Anda di halaman 1dari 25

POTENSI SUMBER DAYA TERUMBU KARANG DI INDONESIA

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Oseoanografi
Yang Dibina Oleh Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si

Oleh
Kelompok 8
Agung Wahyudi

120721403797

Ayu Saidatuz Zulva

120721435459

Endang Wijaya Tri Pamnungkas

120721403796

Fara Dina Fildzah

120721435395

Inayatul Musyrifin

120721403769

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
November 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Sumber daya terumbu karang dan ekosistemnya merupakan kekayaan
alam bernilai tinggi, sehingga diperlukan pengelolaan yang berwawasan
lingkungan dan berkelanjutan. Terumbu karang merupakan rumah bagi 25%
dari seluruh biota laut dan merupakan ekosistem di dunia yang paling rapuh
dan mudah punah. Oleh karena itu pengelolaan ekosistem terumbu karang
demi kelestarian fungsinya sangat penting.
Kekayaan nilai dalam ekosistem terumbu karang menyumbang
manfaat yang sangat besar dan beragam dalam pembangunan kelautan.
Sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan suatu daerah maka
eksploitasi sumber daya alam termasuk sumber daya terumbu karang dan
ekosistemnya yang dilakukan secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan
kelestariannya

akan

berdampakpada

menurunnya

lingkungan

hidup

masyarakat di sekitar terumbu karang berada, termasuk sumber daya terumbu


karang itu sendiri dan ekosistimnya.
Pemerintah dan masyarakat sekitar disekitar terumbu karang berapa
merupakan kalangan yang paling berkepentingan dan pemanfaatannya.
Sebaliknya, kalangan ini pula yang akan menerima akibat yang timbul dari
kondisi baik maupun buruknya ekosistem ini. Oleh karena itu pengendalian
kerusakan terumbu karang sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian
fungsi ekosistem yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Diperlukan upaya di setiap tingkat kebijakan (daerah hingga nasional)
maupun tiap komponen (pengelola, pemanfaatan, dan pihak terkait lainnya)
untuk menjaga dan melestarikan keberadaan sumber daya terumbu karang
dan ekosistimnya, disamping upaya menghentikan laju degradasi terumbu
karang sehingga degradasi terumbu karang sehingga tidak semakin luas.
Semuanya

dilakukan

berkelanjutan.

dalam rangka menunjang pembangunan

yang

2. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
A. Bagaimana potensi dan persebaran terumbu karang di indonesia?
B. Bagaiamana manfaat terumbu karang di Indonesia?
C. Bagaimana kerusakan terumbu karang yang ada di Indonesia?
D. Bagaimana penanggulangan atau solusi dari kerusakan terumbu karang
di Indonesia?
3. TUJUAN
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui:
A. potensi dan persebaran terumbu karang di indonesia
B. manfaat terumbu karang di Indonesia
C. kerusakan terumbu karang yang ada di Indonesia
D. penanggulangan atau solusi dari kerusakan terumbu karang di
Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

1. POTENSI DAN PERSEBARAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA


A. POTENSI
Terumbu karang merupakan terumbu yang terbentuk dari kapur
yang sebagian besar dihasilkan dari koral. Terumbu itu sendiri berarti
batuan sedimen kapur di laut. Koral adalah binatang yang menghasilkan
kapur untuk kerangka tubuhnya. Jika ribuan koral membentuk koloni,
mereka akan membentuk karang. Terumbu karang banyak tumbuh di
daerah tropis. Terumbu karang akan tumbuh dengan baik pada suhu
perairan laut antara 21OC - 29OC dan akan tumbuh dengan baik pada
kondisi air yang jernih dan dangkal. Kedalaman air yang baik untuk
pertumbuhan terumbu karang tidak lebih dari 18 meter. Jika lebih besar
dari kedalaman tersebut, pertumbuhan terumbu karang juga kurang baik.
Selain persyaratan tersebut, terumbu karang juga mensyaratkan salinitas
atau kandungan garam air laut yang tinggi. Oleh karena itu, terumbu
karang sulit hidup di sekitar muara sungai karena kadar garam air lautnya
menurun akibat masuknya air sungai ke laut.

Jika dilihat dari peta persebaran terumbu karang di dunia. Terumbu


karang banyak terdapat di daerah tropis termasuk Indonesia. Indonesia
salain berada didaerah tropis tapi juga merupakan negara kepulauan
sehingga indonesia memiliki potensi sumber daya laut yang melimpah.
Indonesia sendiri menempati peringkat teratas untuk luas dan kekayaan
jenis terumbu karangnya dengan luas sebesar 14% dari lauas terumbu
karang di dunia. Potensi sumber daya laut yang ada di Indonesia salah
satunya adalah terumbu karang. Banyak tempat tempat di Indonesia yang
mempunya potensi sumber daya alam berupa terumbu karang yang sudah
mulai terkenal di mancanegra seperti raja ampart, lombok, pantai bunaken,
dan bali.
Potensi persebaran terumbu karang di Indonesia banyak ditemui di
wilayah kepulauan bagian timur Indonesia meliputi Bali, Flores, Banda
dan Sulawesi, karena di Indonesia bagian timur termasuk dalam kawasan
coral triangle. Namun juga terdapat di perairan Sumatera dan Jawa. Jenis
terumbu karang di Indonesia ada 3 yaitu terumbu karang tepi, penghalang
dan atol). Namun tipe terumbu karang tepi yang dominan di Indonesia.

