Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


International Bank for Reconstruction and Development (IBRD, dalam
bahasa-bahasa Roman: BIRD) atau Bank Internasional untuk Pembangunan
Kembali dan Pengembangan, lebih dikenal sebagai Bank Dunia, adalah sebuah
organisasi internasional yang didirikan untuk melawan kemiskinan dengan cara
membantu membiayai negara-negara. Pengoperasian Bank Dunia dijaga melalui
pembayaran sebagaima diatur oleh negara-negara anggota. Aktivitas Bank Dunia
saat ini difokuskan pada negara-negara berkembang, dalam bidang seperti
pendidikan, pertanian dan industri.
Bank Dunia memberi pinjaman dengan tarif preferensial kepada negaranegara anggota yang sedang dalam kesusahan. Sebagai balasannya, pihak Bank
juga meminta bahwa langkah-langkah ekonomi perlu ditempuh agar misalnya,
tindak korupsi dapat dibatasi atau demokrasi dikembangkan. Bank Dunia didirkan
pada 27 Desember 1945 setelah ratifikasi internasional mengenai perjanjian yang
dicapai pada konferensi yang berlangsung pada 1 Juli22 Juli 1944 di kota
Bretton Woods. Markas Bank Dunia berada di Washington, DC, Amerika Serikat.
Secara teknis dan struktural Bank Dunia termasuk salah satu dari badan PBB,
namun secara operasional sangat berbeda dari badan-badan PBB lainnya. Meski
sering menjadi harapan negara miskin sebagai sumber pinjaman dana
pembangunan, Bank Dunia sering dikritik oleh para penentang "neo-kolonial"
korporasi globalisasi. Para penentang ini, yang sering disebut sebagai antiglobalisasi, menyalahkan Bank Dunia karena melemahkan kedaulatan negara
penerima pinjaman melalui liberalisasi ekonomi. Kritik yang paling umum adalah
Halaman
1

Bank Dunia berada dalam pengaruh negara-negara tertentu (terutama Amerika


Serikat), yang mendapat manfaat paling banyak dari aktivitas Bank Dunia. Kritik
lainnya antara lain bahwa Bank Dunia beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip
neoliberalisme, berdasarkan keyakinan bahwa pasar (bebas) dapat membawa
kemakmuran kepada negara-negara yang mempraktekkan kompetisi bebas, tanpa
campur tangan apa pun.
Dalam perspektif ini, reformasi yang berinspirasikan "neo-liberal" tidak
selalu tepat bagi negara-negara yang mengalami konflik (perang etnis, konflik
perbatasan, dsb.) atau yang telah lama berada dalam kondisi tertekan (diktator
atau penjajahan) dan negara yang tidak memiliki sistem politik demokratis yang
stabil. Dalam sudut pandang ini, Bank Dunia lebih memilih masuknya
perusahaan-perusahaan asing dibandingkan pengembangan ekonomi lokal negara
yang bersangkutan.
Peran IMF di Indonesia dimulai ketika presiden Soekarno memainkan
peran non blok ditengah pertarungan kuasa antara Amerika dan Soviet yang
semakin meningkat, peran tersebut dapat dimainkan dengan cantik oleh Soekarno
dengan dukungan dari negara-negara dunia ketiga, namun kedua blok yang
bertarung kuasa tersebut mendesak Soekarno untuk memilih satu diantara dua.
Amerika menggunakan IMF sebagai alatnya, pada tahun 1962 delegasi IMF
mengadakan kunjungan ke Indonesia untuk menawarkan proposal bantuan
finansial dan kerjasama, setahun kemudian tepatnya pada bulan maret 1963
Amerika Serikat menyediakan utang sebesar US$ 17 juta dan dalam dua bulan
kemudian pemerintah Indonesia mengumumkan rangkaian kebijakan ekonomi
baru (devaluasi rupiah, anggaran negara yang ketat dan pemotongan subsidi) yang
selaras dengan resep kebijakan IMF.
Namun keadaan berubah 180 derajat pada bulan September 1963, ketika
pemerintah Inggris menyatakan Malaysia sebagai bagian federasi Inggris tanpa
konsultasi terlebih dahulu. Soekarno melihat pernyataan tersebut adalah upaya
Halaman
2

untuk menggangu stabiltas kawasan Asia Tenggara terutama karena Malaysia


secara geografis sangat dekat dengan Indonesia, selain itu Soekarno juga melihat
hal ini dipicu karena Indonesia menasionalisasi perusahaan-perusahaan Inggris.
Insiden ini berimbas terhadap hubungan Indonesia dengan IMF, kesepakatan
sebelumnya dengan IMF dibatalkan oleh Soekarno.
Beberapa kalangan ada menolak pandangan populer dan populis itu.
Pandangan seperti itu punya kecenderungan untuk mencoba keluar dari
kesalahan kita sendiri di dalam. Berbagai macam pendapat dan pernyataan
dikeluarkan para pakar ekonomi dan juga masyarakat awam tentang bagaimana
peran serta IMF dalam krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia. Namun
beberapa kalangan ekonomi juga dengan tegas menerima pandangan yang
demikian dan menuntut agar pemerintah Indonesia segera memutuskan hubungan
kerjasama dengan IMF. Penerimaan pandangan tersebut tentu saja disertai dengan
berbagai fakta dan realita yang terjadi.
Dengan adanya pro dan kontra, apakah hubungan dengan IMF diputuskan
atau tidak tentu saja membingungkan kita semua. Oleh karena itu di dalam
makalah ini tersaji berbagai pendapat dan pandangan para pakar ekonomi tentang
masalah tersebut.

