporate_Profile.aspx > (Accessed 10.August 2009)
Marti, Serge. 2008. Losing Ground: The human rights impacts of oil palm expansions in Indonesia.
Friends of the Earth, LifeMosaic & SawitWatch.
May, B. And Juniper, T. 2009. NGO campaigns Better the devil you know.
http://www.ethicalcorp.com/content.asp?ContentID=6309 47

48

McCarthy, J.F. And R.A. Cramb, 2008. Policy Narratives, Landholder Engagement, and Oil Palm
Expansion on the Malaysian and Indonesian Frontiers. Revised paper presented at Annual Meeting of
the Association of American Geographers, San Francisco, 17-21 April 2007.
Mohd Basri, W 2009. Cost of palm oil production. Presentation at the International Planters
Conference 2009, Kuala Lumpur. Incorporated Society of Planters.
Mongabay. 2010a . Certified sustainable palm oil sales reach record level.
http://news.mongabay.com/2010/0409-rspo.html (Accessed 16 April 2010)
Mongabay. 2010b. Greenpeace opposes forest conservation initiative in Indonesia.
http://news.mongabay.com/2009/0402-greenpeace.html (Accessed 7 April, 2010)
th
Najam, A. 2009. RSPO Sustainability Lecture. Presentation at the 7 Roundtable Meeting on
Sustainable Palm Oil, Kuala Lumpur, November 2009.
Nature Alert. 2010. The orangutan and palm oil issues. Press Release, 16 January, 2010.
th
NBPOL. 2007. New Britain Palm Oil Ltd: A photographic tour celebrating our 40 Anniversary.NBPOL,
2007.
Nellemann, Christian; Miles, Lera; Kaltenborn, Bjrn P.; Virtue, Melanie; Ahlenius, Hugo (2007): The
Last Stand of the Orangutan. State of Emergency: Illegal Logging, Fire and Palm Oil in Indonesias
National Parks. http://www.unep-wcmc.org/resources/PDFs/LastStand/full_orangutanreport.pdf
(accessed 4 November 2007).
New Straits Times. 2009. http://www.feldaholdings.com/content.php?h=2447 (Accessed 4 April,
2010) Najib: It's time for Felda to go global.
Oh, E. Getting the genome to work. The Star,16 May 2009, pg SBW24.
Orwell, I. 2009.. Smallholder Definitions - PNG National Interpretation Working Group.Presentation
at the RSPO Task Force for Smallholders meeting, 1 November, 2009, Kuala Lumpur.
Paramanathan, S. 2008. Tussle over peatlands. Global Oils & Fats Business Magazine. Vol.5, Issue 3,
Pullout.
PAN AP. 2009. Call for immediate ban of paraquat and Class 1 pesticides and progressive ban of highly
hazardous pesticides in oil palm plantations. Press statement: Pesticides Action Network Asia Pacific,
November 2009.
Pehnelt,G and Vietz,C. European policies towards oil palm: Sorting out some facts. GlobEcon Research
Paper No 01-2010.
Pushparajah, E. 2010. Environmental concerns or trade barriers? The Planter 86 (1007) 77-78,
Guest editorial.
Pye, O. 2009.An analysis of transnational environmental campaigning around palm oil. Presentation
at ISEAS Workshop on the Oil Palm Controversy in Transnational Perspective. Singapore: Institute of
Southeast Asian Studies, March 2009.
Rautner, M., Hardiono, M and Alfred, RJ. Borneo: Treasure island at risk Status of forest, wildlife and
related threats on the island of Borneo. WWF Germany, 2005
Rosediana Suharto. 2009. Sustainable production in Indonesia. Presentation at the China
International Oil and Oilseeds Summit 2009, 8-10 July 2009, Beijing.
Rowell, A. And Moore, P.F.2000. Global review of forest fires. WWF International & The World
Conservation Union (IUCN) 48

49

Roundtable on Sustainable Palm Oil.2005. RSPO Principles and Criteria for Sustainable Palm Oil
Production . Public release version, 17 October, 2005. RSPO, Kuala Lumpur
Roundtable on Sustainable Palm Oil.2007. RSPO Certification Systems. RSPO, Kuala Lumpur
Roundtable on Sustainable Palm Oil. 2008. Directory of Members and Profiles and Members Progress
Report 2008. RSPO, Kuala Lumpur.
th
Rutherford, M. 2009. Integrated weed management strategies for oil palm. Presentation at the 7
Roundtable Meeting on Sustainable Palm Oil, Kuala Lumpur, November 2009
Scholz,L and Schmidt, L. 2008. Reducing emissions from deforestation and forest degradation in
developing countries: Meeting the main challenges ahead. Deutsches Institut fur Entwicklungspolitik.
Sheil, D., Casson, A., Meijaard, E., van Nordwijk, M. Gaskell, J., Sunderland-Groves, J.,
Wertz, K. And Kanninen, M. 2009. The impacts and opportunities of oil palm in Southeast Asia:What
do we know and what do we need to know? Occasional paper no. 51. CIFOR, Bogor, Indonesia.
Stern,N. 2006. Stern Review: The Economics of Climate Change. Cambridge, UK. Cambridge
University Press.
Sumatra Bioscience. 2008. IIndonesian company makes scientific breakthrough in oil palms. Press
Release, 7 October, 2008, Singapore.
st
SustainAbility. 2003. The 21 century NGO: In the market for change. SustainAbility, The Global
Compact and UNEP.
Syed Mahdar S.H. And Intan Shafinaz, M.S. Impact of RSPO on plantations and development of a
gender-based policy Sime Darby Plantations Experience. The Planter 83 (976) (2007):461-472
Tan, C.2010. WWF International, Singapore . Personal communication.
Taylor, R., Rietbergen-McCracken and van Gelder. J.W. 2008. The palm oil financing handbook:
Practical guidance on responsible financing and investing in the palm oil sector. WWF International.
Telegraph UK. 2009. Palm oil round table 'a farce'.
<http://www.telegraph.co.uk/earth/environment/forests/3534204/Palm-oil-round-table-a-farce.html
>(accessed 22 June 2009)
Teoh, C.H. And Tan, T.S. 2007. A management system for sustainable palm oil production. The
Planter 83 (976) :461-472
TFT. 2010. TFT is working towards responsible palm oil. http://www.tft-forests.org/newsdetail.php?newsid=276 (Accessed March 2, 2010)
The Economist. Buying farmland abroad: Outsourcings third wave.
<http://www.economist.com/.cfm?story_id=13692889 > (accessed 22 June 2009)
The Borneo Post. 2007. Court rules NCR exists over ex-Shell concession area in Miri. 9 October
2007.
The Sun. 2010. Sime Darby takes lead in using biofuel. The Sun 25 March 2010 pg 24.
Tinker, P.B.2000. The future research requirements for the oil palm plantation. In Plantation Tree
Crops in the New Millennium The Way Forward. Edited by E. Pushparajah. The Incorporated Society
of Planters, Kuala Lumpur.
Unilever. 2009a. Unilever takes a stance against deforestation. Press Release, 11 December 2009.
Unilever. 2009b. How to establish a moratorium on deforestation for palm oil in Indonesia? Briefing
Paper, Unilever. 49