Terumbu karang tepi ini dapat dijumpai atau tersebar sepanjang pesisir
Sulawesi, Maluku, Barat dan Utara Papua, Madura, Bali, dan sejumlah
pulau-pulau kecil di luar pesisir Barat dan Timur Sumatera.

Tipe terumbu karang yang mengumpul / Patch Reefs paling baik


terbentuk di wilayah Kepulauan Seribu, sedangkan terumbu karang

penghalang paling baik terbentuk di sepanjang tepi Paparan Sunda,


bagian Timur Kalimantan dan sekitar Kepulauan Togean (Sulawesi
Tengah).

Atol, contohnya Taka Bone Rate di Laut Flores merupakan atol


terbesar ketiga di dunia, Maratua (Kalimantan Selatan), Pulau Dana
(NTT), Mapia (Papua).

B. PERSEBARAN
a. Sulawesi
a) Taman Nasional Takabonerate
Taman Nasional Takabonerate ini terletak di Sulawesi Selatan dan
berbatasan juga dengan Laut Flores. Taman Nasional Takabonerate
ini merupakan atol terbesar ketiga di dunia. ini Taman Nasional
Takabonerate memiliki biodiversitas biota dan terumbu karang
yang sangat tinggi serta beragam.

Kawasan

Atol

TN

Takabonerate

id.wikipedia.org)
b) Bunaken (Manado, Sulawesi Utara)

dari

udara

(Sumber:

Bunaken memiliki luas kurang lebih sekitar 8 km yang terletak di


Teluk Manado. Di sekeliling Bunaken, ada taman laut yang juga
bagian Taman Nasional Kelautan Manado Tua. Bunaken juga
merupakan salah satu taman laut yang mempunyai biodiversitas
laut tertinggi dunia. Tipe terumbu karang tepian (fringing reff)
terdiri dari dataran terumbu (reff flat) yang dangkal, puncak
terumbu dan lereng terumbu, yang bersatu dengan daratan dan
tidak dipisahkan oleh gobah dengan luas sekitar 531,4 hektare.
Ekosistem terumbu karang, terutama yang tersusun dari berbagai
jenis karang batu (hermatipik), dan aneka ragam warna-warni ikan
hias menempati koloni karang Stylophora, dan biota lautnya
merupakan yang terunik di dunia.

c) Wakatobi, Sulawesi tenggara


Di taman ini terdapat panorama keindahan alam bawah laut yang
memiliki 25 buah gugusan terumbu karang. Gugusan terumbu
karang dapat dijumpai sekitar 112 jenis dari 13 famili yang terletak
pada 25 titik di sepanjang 600 km garis pantai. Adapun jenis
karang tersebut diantaranya: Acropora Formosa, Hyacinthus,
Psammocora profundasafla, Pavona cactus, Leptoseris yabei,
Fungia molucensis, Lobophyllia robusta, Merulina ampliata,
Platygyra versifora, Euphyllia glabrescens, Tubastraea fronds,
Stylophora pistillata,Sarcophyton throchelliophorum, Sinularia
spp.

b. Nusa Tenggara
a) Lombok
Pada tahun 2012, Wildlife Conservation Society (WCS)
Indonesia melanjutkan kajian ekologi terumbu karang di wilayah
perairan Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah dan Lombok
Timur. Hasil kajian ini menemukan bahwa kekayaan ekosistem
terumbu karang di pulau Lombok, terdiri dari 66 genera karang
keras yang berasal dari 17 famili karang keras. Secara umum
kondisi ekosistem terumbu karang di perairan pulau Lombok
mengalami

kerusakan,

hasil

observasi

menemukan

bahwa tutupan substrat terumbu karang di Pulau Lombok


didominasi oleh karang mati beralga sebesar 42,62%, sedangkan
tutupan karang keras hanya sebesar 29,52%. Lokasi dengan
tutupan karang keras tertinggi ditemukan di Kabupaten Lombok
Barat sebesar 35.52%, sedangkan yang terendah ditemukan di
Kabupaten Lombok Utara sebesar 22,78%.