1.2 Tujuan Penulis


Tujuan penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas mata kuliah
Teori Pembangunan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran bagaimana suasana
Bank Dunia dan Hubungan IMF dengan krisis Ekonomi pada saat ini yang
melanda di Indonesia.
Sebagai generasi muda dan penerus bangsa bagaimana cara kita ikut serta
dalam pembangunan dan menyikapinya sehingga keadaan ekonomi di Negara
kita menjadi lebih baik.

Halaman
3

1.3 Pembahasan
Masalah yang dibahas dalam makalah ini berkaitan dengan:
1. Bank Dunia dan IMF
2. Sejarah dan Perkembangan Bank Dunia
3. Tujuan Bank Dunia
4. Peran Bank Dunia terhadap Indonesia
5. Dana Moneter Internasional
6. Bagaimana hubungan IMF dengan krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia.
7. Posisi utang luar Negeri Indonesia
8. Apa dampak yang terjadi dengan adanya pemutusan hubungan kerjasama
tersebut, serta bagaimana cara menyikapinya

Halaman
4

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bank Dunia dan IMF


Sebagai pendatang baru, WTO tidak bisa mulus begitu saja mengatur
dunia, bila sebelumnya tidak ada usaha-usaha perintisannya. Dan itulah tugas
utama yang telah dikerjakan oleh Bank Dunia dan IMF (Dana Moneter
Internasional). Bank Dunia yang semula hanya bertugas menjalankan upaya
pemulihan pembangunan di Eropa paska-perang, kemudian telah memainkan
upaya pendanaan proyek-proyek pembangunan yang sesuai dengan perluasan
pasar bebas. Bank Dunia sebenarnya juga telah memainkan peran sebagai
penjebak hutang. Sebagai bankir, Bank Dunia telah sekaligus memainkan peran
sebagaiMajikan, yang menentukan strategi pembangunan yang ditempuh
negara-negara Dunia Ketiga. Dengan demikian, ia memainkan peran ganda, yang
pada akhirnya memberi kekuasaan yang cukup untuk mendikte perekonomian
negara-negara tersebut. Semenjak krisis hutang Dunia Ketiga di tahun 1982, di
mana semakin banyak hutang-hutang yang tak mampu dibayar, Bank Dunia telah
menambahkan perangkat yang lebih kuat untuk memaksakan berbagai agenda
liberalisasi ekonomi, yaitu lewat Program Penyesuaian Struktural (

Structural

Adjustment Program /SAP).


Hal ini berkait juga dengan pasang naiknya neo-liberalisme lewat ReaganThatcherisme kalaitu. SAP pada dasarnya membawakan agenda-agenda neoliberal, denganmemaksakan program-program mereka yang dikenal sebagai
Halaman
5

deregulasi dan privatisasi. Kita mengenal pengaruh paham ini di Indonesia,


sebagai deregulasi perbankan yang dimulai sejak tahun 1983 yang disertai dengan
devaluasi rupiah (penurunan nilai mata tukar uang). Dengan berbagai macam
paket penyesuaianstruktural ini, hingga sekarang, Bank Dunia telah memainkan
penaklukan domestikagar sistem ekonomi nasional menjadi lebih mendukung
bagi perluasan pasar bebas. Bank Dunia ini mulai beroperasi pada tahun 1946
Dia berfungsi Sebagai

lembaga keuangan yang menghutangi uang bagi proyek-

proyek pembangunan di berbagai negara untuk memajukan ekonominya. Bunga


yang diberikan relatif lebih rendah ketimbang bila negara-negara tersebut
meminjam dari bank komersial. Bank Dunia menjadi mekanisme utama untuk
menempa model-model pembangunan paska kemerdekaan bagi negara-negara
Dunia Ketiga.
Bank Dunia Melakukan hal itu melalui hutang yang terikat dengan
berbagai kebijakan yang mendorong semakin tersatukannya negara-negara Dunia
Ketiga dengan pasar dunia. Hal itu juga dilakukan dengan cara mendorong
peningkatan hasil bahan-bahan mentah dan impor peralatan teknologi baru yang
berasal dari Utara; baik di bidang pertanian, kehutanan, maupun energi, dan
sebagainya. Dengan demikian Bank Dunia tidak hanya mengarahkan kebijakankebijakan ekonomi nasional yang bersifat makro dar inegara-negara paskakolonial, melainkan menyebarkan juga sistem teknologi Utara ke Selatan (yang
membawa kerusakan besar terhadap lingkungan hidup). Bank Dunia (World
Bank)

yang

aslinya

bernama

International

Bank for Reconstruction

and

Development/IBRD, yang pada waktu itu bermaksuduntuk menciptakan sebuah


dunia yang damai dengan ekonominya yang makmur danmerata, akibat trauma
dua perang dunia. Pertemuan Bretton Woods yang berlangsung dalam suasana
untuk menciptakan sebuah tatanan dunia yang damai dan makmur tersebut,
selainmem bentuk Bank Dunia juga menyepakati berdirinya IMF ( International
Monetary Fund/

