Anda di halaman 1dari 14

MAKALA PSIKOLOGI PENDIDIKAN

BEHAVIORISME
(PAVLOV , THORNDIKE , SKINNER)

DISUSUN OLEH :
1. YUSUF SUSANTO

(115524078)

2. ANISA NOVI ALFIYANA

(115524239)

3. FANDI SEPTIAWAN N.

(115524221)

4. EKO SUSANTO

(115524078)

5. DWI CAHYONO

(115524090)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2013

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Banyak teori tentang belajar yang telah berkembang mulai abad ke 19 sampai
sekarang ini. Pada awal abad ke-19 teori belajar yang berkembang pesat dan memberi banyak
sumbangan terhadap para ahli psikologi adalah teori belajar tingkah laku (behaviorisme) yang
awal mulanya dikembangkan oleh psikolog Rusia Ivan Pavlav (tahun 1900-an) dengan
teorinya yang dikenal dengan istilah pengkondisian klasik (classical conditioning) dan
kemudian teori belajar tingkah laku ini dikembangkan oleh beberapa ahli psikologi yang lain
seperti Edward Thorndike, B.F Skinner dan Gestalt.
Teori belajar behaviorisme ini berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan
diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat
menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah
terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan
positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau
Penilaian didasari atas perilaku yang tampak. Dalam teori belajar ini guru tidak banyak
memberikan ceramah,tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh baik dilakukan sendiri
maupun melalui simulasi.
Di awal abad 20 sampai sekarang ini teori belajar behaviorisme mulai
ditinggalkan dan banyak ahli psikologi yang baru lebih mengembangkan teori belajar kognitif
dengan asumsi dasar bahwa kognisi mempengaruhi prilaku. Penekanan kognitif menjadi
basis bagi pendekatan untuk pembelajaran. Walaupun teori belajar tigkah laku mulai
ditinggalkan diabad ini, namun mengkolaborasikan teori ini dengan teori belajar kognitif dan
teori belajar lainnya sangat penting untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang cocok
dan efektif, karena pada dasarnya tidak ada satu pun teori belajar yang betul-betul cocok
untuk menciptakan sebuah pendekatan pembelajaran yang pas dan efektif.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

BAB II
TEORI TEORI BELAJAR

A. BEHAVIORISME
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu
hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental. Dengan kata
lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu
dalam proses balajar. Tujuan utama psikologi membuat prediksi dan mengendalikan prilaku
dan sedikitpun tidak ada kaitannya dengan kesadaran. Kajian dalam teori ini adalah bendabenda atau hal-hal yang dapat diamati secara langsung, yaitu rangsangan (stimulasi) dan
gerak balas (respo). Misalnya untuk mengubah situasi kelas yang biasanya pasif ketika diberi
pertanyaan, maka seorang pendidik atau guru harus mengubah atau memodifikasi stimulusny
: misalnya dengan memberikan hadiah bagi siswa yang bisa menjawab. Pemberian hadiah
diharapkan dapat menjadi stimulus yang dapat memunculkan respon yang diharapkan: yaitu
meningkatnya keaktifan siswa di kelas. Berikut ini marilah kita cermati satu persatu beberapa
tokoh besar dalam aliran behaviorisme ini.

1. TEORI PAVLOV
Teori pavlov merupaka salah satu bentuk belajar responden. Dalam belajar semacam
ini suatu stimulus yang telah dikenal. Dalam teori ini, Pavlov melakukan suatu eksperimen
dengn mempelajari proses pencernaan pada anjing. Selama penelitian mengamati perubahan
waktu dan tingkat kecepatan pengeluaran air liur dari binatang (anjing).
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau
sinar untuk membentuk perilaku (respons). Dalam hal ini, eksperimen yang dilakukan oleh
pavlov menggunakan anjing sebagai subyek penelitian.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

Berikut adalah tahap-tahap eksperimen dan penjelasan dari gambar diatas:


1. Dimana anjing, bila diberikan sebuah makanan (UCS) maka secara otonom anjing
akan mengeluarkan air liur (UCR).
2. Jika anjing dibunyikan sebuah bel maka ia tidak merespon atau mengeluarkan air
liur.
3. Sehingga dalam eksperimen ini anjing diberikan sebuah makanan (UCS) setelah
diberikan bunyi bel (CS) terlebih dahulu, sehingga anjing akan mengeluarkan air liur
(UCR) akibat pemberian makanan.
4. Setelah perlakukan ini dilakukan secara berulang-ulang, maka ketika anjing
mendengar bunyi bel (CS) tanpa diberikan makanan, secara otonom anjing akan
memberikan respon berupa keluarnya air liur dari mulutnya (CR).
Dalam ekperimen ini bagaimana cara untuk membentuk perilaku anjing agar ketika bunyi
bel di berikan ia akan merespon dengan mengeluarkan air liur walapun tanpa diberikan
makanan. Karena pada awalnya (gambar 2) anjing tidak merespon apapun ketika mendengar
bunyi bel.
Jika anjing secara terus menerus diberikan stimulus berupa bunyi bel dan kemudian
mengeluarkan air liur tanpa diberikan sebuah hadiah berupa makanan. Maka kemampuan
stimulus terkondisi (bunyi bel) untuk menimbulkan respons (air liur) akan hilang. Hal ini
disebut dengan extinction atau penghapusan.
Pavlov mengemukakan empat peristiwa eksperimental dalam proses akuisisi dan
penghapusan sebagai berikut:
1. Stimulus tidak terkondisi (UCS), suatu peristiwa lingkungan yang melalui
kemampuan bawaan dapat menimbulkan refleks organismik. Contoh: makanan
2. Stimulus terkondisi (CS), Suatu peristiwa lingkungan yang bersifat netral dipasangkan
dengan stimulus tak terkondisi (UCS). Contoh: Bunyi bel adalah stimulus netral yang
di pasangkan dengan stimulus tidak terkondisi berupa makanan.
3. Respons tidak terkondisi (UCR), refleks alami yang ditimbulkan secara otonom atau
dengan sendirinya. Contoh: mengeluarkan air liur

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

4. Respos terkondisi (CR), refleks yang dipelajari dan muncul akibat dari penggabungan
CS dan US. Contoh: keluarnya air liur akibat penggabungan bunyi bel dengan
makanan.
Menilik

psikologi

behavioristik

menggunakan

suatu

pendekatan

ekperimental,

refleksiologis objektif pavlov tetap merupakan model yang luar biasa dan tidak tertandingi.
Bila dicontohkan dalam kehidupan nyata teori pavlov ini bisa diterapkan. Sebagai
contoh untuk menambah kelekatan dengan pasangan, Jika anda mempunyai pasangan yang
sangat suka (UCR) dengan coklat (UCS). Disetiap anda bertemu (CS) dengan kekasih anda
maka berikanlah sebuah coklat untuk kekasih anda, secara otonom dia akan sangat suka
dengan coklat pemberian anda.
Penerapan teori pavlov dalam dunia pendidikan yaitu sebagai contoh seorang siswa
bernama maya pertama kali masuk sekolah guru menerimanya dengan senyuman dan pujian.
Belum dua minggu berlalu maya minta diantar lebih pagi sambil berkata pada ibunya bahwa
ia akan menjadi guru jika besar nanti. Dari fragmen di atas melukiskan adanya belajar
responden dimana senyum dan pujian guru dapat ditafsirkan sebagai stimulus. Tindakan guru
ini menimbulkan sesuatu dalam diri maya yaitu suatu perasaan yang menyenangkan yang
dapat ditafsirkan sebagai respon tak terkondisi guru dan sekolah yang sebelumnya itu netral
yaitu stimulus terkondisi, terasosiasi dengan stimulus tak terkondisi dan segera menimbulkan
perasaan menyenangkan yang sama.
Sumbangan palvov banyak dicoba pada beberapa anak dan fungsinya adalah sabagai
berikut :
a. Membentuk kebiasaan pada anak agar selalu membisakan kebersihan, kerapia,
kesehatan, kejujuran, dan sebagainya. Pembiasaan itu mudah dan lebih baik dilakukan
sejak masih dini, sebab pembiasaan pada anak dewasa lebih sukar, sebab setelah
dewasa kebisaan akan terbentuk dan akan sukar dihapusakn bahkan sering dianggap
kodrat.
b. Untuk memutuskan kebiasaan- kebiasaan yang buruk dan mengurangi rasa takut pada
anak-anak misalnya anak kecil yang biasanya bangun pagi terlambat/ kesiangan dapat
dihapus dengan bangun pagi pada jam 05.30
c. Teori persyaratan dapat membentuk sikap-sikap yang baik terhadap aktivitas belajar
pada siswa.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

d. Teori persyaratan dapat juga dipakai dalam psikoterapi, misalnya untuk


menghilangkan rasa takut, malu, penyesuaian yang salah, agresif, tamak dan lain
sebagainya.

