Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

( TINJAUAN PUSTAKA )
NEUROANATOMI SIRKULUS WILLISI
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT
KEPANITERAAN KLINIK
BIDANG ILMU PENYAKIT SARAF
DI RSUD BUDHI ASIH JAKARTA

PEMBIMBING :
Dr. Ananda Setiabudi Sp.S

Oleh :
Utami Ningsih
030.09.259
Radian Savani
030.10.229

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 27 OKTOBER 2014 29 NOVEMBER 2014

PENDAHULUAN
Sirkulus willisi pada dasar otak merupakan pokok anastomosis pembuluh darah arteri
yang penting di dalam jaringan otak. Darah mencapai sirkulus willisi melalui a. carotis
interna dan a. vertebralis. Dua pertiga jatah darah serebral dialirkan ke sebagian besar
serebrum dan diensefalon melalui sistem karotis; dan sepertiga sisanya dialirkan ke medula
oblongata, pons, otak tengah, lobus temporal bagian medial dan inferior, lobus parietal, lobus
oksipital, dan serebelum melalui sistem vertebralis. Sirkulus willisi dibentuk oleh hubungan
antara a. carotis interna, a. basilaris, a. serebri anterior, a. komunikans anterior, a. serebri
posterior, a. komunikans posterior, dan a. vertebralis.

SISTEM ARTERI OTAK


Anatomi vaskular otak dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu anterior (carotid
system) dan posterior (Vertebrobasiller). Darah arteri yang ke otak berdasar dari arkus aorta.
Di sisi kiri, arteri karotis komunis dan arteri subklavia berasal dlangsung dari arkus aorta. Di
kanan, arteri trunkus brakiosefalika (inominata) berasal dari arkus aorta dan bercabang
menjadi arteri subklavia dextra dan arteri karotis komuis dextra. Di kedua sisi, sirkulasi darah
arteri ke otak di sebelah anterior dipasok oleh dua arteri karotis interna dan di posterior oleh
dua arteri vertebralis.
Arteri karotis interna bercabang menjadi arteri serebri anterior dan serebri media
setelah masuk kranium melalui kanalis karotikus, berjalan dalam sinus kavernosus kedua
arteri tersebut memperdarahi lobus frontali, parietal, dan sebagian temporal.
Arteri vertebralis berukuran lebih kecildan berjalan melalui foramen transversus
vertebra servikalis kemuadian masuk ke dalamkranium melalui foramen magnum, arteri
tersebut menyatu untuk membentuk arteri basilaris (sistem vertebrobasiller) taut pons dan
medulla di batang otak. Arteri basilaris bercabang menjadi arteri serebellum superior
kemudian arteri basilaris berjalan ke otak tengah dan bercabang menjadi sepasang arteri
serebri posterior.
Sirkulasi anterior bertemu dengan sirkulasi posterior membentuk suatu arteri yang
disebut sirkulus willisi. Sirkulus ini dibentuk oleh arteri cerebri anterior, arteri komunikantes
anterior, arteri karotis interna, arteri komunikantes poterior, dan arteri serebri posterior.
Untuk menjamin pemberian darah ke otak, setidaknya ada 3 sistem kolateral antara sistem
karotis dan sistem vertebrobasiler, yaitu:
1. SirkulusWillisi yang merupakan anyaman arteri di dasar otak.
2. Anastomosis arteri karotis interna dan arteri karotis eksterna di daerah orbital

melalui arteri oftalmika.


3. Hubungan antara sistem vertebral dengan arteri karotis interna.

ARTERI KAROTIS INTERNA

Arteri karotis interna berjalan horizontal ke depan melalui sinus kavernosus dan
muncul di sisi medial prosesus anterior dengan menembus durameter. Selanjutnya masuk ke
ruang subarachnoid dengan menembus arachnoid mater dan berputar ke belakang ke daerah
substansia perforata otak pada bagian ujung medial sulkus serebral lateralis.
Karotis interna berasenden melalui leher profunda menuju kanalis karotikus dari
tulang petrosus dan sinus-sinus kavernosus, arteri memberikan cabang-cabang kecil ke lantai
dari telinga tengah, dura dari klivus, ganglion semilunaris dari saraf trigeminalis dan kelenjar
hipofise. Di bawah muara kranialis dari kanalis optikus, karotis interna memasuki rongga
subarachnoid dan memberikan cabang a. oftalmika, membelok ke rostral dan berjalan di
bawah saraf optikus melalui kanalis optikus dan ke dalam orbita.

