Anda di halaman 1dari 8

a.

Judul Penelitian
Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika melalui Model Pembelajaran
Cooperative Learning Tipe STAD pada Siswa Kelas VII SMPN 5 Kota Serang
b. Pendahuluan
1) Latar Belakang Masalah
Pembelajaran matematika umumnya didominasi oleh pengenalan rumusrumus serta konsep-konsep secara verbal, tanpa ada perhatian yang cukup
terhadap pemahaman siswa. Selain itu proses belajar mengajar hampir selalu
berlangsung dengan metode chalk and talk dimana guru menjadi pusat dari
seluruh kegiatan di kelas (Somerset, 1997 dalam Sodikin, 2004:1). Pada umumnya
sekelompok siswa beranggapan bahwa mata pelajaran matematika sulit untuk
dipahami. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: siswa kurang
memiliki pengetahuan prasyarat serta kurang mengetahui manfaat pelajaran
matematika yang ia pelajari, daya abstraksi siswa kurang dalam memahami
konsep-konsep matematika yang bersifat abstrak.
Menurut pengamatan peneliti melalui wawancara dengan guru matematika
kelas VII SMPN 2 Kota Serang dan observasi secara langsung melihat proses
pembelajaran matematika di dalam kelas, partisipasi aktif siswa dalam
pembelajaran matematika dapat dikategorikan masih rendah. Meskipun guru
sudah berupaya membimbing siswa untuk berpartisipasi aktif selama proses
pembelajaran dengan cara memberikan contoh soal dan meminta siswa untuk
mengerjakannya di papan tulis, namun hasil belajar siswa belum sesuai dengan
yang diharapkan, yaitu masih banyak siswa yang nilainya kurang dari kriteria
ketuntasan minimal (KKM).
Menurut Dienes (dalam Ruseffendi, 1980:134) menyatakan bahwa setiap
konsep matematika dapat dipahami dengan mudah apabila kendala utama yang
menyebabkan anak sulit memahami dapat dikurangi atau dihilangkan. Dienes
berkeyakinan bahwa anak pada umumnya melakukan proses abstraksi berdasarkan
intuisi dan pengalaman konkrit, sehingga cara mengajarkan konsep-konsep
matematika dapat dilakukan dengan bantuan objek konkrit. Dengan demikian,
dalam mengajarkan matematika perlu adanya benda-benda konkrit yang
merupakan model dari ide-ide matematika, yang selanjutnya disebut sebagai alat
peraga sebagai alat bantu pemeblajaran. Alat bantu pembelajaran ini digunakan
dengan maksud agar anak dapat mengoptimalkan panca inderanya dalam proses
pembelajaran, mereka dapat melihat, meraba, mendengar, dan merasakan objek
yang sedang dipelajari.
Fenomena ini merupakan salah satu keprihatinan guru yang harus segera
dicari solusinya. Oleh karena itu, melalui penelitian tindakan kelas (PTK) ini
peneliti berharap dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematika siswa
dalam proses pembelajaran melalui model pembelajaran Cooperative Learning
Tipe STAD. Dengan serangkaian tindakan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan,

sampai dengan evaluasi, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan komunikasi


