Anda di halaman 1dari 14

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

KESESUAIAN LAHAN UNTUK KELAPA SAWIT


DI INDONESIA
ANNY MULYANI1, FAHMUDDIN AGUS1 dan A. ABDURACHMAN2
1

Balai Penelitian Tanah


Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Jl. Ir. H. Juanda No. 98 Bogor 16123

ABSTRAK
ANNY MULYANI, FAHMUDDIN AGUS dan A. ABDURACHMAN. 2003. Kesesuaian Lahan untuk Kelapa
Sawit di Indonesia. Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas penghasil devisa negara dari sektor pertanian,
dalam 2 dekade terakhir ini menunjukkan perkembangan yang cukup pesat dibandingkan komoditas pertanian
lainnya. Areal kelapa sawit meningkat dari 0,6 juta ha pada tahun 1986 menjadi 4,1 juta ha pada tahun 2002.
Perkembangan luas tanam yang signifikan selama 2 dekade tersebut terutama terjadi di Pulau Sumatera dan
Kalimantan, meskipun Propinsi Sulsel, Sulteng, Sultra dan Papua juga cocok untuk pengembangan kelapa
sawit. Luas total lahan yang sesuai dan tersedia untuk kelapa sawit menurut keadaan penggunaan lahan tahun
1989 di 9 propinsi (Riau, Sumut, Bengkulu, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Sulteng, Sulsel, dan Papua) adalah seluas
44,7 juta ha. Hanya saja, saat ini lahan-lahan yang sesuai tersebut sebagian besar telah digunakan untuk
penggunaan komoditas pertanian lain dan untuk penggunaan non pertanian. Penentuan luas dan penyebaran
lahan yang tersedia bagi pengembangan kelapa sawit di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan
menumpang tepatkan (overlay) antara peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan terbaru dan peta
status lahan saat ini.Untuk jangka pendek, pengembangan kelapa sawit dapat diarahkan pada lahan-lahan
terlantar yang saat ini berupa alang-alang/semak belukar yang cukup luas penyebarannya di Indonesia, yaitu
sekitar 9,7 juta ha. Dari 7,5 juta ha lahan alang-alang yang terdapat di 13 propinsi (Sumbar, Riau, Jambi,
Sumsel, Bengkulu, Lampung, Jabar, Kaltim, Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sultra, dan NTT), sebagian sudah
diidentifikasi luas dan potensinya pada skala 1:50.000 pada tahun 1999/2000, seluas 1,08 juta ha sesuai dan
tersedia untuk pengembangan pertanian termasuk kelapa sawit.
Kata kunci: Kelapa sawit, peta kesesuaian lahan
ABSTRACT
ANNY MULYANI, FAHMUDDIN AGUS and A. ABDURACHMAN. 2003. Land Suitability for Oil Palm in
Indonesia. Oil palm as one of the main agricultural commodity contributing to foreign exchange has developed
rapidly in the last two decades relative to other agricultural commodities. Its area has increased from 0.6
million ha in 1986 to 4.1 million ha in 2002. The significant increase in the last two decades mainly occurred in
Sumatra and Kalimantan, although part of South Sulawesi, Central Sulawesi, South-East Sulawesi, and Papua
are also suitable for oil palm. The total area suitable and available for oil palm in 9 provinces (Riau, North
Sumatera, Bengkulu, East Kalimantan, West Kalimantan, Central Kalimantan, South Sulawesi, South-east
Sulawesi, and Papua ), based on land use map in 1989 is 44.7 million ha. Currently, part of the suitable lands
have been used for other agricultural commodities as well as non agricultural uses. To obtain the area and
distribution of available and suitable land, there is a need to overlay the most recent land use and land status
maps with land suitability map. For the short run, development of oil palm area could be prioritized on about
9.7 million ha. From about 7.5 million ha grass land in 13 provinces (West Sumatera, Riau, Jambi, Bengkulu,
South Sumatera, Lampung, West Java, East Kalimantan, South Kalimantan, West Kalimantan, Central
Kalimantan, South-east Sulawesi, and NTT), a part of this area was identified at 1:50.000 scale in year
1999/2000, and about 1.08 million ha is suitable and available for oil palm as well as other agricultural
commodities.
Key words: Oil palm, land suitablity map