Cabang-cabang arteri karotis interna:


o Arteri oftalmika berasal dari arteri karotis interna dari sinus kavernosus. Masuk ke rongga
mata melalui kanalis optikus bersama dengan n. II (sebelah dorsomedialnya). Arteri ini
memperdarahi mata dan seluruh struktur di dalamnya dan cabang-cabang berakhir dengan
memperdarahi daerah frontalis kulit kepala, sinus frontalis, sinus ethmoidalis dan dorsum
nasi.
o Arteri komunikans posterior merupakan arteri penghubung antara a. karotis interna dan a.
serebri posterior.
Pada daerah substansia perforata anterior, a. karotis interna akan menjadi 2 cabang yaitu a.
serebri anterior dan a. serebri media.
o Arteri serebri anterior mempunyai pangkal di sebelah dorsal n. II dan ventral dari
striaolfaktorius medialis. Ia berjalan ke arah rostromedial sampai tepi medial girus rektus
dan kemudian berlanjut di pinggir korpus kalosum. Di tepi medial girus rektus kedua, a.
serebri media dihubungkan satu sama lain oleh a. komunikans anterior. A. serebri anterior
mengeluarkan cabang-cabangnya ke lobus frontalis medius dan lobus parietalis serta ke
korteks yang berdekatan di sepanjang permukaan lateral medial dari lobus-lobus ini.
o Arteri serebri media, suatu cabang terminalis dari a. karotis interna, memasuki fissura
lateralis serebri dan membagi diri menjadi cabang-cabang kortikal yang memperdarahi
lobus-lobus frontalis, temporalis, parietalis, dan oksipitalis. Pembuluh-pembuluh nadi
yang kecil, yaitu a. lentikulostriata (a. striata lateralis), timbul dari bagian basal a. serebri
media untuk memperdarahi kapsula interna dan struktur-struktur yang berdekatan. A.

lentikulostriata sering pecah pada peristiwa stroke.

ARTERI VERTEBRALIS

Arteri vertebralis cabang bagian pertama a. subklavia, naik pada leher melewati
foramen prosesus transversus vertebra servikalis keenam. Arteri ini masuk ke kranium
melalui foramen magnum menembus pia meter dan arachnoid masuk ke ruang subarachnoid.
Kemudian terus ke atas, ke depan dan medial terhadap medulla oblongata. Pada atas bawah
pons bersama-sama pembuluh darah sisi lain membentuk a. basilaris.
Sebelum memasuki kranium, a. vertebralis membentuk siphon berbentuk S yang
mungkin mempunyai tujuan untuk melembabkan gelombang nadi yang datang. Arteri-arteri
karotis membentuk siphonnya di dalam sinus-sinus kavernosus. Arteri-arteri vertebralis juga
melakukan hal yang sama setelah muncul dari foramen transversal dari atlas. Arteri-arteri ini
pertama berjalan di posterior sepanjang massa lateral dari atlas, kemudian membelok ke atas
dan medial dan memasuki kavum kranialis pada masing-masing sisi dari medula oblongata.

Cabang-cabang arteri vertebralis :


o Arteri meningens posterior, yang memperdarahi duramater fossa posterior dan falks
serebeli serta tulang-tulang daerah tersebut.
o Arteri spinalis posterior, yang dipercabangkan pada ketinggian medula oblongata.
o Arteri spinalis anterior, merupakan arteri tunggal di garis tengah permukaan ventral
medula spinalis.
o Arteri serebeli inferior posterior, merupakan cabang terbesar a. vertebralis yang berjalan
antara medula dan serebelum. Arteri ini memperdarahi permukaan bawah vermis, nukleus
sentralis serebelum, permukaan bawah hemisfer serebelum, medula oblongata dan
pleksus koroideus ventrikulus keempat.
ARTERI BASILARIS

Arteri basillaris terbentuk dari gabungan dua arteri vertebralis, naik ke atas dalam
suatu celah pada permukaan anterior pons. Pada batas atas pons membagi diri menjadi dua
arteri serebri posterior.

Cabang-cabang arteri basilaris


o Arteri serebeli inferior anterior berjalan ke posterior dan lateral serta memperdarahi

bagian anterior dan inferior serebelum. Beberapa cabang melintas ke pons dan bagian atas
medulla oblongata.
o Arteri serebri posterior melengkung ke lateral balik ke belakang mengitari otak tengah,
dihubungkan oleh a. komunikans posterior dengan cabang-cabang a. karotis interna.
Cabang-cabang kortikal memperdarahi permukaan inferolateral dan medial lobus
oksipitalis. A. serebri posterior mendarahi korteks visual. Arteri ini biasanya merupakan
cabang akhir dari a. basilaris. Kadang-kadang, arteri ini merupakan perpanjangan dari a.
karotis interna. Serat-serat saraf yang menyertai adalah bagian dari pleksus arteri-arteri
karotis. Cabang-cabang kecil dari a. basilaris dan dari tunggul proksimal a. serebri
posterior memberi darah otak tengah. Aa. serebri posterior juga bertanggungjawab bagi
talamus.

