Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN STUDI LAPANGAN

AGK 3
TATA LAKSANA DIET PADA
PASIEN KOLELITHIASIS
KOLESISTITIS PRO
LAPARASKOPI
CHOLECYSTECTOMY
GRACE MARSELINA DATU TASIK
11/317318/KU/14555

Anamnesis
A . I D E N T I TA S PA S I E N
NAMA
: N Y. M
NO. RM
: 910397
UMUR
: 7 3 TA H U N
RUANG
: II / 108 B
SEX
: PEREMPUAN
TGL MASUK
: 03-10-2014
PEKERJAAN
: I B U R U M A H TA N G G A
TGL KASUS
: 06-10-2014
PENDIDIKAN
: SMP
A L A M AT
: BANTUL
AGAMA
: K AT H O L I K
DIAGNOSIS MEDIS
:KOLELITIASIS
KOLESISTITIS
L A PA R A S K O P I K O L E S I S T E C T O M I

PRO

Keluhan Utama

Pasien mengatakan sakit pada bagian perut


Riwayat Penyakit Sekarang

Sakit pada bagian perut dan perut terasa begah


Riwayat Penyakit Dahulu

Pernah menderita batu ginjal sekitar 15 tahun lalu


Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada riwayat penyakit keluarga

C. RIWAYAT GIZI
Data Sosioekonomi
Penghasilan
: Tidak diketahui
Jumlah anggota keluarga : 4 (Suami telah meninggal, anak sudah
berkeluarga dan tinggal bersama anak, menantu dan cucu)
Suku
: Jawa

Aktifitas fisik
Jumlah jam kerja
: Jumlah jam tidur sehari
: 8jam
Jenis olahraga
: jalan sehat setiap pagi (2x/minggu)
Masalah gastrointestinal
Nyeri ulu hati (-), Mual (+), Anoreksia (-), Muntah (+), Diare (-),
Konstipasi (-), Perubahan pengecapan/penciuman (-)

C. RIWAYAT GIZI
Alergi makanan

: Tidak ada

Penyakit kronik

Jenis penyakit
: kolelitiasis kolesistitis
Modifikasi diet
:Jenis dan lama pengobatan : Kesehatan mulut
Sulit menelan (-); stomatitis (-); gigi lengkap (-); sulit mengunyah (-)
Perubahan berat badan
: Tidak diketahui apakah terdapat kenaikan
maupun penurunan berat badan secara signifikan.
Pengobatan
Vitamin/suplemen/mineral : Frekuensi dan jumlah
:Fasilitas memasak
: Menyiapkan sendiri
Fasilitas menyimpan makanan : almari makan, tudung saji

C. RIWAYAT GIZI
Riwayat/Pola Makan

Sebelum

merasakan gejala terkait kolelitiasis, pasien


mengaku beberapa tahun lalu, selalu mengkonsumsi
makanan dalam porsi yang cukup besar. Selain itu,
menurut keterangan keluarga, pasien sangat gemar
mengkonsumsi gorengan dan makanan bersantan. Pasien
yang mengaku gemar mengkonsumsi lauk hewani ini juga
memiliki riwayat batu ginjal sekitar 15 tahun lalu serta
belum pernah melakukan pemeriksaan laboratorium lebih
lanjut terkait penyakit yang pernah dialami.

ANTROPOMETRI
BB

LLA

Tinggi badan

48

150

Kesimpulan

=
IMT
= 48 / (150)2
= 17,78 kg/m2
Berdasarkan hasil perhitungan IMT, diperoleh status gizi
pasien menurut klasifikasi untuk orang Asia adalah
underweight. Menurut IOTF, WHO 2000 risiko
comorbiditas untuk orang asia dengan status gizi
underweight adalah rendah namun risikountuk masalahmasalah klinis lain meningkat .