89

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

PENDAHULUAN
Peningkatan perolehan devisa dari sektor pertanian khususnya sub sektor perkebunan
diharapkan dapat merupakan salah satu alternatif pemecahan permasalahan lesunya perekonomian
nasional yang sedang melanda dewasa ini. Namun untuk memacu perolehan devisa dalam kondisi
ini akan menghadapi keadaan yang lebih sulit. Globalisasi perdagangan yang merupakan
implementasi dari kesepakatan perdagangan (GATT/WTO, AFTA, NAFTA) mengharuskan usaha
pertanian mampu menghadapi persaingan yang semakin berat.
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis sebagai penghasil devisa negara utama
dari sektor non migas. Beberapa komoditas perkebunan yang menunjukkan peningkatan ekspor
yang cukup tajam adalah kakao dan mente, sedangkan komoditas yang dinilai masih memberikan
sumbangan yang cukup tinggi bagi devisa di antaranya adalah karet, kopi, kakao, dan minyak sawit
(SURYANA et al., 1998). Prospek kelapa sawit cukup menjanjikan seperti dilaporkan Oil Word
(Lembaga penyedia jasa informasi dan perkiraan produksi minyak nabati), yang memproyeksikan
produksi minyak sawit Indonesia akan menyalip Malaysia pada tahun 2010 (KOMPAS, 21 Mei
2003). Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan, perkembangannya cukup pesat
dibandingkan dengan komoditas perkebunan lainnya terutama terjadi di Sumatera dan Kalimantan.
Untuk seluruh Indonesia, pada tahun 1986 luas pertanaman kelapa sawit hanya sekitar 593.800 ha,
sedangkan pada tahun 2002 menjadi 4.116.000 ha (DITJEN PERKEBUNAN, 2002).
Pada tahun 1991/1992 Puslitbangtanak telah melakukan evaluasi kesesuaian lahan untuk
kelapa sawit di 9 propinsi yaitu Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua, pada skala tinjau yaitu
skala 1:250.000. Sedangkan pada tahun 2002, Puslitbangtanak telah menyusun Atlas Pewilayahan
Komoditas Pertanian Indonesia pada skala eksplorasi (skala 1:1.000.000) yang memberikan
gambaran umum tentang arahan pengembangan berbagai komoditas pertanian unggulan di masingmasing propinsi di Indonesia (PUSLITBANGTANAK, 2000).
Makalah ini menyajikan informasi tentang kondisi tanah dan iklim, luas dan penyebaran lahan
yang sesuai, peluang dan permasalahannya dalam pengembangan komoditas kelapa sawit di masa
yang akan datang.
KONDISI IKLIM DAN TANAH UNTUK KELAPA SAWIT
Untuk dapat mencapai pertumbuhan yang optimum, kelapa sawit memerlukan persyaratan
tumbuh tanaman, diantaranya adalah lahan berada pada dataran rendah dengan ketinggian tempat
<700 m dpl., temperatur berkisar antara 2035C, dengan temperatur optimum 2528C. Curah
hujan berkisar dari 1.2504.000 mm/tahun, tetapi yang optimum sekitar 1.7002.500 mm/tahun,
dengan distribusi merata sepanjang tahun dan bulan kering kurang dari 2 bulan. Menurut tipe
hujannya (SCHMIDT and FERGUSON, 1951), lahan kering dataran rendah berada pada berbagai tipe
hujan, yaitu A, B, C, D, E dan F. PUSLITBANGTANAK (2001) dalam menyusun Atlas Arahan
Tataruang Pertanian Indonesia skala 1:1.000.000, menggolongkan tipe hujan A, B dan C sebagai
wilayah beriklim basah, sedangkan tipe hujan D, E dan F digolongkan sebagai wilayah beriklim
kering. Berdasarkan rejim kelembaban tanahnya, wilayah beriklim basah termasuk udik atau
perudik, sedangkan wilayah beriklim kering termasuk ustik atau peralihan ustik-aridik (SOIL
SURVEY STAFF, 1999). Iklim basah umumnya mempunyai curah hujan tinggi (>1.500 mm/tahun)

90

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

dengan masa hujan relatif panjang, sedangkan iklim kering mempunyai curah hujan relatif rendah
(<1.500 mm/tahun) dengan masa curah yang pendek 3-5 bulan (IRIANTO et al., 1998).
Luas lahan kering yang mempunyai ketinggian tempat < 700 m dpl. seluas 87.293.000 ha yang
terdapat pada landform tektonik, volkan, dan karst, dan terbentuk dari batuan sedimen, batuan
volkan, dan batu gamping (HIDAYAT et al., 2000). Dari luasan tersebut, lahan kering yang
mempunyai iklim basah dan iklim kering berturut-turut seluas 78.144.900 ha dan seluas 9.220.600
ha (HIDAYAT dan MULYANI, 2002). Luasan lahan kering berdasarkan regim kelembaban tanah per
propinsi disajikan pada Tabel 1.
Persyaratan tanah untuk pertumbuhan kelapa sawit secara optimal sangat ditentukan oleh
kedalaman efektif tanah (solum tanah > 75 cm) dan berdrainase baik. Kelapa sawit dapat tumbuh
pada lahan dengan tingkat kesuburan tanah yang bervariasi mulai dari lahan yang subur sampai
lahan-lahan marginal. Hal ini dicirikan bahwa kelapa sawit dapat tumbuh pada lahan dengan pH
masam sampai netral (>4,2-7,0) dan yang optimum pada pH 5,0-6,5. Kapasitas tukar kation,
kejenuhan basa, lereng dan bentuk wilayah berombak dan bergelombang tidak menjadi pembatas
utama. Media perakaran yang optimal adalah lahan yang mempunyai tekstur halus (liat berpasir, liat,
liat berdebu), agak halus (lempung berliat, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu), dan sedang
(lempung berpasir sangat halus, lempung, lempung berdebu, debu), serta mempunyai kandungan
bahan kasar tidak lebih dari 55% (DJAENUDIN et al., 2000).
Kelapa sawit dapat tumbuh baik pada berbagai ordo tanah seperti Ultisols, Oxisols, Inceptisols,
Alfisols, Mollisols bahkan pada tanah gambut (Histosols), asalkan persyaratan tumbuh lainnya
seperti tersebut di atas terpenuhi. Kriteria kesesuaian lahan untuk kelapa sawit selengkapnya
disajikan pada Lampiran 1.
Evaluasi dan kesesuaian lahan
Puslitbangtanak pada tahun anggaran 1991/1992 telah melaksanakan kegiatan evaluasi
kesesuaian lahan untuk pengembangan berbagai komoditas pertanian baik tanaman pangan,
hortikultura buah dan tanaman perkebunan. Untuk komoditas kelapa sawit telah dievaluasi di 9
propinsi yaitu Riau, Sumut, Bengkulu, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Sulteng, Sulsel, dan Papua
(ABDURACHMAN et al., 1998). Penilaian dilakukan pada areal yang memungkinkan untuk
dikembangkan baik secara monokultur maupun tumpang sari, ditinjau dari ketersediaan lahan, status
lahan dan penggunaan lahan saat ini (present land use). Oleh karena itu, sebelum dilakukan
penilaian maka lahan-lahan yang tidak memungkinkan dapat digunakan untuk pengembangan
pertanian berdasarkan status lahan seperti hutan suaka alam/lindung dan kawasan khusus,
dikeluarkan dan tidak dievaluasi, sedangkan lahan-lahan yang saat ini digunakan untuk penggunaan
lain masih tetap dinilai/dievaluasi.
Kelas kesesuaian lahan disusun dengan memperbandingkan (matching) antara karakteristik
lahan/iklim pada masing-masing satuan peta dengan kriteria kesesuaian lahan (persyaratan tumbuh
tanaman). Kelas kesesuaian lahan tersebut dibedakan menjadi tiga yaitu sesuai atau suitable (S),
sesuai bersyarat atau conditionally suitable (CS), dan lahan yang tidak sesuai atau not suitable (N).
Hasil penilaian kesesuaian lahan untuk kelapa sawit dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu wilayah
intensifikasi, ekstensifikasai dan diversifikasi.
Wilayah intensifikasi (I), yaitu lahan yang sesuai dan saat ini telah digunakan untuk kelapa
sawit, yang masalah utamanya adalah tingkat produktivitas rendah, sehingga untuk meningkatkan
kemampuan produksinya perlu diberikan masukan (pemupukan dan pengelolaan lainnya).
91

