Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PSIKIATRI

I. Identitas Pasien
Nama

: Ny.U M

Umur

: 40 Tahun

Alamat

: Ds. Kidang Pananjung RT Cililin, Bandung

Suku

: Jawa

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Pekerjaan

: TKW

Pendidikan terakhir

: SD

Tanggal masuk RS

: 20 Oktober 2014

Tanggal Pemeriksaan : 28 Oktober 2014


Diantar Oleh

: BNP2TKI

No. Rekam Medik

: 726818

Foto Pasien

II. Riwayat Psikiatri (autoanamnesa tanggal 28 Oktober 2014)


A. KELUHAN UTAMA
Pasien dibawa oleh petugas BNP2TKI karena enggan bicara dan tampak kebingungan di
bandara Soekarno Hatta.
B. KELUHAN TAMBAHAN
Pasien ingin segera pulang ke kampung.
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien wanita 40 tahun dibawa dari bandara Soekarno Hatta ke RS Polri oleh petugas
BNP2TKI karena ditemukan sedang kebingungan. Pasien saat itu enggan menjawab semua
pertanyaan dari petugas di bandara. Pasien tidak tahu alasan mengapa dibawa ke RS Polri.
Pasien baru saja pulang dari Arab Saudi setelah bekerja selama 10 bulan sebagai pembantu
rumah tangga. Selama di Arab Saudi, pasien bekerja sebagai pembantu rumah tangga
sendirian. Selama bekerja di sana, pasien mengaku tidak pernah mendapatkan perlakuan
kasar dari majikan pasien, pasien mendapat gaji sebesar 1200 riyal perbulan dan selalu
dibayarkan tepat waktu. Pasien mengaku kedua majikannya sangat baik terhadapnya.
Pasien bercerita awalnya sekitar 1 bulan yang lalu, suaminya yang bekerja di Kalimantan
menelpon dirinya. Suami pasien marah dan meminta pasien untuk pulang. Menurut pasien,
suaminya mengatakan bahwa istri anak mereka yang pertama sedang hamil 8 bulan dan akan
segera melahirkan, sehingga suaminya meminta pasien untuk pulang merawat menantunya
tersebut, karena jika tidak, maka tidak ada yang dapat mengurus anak mereka. Hal ini
disebabkan karena suami pasien di Kalimantan, dan anak mereka di Cililin sendirian. Pasien
mengaku suami sempat beberapa kali menelpon meminta pasien untuk pulang mengurus
anak-anak.
Semenjak mendapat telepon dari suaminya tersebut, pasien menjadi ingin pulang. Pasien
mulai merasa bingung antara meneruskan pekerjaannya di Arab atau pulang saja. Di satu sisi,
pasien masih ingin mencari sedikit nafkah untuk membiayai anak-anaknya sekolah dan
dirinya terikat kontrak, di sisi lain, pasien merasa bersalah karena meninggalkan anakanaknya dan tidak mengurus mereka. Pasien mulai sering menangis. Pasien sering berpikir
kenapa hidupnya seperti sampah. Ia merasa dirinya tidak berguna karena selalu meninggalkan
anak-anaknya dan tidak dapat menyekolahkan mereka. Pasien merasa bahwa ini karena
kesalahan dirinya dan suaminya lah yang menyebabkan anaknya putus sekolah. Pasien juga
semakin merasa takut karena ketiga anaknya terpencar di tempat yang berbeda. Hal ini

menyebabkan pasien merasa sangat ketakutan ditambah pasien mulai mendengar suarasuara dan diikuti oleh sosok-sosok bayangan hitam.
Pasien kemudian mulai merasa bahwa dirinya diikuti oleh bayangan hitam ke mana pun.
Jika dirinya sedang bekerja, ia merasa diikuti oleh bayangan tersebut. Pasien menjadi serba
salah melakukan sesuatu dan tidak dapat berkonsentrasi. Pasien juga mulai mendengar
bisikan-bisikan yang tidak jelas. Bisikan tersebut ada yang berbahasa Arab dan Indonesia.
Bisikan suara tersebut ada yang berasal dari tubuh pasien sendiri dan dari luar. Menurut
pasien, mulutnya terkunci tidak dapat mengatakan apa-apa, tapi dari otot lengannya, ada
suara banyak yang keluar, pasien sendiri tidak dapat mendengar dengan jelas. Pasien juga
mendengar suara dari ruangan kamarnya yang mengatakan bahwa pasien adalah orang yang
lemah karena ketika diberikan cobaan yang sedikit seperti ini saja, pasien sudah tidak kuat.
Pasien mendengar suara-suara tersebut terutama saat menjelang tidur. Menurut pasien,
dirinya tidak mampu berkata apa-apa, tapi dari majikannya, pasien mengetahui bahwa pasien
berbicara sendiri menyebut nama seluruh anggota keluarga majikannya tersebut. Namun,
pasien sendiri mengaku dirinya tidak tahu.
Pasien sering berada di kamar saja dan tidak bekerja. Menurut pasien, majikannya sangat
baik dan menyuruh pasien untuk istirahat saja menenangkan pikiran. Selain itu, majikannya
juga sering mengantarkan makanan ke kamar pasien. Namun, pasien mengaku dirinya tidak
nafsu makan. Pasien juga sulit tidur di malam hari karena merasa bersalah meninggalkan
anak-anaknya dan ketakutan mendengar suara-suara dari tubuhnya dan ruangan kamar
tersebut. Pasien tidak berniat melakukan apapun. Dirinya merasa cepat lelah dan tidak dapat
bekerja. Pasien menyangkal adanya pikiran untuk bunuh diri. Hingga akhirnya, pasien sempat
dibawa ke dokter di Arab oleh majikannya. Kemudian, majikannya menyuruh pasien untuk
pulang saja menenangkan pikiran dan mengizinkan jika pasien mau kembali bekerja ketika
dirinya telah membaik.
Saat sampai di bandara, pasien kemudian dibawa oleh petugas ke rumah sakit, pasien tidak
tahu mengapa dibawa ke rumah sakit. Pasien juga merasa tidak nyaman sehingga cenderung
menarik diri, pasien jarang mau berbicara dan berinteraksi dengan orang-orang
disekitarnya. Pasien lebih banyak diam dan menyendiri. Pasien sering menyendiri
merenungkan tentang anak-anaknya. Pasien menyatakan ingin segera pulang ke rumah
karena pasien memikirkan ketiga anaknya. Pasien menyatakan selama di rumah sakit dirinya
tidak melihat dan mendengar suara bisikan-bisikan lagi.

