Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

EPISODE DEPRESIF BERAT


TANPA GEJALA PSIKOTIK

Pembimbing:
dr. Henny Riana, Sp. KJ

disusun oleh:
Cindy Prayogo
(07120090073)

Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I, R.S Sukanto
Periode : 29 September-1 November 2014

LAPORAN PSIKIATRI
I. Identitas Pasien
Nama

: Nn. M S

Umur

: 18 Tahun

Alamat

: Cawang III RT 12/5, Kel. Ken Pala


Makassar, Jakarta Timur

Agama

: Islam

Status

: Belum Menikah

Pendidikan

: Mahasiswi

Tanggal masuk RS

: 1 Oktober 2014

Tanggal Pemeriksaan : 1 dan 3 Oktober 2014


Diantar Oleh

: Keluarga

No. Rekam Medik

: 724256

II. Riwayat Psikiatri (autoanamnesa)


A. KELUHAN UTAMA
Pasien mencoba bunuh diri karena kesal dengan ibunya.
B. KELUHAN TAMBAHAN
Pasien mengeluh tenggorokannya terasa nyeri
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien wanita berusia 18 tahun, asal Jakarta dibawa ke IGD RS Bhayangkara Tk.I
Said Sukanto dalam kondisi keracunan setelah minum cairan pembersih lantai, Harpic.
Pasien mengaku ia minum cairan pembersih lantai karena berusaha bunuh diri. Hal ini
dilakukan karena ia merasa kesal dengan ibunya. Pasien mengaku ia minum cairan tersebut
atas kehendaknya sendiri. Pasien tidak mendengar suara-suara dari luar yang menyuruhnya
untuk minum cairan pembersih lantai tersebut. Pasien juga mengaku saat itu tidak dalam
pengaruh alkohol maupun obat-obatan terlarang.
Menurut pasien, awal mula kekesalannya kali ini terjadi ketika ia tengah berada
bersama dengan teman di rumah temannya tersebut, kemudian ibunya datang ke rumah
temannya tersebut dan memarahi pasien di depan teman-temannya. Ibu pasien memaksa
pasien untuk pulang saat itu juga. Pasien mengaku merasa malu, dan tidak memiliki harga
diri lagi, sehingga ia sangat marah dengan ibunya. Akhirnya, karena pasien tidak mampu
2

menahan kekesalannya lagi dan merasa tidak ada artinya lagi ia hidup, ia memutuskan untuk
bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai tersebut. Menurut pasien, di rumah
temannya, ia hanya mengobrol dan menghabiskan waktu saja. Pasien menyangkal dirinya
menggunakan obat-obatan terlarang maupun minum alkohol saat itu.
Pasien mengaku, usahanya untuk bunuh diri ini bukan yang pertama kali, pasien
mengaku sekitar 6 bulan yang lalu, pasien juga pernah berusaha mengakhiri hidupnya dengan
turun ke jalan tol. Namun, saat itu ada petugas satgas yang menyelamatkan dirinya, sehingga
usaha bunuh dirinya gagal. Menurut pasien, alasannya mencoba bunuh diri saat itu juga
dikarenakan kekesalan dirinya kepada ibunya.
Pasien bercerita kekesalan kepada ibunya ini dimulai ketika pasien masih SMP.
Pasien yang saat itu merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara tiba-tiba mendapati bahwa
ibunya hamil dan memiliki anak lagi, sehingga ia tiba-tiba mendapatkan seorang adik. Pasien
merasa sedikit terkejut dan tidak terbiasa memiliki seorang adik. Menurut pasien, ibunya
mulai berubah sejak saat itu. Ibu pasien lebih menyayangi dan memperhatikan sang adik
ketimbang dirinya. Pasien mengaku selalu disalahkan jika sang adik menangis. Pasien juga
sering dipukul dengan sapu. Menurut pasien, ibunya tidak menyayangi dirinya selayaknya
seorang anak. Pasien selalu dimarahi setiap ada kesempatan. Setiap bertatap muka, ibu pasien
dan pasien selalu bertengkar. Hal ini menyebabkan dirinya merasa tidak berguna dan tidak
berarti keberadaannya di dalam keluarga, hingga ia enggan berada di rumah. Pasien lebih
senang dan tenang jika berada di luar rumah. Pasien jarang berada di rumah, ia hanya pulang
untuk tidur. Jika pagi-pagi ia bangun, ia segera pergi ke luar rumah, seperti ke rumah
temannya. Menurut pasien, nafsu makan pasien seperti biasa dan tidak mengalami penurunan.
Pasien mengaku sejak SMA, dirinya tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan di
sekolah. Saat kuliah pun pasien hanya mengikuti mata kuliahnya yang biasa saja, pasien
terkadang sering membolos mata kuliah, pasien tidak mengikuti kegiatan organisasi apapun.
Pasien mengaku sejak kurang lebih 1 tahun belakangan, dirinya semakin merasa
sendirian dan sedih karena ibunya. Pasien mengaku ia sedikit sulit berkonsentrasi mengikuti
pelajaran di kuliahnya. Pasien merasa dirinya mudah lelah dan tidak berniat melakukan
aktivitas yang lain. Pasien merasa hidupnya kosong dan tidak tertarik dengan hal lain, maka
dari itu, ia mengisinya dengan merokok, minum alkohol, dan obat terlarang (ineks). Menurut
pasien, ia merokok sudah sejak SMA. Namun, kegiatan dugem, minum alkohol, dan obat
terlarang baru sekitar 6 bulan terakhir. Pasien saat itu juga sempat berpacaran dengan seorang
bandar narkoba. Hal ini menyebabkan 2 bulan yang lalu, dirinya direhabilitasi selama kurang
lebih 1 bulan. Pasien melakukan hal tersebut untuk menarik perhatian ibunya. Namun, ibunya
3