2. TEORI THORNDIKE
Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah
(problem solving). Dalam penyelidikan tentang proses belajar, pelajar harus diberi persoalan,
dalam hal ini thorndike melakukan eksperimen dengn sebuah puzzelebox. Sebagai percobaan
dengn seekor kucingsebagai subyek percobaannya, lapar sebagai motif, makanan sebagai
rangsangannya, dan keluar kurungan sebagai masalahnya.
Dengan cara sebagai berikut :
1. Kucing diletakkan didalam sangkar dan makanan diletakkan di luar sangkar
2. Kucing melakukkan beberapa percobaan untuk keluar dari sangkar
3. Berbagai reaksi akhirnya tali pengikat kucing tertarik sehingga pintu terbuka
4. Dan larilah kucing tersebut keluar untuk mendapatkan makanan
Percobaan ini terus dilakukan berulang-ulang dan ternyata semakin dicoba erulang
kali semakin pendek jarak waktu antara pemberian masalah dengn pemecahannya. Atas
dasar diatas thorndike mengemukakan beberapa hukum belajar. Thorndike membedakan ada
3 hukum pokok.adapun hukum tersebut antara lain sebagai berikut
a. Hukum Kesiapan ( Law of readiness )
Apabila seseorang itu bersedia untuk melakukan sesuatu tindakan, maka tindakan
itu dapat memberi kepuasan kepadanya dan apabila dia tidak bisa melakukannya
akan menimbulkan perasaan penyesalan dan apabila dipaksa melakukannya akan
menghasilkan pembelajaran yang tidak sempurna. Rumusan dari hukum ini
merujuk kepada kesediaan dan persiapan- persiapan yang perlu ada, sebelum
individu itu bertindak. Aspek kesiapan meliputi 3 yaitu kesiapan psikomotorik,
kesiapan afektif, dan kesiapan kognitif.
b. Hukum Latihan ( Law of exercise )
Berkaitan dengan rangsangan dan gerak balas (S R) akan bertambah kukuh
melalui latian yang diulang-ulang. Seseorang individu akan menguasai kemahiran
jika latihan diadakan hukum latihan ini sangat sesuai digunakan bagi latihan
hafalan. Hukum latihan menyatakan bahwa sesuatu tingkah laku akan diperkuat

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

melalui aplikasi dan akan dilemahkan tanpa pengukuhan. Contohnya jika pelajar
selalu mengulangi rumus matematikannya dia akan dapat menginggatnya dengn
lebih mudah.
c. Hukum Efek ( Law of effect )
Hukum efek menunjukkan kepada makin kuat atau makin lemahnya hubungan
sebagai akibat daripada hasil respons yang dilakukan. Apabila suatu hubungan
atau koneksi dibuat dan disertai atau diikuti oleh keadaan yang memuaskan, maka
kekuatan hubungan itu akan bertambah, sebaliknya apabila suatu koneksi dibuat
dan disertai atau diikuti oleh keadaan yang tidak memuaskan, maka kekuatan
hubungan itu akan berkurang. Rumusnya jika tingkah laku diikuti dengn kepuasan
maka ia akan diulang tetapi jika ia diikuti dengn keburukan maka ia akan lenyap
contohnya jika kucing mendapat kejutan elektrik, apabila keluar dari sangkar dan
kesakitan maka ia tidak akan mempunyai motivasi untuk keluar dari sangkarnya
Implikasi teori Thorndike dalam pengjaran dan pembelajaran ialah :

Meningkatkan tahap kesediaan belajar. Pada masa yang sama, guru perlu
mamainkan peran dalam menggunakan motivasi yang sesuai

Mengukuhkan pertalian antara rangsangan dan gerak balas pelajar dengn


memperbanyak aktivitas latian, dan pengulanggn

Guru juga perlu memberikan ganjaran untuk respon atau gerakbalas yang betul
dari pelajar dan ganjaran tidak boleh dalam bentuk social dan material.

Menekankan pemberian peluang kepada pelajar untuk menikmati kejayaan


dalam pembelajaran mereka.