D. RIWAYAT GANGGUAN DAHULU


-

Riwayat gangguan jiwa sebelumnya disangkal oleh pasien

Riwayat minum alkohol disangkal

Riwayat minum obat-obatan terlarang (NAPZA) disangkal

Riwayat trauma disangkal

E. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI


a. Riwayat Prenatal
Pasien menyatakan bahwa kelahirannya dibantu oleh dukun beranak.
b. Masa kanak

Riwayat masa kanak awal (0-3 tahun)


Pasien tidak terlalu ingat masa-masa tersebut namun seingat pasien masa
kecilnya berlangsung baik dan normal.

Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)


Pasien tidak memiliki masalah selama bersekolah SD, namun pasien hanya
bersekolah hingga kelas 3 SD saja dikarenakan orang tua pasien meninggal.

Riwayat masa kanan akhir (puberta) dan remaja


Pasien mengaku tidak memiliki banyak teman saat remaja

Riwayat Masa Dewasa


1. Riwayat Pendidikan
Pendidikan terakhir pasien adalah 3 SD
2. Riwayat Pekerjaan
Pasien belum pernah bekerja sebelum berangkat ke Arab Saudi. Pasien
bekerja di Arab Saudi selama 5 tahun dengan majikan yang sama, namun
dirinya sempat meminta cuti beberapa kali, yaitu pertama kali setelah 2
tahun bekerja, pasien mendapat cuti 2 bulan, kemudian pasien kembali lagi
ke Arab Saudi selama 2 tahun, dan mendapat cuti 3 bulan 3 minggu, lalu
kemudian pasien bekerja lagi yang terakhir selama 10 bulan. Pasien
berniat bekerja menjadi TKW karena ingin melanjutkan sekolah anakanaknya dan membeli rumah.
3. Riwayat Pernikahan

Pasien sudah menikah sebanyak 1 kali selama 20 tahun. Suami pasien


saat ini bekerja di Kalimantan sebagai kuli bangunan, sudah kurang lebih 1
bulan. Ia memiliki 3 orang anak. Anak pertama pasien, seorang anak lakilaki bernama Ade Fendy Ginanjar berusia 19 tahun yang saat ini telah
menikah. Anak kedua pasien adalah seorang anak laki-laki bernama Andi
Mulyadi berusia 17 tahun, dan anak ketiga pasien adalah laki-laki bernama
Arya Sunarya, berusia 10 tahun. Menurut pasien, anak pertamanya berhasil
menamatkan pendidikan hingga 3 SMP, namun dirinya tidak mendapatkan
ijazah karena harus ditebus dulu. Saat ini, anak pertamanya berada di
Kampung Cililin, karena istrinya akan melahirkan. Anak keduanya hanya
bersekolah hingga 1 SMP dan saat ini di Bengkulu bekerja di perkebunan
sawit, dan anak ketiganya bersekolah hingga 5 SD, namun sudah putus
sekolah, dan saat ini tinggal dengan neneknya (orang tua suami pasien).
Ketiga anak pasien berada di tempat yang berbeda.
4. Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien mengaku beragama Islam dan tidak rutin menjalankan sholat.
5. Riwayat pelanggaran Hukum
Pasien mengaku tidak pernah ditahan oleh pihak berwajib
6. Stressor psikososial
Masalah dengan :
- Orang tua : tidak ada
- Saudara : tidak ada
- Suami

: Menurut pasien, kepergiannya ke Arab Saudi mendapat

tentangan dari suaminya. Suami pasien tidak setuju jika pasien pergi
bekerja di Arab Saudi yang ketiga kalinya ini. Suami pasien sempat
mengancam jika ia masih ngotot untuk pergi, maka ia tidak perlu
menelpon, dan bertemu ketiga anaknya. Anak-anak mereka akan ikut
suami semua. Suami pasien hanya memberi batas 1 tahun bekerja saja,
namun, kontrak kerja pasien 2 tahun. Pasien memutuskan tetap pergi ke
Arab Saudi yang ketiga kalinya. Suami tetap menelpon pasien sekitar 5
kali, namun terakhir kali menelpon, suami meminta pasien untuk pulang
mengurus anak dan calon cucu mereka di kampung.
- Anak

: Pasien merasa bersalah karena tidak dapat mengurus ketiga

anaknya dan selalu pergi bekerja di luar negeri sehingga tidak dapat
5

mengikuti perkembangan anak-anaknya. Pasien merasa dirinya seorang


yang gagal karena tidak dapat membiayai sekolah anak-anaknya hingga
tamat. Anak kedua dan ketiga pasien putus sekolah. Anak kedua pasien
saat ini berasda di Bengkulu bekerja. Ia sempat menelpon pasien dan
mengatakan tidak ingin bekerja, dan ingin melanjutkan sekolahnya yang
terputus. Pasien juga merasa khawatir dan takut dengan keberadaan
ketiga anaknya yang terpencar di tempat yang berbeda.
- Rekan kerja: tidak ada
- Pekerjaan : tidak ada

F. RIWAYAT KELUARGA
Pasien merupakan anak ketiga dari 5 bersaudara. Ia memiliki 2 orang adik dan 2
orang kakak
Genogram:

Laki-laki

Pasien

Perempuan

G. KEHIDUPAN SOSIAL EKONOMI


Pasien berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah sehingga pasien merasa
ikut bertanggung jawab terhadap keadaan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, pasien
memutuskan untuk bekerja di luar negri untuk membantu membiayai sekolah anakanaknya agar mereka dapat melanjutkan pendidikan.

III. STATUS MENTAL (28 Oktober 2014)


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Wanita berusia 40 tahun, kulit sawo matang, penampilan fisik sesuai dengan usia
pasien, cara berpakaian cukup rapi dengan baju terusan panjang. Rambut lurus
pendek, berwarna hitam, kurang rapi, tidak memakai riasan wajah, kurang perawatan
diri postur tubuh astenis. Sikap kooperatif terhadap pemeriksa.
2. Kesadaran :
a. Kesadaran neurologik : kompos mentis
b. Kesadaran Psikologis : tidak terganggu
c. Kesadaran Sosial

: jarang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.