Foto: WCS
b) Flores
Paradise underwater, demikian sebutan bagi keindahan
bawah laut di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) yang
juga identik dengan komodo yang langka itu. Taman bawah laut
TNK yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Sekitar 75% jenis
terumbu karang di dunia dapat ditemukan di kawasan Segitiga
Terumbu Karang. Terdapat sekira 3.000 spesies ikan, termasuk
2.228 jenis ikan karang, 500 jenis karang, enam dari tujuh jenis

penyu laut, dan beragam biota laut lainnya. Kawasan Segitiga


Terumbu Karang ini juga merupakan tempat tinggal lebih dari
130 juta manusia yang sangat bergantung kepada laut sebagai
sumber makan dan penghasilan. Oleh karenanya, World Wildlife
Fund menobatkan Segitiga Terumbu Karang sebagai salah satu
dari prioritas utama konservasi kehidupan tahun 2007.

c) Sumbawa
Potensi keanekaragaman hayati bawah laut Sumbawa dan
Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, memang mengagumkan.
Wilayah yang masuk dalam Lesser Sunda Seascape ini
merupakan habitatnya terumbu karang yang ada di dunia.
Berdasrkan survei yang dilakukan Wildlife Conservation Society
(WCS) dan Marine Protected Areas Governance (MPAG. Pulau
Sumbawa terdapat 69 genera karang keras yang berasal dari 16
famili karang keras dengan rata-rata tutupan sebesar 38,08%
(kategori sedang). Sementara, tutupan karang keras tertinggi
ditemukan di lokasi pengamatan Selatan Pulau Liang, Teluk
Saleh sebesar 70,5% (kategori baik). Sedangkan yang terendah
ditemukan di lokasi pengamatan Pulau Temudong sebesar 5,75%
(kategori buruk).

Keanekaragaman hayati di Pulau Kenawa, Sumbawa Barat.


Foto: WCS

c. Bali
Nusa Penida menyimpan pesona alam bawah laut yang tak kalah
mengagumkan dari tetangganya tersebut. Bahkan, bisa dikatakan,
terumbu karang di perairan sekeliling Nusa Penida jauh lebih unggul
dalam aspek keanekaragaman hayati. Tak kurang dari 200 spesies
terumbu karang dan 500 spesies ikan hidup di perairan dangkal di
sekeliling pulau seluas 200 kilometer persegi ini.
Bahkan Di Laut Candidasa, Karangasem, ditemukan spesies
karang baru dan terumbu karang tersebut murni endemik Bali. Karang
itu ialah satu-satunya di dunia, Uephyllia Bliensis yang hidupnya
berkoloni. Dapat membesar seukuran meja, adapun yang lebih kecil dan
lebih besar lagi. Karang ini berada pada satu kawasan. Keberadaannya
masih sangat baik sampai saat ini. Dia berada pada kedalaman 29
meter.

Uephyllia Baliensis, terumbu karang langka yang hidup di perairan


Bali dan berada pada kedalaman 29 meter.

d. Jawa
a) Pulau Seribu, Jakarta
Ekosistem terumbu karang di perairan Kepulauan Seribu pada
umumnya berbentuk fringing reef (karang tepian) dengan kedalaman
1 - 20 meter. Jumlah jenis karang keras (hard coral) yang ditemukan
di perairan TNKpS adalah sebanyak 62 marga dengan kelimpahan
46.015 individu/ha (pada tahun 2005) dan 61 marga dengan
kelimpahan 35.878 individu/ha. Jenis-jenis karang keras yang dapat
ditemukan seperti karang batu (massive coral) misalnya Montastrea
dan Labophyllia, karang meja (table coral), karang kipas (Gorgonia),
karang daun (leaf coral), karang jamur (mushroom coral), dan jenis
karang lunak (soft coral) sebanyak 29 marga dengan kelimpahan
62.985 individu/ha. Beberapa tipe koloni karang yang ada antara lain
Acropora tabulate, Acropora branching, Acropora digitate, Acropora
submassive, branching, massive, encrusting, submassive, foliose dan
soft coral. Beberapa jenis karang yang telah menjadi komoditi
komersial antara lain Acropora sp., Porites sp., Favia sp., Gorgonian
sp., dan Akar Bahar atau Black Coral (Antiphates sp.) yang
merupakan salah satu jenis biota laut yang masih dalam Appendix 2
CITES. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kondisi
rata-rata tutupan karang di TNKpS mengalami peningkatan. Adapun
perkembangan tutupan karang padatan pada tahun 2003 sampai
dengan 2009, yaitu 33,00% (2003), 31,98% (2005), 33,44% (2007)
dan 34,60% (2009). Kondisi tutupan karang di Zona Pemanfaatan
Wisata adalah 30,67% (2003), 40,05% (2005), 31,50% (2007) dan
38,6% (2009). Adapun kondisi tutupan karang di Zona Permukiman
adalah 40,63% (2003), 31,98% (2005), 33,44% (2007) dan 34,1%
(2009).

b) Karimunjawa, Jawa Tengah


Ekosistem terumbu karang terdiri dari 3 tipe terumbu, yaitu
terumbu karang pantai (fringing reef), penghalang (barrier reef) dan

beberapa taka (patch reef). Lebih lanjut WCS menyebutkan bahwa


penutupan karang di Kepulauan Karimunjawa berada pada kisaran
buruk

hingga

baik

(10-75%).