BIOKIMIA
Pemeriksaan urin/
Darah

Satuan/ Nilai
Normal

Awal Masuk RS
Tanggal
03/10/2014

SGPT

32 u/l

SGOT

Keterangan

Tanggal
05/10/2014

Keterangan

200,2

Tinggi

31,2

Normal

31 u/l

171,5

Tinggi

60,6

Tinggi

Amilase

28-100 u/l

572

Tinggi

74

Normal

Lipase

897

Tinggi

149

Tinggi

Bilirubin total

13-60 u/l
0,3-1,0 mg/dl

0,49 mg/dl

Normal

Bilirubin direk

0,1-0,3 mg/dl

0,33 mg/dl

Normal

Bilirubin indirek

0,2-0,7 mg/dl

0,16 mg/dl

Normal

Globulin

3,2-3,9 g/dl

2,41

Rendah

Glukosa darah

70-110 mg/dl

112

Tinggi

Hb

12 15,5 g/dl

11

Rendah

Leukosit

4-11x103 uL

5,5

Normal

Eritrosit

3,8-5,8x106 uL

3,75

Normal

Hematokrit

37-47 %

31,7

Rendah

Trombosit

150-450 x103 uL

326

Normal

Basofil

1-2 %

0,7

Rendah

MCH

80-96 fl

84,5

Normal

MCH

27-31 pg

29,3

Normal

MCHC

32-36 g/dL

34,7

Normal

WCH

11,6-14,8 %

14,1

Normal

BIOKIMIA
Hasil pemeriksaan biokimia pada awal masuk RS

menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kadar amilase,


lipase, SGOT dan SGPT yang jauh di atas normal. Kadar
glukosa darah juga mengalami sedikit peningkatan di atas
normal. Sebaliknya, kadar hemoglobin, globulin,
hematokrit dan basofil pasien tergolong rendah.
Namun, pada pemeriksaan dua hari selanjutnya terdapat

penurunan kadar SGPT dan enzim amilase yang cukup


signifikan sehingga termasuk dalam batas normal.
Sementara itu, kadar SGOT dan enzim lipase pasien masih
cukup tinggi.

Cont
Ketika terdapat obstruksi di saluran empedu

terjadi alir balik cairan empedu yang mengandung


bilirubin, garam empedu dan kolesterol ke hepar.
Hal ini mempengaruhi terjadinya proses
peradangan di sekitar hepatobiliar dan memicu
pengeluaran SGOT dan SGPT. Akibatnya kadar
SGOT dan SGPT dalam darah meningkat. Selain
itu, kadar amilase yang meningkat juga
mengindikasikan adanya kolesistitis. Sementara
itu, nilai hemoglobin yang rendah berhubungan
dengan masalah klinis anemia (Kee, 2008).

FISIK KLINIS
Kesan Umum

: Compos mentis, baik


Keluhan
: mual, muntah, sakit pada perut (nyeri
hebat) dan terasa begah
Vital Sign
: - Tensi : 115/64 mmHg
- Respirasi : 18x/menit
- Nadi
: 80x/menit
- Suhu
: 36,6 0C
Kepala/ abdomen/extremitas dll :
Abdomen : Tidak ada edema
Ekstremitas
: Tidak ada edema
Anemis
: (-)
Sklera
: (-)

FISIK KLINIS
Kesimpulan:

Nyeri
yang
muncul
adalah
akibat
adanya
penyumbatan pada saluran empedu atau penyumbatan
pada bagian kandung empedu. Apabila batu empedu
menyumbat di dalam saluran empedu utama, maka akan
muncul kembali sensasi nyeri yang bersifat hilang-timbul.
Lokasi nyeri yang terjadi biasanya berbeda-beda pada
setiap penderita, tetapi posisi nyeri paling banyak yang
dirasakan adalah pada perut atas sebelah kanan dan dapat
menjalar ke tulang punggung atau bahu. Penderita juga
seringkali merasakan mual dan muntah (Girsang, 2013).

Cont
Peradangan

pada saluran empedu atau yang


disebut dengan kolangitis dapat terjadi karena
saluran empedu tersumbat oleh batu empedu. Jika
terjadi infeksi bersamaan dengan penyumbatan
saluran, maka akan timbul demam (Tesimen,
2009). Pada kasus ini, pasien tidak mengalami
demam.

ASUPAN ZAT GIZI


Hasil Recall 24 jam diet RS : Diet Makanan Biasa
Tanggal : 6 Oktober 2014

Implementasi

Energi
(kkal)

Protein
(gram)

Lemak
(gram)

KH
(gram)

Asupan oral

931,8

51

34

140,7

Asupan Enteral

Paranteral

Kebutuhan

1494,2

52,8

33,2

246,5

% Asupan

62,3 %

96,5 %

102,4 %

57 %

Kesimpulan:
Berdasarkan hasil recall diketahui bahwa asupan energi

dan karbohidrat pasien masih kurang yaitu 62,3% dan 57%.


Namun, asupan protein dan lemak sudah memenuhi
standar asupan yaitu 98,5% dan 102,4%.
Adapun persentase asupan dibandingkan berdasarkan

perhitungan kebutuhan pasien yang saat ini mengalami


kolellithiasis laparaskopi kolesistitis. Menurut McGuire dan
Beerman (2012) negative energy balance merupakan hasil
dari kurangnya asupan energi, kelebihan energi
ekspenditur, atau keduanya.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan

Hasil

USG

Cholelithiasis multiple dengan cholecystisis , tak


tampak kelainan pada hepar,, pankreas, lien ren
bilateral, uterus dan adnexa

EKG

HSR 14 R 90x/menit

Ro Thorax

Jantung dan paru-paru dalam batas normal serta


tak tampak kelainan infiltrat / KP

TERAPI MEDIS
Tizos
Fleet enema
Cefotaxime

Ranitidine
Remopain
Omeprazol
Dicynon
Cefspan
Pronalges

DIAGNOSIS
NI.-5.4

Penurunan kebutuhan nutrisi spesifik yaitu lemak berkaitan


dengan adanya penyumbatan batu di kandung empedu
dibuktikan oleh adanya nyeri perut dan kadar lipase diatas
normal
NB-1.1

Kurangnya pengetahuan terhadap makanan dan nutrisi


berkaitan dengan minimnya informasi dan ketidakmauan
untuk memperhatikan pola makan dibuktikan oleh dietary
history yang menunjukkan pola makan yang kurang baik
(ADA, 2006)

INTERVENSI

PERENCANAAN

Tujuan Diet

Membantu memenuhi kebutuhan zat gizi dan mencegah penurunan status gzi

lebih lanjut
Membantu mengurangi nyeri perut akibat sumbatan batu empedu
Syarat/Prinsip Diet
Energi cukup berdasarkan kebutuhan basal dan faktor aktivitas serta faktor

stress
Karbohidrat cukup yaitu 66% dari total kalori
Protein cukup sebesar 1,1 g/kg BB. Sangat dianjurkan menggunakan protein
bernilai biologik tinggi.
Lemak rendah yaitu 20 % dari total kalori dengan mengutamakan lemak tidak
jenuh

Perhitungan Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Pre Operasi


Kebutuhan Energi
BEE Harris Benedict
= 655 + (9,6 x 48) + (1,7 x 150) (4,7x73)
= 1037,7 kcal
TEE Harris Benedict
= BEE x FA x FS
= 1037,7 x 1,2 x 1,2
= 1494,2 kcal
Kebutuhan Protein
Protein = 1,1 g x 48 kg
= 52,8 gram
= 14 % dari total kalori
Kebutuhan Lemak
Lemak
= 20% x 1494,2 kkal
= 298,84 kkal = 33,2 gram
Kebutuhan Karbohidrat
Kebutuhan KH
= 66 % x 1494,2 kkal

Terapi Diet (Bentuk Makanan dan Cara

Pemberian)
Jenis Diet
Bentuk makanan
Cara Pemberian

= Diet Rendah Lemak


= Biasa
= Oral

Kebutuhan energi yang diberikan berdasarkan pada kebutuhan


pasien yang diperoleh dari perhitungan Harris Benedict dengan
memperhatikan faktor aktivitas dan faktor stress masing-masing
sebesar 1,2.
Menurut Landt (2002) faktor aktivitas untuk pasien bed rest
adalah 1,15 dan faktor stress untuk pasien bedah minor dengan operasi
elektif adalah 1,0-1,2. Almatsier (2006) menjelaskan nilai 1,2 untuk
faktor aktivitas dan faktor stress tepat digunakan untuk pasien dengan
kondisi tirah baring dan mengalami peradangan saluran cerna.

Kebutuhan lemak yang diberikan yaitu sebesar 20% dari total kalori.

Menurut Mahan (2008) pemberian lemak perlu diperhatikan pada


pasien dengan kolelithiasis maupun kolesistitis yaitu maksimal sekitar
40 gram per hari. Nilai ini setara dengan 20-25% dari total kebutuhan
kalori. Pembatasan lemak yang terlalu ketat tidak dianjurkan sebab
lemak di usus penting untuk beberapa stimulasi dan drainase saluran
empedu. Selain itu, pemberian karbohidrat cukup yaitu sekitar 66%
dari total kebutuhan kalori.
Pemberian diet pre bedah harus mempertimbangkan keadaan umum
pasien, macam pembedahan (mayor atau minor), sifat operasi (segera
atau elektif) dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pengkajian status gizi
pre bedah sangat diperlukan untuk menentukan perlu tidaknya
dukungan nutrisi, yang dapat berupa suplementasi nutrisi oral, enteral
nutrisi maupun paranteral nutrisi (Hill, 2000).

Rencana Monitoring dan Evaluasi


Anamnesis
Antropometri

Biokimia

Fisik dan Klinis

Asupan Gizi

Yang diukur

Pengukuran

Evaluasi/ target

BB

Bila pasien dapat


ditimbang

Meningkat

SGOT,
SGPT,Amilase,
Lipase
- Keluhan
- Vital sign

Asupan makan

Menyesuaikan
dokter/medis

Normal
-

Setiap hari,
selama 3 hari

Setiap hari,
selama 3 hari

Keluhan
berkurang
Normal, baik

80 %
Tidak makan dari
luar RS

IMPLEMENTASI
Kajian Terapi Diet Rumah Sakit
Terapi Diet Pre Operasi

Jenis Diet/ Bentuk Makanan/ Cara Pemberian : RL II/Biasa/Oral

Energi (kal)