justru semakin memarahi dan berkata kasar pada dirinya. Pasien mengaku saat ini, dirinya
sudah tidak lagi minum alkohol dan menggunakan obat-obatan terlarang sejak direhabilitasi.
Namun, dirinya tetap merokok hingga saat ini.
Selain kesal dengan ibunya, pasien mengaku dirinya juga kesal dengan adiknya.
Dirinya sering melampiaskan kekesalan setelah dimarahin sang ibu kepada adiknya. Menurut
pasien, kekesalan kepada adiknya ini lebih karena adiknya lebih disayangi dan dibela oleh
ibunya dan bukan karena adiknya melakukan kesalahan pada dirinya.
Pasien mengaku hubungannya dengan sang ayah dan 2 kakaknya baik-baik saja.
Menurut pasien, sang ayah adalah pendukung terbesar dalam hidupnya. Ayahnya sangat baik
dan selalu mendengarkan keluhan dirinya. Kedua orang kakaknya juga baik, namun karena
telah menikah, tidak lagi berada di rumah bersama dirinya. Pasien bercerita bahwa ayah dan
kakak-kakaknya telah sering mencoba berbicara pada ibunya, namun menurut pasien, ibunya
hanya berubah sesaat saja dan kembali kasar tak lama kemudian.
Pasien menyangkal dirinya pernah mendengar suara-suara yang berasal dari luar,
ataupun suara yang bergema atau berulang-ulang di telinganya. Pasien juga menyangkal
dirinya pernah melihat sosok-sosok tertentu, atau merasa ada sesuatu yang masuk atau keluar
dari tubuhnya. Pasien mengaku dirinya tidak pernah melakukan sesuatu di luar kehendaknya,
seperti karena diperintah atau dibisikan oleh seseorang.
Pasien mengaku saat ini tenggorokannya terasa nyeri. Hal ini berlangsung sejak
dirinya minum cairan pembersih lantai tersebut. Pasien mengaku perut bagian atasnya juga
sedikit nyeri.

D. RIWAYAT GANGGUAN DAHULU


-

Riwayat gangguan jiwa sebelumnya disangkal

Riwayat minum alkohol (+)

Riwayat minum obat-obatan terlarang (NAPZA) (+)

Riwayat merokok (+)

Riwayat trauma disangkal

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


a. Riwayat Prenatal
Pasien menyatakan bahwa kelahirannya di rumah sakit oleh bidan
b. Masa kanak
4

Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)


Pasien mengaku tidak terlalu ingat masa-masa tersebut namun seingat pasien
masa kecilnya berlangsung baik dan normal.

Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)


Pasien mengaku memiliki banyak teman selama masa kanak pertengahan,
masa kecil berlangsung baik dan normal.