Dana

Moneter Internasional). Kedua

lembaga

ini

pada

mulanya di dirikan dengan tujuan membantu membangun kembali Ekonomi


Halaman
6

Eropa setelah kehancuran Perang Dunia II, yang kemudian diperluas dengan
memberi pinjaman pembangunan kepada negara-negara Dunia Ketiga.
Peran Utama IMF adalah mengatur neraca pembayaran luar negeri
berbagai negara, dengan menyediakan hutang (pinjaman), dengan memaksakan
disiplinfinansial (keuangan) tertentu terhadap negara-negara yang menghadapi
masalah neraca pembayaran. Dana Bank Dunia dan IMF diperoleh dari negaranegara kaya yang ikut dalam pertemuan tersebut. Kedua lembaga keuangan
internasional yang mempunyai kantor pusat di Washington DC ini merupakan
bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kepentingan-kepentingannya sangat
kuat dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi politik Amerika Serikat
yang merupakan penyumbang utama Bank Dunia dan IMF.
Bank Dunia dan IMF adalah dua dari tiga badan yang dibentuk
untuk menangani persoalan peralihan dari era kolonial (penjajahan) ke era paskakolonial. Badan yang ketiga adalah rejim GATT ( General Agreement on Tariffs
and Trade /Persetujuan Umum mengenai Tarif dan Perdagangan), yang telah diubah
menjadi WTO ( World Trade Organization ), organisasi perdagangan super. Sejalan
dengan peran Bank Dunia dan IMF, GATT dimaksudkan untuk memajukan dan
mengatur liberalisasi perdagangan dunia, yang telah memudahkan perluasan
berbagai sektor di dalam unit ekonomi nasional, dan dengan demikian menjamin
mengalirnya bahan baku dari Selatan/negara-negara berkembang ke Utara, serta
mengalirnya barang-barang manufaktur dari Utara ke Selatan, maupun
perluasan perdagangan

di

antara

negara-negara

Utara

sendiri.

Berbagai

pemerintahan dari negara-negara Utara/maju kini sedang berupaya memperluas


peran GATT (melalui berbagai perundingan tertutup di dalam Putaran Uruguay)
untuk menyatukan kekuatan-kekuatan demi liberalisasi sektor-sektor jasa dan
pertanian; demi penjaminan kebebasan investasi asing; dan untuk memperketat
peraturan mengenaihak milik intelektual di Dunia Ketiga, demi keuntungan para
pemegang hak paten, yang terutama adalah perusahaan-perusahaan transnasional.
Halaman
7

Pada periode awal kehadirannya, uang Bank Dunia dipinjamkan terutama untuk
pemulihan kembali negara-negara Eropa paska Perang Dunia II, dalam rangka
Marshall Plan. Namun sejak akhir 1960, banyak pinjaman diberikan.

2.2 Sejarah dan Perkembangan Bank Dunia


Bank Dunia didirikan bersama-sama dengan di dirikannya IMF pada tahun
1944 di Britton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. bersama-sama dengan
IMF, Ia dibentuk oleh 44 negara Bank Dunia dibentuk oleh dua negara promotor
dan pendukung utama, yaitu Amerika Serikat dan Inggris. Tujuan awal
didirikannya adalah untuk mencegah berulangnya peristiwa Great Depression
sebagaimana pernah terjadi pada sekitar tahun 1930.Hal ini disebabkan perang
dunia kedua yang melanda hampir seluruh belahan bumi sangat berpotensi
meninggalkan puing-puing perekonomian yang luluh lantak di Eropa dan juga di
sebagian besar negara-negara korban perang lainnya.
Entah karena pihak sekutu (yang saat itu sudah didukung oleh Amerika
Serikat pasca pengeboman Pearl Harbour oleh Jepang) merasa perang tidak akan
berlangsung lama lagi ataupun karena alasan lain, tetapi yang jelas setahun setelah
didirikannya Bank Dunia perang dunia kedua benar-benar berakhir. Sesuai
prediksi, negara-negara korban perang, terutama di Eropa, segera membutuhkan
aliran dana segar untuk merekonstruksi perekonomian mereka pasca perang.
Prancis tercatat sebagai negara pertama yang mendapatkan pinjaman dari Bank
Dunia senilai 250 juta dolar AS. Dalam perkembangannya, semakin sedikit negara
yang mengalami peperangan, sehingga kebutuhan untuk rekonstruksi pasca
perang pun semakin kecil. Pada saat itu, Bank Dunia di bawah kepemimpinan
Mc-Namara menggeser fokusnya ke arah pembangunan infrastruktur, pengentasan
kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik, terutama di negaranegara dunia ketiga yang notabene tertinggal dari negara maju. meski sering
menjadi harapan negara miskin sebagai sumber pinjaman dana pembangunan,
Halaman
8

Bank Dunia sering dikritik oleh para penentang "neo-kolonial" korporasi


globalisasi. Para penentang ini, yang sering disebut sebagai anti-globalisasi,
menyalahkan Bank Dunia karena melemahkan kedaulatan negara penerima
pinjaman melalui liberalisasi ekonomi. Kritik yang paling umum adalah Bank
Dunia berada dalam pengaruh negara-negara tertentu (terutama Amerika Serikat),
yang mendapat manfaat paling banyak dari aktivitas Bank Dunia. Kritik lainnya
antara

lain

bahwa

Bank

Dunia

beroperasi

berdasarkan

prinsip-prinsip

neoliberalisme, berdasarkan keyakinan bahwa pasar (bebas) dapat membawa


kemakmuran kepada negara-negara yang mempraktekkan kompetisi bebas, tanpa
campur tangan apa pun.
Dalam perspektif ini, reformasi yang berinspirasikan "neo-liberal" tidak
selalu tepat bagi negara-negara yang mengalami konflik (perang etnis, konflik
perbatasan, dsb.) atau yang telah lama berada dalam kondisi tertekan (diktator
atau penjajahan) dan negara yang tidak memiliki sistem politik demokratis yang
stabil. Dalam sudut pandang ini, Bank Dunia lebih memilih masuknya
perusahaan-perusahaan asing dibandingkan pengembangan ekonomi lokal negara
yang bersangkutan. Di sisi lain, kaum liberal mengkritik Bank karena hanya
berperan sebagai organisasi politik murni. Dalam perspektif ini, Bank justru
merepresentasikan penolakan terhadap konsep kemampuan pasar dalam mengatur
ekonomi. Kaum liberal melihatnya sebagai alat yang dimiliki negara, untuk
ekonomi internasional, yang bekerja untuk menutupi borok-borok dari kebijakan
yang sedang dilakukan negara tersebut. Dalam sudut pandang ini, Bank Dunia
mengambil tanggungjawab ekonomi liberal, dan tidak membiarkan kebijakan
negara pada tempatnya

