Anda di halaman 1dari 19

PEMERINTAH KOTA MEDAN

SEKRETARIAT DAERAH KOTA


lalan Kapten Maulana Lubis No.2 Telepon : 4512412
MEDAN - 20112

SALINAN
KEPUTUSAN WALIKOTA MEDAN
NOMOR : 09 TAHUN 2004
TENrANG
PELAKSANAAN PERAnJRAN DAERAH
KOTA MEDAN NO. 12 TAHUN 2003
TENTANG PAJAK DAERAH KOTA MEDAN
WALIKOTA MEDAN
Menimbang

a. Bahwa Peraturan Oaerah Kota Medan No. 12 Tahun 2003


tentang Pajak Oaerah Kota Medan telah mendapat
Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Oaerah Kota Medan
dengan Keputusan Nomor 13/0PRO/2003 tanggal 21
Nopember 2003 dan telah diundangkan dalam Lembaran
Oaerah Kota Medan No. 1 Tahun 2003 Seri B"tanggal 23
Oesember 2003.
b. Bahwa untuk pelaksanaannya perlu ditetapkan dalam satu
Keputusan.

Mengingat

1. Undang-Undang
No. 8 Ort Tahun 1956 tentang
Pembentukan Oaerah Otonom Kota-Kota Besar dalam
Ungkungan Oaerah Propinsi Sumatera Utara.
2. Undang-Undang No. 17 Tahun 1997 tentang
Penyelesaian Sengketa Pajak.

Badan

3. Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Oaerah


dan Retribusi Oaerah Jo. Undang-Undang No. 34 Tahun
2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 18
Tahun 1997.

241

4. Undang-Undang No. 19 tahun 1997 tentang Penagihan


Pajak dengan Sural Paksa.

diundangkan daIam I..embaran Daerah Kota Medan Nomor 1


Seri B Tahun 2003 tanggal 23 Desember 2003.

Pual 1

5. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentzmg Pemerintahan


Daerah.

6. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan

Pelaksanaan Peratumn Daerah ini diserahkankepada


Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan.

Pasal 2

Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

7. Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas dari Korupsi, Kolusidan Nepotisme.

8. Peraturan

Pemerintah No. 22 Tahun


Perluasan Oaerah Kotamadya Medan.

Hal-hat yang menyangkut teknis pelaksanaannya


lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Oaerah.

Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang


Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
Sebagai Daerah Otonom.

Keputusan
ketentuan
perbaikan
kesalahan

ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan


segala sesuatunya akan diadakan perubahan dan
kembali, jika temyata dikemudian hari terdapat
clan atau kekeIiruan didalamnya.
Ditetapkan di
Pada tanggal

10. Peraturan

Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang


Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.

:
:

Me d a n

21 Januari 2004

WALIKOTA

11. Peratunm Pemerintah No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak

MEOAN

Dto.

Daerah.

12. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 170 Tahun 1997


tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Daerah.

13. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 172 Tahun 1997


tentang Kriteria Wajib Pajak Yang Wajib MenyelengJarakan
Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan.

14. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 173 Tahun 1997


tentang Tata Care I\meriksaan

DRS. H. ABDILLAH. Ak. MBA

Tembusan :
1. Ketua DPRD Kota Medan.
2. Kepala Bawasda Kota Medan.
3. Kepala Bappeda Kota Medan.
4. Para Asisten Setdakot Medan
5. Para Kepala Badan/DinasIKak
Kabag'Camat se-Kota Medan
6. Arsip.
_

di Bidang Pajak Daerah.

15. Keputusan.Menteri Dalam Negeri Nomor 43 Tahun 1999


tentang Sistem dan Prosedur Administrasi Pajak Oaerah
dan Retribusi Oaerah serta Pendapatan lainnya.

Salinan
sesuai aslfPya,
SEKRETARIS
DAERAH
K6rA MEDAN

MEMUTUSKAN
Menetapkan

akan diatur

Pasal3

1973 tentang

9. Peraturan

Kepala

: Melaksanakan Peraturan Daerah Kota Medan No. 12 Tahun


2003 tentang Pajak Oaerah Kota Medan, yang telah

242

DRS. H. RAMU. MM
Pembina Utama Muda

NIP.400023264

243

!'
PERAnJRAN DAERAH KOTA MEDAN
NOMOR : 12 TAHUN 2003
TENrANG
PAJAK DAERAH KOTA MEDAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

tentang Pajak Oaerah dan Retribusi Oaerah (Lembaran


Negara Tahun 2000 Nomor 246).
5. Undang-Undang
Nomor 19 Tahun
1997 tentang
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (Lembaran Negara
Tahun 1997 No. 42 Tambahan Lembaran Negara No.
3685) jo. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997
tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa.

WALIKOTA MEnAN
Menimbang

a.

bahwa pengaturan tentang Pajak Oaerah Kota Medan


seJama ini telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Oaerah
Kota Medan No. 4 Tahun 2002.

b. bahwa dengan berkembangnya situasi dan kondisi Kota


Medan serta dinamisasi perekonomian
masyarakat,
khususnya
perusahaan-perusahaan
industri yang
menggunakan tenaga listrik, dipandang perlu merevisi
Peraturan Oaerah No. 4 Tahun 2002 dimaksud khusus
yang berkaitan dengan Pajak Penerangan JaIan.

7. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan


Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran
Negara Tahun 1999 Nomor 77).
8. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1973 tentang
Perluasan Oaerah Kotamadya Medan.
9. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang
Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Oaerah.

bahwa untuk memenuhi maksud tersebut diatas, perlu


menetapkannya daIam satu Peraturan Oaerah.

10. Peraturan Pemerintah No. 65 Tahun 2001 tentang Pajak


Oaerah.

1. Undang-Undang
No. 8 Ort Tahun 1956 tentang
Pembentukan Oaerah Otonom Kota-Kota Besar dalam
lingkungan Oaerah Propinsi Sumatera Utara.

11. Keputusan Menteri Oalam Negeri No. 84 Tahun 1993


tentang Bentuk Peraturan Oaerah dan Peraturan Oaerah
Perubahan.

2. Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara


Pidana.

12. Keputusan Menteri OaIam Negeri No. 170 Tahun 1997


tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Pajak Oaerah.

3. Undang-UndangNo.17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Tahun 1997
Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3684).

13. Keputusan Menteri OaIam Negeri No. 172 Tahun 1997


tentang Kriteria Wajib Pajak Yang Wajib Menyelenggarakan
--. Pembukuan dan Tata Cara Pembukuan.

c.

Mengingat

6. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan


Oaerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60).

4.

Undang-Undang No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Oaerah


dan Retribusi Oaerah (Lembaran Negara Tahun 1997
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685),
Jo. Undang-Undang
Nomor 34 Tahun 2000 ten tang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997

244

14. KePutusan Menteri OaIam Negeri No. 173 Tahun 1997


tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pajak Oaerah.
15. Keputusan Menteri DaIam Negeri Nomor 43 Tahun 1999
tentang Sistem dan Prosedur Administrasi Pajak Oaerah
dan Retribusi Oaerah serta Pendapatan Oaerah lainnya.