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

Tabel 1. Penyebaran lahan kering dataran rendah menurut rejim kelembaban tanah
Propinsi
Aceh
Sumut
Sumbar
Riau
Jambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI Jakarta
Jabar
Jateng
DI Yogyakarta
Jatim
Bali
NTB
NTT
Kalbar
Kalteng
Kalsel
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Sultra
Maluku
Irja
Jumlah

Lahan kering dataran rendah (ha)


Rejim kelembaban ustik**)
Rejim kelembaban udik*)
2.121.900
4.126.300
1.408.900
4.196.400
2.588.200
5.660.600
797.100
2.225.500
43.900
2.705.100
1.115.200
760.000
43.400
259.900
568.700
2.348.800
125.800
105.200
133.200
604.400
130.400
2.164.400
8.001.800
9.458.600
1.873.300
10.451.800
425.500
553.500
1.863.500
205.700
1.333.900
776.800
1.107.200
679.800
3.305.300
762.100
12.333.400
78.144.900
9.220.600

Sumber: HIDAYAT dan MULYANI (2002)


*)
Setara dengan kondisi iklim basah
**)
Setara dengan kondisi iklim kering

Wilayah ekstensifikasi (E), yaitu lahan yang sesuai dan saat ini lahan tersebut belum
dimanfaatkan (alang-alang, semak belukar, hutan konversi) sehingga dapat dicadangkan untuk
pembukaan lahan baru.
Wilayah Pengembangan Alternatif/Diversifikasi (D), yaitu lahan yang sesuai tetapi lahan
tersebut telah digunakan untuk pengembangan komoditas lain. Hal ini dapat memberikan informasi
bagi kemungkinan pengembangan komoditas tertentu sebagai alternatif, apabila kesesuaian lahan
untuk tanaman alternatif tersebut jauh lebih baik.
Dalam menentukan arahan pengembangan selain berdasarkan pada tingkat kesesuaian lahan,
maka status penggunaan lahan saat ini juga dipertimbangkan. Apabila wilayah yang dievaluasi
92

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

mempunyai penggunaan lahan sama dengan komoditas tanaman yang dinilai kesesuaiannya,
misalnya evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit pada lahan yang berupa areal
perkebunan kelapa sawit, maka arahan pengembangan ditujukan untuk 'intensifikasi'. Apabila lahan
yang dievaluasi merupakan areal perkebunan salain kelapa sawit, misalnya wilayah areal pertanian
lahan kering tanaman pangan (tegalan/ladang), maka arahan pengembangan ditujukan untuk
'diversifikasi' atau pengembangan alternatif. Apabila lahan yang dievaluasi masih berupa semak
belukar, lahan tidur atau penggunaan lain yang belum dimanfaatkan secara baik atau areal hutan
yang dapat dikonversi, maka arahan pengembangan ditujukan untuk 'ekstensifikasi' atau perluasan
areal tanam baru. Lahan-lahan yang telah digunakan untuk kawasan pemukiman, perindustrian,
hutan lindung, hutan yang tidak dapat dikonversi, cagar alam, pariwisata dan lain-lain tidak
dievaluasi dan tidak diarahkan sebagai areal pengembangan suatu komoditas.
Hasil penilaian kesesuaian lahan dan arahan pengembangan masing-masing komoditas
disajikan dalam bentuk peta skala 1:250.000. Dalam legenda peta disajikan luasan areal
pengembangan Intensifikasi, Ekstensifikasi, dan Diversifikasi. Selain itu disajikan pula data luasan
menurut penggunaan lain termasuk kawasan hutan menurut TGHK yang tidak dapat dialih
fungsikan (konversi). Salah satu contoh legenda disajikan pada Lampiran 2.
Penilaian tingkat kesesuaian lahan dilakukan berdasarkan data dari satuan peta tanah atau
satuan lahan. Setiap satuan peta atau satuan lahan yang dinilai, pada umumnya terdiri atas satu atau
lebih satuan tanah yang sifat-sifatnya berbeda, sehingga hasil penilaian kesesuaian lahannya pun
akan berbeda. Oleh karena itu, proporsi kesesuaian lahan pada setiap satuan peta digunakan sebagai
pertimbangan untuk menentukan potensi lahan dari setiap satuan peta. Dalam satuan peta, lahan
digolongkan menjadi tiga yaitu berpotensi tinggi, sedang, dan rendah tergantung dari proporsi
tingkat kesesuaiannya. Data selengkapnya hasil penilaian kesesuaian lahan disajikan pada Lampiran
3.
Luas lahan yang sesuai di masing-masing propinsi baik untuk areal intensifikasi, ekstensifikasi
maupun diversifikasi terlihat pada Tabel 2. Areal intensifikasi seluas 762.400 ha menunjukkan
bahwa lahan tersebut saat itu (tahun 1990) digunakan untuk kelapa sawit. Sedangkan lahan yang
sesuai untuk pengembangan kelapa sawit seluas 39 juta ha, pada saat itu lahan berupa alangalang/semak-belukar atau wilayah hutan konversi. Luas lahan sebagai lahan alternatif seluas 4,9 juta
ha, yang saat itu telah dimanfaatkan untuk penggunaan komoditas lain. Hanya saja, data-data
tersebut diperoleh pada tahun 1991/1992 dari hasil tumpang tepat (overlay) antara peta kesesuaian
lahan dengan peta penggunaan lahan saat itu, dimana peta penggunaan lahan yang dipakai adalah
terbitan tahun 1989 (BPN), sehingga luas areal yang sudah digunakan untuk berbagai pertanian
sudah kurang akurat lagi dengan keadaan saat ini.
Kemungkinan lain adalah lahan yang berpotensi tersebut saat ini telah digunakan juga oleh
komoditas lain di luar tanaman kelapa sawit seperti karet, kopi, lada, kakao, atau penggunaan lain di
luar pertanian. Sebagai gambaran, pada tahun 1989 luas lahan perkebunan kelapa sawit sekitar
793.500 ha dan pada tahun 2002 meningkat tajam menjadi 4.116.600 ha (DIRJEN PERKEBUNAN,
2002). Begitu juga untuk komoditas perkebunan lain seperti karet, kelapa, kopi, lada, dll, yang
makin meningkat luasannya.
Jika hanya berdasarkan hasil penilaian kesesuaian lahan untuk kelapa sawit, maka luas lahan
yang sesuai di 9 propinsi tersebut seluas 44,7 juta ha (Tabel 2), masing-masing sesuai intensifikasi
0,7 juta ha, ekstensifikasi 39 juta ha, dan diversifikasi 4,9 juta ha. Sedangkan pada sampai tahun
2002, luas lahan perkebunan di 9 propinsi tersebut baru 2,6 juta ha, sehingga masih sangat luas
lahan-lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit. Hanya saja berapa luas lahan yang
93