2.3 Tujuan Bank Dunia


1)

untuk membantu rekonstruksi dan pembangunan di daerah anggota dengan

cara memfasilitasi investasi modal untuk tujuan produktif, termasuk pemulihan


kembali ekonomi yang hancur atau rusak karena perang, perubahan kembali
Halaman
9

fasilitas-fasilitas produktif yang dibutuhkan untuk usaha damai dan dorongan


pembanunan untuk fasiltas produktif dan sumber-sumber di negara-negara miskin.
2)

untuk mendorong investasi swasta luar negeri lewat jaminan atau partisipasi

dalam pemberian pinjaman dan investasi lainnya oleh investor swasta; dan ketika
modal swasta tidak tersedia dalam syarat-syarat yang wajar, sebagai tambahan
investasi swasta dengan menyediakan, berdasarkan persyaratan yang cocok,
membiayai untuk tujuan-tujuan produktif di luar dari modal mereka sendiri,
pengumpulan dan oleh sumber-sumber sendiri maupun sumber lainnya.
3)

Untuk

mendorong

keseimbangan

perkembangan

jangka

panjang

perdagangan internasional dan untuk mempertahankan keseimbangan saldo


pembayaran dengan mendorong investasi internasional untuk kemajuan sumbersumber produktif para anggota, dengan cara membantu menaikkan produktivitas,
standar kehidupan dan keadaan buruh di daerah mereka.
4)

Untuk meyusun pinjaman-pinjaman yang dibuat atau dijamin olehnya dalam

hubungannya dengan pinjaman internasional melalui sumber lainnya sehingga


dapat lebih berguna dna proyek-proyek yang mendesak, besar ataupun kecil, dapat
diatasi segera.
5)

Untuk menjalankan kegiatannya dengan dasar untuk mempengaruhi

investasi internasional dalam persyaratan bisinis di dalam daerah anggota dan,


dalam tahun tahun setelah perang, untuk membantu membuat masa transisi dari
suasana perang ke keadaan ekonomi yang damai.

2.4 Peran Bank Dunia Terhadap Indonesia


Kebijakan politik pemerintahan Presiden Soekarno yang mendekat ke blok
Uni Soviet menyulitkan Bank Dunia yang memiliki paham berseberangan untuk
mengambil peran lebih banyak bagi Indonesia. Oleh karena itu, Bank Dunia baru
mulai berperan sebagai lembaga pemberi pinjaman bagi Indonesia pada saat awal
Halaman
10

masa pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu sekitar tahun 1968. Namun sebelum
memberikan pinjaman, Bank Dunia menjajaki Indonesia dengan memberikan
bantuan teknis untuk identifikasi kebijakan makroekonomi, kebijakan sektoral
yang diperlukan, dan kebutuhan pendanaan yang kritis (Hutagalung, 2009).
Di masa-masa awal pemberian pinjaman, Indonesia masih dianggap
sebagai negara yang memiliki nilai credit worthiness yang rendah. Oleh karena
itu, pinjaman yang diberikan oleh Bank Dunia pada saat itu menggunakan skema
IDA atau pinjaman tanpa bunga, kecuali administrative fee persen per tahun
dan jangka waktu pembayaran 35 tahun dengan masa tenggang 10 tahun. Dana
pinjaman pertama yang diberikan kepada Indonesia adalah sebesar 5 juta dolar AS
pada September 1968 (Hutagalung, 2009). Pada masa-masa awal tersebut, dana
pinjaman dari Bank Dunia digunakan untuk pembangunan di bidang pertanian,
perhubungan, perindustrian, tenaga listrik, dan pembangunan sosial. Pada tahuntahun berikutnya, Indonesia berhasil menunjukkan performa ekonomi yang
memuaskan, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen per tahun,
jauh lebih besar dari rata-rata pertumbuhan ekonomi negara peminjam yang lain.
Oleh karena itu, sejak akhir dekade 70-an Indonesia sudah mulai dianggap sebagai
negara yang lebih creditworthy untuk memperoleh pinjaman Bank Dunia yang
konvensional atau dengan menggunakan skema IBRD. Berbeda dari periode
sebelumnya, pada dekade 80-an, pinjaman uang Bank Dunia terlihat lebih terarah
pada masalah deregulasi sektor keuangan, selain masih tetap digunakan bagi
pengembangan sektor-sektor sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.
Contoh nyata manfaat Bank Dunia bagi Indonesia
Tangkal Kemiskinan Bank Dunia Kucuri Utangi RI USD400 juta
Demi meningkatkan pengelolaan anggaran publik dan mengurangi angka
kemiskinan, Bank Dunia kembali memberikan pinjaman bagi Indonesia sebesar
USD400 juta.Pencapaian Indonesia dalam menciptakan stabilitas makroekonomi
dan politik selama sepuluh tahun terakhir sungguh luar biasa. Pencapaian
Halaman
11