3. Pembicaraan
Pasien selalu menjawab setiap pertanyaan pemeriksa. Kecepatan berbicara cukup dan
volume suara cukup. Isi pembicaraan dapat dimengerti dan alurnya runtut.
4. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Sebelum wawancara pasien tampak tenang dan cenderung diam serta tampak jarang
berbaur dengan teman di sekitarnya; selama wawancara pasien duduk tenang dan
beberapa kali pasien menangis.
5. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien bersikap tenang dan kooperatif

B. Alam Perasaan
o Mood : depresi
o Afek : hipotim
o Empati : dapat diraba rasakan oleh pemeriksa

C. Gangguan persepsi
o Halusinasi auditorik dan visual (+) :
Pasien mengaku mendengar bisikan-bisikan dalam Bahasa Indonesia dan
Bahasa Arab dari anggota tubuhnya dan dari ruangan kamarnya. Pasien juga
merasa diikuti oleh sesosok bayangan hitam di Arab Saudi
o Ilusi : tidak ada
7

o Depersonalisasi : tidak ada


o Derealisasi : tidak ada
D. Fungsi Intelektual
1. Taraf pendidikan : sesuai dengan tingkat pendidikan terakhir.
2. Orientasi :
o Waktu : baik, pasien tahu bahwa saat pemeriksaan adalah tahun 2014
o Tempat : baik, pasien tahu bahwa ia berada di Jakarta
o Orang : baik, pasien tahu bahwa pemeriksa adalah dokter muda.
3. Daya ingat:
o Sesaat : baik, pasien dapat mengulang beberapa kata yang diucapkan
pemeriksa
o Jangka pendek : baik, pasien ingat makanan apa saja yang dikonsumsi
dalam satu hari.
o Jangka panjang : baik, pasien ingat dengan jelas pengalamannya bekerja di
Abu Dhabi
4. Konsentrasi dan perhatian : terganggu, pasien mudah terganggu dengan kondisi
sekitar seperti suara televisi dan seringkali kesulitan berkonsentrasi pada pemeriksa.
5. Kemampuan membaca dan menulis : baik, pasien dapat membaca kertas yang
disodorkan pemeriksa dan dapat menulis dengan baik.
6. Kemampuan visuospasial : baik, pasien mampu menggambar benda beruang
mengikuti gambar pemeriksa serta pasien dapat berjalan tanpa menabrak sesuatu.
7. Pikiran abstrak : baik, pasien mampu mendeskripsikan bentuk
8. Kemampuan menolong diri sendiri : baik, pasien dapat mandi, mengganti dan
mencuci pakaian serta makan sendri

E. Proses Pikir
1. Arus pikiran
o Produktivitas : baik, pasien menjawab secara spontan bila diajukan pertanyaan
o Kontinuitas : tidak terganggu
o Hendaya berbahasa : tidak ada inkoherensia
2. Isi pikir
o Preokupasi

: ingin pulang ke rumah.

o Waham

: waham (-)

o Fobia

: tidak ada
8

F. Pengendalian Impuls
o Pengendalian impuls pasien saat wawancara dinilai baik

G. Daya nilai
o Daya nilai sosial

: baik

o Uji daya nilai

: baik

o Penilaian realita

: terganggu, terdapat halusinasi auditorik dan visual

H. Tilikan
Derajat 1, pasien menyangkal bahwa dirinya sedang sakit.

I. Taraf dapat dipercaya


Pemeriksa memperoleh kesan bahwa keseluruhan jawaban pasien dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Internus
Keadaan Umum

: baik

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 110/70

Nadi

: 86x/menit

Suhu

: 36,50C

Frekuensi nafas

: 18x/menit

Berat badan

: 47 kg

Tinggi badan

: 152cm

Bentuk badan

: normal

Sistem kardiovaskular

: bunyi janyung I-II reguler; gallop (-); murmur (-)

Sistem respiratori

: gerak dada selama napas normal dan simetris;vesikuler


+/+, Ronchi -/-, wheezing -/-

Sistem gastrointestinal

: supel; bising usus (+) normal; nyeri tekan (-); timpani

Sistem muskuloskeletal

: dalam batas normal

Sistem urogenital

: tidak diperiksa

Sistem dermatologi

: dalam batas normal


9

Kelainan khusus lainnya

: tidak ditemukan kelainan

B. Status Neurologik
Saraf kranialis

: dalam batas normal

Mata

: dapat mengikuti gerakan tangan pemeriksa;


nistagmus (-)

Pupil

: pupil bulat isokor 3mm / 3mm;


refleks cahaya langsung +/+, tidak langsung +/+

Pemeriksaan oftalmoskopik

: tidak dilakukan

Motorik

5555 5555
5555 5555

Sensorik

: Dalam batas normal

Refleks fisiologis

: dalam batas normal

Refleks patologik

:-

Sistem vegetatif

: BAB/BAK normal

C. Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


o Pasien wanita berumur 40 tahun dibawa dari bandara Soekarno Hatta ke RS polri oleh
petugas BNP2TKI karena ditemukan sedang kebingungan. Pasien tidak tahu alasan
mengapa dibawa ke RS. Pasien baru saja pulang dari Arab Saudi setelah bekerja
selama 10 bulan sebagai pembantu rumah tangga.
o Satu bulan terakhir, pasien mendapatkan telp dari suami pasien yang mengatakan istri
anak laki-lakinya sedang hamil dan akan melahirkan. Suami pasien meminta pasien
untuk pulang dan mengurus anaknya. Semenjak itu, pasien menjadi ingin pulang. Ia
sering menangis dan merasa bersalah karena tidak pernah mengurus anak-anaknya. Ia
merasa tidak berguna karena ia, anak-anaknya menjadi putus sekolah.
o Terdapat halusinasi auditorik dan visual berupa suara bisikan dan bayangan hitam
yang mengikuti dirinya
o Stressor: suami, anak, dan pekerjaan
o Status mental

Penampilan / pembicaraan / sikap / aktivitas


10

Rapi / bicara lancar /tenang, kooperatif / kurang aktif

Mood /Afek / ekspresi / empati


Depresi/hipotim / sesuai /dapat diraba rasakan pemeriksa

halusinasi (+) visual dan auditorik

o Preokupasi: ingin segera pulang ke rumah, waham (-)


o Penilaian realita: terganggu, terdapat halusinasi auditorik dan visual
o Tilikan pasien derajat 1 dengan penyangkalan bahwa dirinya sakit.
o Pasien sudah delapan hari berada di rumah sakit keseharian cenderung menarik diri,
pasien jarang berbicara dan berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Pasien
lebih banyak diam dan menyendiri, tidak bergaul dengan pasien lain dan jarang
terlibat pada kegiatan bersama. Pasien menyatakan selama di rumah sakit tidak pernah
melihat dan mendengar suara atau bayangan hitam.