WCS

(2003)

dalam

penelitiannya menyatakan bahwa ekosistem terumbu karang di


Kepulauan Karimunjawa terdiri atas 64 genera karang dengan satu
jenis karang yang hampir punah adalah karang musik/merah
(Tubipora musica).

e. Kepulauan Riau
Di kawasan perairan ditemukan keanekaragaman jenis karang
yang cukup tinggi terutama dari genus Acropora. Jenis karang yang
ditemukan adalah coral submassive, Acropora tabulate, Acropora
branching, Acropora digitata, dan coral mushroom. Jenis ikan yang
banyak ditemukan di perairan adalah tenggiri, cakalang, sunu, kerapu,
hiu, selar, dan lain-lain. Ikan hias menjadi favorit untuk diekspor adalah
ikan ekor kuning (Caesio sp)
f. Kepulauan Derawan
Terumbu karang di Kepulauan Derawan tersebar luas pada
seluruh pulau dan gosong yang ada di Kepulauan Derawan. Gosonggosong yang ada di kepulauan ini diantaranya Gosong Pulau Panjang,
Gosong Masimbung, Gosong Buliulin, Gosong Pinaka, Gosong
Tababinga dan Gosong Muaras. Tipe terumbu karang di Kepulauan
Derawan terdiri dari karang tepi, karang penghalang dan atol. Atol inilah
yang telah terbentuk menjadi pulau dan terbentuk menjadi danau air asin.
"Survei Manta Tow 2003" menunjukkan tutupan rata-rata terumbu

karang di Pulau Panjang adalah 24,25% untuk karang keras dan 34,88
untuk karang hidup. Terumbu karang di Pulau Derawan memiliki tutupan
rata-rata karang karang keras 17,41% dan tutupan karang hidup 27,78%.
Dengan jumlah spesies 460 sampai 470 menunjukkan bahwa ini menjadi
kekayaan biodiversitas nomor dua setelah Kepulauan Raja Ampat.
g. Papua
Pulau Raja Ampat merupakan fenomena alam yang menawan
dengan keanekaragaman hayati melimpah. Ada 540 jenis karang dan
1.511 spesies ikan di Raja Ampat; 75% seluruh spesies karang yang ada
di dunia; 10 kali lipat jumlah spesies karang yang ditemukan di seluruh
Karibia; terdapat pula 5 spesies penyu laut langka; 57 spesies udang
mantis; 13 spesies mamalia laut; dan 27 spesies.

2. MANFAAT TERUMBU KARANG


A. MANFAAT EKOLOGI
a. Penunjang Kehidupan
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem, sehingga menunjang
kehidupan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di sekitar terumbu
karang. Dengan adanya terumbu karang, maka tumbuhan dan hewan laut
lainnya dapat tinggal, mencari makan, dan berkembang biak di terumbu
karang. Contohnya hewan-hewan laut seperti lili laut, kerang, cacing, dan
tumbuhan alga dapat menempel pada koloni karang keras. Ikan-ikan dapat
mencari makan dan bersembunyi dari incaran hewan pemangsa di balik
koloni karang keras.
b. Mengandung Keanekaragaman Hayati yang Tinggi

Jika hutan hujan tropis memiliki biodiversitas tertinggi dibandingkan


ekosistem lainnya dalam tingkatan spesies, terumbu karang memiliki
biodiversitas

tertinggi

dalam

tingkatan

filum.

Terumbu

karang

juga merupakan ekosistem dengan biodiversitas tertinggi dibandingkan


ekosistem pesisir dan laut lainnya, dalam unit skala tertentu. Artinya dalam
luas 1 km2 di wilayah terumbu karang mengandung lebih banyak spesies
dibandingkan dengan 1 km2 di wilayah laut dalam.
Terumbu karang di Indonesia terkenal dengan kekayaan dari
biodiversitasnya. Dari sekitar 800 spesies karang keras yang berhasil
diidentifikasi

di

dunia,

sekitar

450

di

antaranya

ditemukan

di

Indonesia. Spesies ikan karang Indonesia sendiri mencapai lebih dari 2.400
spesies (Tomascik dkk., 1997). Dengan memiliki biodiversitas yang tinggi,
maka

itu

akan

menjadi

sumber

keanekaragaman

genetik

dan

spesies. Dengan adanya keanekaragaman genetik yang tinggi maka akan


ditemukan banyak variasi dalam makhluk hidup sehingga tingkat ketahanan
terhadap penyakit dan kemampuan bertahan hidup suatu makhluk hidup
dapat menjadi lebih tinggi. Selain itu, dengan begitu banyaknya spesies
maka akan dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan obat-obatan.
c. Pelindung Wilayah Pantai
Terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau merupakan
ekosistem yang saling berhubungan. Terumbu karang-lah yang pertama kali
menghalau ombak besar dari laut, agar tidak merusak daratan. Kemudian
ombak tiba di padang lamun maka energinya akan diperkecil lagi oleh daundaun tumbuhan lamun. Ketika ombak tiba di dekat pantai, maka akar dan
batang pohon-pohon mangrove akan memperkecil lagi energi ombak,
sehingga ombak tidak merusak pantai. Dengan demikian kehidupan di
sekitar pantai akan terlindung.