Indonesia dalam memajukan reformasi kelembagaan patut kita dukung terus


melalui program pinjaman DPL ini, ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk
Indonesia Stefan Koeberle dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (23/11/2011)
Dia melanjutkan, pinjaman ini adalah kebijakan pembangunan kedelapan (Eighth
Development Policy Loan atau DPL-8) sebesar USD400 juta yang akan
digabungkan ke anggaran negara dengan tujuan mendukung tiga prioritas
reformasi. Target-target yang hendak dicapai dengan pinjaman DPL terbaru ini
sejalan dengan prioritas-prioritas yang tertuang dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Pemerintah Indonesia akan tetap pegang
kendali dalam upaya mencapai target-target ini, lanjutnya.
Tantangan utama Indonesia ke depan, lanjut bukan lagi soal membuat
kebijakan

atau

meningkatkan

anggaran

pembangunan,

melainkan

soal

kemampuan lembaga negara dalam menerapkan kebijakan pembangunan. Tujuan


mendasar dari program pinjaman DPL adalah meningkatkan kapasitas pemerintah
dalam memperbaiki iklim investasi, mengelola anggaran publik, dan mengurangi
angka kemiskinan,.

2.5 Dana Moneter Internasional


Dana Moneter Internasional

atau

International Monetary Fund

(IMF) adalah organisasi internasional yang bertanggungjawab dalam mengatur


sistem finansial global dan menyediakan pinjaman kepada negara anggotanya
untuk membantu masalah-masalah keseimbangan neraca keuangan masingmasing negara. Salah satu misinya adalah membantu negara-negara yang
mengalami kesulitan ekonomi yang serius, dan sebagai imbalannya, negara
tersebut

diwajibkan

melakukan

kebijakan-kebijakan

tertentu,

misalnya privatisasi badan usaha milik negara.


Dari Negara-negara anggota PBB yang tidak menjadi anggota IMF adalah
Korea Utara, Kuba, Liechtenstein, Andorra, Monako,Tuvalu dan Nauru. IMF
terbentuk pada tanggal 27 September 1045, sebagai bagian dari rencana
Halaman
12

rekonstruksi pasca perang Dunia II. Tujuan awal dari IMF ketika terbentuk adalah
menciptakan lembaga demokeratis yang menggantikan kekuasaan para bankir dan
pemilik modal internasional yang bertanggung jawab terhadap resesi ekonomi
pada decade 1930-an.

Pimpinan IMF
Berikut masa jabatan kepemimpinan IMF adalah 4 tahun Berikut daftar
managing director IMF.
Tanggal

Nama

6 Mei 19465 Mei 1951

Camille Gutt

Belgia

Ivar Rooth

Swedia

Per Jacobsson

Swedia

Pierre-Paul Schweitzer

Perancis

Johannes Witteveen

Belanda

3 Agustus 19513
Oktober 1956

21 November 19565
Mei 1963

1 September 196331
Agustus 1973

1 September 197316
Juni 1978

Halaman
13

Asal negara

17 Juni 197815
Januari 1987

16 Januari 198714
Februari 2000

1 Mei 20004 Maret 2004

4 Maret 20047 Juni 2004

7 Juni 200431
Oktober 2007

1 November 200718
Mei 2011

18 Mei 20115 Juli 2011

5 Juli 2011kini

Jacques de Larosire

Perancis

Michel Camdessus

Perancis

Horst Khler

Jerman

Anne Osborn Krueger (pejabat

Amerika

sementara)

Serikat

Rodrigo Rato

Spanyol

Dominique Strauss-Kahn

Perancis

John Lipsky (pejabat sementara)

Christine Lagarde (belum


dilantik)

Amerika
Serikat

Perancis

Kritik
Peran ketiga institusi Bretton Woods telah menjadi kontroversi bagi
banyak pihak sejak periode Perang Dingin. Para kritikus menganggap bahwa para
Halaman
14

pembuat kebijakan di IMF secara sengaja mendukung diktator militer kapitalis


yang bersikap bersahabat dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan Eropa.
Mereka juga menganggap IMF tidak perduli terhadap demokrasi, hak asasi
manusiadan hak-hak buruh. Kritik-kritik ini juga secara tidak langsung
mendorong timbulnya gerakan anti-globalisasi. Sebagian yang lain beranggapan
IMF tidak mempunyai power yang cukup untuk mendemokratisasikan negara
yang berdaulat, dan juga tidak mempunyai power untuk mendukung stabilitas
finansial. Mereka yang mendukung IMF berpendapat bahwa kestabilan ekonomi
diperlukan sebelum adanya demokrasi.
Para pakar ekonomi mengkritik pola pemberian bantuan finansial yang
selalu disertai "syarat-syarat", termasuk juga Structural Adjustment Programmes.
Syarat-syarat ini menurunkan kestabilan sosial, yang juga berarti menghambat
tujuan-tujuan IMF. IMF membatasi perekonomian negara dunia berkembang
dengan cara menentang pengembangan infrastruktur dan meminta negara yang
bersangkutan untuk hidup dengan standar yang rendah.

2.6 Posisi utang luar Negeri Indonesia


Sejak krisis ekonomi tahun 1997, Indonesia terus menerus dibelit oleh
utang. Kurang lebih separuh dari anggaran negaranya adalah untuk pembayaran
utang.
Jumlah dan asal utang Indonesia
Utang luar negeri Indonesia lebih didominasi oleh utang swasta.
Berdasarkan

data

di

Bank

Indonesia,

posisi

utang

luar

negeri

pada Maret 2006 tercatat US$ 134 miliar, pada Juni 2006 tercatat US$ 129 miliar
dan Desember 2006 tercatat US$ 125,25 miliar. Sedangkan untuk utang swasta
tercatat meningkat dari US$ 50,05 miliar pada September 2006 menjadi US$
51,13 miliar pada Desember 2006.
Negara-negara donor bagi Indonesia adalah:
Halaman
15

1. Jepang merupakan kreditur terbesar dengan USD 15,58 miliar.


2. Bank Pembangunan Asia (ADB) sebesar USS 9,106 miliar
3. Bank Dunia (World Bank) sebesar USD 8,103 miliar.
4. Jerman dengan USD 3,809 miliar, Amerika Serikat USD 3,545 miliar.
5. Pihak lain, baik bilateral maupun multilateral sebesar USD 16,388 miliar.