FORMULASI DIAGNOSTIK DAN EVALUASI MULTIAKSIAL


Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan pada pasien ini
ditemukan adanya pola prilaku, pikiran dan perasaan yang secara klinis bermakna dan
menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi
pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa
pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Aksis I
-

Pada pemeriksaan status generalis dan neurologis didapatkan kesadaran pasien


compos mentis, tidak terdapat kelainan fisik, tidak ada riwayat trauma, daya ingat
cukup baik, sehingga dapat menyingkirkan diagnosis gangguan mental organik.
(F0)

Pada anamnesis tidak didapatkan riwayat konsumsi alkohol dan NAPZA


sehingga kita dapat menyingkirkan diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat.(F1)

Pada pasien terdapat mood hipotim, afek depresi, kehilangan minat, kegembiraan,
penurunan aktivitas, tidak dapat berkonsentrasi, mudah lelah, sulit tidur, dan
penurunan nafsu makan. Pasien juga merasa dirinya tidak berguna dan merasa
bersalah atas kondisi anaknya. Pasien juga cenderung diam dan menarik diri
jarang bergaul dengan orang-orang disekitar yang sudah terjadi dalam kurun

11

waktu +1 bulan. Terdapat halusinasi auditorik dan visual yang berupa suara dan
bayangan hitam yang megikutinya di Arab Saudi (+ 1 bulan ). Dapat didiagnosa
dengan gangguan afektif episode depresif berat dengan gejala psikotik (F32.3)

Aksis II
Tidak didapatkan penemuan yang bermakna untuk menentukan gangguan kepribadian
maupun retardasi mental pada pasien ini, sehingga tidak ada diagnosis aksis II.
(Z 03.2)

Aksis III
Pada pasien tidak ditemukan kelainan pada kondisi medis secara umum, sehingga
tidak ada diagnosis aksis III

Aksis IV
Pasien memiliki stressor dari suami yang meminta pasien untuk pulang mengurus
anak dan calon cucu mereka di Indonesia. Pasien juga merasa bersalah karena tidak
dapat mengurus ketiga anaknya dan selalu pergi bekerja di luar negeri sehingga tdak
dapat mengikuti perkembangan anak-anaknya. Pasien merasa dirinya seorang yang
gagal karena tidak dapat membiayai sekolah anak-anaknya hingga tamat. Pasien
bingung jika berhenti bekerja maka uang yang ia dapatkan belum cukup.

Aksis V
GAF scale 60-51 yaitu gejala sedang (moderate), disabilitas sedang.

VI. Evaluasi Multiaksial


-

Aksis 1

: F 32.3 Gangguan Afek Episode Depresif Berat dengan Gejala

Psikotik
-

Aksis II

Aksis III : Tidak ada diagnosa

Aksis IV : masalah suami, anak, dan pekerjaan

Aksis V

: Z 03.2 tidak ada diagnosa

: GAF scale 60-51, gejala sedang, disabilitas sedang

12

VII. Terapi
- Psikofarmaka:
Tanggal 20 Oktober 2014
Anti psikotik atipikal : Aripiprazole
Abilify 1x10 mg IM
Dilanjutkan Abilify 1 x 10 mg PO (jika pasien sudah tenang)
Tanggal 21 Oktober 2014
Anti psikotik atipikal : Aripiprazole
Abilify 1x10 mg IM stop
Anti psikotik atipikal : Aripiprazole
Abilify 1x10 mg
Tanggal 28 Oktober 2014
Anti psikotik atipikal : Aripiprazole
Abilify 1x10 mg
Psikoterapi :
Cognitive behavior therapy
Terapi suportif
Terapi interpersonal

Saran Pengobatan:
Anti depresan SSRI : Escitalopram
Cipralex 1x10 mg PO

VIII. Prognosis

Quo ad vitam

: bonam ad bonam

Quo ad fungsionam

: dubia

Quo ad sanationam

: dubia

13

IX. TINJAUAN PUSTAKA


DEPRESI
Definisi
Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan
alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan
nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak
berdaya, serta bunuh diri (Kaplan, 2010).
Maslim berpendapat bahwa depresi adalah suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh
defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergik neurotransmiter (noradrenalin, serotonin,
dopamin) pada sinaps neuron di SSP terutama pada sistem limbik. (Maslim, 2002).
Menurut Kaplan, depresi merupakan salah satu gangguan mood yang ditandai oleh hilangnya
perasaan kendali dan pengalaman subjektif adanya penderitaan berat. Mood adalah keadaan
emosional internal yang meresap dari seseorang, dan bukan afek, yaitu ekspresi dari isi
emosional saat itu (Kaplan, 2010).

Etiologi Depresi
Kaplan menyatakan bahwa faktor penyebab depresi dapat dibagi menjadi faktor biologi,
faktor genetik, dan faktor psikososial.
a. Faktor biologi
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelainan pada amin biogenik, seperti 5
HIAA (5-Hidroksi indol asetic acid), HVA (Homovanilic acid), MPGH (5 methoxy-0hydroksi phenil glikol), di dalam darah, urin dan cairan serebrospinal pada pasien gangguan
mood. Neurotransmiter yang terkait dengan patologi depresi adalah serotonin dan epineprin.
Penurunan serotonin dapat mencetuskan depresi, dan pada pasien bunuh diri, beberapa pasien
memiliki serotonin yang rendah. Pada terapi despiran mendukung teori bahwa norepineprin
berperan dalam patofisiologi depresi (Kaplan, 2010). Selain itu aktivitas dopamin pada
depresi adalah menurun. Hal tersebut tampak pada pengobatan yang menurunkan konsentrasi
dopamin seperti Respirin, dan penyakit dimana konsentrasi dopamin menurun seperti
parkinson, adalah disertai gejala depresi. Obat yang meningkatkan konsentrasi dopamin,
seperti tyrosin, amphetamine, dan bupropion, menurunkan gejala depresi (Kaplan, 2010).
Disregulasi neuroendokrin. Hipotalamus merupakan pusat pengaturan aksis neuroendokrin,
menerima input neuron yang mengandung neurotransmiter amin biogenik. Pada pasien