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

tersedia untuk pengembangan kelapa sawit saat ini sulit diperoleh, karena terbatasnya data/peta
penggunaan lahan dan peta status lahan yang akurat dan berbentuk data spasial (peta).
Selain 9 propinsi yang tercantum dalam Tabel 2 yang telah dinilai kesesuaian lahannya pada
skala 1:250.000, berdasarkan Atlas Arahan Pewilayahan Komoditas Pertanian Unggulan nasional
pada skala 1:1.000.000 (PUSLITBANGTANAK, 2002), ternyata masih terdapat beberapa propinsi lain
yang cocok untuk pengembangan sawit yaitu propinsi Aceh, Sumut, Jambi, Lampung, Bangka
Belitung, Kalsel, dan Sultra. Berdasarkan atlas tersebut, lahan sesuai untuk pengembangan kelapa
sawit di 7 propinsi tersebut seluas 6.713.858 ha.
PELUANG PENGEMBANGAN KELAPA SAWIT
Peluang pengembangan
Berdasarkan kelas kesesuaian lahannya, ternyata sangat luas lahan yang sesuai untuk tanaman
kelapa sawit yaitu sekitar 51,4 juta ha yang menyebar di 16 propinsi di Indonesia (berdasarkan 2
sumber data yang telah disebutkan di atas), sehingga peluang pengembangan kelapa sawit masih
terbuka lebar di masa yang akan datang. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (PSE) telah
melakukan analisis penawaran dan permintaan serta peluang pasar komoditas perkebunan (termasuk
kelapa sawit). Hasil analisis tersebut adalah untuk memenuhi permintaan pasar pada tahun 2005,
proyeksi luas areal kelapa sawit sebesar 14,97 juta ha (SURYANA et al., 1998), sementara luas lahan
yang ada saat ini hanya seluas 4,1 juta (DITJEN PERKEBUNAN, 2002). Sehingga masih diperlukan
lahan-lahan yang berpotensi untuk memenuhi peluang pasar tersebut.
Tabel 2. Luas lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi tanaman kelapa sawit pada
tahun 1991
Intensifikasi
Sumut
Riau
Bengkulu
Kalbar
Kalteng
Kaltim
Sulteng
Sulsel
Papua
Jumlah

Ekstensifikasi

Diversifikasi

512.500
120.100
28.400
60.000
20.400
17.500
3.500
762.400

767.600
3.485.700
452.800
5.938.700
7.987.900
7.471.300
575.400
410.300
11.918.800
39.008.500

Jumlah
- ha 611.000
826.600
327.200
445.400
968.000
383.800
172.800
219.600
964.000
4.918.400

Luas Sawit
1.891.100
4.432.400
808.400
6.444.100
8.955.900
7.875.500
748.200
647.400
12.886.300
44.689.300

654.511
803.951
78.799
411.261
298.095
187.629
43.032
72.133
57.392
2.606.803

Sumber: PUSAT PENELITIAN TANAH dan AGROKLIMAT (1991 dan 1997), data diolah
1)
Data luas kelapa sawit tahun 2002 (DITJEN PERKEBUNAN, 2002)

Bahkan berdasarkan Harian Kompas (21 Mei 2003), proyeksi produksi minyak sawit Indonesia
pada tahun 2010 akan menjadi produsen terbesar dunia. Pada tahun 2003 hingga 2005 diperkirakan
akan terjadi peningkatan luas lahan produktif perkebunan kelapa sawit sebesar 3,5%/tahun atau
sekitar 117.000 ha/tahun. Oil word, salah satu lembaga penyedia jasa informasi dan perkiraan
94

