Anda di halaman 1dari 1

RETENSI HARA DAN AIR TANAH PADA SISTEM

PERTANAMAN KAKAO TERINTEGRASI DAN KONVENSIONAL


Rezki Arham AR
Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan, Kampus Unhas Tamalanrea, Tlp./Fax.: (0411) 587076,
e-mail eqyrock@ymail.com: Makassar, 90245

ABSTRAK
Sistem pertanaman kakao terintegrasi mengintegrasikan tanaman dan ternak yang
bersimbiosis secara mutualisme dalam proses produksi pertanian. Sistem ini
diketahui memengaruhi kualitas tanah, termasuk dalam hal retensi hara dan air.
Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari retensi hara dan air tanah antara sistem
pertanaman kakao terintegrasi dan konvensional. Penelitian ini dilakukan dengan
membandingkan retensi hara dan air tanah pada sistem pertanaman kakao
terintegrasi dan sistem konvensional yang lokasinya saling berdekatan. Sampel
tanah diambil mengikuti garis transek yang memotong kebun secara diagonal.
Parameter yang diamati adalah retensi air dan retensi hara melalui pengukuran
kemasaman tanah, kapasitas tukar kation (KTK), kandungan C-organik, N-total,
fosfor, kalium, kalsium dan tekstur tanah. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa,
belum ada perbaikan retensi air akibat perubahan dari sistem konvensional ke
sistem terintegrasi pada rentang pori makro (m >-5 kPa). Sementara, sistem
pertanaman kakao terintegrasi mulai memperlihatkan perbaikan retensi hara,
walaupun masih pada kisaran yang kecil. C-organik meningkat dari 2,64 ke 3,43
g/100g, pH dari 5,84 menjadi 6,38 yang mendorong ketersediaan hara P, K dan
Ca yang lebih besar. Kandungan hara Ca meningkat dari 4,26 dan 6,54 cmol/kg.
Sementara, KTK, kandungan N dan P mengalami kenaikan marginal.

Kata kunci: Pertanaman kakao terintegrasi, Mamuju, Sulawesi Barat, retensi air
dan hara tanah.