14

depresi ditemukan adanya disregulasi neuroendokrin. Disregulasi ini terjadi akibat kelainan
fungsi neuron yang mengandung amin biogenik. Sebaliknya, stres kronik yang mengaktivasi
aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA) dapat menimbulkan perubahan pada amin
biogenik sentral. Aksis neuroendokrin yang paling sering terganggu yaitu adrenal, tiroid, dan
aksis hormon pertumbuhan. Aksis HPA merupakan aksis yang paling banyak diteliti
(Landefeld et al, 2004). Hipersekresi CRH merupakan gangguan aksis HPA yang sangat
fundamental pada pasien depresi. Hipersekresi yang terjadi diduga akibat adanya defek pada
sistem umpan balik kortisol di sistem limpik atau adanya kelainan pada sistem
monoaminogenik dan neuromodulator yang mengatur CRH (Kaplan, 2010). Sekresi CRH
dipengaruhi oleh emosi. Emosi seperti perasaan takut dan marah berhubungan dengan
Paraventriculer nucleus (PVN), yang merupakan organ utama pada sistem endokrin dan
fungsinya diatur oleh sistem limbik. Emosi mempengaruhi CRH di PVN, yang menyebabkan
peningkatan sekresi CRH (Landefeld, 2004). Pada orang lanjut usia terjadi penurunan
produksi hormon estrogen. Estrogen berfungsi melindungi sistem dopaminergik negrostriatal
terhadap neurotoksin seperti MPTP, 6 OHDA dan methamphetamin. Estrogen bersama
dengan antioksidan juga merusak monoamine oxidase (Unutzer dkk, 2002). Kehilangan saraf
atau penurunan neurotransmiter. Sistem saraf pusat mengalami kehilangan secara selektif
pada sel sel saraf selama proses menua. Walaupun ada kehilangan sel saraf yang konstan
pada seluruh otak selama rentang hidup, degenerasi neuronal korteks dan kehilangan yang
lebih besar pada sel-sel di dalam lokus seroleus, substansia nigra, serebelum dan bulbus
olfaktorius (Lesler, 2001). Bukti menunjukkan bahwa ada ketergantungan dengan umur
tentang penurunan aktivitas dari noradrenergik, serotonergik, dan dopaminergik di dalam
otak. Khususnya untuk fungsi aktivitas menurun menjadi setengah pada umur 80-an tahun
dibandingkan dengan umur 60-an tahun (Kane dkk, 1999).
b. Faktor Genetik
Penelitian genetik dan keluarga menunjukkan bahwa angka resiko di antara anggota keluarga
tingkat pertama dari individu yang menderita depresi berat (unipolar) diperkirakan 2 sampai 3
kali dibandingkan dengan populasi umum. Angka keselarasan sekitar 11% pada kembar
dizigot dan 40% pada kembar monozigot (Davies, 1999).
Oleh Lesler (2001). Pengaruh genetik terhadap depresi tidak disebutkan secara khusus, hanya
disebutkan bahwa terdapat penurunan dalam ketahanan dan kemampuan dalam menanggapi
stres. Proses menua bersifat individual, sehingga dipikirkan kepekaan seseorang terhadap
penyakit adalah genetik.

15

c. Faktor Psikososial
Menurut Freud dalam teori psikodinamikanya, penyebab depresi adalah kehilangan objek
yang dicintai (Kaplan, 2010). Ada sejumlah faktor psikososial yang diprediksi sebagai
penyebab gangguan mental pada lanjut usia yang pada umumnya berhubungan dengan
kehilangan. Faktor psikososial tersebut adalah hilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi,
kematian teman atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi diri,
keterbatasan finansial, dan penurunan fungsi kognitif (Kaplan, 2010) Sedangkan menurut
Kane, faktor psikososial meliputi penurunan percaya diri, kemampuan untuk mengadakan
hubungan intim, penurunan jaringan sosial, kesepian, perpisahan, kemiskinan dan penyakit
fisik (Kane, 1999).
Faktor psikososial yang mempengaruhi depresi meliputi peristiwa kehidupan dan stressor
lingkungan, kepribadian, psikodinamika, kegagalan yang berulang, teori kognitif dan
dukungan sosial (Kaplan, 2010).
Peristiwa kehidupan dan stresor lingkungan. Peristiwa kehidupan yang menyebabkan stres,
lebih sering mendahului episode pertama gangguan mood dari episode selanjutnya. Para
klinisi mempercayai bahwa peristiwa kehidupan memegang peranan utama dalam depresi,
klinisi lain menyatakan bahwa peristiwa kehidupan hanya memiliki peranan terbatas dalam
onset depresi. Stressor lingkungan yang paling berhubungan dengan onset suatu episode
depresi adalah kehilangan pasangan (Kaplan, 2010). Stressor psikososial yang bersifat akut,
seperti kehilangan orang yang dicintai, atau stressor kronis misalnya kekurangan finansial
yang berlangsung lama, kesulitan hubungan interpersonal, ancaman keamanan dapat
menimbulkan depresi (hardywinoto, 1999).
Faktor kepribadian. Beberapa ciri kepribadian tertentu yang terdapat pada individu, seperti
kepribadian dependen, anankastik, histrionik, diduga mempunyai resiko tinggi untuk
terjadinya depresi. Sedangkan kepribadian antisosial dan paranoid (kepribadian yang
memakai proyeksi sebagai mekanisme defensif) mempunyai resiko yang rendah (Kaplan,
2010).
Faktor psikodinamika. Berdasarkan teori psikodinamika Freud, dinyatakan bahwa kehilangan
objek yang dicintai dapat menimbulkan depresi (Kaplan, 2010). Dalam upaya untuk mengerti
depresi, Sigmud Freud sebagaimana dikutip Kaplan (2010) mendalilkan suatu hubungan
antara kehilangan objek dan melankolia. Ia menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan

16

pasien depresi diarahkan secara internal karena identifikasi dengan objek yang hilang. Freud
percaya bahwa introjeksi mungkin merupakan cara satu-satunya bagi ego untuk melepaskan
suatu objek, ia membedakan melankolia atau depresi dari duka cita atas dasar bahwa pasien
terdepresi merasakan penurunan harga diri yang melanda dalam hubungan dengan perasaan
bersalah dan mencela diri sendiri, sedangkan orang yang berkabung tidak demikian.
Kegagalan yang berulang. Dalam percobaan binatang yang dipapari kejutan listrik yang tidak
bisa dihindari, secara berulang-ulang, binatang akhirnya menyerah tidak melakukan usaha
lagi untuk menghindari. Disini terjadi proses belajar bahwa mereka tidak berdaya. Pada
manusia yang menderita depresi juga ditemukan ketidakberdayaan yang mirip (Kaplan,
2010).
Faktor kognitif. Adanya interpretasi yang keliru terhadap sesuatu, menyebabkan distorsi
pikiran menjadi negatif tentang pengalaman hidup, penilaian diri yang negatif, pesimisme
dan keputusasaan. Pandangan yang negatif tersebut menyebabkan perasaan depresi (Kaplan,
2010)
Gambaran Klinis
Gejala dari depresi dapaet meliputi perubahan pada fisik, pikiran, serta perasaan.
Perubahan Fisik
-

Penurunan nafsu makan

Gangguan tidur

Kelelahan dan kurang energi

Agitasi

Nyeri, sakit kepala, otot keram dan nyeri tanpa penyebab fisik

Perubahan Pikiran
-

Merasa bingung, lambat dalam berpikir, penurunan konsentrasi dan sulit mengingat
informasi

Sulit membuat keputusan dan selalu menghindar

Kurang percaya diri

Merasa bersalah dan tidak mau dikritik

Pada kasus berat sering dijumpai adanya halusinasi ataupun delusi

Adanya pikiran untuk bunuh diri

Perubahan Perasaan
-

Penurunan ketertarikan dengan lawan jenis dan melakukan hubungan suami istri

17

Merasa bersalah, tak berdaya

Tidak adanya perasaan

Merasa sedih

Sering menangis tanpa alasan yang jelas

Iritabilitas, marah, dan terkadang agresif

Perubahan pada Kebiasaan Sehari-hari


-

Menjauhkan diri dari lingkungan sosial dan pekerjaan

Menghindari membuat keputusan

Menunda pekerjaan rumah

Penurunan aktivitas fisik dan latihan

Penurunan perhatian terhadap diri sendiri

Peningkatan konsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang

Derajat Depresi dan Penegakan Diagnosis


Gangguan depresi ditegakkan berpedoman pada PPDGJ III (Pedoman Penggolongan
Diagnostik

Gangguan

Jiwa

III)

yang

merujuk

pada

ICD

10

(International

ClassificationDiagnostic 10). Gangguan depresi dibedakan dalam depresi berat, sedang, dan
ringan sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan
seseorang.
Gejala Utama
-

Perasaan depresif

Hilangnya minat dan kegembiraan

Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah
yang nyata sesudah bekerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas.

Gejala Lain
-

Konsentrasi dan perhatian berkurang

Harga diri dan kepercayaan diri berkurang

Perasaan bersalah dan tidak berguna

Pesimis terhadap masa depan

Gagasan membahayakan diri atau bunuh diri

Gangguan tidur

Gangguan nafsu makan

18

Tabel.1. Derajat depresi


Tingkat

Gejala Utama

Gejala lain

Fungsi

Keterangan

Ringan

Baik

Sedang

3-4

Terganggu

Tampak distress

Berat

>4

Depresi

Sangat
Terganggu

Sangat distress

Tatalaksana
ANTI DEPRESI
Anti depresan merupakan kelompok obat yang heterogen dengan efek utama yaitu untuk
mengendalikan gejala depresi. Secara umum, obat anti depresi diklasifikasikan menjadi :

Tabel. 2 Klasifikasi obat anti depresi


Klasifikasi

Obat-obat
Amitriptilin

Trisiklik

Imipramin
Clomipramine
Maproptilin

Tetrasiklik

Mianserin
Amoxapine
Sertralin

SSRI (Selective Serotonin


Reuptake Inhibitor)

Fluoxetine
Fluvoxamine
Paroxetine
Escitalopram

SNRI (Serotonin
Norepinefrin Reuptake
Inhibitor)
MAOI (MonoAmine

Duloxetine
Venlafaxine
Moclobemide

19

Oksidase Inhibitor)

Farmakodinamik
Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa
neurotransmitter aminergik yang meliputi norepinefrin, serotonin, dopamine pada neuron
pasca sinaps di sistem saraf pusat terutama pada sistem limbik. Secara umum anti depresan
SSRI bekerja selektif pada neurotransmiter serotonin (5-HT2) dengan cara menghambat
reuptake serotonin sehingga meningkatkan jumlah serotonin di pasca sinaps. Pada golongan
SNRI, selain menghambat reuptake serotonin juga menghambat reuptake norepinefrin. Obat
golongan trisiklik dan tetrasiklik bersifat serotonergik dengan menghambat reuptake
neurotransmitter di celah sinaps tapi tidak bersifat selektif, dengan demikian kemungkinan
muncul berbagai efek samping yang tidak diharapkan dapat terjadi. Golongan MAOI bekerja
di presinaps dengan menghambat enzim yang memecah serotonin sehingga jumlah serotonin
yang dilepaskan ke celah sinaps meningkat dan dengan demikian yang diteruskan ke pasca
sinaps juga akan bertambah.
Tabel. 3. Efek farmakologi beberapa obat anti depresan
Efek blockade neurotransmitter

Efek

Efek

sedasi

antimuskarinik

Serotonin

Norepinefrin

Dopamine

Amitriptiline

+++

+++

+++

++

Imipramine

++

++

+++

++

Clomipramine

+++

++

+++

+++

+/-

+++

Doxepin

+++

+++

++

Nortriptiline

++

++

+++

++

Bupropion

+/-

Amoxapine

++

++

++

Maprotiline

++

++

+++

Mirtazapine

+++

Fluoxetine

+++

+/-

+/-

Fluvoxamine

+++

Citalopram

+++

Sertraline

+++

Paroxetine

+++

Obat

Desipramine

20

Venlafaxine

+++

++

+/-

Duloxetine

+++

++

Efek Samping
Efek samping akibat obat anti depresan bersifat minor, namun hal ini dapat menyebabkan
pasien tidak nyaman sehingga mempengaruhi compliance dalam pengobatan. Berikut
merupakan efek samping yang dapat terjadi akibat penggunaan obat anti depresan :