245

Dengan PeJsetujuan
DEWAN PERWAKlU\N RAKYATDAERAH
KOTA MEDAN

k.

Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan hagi orang untuk dapat
menginap/istirahat, rnemperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya
dengan dipungut bayaran, tennasuk bangunan lainnya yang menyatu,
dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sarna kecuali untuk pertokoan dan
perkantoran.

I.

Pajak Restoran adalah Pajak atas pelayanan yang disediakan dengan


pembayaran di Restoran.

m.

Restoran atau Rumah Makan adalah tempat yang disediakan untuk


menyantap makanan dan minuman dengan dipungut bayaran termasuk
kedai nasi, kedai mie, kedai kopi, warung tempat jual makananlminuman,
tempat berdiscotiq dan berkaraoke kecuali usaha jasa katering dan usaha
jasa boga.

n.

Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan.

o.

Hiburan adalah semua jenis pertunjukan, permainaan ketangkasan. dan


atau keramaian dengan nama dan bentuk apapun, yang ditonton atau
dinikmati oleh setiap orang dengan dipungut bayaran tidak termasuk
penggunaan fasilitas untuk berolahraga.

p.

Penyelenggaraan Hiburan adaJah orang pribadi atau harlan hukum yang


bertindak untuk atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak
lain yang menjadi tanggungannya menyelenggarakan sesuatu hiburan

q.

Penonton atau pengunjung adalah setiap orang yang menghadiri sesuatu


hiburan untuk melihat dan atau mendengar atau menikmati atau
mempergunakan fasilitas yang disediakan oleh penyelenggara hiburan
kecuali penyelenggara, karyawan, artis (para pemain) dan petugas yang
menghadiri untuk melakukan pengawasan.

r.

Tanda Masuk adalah suatu tanda atau alat yang sah dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang dapat dipergunakan untuk menonton.
menggunakan atau menikmati hiburan.

s.

Harga Tanda Masuk yang selanjutnya disingkat I-ITM adalah harga atau
nilai nominal yang tertera atau tidak tertera pada tanda masuk yang
digunakan untuk menikmatilmenggunakan fasilitas hiburan.

1.

Pajak Reklame adalah Pungutan Daerah atas penyelenggaraan reklame.

MEMUTUSKAN
Menetapkan

PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN TENTANG PAJAK


DAERAH KOTA MEDAN.
BAB I
KETENnJAN UMUM

Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan ;
a.

Daerah adalah Kota Medan.

b.

Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Medan.

c.

Kepala Daerah adaJah Walikota Medan.

d.

Dinas Pendapatan Daerah adalah Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan.

e.

Kepala Dinas Pendapatan


Daerah Kota Medan.

f.

Pejabat adalah Pegawai yang diberikan tugas tertentu clJbidang Perpajakan


Daerah dan atau Retribusi Daerah sesuai dengan Peraturan Perundangundangan yang berlaku.

Daerah adalah Kepala Dinas Pendapatan

g.

Kas Daerah adaJah Kas Daerah Kota Medan.

h.

Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan yang menurut Ketentuan
Peraturan Daerah ini ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan.
Badan adalah suatu bentuk Badan Usaha yang meliputi Perseroan
Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik
Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun,
Persekutuan, Perkumpulan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau
Organisasi yang sejenis, Lembaga, Dana Pensiun, Bentuk Usaha Tetap
serta Bentuk Usaha lainnya.

j.

Pajak Hotel adalah Pajak atas pelayanan


pembayaran di Hotel.

246

yang disediakan

dengan

247

u.

Reklame adaIah benda, aJat. perbuatan atau media yang menurut bentuk
susunan clan corak ragamnya untuk tujuan komersil, dipergunakan untuk
memperkenalkan, menganjwkan atau memujikan suatu barang, jasa atau
orang, ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa
atau orang yang ditempatkan atau yang dapat dilihat, dibaca, dan atau
didengar dari suatu tempat oleh umum, kecuali yang dilakukan oleh
Pemerintah.

v.

Panggung'lokasi reklame ada1ah suatu sarana atau tempat pemasangan


satu atau beberapa buah reklame.

w.

Izin adaIah kegiatan terlentu Pemerintah Daerah dalam rangka pemberian


izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan
untuk
pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan,
pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana,
sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan
menjaga kelestarian lingkungan.

x.

y.

z.

aa.

bb.

Penyelenggara reklame adalah perorangan atau badan hukum yang


menyelenggarakan reklame baik untuk dan atas namanya sendiri atau
untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya.
Kawasan/zone adalah batasan-batasan wilayah tertentu sesuai dengan
pemanfaatan
wilayah tersebut yang dapat dipergunakan
untuk
pemasangan reklame.
Nilai jual objek pajak reklame adalah keseluruhan pembayaran/
pengeluaran biaya yang dikeluarkan oleh pemilik dan atau penyelenggara
reklame termasuk daIam hal ini adalah biayalharga beli bahan reklame,
konstruksi, instalasi listrik, pembayaran/ongkos perakitan, pemancaran,
peragaan, penayangan,
pengecatan, pemasangan dan transportasi
pengangkutan, dan lain sebagainya sampai dengan bangunan reklame
rampung, dipancarkan, diperagakan, ditayangkan dan atau terpasang
ditempat yang telah diizinkan.
Nilai strategis lokasi rekIame adalah ukuran nilai yang ditetapkan pada titik
lokasi pemasangan reklame tersebut berdasarkan kriteria kepadatan
pemanfaatan tata ruang kota untuk berbagai aspek kegiatan dibidang
usaha.
Pajak Penerangan JaJan adaIah pajak yang dipungut atas penggunaan
tenaga listrik.

248

cc.

Penerangan Jalan adaIah penggunaan tenaga listrik untuk menerangi jaIan


umum yang rekeningnya dibayar oleh Pemerintah Daerah.

dd.

Penggunaan Tenaga Ustrik adalah setiap orang pribadi atau badan yang
menggunakan tenaga listrik dari PLN maupun bukan PLN.

ee.

Penggunaan Tenaga Listrik PLN yang selanjutnya disebut pelanggan Pl..N


adalah setiap orang pribadi atau badan yang menggunakan tenaga listrik
dari PLN.

ff.

Perusahaan Listrik Negara yang selanjutnya disebut PlN adalah PT. PlN
(Persero) Cabang Medan.

99.

Kegiatan Industri adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan oleh


Pelanggan PLN dan orang atau badan Pengguna Tenaga Listrik yang
berasal dari bukan PLN dimana Tenaga Ustrik tersebut dipergunakan
untuk menggerakkan, mengerjakan, mengolah, merubah barang mentah
menjadi barang setengah jadi atau barang jadi.

hh.

Penggunaan Tenaga Listrik bukan PLN adalah tenaga listrik yang


dihasilkan dari/oleh pembangkit tenaga listrik bukan PLN yang dimiliki dan
atau dikelola oleh orang pribadi atau badan.

ii.

Pajak Parkir adalah pajak yang dipungut atas penyelenggaraan


parkir.

jj.