Terumbu karang bermanfaat dalam

menghalangi pengikisan akibat energi ombak dan arus, sehingga masalah


abrasi pantai akan lebih mudah diatasi.
d. Mengurangi Pemanasan Global

Terumbu karang memiliki peran untuk menyerap gas CO2 hasil


pembakaran. Gas CO2 juga banyak diserap oleh air laut, dan selanjutnya
melalui reaksi kimia dan bantuan karang, akan diubah menjadi zat kapur
yang menjadi bahan baku terumbu (Muller-Parker & DElia, 1997). Dalam
proses yang disebut kalsifikasi ini, karang juga dibantu oleh zooxanthellae
(tumbuhan

bersel

satu

yang

hidup

di

dalam

jaringan

tubuh

karang). Bagaimana hal itu dapat terjadi akan diterangkan di bagian Biolog
Karang.
B. MANFAAT EKONOMI
a. Sumber Makanan
Di terumbu karang kita dapat menemui banyak sekali jenis
tumbuhan dan hewan laut yang dapat kita manfaatkan sebagai sumber
makanan. Contohnya alga atau rumput laut yang dapat kita jadikan agaragar. Selain itu berbagai jenis ikan, udang, kepiting, dan teripang
merupakan sumber protein. Dari 1 km2 terumbu karang yang sehat dapat
diperoleh sekitar 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan sekitar
1.200 orang setiap tahunnya (Burke dkk., 2002). Cesar (1996) menyebutkan
5 10 % hasil perikanan laut berasal dari terumbu karang.
b.

Sumber Bahan Dasar Untuk Obat-obatan dan Kosmetika


Beberapa jenis dari alga atau rumput laut, dapat digunakan sebagai
bahan dasar untuk keperluan kosmetik (dijadikan sabun), dan juga untuk
membalut kapsul obat. Selain itu hewan laut seperti spon dan tunicata
(Ascidian) yang ada di terumbu karang, diketahui memiliki senyawa kimia
yang berguna untuk bahan antibiotika, anti radang, dan anti kanker. Namun
demikian, masih banyak potensi biota laut bagi industri obat dan bahan
kimia, yang belum digali.

c. Sebagai Objek Wisata

Terumbu karang juga memiliki keindahan karena adanya berbagai


jenis karang, ikan, lili laut, teripang, kerang-kerangan, siput laut, dan lain
sebagainya, yang membuat takjub para wisatawan. Terumbu karang dapat
menjadi objek wisata melalui kegiatan snorkeling, menyelam, ataupun
hanya melihat keindahannya dari atas kapal yang dilengkapi kaca pada
lantainya (glass bottom boat).
d. Sebagai Sumber Mata Pencaharian
Adanya terumbu karang dapat menunjang perekonomian masyarakat
di

sekitarnya.

Masyarakat

memiliki

lapangan

pekerjaan

sebagai

nelayan. Apabila terumbu karang dikembangkan menjadi suatu objek


wisata yang mengundang banyak turis, maka masyarakat dapat menjadi
menjadi pemandu wisata, membuka usaha warung makanan, menyewakan
penginapan, menyewakan kapal, menjual cenderamata ke turis, dan lain
sebagainya.
e. Sebagai Sumber Bibit Budidaya
Berbagai jenis ikan, teripang dan rumput laut, yang ada di terumbu
karang, dapat dijadikan bibit untuk usaha budidaya. Contohnya ikan
kerapu, ikan kakap, rumput laut dari Marga Eucheuma dan Gracilaria, dan
teripang dari Marga Holothuria.
Berdasarkan Riopelle (1995) (lihat Cesar (1996) , yang mengkalkulasi
nilai ekonomi dari 1 km2 terumbu karang di wilayah Lombok Barat, dimana
terumbu karangnya dimanfaatkan secara optimal (tidak saja untuk sumber
perikanan dan pelindung pantai, namun juga untuk kegiatan wisata),
sehingga diperkirakan 1 km2 terumbu karang di Lombok Barat bernilai
sekitar US $ 1 juta.
C. MANFAAT SOSIAL
a. Menunjang Kegiatan Pendidikan dan Penelitian

Terumbu karang dapat menjadi sarana yang ideal bagi kegiatan


pendidikan untuk mengenal ekosistem pesisir, mengenal tumbuhan dan
hewan laut, dan pendidikan cinta alam. Antara lain karena terumbu karang
ada di perairan yang dangkal, sehingga mudah dijangkau, dan memiliki
keanekaragaman hayati yang tinggi, sehingga banyak biota laut yang dapat
kita amati.
Selain

itu,

terumbu

karang

juga

berperan

sebagai

sarana

penelitian. Untuk melindungi terumbu karang dan biota laut yang hidup di
dalamnya, serta untuk dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan di
terumbu karang, maka perlu adanya berbagai jenis penelitian. Apabila kita
ingin mejaga kelestarian terumbu karang, maka kita perlu meneliti faktor
apa saja yang dapat mengancam kelestariannya, dan bagaimana memulihkan
terumbu karang yang terganggu, sehingga kita dapat melakukan upayaupaya yang diperlukan. Demikian pula apabila kita ingin melindungi satu
jenis spesies di terumbu karang maka kita perlu meneliti cara hidup spesies
tersebut, apa saja yang dimakannya, bagaimana cara berkembang biaknya,
dan lain sebagainya.
b. Sebagai Sarana Rekreasi Masyarakat
Terumbu karang dengan segala keindahannya dapat dijadikan sarana
rekreasi keluarga untuk melakukan aktivitas renang, dan lain sebagainya.
Selain itu, estimasi jenis manfaat yang terkandung dalam terumbu
karang dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu manfaat langsung dan manfaat
tidak langsung. Manfaat dari terumbu karang yang langsung dapat
dimanfaatkan oleh manusia adalah:
a.