50

Uryu, Y. And 15 co-authors. 2008. Deforestation, forest degradation, biodiversity loss and CO2
emissions in Riau, Sumatra, Indonesia. WWF Indonesia Technical Report.
Verburg, J. 2009. Expanding the role of the Task fore on smallholders. Presentation at the RSPO
Task Force for Smallholders meeting, 1 November, 2009, Kuala Lumpur.
Virki, T..2007. Neste to build $814 min Singapore biofuel plant.
www.corpwatch.org/article.php?id=14833 accessed on 13 August, 2009.
Vermeulen, S. And Goad, N. 2006. Towards better practice in smallholder palm oil production. Natural
Resource Issues Series No. 5. International Institute for
Environment and Development. London, UK.
Wakker, E.2006. The Kalimantan Border Oil Palm Mega-project. Report commissioned by
Miliedefensie Friends of the Earth Netherlands and Swedish Society for Nature Conservancy (SSNC),
2006
Wakker, E.2000. Funding Forest Destruction: The involvement of Dutch banks in the financing of oil
palm plantations in Indonesia. Report commissioned by Greenpeace Netherlands., 132 pp
Wheeler, D. And Sillanpaa.1997. The Stakeholder Corporation- A Blueprint for maximising stakeholder
value. Pitman Publishing, London.
Wolvenkamp, P. 2009. The Dispute Settlement Facility. Presentation at the RSPO pre-RT7 workshop,
Rights to land: The Madeli precedent, Kuala Lumpur, November, 2009
World Bank. 2009. President Zoellick s response to Forest Peoples Programme. 28 August, 2009.
World Growth. 2009. Palm oil The sustainable oil. A report by World Growth.
World Wire. 2010. Borneo Natives Win Class Action Suit Against Malaysian Oil Palm Giant. 1 April,
2010
Wong, J. 2010. Sarawak a hotspot for palm planters. StarBiz 8 March 2010, page B1.
Woulfe, C, and Waterford, K. 209. Zoo bans Cadbury products.. Sunday Star Times 17.07.09. (Cited
in http://www.orangutans.com.au/Orangutans-Survival-Information/Zoo-bars-Cadbury-products.aspx
(Accessed April 18, 2009)
WWF. Forest Conversion Initiative.
<http://www.panda.org/who_we_are/wwf_offices/paraguay/index.cfm?uProjectID=9Z1372>
(Accessed 4 August 2009)
WWF International.2009. WWF palm oil buyers scorecard 2009. WWF International/Forest Conversion
Programme, 7 pp.
WWF Interanational.1997. The year the world caught fire - Discussion Paper. WWF International.
WWF Malaysia. 2007. A third of Borneo to be conserved under new rainforest declaration. Press
Release 12 February, 2007. Kuala Lumpur.
Zakiah Koya. 2010. Financial liberation not the answer. The Sun, 21 December, 2009, pg 3.
Zen, Z., J.F. McCarthy and P Gillespie, 2008. Linking pro-poor policy and oil palm cultivation. Policy
Brief 5 (2008). Australia Indonesia Governance Research Part

51

Mr. Cheng Hai Teoh has over 40 years of distinguished


experience in the global palm oil sector. He was the first
Secretary-General of the Roundtable on Sustainable Palm Oil,
which is the most important non-governmental coordinating
body for the sector. He has extensive private sector experience
in senior management in one of the worlds largest plantation
company. He also has considerable experience working with
NGOs towards achieving sustainability in the sector. He was the
Hon. Advisor on Plantation Agriculture to WWF Malaysia from
2000 to 2004. In addition to the Discussion Paper, Mr. Teoh has
authored over 60 publications relevant to the sector.

2121 Pennsylvania Ave., NW, MSN 8P 807


Washington DC, 20433, USA
Tel. + 1 202 458 0430
Fax: + 1 202 974 4338
palmoilstrategy@ifc.org

www.ifc.org/palmoilstrategy

THE WORLD BANK