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

produksi minyak nabati memproyeksikan produksi minyak sawit Indonesia akan menyalip Malaysia
pada tahun 2010 (Tabel 3). Kegiatan perluasan lahan diduga terjadi karena munculnya keyakinan
investor bahwa pada periode tersebut permintaan minyak sawit dunia mengalami peningkatan.
Peningkatan juga terjadi karena penggunaan bibit unggul yang memungkinkan produktivitas
minyak sawit meningkat.
Dengan begitu besarnya luas lahan yang sesuai untuk kelapa sawit, analisis proyeksi
permintaan/penawaran luas areal cukup tinggi, serta pesatnya perluasan perkebunan kelapa sawit
baik perkebunan rakyat maupun perkebunan swasta pada saat ini, telah mengindikasikan bahwa
peluang pengembangan kelapa sawit cukup bagus dan menjanjikan di masa yang akan datang.
Untuk dapat menghitung berapa lahan yang berpeluang untuk pengembangan/perluasan kelapa
sawit, diperlukan peta penggunaan lahan yang terbaru (data spasial) yang jelas menunjukkan
penyebaran perkebunan kelapa sawit. Hal ini belum tersedia di BPN sekalipun, yang ada adalah
lahan perkebunan secara umum. Apabila ingin menampilkan berapa peluang produksi kelapa sawit
ke depan, dapat saja kita berasumsi bahwa sekitar 20% dari lahan yang sesuai untuk ekstensifikasi
(Tabel 2) tersedia untuk perluasan kelapa sawit. Jadi sekurang-kurangnya ada sekitar 20% dari 39
juta ha yaitu sekitar 7,8 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk ekstensifikasi kelapa sawit. Bila
rata-rata produksi perkebunan rakyat 2,7 ton/ha, maka peluang peningkatan produksi kelapa sawit
dari 7,8 juta ha lahan adalah sebesar 21 juta ton.
Secara umum, luas lahan untuk pertanian yang ada saat ini yaitu seluas 64 juta ha, terluas untuk
perkebunan (16,7 juta ha) belum dapat memenuhi kebutuhan produk pertanian nasional (terutama
pangan) dan volume ekspor beberapa komoditas strategis penghasil devisa seperti kelapa sawit,
karet, kopi, lada, dll. Lahan-lahan yang potensial untuk pengembangan pertanian tidak akan
bertambah luasnya baik itu pada masa sekarang ataupun di masa yang akan datang, bahkan
sebaliknya akan berkurang terus dengan semakin tingginya jumlah penduduk dan kebutuhan produk
pertanian nasional. Persaingan pemanfaatan sumberdaya lahan yang potensial untuk pengembangan
pertanian akan semakin meningkat dari tahun ke tahun mendatang. Persaingan tersebut tidak hanya
akan terjadi antar sub sektor pertanian (tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan,
tanaman industri), maupun dengan sektor non pertanian (pengembangan pemukiman, industri,
infrastruktur, dll). Pengembangan sektor non pertanian inipun sulit dihindari terutama di kota-kota
yang sedang berkembang, seharusnya pengembangan kawasan diarahkan pada lahan-lahan yang
tidak potensial untuk pertanian.
Kesenjangan data kesesuaian dan ketersediaan lahan untuk kelapa sawit
Permasalahan dalam pengembangan kelapa sawit adalah permasalahan data luas dan
penyebaran lahan yang berpotensi dan tersedia untuk perluasan areal tanam. Lahan yang disajikan
pada Tabel 2 adalah lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit, tetapi berapa luas lahan
yang tersedia untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan dimana penyebarannya saat ini,
kita belum bisa menjawabnya terutama bila menghendaki dalam bentuk peta spasial (peta
ketersediaan lahan). Untuk mengetahui data luas dan penyebarannya perlu satu langkah lagi yang
didukung oleh data penggunaan lahan saat ini (present land use) dan status lahan (lahan negara,
masyarakat, atau tanah adat), dimana data tersebut umumnya sangat sulit diperoleh. Sehingga
informasi data/peta kesesuaian lahan yang telah disusun ini belum lengkap apabila tidak ada
dukungan data-data tersebut. Apabila data tersebut tersedia, kita dapat memperoleh luas lahan
tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit tersebut, yaitu

95

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

dengan cara menumpang tepatkan (overlay) antara peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan
lahan serta peta status lahan terbaru.
Tabel 3. Proyeksi produksi minyak sawit dunia (dalam ribuan ton)
Negara

1985

1990

1995

2000

2005

2010

2015

Malaysia

4.133

6.092

7.596

8.051

9.901

11.052

11.595

Indonesia

1.243

2.413

4.480

7.465

9.891

12.293

14.438

307

580

780

1.016

1.297

1.623

1.995

Nigeria
Lainnya

1.215

1.858

2.256

2.730

3.154

3.603

4.067

Total

6.898

10.943

15.112

19.262

24.243

28.571

32.095

Sumber: KOMPAS (21 Mei 2003)

Data/peta kesesuaian lahan pada skala 1:250.000 ini dapat digunakan untuk perencanaan
pengembangan pertanian secara kasar pada tingkat propinsi atau regional. Sedangkan untuk
operasional di lapangan pada luasan tertentu (untuk tingkat kecamatan/kabupaten) perlu ditindak
lanjuti dengan karakterisasi lahan yang lebih detil.
Upaya peningkatan produksi
Melihat peluang yang begitu besar untuk pengembangan kelapa sawit tersebut sebagai salah
satu komoditas penghasil devisa negara dari sektor non migas, maka perlu suatu upaya untuk dapat
meningkatkan produksi sawit, baik dengan intensifikasi maupun dengan ekstensifikasi.
Intensifikasi. Luas pertanaman kelapa sawit yang ada saat ini seluas 4,1 juta ha. Dari luas
pertanaman tersebut, 1,22 juta ha merupakan perkebunan rakyat, 0,55 juta ha perkebunan negara,
dan 2,35 juta ha perkebunan swasta. Dari luasan tersebut, tidak semua tanaman sudah dapat
menghasilkan, dan ternyata produksi rata-rata ketiga macam perkebunan tersebut bervariasi,
masing-masing 2,69 ton/ha untuk perkebunan rakyat, 4,59 ton/ha untuk perkebunan negara, dan
2,87 ton/ha untuk perkebunan swasta (DITJEN PERKEBUNAN, 2002). Dari data produksi yang lebih
rendah di perkebunan rakyat dan swasta, mengindikasikan bahwa sebetulnya potensi produksi
kelapa sawit dari perkebunan rakyat dan swasta tersebut masih dapat ditingkatkan dengan
pengelolaan lahan yang optimal.
Ekstensifikasi. Luas lahan yang sesuai untuk pengembangan kelapa sawit sangat luas, hanya
saja Puslitbangtanak belum bisa menyediakan data/peta lahan yang tersedia untuk perluasan kelapa
sawit. Sebagai gambaran, dari data BPS (2002) terdapat lahan yang sementara tidak diusahakan
(alang-alang dan semak belukar) atau lahan tidur seluas 9,7 juta ha. Luas lahan tidur yang telah
diidentifikasi dan sesuai untuk pengembangan pertanian baik untuk tanaman pangan maupun
perkebunan seluas 1,08 juta ha tersebar di 13 propinsi (MULYANI et al., 2000). Lahan-lahan
tersebut saat ini berupa alang-alang dan semak belukar, hanya saja tidak semua wilayah diketahui
status kepemilikan lahannya. Hasil identifikasi tersebut disajikan dalam peta skala 1:50.000, yang
menyajikan luas dan penyebarannya, serta dapat digunakan untuk operasional di lapangan (tingkat
Kecamatan/Kabupaten).