sebagai tempat hidup ikan yang banyak dibutuhkan manusia dalam bidang
pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning), batu
karang,

b.

penelitian dan pemanfaatan biota perairan lainnya yang terkandung di


dalamnya. Sedangkan yang termasuk dalam pemanfaatan tidak langsung

adalah sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan


ombak laut.

e. KERUSAKAN TERUMBU KARANG


Berdasarkan Keputusan Menteri kelautan dan Perikanan no
KEP.38/Men/2004 Karang adalah kelompok hewan sesil bahari termasuk
dalam ordo Hexacoralia, Filum Cnidaria, yang hidup membentuk koloni
terdiri dari jutaan polip yang menghassilkan kapur, serta bersimbiosis
mutualistik dengan zooxanthellae. Sementara terumbu karang adalah struktur
dalam laut dangkal yang tahan terhadap gempuran ombak sebagai hasil
proses-proses sementasi dan konstruksi kerangka koral hermatipik, ganggang
berkapur, dan organisasi yang mensekrasikan kapur. Dari pengertian di atas
jelas bahwa terumbu karang memiliki manfaat yang sangat besar bagi
ekosistem laut, sebagai media pemecah ombak atau peredam gelombang
untuk melindungi pantai dari abrasi, juga sebagai salah satu destinasi tempat
wisata. Dapat dikatakanjuga bahwa terumbu karang mempunyai potensi
sumberdaya yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan
manusia.

namun baik disengaja atau tidak dalam pemanfaatna pitensi

sumberdaya alam di wilayah pesisir kurang memperhatikan pelestariannya


sehingga dapat merusak ekosistem terumbu karang.
1. Faktor penyebab
a. Destructive fishing
Kegiatan perikanan yang merusak, seperti memakai alat peledak
dan penggunaan jaring insang dan pukat dapat membuat kerusakan
fisik yang ekstensif bagi terumbu karang dan mengakibatkan
tingginya persentase kematian ikan yang belum dewasa (yaitu bibit
ikan dewasa dimasa mendatang). Penggunaan sianida dan racun lain
untuk menangkap ikan akuarium juga berdampak negatif.
b. Over fishing
Eksploitasi berlebihan dapat mengakibatkan sejumlah perubahan
pada terumbu karang. Penangkapan jenis ikan pemakan alga yang
berlebihan dapat mengakibatkan pertumbuhan alga yang eksesif,

penangkapan yang berlebihan dari jenis ikan yang berperan amat


penting dalam ekosistem terumbu dapat mengakibatkan meledaknya
populasi jenis lain dibagian manapun dari rantai makanan.
c. Pembuangan limbah ke laut
Pembuangan limbah industri dan rumahtangga meningkatkan
tingkat nutrisi dan racun dilingkungan terumbu karang. Pembuangan
limbah tak diolah langsung ke laut menambah nutrisi dan pertumbuhan
alga yang berlebihan. Limbah kaya nutrisi dari pembuangan atausumber
lain khususnya amat mengganggu, karena mereka meningkatkan
perubahan besar dari struktur terumbu karang secara perlahan dan
teratur. Supriharyono (2003) mengatakan bahwa pencemaran laut
pesisir umumnya terjadi karena adanya pemusatan aktivitas-aktivitas
manusia misalnya dalam bidang indutri, pertanian, rumah tangga dan
juga bidang pariwisata. Aktivitas-aktivitas tersebut baik secara
langsung maupun secara tidak langsung melalui limbah buangannya
sering mengganggu kehidupan perairan laut daerah pesisir termasuk
perairan terumbu karang.
d. Bleaching
Sebagian besar karang adalah binatang-binatang kecil (polip)
yang hidup berkoloni dan membentuk terumbu. Mereka mendapatkan
makanannya melalui dua cara yaitu dengan menggunakan tentakel
mereka

untuk

(zooxannthellae)

menangkap
yang

plankton

hidup

di

dan

jaringan

melalui
karang.

alga

kecil

Beberapa

zooxannthellae dapat hidup di satu jenis karang. Biasanya mereka


ditemukan dalam jumlah besar dalam setiap polip, hidup bersimbiosis
memberikan warna pada polip, energi dari fotosintesis dan 90%
kebutuhan karbon olip. Zooxannthellae menerima nutrisi-nutrisi penting
dari karang dan memberikan sebanyak 95% dari hasil fotosintesisnya
(energi dan nutrisi) kepada karang.
Pemutihan karang (menjadi pudar atau berwarna putih salju)
terjadi akibat berbagai macam tekanan, baik secara alami maupun
karena manusia, yang menyebabkan degenerasi atau hilangnya

zooxannthellae pewarna dari jaringan karang. Dalam keadaan normal,


jumlah zooxannthellae berubah sesuai dengan musim sebagaiman
penyesuaian karang terhadap lingkunannya. Selama peristiwa penutihan
karang kehilangan 60-90% dari jumlah zooxannthellae-nya dan
zooxannthellae yang masih tersisa dapat kehilangan 50-80% dari
pigmen

fotosintesisnya.