Protein (gr)

Lemak (gr)

KH (gr)

1190,9

58,6

27,1

182,6

RS
Kebutuhan
(planning)

1494,2

52,8

33,2

246,5

% standar/
kebutuhan

79,7 %

110,9 %

81,6 %

74 %

Standar diet

Terapi Diet Post Operasi


Jenis Diet/ Bentuk Makanan/ Cara Pemberian : Sumsum/Lunak/Oral
Parenteral gizi : D5% 500 ml (Energi 100 kkal + 25 g KH)
Energi (kal) Protein (gr) Lemak (gr)
Standar diet
RS
Kebutuhan
(planning)
% standar/
kebutuhan

KH (gr)

1275,7

23,1

24,8

239,2

1494,2

52,8

33,2

246,5

85,3 %

43,8 %

74,6 %

97 %

REKOMENDASI DIET
PRE OPERASI

NILAI GIZI DIBANDINGKAN KEBUTUHAN PASIEN


STANDAR DIET RS
REKOMENDASI DIET
STANDAR
Kebutuhan pasien :

E = 1494,2 kcal

Energi:1190,9 kkal

P = 52,8 g

(79,7%)

L = 33,2 g

Protein: 58,6 g (110,9 %)

KH = 246,5 g

Lemak: 27,1 g (81,6 %)


Karbohidrat: 182,6 g (
74%)

Energi: 1392,3 kkal


(93,2%)
Protein: 62,6 g (119 %)
Lemak: 30,1 g (90,6 %)
Karbohidrat: 209,6 g
(89,1%)

REKOMENDASI DIET
PASCA OPERASI
NILAI GIZI DIBANDINGKAN KEBUTUHAN PASIEN
STANDAR DIET RS
REKOMENDASI DIET
STANDAR
Kebutuhan pasien :

E = 1494,2 kcal
P = 52,8 g
L = 33,2 g

KH = 246,5 g

Energi: 1636,3 kkal


Energi: 1275,7 kkal (
(109,5%)
85%)
Protein: 45,1 g
Protein: 23,1 g (43%)
(86,7%)
Lemak: 24,8 g (74,6%)
Lemak: 27,8 g (92,7%)
Karbohidrat: 239,2 g
Karbohidrat: 279,2 g
(97%)
(113%)

Penerapan Konseling Gizi


Sasaran
Waktu

Tempat
Media
Metode

: Pasien dan anggota keluarga


: Saat di bangsal
: Bangsal
: Leaflet
: Konsultai gizi (Konseling)

Masalah Gizi :
Pengaturan dan pola diet yang kurang baik terkait ketidaktahuan

mengenai pembatasan konsumsi lemak


Tujuan konseling :
Membantu pasien untuk meningkatkan asupannya dalam rangka

pemenuhan kebutuhan zat gizi


Pengaturan diet yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien terkait
keadaan pasca operasi yaitu kolesistektomi laparaskopi

Cont
Materi konseling gizi

Edukasi kepada pasien mengenai pengaturan dan


komposisi diet rendah lemak dan rendah kolesterol
Edukasi dan motivasi terhadap pasien mengenai
pentingnya meningkatkan asupan oral
Edukasi kepada pasien mengenai makanan yang
dianjurkan dan tidak dianjurkan serta pengolahan masakan
yang baik untuk pasien hipertensi
Edukasi kepada pasien mengenai pengaturan asupan cairan
Edukasi dan motivasi terhadap pasien mengenai
pentingnya olahraga dan pola hidup sehat secara umum

Monitoring & Evaluasi

Monitoring & Evaluasi

Monitoring & Evaluasi

KESIMPULAN & SARAN


Kesimpulan :
Berdasarkan assesmen antropometri pasien memiliki status gizi underweight
Berdasarkan diagnosis medis pasien mengalami kolelithiasis kolesistitis pro
laparaskopi colecystectomy
Hasil analisis menunjukkan diagnosis gizi pasien yaitu NI-5.4 Penurunan
Kebutuhan Lemak dan NB-1.1 Kurangnya Pengetahuan Terhadap Makanan
dan Nutrisi
Intervensi gizi yang diberikan adalah Diet Rendah Lemak, konsistensi biasa dan
cara pemberian oral
Saran
Untuk pasien
Pasien perlu menerapkan pola makan yang baik dan menghindari beberapa
makanan yang sesuai dengan pengaturan diet yang telah dianjurkan
Untuk keluarga pasien
Sebaiknya keluarga pasien terus mendukung, memperhatikan dan memotivasi
pasien untuk menerapkan pola diet yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi
pasien saat ini
Diperlukan kolaborasi medis terkait penanganan kondisi pasien

SEKIAN &
TERIMA
KASIH