Berapa bayak Hutang Pemerintah Indonesia


Pemerintah mengumumkan bahwa tanggal 31 Mei 2011 memiliki hutang
sebesar US $ 201.070.000.000 atau Rp1, 716 triliun dengan kurs 8.537 terhadap
US Dollar. Utang melambung dibandingkan dengan posisi terakhir di 2010 yang
sebesar Rp1,676 triliun. Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Pengelolaan
Utang's data menunjukkan bahwa lebih dari setengah utang pemerintah dalam
bentuk kertas negara komersial."Proporsi pinjaman luar negeri adalah 34 persen,
sedangkan negara surat berharga komersial 65,7 persen," sebagai pernyataan itu
mengatakan, Senin 13 Juni 2011.
Dari aspek mata uang, mayoritas utang dalam Dolar Amerika Serikat,
selain dari kertas Umum Pemerintah dalam Rupiah yang sebesar Rp955 triliun
atau US $ 112 miliar. "Angka ini bersifat sementara." Sejak tahun 2006, seluruh
hutang pada tanggal 31 Mei telah menjadi tertinggi. Pada tahun 2006, utang
pemerintah hanya US $ 144 miliar ( Rp1, 302 triliun dengan kurs maka dari 9.020
terhadap Dolar AS ) dan pada tahun 2007 mereka pergi ke US $ 147 miliar ( Rp1,
389 triliun).Sementara itu, pada tahun 2008 utang sebesar US $ 149 miliar
(Rp1,636 triliun), pada tahun 2009 US $ 169 miliar (Rp 1.590 triliun)
Pembayaran utang
Utang luar negeri pemerintah memakan porsi anggaran negara (APBN)
yang terbesar dalam satu dekade terakhir. Jumlah pembayaran pokok dan bunga
utang hampir dua kali lipat anggaran pembangunan, dan memakan lebih dari
separuh penerimaan pajak. Pembayaran cicilan utang sudah mengambil porsi 52%
Halaman
16

dari total penerimaan pajak yang dibayarkan rakyat sebesar Rp 219,4 triliun.
Jumlah utang negara Indonesia kepada sejumlah negara asing (negara donor)di
luar negeri pada posisi finansial 2006, mengalami penurunan sejak 2004 lalu
sehingga utang luar negeri Indonesia kini 'tinggal' USD 125.258 juta atau sekitar
Rp1250 triliun lebih.

Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia melakukan pelunasan utang kepada


IMF. Pelunasan sebesar 3,181,742,918 dolar AS merupakan sisa pinjaman yang
seharusnya jatuh tempo pada akhir 2010. Ada tiga alasan yang dikemukakan atas
pembayaran utang tersebut, adalah meningkatnya suku bunga pinjaman IMF sejak
kuartal ketiga 2005 dari 4,3 persen menjadi 4,58 persen; kemampuan Bank
Indonesia (BI) membayar cicilan utang kepada IMF; dan masalah cadangan
devisa dan kemampuan kita (Indonesia) untuk menciptakan ketahanan, dan 2010
US $ 186.000.000.000 atau Rp1,676 triliun
2.7

Bagaimana hubungan IMF dengan krisis ekonomi yang terjadi di


Indonesia.
Hubungan IMF dengan Krisis Ekonomi yang Terjadi di Indonesia

Keterlibatan IMF membuat krisis ekonomi di Indonesia semakin parah dan


mendalam. Akibat salah obat dan salah diagnosis, pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun 1998 minus 12,8 persen. Memang tanpa keterlibatan IMF pun
krisis ekonomi akan tetap terjadi, tetapi dengan skala yang relative lebih kecil
tentunya. IMF bukanlah Dewa Penyelamat, tetapi juga Dewa Amputasi yang
akan melakukan amputasi di ruang gawat darurat dan kemudian memaksa si
penderita melakukan diet yang ketat dengan konsekuensi berjangka panjang.
Padahal pasien tersebut tidak perlu diamputasi (Econits Public Policy Review
(EPPR),
Kebijakan yang disarankan oleh IMF telah menjerumuskan Indonesia ke
krisis yang lebih parah, seperti kasus likuidasi 16 Bank pada bulan November
Halaman
17

