Anda di halaman 1dari 6

sumber:www.oseanografi.lipi.go.

id

Oseana, Volume XXXIII, Nomor 1, Tahun 2008 : 19-24

ISSN 0216-1877

Isis hippuris LINNAEUS 1758 : OKTOKORAL


PENGHASIL ANTI VIRUS
Oleh
Anna E.W. Manuputty 1)
ABSTRACT
Isis hippuris LINNAEUS 1758 : OCTOCORALLIA WHICH PRODUCED WITHIN

ANTI-VIRUS. The Indo- West Pacific is known as the most diverse octocoral fauna of
the world. These organisms are vital components in the coral reef ecosystem and
some of them contribute substantially to the reef structure. In pharmacology and
biochemistry, the role of octocorals in the natural bioproducts have been already
known. A specific anti-viral substance which was isolated from Isis hippuris, is known
as hippuristanol. This compound has ability to slow down and possibly prevent
replication process of viruses. This paper describes biological aspects of Isis hippuris
and its role in the coral reef ecosystem as well as its chemical compound.

perairan dalam (oceanic) dan daerah abisal


(abyssal area). Jalur perairan dangkal antara
pulau-pulau di Indonesia-Filipina-New Guinea
telah dikenal sebagai tempat hidup dengan
kelimpahan tertinggi di dunia bagi jenis-jenis
oktokoral. Lokasi tersebut ditetapkan sebagai
pusat keanekaragaman oktokoral (FABRICIUS
& ALDERSLADE, 2001). Di jalur pulau-pulau
tersebut sebaran jenis oktokoral dibatasi oleh
posisi geografi yang makin ke garis lintang yang
lebih tinggi, jumlah jenis makin berkurang.
Demikian pula makin keluar ke arah timur
maupun ke arah barat dari perairan Indo-Pasifik,
jumlah jenis makin berkurang. Disamping itu,
hanya beberapa jenis oktokoral tertentu saja
yang dapat hidup di perairan yang dingin atau
perairan yang dalam.

PENDAHULUAN

Ekosistem terumbu karang di perairan


tropis sudah dikenal sebagai gudang
keanekaragaman biota. Di dalam ekosistem ini,
biota karang merupakan unsur utama pembentuk
maupun penyusun terumbu. Bersama dengan
berbagai biota lain termasuk tumbuhan, mereka
membentuk satu kesatuan dan saling
berinteraksi antara satu dengan lainnya.
Oktokoral, merupakan biota pennyusun
terumbu kedua sesudah karang batu. Oktokoral
ditemukan mulai dari perairan tropis sampai ke
kutub. Jenis-jenis oktokoral hidup pada habitat
dari daerah pasang surut (intertidal), dari muara
sungai berlumpur yang berair payau sampai ke

1)

Bidang Sumberdaya Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta.

19

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008

sumber:www.oseanografi.lipi.go.id

Penggolongan atau urutan sistematika hewan


ini, adalah sebagai berikut:
Filum
: Coelenterata
Kelas
: Anthozoa
Anak-Kelas
: Octocorallia
Bangsa
: Scleraxonia
Anak-Bangsa
: Calcaxonia
Suku
: Isididae
Marga
: Isis
Jenis
: Isis hippuris
LINNAEUS 1758

Isis hippuris LINNAEUS 1758


(Octocorallia, Calcaxonia, Isididae), merupakan
salah satu jenis oktokoral yang hidup di perairan
tropis Indo-Pasifik. Di Indonesia jenis ini
mendominasi perairan Indonesia bagian timur,
terutama perairan Maluku dan Papua. Jenis ini
dikelompokan dalam kelompok gorgonia,
yaitu kelompok oktokoral yang tumbuh dan
muncul dari substrat dasar dan mempunyai
kerangka dalam (aksial) yang kokoh.
Kerangka (aksial) terdiri dari gorgonin yang
keras dan padat, yang sama dengan zat tanduk
yang mengandung substansi kollagen dan
senyawa protein.
Dengan
berkembangnya
ilmu
pengetahuan, terutama di bidang kedokteran
dan farmasi, telah dilakukan isolasi senyawasenyawa aktif yang terkandung di dalam
jaringan tubuh biota yang hidup di laut.
Senyawa-senyawa tersebut telah diuji dan
berkhasiat sebagai senyawa anti-bakteri, antikanker maupun anti-virus. Dalam hal ini
oktokoral jenis Isis hippuris LINNAEUS 1758,
diketahui mengandung senyawa anti-virus.
Tulisan ini mengemukakan tentang biologi dari
jenis gorgonia Isis hippuris LINNAEUS 1758,
dan kandungan senyawa anti-virus yang ada di
dalam jaringan tubuhnya.

