Anda di halaman 1dari 2

Resensi Film WALL-E

(Talita Adilael B. 31130012)

Deskripsi Film
Judul

: WALL-E

Sutradara

: Andrew Stanton

Produser

: Jim Morris

Penulis Skenario

: Andrew Stanton & Pete Docter

Studio Produksi

: Walt Disney Pictures & Pixar Animation Studios

Distributor

: Walt Disney Studios

Genre

: Animasi, Teknologi, Petualangan, Keluarga, Fiksi Ilmiah, Romance

Sebuah robot kecil yang diprogram untuk memadatkan sampah bumi menjadi berbentuk kubus,
itulah pekerja utama Wall-E si robot penghancur sampah. Wall-E ini merupakan salah satu karya
perusahaan terbesar di bumi, Buy N Large pada abad yang sangat baru. Perusahaan ini memprediksikan
kondisi bumi yang sudah tidak layak dihuni karena tumpukan sampah yang tidak dapat didaur ulang.
Sehingga perusahaan ini menciptakan pesawat luar angkasa eksekutif sebagai pengganti bumi
sementara dengan nama Axiom. Ratusan robot pembersih sampah atau Wall-E ditinggalkan untuk
membersihkan bumi. Akan tetapi hanya ada 1 Wall-E yang masih aktif bertugas untuk membersihkan
sampah setelah sekian lama.
Sehari-hari Wall-E bekerja dengan rutinitas yang selalu sama dari pagi hingga petang. Bekerja
seorang diri pun membuat Wall-E kesepian. Ia menghibur dirinya dengan menyimpan barang rosokan
yang menarik baginya. Suatu saat Wall-E menemukan tanaman kecil dalam kulkas tua dan rusak.
Kemudian dia menyimpannya dalam sebuah sepatu. Tak lama kemudian, datang sebuah pesawat luar
angkasa yang datang ke bumi untuk mengantar sebuah robot wanita bernama Eve, yang bertugas
mencari tanaman yang masih hidup di bumi agar manusia di pesawat Axiom dapat kembali ke bumi.
Eve dan Wall-E berkenalan setelah Eve tinggal beberapa hari di Bumi. Kemudian Wall-E
menunjukkan tanaman yang dia temukan tersebut kepada Eve. Karena kondisi Eve yang telah diprogram
untuk mencari tanda-tanda kehidupan diantaranya tanaman yang ditemukan Wall-E. Secara otomatis
Eve menyimpan tanaman itu ke dalam tubuhnya dan menjadi non-aktif. Setelah itu pesawat luar
angkasa datang kembali untuk menjemput Eve. Karena Wall-E sangat menyukai Eve, Wall-E mengikuti
pesawat luar angkasa yang membawa Eve tersebut.

Pesawat luar angkasa itu akhirnya sampai di Axiom yang ribuan manusia. Ternyata di dalam
pesawat ini menyediakan bermacam-macam fasilitas yang diperlukan manusia secara instan. Karena
tinggal dalam keadaan mikrogravitasi, kondisi manusia sangat berbeda dari saat mereka masih hidup di
bumi. Mereka hanya duduk di semacam kursi roda dan melakukan komunikasi melalui sebuah media
elektronik berupa monitor yang terpasang di masing-masing tempat duduk mereka. Segala aktivitas
terprogram secara modern, sehingga manusia menjadi malas, sangat gemuk, tidak mampu berdiri dan
berjalan akibat hilangnya kalsium dalam tubuh mereka. Pilot pesawat Axiom, Kapten B.McCrea juga
memiliki bentuk fisik yang sama dengan manusia lainnya. Ia hanya memerintahkan segala tugasnya
kepada sistem autopilot pesawat yang bernama Auto.
Setelah Kapten B.McCrea bertemu dengan EVE yang telah menemukan tanaman di bumi, Sang
Kapten memutuskan bahwa manusia di pesawat Axiom harus kembali ke bumi. Namun, Auto yang
terprogram untuk mencegah manusia kembali ke bumi, menyebabkan terjadinya konflik perebutan
tanaman antara Kapten B.Mccrea dan Auto. Pertarungan ini dimenangkan oleh Kapten, yang dibantu
oleh Wall-E, Eve, dan manusia. Para manusia pun juga ikut berjuang untuk dapat berdiri dan berjalan,
setelah selama ini amat dimanjakan dengan teknologi.
Akhirnya, seluruh isi pesawat dapat kembali ke bumi. Kemudian manusia dan robot bekerja sama
dalam memperbaiki kehidupan di bumi dengan tujuan yang baru. Di awalinya penanaman tumbuhan
kecil yang berhasil diselamatkan oleh Wall-E dan Eve di permukaan bumi. Seiring dengan berjalannya
waktu, kehidupan normal di bumi dapat terjadi kembali seperti pada mulanya.
Dari film ini, diperoleh pelajaran tentang kehidupan manusia sekarang ini yang cenderung
menikmati kemajuan teknologi tanpa memperhatikan lingkungan alam dan sosial disekitarnya. Akibat
dari kemajuan teknologi, manusia hidup dengan kondisi yang serba otomatis, praktis dan tergantung
pada teknologi. Terkadang membuat manusia semakin malas beraktivitas bahkan melupakan arti
kehidupan yang dimilikinya. Selain itu, kondisi lingkungan yang makin hari makin buruk akibat ulah
manusia sendiri dapat menghancurkan kehidupan di bumi ini.