1997 yang memicu rusuh terhadap puluhan bank besar Indonesia, seperti Bank
BCA dan Bank Danamon, membuat kolaps system perbankan nasional, dan kian
menenggelamkan nilai tukar Rupiah. Berdasarkan pengalaman di negara lain,
banyak dari pasien IMF hanya sembuh sementara, untuk kemudian krisis kambuh
kembali sehingga menjadi pasien IMF kambuhan (repeated patients). Biaya sosial
ekonomis dari krisis yang dialami Indonesia ketika itu adalah kerusuhan sosial
Mei 1998 (IMF-Provoked Riots). Dalam banyak kasus keterlibatan IMF di
Amerika Latin dan Afrika, saran-saran IMF sering memicu demonstrasi besarbesaran, kerusuhan massal yang memakan korban jiwa, dan kejatuhan
pemerintahan.
Dalam kasus Indonesia, keterlibatan IMF meningkatkan puluhan juta
pengangguran, kebangkrutan ekonomi nasional dan swasta, biaya rekapitulasi
bank lebih dari Rp 600 triliun, serta tambahan beban utang puluhan miliar dolar
yang masih terasa hingga saat ini. Pemenang Nobel Ekonomi 2001, Prof.Joseph
Stiglitz dari Universitas Colombia menyatakan,Program IMF yang jangka
waktunya lebih dari dua tahun merupakan bukti dari kegagalan IMF. Indonesia
merupakan salah satu contoh kegagalan besar IMF karena telah berlangsung
selama enam tahun (1997-2003). Menurut Stiglitz: IMF memaksakan terlalu
banyak prasyarat, sebagian diantaranya bersifat politis, dan sering masuk dalam
wilayah mikroekonomi, yang berada di luar mandat dan kompetensi IMF (yang
hanya terbatas pada bidang makroekonomi).
Krisis 1997/1998 sebenarnya telah meninggalkan banyak hikmah yang
dapat dipetik oleh para pengambil kebijkan ekonomi. Namun pada kenyataannya,
para pengambil kebijkaan ekonomi tidak banyak mengambil pelajaran dari krisis
ekonomi tersebut. Meskipun IMF telah beranjak dari Indonesia, namun hubungan
struktural bawah tanah masih terjadi (Sistem Neoliberal). Sampai akhir Juni 2007,
jumlah dana asing yang ada di instrument financial Indonesia mencapai sekitar Rp
797 trilliun, dan sekitar Rp 670 trilliun (84 persen) diantaranya ditempatkan di
instrument saham di BEJ (Bursa Efek Jakarta) terjadi gelembung financial.
Halaman
18

Aliran masuk hot money tersebut telah memberikan dampak ganda


kontradiksi sektor financial dengan sektor riil. Gelembung financial akibat hot
money tersebut sangat berbahaya karena karakteristik hot money yang seperti
pisau bermata dua. Selain dapat menggelembungkan nilai aset financial dan
menguatkan mata uang rupiah, hot money juga pada gilirannya juga dapat
menjadi malapetaka bagi sektor financial Indonesia ketika terjadi arus balik.
Apalagi saat ini sekitar 65-70 persen transaksi saham di BEJ dikuasai oleh
investor asing.
Praktis naik turunnya harga saham berada di bawah kendali investor asing
yang tidak lain adalah hedge fund besar di tingkat global. Sedikit goncangan
(Shock), baik karena faktor domestik maupun eksternal dapat berakibat pada
terjadinya arus balik hot money dan terkoreksinya gelembung financial, yang bisa
mengarah pada krisis ekonomi Jilid II.
Tim ekonom pemerintah cenderung memandang gelembung financial
sebagai prestasi yang membanggakan dan secara langsung maupun tidak langsung
selalu mempromosikan hot money. Semakin banyak hot money mengalir ke
Indonesia, maka semakin besar pula potensi Indonesia bahaya yang dihadapi oleh
Indonesia. Kenaikan nilai aset financial yang sangat tinggi justru memperlambat
perkembangan sektor riil. Jika return di sektor financial jauh lebih tinggi dari
tingkat return di sektor riil, maka pemilik modal akan cenderung melakukan
invenstasi di sektor financial (non riil) dibandingkan dengan sektor riil.
Pandangan Pakar Ekonomi Mengenai Pemutusan Hubungan Kerjasama
antara Pemerintah Indonesia dengan IMF Kwik Kian Gie: Segala sesuatu Letter of
Intent (LoI) IMF yang satu persatu sedang kami teliti. Untuk mengetahui
sebetulnya IMF itu efektif dan tidaknya bahkan sampai seberapa besar seperti
yang disinyalir oleh sejumlah pengamat bahwa IMF itu sudah menjurus pada satu
titik kalau tidak dihentikan akan membawa ke suatu mala petaka yang
besar.Amien Rais: Bayangkan 400 juta dolar yang diberikan kepada kita itu kan
Halaman
19

lebih setahun baru turun. Setelah kita mengemis, merengek-rengek. Setelah turun
pun tidak boleh dipakai untuk apa-apa. Katanya boleh dipakai kalau cadangan
devisa sudah habis sama sekali setelah kita jadi bangsa kere. Ini juga apa-apaan?
Buat saya mari kita melihat Malaysia, Thailand atau Korea Selatan. Tiga negeri
yang pernah menderita oleh krisis moneter dan sekarang sudah gagah kembali dan
selamat tinggal pada IMF.
Boediono: Kita nanti tunggu deh sampai 2003 bagaimana. Program kita
kan sampai akhir 2003. Setelah itu ya kita pikir apa. Kita lihat situasinya
menjelang itu kan masih satu setengah tahun lagi. Misinya sudah datang dan kita
membicarakan pokok-pokonya. Pendek sekali LoI yang keenam ini pendek.Rizal
Ramli: Ya menurut kami sudah waktunya dihentikan. Tapi memang ada
sekelompok kecil pejabat di Indonesia, mafia di Indonesia yang kalau tanpa IMF
tidak ada apa-apanya. Tidak memiliki posisi tawar terhadap pemerintah. Dan
menurut saya kepentingan pribadi dan kelompok ini jauh lebih penting dari pada
kepentingan nasional yang terjadi kenapa masih ngotot mau mempertahankan
IMF