Belum

banyak

yang

dimengerti

dari

mekanisme pemutihan karang. Tetapi diperkirakan dalam kasus tekanan


termal, kenaikan suhu mengganggu kemampuan zooxannthellae untuk
berfotosintesis, dan dapat memicu produksi kimiawi yang merusak selsel mereka. Pemutihan dapat pula terjadi pada organisme-organisme
bukan pembentuk terumbu karang seperti karang lunak (soft coral),
yang juga mempunyai alga simbiosis dalam jaringannya. Sama seperti
karang. Organisme-organisme ini juga dapat mati jika kondisi-kondisi
yang mengarah pada pemutihan parah.
Akibat dari pemutihan sangat bervariasi. Tekanan penyebab
pemutihan antara lain tingginya suhu air laut yang tidak normal,
tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air, penyakit, kadar garam
yang tidak normal dan polusi.
f. PENANGULANGAN ATAU SOLUSI
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah kerusakan terumbu
karang yang telah dikembangkan sejak beberapa tahun ini adalah
melalui teknologi terumbu karang buatan dan transplantasi karang.
Yang disebut terumbu karang buatan adalah habitat buatan yang
dibangun di laut dengan maksud memperbaiki ekosistem yang rusak,
sehingga dapat memikat jenis-jenis organisme laut untuk hidup dan
menetap; biasanya terbuat dari timbunan bahan-bahan, seperti bekas
ban mobil, cor-coran semen/beton, bangkai kerangka kapal, badan
mobil dan sebagainya. Dalam jangka waktu tertentu, struktur yang
dibuat dengan berbagai bahan seperti struktur beton berbentuk kubah
dan piramida, selanjutnya membantu tumbuhnya terumbu karang alami
di lokasi tersebut. Dengan demikian, fungsinya sebagai tempat ikan

mencari makan, tempat memijah serta tempat berkembang biak


berbagai biota laut dapat kembali terwujud.

Pemutihan

Karang

Mampu

Menghancurkan

Koloni

Karang

Foto: terangi.co.id
Dalam upaya untuk mengantisipasi kerusakan terumbu karang
di Indonesia, maka ada empat tujuan pokok (1) tujuan sosial, yaitu
meningkatkan kesadaran masyarakat dan stakeholders mengenai
pentingnya

pengelolaan

terumbu

karang

secara

terpadu

dan

berkelanjutan (2) tujuan konservasi ekologi yaitu melindungi dan


memelihara ekosistem terumbu karang untuk menjamin pemanfaatan
secara

optimal

dan

berkelanjutan,

(3)

tujuan

ekonomi

yaitu

meningkatkan pemanfaatan ekosistem terumbu karang secara efisien


dan berkelanjutan untuk memperbaiki kesejateraan masyarakat dan
stakeholders serta pembangunan ekonomi, (4) tujuan kelembagaan
yaitu

menciptakan

sistem

dan

mekanisme

kelembagaan

yang

profesional, efektif dan efisien dalam merencanakan dan mengelola


terumbu karang secara terpadu dan optimal.
Berdasarkan tujuan pengelolaan terumbu karang tersebut maka
target penanganannya adalah (1) target sosial, di mana meningkatnya
status kesejahteraan masyarakat dan pengguna, tingkat partisipasi
masyarakat dan pengguna dalam kegiatan dan pemanfataan terumbu
karang semakin meningkat, (2) target konservasi ekologi yaitu