Riwayat masa kanak akhir (puberta) dan remaja


Pasien mengaku sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya
karena ibunya lebih memperhatikan adiknya dan sering memarahi dirinya di
rumah.

Riwayat Masa Dewasa


1. Riwayat Pendidikan
Pasien mengaku saat ini duduk di bangku kuliah jurusan Akuntansi
semester I.
2. Riwayat Pekerjaan
Pasien belum pernah bekerja
3. Riwayat Pernikahan
Pasien belum menikah
4. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien mengaku beragama Islam dan tidak rutin menjalankan sholat.
5. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien mengaku tidak pernah ditahan oleh pihak berwajib
6. Stressor psikososial
Masalah dengan :
- orang tua : pasien mengaku memiliki masalah dengan ibunya. Pasien
sering dimarahi dan disalahkan oleh sang ibu. Pasien mengaku ibunya
pilih kasih dan lebih menyayangi adiknya. Hubungan pasien dengan
ayahnya baik.
- Saudara

: pasien mengaku hubungannya dengan adiknya kurang baik,

karena dirinya kesal sang adik lebih disayang oleh ibunya. Hubungan
pasien dengan kedua kakaknya baik.

- Teman

: pasien berteman dengan teman-teman yang juga merokok dan

dugem. Pasien sempat berpacaran dengan seorang bandar narkoba, namun


saat ini pasien sudah tidak lagi bersama dengannya.
- Pendidikan: sulit berkonsentrasi saat pelajaran.

F. RIWAYAT KELUARGA
Pasien merupakan anak ketiga dari 4 bersaudara. Ia memiliki 2 orang kakak dan1
orang adik yang semuanya adalah perempuan. Kedua orang tuanya masih hidup.
Genogram:

Laki-laki

Pasien

Perempuan

G. KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI


Pasien berasal dari golongan ekonomi menengah ke atas. Pasien mengaku tidak
memiliki masalah ekonomi di keluarga.

III. STATUS MENTAL (28,30 September 2013)


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan : Cara berpakaian rapi; warna rambut hitam; tidak memakai riasan
wajah;postur tubuh baik - sedang; kebersihan diri cukup; tampak sesuai usia; sikap
kooperatif dan terbuka terhadap pemeriksa
2. Kesadaran :
6

a. Kesadaran neurologik : kompos mentis


b. Kesadaran Psikologis : tidak terganggu
c. Kesadaran Sosial

: Pasien sedikit menutup diri namun masih dapat mampu


berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

3. Pembicaraan : sedikit terbata; intonasi sedih;

menjawab sesuai pertanyaan;

artikulasi baik; isi pembicaraan dapat dimengerti dan alurnya runtut; ide cerita cukup.
4. Perilaku dan aktivitas psikomotor : sebelum wawancara pasien tampak tenang;
selama wawancara pasien duduk tenang ambil sesekali menangis saat menjelaskan
cerita yang disampaikannya. Secara umum tampak normal tanpa adanya aktivitas
psikomotor berlebih serta fokus pada pembicaraan yang sedang dilakukan.
5. Sikap terhadap pemeriksa : pasien bersikap kooperatiif.

B. Alam Perasaan
o Mood : hipotim
o Afek : labil dan sesuai-reaksi sedih dan menangis ketika bercerita tentang
keadaan dirinya dan ibunya.
o Empati : raba rasa (+)

C. Gangguan persepsi
o Halusinasi

: tidak ada

o Ilusi

: tidak ada

o Depersonalisasi

: tidak ada

o Derealisasi

: tidak ada

D. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan : sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir.
2. Orientasi :
o Waktu : baik, pasien tahu bahwa saat pemeriksaan adalah tahun 2014
o Tempat : baik, pasien tahu bahwa ia berada di RS Polri
o Orang : baik, pasien tahu bahwa pemeriksa adalah dokter muda.
3. Daya ingat:
o Sesaat : baik, pasien dapat mengulang beberapa kata yang diucapkan
pemeriksa
o Jangka pendek : baik, pasien ingat bahwa ia sudah berada di RS Polri
selama 3 hari
7

o Jangka panjang : baik, pasien ingat dengan jelas kejadian-kejadian selama


beberapa tahun terakhir.
4. Konsentrasi dan perhatian : baik, pasien dapat menghitung 100 yang dikurangi
10 secara berturut-turut.
5. Kemampuan membaca dan menulis : baik, pasien dapat membaca kertas yang
disodorkan pemeriksa dan dapat menulis dengan baik.
6. Kemampuan visuospasial : baik, pasien mampu menggambar benda beruang
mengikuti gambar pemeriksa serta pasien dapat berjalan tanpa menabrak sesuatu.
7. Pikiran abstrak : baik, pasien mampu mendeskripsikan bentuk
8. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat mandi, minum sendiri.
Pasien makan melalui NGT dibantu oleh perawat