96

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan karakteristik tanah dan iklim serta persyaratan tumbuh tanaman, kelapa sawit
mempunyai adaptabilitas yang tinggi di berbagai kondisi lahan. Hasil penilaian kesesuaian lahan
menunjukkan bahwa kelapa sawit dapat dikembangkan di seluruh propinsi di Sumatera,
Kalimantan, Sulsel, Sulteng, Sultra, dan Papua. Hal ini memberikan petunjuk bahwa peluang
pengembangan kelapa sawit di Indonesia masih cukup luas.
Total lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit, seluas 54,1 juta ha, namun lahan
yang sesuai tersebut saat ini sebagian besar telah digunakan untuk komoditas pertanian lain
(perkebunan, tegalan/ladang, dll) dan mungkin juga untuk aktivitas non pertanian.
Untuk mengetahui berapa lahan yang masih tersedia untuk pengembangan kelapa sawit perlu
melakukan overlay (tumpang tepat) antara peta kesesuaian lahan dengan peta penggunaan lahan
terbaru (present land use) serta peta status lahan saat ini.
Data/peta kesesuaian lahan kelapa sawit yang tersedia saat ini adalah pada skala tinjau
(1:250.000) yang berguna untuk perencanaan umum tingkat propinsi dan skala eksplorasi
(1:1.000.000) untuk perencanaan pengembangan tingkat nasional. Apabila pengusaha/investor
memerlukan data/peta yang lebih detil yang dapat digunakan untuk operasional di lapangan, maka
perlu ditindaklanjuti dengan inventarisasi yang lebih detil (skala 1:50.000).
DAFTAR PUSTAKA
ABDURACHMAN, A., ANNY MULYANI dan G. KARMINI. 1998. Kesesuaian lahan untuk pengembangan beberapa
tanaman perkebunan di Indonesia. Prosiding Pertemuan Komisi Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan.
Peremajaan Rehabilitasi dan Perluasan Tanaman Perkebunan: Kelapa, Kelapa sawit, Karet, Kopi, Kakao,
Teh, Lada, Pala dan Jambu Mente. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan. Hlm 20-41.
BADAN PUSAT STATISTIK. 2002. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
DJAENUDIN, D., M. MARWAN, H. SUBAGYO, ANNY MULYANI dan N. SUHARTA. 2000. Kriteria Kesesuaian
Lahan untuk Komoditas Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
DITJEN PERKEBUNAN. 2002. Statistik Perkebunan Kelapa Sawit 2002. Direktorat Jenderal Perkebunan, Jakarta.
HIDAYAT, A., HIKMATULLAH dan DJOKO SANTOSO. 2000. Potensi dan Pengelolaan Lahan Kering Dataran
Rendah. Dalam: Buku Sumberdaya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian Tanah dan
Agroklimat, Bogor. Hlm 197-226.
HIDAYAT, A. dan ANNY MULYANI. 2002. Lahan Kering Untuk Pertanian. Dalam: Buku Teknologi Pengelolaan
Lahan Kering. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. Hlm 1-34.
IRIANTO, G., H. SOSIAWAN dan S. KARAMA. 1998. Strategi pembangunan pertanian lahan kering untuk
mengantisipasi persaingan global. Dalam: Prosiding Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah
dan Agroklimat. Makalah Utama. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Hlm 77-92.
KOMPAS. 2003. Proyeksi Produksi Minyak Sawit Dunia. RI Produsen Terbesar Minyak Sawit Tahun 2010.
Harian Kompas, 21 Mei 2003.
MULYANI, A., SUKARMAN dan D. SUBARDJA. 2000. Evaluasi Ketersediaan Lahan Untuk Perluasan Areal
Pertanian. Laporan Akhir Penelitian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

97

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

PUSAT PENELITIAN TANAH dan AGROKLIMAT. 1991. Penilaian Potensi dan Tingkat Kesesuaian Lahan untuk
Pengembangan Tanaman Kelapa Sawit di Propinsi Sumut, Riau, Bengkulu, Kalbar, Kalteng, Kaltim,
Sulteng, Sulsel dan Irian Jaya. Peta skala 1:250.000. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
PUSAT PENELITIAN TANAH dan AGROKLIMAT. 1997. Statistik Sumberdaya Lahan/Tanah Indonesia. Pusat
Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
PUSLITBANGTANAK. 2001. Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Nasional skala 1:1.000.000. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.
PUSLITBANGTANAK. 2002. Atlas Pewilayahan Komoditas Pertanian Unggulan Nasional skala 1:1.000.000.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor.
SCHMIDT, F.A., and J.H.A. FERGUSON. 1951. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia
with Western New Guinea. Verh. No. 42, Djawatan Meteorologi dan Geofisika, Kementrian
Perhubungan, Jakarta.
SURYANA, A., B. HUTABARAT dan S.H. SUSILOWATI. 1998. Penawaran dan permintaan serta peluang pasar
komoditas tanaman industri dan perkebunan. Halaman 42-68. Dalam: Prosiding Pertemuan Komisi
Penelitian Pertanian Bidang Perkebunan. Peremajaan Rehabilitasi dan Perluasan Tanaman Perkebunan:
Kelapa, Kelapa sawit, Karet, Kopi, Kakao, The, Lada, Pala dan Jambu Mente. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Industri, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan Perkebunan.
SOIL SURVEY STAFF. 1999. Soil Taxonomy. A Basic System for Making and Interpreting Soil Surveys. Second
Edition, 1999. USDA-SCS Agric. Handb. 436.