Tabel. 4. Efek Samping Obat Anti Depresan


Golongan

Efek Samping

Trisiklik
Sedasi

Mengantuk, terutama jika dikombinasi dengan obat sedatif


lainnya

Simpatomimetik

Tremor, insomnia

Antimuskarinik

Penglihatan kabur, konstipasi, hesitansi saat berkemih, konfusi

Kardiovaskular

Hipotensi ortostatik, aritmia, gangguan konduksi

Psikiatri

Psikosis, withdrawal syndrome

Neurologis

Kejang

Metabolik-endokrin

Peningkatan berat badan, gangguan seksual

Tetrasiklik
SSRI

SNRI

MAOI

Mirip dengan golongan trisiklik


Anxietas, insomnia, gejala gastrointestinal, penurunan libido,
disfungsi seksual
Mual,

somnolen,

pusing,

anxietas,

gangguan

seksual,

hipertensi, mulut kering, penurunan napsu makan, insomnia


Sakit kepala, mulut kering, peningkatan berat badan, hipotensi
postural, gangguan seksual

21

Dosis dan Cara Pemakaian


Tabel.5 Dosis obat anti depresan
Obat

Dosis harian

Obat

(mg/hari)
Trisiklik

Dosis harian
(mg/hari)

Tetrasiklik

Amitriptilin

75-200

Amoxapine

150-300

Clomipramin

75-300

Bupropion

200-400

Desipramin

75-200

Maprotiline

75-300

Doxepin

75-300

Mirtazapine

15-60

Imipramine

75-200

Nortriptilin

75-150

Sertraline

50-200

Protriptiline

20-40

Citalopram

20-60

Trimipramine

75-200

Fluoxetine

10-60

SSRI

Fluvoxamine

MAOI
Phenelzine

45-75

Tranylcypromine

10-30

Moclobemide

300-600

100-300

Paroxetine

20-50

SNRI
Venlafaxine

75-225

Duloxetine

40-120

Pada prinsipnya, pengobatan dimulai dari dosis rendah, ditingkatkan bertahap sampai
mencapai dosis terapeutik. Pengaturan dosis memerlukan pertimbangan onset efek primer (24 minggu), onset efek sekunder (12-24 jam) dan waktu paruh (24-48 jam). Obat diberikan
dalam 5 tahapan yaitu:
1. Inisiasi (test dose) untuk mencapai dosis anjuran selama minggu pertama
2. Titrasi (optimal dose) yaitu mulai dosis anjuran sampai mencapai dosis
efektif/optimal
3. Stabilisasi (stabilization dose) yaitu dosis optimal dipertahankan selama 2-3 bulan
4. Rumatan (maintenance dose) dengan dosis dosis optimal dan dipertahankan selama
3-6 bulan
5. Tapering off (tapering dose) menurunkan dosis bertahap selama 1 bulan

22

Indikasi dan Kontraindikasi


Indikasi utama obat anti depresan adalah untuk mengobati depresi, tetapi selain itu, obat anti
depresan dapat diberikan untuk keadaan lain seperti :
-

Gangguan anxietas (panik, fobia social)

Obsessive compulsive disorder (OCD)

Nyeri kronik

Gangguan makan (bulimia)

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Premenstrual dysphoric disorder

Kontraindikasi
-

Penyakit jantung coroner (MCI)

Glaukoma, retensi urin, hipertrofi prostat

Gangguan fungsi hati

Epilepsi

Pada wanita hamil dan menyusui tidak dianjurkan menggunakan obat golongan trisiklik
karena memiliki efek teratogenik yang besar terutama pada trimester 1 dan dapat diekskresi
melalui ASI.

ANTI PSIKOTIK
Obat anti psikotik dahulu sering disebut dengan neuroleptik karena memiliki beberapa
efek samping yang memberi gambaran seperti gangguan neurologis yang disebut
pseudoneurologis atau dikenal juga dengan istilah major transquilizer karena adanya efek
sedasi atau mengantuk yang berat. Kelompok obat ini digunakan terutama untuk mengobati
schizophrenia tetapi juga efektif pada psikosis dan keadaan agitasi.
Obat anti psikotik dapat digolongkan berdasarkan cara kerjanya terhadap reseptor
dopamine, menjadi Dopamin reseptor Antagonis (DA) atau sering disebut sebagai anti
psikotik tipikal dan Serotonin Dopamin Antagonis (SDA) atau sering disebut sebagai obat
anti psikotik atipikal. Obat-obat anti psikotik atipikal (SDA) semakin berkembang dan
semakin menjadi pilihan pengobatan karena efek klinis yang diperoleh setara dengan obat-

23

obat konvensional (DA) namun memiliki efek samping terutama efek ekstrapiramidal yang
jauh lebih ringan.

Tabel 6. Klasifikasi obat anti psikotik berdasarkan cara kerjanya terhadap reseptor dopamine
Dopamin reseptor Antagonis / Tipikal

Serotonin Dopamin Antagonis / Atipikal

Haloperidol

Risperidon

Penfluridol

Clozapine

Droperidol

Olanzapine

Chlorpromazine

Quetiapin

Ziprazidon

Aripiprazol

Farmakodinamik
Sindrom psikosis terjadi berkaitan dengan aktivitas neurotransmitter dopamine yang
meningkat (hiperaktivitas system dopaminergic sentral). Mekanisme kerja obat anti psikotik
tipikal yaitu menghambat reseptor dopamine pada neuron pasca sinaps di otak terutama pada
system limbic dan system ekstrapiramidal. Sedangkan obat anti psikotik atipikal selain
bekerja pada resptor dopamine, juga bekerja pada reseptor serotonin 5 HT-2.