Secara sepintas di dalam air, koloni Isis


hippuris kelihatan mirip dengan koloni
kelompok akar bahar Rhumpella sp., terutama
pertumbuhan yang seperti semak dan
permukaan koloni yang halus. Perbedaan yang
khas adalah, Isis hippuris memiliki percabangan
yang cenderung ke arah kanan, dan ujung atas
koloni yang melengkung seperti busur. Demikian
pula ukuran dan bentuk cabang-cabang,
Rhumpella sp. memiliki cabang yang agak
panjang, sedangkan Isis hippuris lebih pendek
dengan ujung cabang lebih bulat. (GRASSHOF
& BARGIBANH, 2001). Tekstur tubuh dan
koloni Rhumpella sp. lebih lentur dan melambailambai bila datang arus atau ombak, sedangkan
Isis hippuris agak kaku dan hanya sedikit
bergoyang bila kena ombak.

ASPEK BIOLOGI Isis hippuris

Morfologi dan Anatomi

Sistematika dan Ciri-ciri

Bentuk koloni seperti pohon, bercabang


dengan percabangan vertikal, lebih menyerupai
bidang datar seperti kipas, namun kadangkadang pola percabangan juga bervariasi, dapat
bercabang tak beraturan seperti semak. Koloni
dengan bentuk pertumbuhan seperti semak
umumnya pendek-pendek, sedangkan yang
pertumbuhannya membentuk satu bidang datar
lebih tinggi dan dapat lebih dari satu meter.
Percabangan cenderung lebih rimbun dan
condong ke arah kanan. Walaupun demikian,
pertumbuhannya tetap tegak lurus. Kadangkadang koloni tampak melengkung seperti busur

Bentuk pertumbuhan oktokoral pada


umumnya seperti pohon, muncul dari dasar
substrat atau melekat di dasar perairan yang
keras. Fauna ini termasuk kelompok gorgonia,
tekstur tubuh kokoh, karena disangga oleh
kerangka yang keras. Isis hippuris,
dikelompokkan ke dalam kelompok gorgonia
karena tumbuh dan muncul dari substrat dan
memiliki kerangka internal yang kokoh yang
terdiri dari zat gorgonin yang dibalut oleh
lapisan koenensim sebagai tempat tumbuhnya
polip (istilah untuk satu individu hewan karang).

20

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008

sumber:www.oseanografi.lipi.go.id

memiliki bentuk koloni seperti pohon, muncul


dari dalam substrat, tumbuh tegak dengan
medula yang identik dengan batang pada
tumbuhan. Medula sangat kokoh dan kemudian
membentuk cabang-cabang. Di bagian dalam
batang maupun cabang ditemukan axis yang
mengandung zat gorgonin yang keras. Axis
dibalut oleh lapisan koenensim yang agak lunak
dan merupakan tempat hidup polip (Gambar 1).
Polip yang tumbuh di lapisan koenensim
bersifat monomorfik yaitu hanya mempunyai
satu tipe polip yang disebut autosoid. Polip
autosoid merupakan polip yang berkembang
baik, memiliki tentakel, berfungsi dan
bertanggung jawab dalam kegiatan menangkap
makanan maupun proses reproduksi. Polip
tersusun melingkari cabang dan dapat ditarik
masuk ke dalam koenensim sehingga permukaan
cabang tampak licin dan halus.

atau tempat lilin. Tekstur cabang agak licin,


berbentuk silinder dengan ujung yang
membulat, tampak agak kasar bila polip
berkontraksi. Polip tumbuh di lapisan luar yaitu
lapisan koenensim. Lapisan koenensim ini
membalut "axis" (kerangka dalam zat tanduk)
yang mempunyai ciri khas yaitu bersegmen dan
berwarna coklat kehitaman dan putih dan di
bagian ini tidak ada spikula.
Pada beberapa jenis dari kelompok
gorgonia, kadang-kadang lapisan koenensim
disusun oleh senyawa kapur dalam bentuk
spikula yaitu partikel kapur dengan bentuk
seperti jarum yang bentuknya berbeda antara
masing-masing jenis. Bentuk kharakteristik dari
spikula ini dipakai sebagai salah satu panduan
dalam proses identifikasi sampai ke tingkat jenis.
Pada umumnya, jenis Isis hippuris,
bangsa Scleraxonia, anak bangsa Calcaxonia,

Gambar 1. Penampang melintang cabang dari kelompok Calcaxonia.