Tempat Parkir adaIah tempat parkir diluar badan jalan oleh orang pribadi
atau badan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun
yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk tempat penyediaan
penitipan kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang
memungut bayaran.

kk.

Harga Tanda Parkir yang selanjutnya disingkat dengan HTP adalah harga
atau nilai nominal yang digunakan atau yang seharusnya dibayar untuk
pemakaian tempat ~r.

11.

Pembayaran adalah jumlah yang diterima sebagai imbalan atas


penyerahan barang atau jasa sebagai pembayaran kepada pemilik Hotel,
Restoran, Penyelenggara Hiburan atas penggunaan tenaga listrik PLN clan
atau Penyelenggara Tempat Parkir.

249

tempat

mm. Pajak yang terutang adaIah pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak
pada suatu saat, dalam masa pajak, dalam Tahunan atau dalam Sagian
Tahun Pajak menurut Peraturan Perundang-undangan Perpajakan Daerah.
nn.

00.

Yang seharusnya dibayar adalah termasuk pemberian potongan harga dan


tiket cuma-cuma.
Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan
data objek dan subjek pajak atau retribusi, penentuan besamya pajak atau
retribusi yang terutang sampai kegiatan penagihan pajak atau retribusi
kepada Wajib Pajak atau Wajib Retribusi serta pengawasan penyetoran.

pp.

Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang dapat disingkat SPTPD, adalah


surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan
dan pembayaran pajak yang terutang menurut Peraturan Perundangundangan Perpajakan Daerah.

qq.

Surat Setoran Pajak Daerah, yang dapat disingkat SSPD, adalah surat
yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau
penyetoran pajak yang terutang ke Kas Daerah atau tempat lain yang
ditetapkan oleh Kepala Daerah.

IT.

Surat Ketetapan Pajak Daerah, yang dapat disingkat SKPD, adalah surat
keputusan yang menentukan besamya jumlah pajak yang terutang.

55.

tt.

uu.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, yang dapat disingkat


SKPDKB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besamya jumlah
pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran
pokok pajak, besarnya sanksi administrasi, dan jumlah yang masih harus
dibayar.
Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan. yang dapat
disingkat SKPDKBT adalah surat ketetapan pajak yang menentukan
tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Sayar, yang dapat disingkat SKPDLB
adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan
pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang
terutang atau tidak seharusnya terutang.

250

w.

Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, yang dapat disingkat SKPDN, adalah
surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah pajak yang terutang sarna
besamya dengan jumlah kredit pajak, atau pajak tidak terutang dan tidak
ada kredit pajak.

ww. Surat Tagihan Pajak Daerah, yang dapat disingkat STPD adalah surat
untuk melakukan tagihan pajak dan sanksi administrasi berupa bunga dan
atau denda.
xx.

Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan untuk membetulkan


kesalahan tulis, kesalahan hitung dan atau kekeliruan dalam penerapan
peraturan perundang-undangan perpajakan daerah yang terdapat dalam
Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang
Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Lebih Sayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil
atau Surat Tagihan Pajak Daerah.

yy.

Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan


terhadap Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Kurang Sayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan,
Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Sayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah
Nihil atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang
diajukan oleh Wajib Pajak.
-

zz.

Putusan Banding adalah putusan Sadan Penyelesaian Sengketa Pajak atas


banding terhadap Surat Keputusan Keberatan yang diajukan oleh WajibPajak.

aaa. Pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur
untuk mengumpulkan data dan informasi yang meliputi keadaan harta,
kewajiban atau utang, modal, penghasilan dan biaya serta jumlah harga
perolehan dan penyerahan barang atau jasa, yang ditutup dengan
menyusun laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi laba
pada setiap Tahun Pajak Berakhir.
bbb. Penyidikan Tindak .Pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi
daerah, serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai
Negeri Sipil, yang selanjutnya disebut Penyidik, untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak
pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi daerah yang terjadi serta
menemukan tersangkanya.

251

DAB II
d. Pertokoan, perbankan, perkantoran, salon yang dipakai oleh umum di
Hotel.

PAJAK HOTEL

Pasal2

e. Pelayanan perjalanan wisata yang diselenggarakan


dapat dimanfaatkan oleh umum.

Dengan nama Pajak Hotel dipungut Pajak atas pelayanan di Hotel.

Pa.aI 3

oleh hotel dan

Pasal4
"

(1)

dengan

(1)

Subjek Pajak Hoteladalah orang pribadi atau badan yang melakukan


pembayaran atas pelayanan di hotel.

a. Fasilitaspenginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek antara lain gubuk


pariwisata (cottage), motel, wisma pariwisata. pesanggrahan (hostel)
losmen clan rumah penginapan. Da1am pengertian nunah penginapan
tennasuk nunah kos dengan jumlah kamar minimal 10 (sepuluh) atau
lebih yang menyediakan fasilitas seperti nunah penginapan.

(2)

WajibPajak Hotel adalah Pengusaha Hotel sebagaimana tersebut pada


pasal 3 ayat (1).

Objek Pajak Hotel adalah setiap pelayanan


pembayaran di hotel tennasuk :

yang disediakan

b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau


tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan
kenyamanan antara lain telepon, faksimil, teleks, fotocopy, pelayanan
cuci, setrika, taksi dan pengangkutan lainnya, yang disediakan atau
dikelola hotel.
c. Fasilitas olah raga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu
hotel, bukan untuk umum antara lain pusat kebugaran, pub, discotik,
yang disediakan atau dikelola hotel.

PasaI 5
Dasar pengenaan
kepada Hotel.

(2)

Dikecualikan dari Objek Pajak Hotel adalah :


a. Penyewaan rumah ataukamar, apartemen dan atau fasilitas tempat
tinggallainnya. baik bangunan, pekarangan clan managemennya yang
tidak menyatu dengan hotel.
b. Pelayanan tinggal di asrama, pondok asrama dan pondok pesantren.
c. Fasilitas olahraga clan hiburan disediakan di Hotel yang dipergunakan
oleh bukan tamu Hotel dengan pembayaran.

yang dilakukan

Pual 6
Tarif pajak Hotel adalah sebesar 10% (sepuluh perseratus).

Pasal 7
Besamya Pokok Pajak Hotel yang terutang dihitung dengan cara mengalikan
tarif pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 6 dengan dasar pengenaan
sebagaimana dimaksud pada Pasal 5.

d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di Hotel.


e. Penjualan makanan clan atau minuman ditempat yang disertai dengan
fasilitas penyantapannya di Hotel.

Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran

Pasal8
(1)

Pajak yang terutang dipungut di dalam daerah.

(2)

Masa Pajak Hotel adalah jangka waktu yang lamanya sarna dengan satu
bulan takwim.

(3)

Pajak Hotel terutang dalam masa pajak terjadi atau timbul pada saat
kegiatan pelayanan Hotel dilakukan.
BAD III
PAJAK RESTORAN

Paul 9

Dengan nama Pajak Restoran dipungut pajak atas setiap pelayanan di Restoran.