E. Proses Pikir
1. Arus pikiran
o Produktivitas : baik, pasien menjawab secara spontan bila diajukan pertanyaan
o Kontinuitas : tidak terganggu
o Hendaya berbahasa : tidak ada inkoherensia
2. Isi pikir
o Preokupasi

: tidak ada

o Waham

: tidak ada

o Fobia

: tidak ada

F. Pengendalian Impuls
o Pengendalian impuls pasien saat wawancara dinilai baik

G. Daya nilai
o Daya nilai sosial : tidak terganggu
o Uji daya nilai : tidak terganggu
o Penilaian realita : tidak terganggu

H. Tilikan
Derajat 1, pasien menyangkal bahwa dirinya sedang sakit.

I. Taraf dapat dipercaya


Pemeriksa memperoleh kesan bahwa keseluruhan jawaban pasien dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Internus
Keadaan Umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 110/70

Nadi

: 86x/menit

Suhu

: 36,20C

Frekuensi nafas

: 18x/menit

Berat badan

: 48 kg

Tinggi badan

: 157cm

Bentuk badan

: normal

Sistem kardiovaskular : bunyi janyung I-II reguler; gallop (-); murmur (-)
Sistem respiratori

: gerak dada selama napas normal dan simetris;vesikuler +/+,


Ronchi -/-, wheezing -/-

Sistem gastrointestinal: supel; bising usus (+) normal; nyeri tekan epigastrium (+);
timpani
Sistem muskuloskeletal

: dalam batas normal

Sistem urogenital

: tidak diperiksa

Sistem dermatologi

: dalam batas normal

Kelainan khusus lainnya

: tidak ditemukan kelainan

B. Status Neurologik
Saraf kranialis : dalam batas normal
Mata : dapat mengikuti gerakan tangan pemeriksa; nistagmus (-)
Pupil : pupil bulat isokor 3mm / 3mm; refleks cahaya langsung +/+, tidak langsung
+/+
Pemeriksaan oftalmoskopik : tidak dilakukan
Motorik :

5555 5555
5555 5555

Sensorik

: Dalam batas normal

Refleks fisiologis

: dalam batas normal

Refleks patologik

:9

Sistem vegetatif

: BAB/BAK normal

C. Pemeriksaan Laboratorium
Hemoglobin

13,8 g/dL

Leukosit

11.500 u/L

Hematokrit

40%

Trombosit

257.000/uL

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


o Pasien wanita berumur 18 tahun, asal Jakarta dibawa ke IGD RS Bhayangkara Tk.I
Said Sukanto dalam kondisi keracunan karena bunuh diri dengan minum cairan
pembersih lantai.
o Pasien mengaku bunuh diri ini dilakukan karena kekesalan dengan sang ibu yang
telah menumpuk. Pasien merasa dipermalukan di hadapan teman-temannya. Pasien
juga merasa ibunya tidak menyayangi dirinya.
o Usaha bunuh diri ini bukan yang pertama, sebelumnya 6 bulan yang lalu, pasien
pernah berusaha bunuh diri dengan turun ke jalan tol.
o Selama 4 tahun ini, pasien sering kesal karena diperlakukan tidak adil oleh ibunya.
Pasien merasa bahwa dirinya tidak lagi disayangi oleh ibunya sejak kehadiran sang
adik. Pasien mengaku sering dimarahi dan dipukul oleh ibunya padahal dirinya tidak
melakukan kesalahan apapun.
o Pasien mengaku sejak SMA, dirinya tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan di
sekolah. Saat kuliah pun pasien hanya mengikuti mata kuliahnya yang biasa saja,
pasien terkadang sering membolos mata kuliah, pasien tidak mengikuti kegiatan
organisasi apapun. Pasien mengaku sedikit sulit berkonsentrasi mengikuti pelajaran di
kuliahnya.
o Sejak 1 tahun terakhir, pasien merasa lebih kesepian dan sedih. Pasien merasa
hidupnya kosong dan tidak tertarik dengan hal lain. Pasien sering minum-minuman
beralkohol. Pasien mengaku, 6 bulan yang lalu dirinya sempat menjadi pengguna
obat-obatan terlarang (ineks) kemudia 2 bulan yang lalu dirinya direhabilitasi selama
1 bulan. Pasien mengaku saat ini, dirinya sudah tidak lagi minum alkohol dan
menggunakan obat-obatan terlarang sejak direhabilitasi. Namun, dirinya tetap
merokok hingga saat ini.
o Tilikan pasien derajat 1 dengan penyangkalan bahwa dirinya sakit.
10