(Ax : axis; Pol: polip dan Cn : koenensim).

21

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008

sumber:www.oseanografi.lipi.go.id

yang agak besar mengelilingi ujung bagian atas


atau bagian kepala (terminal wart). Ukuran
spikula di bagian dalam koenensim lebih besar,
bentuk seperti kumparan (spindle), agak lonjong
dengan 6-8 tonjolan karangan duri yang
mengelilingi kumparan. Variasi bentuk dan
ukuran spikula juga tergantung pada letak
geografi dan lingkungan, dimana jenis ini berada.
Pada lokasi yang sama, tetapi kedalaman yang
berbeda, bentuk maupun ukuran spikula dapat
berbeda. Bentuk spikula pada Isis hippuris
dapat dilihat dalam Gambar 2.
Jika bagian lapisan koenensim dibuka
maka terlihat kerangka medulla (axis) yang
berwarna putih, diselingi warna coklat
kehitaman. Bagian yang putih disebut
internodus, sedangkan bagian yang berwarna
coklat kehitaman yang kelihatan seperti sendi,
disebut nodus (Gambar 3). Bagian nodus ini
merupakan titik tumbuh "cabang-cabang" yang
baru.

Sklerit (spikula)
"Sklerit" merupakan nama umum untuk
kerangka dalam oktokoral yang berupa butiran
kalsium karbonat yang terdapat di dalam
jaringan endodermis. Istilah "spikula" biasanya
dipakai untuk bentuk sklerit yang ujungujungnya runcing. Pada anggota oktokoral.
peranan spikula sangat penting sebagai
kerangka dalam untuk menyangga jaringan
tubuh sehingga dapat tumbuh tegak. Pada Isis
hippuris, spikula hanya terdapat pada lapisan
koenensim. Lapisan koenensim mengandung
spikula dengan kepadatan dan bentuk yang
bervariasi. Spikula ini dipakai sebagai kunci
identifikasi. Spikula atau sklerit diambil dari
bagian permukaan dan bagian dalam dari
koenensim. Di bagian permukaan, bentuk sklerit
seperti gada kecil (club), ujung bawah
meruncing, dengan tiga tonjolan karangan duri

Gambar2. Sklerit pada lapisan koenensim


yang dicuplik dari permukaan dan
bagian interior (FABRICIUS &
ALDERSLADE, 2001).

Gambar3. Bagian axial dari Isis hippuris,


(No : nodus; In : internodus)
(FABRICIUS & ALDERSLADE,
2001).

22

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008

sumber:www.oseanografi.lipi.go.id

senyawa aktif yang ada di dalam jaringan


tubuh hewan ini digunakan sebagai
pertahanan, pembentukan dan pemekaran
koloni secara cepat maupun dalam usaha
memperebutkan lahan tempat hidup bagi
perluasan koloni. Karang lunak mempunyai
sifat "allelopatik" yang dipakai sebagai
strategi untuk merebut lahan dari karang baru.
Beberapa senyawa bioaktif dari
organisme laut terutama dari anggota kelompok
oktokoral yang dikumpulkan dari perairan
Okinawa Jepang, telah diketahui khasiatnya
sebagai anti-bakteri, anti-virus, bahkan antikanker. Dari jenis oktokoral Isis hippuris yang
banyak ditemukan di perairan Okinawa, telah
diisolasi senyawa bioaktifnya. Jaringan tubuh
gorgonian ini dimasukkan ke dalam larutan
methanol, dihancurkan, kemudian diisolasi
kandungan steroidnya dan diperoleh senyawa
yang dinamakan Hippuristanol. Hippuristanol
sifatnya sitotoksik, yaitu mempengaruhi sel
dalam suatu jaringan dengan kandungan
racunnya. Para ahli biokimia dari McGill
University Canada kemudian melakukan tes
kemampuan terapi dari senyawa ini secara in
vitro dan in vivo pada hewan percobaan. Hasil
tes membuktikan bahwa senyawa steroid ini
mampu menghentikan serangan virus pada saatsaat kritis yang dialami hewan percobaan.
Mekanisme kerja senyawa Hippuristanol ialah
dengan menghambat fase awal dari fungsi dari
protein -eIF4A- yang berperan sebagai motor
molekuler pembentuk protein, di tempat mana
virus tersebut berada dan menyerang. Dengan
terhambatnya pembentukan protein, terhambat
pula perkembangan virus. Eksperimen ini
menunjukkan
bahwa
hippuristanol
memperlambat perkembangbiakan virus polio,
tanpa mengganggu pembentukan protein pada
sel-sel yang tidak terinfeksi. Belakangan telah
teruji juga bahwa hippuristanol dapat membantu
dalam pengobatan kanker, dan dipakai dalam
proses kemoterapi.