252

253

'

PuaI 10
(1)

(2)

Objek Pajak Restoran adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan


pembayaran di Restoran termasuk bar, cafe, rumah makan, buffet, kantin,
kedai nasi/kopi dan meliputi penjualan makananlminuman di tempat yang
disertai tempat penyantapannya maupun yang diantar/dibawa pulang
(take away).

PasaI 15
(1)

Pajak yang terutang dipungut di dalam daerah.

(2)

Masa Pajak Restoran adalah jangka waktu yang lamanya sarna dengan
satu bulan takwim.

(3)

Pajak Restoran terutang dalam masa pajak terjadi atau timbul pada saat
kegiatan pelayanan Restoran dilakukan.

Dikecualikan dari objek Pajak Restoran adalah :


a. Pelayanan jasa boga/katering.

BAB IV
PAJAK HIBURAN

b. Pelayanan yang disediakan oleh Restoranatau Rumah Makan yang


pendapatan brutonya tidak melebihi batas Rp. 600.000,- (enam ratus
ribu rupiah) per bulan.
c. Penjualan makanan dan atau minuman ditempat yang disertai dengan
fasilitas penyantapannya di Hotel.

PasaI 16
Dengan nama Pajak Hiburan dipungut pajak atas setiap penyelenggaraan
Hiburan.

PasaI 17
Pasal 11
Objek Pajak Hiburan adalah setiap penyelenggaraan hiburan berupa :
(1)

Subjek Pajak Restoran adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran atas pelayanan Restoran.

(2)

Wajib Pajak Restoran adalah Pengusaha Restoran sebagaimana tersebut


pada pasallO ayat (1).

Pasal 12
Dasar Pengenaan Pajak Restoran adalah jumlah pembayaran yang dilakukan
kepada Restoran.

Pasal 13
Tarif Pajak Restoran adalah sebesar 10% (sepuluh perseratus).

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
1.

Pasal 14
Besamya Pokok Pajak Restoran yang terutang dihitung dengan cara mengalikan
tarif pajak sebagaimana dimaksud pada pasal 13 dengan dasar pengenaan
sebagaimana dimaksud pada pasal 12.

254

m.

Pertunjukan Him.
Pertunjukan Kesenian, Sirkus, Pameran Seni, Busana, Kontes Kecantikan
dan sejenisnya.
Pertunjukan Musik dan Tari.
Discotiq.
Karaoke.
Klab Malam.
Permainan Billyard.
Permainan Ketangkasan, Taman Hiburan Keluarga, Permainan Anak-Anak,
Video Game, Play Station dan sejenisnya.
Panti Pijat,Salon Kecantikan clan Wisma Pangkas.
Mandi Uap dan sejenisnya.
Pertandingan olahraga.
Taman Rekreasi, Kolam Renang, Kolam Pancing dan sejenisnya.
Persewaan Permainan Internet.

Pasal 18
(1)

Subjek pajak hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menonton
dan atau menikmati hiburan.

255

(2)

Wajib pajak hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan.

Pasal 19

2. Di ruang yang tidak ber AC dipungut pajak sebesar 10% (sepuluh


perseratus) dati I-ITM.
e.

Dasar Pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah pembayaran atau yang


seharusnya dibayar untuk menonton dan atau menikmati hiburan sebagaimana
ditetapkan dalam HTM.

a.

c.

d.

f.

Untuk Discotiq, Disco, Bar, Karaoke, KIab Malam dan sejenisnya


ditetapkan sebesar30% (tiga puluh perseratus) dati I-ITM atau jumlah
pembayaran untuk menonton clan atau menikmati hiburan di luar harga
makanan / minuman yang teJah dikenakan Pajak Hotel dan atau Pajak
Restoran.

g.

Untuk Discotiq, Disco, Bar, KIab Malam yang tidak menggunakan landa
masuk clan atau tidak membayar untuk menonton clan atau menikmati
hiburan dipungut pajak sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah) untuk setiap
pengunjung, diIuar harga. makanan / minuman yang teJah dikenakan Pajak
Hotel clan atau Pajak Restoran.

h.

Untuk Permainan BiDyard :

26%
30%
28%
13%
datiPajak
HTM
10%
20%
24%
17%
Besar

b.

2. Di ruang yang tidak her AC dipungut pajak sebesar 20% (dua puluh
perseratus) dari I-ITM.

Pertunjukan Film di Bioskop :


Klasmen Bioskop

1. Di ruangan yang memakai AC dipungut pajak sebesar 20% (dua puluh


perseratus) dari HTM atau harga koin per meja untuk sekali
permainan.

Ketentuan klasmen dan besarnya harga tanda masuk untuk masingmasing Bioskop di Kota Medan akan ditetapkan lebih lanjut dengan Surat
Keputusan Kepala Daerah.
Tata cara pengadaan / perforasi tanda masuk / karcis tontonan dan
pembayaran dimuka (PDM) Pajak Hiburan Tetap dan insidentil akan
ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah.

2. Di ruang yang tidal< her AC dipungut pajak sebesar 15% (lima belas
perseratus)dari HTM atau hargakoin permeja untuk sekali permainan.
i.

Untuk Permainan Ketangkasan, Taman Hiburan Keluarga, Permainan


Anak-anak antara lain Vtdeo Game, Play Station, Mini Train, Kuda Pusing,
Sampan Pusing, ~d
Boat, Bom-bom Car dan sejenisnya dipungut
pajak sebesar 20% (dua puIuh perseratus) dati HTM atau harga koin.

j.

Usaha jasa panti pijat. mandi uap clan sejenisnya dipungut pajak sebesar
20% (dua puluh perselatus) dati HTM per jam, salon kecairtikan dipungut
pajak sebesar 20% (dua puluh perseratus) dati jumJah pembayaran.

Untuk pertunjukan kesenian, antara lain kesenian tradisional, pertunjukan


sirkus, pameran seni :
1. Di ruangan yang memakai AC dipungut pajak sebesar 15% (lima belas
perseratus) dati HTM.

256

Musik

1. DiruangMl yang memakai AC dipungut pajak sebesar 25% (dua puluh


lima pesseratus) dari I-ITM.

Pasal20
Tarif Pajak Hiburan adalah untuk setiap jenis hiburan yang ditetapkan sebagai
berikut :

Untuk PameranBusana, Kontes Kecantikan, Pertunjukan/Pagelaran


clan Tan :

257

k.

Pertunjukan pertandingan olah raga antar klub dalam negeri dipungut


pajak sebesar 15% (lima belas perseratus) dari HTM, sedangkan
pertandingan olahraga dengan dukungan antar bangsa dipungut pajak
sebesar 20% (dua puluh perseratus) dari HTM.

I.

Taman rekreasi, kolam renang, kolam pancing dan sejenisnya dipungut


pajak sebesar 10% (sepuluh perseratus) dari HTM.

m.

Untuk Jenis Hiburan yang tidak menggunakan Tanda Masuk dipungut


pajak sebesar 20% (dua puluh perseratus) dari jumlah pembayaran.

n.

Untuk persewaan Permainan Internet dipungut


(sepuluh perseratus) dari nilai sewa per jam.

pajak sebesar

10%

Pasal 21
Besarnya pokok pajak Hiburan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan
tarif pajak sebagaimana dimaksud pada PasaI 20 masing-masing dari setiap
jenis dengan dasar pengenaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 19.