implementasi dan penegakan peraturan semakin membaik dan gerjala


over-exploitation terumbu karang semakin berkurang, menurunnya
sedimentasi yang berasal dari aktivitas di daratan, (3) target ekonomi,
yaitu pendapatan masyarakat dan stakeholders meningkat, tingkat
pengangguran semakin menurun, dan terwujudnya sistem pembagian
hasil kegiatan usaha yang semakin adil (4) target kelembagaan, yaitu
konflik pemanfaatan ruang antar masyarakat dan stakeholders semakin
berkurang dan terbentuknya aturan yang dapat difahami, dihayati dan
diamalkan oleh masyarakat dan stakeholders.
Berbagai tantangan konservasi terumbu karang di antaranya
tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia akan hasil laut sehingga
berdampak pada penggunaan sumber daya pesisir serta kelautan
berlebihan, juga dampak perubahan iklim. Perubahan iklim terutama
berdampak cukup signifikan pada nelayan dan pola migrasi ikan di
wilayah pesisir. Selain itu perubahan iklim menyebabkan naiknya suhu
dan permukaan air laut dan asidifikasi air laut yang berdampak
langsung pada terganggunya ekosistem pendukung terumbu karang.
Diperlukan solusi menahan laju kerusakan terumbu karang
dengan meningkatkan pengawasan di laut serta sosialisasi terusmenerus terhadap warga pesisir akan pentingnya terumbu karang dalam
kehidupan manusia.
Beberapa aktivitas manusia yang harus dilakukan agar mencegah
kerusakan terumbu karang:
1. tidak membuang sampah ke laut dan pantai yang dapat mencemari air
laut
2. tidak membawa pulang ataupun menyentuh terumbu karang saat
menyelam, satu sentuhan saja dapat membunuh terumbu karang
3. tidak melakukan pemborosan air, semakin banyak air yang digunakan
maka semakin banyak pula limbah air yang dihasilkan dan dibuang ke
laut.

4. tidak menggunakan pupuk dan pestisida buatan, seberapapun jauh letak


pertanian tersebut dari laut residu kimia dari pupuk dan pestisida buatan
pada akhinya akan terbuang ke laut juga.

BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Indonesia sebagai negara maritim dan berada di daerah tropis yang
memiliki 14% jumlah terumbu karang di dunia. Akan tetapi, jumlah
terumbu karang lebih banyak ditemukan di Indonesia bagian timur, karena
Indonesia bagian timur termasuk kawasan coral triangle. Terumbu karang
bermanfaat dari segi ekologi, ekonomi, sosial, maupun manfaat lainnya
yang dapat menunjang dan mensejahterakan kehidupan manusia dan
makhluk hidup lainnya.
2. SARAN
Potensi terumbu karang jika tidak dijaga dan dilestarikan dengan
baik akan menyebabkan kerusakan yang dapat mengurangi atau
menghilangkan spesies dari terumbu karang

DAFTAR RUJUKAN
Anonim. 2010. Raja Ampat. Online (http://indonesia.travel/id/destination
/248/raja-ampat). Diakses pa 3 November 2014
Anonim. 2011. Nusa penida Menjelajah Keanekaragaman Hayati di Terumbu
Karang

Nan

Eksotis.

Online

(http://www.indonesiakaya.

com/kanal/detail/nusa-penida-menjelajah-keanekaragaman-hayati-diterumbu-karang-nan-eksotis). Diakses pada 4 november 2014

Anonim.

2012.

Wkotobi.

Online

(http://www.dephut.go.id/INFORMASI

/TN%20INDO-ENGLISH/tn_wakatobi.htm). Diakses pada 4 November


2014
Anonim. 2012. Taman Nasional Bunaken. Online (http://www.gocelebes.
com/taman-laut-nasional-bunaken/). Diakses pada 1 november 2014
Anonim.

2013.

Melihat

Terumbu

Karang

di

Perairan

Bali.

Online

(http://lifestyle.liputan6.com/read/2067277/melihat-terumbu-karanglangka-yang-hidup-di-perairan-bali). Diakses pada 1 november 2014


Ariani, diah irawati. 2013. Potensi terubu Karang Indonesia Tantangan dan
Upaya Konservasinya. Online (http://fordamof.org/files/INFO_Manado
_3.2.2013-5.DiahIrawati.pdf) diakses pada 3 November 2014
Firmansyah. 2009. Terumbu Karang Indonesia. Online (http://firmansyah11.
wordpress.com/2009/05/15/terumbu-karang-indonesia/) diakses pada 3
November 2014
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 38 Tahun 2004 tentang Pedoman
Umum Pengelolaan Terumbu Karang
Mprito. 2014. Taman Nasional Takaboerate Tak Sesulit Namyanya. Online
(http://mprito.wordpress.com/2014/05/22/taman-nasional-takaboneratetak-sesulit-namanya/). Diakses pada 3 November 2014
Rahmad, Rahmadi. 2014. Terumbu Karang. Online (http://www.mongabay.
co.id/tag/terumbu-karang/ ). Diakses pa 3 November 2014
Supriharyono. 2003. Potensi dan Perusakan Sumberdaya Terumbu Karang, serta
upaya Pengelolaannya di Indonesia. Makalah disajikan dalam upacara
peresmian penerimaan jabatan guru besar. Jurusan Ilmu Manajemen
sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas
Diponegoro, Semarang. 8 Maret.

Westmacott, S., Teleki, K., Wells, S. dan West. J. M. (2000) Pengelolaan


terumbu karang yang telah memutih dan rusak kritis.Terjemahan Jan
Henning Steffen dan TERANGI, Jakarta: Yayasan Terumbu Karang
Indonesia.
http://www.terangi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=131%
3Amanfaat-terumbu-karang-bagi-kehidupan
&catid=54%3Apengelolaan&Itemid=52&lang=id
http://id.wikipedia.org/wiki/Terumbu_karang#Manfaat