FORMULASI DIAGNOSTIK DAN EVALUASI MULTIAKSIAL


Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan pada pasien ini
ditemukan adanya pola prilaku, pikiran dan perasaan yang secara klinis bermakna dan
menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi
pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa
pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Aksis I
-

Pada pemeriksaan status generalis dan neurologis didapatkan kesadaran pasien


compos mentis, tidak terdapat kelainan fisik, tidak ada riwayat trauma, daya ingat
cukup baik, sehingga dapat menyingkirkan diagnosis gangguan mental organic.
(F0)

Pada anamnesis didapatkan riwayat konsumsi alkohol dan NAPZA. Namun,


menurut pasien, dirinya tidak menggunakan obat-obatan terlarang dan konsumsi
alcohol semenjak direhabilitasi. Dari anamnesis dan pemeriksaan, tidak tampak
gejala intoksikasi akut maupun gejala putus obat. (F1)

Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam menilai
realita, sehingga didiagnosis gangguan jiwa non psikotik.

Dari autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan tiga gejala utama
depresi yang dialami sejak 1 tahun berupa kehilangan minat dan kegembiraan,
berkurangnya aktivitas, dan afek hipotimia, disertai gejala tambahan berupa sulit
berkonsentrasi, gagasan tentang hidupnya tidak berguna, psikomotor menurun,
perbuatan yang membahayakan diri, yaitu perbuatan bunuh diri dengan minum zat
pembersih lantai, serta nafsu makan berkurang sehingga berdasarkan PPDGJ III
dapat didiagnosis sebagai Episode depresif berat tanpa gejala psikotik (F32-2)
dan Peracunan diri dengan sengaja dengan memakai bahan kimia dan zat
berbahaya lain dan YTT (X 69)

Aksis II
Tidak didapatkan penemuan yang bermakna untuk menentukan gangguan kepribadian
maupun retardasi mental pada pasien ini, sehingga tidak ada diagnosis aksis II.

11

Aksis III
Pada pasien didapatkan intoksikasi cairan pembersih

Aksis IV
Pada pasien masalah yang melatarbelakangi yaitu hubungan dengan ibu yang tidak
terlalu baik.

Aksis V
GAF scale 41-50, sudah mulai memiliki gejala serius, karena berusaha bunuh diri, ada
gangguan hubungan social dengan ibu dan adiknya, dan sulit berkonsentrasi di
sekolah.

VI. Evaluasi Multiaksial


-

Aksis 1

: F 32.2 yaitu Episode Depresif Berat Tanpa Gejala Psikotik dan X 69


yaitu Peracunan diri dengan sengaja dengan memakai bahan kimia
dan zat berbahaya lain dan YTT

Aksis II

Aksis III : Intoksikasi Cairan Pembersih

Aksis IV : Masalah keluarga, yaitu dengan ibu

Aksis V

: Z 03.2 tidak ada diagnosa

: GAF scale 41-50

VII. Terapi

Non Farmakologi
a. Gastric Lavage
b. Dirawat di rumah sakit
c. Terapi Psikososial

Psikofarmaka
Fridep (Sertraline) 1 x 50 mg
Frisium (Clobazam) 2 x 10 mg
Inj ceftriaxone 1 x 2 gr
Inj omeprazole 2 x 1
Inpepsa syrup 5 x 2 cth
12