Pasal 22
(1)

Pajak yang terutang dipungut di dalam daerah.

(2)

Masa Pajak Hiburan adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan
satu bulan takwim.

(3)

Pajak Hiburan terutang dalam masa pajak terjadi atau timbul pada saat
kegiatan penyelenggaraan Hiburan dilakukan.
DAB V
PAJAK REKLAME

Pasal23
Dengan nama Pajak Reklame dipungut Pajak atas setiap penyelenggaraan
reklame.

Pasal24
(1)

Objek Pajak Reklame adalah setiap penyelenggaraan reklame meliputi :


a. Reklame Papan / Billboard / Megatron.

258

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
(2)

Reklame
Reklame
Reklame
Reklame
Reklame
Reklame
Reklame
Reklame

Rain.
Melekat (stiker).
Selebaran.
Berjalan.
Udara.
Suara.
Rim / Slide.
Peragaan.

Dikecualikan dari objek Reklame adalah :


a. Penyelenggaraan reklame melalui Televisi, Radio, dan Warta Harian,
Warta Mingguan, Warta Bulanan dan sejenisnya.
b. Dibuat atau diselenggarakan khusus untuk kepentingan umum dalam
jangka waktu yang ditentukan oleh Kepala Daerah atau Pejabat yang
dihunjuk.
c. Diselenggarakan oleh perwakilan diplomatik, perwakilan konsulat,
perwakilan PBB, serta badan-badan
khusus, badan-badan atau
lembaga-Iembaga organisasi internasional pada lokasi badan-badan
yang dimaksud.
d. Diselenggarakan oleh organisasi politik atau organisasi sosial politik
yang semata-mata mengenai politik.
e. Diselenggarakan
oleh suatu perusahaan pada kendaraan milik
perusahaan tersebut yang semata-mata dan atau sebutan umum
perusahaan yang bersangkutan dan luasnya tidak lebih dari 1/4 M2,
misalnya: Bus Sekolah, KPUM, Rahayu, PT. Inalum, Povri, dan lain-lain.
f. Ditempatkan pada suatu kendaraan yang berasal dari luar wilayah
daerah dan berada di luar wilayah tersebut tidak lebih dari 7 (tujuh)
jam berturut-turut.
g. Khusus mengenai pemilikan dan atau peruntukan tanah, dengan
ketentuan luasnya tidak melebihi 1/4 M2 dan diselenggarakan diatas
tanah tersebut. .
h. Khusus dan semata-mata memuat nama dan atau sebutan dari
pekerjaan atau perusahaan yang diselenggarakan diatas tanah atau
bangunan dimana reklame tersebut diselenggarakan dengan ketentuan
luasnya tidak melebihi 1/4 M2.

259

i. Merupakan rekIame suara apabila menurut pendapat Kepala Daerah


penyelenggaraan tennasuk golongan penjaja atau pengusaha kecil.

tarif pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 27 dengan dasar pengenaan


sebagaimana dimaksud pada Pasa1 26.

Pasal25

Pasal 29

Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi


menyelenggarakan atau memesan reklame.

atau

(2)

Wajib Pajak Reklame adalah


menyelenggarakan reklame.

atau

(3)

Setiap penyelenggaraan
Daerah.

(1)

orang

pribadi

Reklame harus mendapat

badan

yang
(1)

Pajak yang terutang dipungut di dalam daerah.

yang

(2)

Masa Pajak Reklame adalah jangka waktu yang lamanya sarna dengan
satu tahun takwim.

izin dari Kepala

(3)

Pajak Reklame terutang dalam masa pajak terjadi atau timbul pada saat
kegiatan penyelenggaraan Reklame dilakukan.

badan

Pasal26
(1)

Dasar Pengenaan Pajak Reklame adalah nilai sewa Reklame.

(2)

Nilai sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung


berdasarkan pemasangan, lama pemasangan, nilai strategis, lokasi dan
jenis reklame.

(3)

(4)

(5)

Dalam hal reklame diselenggarakan oleh orang pribadi atau badan yang
memanfaatkan reklame untuk kepentingan sendiri, maka nilai sewa
reklame dihitung berdasarkan pemasangan, pemeliharaan nilai strategis,
lokasi clan jenis reklame.
Dalam hal reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga maka nilai sewa
reklame ditentukan berdasarkan jumlah pembayaran untuk suatu masa
pajak / masa penyelenggaraan reklame dengan memperhatikan biaya
pemasangan, pemeliharaan nilai strategis, lokasi dan jenis reklame.
Hasil perhitungan nilai sewa relame sebagaimana dimaksud ayat (2)
dinyatakan dalam bentuk tabel dan ditetapkan dengan Keputusan Kepala
Daerah.

Pasal27
Tarif Pajak Reklame ditetapkan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus).

Pasal 28
Besamya pokok Pajak RekIame yang terutang dihitung dengan cara mengalikan

260

BAB VI
PAJAK PENERANGAN

JALAN

Pasal 30
Dengan nama Pajak Penerangan
penggunaan tenaga listrik.

Jalan

dipungut

pajak kepada

setiap

Pasal 31
(I)

Objek Pajak Penerangan Jalan adalah setiap penggunaan


dari PLN dan bukan PLN.

(2)

Dikecualikan dari objek pajak penerangan jalan adalah :


a. Penggunaan tenaga
Pemerintah Daerah.

listrik oleh instansi

Pemerintah

tenaga listrik

Pusat dan

b. Penggunaan tenaga listrik pada tempat-tempat yang digunakan oleh


Kedutaan, Konsulat, Perwakilan Asing, dan Lembaga-lembaga
Intemasional dengan azas timbal balik sebagaimana berlaku untuk
Pajak Negara.
c. Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN dengan
kapasitas tertentu yang tidak memerlukan izin dari instansi teknik
terkait.
d. Penggunaan tenaga listrik yang khusus digunakan oleh badan sosial
untuk kegiatan yang bersifat sosial.

261

Pasal32
(1)

(2)

Subjek Pajak Penerangan Ja1an adalah orangpribadi atau badan yang


menggunakan tenaga tistrik dari Pl.N atau tenaga listrikbukan PLN.

c.

Rmggunaan tenaga listrik yang berasal dati bukan PLN, bukan untuk
industri sebesar 8% (delapan perseratus).

d.

f\mggunaan tenaga listrik yang berasal dari bukan PLN, unluk industri
ditetapkan sebe.gai berikut :

Wajib Pajak Penerangan Jalan adalah orang pn"badi atau badan yang
menjadi pelanggan listrik dan atau pengguna tenaga listrik.

1. Untuk industri. yang memakai tenaga listrik dengan batas daya 450 VA
sid 13,9 KVA sebesar 8% (delapan pmseratus).
2. Untuk industri yang memakai tenaga listrik dengan baias daya 14 KVA
sid 24.999 KVA sebesar 4% (empat perseratus).
3. Untuk mdustri yang memakai tenaga lisIrikdengan baias daya 25.000
KVA keatas sebesar 1,5% (satu kama lima persen).

