Anda di halaman 1dari 22

HIV Pada Kehamilan

Widya Asri Hapsari (406138161)


Ellen Monica (406138162)

Pembimbing : Dr. Gunawan Sp.OG


KEPANITRAAN KLINIK RSUD CIAWI
PERIODE 7 Juli 13 September2014

Definisi
Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah
virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh
manusia, sehingga terjadi defisiensi sistem
kekebalan tubuh, yang kemudian
menimbulkan sindroma dengan gejala penyakit
infeksi oportunistik yang disebut Acquired
Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

HIV Virus RNA

Famili
Sub famili
Genus
Spesies

: Retroviridae
: Lentivirinae
: Lentivirus
: HIV-1 & HIV-2

Struktur HIV

Cara Penularan
1. Melalui hubungan seksual
2. Transmisi horizontal (kontak langsung
dengan darah/produk darah/jarum suntik)
3. Secara vertikal (dari ibu ke bayi)

Faktor yang meningkatkan risiko penularan HIV dari


ibu ke anak
Faktor Ibu

Faktor bayi/anak

Faktor tindakan
obstetri

Ibu baru terinfeksi


HIV

Bayi lahir prematur


dan memiliki berat
badan lahir rendah

Jenis persalinan
(pervaginam)

Ibu menderita
infeksi virus,
bakteri, parasit
(seperti malaria) &
IMS

Pemberian ASI
Ibu mengalami
dalam periode yang KPD lebih dari 4
lama
jam

Ibu memiliki
Pemberian mixed
masalah pada
feeding
payudara, seperi
mastitis, abses, luka
di puting payudara

Ibu menderita
kekurangan gizi

Bayi/anak memiliki
luka di mulut

Terdapat tindakan
medis yg dapat
meningkatkan
kontak antara darah
ibu atau cairan
tubuh ibu dengan
bayi

Waktu dan risiko penularan HIV dari ibu ke anak


Waktu

Risiko

Selama Kehamilan

5 10 %

Ketika Persalinan

10 20 %

Penularan melalui ASI

5 15 %

Manifestasi Klinik

Stadium awal infeksi HIV


Stadium tanpa gejala
Stadium ARC (AIDS related complex)
Stadium AIDS

Stadium Awal Infeksi

Serupa dengan gejala infeksi virus umumnya


yaitu berupa demam, sakit kepala, sakit
tenggorokan, mialgia, pembesaran kelenjar dan
rasa lemah.
Dalam waktu 3-6 bulan kemudian tes serologi
baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi.
Masa 3-6 bulan ini disebut window periode,
dimana penderita dapat menularkan namun secara
laboratorium hasil tes HIV-nya negatif.

Stadium Tanpa Gejala

Fase akut akan diikuti fase kronik asimptomatik


yang lamanya bisa bertahun-tahun (5-7 tahun).
Virus yang ada didalam tubuh secara pelan-pelan
terus menyerang sistem pertahanan tubuhnya.
Walaupun tidak ada gejala, kita tetap dapat
mengisolasi virus dari darah pasien dan ini berarti
bahwa selama fase ini pasien juga infeksius.

Stadium AIDS Related Complex

Bila terjadi 2 atau lebih gejala klinis yang


berlangsung lebih dari 3 bulan, antara lain :

Berat badan turun lebih dari 10%


Demam lebih dari 380C
Keringat malam hari tanpa sebab yang jelas
Diare kronis tanpa sebab yang jelas
Rasa lelah berkepanjangan
Herpes zoster dan kandidiasis mulut
Pembesaran kelenjar limfe, anemia, leucopenia,
limfopenia, trombositopenia
Ditemukan antigen HIV atau antibodi terhadap HIV.

Stadium AIDS

Dalam stadium ini kekebalan tubuh penderita


telah demikian rusaknya, sehingga pada tahap
ini penderita mudah diserang infeksi
oportunistik antara lain : TBC,
kandidiasistoxoplasmosis, pneumocystis, dll.
Gejala AIDS dikatakan lengkap bila gejala
ARC ditambah dengan satu atau lebih penyakit
oportunistik

Pemeriksaan Diagnostik
Yang dilakukan di Indonesia umumnya adalah
pemeriksaan serologis menggunakan rapid test
HIV atau ELISA.
Dilakukan secara serial menggunakan tiga reagen
HIV berbeda dalam hal preparasi antigen, prinsip
tes dan jenis antigen

Hasil pemeriksaan dinyatakan positif jika hasil


tes ketiga reagen positif.