VIII. Prognosis

Quo ad vitam

: dubia

Quo ad fungsionam

: dubia ad malam

Quo ad sanationam

: dubia ad malam

IX. TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN


Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan
alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan
nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak
berdaya, serta bunuh diri.
Terdapat gangguan penyesuaian diri (gangguan dalam perkembangan emosi jangka
pendek atau masalah-masalah perilaku, dimana dalam kasus ini, perasaan sedih yang
mendalam dan perasaan kehilangan harapan atau merasa sia-sia, sebagai reaksi terhadap
stressor) dengan kondisi mood yang menurun.
Depresi Mayor merupakan gangguan yang lebih berat, membutuhkan lima atau lebih
simptom-simptom selama dua minggu, salah satunya harus ada gangguan mood, atau
ketidaksenangan pada anak-anak. Sedangkan episode depresi berat menurut kriteria DSM-IVTR, adalah suasana perasaan ekstrem yang berlangsung paling tidak dua minggu dan meliputi
gejala-gejala kognitif (seperti perasaan tidak berharga dan tidak pasti) dan fungsi fisik yang
terganggu (seperti perubahan pola tidur, perubahan nafsu makan dan berat badan yang
signifikan, atau kehilangan banyak energi) sampai titik dimana aktivitas atau gerakan yang
paling ringan sekalipun membutuhkan usaha yang luar biasa besar.
Pedoman diagnosis menurut PPDGJ-III.
Pedoman diagnostik pada depresi dibagi menjadi :

Semua gejala utama depresi :


o

afek depresif

kehilangan minat dan kegembiraan


13

berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah.

Gejala lainnya:
o

konsentrasi dan perhatian berkurang

harga diri dan kepercayaan diri berkurang

gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna

pandangan masa depan yang suram dan pesimis

gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri

tidur terganggu

nafsu makan berkurang

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika
gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan
diagnosis dalam kurun waktu dari 2 minggu.

Episode Depresif Berat dengan Tanpa Gejala Psikotik menurut PPDGJ III :
(1) Semua 3 gejala utama depresi harus ada
(2) Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus
berintensitas berat
(3) Bila ada gejala penting (misalnya retardasi psikomotor) yang menyolok, maka pasien
mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat
dibenarkan.
(4) Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau
urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Banyak kasus bunuh diri dilakukan ditimbulkan oleh berbagai sebab, antara lain:

14

1.

Depresi. Ada indikasi bahwa sebagian besar dari orang yang berhasil

melakukan bunuh diri tengah dilanda depresi pada saat tindakan tersebut dilakukan.
2.

Krisis dalam hubungan interpersonal. Konflik-konflik dan pemutusan

hubungan, seperti konflik-konflik dalam perkawinan, perpisahan, perceraian,


kehilangan orang-orang terkasih akibat kematian, dapat menimbulkan stress berat
yang mendorong dilakukannya tindakan bunuh diri.
3.

Kegagalan dan devaluasi diri. Perasaan bahwa dirinya telah gagal dalam suatu

urusan penting, biasanya menyangkut pekerjaan, dapat menimbulkan devaluasi diri


atau rasa kehilangan harga diri yang mendorong tindakan bunuh diri.
4.

Konflik batin. Di sini stress itu bersumber dari konflik batin atau pertentangan

di dalam pikiran orang yang bersangkutan sendiri. Misalnya seorang pria lajang
merasa cemas, bingung, ragu-ragu antara memilih hidup atau mati, dan akhirnya
memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan teka-teki itu dengan melakukan bunuh diri.
5.

Kehilangan makna dan harapan hidup. Karena kehilangan makna dan harapan

hidup, orang merasa bahwa hidup ini sia-sia. Akibatnya orang memilih mengakhiri
hidupnya dengan bunuh diri. Perasaan semacam ini sering dialami oleh orang-orang
yang menderita penyakit kronik atau penyakit terminal.
Emile Durkheim (seorang sosiolog Prancis), mengelompokkan bunuh diri
menjadi 4 jenis:
1.

Altruistic suicide, yaitu bila individu merasa terikat pada tuntutan tradisi

khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan
suatu kelompok, sehingga ia merasa kelompok tersebut sangat mengharapkannya,
misalnya harakiri di Jepang.
2.