Efek Samping
Tabel. 7. Efek Samping Obat Anti psikotik
Tipe

Manifestasi
Mulut

Sistem saraf

konstipasi

otonom

Hipotensi

kering,

sulit

Mekanisme
berkemih, Blockade cholinoreseptor muskarinik

ortostatik,

impoten, Blockade adrenoreseptor alpha

kegagalan ejakulasi
Sistem saraf
pusat
Sistem
endokrin
Lainnya

Sindrom Parkinson, akatisia, distonia

Blockade reseptor dopamine

Tardive diskinesia

Hipersensitivitas terhadap reseptor dopamin

Toxic-confusional state

Blockade muskarinik

Amenorrhea, infertile, impoten


Peningkatan berat badan

Hiperprolaktinemia

akibat

blockade

reseptor dopamine
Kombinasi akibat blockade H1 dan 5-HT2

24

Dosis dan Cara Pemakaian


Pada dasarnya semua obat anti-psikosis mempunyai efek primer yang sama pada dosis
ekivalen. Perbedaanya terutama pada efek sekunder / efek sampingnya yaitu sedasi,
otonomik, dan ekstrapiramidal.

Tabel. 8. Dosis obat anti psikotik

Anti psikotik

Dosis
terapeutik
efektif
minimum (mg)

Kisaran dosis
harian
(mg/hari)

Sedasi

Otonomik

Ekstrapiramidal

Chlorpromazine

100

150-1600

+++

+++

++

Thioridazine

100

150-900

+++

+++

Perphenazine

8-48

+++

Trifluoperazine

5-60

+++

Fluphenazine

5-60

++

+++

Haloperidol
Pimozide

2-100

++++

2-6

++

Clozapine

25

25-200

++++

Risperidone

2-9

Quetiapine

100

50-400

Olanzapine

10

10-20

Ziprasidone

40

80-160

Aripriprazole

10

10-30

Obat antipsikotik umumnya digunakan secara oral. Beberapa jenis dapat disuntikan
secara intramuscular (IM) atau intravena (IV). Dalam penggunaannya, perlu dipertimbangkan
onset efek primer (klinis) yang umumnya berlangsung dalam 2-4 minggu serta onset efek
sekunder (efek samping) yang umumnya terjadi dalam 2-6 jam. Waktu paruh dari obat anti
psikotik yaitu 12-24 jam. Pengobatan dimulai dengan dosis anjuran, kemudian tingkatkan
setiap 2-3 hari hingga dosis efektif (sindrom psikosis reda). Evaluasi dilakukan setiap 2
minggu. Dosis ini dipertahankan selama 8-12 minggu (stabilisasi), kemudian dosis

25

diturunkan setiap 2 minggu hingga mencapai dosis rumatan yang dipertahankan selama 6
bulan-2 tahun (selama rumatan boleh diselingi drug holiday selama 1-2 hari per minggu).
Fase rumatan kemudian dilanjutkan dengan tapering off (penurunan dosis tiap 2-4 minggu)
hingga pasien bisa bebas obat sepenuhnya.
Indikasi dan Kontraindikasi anti psikotik
Indikasi psikiatri
- Skizofrenia
- Gangguan skizoafektif yang meliputi skizofrenia dan gangguan afektif
- Gangguan afektif bipolar fase manik
- Depresi dengan psikosis, dan depresi resisten pengobatan

Kontraindikasi
Antipsikotik sebaiknya tidak diberikan pada:
1. Penyakit hati karena bersifat hepatotoksik
2. Penyakit darah karena bersifat hematotoksik
3. Penderita epilepsi karena dapat menurunkan ambang kejang
4. Kelainan jantung karena dapat menghambat irama jantung
5. Ketergantungan alcohol karena dapat meningkatkan penekanan SSP
6. Penyakit SSP (Parkinson, tumor otak)
7. Gangguan kesadaran karena dapat menyebabkan kesadaran semakin memburuk

26

X. Pembahasan Pasien
Pasien seorang wanita berusia 40 tahun bernama Ny. U dibawa ke bangsal Dahlia oleh
petugas BNP2TKI pada tanggal 20 Oktober 2014 karena ditemukan kebingungan dan enggan
bicara saat di bandara. Pasien merupakan seorang TKW dari Qatar yang telah bekerja selama
4 bulan.
Dari anamnesa pasien memiliki gangguan persepsi berupa halusinasi auditorik dan visual.
Pasien memiliki mood hipotim dengan afek depresi. Pasien sering merasa sedih, menangis,
kehilangan minat, kegembiraan, penurunan aktivitas, mudah lelah dan penurunan nafsu
makan. Pasien juga cenderung diam dan menarik diri jarang bergaul dengan orang-orang
disekitar yang sudah terjadi dalam kurun waktu > 2 minggu yaitu (+ 1 bulan).

Berdasarkan gejala-gejala tersebut, pasien telah memenuhi kriteria Gangguan Afektif Episode
Depresif Berat dengan Gejala Psikotik

Saat ini pasien mendapat pengobatan yaitu


Anti psikotik atipikal : Aripiprazole (Abilify 1x10 mg PO )
Antipsikotik Abilify merupakan golongan Aripiprazole yang termasuk dalam
antipsikotik atipikal yang berguna dalam menurunkan gejala positif dan negative
melalui reseptor antagonis Dopamine D1 dan D2, Histamin H1, alpha1, alpha 2
adrenergic dan serotonin (5-HT1A dan 5-HT2).

Saran psikofarmaka tambahan untuk pasien:


Anti depresan SSRI : Escitalopram (Cipralex 1x10 mg PO )
Antidepresan Cipralex merupakan golongan Escitalopram yang termasuk dalam SSRI
(Serotonin Selective Reuptake inhibitor) yang bekerja dengan memblokade reuptake
serotonin sehingga dapat meningkatkan jumlah neurotransmitter serotonin di celah
sinaps neuron yang membantu memperbaiki gejala depresi yang disebabkan oleh
defisensi relative neurotransmitter aminergik pada celah sinaps neuron. SSRI
merupakan pilihan obat golongan pertama yang digunakan pada sindrom depresi.

27

Prognosis pasien untuk quo ad vitam adalah dubia ad bonam karena kondisi vital pasien
dalam keadaan baik, quo ad fungsionam dan quo ad sanationam dubia karena dalam proses
penyembuhan gangguan depresi dibutuhkan waktu yang cukup lama dan berbeda untuk tiap
individu, baik dilihat dari respon terhadap terapi dan juga faktor pencetus.

28