Pas" 33
(1)

Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adaJah nilai jual tenaga listrik.

(2)

Nilai Jual Tenaga Listriksebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan :


a. Dalam hal tenaga Ustrik berasal dari PLN dan bukan PLN dengan
pembayaran, nilai jual tenaga listrik adalah besamya tagihan biaya
penggunaan listrikI rekening Iistrik.
b. Dalam hal kapasitas listrik berasal dari bukan PLN dengan tidak
dipungut bayaran, nilai jual tenaga Iistrik dihitung berdasarkan
kapasitas tersedia dan penggunaan listrik atau taksiran penggunaan
listrik clan harga satuan listrik yang berlaku di daerah.

(3)

Harga Setuan Ustrik sebagaimana dimaksud ayat 2 huruf b ditetapkan


oleh Kepa1a Daerah dengan berpedoman pada harga satuan Iistrik yang
berlaku untuk PLN.

Paul 35
Besamya A:>kok Pajak Penerangan Ja1an yang tenJtang dihitung dengan cara
rnengalikan tarif pajak sebagaimana dimaksud pada PasaI 34 dengan dasar
pengenaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 33.

PasaI 36
(1)

Pajak yang terutimg dipungut di dalam daerah tempat penggunaan tenaga


listrik.

(2)

Masa Pajak Rmerangan Jalan adalah jangka waktu yang Iamanya sarna
dengan satu bulan takwim.

(3)

Pajak Penerangan Jalan terutang dalam masa pajak teJjadi atau timbul
pada saat diterbitkannya SKPD.

PasaJ 34
Tanf Pajak Penerangan Ja1an ditetapkan sebagai berikut :
a.
b.

Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN, bukan untuk industri
sebesar 10% (sepuluh perseratus).

BAD VII
PAJAK

Penggunaan tenaga listrik yang berasal dari PLN, untuk industri sebagai
berikut:

1. Untuk industri yang memakai tenaga listrik dengan hatas daya 450 VA
sid 13,9 KVA sebesar 8% (delapan perseratus).
2. Untuk ~ustri yang memakai tenaga Iis1rikdengan hatas daya 14 KVA
sid 24,999 KVA sebesar 4% (empat perseratus).
3. Untuk industri yang rnemakai tenaga listrik dengan hatas daya 25.000
KVA keatas sebesar 1,5% (satu kama lima persen).

262

PARKIR

Pasal37
Dengan nama Pajak Parl<irdipungut pajak atas penyelenggaraan tempat Parl<ir.

PasaI 38
(1)

Objek Pajak Parkir ada1ah setiap penyelenggaraan Tempat Parkir diluar


badan jaJan dan tempat khusus parkir oleh orang pribadi atau badan,

263

baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang


disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan
kendaraan bermotor dan garasi kendaraan bermotor yang memungut
bayaran.
(2)

Pasal42
Besamya Pokok Pajak Parkir yang terutang dihitung dengan cara mengalikan
tarif pajak sebagaimana dimaksud pada Pasal 41 dengan dasar pengenaan
sebagaimana dimaksud. pada Pasa1 40.

Dikecual1kan dari objek pajak parkir adalah :

Pasal43

a. Penyelenggaraan Tempat Parkir oleh Pemerintah Pusat dan Daerah.


b. Penyelenggaraan parkir oleh Kedutaan, Konsulat, Perwakilan Warga
Negara Asing dan Lembaga-lembaga Intemasional dengan azas timbal
balik sebagaimana berlaku untuk Pajak Negara.

PuaI 39
(1)

(1)

Pajak yangterutang

(2)

Masa Pajak Parkir adalah jangka waktu yang lamanya sarna dengan satu
bulan takwim.

(3)

Pajak Parkir-terutang dalam masa pajak terjadi atau timbul pada saat
kegiatan pembayaran penggunaan tempat parkir dilakukan.

Subjek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau badan yang melakukan
pembayaran atas tempat parkir.
pribadi

atau

badan

dipungut di dalam Daerah.

BAB VIII
PENDAfTARAN DAN PENDATAAN

(2)

Wajib Pajak Parkir adalah orang


menyelenggarakan tempat parkir.

yang

(3)

Setiap penyelenggaraan
Daerah.

tempat parkir harus mendapat izin dari Kepala

(1)

Pendaftaran dilakukan terhadap wajib pajak yang berdomisiIi didalam


maupun di luar Wilayah Daerah memiliki objek pajak di daerah.

(4)

Ketentuan tentang izin yang tersebut pada ayat 1 diatas diatur lebih lanjut
dalam satu Peraturan Daerah tentang Perizinan dan ataukeputusan
Kepala Daerah yang mengatur untuk itu.

(2)

Kegiatan pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diawali


dengan mempersiapkan formulirpendaftaran dan diberikan kepada Wajib
Pajak.

(3)

Wajib Pajak wajib mengisi formulir pendaftaran dengan jelas, lengkap dan
benar serta mengembalikannya ke Dinas Pendapatan Daerah.

(4)

Formulir pendaftaran yang dikembalikan oleh Wajib Pajak dieatat dalam


Daftar Induk Wajib Pajak secara berurutan yang digunakan sebagai
Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah (NPWPD) bagi Wajib Pajak.

PasaI 40
(1)

(2)

Dasar pengenaan
pajakparkir
adalah
juinlah
penerimaan
penyelenggaraan
parkir yang berasal dari pembayaran atau yang
seharusnya dibayar untuk pemakaian tempat parkir sebagaimana
ditetapkan dalam HrP.
Besarnya pembayaran atau yang seharusnya dibayar untuk pemakaian
tempat parkir yang disebut dengan HTP sebagaimana ayat (1) tersebut
diatas ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah.

Pasal44

Pasal45
(1)

Setiap Wajib Pajak wajib mengisi SPTPD dan formulir lain yang
disarnakan dengan itu.

(2)

SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar
dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Pajak atau kuasanya.

PasaI 41

Tarif Pajak Parkir adaJah sebesar 20% (dua puluh perseratus) dari HrP.

264

265

(3)

SPTPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan kepada


Kepala Daerah atau Pejabat selambat-Iambatnya 15 (lima belas) hari
setelah berakhimya masa pajak.

(4)

Sentuk, isi dan tata cara pengisian dan penyarnpaian SPTPD ditetapkan
oleh Kepala Daerah.

PERHlruNGAN

b. Apabila SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% (dua pmseratus) sebulan dihitung dari pajak
yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama
24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak.
c. Apabila kewajiban mengisi SPIPD tidak dipenuhi, pajak yang terutang
dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa
kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) dari pokok pajak
ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua
perseratus) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat
dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan
sejak saat terutangnya pajak.