98

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

Lampiran 1. Kriteria kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit


Persyaratan penggunaan/
karakteristik lahan

S1

Kelas kesesuaian lahan


S2
S3

Temperatur (tc)
Temperatur rerata (C)

2528

2225
2832

2022
3235

<20
>35

Ketersediaan air (wa)


Curah hujan (mm)

17002500
<2

14501700
25003500
23

12501450
35004000
34

<1250
>4000
>4

Baik, agak baik

Agak terhambat

Terhambat,
agak cepat

Sangat
terhambat, cepat

h, ah, s
<15
>100

S
1535
75100

ak
3555
5075

k
>55
<55

<60
<140
Saprik +

60140
140200
saprik-hemik +

140200
200400
hemik-fibrik +

>200
>400
fibrik

>16
>20
5,06,5
>0,8

<16
<20
4,25,0; 6,57,0
<0,8

<4,2
>7,
-

<2

23

34

>4

>125

100125

60100

<60

<8
sr

816
rsd

1630
b

>30
sb

F0

F1

F2

>F3

<5
<5

515
515

1540
1525

>40
>25

Kelembaban (%)
Ketersediaan oksigen (oa)
Drainase
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
+ dg sisipan/pengkayaan
Kematangan
Retensi hara (nr)
KTK liat (cmol)
Kejenuhan basa (%)
pH H20
C-organik
Toksisitas (xc)
Salinitas (dS/m)
Toksisitas (xc)
Alkalinitas/ESP (%)
Bahaya Sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
Bahaya banjir (fh)
Genangan
Penyiapan lahan (lp)
Batuan di permukaan (%)
Singkapan batuan (%)

Sumber: DJAENUDIN et al. (2000)


Tekstur h = halus; ah = agak halus; s = sedang; ak = agak kasar
+ = gambut dengan sisipan/pengkayaan bahan mineral
Bahaya erosi sr = sangat ringan; r = ringan; sd = sedang; b = berat; sb = sangat berat

99

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

Lampiran 2. Arahan pengembangan untuk tanaman kelapa sawit di Propinsi Sumatera Utara
Simbol

Uraian

Luas

Usaha perbaikan

Lahan intensifikasi (I)


I1
Berpotensi baik
Pemupukan, konservasi
I2
Berpotensi sedang
Konservasi
I3
Berpotensi rendah
Pemupukan, konservasi
Lahan ekstensifikasi (E)
E1
Berpotensi baik
Pemupukan, drainase
E2
Berpotensi sedang
Pemupukan, drainase, konservasi
E3
Berpotensi rendah
Pemupukan, konservasi, drainase
Lahan alternatif/diversifikasi (D)
D1
Berpotensi baik
Pemupukan, konservasi
D2
Berpotensi sedang
Drainase, pemupukan, konservasi
D3
Berpotensi rendah
Konservasi, pemupukan, drainase
Lahan tidak disarankan dan penggunaan lain
N
Tidak berpotensi
Penggunaan lain
Jumlah

Ha

406.400
83.100
23.000

5,95
1,22
0,34

333.700
95.500
338.400

4,89
1,40
4,96

482.700
69.300
59.000

7,07
1,03
0,86

1.228.400
3.749.300
6.826.000

17,00
54,93
100,00

Sumber: PUSAT PENELITIAN TANAH DAN AGROKLIMAT (1997)

Lampiran 3. Luas lahan yang sesuai untuk intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi kelapa sawit di 9
propinsi*)
Propinsi
Sumsel
Riau
Bengkulu
Kalbar
Kalteng
Kaltim
Sulteng
Sulsel
Papua

I2

I1

I3

D3

E1

E2
E3
----- ha -----

D1

D2

Total

23000

333700

95500

338400

482700

69300

59000 1891100
212300 4432400

406400

83100

118400

1300

400

973000

223400

2289300

564200

50100

26200

2200

409150

43650

279400

55000

2300

2700

3283400

292300

2363000

410800

34600

0 6444100

47800

808400

3197900 1249800

3540200

508100

156900

303000 8955900

20400

4221300

304900

2945100

280600

28800

74400 7875500

164400

135900

275100

34900

65600

72300

748200

15000

2500

196900

78200

135200

129000

60000

30600

647400

3500

5957000

588200

5373600

551400

33900

644900

89200

28300

18736750 2968200

17303550 3241100

378700 12886300

499200 1178100 44689300

I = intensifikasi, E = ekstensifikasi, D = diversifikasi; 1 = potensi tinggi, 2 = potensi sedang, 3 = potensi rendah


*) Berdasarkan data/peta penggunaan lahan tahun 1989

100

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

DISKUSI
Pertanyaan:
1.

Pada Pendahuluan alinea I terdapat kalimat yang tidak nyambung. Disarankan tambahan.
Prospek kelapa sawit cukup menjanjikan seperti yang dilaporkan Oil word bahwa.dst.
(ada kalimat penghubung).

2.

Alinea II sebaiknya ditaruh pada alinea pertama dan baru alinea I menyusul. Karena alinea
kedua berisikan permasalahan yang lebih umum, dan baru masuk permasalahan yang lebih
spesifik.

3.

Tabel 2, dicantumkan kesesuaian luas lahan tanaman kelapa sawit dan merupakan potensi,
tetapi tidak dicantumkan luasan lahan yang telah dimanfaatkan untuk lahan kelapa sawit saat
ini. Kalau dicantumkan dapat terlihat langsung peluang pengembangan kelapa sawit dari sisa
luasan lahan yang sesuai dikurangi lahan yang telah tertanami. Apakah data luasan lahan tidak
dapat diperoleh dari Dirjen perkebunan? Kalau ada sebaiknya dicantumkan sehingga prospek
pengembangan lebih terlihat langsung.

4.

Menyambung poin 3, dalam peluang pengembangan belum dicantumkan peluang berdasarkan


kesesuaian lahan potensial pengembangan kelapa sawit yang dikonversikan pada produksi per
ha, sehingga diperoleh peluang pengembangan prediksi ke depan (luas lahan tersedia x
produksi). Hal tersebut akan lebih menarik dalam mendukung peluang pengembangan
berdasarkan daya dukung yang ada dan peluang peningkatan produksi kelapa sawit dan prospek
produksi ke depan.

5.

Kami sering didatangi oleh para konsultan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit
dan yang ingin berinvestasi di Bengkulu Selatan. Mereka antara lain sering menanyakan
masalah-masalah apa yang perlu ditanggulangi segi lahan/tanah untuk kelapa sawit, dan dimana
mereka bisa mengembangkan perkebunan perkebunan kelapa sawit. Dapatkah Puslitbangtanak
memberikan informasi tentang masalah ini dan apakah mungkin Puslitbangtanak mengadakan
survei di Bengkulu Selatan.