Egoistic suicide, yaitu apabila individu tidak mampu berintegrasi dengan

masyarakat

karena

masyarakat

menjadikan

individu

itu

seolah-olah

tidak

berkepribadian, misalnya orang yang kesepian, tidak menikah dan pengangguran.


3.

Anomic suicide, yaitu apabila terdapat gangguan keseimbangan integrasi

antara individu dengan masyarakat, sehingga individu mengalami krisis identitas,


misalnya orang kaya yang mengalami kebangkrutan dalam usahanya.
4.

Fatalistic suicide, yaitu kebalikan dari anomic suicide dimana individu

mendapat pengaturan yang berlebihan dari masyarakat.

15

Bunuh diri-ukuran dari masalahnya:


Bunuh diri adalah masalah yang kompleks dimana tidak ada satu sebab, satu alasan.
Itu dihasilkan dari interaksi yang kompleks secara biologi, genetik, psikologi, sosial, budaya
dan faktor lingkungan.Sangat sulit untuk menerangkan mengapa beberapa orang memutuskan
untuk bunuh diri padahal orang lain yang juga dalam situasi yang mirip atau mungkin lebih
parah tidak berusaha bunuh diri. Bagaimanapun juga, kebanyakan bunuh diri dapat dicegah.
Beberapa kelompok berisiko yang didiagnostik dalam usaha bunuh diri:

Depresi (dalam bentuk apapun);

Gangguan kepribadian (kepribadian anti sosial dan borderline dengan sifat yang

impulsif, agresif dan perubahan mood yang sering);

Alkoholisme (dan/atau penyalahgunaan zat lain dalam masa remaja);

Schizophrenia;

Gangguan mental organik;

Gangguan mental lainnya.

Walaupun banyak dari mereka yang melakukan bunuh diri memiliki gangguan mental,
kebanyakan dari mereka tidak mengunjungi profesional dalam bidang kesehatan mental,
bahkan di negara maju.

Pembahasan Pasien
Pasien seorang wanita berusia 18 tahun bernama Nn. MS dibawa ke
IGD RS Polri oleh keluarga pada tanggal 1 Oktober 2014 karena bunuh diri
dengan minum cairan pembersih lantai
Dari anamnesa pasien mengalami kehilangan minat dan kegembiraan
terhadap kegiatan sehari-harinya, yaitu kuliah dan cenderung menghabiskan
waktunya dengan dugem. Mood pasien juga cenderung depresif sepanjang
hari. Pasien mengaku mudah lelah dan jarang melakukan aktivitas apapun. Ia
juga sering bolos. Pasien juga merasa kehilangan harga diri dan merasa diriya
tidak berguna karena tidak diinginkan oleh ibunya. Pasien melakukan
perbuatan yang membahayakan dirinya dengan perbuatan bunuh diri, sejauh
ini (dalam 6 bulan terakhir) pasien telah berusaha bunuh diri dua kali.
Keluhan-keluhan ini sudah berlangsung 1 tahun terakhir. Berdasarkan
16

gejala-gejala tersebut, pasien telah memenuhi kriteria Episode Depresif Berat


Tanpa Gejala Psikotik (F32.3) dengan Peracunan diri dengan sengaja dengan
memakai bahan kimia dan zat berbahaya lain dan YTT (X 69).
Selama di RS Polri, pasien mendapat pengobatan berupa
Gastric Lavage
Fridep (Sertraline) 1 x 50 mg
Frisium (Clobazam) 2 x 10 mg
Inj ceftriaxone 1 x 2 gr
Inj omeprazole 2 x 1
Inpepsa syrup 5 x 2 cth
Prognosis pasien ini dubia ad malam karena:
Pasien pernah mencoba bunuh diri sebelumnya, besar kemungkinan jika ia
akan mencoba bunuh diri lagi. Selain itu, faktor hubungan interpersonal pasien
yang kurang baik dengan ibunya juga turut memperburuk prognosis. Pasien
juga memiliki riwayat cara menyalurkan depresi dengan jalan yang salah,
seperti dengan merokok, minum alkohol, dan obat terlarang. Keadaan depresif
berat yang dialami pasien dapat menghambat fungsi hidup sehari-harinya,
seperti sekolah, dan lama-lama fungsi sosialnya dengan teman-teman pun akan
sangat menurun.

17