matematika siswa dalam proses pembelajaran sehingga proses yang terjadi
bersifat multiarah tidak lagi terpusat hanya pada guru.
2) Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai
berikut:
Apa permasalahan siswa kurang aktif dalam dalam proses pemeblajaran
matematika?
Apakah siswa mampu berkomunikasi secara aktif dalam proses
pembelajaran matematika jika guru tidak menggunakan model
pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD?
Bagaimana kemampuan komunikasi matematik siswa jika guru
menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD?
Apakah siswa lebih memahami jika diberikan sesuatu contoh objek yang
konkrit atau alat peraga?
Apa hubungan antara kemampuan komunikasi matematik siswa dengan
hasil belajar siswa pada proses pembelajaran matematika?
Bagaimana penerapan model pembelajaran Cooperative Learning Tipe
STAD pada proses pembelajaran matematika dalam meningkatkan
kemampuan komunikasi matemarik siswa?
3) Pembatasan Masalah
Peneliti membatasi masalah penelitian pada usaha untuk mencaro jawaban atas
identifikasi masalah yang diajukan. Batasan masalah yang dirumuskan adalah
meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa melalui penerapan
model pembelajaran realistic mathematics education (RME) dalam pembelajaran
matematika.
4) Rumusan Masalah
Pada identifikasi masalah yang telah dibuat peneliti dapat merumuskan masalah
sebagai berikut: Bagaimana penerapan model pembelajaran RME dalam
meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa pada proses
pembelajaran matematika di kelas VII SMPN 5 Kota Serang?.
5) Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa SMPN 5 Kota Serang
dalam proses pembelajaran matematika dengan penerapan model pembelajaran
RME.
6) Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat bermanfaat bagi:
Siswa, penelitian ini dapat mempermudah siswa dalam memahami konsepkonsep matematika yang bersifat abstrak dan dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi mateamtik siswa selama proses pembelajaran.

Guru, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rujukan untuk


menambah wawasan dalam menentukan strategi dan model maupun
metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran.
Peneliti, penelitian ini sebagai wahana peningkatan profesionalisme guru
yang akan berdampak pada kualitas pendidikan di sekolah.
Sekolah, penelitian ini dapat membantu meningkatkan kualitas hasil
belajar, khususnya pelajaran matematika, sehingga secara langsung dapat
meningkatkan kualitas pendidikan dan output sekolah.
7) Definisi Operasional
Teori Belajar Matematika
Menurut Whiterington (Udin S Winatapura, 2007: 1.5) dalam buku
Editional Phsycology, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu
perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola
baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian,
atau suatu pengertian.
Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah upaya untuk menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik
yang bergaam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta
antara siswa dengan siswa (Suyitno, 2004:1).

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.2

Kerangka Berpikir
Kondisi awal siswa belum dilakukan perbaikan pembelajaran adalah siswa
kurang antusias terhadap pembelajaran, sehingga kemampuan siswa untuk memahami
materi Pertidaksamaan Linier Satu Variabel (PTLSV) dan Aritmetika Sosial kelas VII
E SMPN 5 Kota Serang masih rendah. Hal ini disebabkan karena pembelajaran yang
dilakukan guru masih bersifat konvensional, sehingga siswa kesulitan untuk
memahami materi yang diajarkan.
Pada perbaikan pembelajaran guru menggunakan model pembelajaran
Cooperative Learning Tipe STAD. Jika menggunakan model pembelajaran ini siswa
lebih aktif dan antusias terhadap pembelajaran, bersemangat untuk menyelesaikan
soal-soal menentukan himpunan penyelesaian dari suatu pertidaksamaan, menentuka
laba atau rugi yang didapat oleh seorang pedagang jika diketahui modal dan hasil
jualnya dan menjadi lebih memahami pelajaran setelah digunakan model
pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD.
Dalam pembelajaran jika menggunakan model ini pada materi PTLSV dan
Aritmetika Sosial siswa kelas VII E SMPN 5 Kota Serang Tahun Ajaran 2013-2014,
maka diduga kemampuan komunikasi matematika siswa akan meningkat.
Berdasarkan uraian di atas maka alur kerangka berpikir dalam penelitian ini disajikan
gambar berikut ini:

Kondisi Awal

Kondisi Awal

Guru dalam proses belajar


mengajar secara konvensional

Dalam pembelajaran guru


menggunakan model
Cooperative Learning Tipe
STAD

Pemahaman PTLSV dan


Aritmetika Sosial siswa
rendah, komunikasi
matematiksiswa kurang,
pembelajaran tidak
menyenangkan
Siklus 1
Pemb elajaran:
Matematika KD:
Menentukan

2.3

Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangkan berpikir di atas, dirumuskan hipotesis
tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut: Dengan menggunakan model
pembelajaran Cooperative Learning Tipe STAD dalam pembelajaran PTLSV dan
Aritmetika Sosial, maka kemampuan komunikasi matematik siswa kelas VII E SMPN 5
Kota Serang Tahun Ajaran 2013-2014 diduga dapat meningkat.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu penelitian yang
dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana tindakan yang tepat untuk
meningkatkan aktivitas peserta didik dengan pembelajaran yang menggunakan model
Cooperative Learning Tipe STAD yang berdampak pada peningkatan kemampuan
komunikasi matematik siswa. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk
siklus-siklus. Peneliti mencoba mencari pemecahan masalah proses pembelajaran
matematika, hal ini penting dilaksanakan karena berkaitan dengan penelitian yang
dilakukan.