6.

Dalam melakukan kegiatan pewilayahan komoditas pertanian, sebaiknya Puslitbangtanak lebih


memfokuskan pada wilayah-wilayah Kawasan Budidaya Pertanian, yang sudah ditetapkan oleh
daerah masing-masing melalui Rencana Tata Ruang Wialyah nya, karena untuk pengembangan
wilayah pertanian, Pemda tidak boleh keluar dari Wilayah Kawasan Budidaya Pertanian.
Silahkan menghubungi Pemda setempat untuk mendapatkan peta RTRW tersebut.

7.

Bagaimana kami bisa mendapatkan data tanah daerah Jambi yang telah tersedia di
Puslitbangtanak.

Jawaban:
1.

Setuju, saran diterima dan akan diperbaiki dalam makalah.

2.

Setuju, saran diterima dan akan diperbaiki dalam makalah

3.

Di dalam makalah lengkap (Tabel 2) telah disebutkan bahwa lahan sesuai itu dibagi pada lahan
intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi. Lahan sesuai intensifikasi berarti lahan tersebut
sudah digunakan untuk kelapa sawit. Lahan sesuai ekstensifikasi berarti lahan tersebut berupa
101

Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi

alang-alang/semak belukar atau hutan konversi, yang dapat diarahkan untuk perluasan kelapa
sawit. Sedangkan lahan sesuai diversifikasi berarti lahan telah digunakan untuk penggunaan
lain dan dapat didiversifikasi dengan menanam kelapa sawit. Hanya saja, kegiatan evaluasi
lahan seperti ditampilkan pada Tabel 2 dilaksanakan pada tahun 1991 dan data penggunaan
lahan yang digunakan adalah data tahun 1989. Data tersebut sudah tidak relevan lagi dengan
kondisi saat ini. Dalam kurun waktu 14 tahun, perkembangan kelapa sawit cukup luas dari
793.500 pada tahun 1989 menjadi 4.116.000 pada tahun 2002. Belum lagi lahan yang sesuai
tersebut dalam kurun waktu yang sama telah digunakan pula untuk pengembangan komoditas
lain seperti karet, kopi, lada, kakao, dan tanaman pangan. Data yang tersedia di Ditjen
Perkebunan adalah data tabular (tidak tahu penyebarannya dimana), sedangkan data yang
tersedia di Puslitbangtanak merupakan data spasial (berbentuk peta yang jelas luas dan
penyebarannya dimana). Kita bisa saja menghitung berapa lahan yang berpotensi untuk
perluasan, hanya saja data tersebut kurang akurat karena perbedaan sumber data (data tabular
dibandingkan dengan data spasial).
4.

Untuk dapat menghitung berapa lahan yang berpeluang untuk pengembangan/ perluasan,
diperlukan peta penggunaan lahan yang terbaru (data spasial) yang jelas menunjukkan
penyebaran perkebunan kelapa sawit. Hal ini belum tersedia di BPN sekalipun, yang ada adalah
lahan perkebunan secara umum. Apabila ingin menampilkan berapa peluang produksi kelapa
sawit ke depan, dapat saja kita berasumsi bahwa sekitar 20% dari lahan yang sesuai untuk
ekstensifikasi (Tabel 2) tersedia untuk perluasan kelapa sawit. Jadi sekurang-kurangnya ada
sekitar 20% dari 39 juta ha atau 7,8 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk ekstensifikasi
kelapa sawit. Bila rata-rata produksi perkebunan rakyat 2,7 ton/ha, maka peluang peningkatan
produksi kelapa sawit dari 7,8 juta ha lahan adalah sebesar 21 juta ton.

5.

Sampai saat ini data/peta tanah di Bengkulu Selatan baru terbatas pada Peta Tanah Tinjau
dengan skala 1:250.000. Untuk tingkat kabupaten data tersebut kurang akurat karena terlalu
umum, sedangkan untuk tingkat kabupaten diperlukan data/peta tanah minimal skala 1: 100.000
atau 1:50.000, dimana pada saat ini untuk Bengkulu Selatan belum tersedia di Puslitbangtanak.
Oleh karena itu, disarankan Pemda setempat dapat membiayai untuk kegiatan pemetaan ini, dan
Puslitbangtanak dapat membantu dari tenaga dan teknisnya. Kebijakan Puslitbangtanak saat ini
adalah menyelesaikan pemetaan skala tinjau untuk seluruh Indonesia, sedangkan untuk
pemetaan dengan skala yang lebih besar diserahkan kepada pemda setempat, sesuai dengan
kemampuan dan kebutuhan masing-masing daerah.

6.

Dalam melakukan kegiatan pewilayahan komoditas pertanian, Puslitbangtanak mengcover


seluruh areal administrasi dari daerah yang dipetakan, dan kami mencari wilayah mana yang
sesuai untuk pengembangan pertanian. Jadi untuk sementara ini kami tidak hanya bekerja pada
Kawasan Budidaya Pertanian yang sudah ditetapkan oleh Pemda masing-masing melalui
RTRW nya. Namun jika dikehendaki, untuk memperoleh data tersebut dapat dilakukan dengan
mengoverlay/menumpangtepatkan peta kesesuaian lahan yang kami buat dengan peta RTRW
yang dibuat Pemda. Untuk kegiatan ke depan, kami akan memperhatikan saran tersebut,
sehingga hasil kami lebih mudah dimanfaatkan oleh Pemda.

7.

Dapat menghubungi Pelayanan Jasa Balai Penelitian Tanah-Puslitbangtanak, Jl. Juanda 98


Bogor, 16123. Tlp. 0251-323012, Fax. 0251-311256. Data yang tersedia saat ini adalah Peta
Tanah Tinjau, Peta Kesesuaian Lahan untuk berbagai komoditas pertanian, serta Peta
Pewilayahan Komoditas dan Ketersediaan lahan, semuanya tersedia pada skala 1:250.000.

102