2.8 Apa Dampak Yang Terjadi Dengan Adanya Pemutusan


Hubungan Kerjasama

Tersebut,

Sertabagaimana

Cara

Menyikapinya
Setidaknya ada empat resiko yang muncul bila Indonesia memutuskan
hubungan kerja sama dengan Dana Moneter Internasional (IMF).
1. Dana IMF akan dibekukan dan harus dikembalikan sehingga akan memangkas
sejumlah besar cadangan devisa Indonesia. Memutus hubungan dengan IMF
secara mendadak, dan prematur akan mengundang resiko yang besar bagi
ekonomi Indonesia.
2. Mata uang rupiah akan menjadi tidak konvertibel sehingga eksportir dan
importir Indonesia harus melakukan barter dalam perdagangannya dengan
Halaman
20

mitra asing. Dan kelanjutan pinjaman dan hibah dari kelompok kreditor
Consultative Group on Indonesia (CGI), Bank Dunia, dan Bank Pembangunan
Asia (ADB) kepada Indonesia akan terganggu.
3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan mengalami
peningkatan defisit dalam jumlah besar, yang pada gilirannya akan membawa
pula dampak berupa melonjaknya tingkat inflasi.
4. Resiko yang akan dihadapi Indonesia jika hubungan dengan IMF putus secara
mendadak dan prematur, selain mengganggu perekonomian Indonesia,
Pemutusan hubungan dengan IMF juga akan mengganggu program
pemulihan ekonomi yang sudah mulai berjalan karena Indonesia masih
memerlukan utang dari IMF untuk mendukung program pemulihan ekonomi ini.
Apalagi bila melihat bahwa kerja sama Indonesia dengan IMF merupakan
penjamin bagi berbagai fasilitas dan kerja sama dengan pihak lainnya. seperti
dengan kelompok kreditor Paris Club, CGI dan Bank Dunia.
Selain itu, dampak dari pemutusan kerja sama dengan IMF juga berpengaruh
pada fasilitas Paris Club tidak lagi tersedia. Ini berarti Indonesia tidak lagi
mendapat keringanan pembayaran utang, satu hal yang akan memberatkan beban
anggaran negara sepanjang tahun 2004. Tanpa fasilitas Paris Club, tahun depan
Indonesia harus membayar utang US$ 3 miliar atau sekitar Rp 26 triliun. Jumlah
ini tidak kecil, belum lagi beban pembayaran surat utang negara yang mencapai
Rp 18,9 triliun. Selain itu masih ada defisit sekitar Rp 25 triliun.

Halaman
21

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Aktivitas Bank Dunia saat ini difokuskan pada negara-negara berkembang,
dalam bidang seperti pendidikan, pertanian dan industri. Bank Dunia memberi
pinjaman dengan tarif preferensial kepada negara-negara anggota yang sedang
dalam kesusahan. Sebagai balasannya, pihak Bank juga meminta bahwa langkahlangkah ekonomi perlu ditempuh agar misalnya, tindak korupsi dapat dibatasi atau
demokrasi dikembangkan.
Pandangan Bank Dunia harus disikapi secara kritis. Yang merasakan
akibat dari implementasi saran mereka yang bias itu adalah bangsa kita, petani
kita, masyarakat kita. Mereka datang kemari silih berganti ahlinya, tetapi itu
sekedar melaksanakan pesan sponsor. Kita telah terperangkap dengan hutang luar
negeri dan SDA milik bangsa ini yang dikapling dan dikuasai bangsa asing. Kita
semakin sulit keluar dari kemiskinan dan kepapaan, padahal kita berada di negara
yang kaya.

Halaman
22

Sayang para pengambilan keputusan, banyak diantara para birokrat kurang


memahami politik kurang terpuji di belakang lembaga keuangan internasional,
seperti Bank Dunia dan IMF. Dalam tataran perundingan multilateral misalnya,
mereka juga jarang memihak negera berkembang, mereka jelas memihak negara
kaya dan korporasi internasional (MNCS). Itulah yang harus disikapi dangan
bijaksana dan hati-hati.
IMF didirikan dengan semangat membantu perekonomian negara-negara
berkembang supaya kerjasama perekonomian antarnegara bisa terjalin secara
lebih luas. Sebagaimana dinyatakan Agarwal, Pada tahun 1960 dan 1970-an,
beberapa pemikir idealis menyarankan bahwa bantuan dana kepada negara
berkembang bisa digunakan sebagai kebijakan ekspansif karena negara-negara
berkembang memiliki kecenderungan sangat tinggi untuk mengimpor barangbarang dari negara maju. Dengan kata lain, IMF semula bertujuan untuk
menyejahterakan negara-negara berkembang supaya mereka bisa memiliki
kekuatan ekonomi yang baik untuk bisa melakukan transaksi ekonomi
internasional. Namun, idealisme awal ini kini terbukti tidak dijalankan oleh IMF.
Tesis liberalis institutional bahwa institusi internasional (dalam hal ini IMF) akan
membangun kerjasama ekonomi dunia yang saling menguntungkan ternyata tidak
terwujud. Yang terjadi bukanlah kerjasama yang saling menguntungkan,
melainkan kerjasama yang menghisap darah pihak yang lemah.

3.2 Saran
Semoga makalah yang di buat ini Berguna Untuk kami kelompokm Lima
dan Kelompok lain

Sebagai tambahan wawasan mengenai Bank Dunia Dan

Hubungan kerjasama International Monetary Fund ( IMF ) Dengan Indonesia

Halaman
23

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org
http://www.lfip.org
http://majalah.tempointeraktif.com
http://www.indopolitik.com
http://www.scribd.com/
http://www.indopolitik.com
http://majalah.tempointeraktif.com
http://id.shvoong.com

Halaman
24