Sirkulus Arteri Wilisi


Setelah memasuki rongga subaraknoid, a. karotis interna berlanjut ke posterior di
bawah saraf optik dan kemudian dari sana ke lateral, ke tingkat kiasma optikum, dan
membuat sudut belokan ke kanan untuk memasuki fissura sylvii. Pada putaran ini arteri
memberikan cabang a. komunikans posterior, yang bergabung dengan tunggul proksimal dari
a. serebri posterior dan membentuk bersama dengan arteri ini dan a. basilaris rostral, arkus
posterior dari sirkulus Willisi.
Karotis interna juga memberi cabang aa. khoroidalis anterior sebelum karotis berakhir
dengan terbagi menjadi aa. serebri anterior segera mencembung ke garis tengah dan saling
berhubungan melalui a. komunikans anterior. Jadi, arkus anterior dari sirkulus Willisi
tertutup.

Arteri-arteri ke Daerah-daerah Khusus Otak


Korpus striatum dan kapsula interna diperdarahi terutama oleh cabang medial dan lateral a.
sriata cabang sentral dari a. serebri media, cabang-cabang sentral a. serebri anterior
memperdarahi bagian-bagian sisa susunan tersebut.
Talamus diperdarahi terutama dari cabang-cabang a. komunikans posterior, basilaris dan
serebri posterior.
Otak tengah diperdarahi oleh a. serebri posterior, a. serebeli superior dan a. basilaris.
Pons diperdarahi oleh a. basilaris dan a. serebeli anterior, a. serebeli inferior dan a. serebeli
superior.
Medulla oblongata diperdarahi oleh a. vertebralis, a. spinalis anterior dan a. spinalis

posterior, a. serebeli posterior inferior dan a. basilaris.


Serebelum diperdarahi oleh a. serebeli superior, a. serebeli anterior inferior dan a. serebeli
posterior inferior.

GEJALA DAN TANDA

OBSTRUKSI
Gejala dan tanda obstruksi a. karotis interna dapat berupa hemiparalisa/ paresis sesaat
(terutama wajah dan lengan), disesthesia ringan (kesemutan, baal) ekstremitas kontralateral,
gangguan bicara sesaat (bila melibatkan hemisfer dominan). Tekanan bola mata ipsilateral
menurun. Gejala lain yang kerap terjadi adalah keluhan nyeri kepala ipsilateral.
Obstruksi pangkal a. serebri media biasanya merupakan akibat dari emboli. Cacat
klinis akibat infark (hemisfer dominan) karenanya dapat menampilkan gejala hemiparesis
kontralateral (terutama wajah dan lengan), hemianestesi kontralateral, afasia total, agrafia,
aleksia, apraksia, dan hemianopsia homonimus kontralateral.
Obstruksi a. striata akan menyebabkan infark nukleus kaudatus dan putamen serta
bagian dorsal kapsula interna. Tampilan klinis yang dapat terjadi adalah hemiplegi
kontralateral tanpa disertai afasia, dan kadang-kadang ada gangguan motorik ekstrapiramidal.
Obstruksi cabang-cabang yang memperdarahi daerah parietal, oksipital dan temporal
hemisfer dominan akan menyebabkan defisit motorik dan sensorik, kuadranopsia/
hemianopsia, afasia sensorik, serta mungkin dapat juga terjadi aleksia, agrafia, akalkuli,
apraksia ideokinetik, dan agnosia jari.

Obstruksi a. striata medialis akan menyebabkan kelemahan otot wajah dan lidah
kontralateral, serta kadang-kadang juga lengan.
Obstruksi a. serebri anterior di atas korpus kalosum dan proksimal lobulus
parasentralis akan menyebabkan paralisa spastik dan gangguan korteks sensorik tungkai
kontralateral. Kadang-kadang juga terjadi kelemahan sfingter kandung kemih. Penyumbatan
a. Serebri anterior yang mengakibatkan infark di rostral korpus kalosum akan menampilkan
dispraksia lengan kiri. Obstruksi kedua a. serebri anterior akan menampilkan paralisa spastik
kedua tungkai dan inkontinensia urine, refleks gasping, apraksia, dan deviasi konjugat mata.
Obstruksi a. serebri posterior biasanya menyebabkan iskhemi korteks kalkarina
sehingga menyebabkan terjadinya hemianopsia homonimus lateral (sisi yang kontralateral).
Bila terjadi infark maka akan menimbulkan hemianopsia total.

DAFTAR PUSTAKA

1. Chusid, J.G. Neuroanatomi Korelatif & Neurologi Fungsi Bagian I, Gajah Mada
University Press. 1983
2. Duus P, Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala; Ed ke 2; EGC;
Jakarta, 1994; 148-166, 309-38
3. http://angelfire.com/nc/neurosurgery/SAH.html
4. Snell R, Neuroanatomi Klinik; Ed ke 2; EGC; Jakarta, 1996; 539-44
5. Sobotta, Atlas Anatomi Manusia Bagian 1; Ed ke 20; EGC; Jakarta, 1997.