Pencegahan Penularan Infeksi HIV dari Ibu ke Anak

Terdapat 4 kegiatan :
I. Pencegahan penularan HIV pada perempuan
usia reproduksi
II. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan
pada ibu HIV positif
III. Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV
positif ke bayi yang dikandungnya
IV. Pemberian dukungan psikologis, sosial dan
perawatan kepada ibu HIV positif beserta anak
dan keluarganya

Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi

Bertujuan mencegah perempuan muda usia reproduksi,


ibu hamil dan pasangannya agar tidak terinfeksi HIV.
Pemerintah dan berbagai lembaga swadaya masyarakat
menggunakan konsep ABCD, yaitu :
A (Abstinence), artinya absen seks ataupun tidak
melakukan hubungan seks bagi orang yang belum menikah
B (Be faithful), artinya bersikap saling setia kepada satu
pasangan seks
C (Condom), artinya cegah penularan HIV melalui
hubungan seksual dengan menggunakan kondom
D (Drug no), artinya dilarang menggunakan narkoba

Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada


ibu HIV positif
Pada dasarnya perempuan dengan HIV positif tidak disarankan
untuk hamil.
Konseling yang berkualitas serta pengguanaan alat kontrasepsi
yang aman dan efektif akan membantu perempuan HIV positif
dalam melakukan hubungan seks yang aman, seta menghindari
terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.

Kontrasepsi pada ibu/perempuan HIV positif (dual protection)


Menunda/mengatur kehamilan Kontrasepsi jangka pendek / kontrasepsi jangka
panjang + kondom
Memutuskan tidak punya anak lagi kontrasepsi mantap + kondom

Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif


ke bayi yang dikandungnya

Pemberian terapi antiretroviral


ARV diberikan kepada semua perempuan hamil HIV
positif tanpa harus memeriksakan kondisi CD4-nya
lebih dahulu.
Pemeriksaan CD4 pada ibu hamil HIV positif terutama
digunakan untuk memantau pengobatan.
Pemberian ARV pada ibu hamil HIV positif selain
dapat mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke
anak, adalah untuk mengoptimalkan kondisi kesehatan
ibu dengan cara menurunkan kadar HIV serendah
mungkin

Tabel. Rekomendasi terapi ARV pada ibu hamil HIV positif dan ARV profilaksis pada bayi
Ibu
AZT + 3TC + NVP

Dapat diberikan sejak trimester 1


atau umur kehamilan <14 minggu,
ibu tidak anemia dan/atau CD4
<250sel/mm3 (karena efek
hepatotoksik NVP pada perempuan
biasa timbul jika CD4 <250sel/mm3)

AZT + 3TC + EVP

Dapat diberikan pada trimester 2 atau


umur kehamilan 14 minggu dan ibu
tidak anemia

TDF + 3TC + NVP

Dapat diberikan jika ibu anemia,


dapat diberikan sejak trimester 1

TDF + 3TC + EVP

Dapat diberikan jika ibu anemia,


diberikan mulai trimester 2

Bayi

Persalinan yang aman


Pervaginam

Perabdominam

Syarat :

Syarat :

Pemberian ARV mulai pada

Pemberian ARV dimulai pada

<14 minggu (ART > 6bulan)

usia kehamilan >36 minggu

VL <1.000 kopi/mm3

(AR<6 bulan)
VL >1.000 kopi/mm3
Ada indikasi obstetri

Risiko penularan : 10-20 %

2-4 %

Anjuran utama bagi ibu HIV positif adalah untuk tidak menyusui bayinya
dan menggantikannya dengan susu formula.
Persyaratan untuk dapat diberikan susu formula, yaitu :

Acceptable (mudah diterima)


Feasible (mudah dilakukan)
Affordable (terjangkau)
Sustainable (berkelanjutan)
Safe (aman penggunaannya)

Bila AFASS tidak bisa dipenuhi maka ASI boleh diberikan dengan
ketentuan : ASI eksklusif selama 6 bulan, sudah mendapatkan konseling
management laktasi, ibu sudah minum ARV minimal 4 atau 6 minggu
Sangat tidak dianjurkan mixed feeding. Hal ini disebabkan pemberian susu
formula yang merupakan benda asing dapat menimbulkan perubahan
mukosa dinding usus yang mempermudah masuknya HIV yang ada di
dalam ASI ke peredaran darah.

Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan


kepada ibu HIV positif beserta anak dan keluarganya
Upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak
tidak terhenti setelah ibu melahirkan.
Ibu tersebut akan terus menjalani hidup dengan HIV
ditubuhnya, ia membutuhkan dukungan psikologis,
sosial dan perawatan sepanjang waktu.
Sangat penting dijaga faktor kerahasiaan status HIV
si ibu.

TERIMA KASIH