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

3. TEORI SKKINER
Inti dari teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning
operan). Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan
diulangi. Ada 6 asumsi yang membentuk landasan untuk kondisioning operan (Margaret E.
Bell Gredler, hlm 122). Asumsi-asumsi itu adalah sebagai berikut:
1. Belajar itu adalah tingkah laku.
2. Perubahan tingkah-laku (belajar) secara fungsional berkaitan dengan adanya
perubahan dalam kejadian-kejadian di lingkungan kondisi-kondisi lingkungan.
3. Hubungan yang berhukum antara tingkah-laku dan lingkungan hanya dapat di
tentukan kalau sifat-sifat tingkah-laku dan kondisi eksperimennya di devinisikan
menurut fisiknya dan di observasi di bawah kondisi-kondisi yang di control secara
seksama.
4. Data dari studi eksperimental tingkah-laku merupakan satu-satunya sumber informasi
yang dapat di terima tentang penyebab terjadinya tingkah laku.
Tabel Perbandingan Respons Elisit dan Tingkah-Laku Operan
Respons Elisit ( Refleks )
Respons Emisi atau Operan
Ada korelasi yang dapat diamati antara Ada
respons
bertindak
stimulus

dan

respons;

Respons

yang lingkungan

yang

mengenai

menimbulkan

terpancing keluar terutama untuk menjaga konsekuensi

yang

berpengaruh

kesejahteraan organisme.

dan

dengan

organisasi,
mengubah

tingkah-laku

pada

demikian
yang

akan

datang; Tidak ada korelasi nya dengan


stimulus sebelumnya.
Di kondisikan dengan substitusi stimulus; Di
Kondisioning Tipe S

kondisikan

respons

yang

melalui

konsekuensi

memperbesar

merespons; Kondisioning Tipe R.

peluang

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

1. Tingkah-laku organisme secara individual merupakan sumber data yang cocok.


2. Dinamika interaksi organisme dengan lingkungan itu sama untuk semua jenis
mahkluk hidup.
Berdasarkan asumsi dasar tersebut menurut Skinner (J.W. Santrock, 272) unsur yang
terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (reinforcement ) dan hukuman
(punishment).

Penguatan dan Hukuman.

Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas


bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi
yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.
Penguatan boleh jadi kompleks. Penguatan berarti memperkuat. Skinner membagi
penguatan ini menjadi dua bagian:
-

Penguatan positif adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi

respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung (rewarding). Bentukbentuk penguatan positif adalah berupa hadiah (permen, kado, makanan, dll), perilaku
(senyum, menganggukkan kepala untuk menyetujui, bertepuk tangan, mengacungkan
jempol), atau penghargaan (nilai A, Juara 1 dsb).
-

Penguatan negatif, adalah penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi

respons meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan (tidak
menyenangkan). Bentuk-bentuk penguatan negatif antara lain: menunda/tidak memberi
penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang
(menggeleng, kening berkerut, muka kecewa dll).
Satu cara untuk mengingat perbedaan antara penguatan positif dan penguatan
negatif adalah dalam penguatan positif ada sesuatu yang ditambahkan atau diperoleh. Dalam
penguatan negatif, ada sesuatu yang dikurangi atau di hilangkan. Adalah mudah
mengacaukan penguatan negatif dengan hukuman. Agar istilah ini tidak rancu, ingat bahwa
penguatan negatif meningkatkan probabilitas terjadinya suatu prilaku, sedangkan hukuman
menurunkan probabilitas terjadinya perilaku. Berikut ini disajikan contoh dari konsep
penguatan positif, negatif, dan hukuman (J.W Santrock, 274).

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

Perilaku :
Murid mengajukan
pertanyaan yang bagus
Perilaku :
Murid menyerahkan PR
tepat waktu

Perilaku :

Penguatan positif
Konsekuensi :
Guru menguji murid

Prilaku kedepan :
Murid mengajukan lebih
banyak pertanyaan

Penguatan negative
Konsekuensi :
Guru berhenti menegur
murid
Hukuman
Konsekuensi :

Prilaku kedepan :
Murid makin sering
menyerahkan PR tepat
waktu
Prilaku kedepan :

Murid menyela guru

Guru mengajar murid


Murid berhenti menyela
langsung
guru
Ingat bahwa penguatan bisa berbentuk postif dan negatif. Dalam kedua bentuk itu,
konsekuensi meningkatkan prilaku. Dalam hukuman, perilakunya berkurang.