BABIX
DAN PENETAPAN PAJAK

Pasal46
(1)

(2)

Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 42 ayat (1)


Kepala Daerah atau Pejabat menetapkan
pajak terutang dengan
menerbitkan SKPD atau yang dipersarnakan dengan itu.
Apabila SKPD sebagaimana dimaksud
bayar setelah lewat waktu paling lama
diterima, dikenakan sanksi administrasi
perseratus) sebulan dan ditagih dengan

(2)

Wajib Pajak yang membayar sendiri SPTPD sebagaimana dimaksud


daIam pasal 53 ayat (1) digunakan untuk menghitung, memperhitungkan
dan menetapkan pajak sendiri yang terutang.
Dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sesudah saat terutangnya
Kepala Daerah dapat menerbitkan :

(5)

SKPDN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c ditetbitkan apabiJa


jumlah pajak terutang sarna besamya dengan jumlah pajak yang telah
disetorkan.

(6)

Apabila kewajiban membayar pajak terutang dalam SKPDKB dan


SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan b atau tidak
sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang ditentukan, ditagih dengan
menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga
sebesar 2% (dua perseratus) sebulan.

(7)

Penambahan jumlah pajak yang terutang sebagaimana dimaksud ayat (3)


tidak dikenakan pada Wajib Pajak apabila melaporkan sendiri sebelum
dilakukan pemeriksaan.

pajak,

a. SKPDKB
b. SKPDKBT
c. SKPDN
(3)

SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diterbitkan


apabila ditemukan data baru yang semula belum terungkap yang
menyebabkan penambahan jumIah pajak yang terutang, akan dikenakan
sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus perserab.6) dari
jumlah kekurangan pajak tersebut.

pada ayat (1) tidak atau kurang


30 (tiga puluh) hari sejak SKPD
berupa bunga sebesar 2% (dua
menerbitkan SKPD.

Pasal47
(1)

(4)

SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a diterbitkan :


a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak
yang terutang tidak atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi
berupa bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan dihitung dari pajak
yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama
24 (dua puluh empat) bulan sejak saat terutangnya pajak.

266

TAT A

BABX
CARA PEMBAYARAN PAJAK

Pasal48
(1)

Pembayaran pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang


ditunjuk oleh Kepala Daerah dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah
diterimanya SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD.

267

(2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditempat lain yang ditunjuk, hasil
penerimaan pajak hams disetor ke Kas oaerah seJambat-lambatnya1x24
jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Kepala oaerah.

(2) Bentuk, jenis, isi dan ukuran tanda bukti pembayaran dan bukti
penerimaan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Kepala Daerah.

(3) Pembayaran Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilakukan dengan menggunakan SSPo.

BAB XI
TATA CARA PEMBUKUAN DAN PELAPORAN

(4) Pembayaran Pajak dengan sistem membayar sendiri, dilakukan di Kas


oaerah atau ten'\pat lain yang dihunjuk oleh Kepala Daerah pada tanggal
7, 14, 21 dan 28 berdasarkan SPTPo atas pajak yang telah dipungut
dalam masa pajak, bilamana tanggal tersebut jatuh pada hari libur maka
jadwal pembayaran dimundurkan pada tangga1berikutnya.
PasaI 49
(1) Pembayaran pajak hams dilakukan sekaligus atau lunas.
(2) Kepa1aoaerah atau Pejabat dapat memberikan persetujuankepada Wajib
Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu
setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.
(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus
dilakukan secara teratur dan~berturut-turut dengan dikenakan bunga
sebesar 2% (dua perseratus) sebulan dati jumlah pajak yang belum.atau
kurang dibayar.
(4) KepaIa oaerah atau Pejabat dapat memberikanpersetujuan kepada Wajib
Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang
ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan
dikenakan bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan dari jumlah pajak
yang belum atau kurang dibayar.
(5) Persyaratanuntuk dapat mengangsurdan menunda pembayaran serta tata
cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dan ayat (4), ditetapkan oleh Kepala oaerah atau Pejabat.

Pasal50

Pas" 51
(1)

SP11'D, SKPo, SKPoKB, SKPoKBT, dan STPo dicatat dalam buku


menurut jenis pajak sesuai dengan NPWPo.

(2) Besamya penetapan dan penerimaan Pajak dihimpun dalam Buku Jenis
Pajak dan atas dasar Buku Jenis Pajak dibuat Oaftar Penetapan,
R!nerimaan dan Tunggakan per jenis Pajak.
(3) Berdasarkan Oaftar Penetapan, Penerimaan dan Tunggakan dibuat
pelaporan realisasi penerimaan dan tunggakan per jenis Pajak sesuai
dengan Masa Pajak.
BAB XII
TATA CARA PENAGIHAN PAJAK

Pasal52
(1) Surat teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai
awal tindak pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan7 (tujuh)hari sejak
saat jatuh tempo pembayaran.
(2) oalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau
Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenisnya, Wajib Pajak harus
melunasi pajak yang terutang.
(3) Surat Teguran, Surat Peringatan atau surat lain yangsejenisnya
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat.

Pasal 53

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam pasal 48


diberikan tanda bukti pembayaran clan dicatat dalam bukti penerimaan.

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam
jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat
Peringatan atau surat lain yang sejenisnya, jumlah pajak yang harus
dibayar ditagih dengan Surat Paksa.

268

269

(2)

Pejabat menerbitkan Surat Paksa segera setelah lewat 21 (dua puluh satu)
hari sejak tanggal Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain
yang sejenisnya.

BAS XIV
TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATAlAN
PENGURANGAN KEl'ETAPAN, DAN PENGHAPUSAN
PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal54

Pasal 59

Apabila pajak yang harus dibayar tidal<dilunasi dalam jangka waktu 2 x 24 jam
sesudah tanggaJ pemberitahuan Surat Paksa, Pejabat segera menerbitkan Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan.
(1)

Pasal55

ATAU

Setelah dilakukan penyitaan dan Wajib Pajak belum juga melunasi utang
pajaknya, setelah lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelattSanaan Surat
Perintah Melaksanakan Penyitaan, Pejabat mengajukan perminulan penetapan
tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Kepala Daerah atau Pejabat karena jabatannya atas pennohonan


pajak dapat :

wajib

a. Menerbitkan SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD yang


dalam penerbitannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung dan
atau kekeliruan dalam penerapan peraturan Perundang-Undangan
Perpajakan Daerah.

Paul 56

b. Membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidal< benar.

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat
pelaksanaan lelang, juru sita memberitahukan dengan segera secara tertulis
kepada Wajib Pajak.

c. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga,


denda dan kenaikan pajak yang terutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan kanma kesalahannya.

Paul 57
(2)

Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan


penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi atas SKPD atau
SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Kepala
Daerah atau pejabat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh)hari sejak tanggal
diterimanya SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD dengan
memberikan alasan yang jelas.

(3)

Kepala Daerah atau Pejabat paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat
pennohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus
memberikan keputusan.

(4)

Apabila setelah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud pada


ayat (3) Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan,
permohonan pembetulan, pembatalan pengurangan ketetapan dan
penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.

Bentuk, jenis dan isi fonnulir yang dipergunakan untuk pelaksanaan penagihan
pajak daerah ditetapkan oleh Kepala Daerah.

BAB XIII
PENGURANGAN, KERINGANAN
PEMBEBASAN PAJAK

DAN

Pasal 58

(1)

(2)

Kepala Daerah atau Pejabat berdasarkan pennohonan Wajib Pajak dapat


memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak.
Tata cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala Daerah.