3.2

Kehadiran dan Peran Peneliti di Lapangan


Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul
data . Instrumen selain manusia (seperti lembar observasi dan angket) dapat pula
digunakan. Tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai
instrumen. Oleh karena itu kehadiran peneliti adalah mutlak.
No.
1.
2.

3.3

Nama
Peran
Andi Siti Aminah
Model atau Penyaji
Ulfah Nurul Faoziyah
Observer Guru dan Siswa
Tabel 1. Peran Peneliti

Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:

3.4

Waktu

: Rabu-Sabtu, 30-09 Oktober-November 2013-11-12

Tempat

: SMP Negeri 5 Kota Serang

Subjek Penelitian
Penelitian dilaksankan pada akhir bulan oktober sampai dengan awal bulan
november 2013 di SMPN 5 Kota Serang, dengan subjek penelitian siswa kelas VII E
SMPN 5 Kota Serang Tahun Ajaran 2013-2014 yang berjumlah 42 orang. Penelitian ini
dikhususkan pada materi PTLSV dan Aritmetika Sosial dan objek penelitian adalah
kemampuan komunikasi matematik siswa pada mata pelajaran matematika kelas VII
semester ganjil dan jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.

3.5

Instrument Penelitian

Instrument berupan tes tertulis atau kuis untuk mengetahui tingkat kemampuan
komunikasi matematik siswa.
3.6

Teknik Pengumpulan Data


Sumber data dalam PTK ini berasal dari sumber data primer: nilai ujian tengah
semester. Sumber data sekunder: data hasil pengamatan yang dilakukan oleh observer.

3.7

Teknik Analisis Data


Dalam penelitian tindakan kelas ini pengumpulan data digunakan berbagai
teknik antara lain:
1. Tes tertulis digunakan untuk mengumpulkan data kemampuan komunikasi
matematik siswa yang berkenaan dengan PTLSV dan Aritmetika Sosial.
2. Alat pengumpulan data.
Untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematik siswa dalam materi PTLSV dan
Aritmetika Sosial yang dijadikan objek penelitian ini:
1. Peneliti menggunakan alat yang berupa tes tertulis yang dirancang oleh peneliti
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah tertuang dalam kisi-kisi soal.
2. Format penilaian untuk meneliti proses.
3. Lembar pengamatan aktivitas siswa dan lembar pengamatan aktivitas guru.
4. Deskripsi pelaku.
Pada teknik ini peneliti mencatat observasi dan pengamatan urutan perilaku siswa
dengan lengkap meliputi:
1. Suasana kelas
2. Perilaku masing-masing siswa
3. Kemampuan komunikasi matematik siswa terhadap materi pembelajaran

3.8

Indikator Keberhasilan Tiap Siklus


Indikator keberhasilan merupakan kinerja yang akan dijadikan acuan dalam
menentukan keberhasilan atau keefektifan peneliti. Yang menjadi indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila 50% dari jumlah siswa dalam
mengerjakan soal tes mendapat nilai >50, maka penelitian yang peneliti lakukan
dinyatakan berhasil.

3.9

Keabsahan Data
Suatu data dapat dikatakan absah yakni terpercaya apabila memenuhi empat
kriteria, yaitu: kepercayaan (crebility), keteralihan (transferability), kebergantungan
(dependability), dan kepastian (contfirmability).
Untuk itu peneliti harus menemukan teknik atau cara untuk mengecek
keabsahan data dalam hal ini peneliti akan menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi

adalah suatu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu lain di
luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan terhadap data.