Kupasan yang dilakukan Skinner menghasilkan suatu sistem ringkas yang dapat
diterapkan pada dinamika perubahan tingkah laku baik di laboratorium maupun di dalam
kelas. Belajar, yang digambarkan oleh makin tingginya angka keseringan respons, diberikan
sebagai fungsi urutan ketiga unsure (SD)-(R)-(R

Reinsf

). Skinner menyebutkan praktek khas

menempatkan binatang percobaan dalam kontigensi terminal. Maksudnya, binatang itu


harus berusaha penuh resiko, berhasil atau gagal, dalam mencari jalan lepas dari kurungan
atau makanan. Bukannya demikian itu prosedur yang mengena ialah membentuk tingkahlaku binatang itu melalui urutan Sitimulus-respon-penguatan yang diatur secara seksama.
Dikelas, Skinner menggambarkan praktek tugas dan ujian sebagai suatu contoh
menempatkan pelajar yang manusia itu dalam kontigensi terminal juga. Skinner menyarankan
penerapan cara pemberian penguatan komponen tingkah laku seperti menunjukkan perhatian
pada stimulus dan melakukan studi yang cocok terhadap tingkah laku. Hukuman harus
dihindari karena adanya hasil sampingan yang bersifat emosional dan tidak menjamin
timbulnya tingkah laku positif yang diinginkan. Analisa yang dilakukan Skinner tersebut
diatas meliputi peran penguat berkondisi dan alami, penguat positif dan negative, dan penguat
umum.

10

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

Dengan demikian beberapa prinsip belajar yang dikembangkan oleh Skinner antara lain:
-

Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar
diberi penguat.

Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.

Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.

Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Namun ini lingkungan perlu
diubah, untuk menghindari adanya hukuman.

Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebagainya. Hadiah
diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforcer.

Dalam pembelajaran, digunakan shaping.


Disamping itu pula dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan

selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :


1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat
melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan
perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

11

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan materi teori Beheaviorisme diatas maka kami membuat
kesimpulan yang mana kesimpulan ini tersusun dan diambil garis besar dari segenap
penjelasan yang telah dijelaskan diatas.
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang
individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek aspek mental.
Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan
perasaan individu dalam proses balajar. Tujuan utama psikologi membuat prediksi
dan mengendalikan prilaku dan sedikitpun tidak ada kaitannya dengan kesadaran.
Thorndike menggambarkan proses belajar sebagai proses pemecahan masalah
(problem solving). Dalam penyelidikan tentang proses belajar, pelajar harus diberi
persoalan, dalam hal ini thorndike melakukan eksperimen dengn sebuah puzzelebox.
teori behaviorisme Skinner adalah Pengkondisian operan (kondisioning
operan). Pengkondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensikonsekuensi dari prilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas prilaku itu akan
diulangi.
B. Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut
perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu bersaing secara
sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di lakukan bangsa Indonesia
agar tidak semakin ketinggalan dengan negara-negara lain adalah dengan
meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia yang
terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa bangsa ini bersaing
secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

12

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

DAFTAR PUSTAKA
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Margaret E. Bell Gredler, 1994. Belajar dan pembelajaran. PT Raja Grafindo


Persada: Jakarta.
John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media Group:
Jakarta.
Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta
Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV. Rajawali
Moll, L. C. (Ed.). 1994. Vygotsky and Education: Instructional Implications and
Application of Sociohistorycal Psychology. Cambridge: Univerity Press
Degeng, I Nyoman Sudana. 1989. Ilmu Pengajaran Taksonomi Variable. Jakarta:
Depdikbud
Gagne, E.D., (1985). The Cognitive Psychology of School Learning. Boston, Toronto:
Little, Brown and Company
Light, G. and Cox, R. 2001. Learning and TeacTeori Belajar Behavioristik
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition.
Boston: Allyn and Bacon
John W. Satrock, 2007. Psikologi Pendidikan. edisi kedua. PT Kencana Media Group:
Jakarta.
Prasetya Irawan, dkk, 1997. Teori belajar. Dirjen Dikti: Jakarta
Arie Asnaldi, 2005. Teori -Teori belajar.
B.F. Skinner and radical behaviorism, Ali, Muh. 1978. Guru Dalam Proses Belajar
Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Davies, WCR. 1971. The Management of Learning. London: Mc Graw Hill Book
Company.
Ghafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Suatu Langkah Sistematis
Penyusunan Pola Dasar Kegiatan Balajar dan Mengajar. Solo: TigaSerangkai.
Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan PendekatanSistem.
Jakarta: Bumi Aksara.

13

PSIKOLOGI PENDIDIKAN BEHAVIORISME

Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP. Pereivel
& Ellington. 1984. A Handbook of Educational Technology. London:
Suparman, Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Antar Universitas.
Wuryani Djiwandono, Sri Esti. 1989. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
http://www.scribd.com/doc/21251076/TEORI-BEHAVIORISME

14