270

271

BAB xv
KEBERATAN DAN BANDING

PuaI 62

PasaI 60
(1)

Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan hanya kepada Kepala Daerah


atau Pejabat atas suatu :
a. SKPD

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 atau


banding sebagaimana dimaksud dalam Pasa1 61 dikabulkan sebagian atau
seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah
imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan untuk paling lama 24 (dua
puluh empat) bulan.

b. SKPDKB
BAB XVI

c. SKPDKBT
PENGEMBAUAN

d. SKPDLB
e. SKPDN
(2)

(3)

(4)

(5)

Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) harus


disampaikan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia paling lama 3 (tiga)
bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB dan SKPDN
diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila wajib pajak dapat menunjukkan
bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar
kekuasaannya.
Kepala Daerah atau Pejabat dalam jangka waktu paling lama 12 (dua
belas) bulan sejak tangal surat permohonan keberatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan.
Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) Kepala Daerah atau Pejabat tidak memberikan keputusan,
permohonan keberatan dianggap dikabulkan.

(1)

KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK


,...
63

Wajib Pajak dapat mengajulcan permohonan pengembaIian ke1ebihan


pembayaran k~
KepaJa Daerah atau Pejabat secara tertulis dengan
menyebutkan sekurang-kunmgnya.
a. Nama clan AIamat Wajib Pajak
b. Masa Pajak
c. Besamya kelebihan pembayaran pajak
d. Alasan yang jelas

(2)

Kepala Daerah atau Pejabat dalani jangka waktu paling lama 12 (dua
belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran
pajak sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus
memberikan keputusan.

(3)

Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2)


dilampaui Kepala Daerah atau pejabat tidak memberikan keputusan,
permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap
dikabulkan
(satu) bulan.dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu paling lama 1

(4)

Apabila Wajib Pajak mempunyai utang pajak lainnya, kelebihan


pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) langsung
diperhitungkan untUk melunasi terlebih dahulu utang pajak dirnaksud.

(5)

Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelahlewat 2


(dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan Surat
Perintah Membayar Ke!ebihanPajak (SPMKP).

Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini tidak
menunda kewajiban membayar pajak.

Pasal 61
(1)

Wajib Pajak dapat mengajukan banding kepada Badan Penyelesaian


Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya
Keputusan keberatan.

(2)

Pengajuan banding sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menunda


kewajiban membayar pajak.

272

273

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah


lewat 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB,Kepala Daerah atau
pejabat memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus) sebulan
atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.

ketenmgan yang tidak benar ~


merugikan--~
daaah dapat
dipidana dengan pidana kurungtm paling lama 2 (dua) Iahun clan aIau
denda paling banyak 4 (empat) kaIijumIah pajak yang Ierutang.

67

PasaI 64
Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan utang pajak
lainnya, sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (4), pembayaran
dilakukan dengan cara pemindahbukuan juga berlaku sebagai bukti
pembayaran.
BAB XVII
KADAWARSA

Pasal65
(1) Hak untuk melakukan penagihan pajak, kadaluarsa setelah melampaui
jangka waktu 5 (lima) tahun terhitung sejak saat terhutangnya pajak,
kecuali apabila Wajib Pajak melakukan tindakan pidana dibidang
perpajakan daerah.
(2) Kadaluarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tertangguh apabila :
a. Diterbitkansurat teguran dan surat paksa atau
b. Ada pengakuan hutang pajak dari Wajib Pajak baik langsung maupun
tidak langsung.
BAB XVIII
KETENTUAN PIDANA

Pasal 66
(1) Wajib Pajak yang karena kealpaan tidak menyampaikan SPTPD atau
mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan
keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan daerah dapat
dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan atau
denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak yang terutang.
(2) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau
mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan

274

TIndak Pidana sebagaimana dimaksud daJam pasal 64 tidak dituntut setelah


melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahWl sejak saat ten.dan!:Jlyapajak.
BAB XIX
PENYIDIKAN

Paul 68
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah
diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk meIakukan penyidikan
tindak pidana dibidang perpajakan daerah sebagaimana dimaksud daIam
Undang-Undang No. 8 TahWl1981 tentang Hukwn AJ:araPidana.
(2) Wewenang Penyidiksebagaimana dirnaksud pada ayat (1) adalah :
a. Menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau
laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah
agar keterangan atau laporan tersebut menjadi Iebih Iengkapdan jeJas.
b. Meneliti, mencari, dan mengumpulkan keterangan mengenai orang
pribadi atau badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan
sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daemh teIsebut.
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan
sehubungan dengan tindak pidana perpajakan daerah tersebut.
d. Memeriksa buku-buku, catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah teJsebut.
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti
pembukuan, pencatatan dan dokumerrdokumen lain, serta melakukan
penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.
f.

Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas


penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah tersebut.

g. Menyuruh berhenti dan atau melarang seseorang meninggalkan


ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsungclan

275

memeriksa identitas sese orang dan atau dokumen


sebagaimana dimaksud pada huruf e.

yang dibawa

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana perpajakan


daerah.
i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai
tersangka atau saksi.

Pasal70
Peraturan Daerah ini mulai berlaku sejak tanggal diundangkan. Agar supaya
setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Medan.

Pada tanggal

j. Menghentikan penyidikan.
k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidik~m
tindak pidana dibiclang perpajakan daerah menurut hukum yang dapat
dipertanggungjawakan.
(3)

Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) memberitahukan dimulainya


penyidikan clan penyampaian hasH penyidikan kepada Penuntut Umum,
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 8
tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
BAS XX
KETENnJAN PENUrUP

PasaI 69
(1)

(2)

Medan
23 Desember 2003.

Ditetapkan di

WALIKOTA
Dto.

DRS. H. ABDRLAH,

Diundangkan dalam Lembaran Daerah Kota Meclan.


Nomor
: 1 Seri B
Tanggal
: 23 Desember 2003

SEKRETARIS DAERAH KOTA MEnAN

Dengan berlakunya Peraturan Oaerah ini maka Peraturan Oaerah Kota


Medan No. 4 Tahun 2002 tentang Pajak Oaerah Kota Medan dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku lagi.
Apabila Wajib Pajak belum membayar atau melunasi pajak terutang yang
telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Oaerah yang sebelumnya telah
ada. maka pajak tersebut ditagih berdasarkan Peraturan Oaerah ini.

(3)

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Oaerah ini, akan diatur
kemudian dengan Keputusan Kepala Oaerah sepanjang menyangkut
tehnis pelaksanaannya.

(4)

Terhadap petugas pemungut atau Dinas Pengelola Pajak Daerah diberikan


upah pungut. yang besar dan tata caranya akan ditetapkan dengan
Keputusan KepaJa Oaerah.

(5)

Peraturan Oaerah ini disebut Peraturan Oaerah Tentang Pajak Oaerah


Kota Medan.

276

MEDAN

"I

DRS. H. RAMLI, MM
PEMBINA UTAMAMUDA
NIP. 400023264

277

Ak.MBA