Warrna koloni, kuning cerah, kuning


kehijauan atau coklat muda. Warna koloni ini
dipengaruhi oleh kandungan pigmen dari alga
uniseluler (zooxanthellae) yang hidup
bersimbiosis di dalam jaringan koenensimnya.
Habitat dan Sebaran
Isis hippuris rumbuh di perairan tropis
yang dangkal dan jernih, jauh dari sedimentasi
dan hempasan ombak. Di perairan Great Barrier
Reef, Australia, kelimpahan tertinggi dicatat di
daerah "mid-shelf reefs" dimana lebih terlindung
dari hempasan ombak (FABRICIUS & DE'ATH,
1997). Di perairan Pulau-Pulau Padaido, Biak,
terutama Pulau-Pulau Padaido Atas, jenis ini
ditemukan melimpah di rataan terumbu pada
kedalaman 1-2 m (CRITC-COREMAP, 2006).
Ditinjau dari sebaran, jenis ini tersebar
di perairan Andaman, Filipina, Tawan, Palau,
Indonesia, Papua Nugini, Great Barrier Reef dan
Kepulauan Ryukyu Jepang.
Isis hippuris PENGHASIL STEROID
Senyawa-senyawa bioaktif dari biota
telah banyak terbukti peranannya dalam
berbagai bidang medis sebagai bahan baku
obat. Produk alam dari darat telah banyak diolah
sebagai bahan dasar dalam industri farmasi.
Untuk mengantisipasi agar tidak menipisnya
stok dari darat. Beberapa terobosan dilakukan
untuk mencari sumber yang baru dari laut. Para
pakar farmasi dan biokimia, sudah lama
mengalihkan penelitian untuk mencari produk
alam baru, dari daratan ke lautan. Beberapa
hewan maupun tumbuhan laut juga diketahui
mengandung senyawa aktif di dalam jaringan
tubuhnya, dan dapat diisolasi dan diekstraksi
sebagai senyawa bioaktif dari laut. Produk alam
laut dari karang lunak dan gorgonian yaitu dari

marga Sarcophyton, Eleutherobia dan


Plexaura telah diuji nilai farmakologinya dan
telah terbukti khasiatnya. Umumnya kandungan

23

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008

sumber:www.oseanografi.lipi.go.id

DAFTAR PUSTAKA

Struktur/rumus molekul Hippuristanol adalah


sebagai berikut

CRITC-COREMAP LIPI 2006. Studi


Baseline Ekologi di perairan Padaido
Biak Timur. Laporan Penelitian: 64 hal.

Hippuristanol (C28 H40 O5)

GRASSHOF and B. BARGIBANH 2001. Coral


reef gorgonians of New Caledonia,
Paris. Editions de FIRD: 335 pp.
FABRICIUS, K. and PALDERSLADE 2001. Soft
Corals and Sea Fans. A comprehensive
guide to the tropical shallow-water
genera of the Central-West Pacific, The
Indian Ocean and Red Sea. AIMS
Published, Townsville: 264 pp.

Bentuk molekul steroid Hippuristanol


disebut cincin spiroketal (spiroketal ring), cara
kerjanya lebih aktif dibandingkan dengan yang
bentuk molekulnya sederhana (TANAKA et al.,
1981).
Peranan Hippuristanol dalam dunia
kedokteran sangat membantu, terutama dapat
memperlambat dan mencegah perkembangbiakan virus, demikian juga dapat memperlambat
dan menghambat penyebaran sel kanker, dimana
secara ironis diketahui bahwa obat-obatan
antibiotik dan obat-obat modern lainnya belum
dapat mematikan virus.

FABRICIUS, K and G. DE'ATH 1997. The


effects of flow, depth and slope on
cover of soft coral taxa and growth
forms on Davies Reef, Great Barrier
Reef. Proc. of the 8th Coral Reef Symp.,
Panama Vol.2:1071-1076.
TANAKA, H.T.; J. YASUMASA and K.
HIROYUKI 1981. Hippuristanols,
cytotoxic polyxygenated steroids from
the gorgonian isis hippuris. Chem. Lett.
11:1647-1650.

24

Oseana, Volume XXXIII No. 1, 2008